9. Sekarang Atau Tidak Sama Sekali

15.9K 4.6K 338
                                                  

Finally, aku bisa mengunjungi lapak ini juga.  Wkwkwkwk... 
Dylan and Magissa udah kutamatkan dgn tenang. Hahahaa

Baiklah, happy reading. Yg lupa sama cerita ini, baca chap sblmnya aja yes.

***

Affan terguncang.

Untuk satu alasan yang tidak ia ketahui, jiwanya ingin melakukan pemberontakan.

Ia berusaha tenang. Demi mengelabuhi getar hebat sebuah ketidaksukaan, ia ambil gelas berisi teh dan hanya menempelkan bibirnya pada permukaan gelas keramik itu. Napasnya terembus putus-putus, sementara yang ia inginkan adalah melemparkan gelas di tangannya hingga hancur berkeping-keping.

Demi Tuhan, bukan ini ekspektasinya saat mendapat telepon dari kakeknya tadi.

Affan tahu, pasti ada hal penting yang akan disampaikan. Hingga ketika ia mengatakan tengah menggelar meeting, kakeknya menyuruh mengakhirinya dengan segera. Namun, Affan sungguh tidak tahu, bahwa yang akan dibahas adalah masalah pembatalan perjodohan. Di mana, kakeknya telah menemukan kembali calon yang siap dipasangkan dengannya.

“Jadi, Aura ini belum bersedia menerima perjodohan, Fan. Makanya, malam nanti, kita makan malam bersama. Kamu bisa coba ajak dia ngobrol. Opa yakin, kamu bisa.”

Affan tertawa dalam hati.

Nyatanya, tidak cukup hanya menjadi direktur pemasaran. Merayu wanita untuk dijadikan istri pun kini resmi dijadikan profesi tambahan untuknya.

“Kita sebenarnya nggak terlalu membutuhkan perusahaan keluarganya, hanya saja, Aura memiliki tiga puluh persen saham. Kamu membutuhkan itu, Fan. Kamu masih berkeinginan menjadi pemilik Hartala Group selanjutnya ‘kan?”

Gigi Affan bergemeretak tanpa sadar. Ia selalu diingatkan tentang apa yang menjadi ambisinya bila bimbang mulai memengaruhi keputusannya. Dan kakeknya ini, sangat mengenal dirinya dengan baik. Bahkan, ada momen-momen di mana kakeknya seakan mendukung ambisinya itu.

Contohnya, ketika sepupu-sepupunya yang lain hanya dijadikan wakil direktur di tiap divisi. Affan sudah diberi kepercayaan penuh untuk menjabat sebagai direktur.

“Aura anak pertama, Fan. Kamu bisa membaca asset-aset apa saja yang sudah beralih menjadi miliknya,” Hartala menunjuk map merah di atas meja. “Dengan saham yang dimilikinya, Aura dan bisnis perhotelannya bisa membantu kamu membeli saham-saham yang kamu butuhkan untuk menguasai Hartala Group.”

Affan tidak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran kakeknya. Tetapi ia tahu persis, semua dilakukan sang kakek bukan karena terlalu menyayanginya. Sebab, Hartala adalah pisau pisau bermata dua. Memang tidak terlalu tajam di masing-masing sisinya. Namun mampu membuat luka untuk siapa saja yang membantah perintahnya. Dan Affan tahu saat ini memang gilirannya.

Ia letakkan gelasnya kembali sementara senyumnya hanya berupa seringai yang menghiasi wajah. “Lalu gimana dengan keluarga Faisal, Opa? Apa nggak sebaiknya kita makan malam bersama dengan mereka dulu?” ia hanya sedang mengulur waktu. Ia perlu berbicara dengan Faisal. Berharap pria itu dapat membantu dan memberikan Anin beberapa bagian dari saham perusahaan, agar dirinya tak perlu menikahi wanita lain. “Kita nggak boleh memutuskan perjodohan sepihak, Opa.”

“Oh, nggak perlu khawatir, Fan. Kemarin, Opa dan Faisal udah menyetujui pembatalan perjodohan antara kamu dengan anaknya itu.”

Affan menarik napas gusar.

Ia menggigit lidah agar makian tak meluncur keluar dari sana.

“Jadi, Opa sudah membatalkannya?”

Bening Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang