A untuk Argi Riga Sentosa

13 7 1
                                          

Diantara semua karakter dalam cerita ini, Argi adalah cahaya. Dia murni, ceria, menerangkan dan tulus. Argi selalu ingin menyenangkan orang lain disekitarnya dengan lelucon-lelucon. Kadang leluconnya berhasil. Kadang tanpa sengaja menyakiti orang lain.

Argi lahir dari keluarga Sentosa, keluarga menengah keatas di Nine Island. Mereka berasal dari Sumatera Barat. Sejak awal, keluarga Sentosa hidup dari usaha restoran padang, Restu Bundo. Ayah Argi, Ihwan Sentosa berniat untuk mengekspansi segitiga malaka dengan restoran padang miliknya. Dia memulai dari Riau, lalu pindah ke Batam, Nine Island, berlanjut ke Kuala Lumpur dan Singapura. Resto Bundo juga masih beroperasi di padang, wilayah original restoran tersebut berada. Restoran Restu Bundo di padang di pegang oleh kakak tertua papa Argi.

Sebagai perantau dengan banyak saingan restoran padang yang sudah ada terlebih dahulu di segitiga malaka membuat Ayah Argi bekerja lebih keras. Ia menjaga pasokan bahan baku, ia menjaga hubungan baik dengan karyawan, ia menjaga kualitas masakan dan ia juga memastikan pewarisnya, Argi berminat menjalankan usaha restoran miliknya kelak.

Ayah Argi kemudian menjalin hubungan dengan pemerintah dan pengusaha lokal lainnya untuk meningkatkan keuntungan restoran. Ia kemudian sadar pentingnya hubungan dengan sesama pengusaha dan pemerintah untuk usahanya. Karena itulah ia mengajak keluarganya untuk sama-sama menaiki tangga sosialita. Karena itulah keluarga Sentosa dikenal sebagai "social climber".

Argi sejak awal sudah berteman dengan Raka dan Violet. Hubungan pertemanan mereka mendapat respon positif dari ayahnya. Mungkin bagi ayahnya, hubungan mereka "menguntungkan secara bisnis" tapi bagi Argi, Raka dan Violet lebih dari sekedar "bisnis", mereka benar-benar sahabatnya dan Argi betul-betul peduli padanya. Raka adalah sosok yang tegas, kuat, cerdik dan sportif. Ia seperti seorang ayah yang akan memarahi Argi bila leluconnya menyakiti orang lain. Violet adalah sosok yang cantik, bersih, rajin, lembut dan preventif. Ia seperti seorang ibu yang akan membela Argi dari orang-orang yang menganggapnya terlalu berisik dan mengganggu.

Awalnya Argi merasa dunianya sudah sangat sempurna. Ia memiliki orangtua yang baik, ayah yang sedikit mengatur, sahabat yang menyenangkan dan selalu mendapat mainan terbaru. Lalu... Entah bagaimana Argi merasa kesempurnaan itu tidak membawa Argi kemanapun.

Argi menyadarinya setelah mama Melanie, teman sekelasnya meninggal dunia. Kejadiannya begitu tiba-tiba. Seakan baru semenit yang lalu cuaca cerah lalu tiba-tiba ada hujan badai. Melanie adalah teman sekelas Argi yang spesial. Bukan karena dia puteri keluarga kaya Mashoedi. Tapi karena ia dan Argi memiliki wajah yang mirip. Semua teman sekelasnya menyadarinya sejak taman kanak-kanak.

Mereka sama-sama memiliki mata hitam besar seperti belalang, kulit kuning ivory dan rambut hitam lurus. Saat masih kecil, tinggi mereka sama. Mereka seperti kembar. Saat upacara bendera setiap hari senin, Melanie dan Argi suka berbaris berdampingan dan bertingkah seakan mereka kembar. Argi dan Melanie dulu cukup akrab meskipun mereka memiliki gengnya masing-masing. Argi dengan Violet dan Raka. Melanie dengan Fatima dan Diska. Sekarang kedua teman Melanie itu tidak bersekolah lagi di Prajaparamitha.

Saking seringnya bermain bersama, Mama Melanie mengenal Argi. Mama Melanie mengenal semua teman-teman Melanie karena beliau suka mengantar dan menjemput puterinya. "Mama, kenalin ini Argi kembaran aku!!"seru Melanie.

Mama Melanie bahkan terbelalak. "Oh ya, wah... Mama pasti lupa pernah melahirkanmu juga,"kata mama Melanie saat itu.

"Aku dan Melanie sering berkhayal bahwa kami sebenarnya kembar, lalu kami tertukar saat di rumah persalinan seperti sinetron-sinetron!"seru Argi. Saat itu khayalan Argi sangat liar dan tak terbatas.

Mama Melanie hanya tertawa. Menurut Argi, mama Melanie sangat anggun, baik dan menyenangkan. Jadi saat ia tahu beliau meninggal, Argi ikut bersedih. Empati Argi lebih dalam dari siswa lain dikelas. Melanie berubah dari seorang yang cukup ceria menjadi pendiam, pemurung dan agak menyebalkan. Dan hal itu berlangsung hingga setahun kemudian.

Argi pikir, wajar bila Melanie bersedih atas kematian mamanya. Kalau orangtua Argi meninggal pun Argi akan ikut bersedih. Tapi sepertinya setahun adalah waktu yang lama sekali bagi Melanie untuk berduka atas kematian mamanya. Apakah itu normal? Argi menanyakan pada Raka, yang juga tetangganya. "Aku tidak tahu, bukan Cuma dia. Ayahnya Melanie pun juga katanya berubah jadi pemurung. Mereka tidak lagi mau datang ke pesta papaku. Padahal rumah kami berseberangan,"kata Raka.

Argi mulai mengkhawatirkan Melanie. "Kok aku jadi khawatir ya sama dia,"kata Argi.

Violet seperti kebanyakan anak 8 tahun lain justru menggodanya. "Cie... Argi suka sama Melanie cieee!!"seru Violet keras-keras membuat siswa lain tertawa.

Wajah Argi memerah. Ia melihat Melanie yang ikut menertawakannya. "Ihh bukan itu maksudku!!"seru Argi berontak namun tidak ada yang mendengarkannya. Meskipun begitu Argi senang karena bisa membuat Melanie tertawa. Biasanya dia murung seharian dikelas. Argi hanya ingin Melanie bahagia. Semua temannya bahagia. Sayangnya, setelah ejekan itu selesai, Melanie bersedih lagi.

Argi akhirnya menemukan kesempatan menemui Melanie. Saat itu jam pelajaran olahraga. Guru olahraga sedang diare jadi yang dia lakukan adalah membuat siswa ke lapangan untuk olahraga sebebas mereka mau. Beberapa siswa perempuan memilih untuk tidak berolahraga sama sekali. Hanya santai-santai sambil ngobrol di lapangan.

Melanie duduk di lapangan bersama kedua sahabatnya, Fatima dan Diska. Lalu Fatima ketoilet dan Diska mengikuti. Melanie ditinggal di pojok lapangan. Saat itulah aku menghampiri Melanie. "Hai, Mel!"seru Argi.

"Hai,"kata Melanie.

"Aku turut berduka atas meninggalnya mamamu,"kata Argi. Melanie mengernyit. "Maaf telat baru mengatakannya sekarang,"kata Argi.

"Kamu telat satu tahun,"kata Melanie.

"Aku tahu,"sambar Argi. "Tapi kamu masih bersedih sampai sekarang,"katanya lagi. "Kamu berubah Mel, kamu lebih pemurung, jarang tersenyum, jarang bicara. Aku jadi khawatir,"kata Argi. Dia bicara begitu saja. Mengalir tanpa berpikir apa yang Melanie pikirkan tentang kata-katanya.

Melanie tersenyum. "Begitukah? Khawatir?"tanya Melanie.

Argi mengangguk. "Aku Cuma ingin kamu ceria lagi. Kita anak kembar, ingat?"kata Argi.

Melanie tersenyum. "Ya, kita anak kembar yang tertukar di rumah sakit oleh suster yang jahat,"tambah Melanie. Melanie kemudian tertawa.

"Jadi.. Please ceria lagi ya,"kata Argi.

Melanie mengangguk. "Baiklah aku janji,"katanya. Dan Argi saat itu senang karena merasa berhasil menghibur Melanie. 

A -Z OF 12 SHADESWhere stories live. Discover now