Lima Belas

513 41 5
                                                  

Karla

"Anak-anak kampus lagi heboh karena ada yang nemuin mayat Gian."

Awalnya, saat menjawab panggilan telepon dari Kia, aku tidak punya pemikiran apa pun. Paling hanya menanyakan kenapa belum pulang, begitu kurang lebih yang kupikirkan sebagai alasan abangku satu-satunya ini menelepon, mengingat kami memang jarang berkomunikasi lewat telepon atau chat. Tapi ucapannya barusan benar-benar di luar dugaan.

Dua kata yang diucapkannya di bagian akhir kalimat berhasil memekakkan telingaku. Dari semua kemungkinan, Kia mengatakan hal yang paling tidak ingin kudengar saat ini. Gian sudah meninggal, saat kami masih berusaha mengintai di rumahnya dan mencegah pembunuh itu mengambil nyawanya? Ini benar-benar kenyataan yang buruk.

Aku masih tidak bisa berkata-kata, hanya terganti dengan bisikan lirih yang hampir tidak terdengar saat mengulang kesimpulan omongan Kia dengan diakhiri tanda tanya, karena sampai detik ini, semua ini masih terasa sangat tidak nyata. Aku berharap ini tidak benar-benar terjadi, tapi gumam penegasan dari Kia merenggut semua harapan yang masih coba kusulut.

Dari samping kurasakan tangan Derian mendarat di pundakku, memberi sedikit kekuatan di sana. Aku menoleh dan menemukan tatapan yang penuh kekhawatiran. Untuk sejenak, berhasil mengenyahkan semua kekacauan ini dari otakku, dan membuat hatiku menghangat. Walau sedikit, tapi senyumku mengembang. Setidaknya aku punya cowok ini, yang memberikan kekuatannya saat kejadian berubah jadi begitu buruk.

"Polisi udah datang?" tanyaku akhirnya setelah berhasil mengumpulkan suara.

Aku berharap Kia menjawab belum, sehingga kami bisa pergi ke tempat mayat Gian ditemukan untuk mencari petunjuk apa pun yang bisa kami dapatkan, tapi kenyataannya tidak. Tentu saja, polisi akan bergerak cepat seperti saat kematian Sesil, mengingat kantor mereka juga tidak terlalu jauh. Mereka juga harus melindungi tempat kejadian perkara sebelum semakin banyak orang berkumpul, yang mungkin saja bisa merusak semuanya.

Sambungan telepon akhirnya kuputus karena suara ribut di belakang Kia semakin membuat perasaanku tidak bisa tenang. Mereka terus membicarakan mayat Gian, menimbulkan irisan demi irisan yang semakin lama semakin dalam dan menyakitkan di hatiku. Tiba-tiba saja, wajah Gian yang penuh ketegasan dan wibawa melintas di ingatanku.

Gian mungkin bukan orang sempurna. Tentu, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi meninggal dengan keadaan seperti itu benar-benar terlalu tragis. Walau selama satu tahun ini tidak banyak yang terjadi pada kami, tapi membayangkan tidak akan bertemu dengannya lagi setelah ini masih terasa aneh. Apalagi harus terus teringat dengan pembunuhan setiap namanya disebut orang.

"Kita harus gimana sekarang?" tanya Derian, yang kini sudah pindah ke hadapanku untuk menatapku dalam-dalam.

Derian lagi-lagi menyelamatkanku dan membawaku keluar dari pikiran yang begitu mengungkung hingga membuat sesak, kali ini dengan pertanyaannya. Kutatap mata hitam pekatnya, tapi keningnya malah berkerut, mungkin karena tidak menemukan apa pun di dalam tatapanku. Lalu kedua tangannya meraih pundakku dan menggenggamnya cukup erat.

"Dengar, Kar, ini bukan salah lo. Kita ada di sini sedangkan pembunuhannya terjadi di tempat lain. Kita mungkin emang udah salah bikin tebakan, tapi seenggaknya, kita udah coba yang terbaik. Kita udah berusaha ke sana-sini untuk cari petunjuk supaya bisa menggagalkan pembunuhannya, tapi semua tetap di tangan Tuhan. Semua udah ada aturannya, Kar."

Entah kenapa, aku merasa mataku memanas saat mendengar ucapan Derian barusan. Dia benar-benar paham tentangku, bahkan melebihi diriku sendiri. Sejak tadi, aku hanya tahu ada kesedihan dan kekacauan yang besar di hatiku, tapi aku tidak tahu apa tepatnya yang menjadi penyebab semua itu. Dan akhirnya sekarang aku tahu itu dari Derian.

Death Sensing CoupleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang