Chapter 2

16 2 0

Silauan lembut langit sore membuat pria pingsan itu terbangun. Didalam hatinya dia bertanya-tanya, dimanakah aku ? apa yang terjadi ?

Dia mencoba bangkit tetapi tubuhnya menolak karena terlalu lemah. Dia merasa seolah-olah dililit tali yang erat. Dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya, dia merasakan tidur disebuah kasur empuk. Luka yang sebelumnya terasa masih terbuka, kini rasanya ada yang menutupi.

Matanya masih berkunang-kunang, Cahaya menutupi pandangannya, dan karenanya dia menyipitkan mata karena ketidaknyamanan ini. Dengan tubuh yang masih lemas dia berjuang keras menjaga kesadarannya. Begitu sudah terbiasa dengan cahaya terang, dia membuka matanya sedikit demi sedikit.

Dia melihat sosok samar-samar duduk disampingnya. Sontak saja ia mencoba bangkit dan menjauh dari sosok samar itu.

"Tenanglah, aku tidak bermaksud jahat padamu," terdengar suara yang sepertinya dari sosok tersebut."Aku hanya mengobati lukamu."

Begitu penglihatannya mulai jelas, dia sadar bahwa sosok itu hanyalah pemuda biasa. Tinggi rata-rata, kulit putih, rambut pendek dan terlihat lengan-lengan sedikit terbentuk

"Terima kasih telah menolongku, namaku Rangga." Rangga itulah nama orang yang baru saja tersadar dari pingsannya."Dimana aku ? dan siapa kau?" tanya Rangga dengan nada gelisah.

"Tenanglah, kau sekarang berada di Desa Daruan. Tadi kau pingsan dirumahku dengan luka yang cukup serius. Aku hanyalah penduduk desa ini, kau bisa memanggilku Arman." jelas Arman mencoba menenangkan Rangga yang masih risau.

Rangga merasa pada bagian perut yang awalnya terluka, kini tertutup. Lalu dia melihat perutnya dan sudah ada perban yang menutupinya. Dia tak lagi menjauhi Arman, Rangga kembali ketempat semula, dan dia duduk dengan kaki lurus.

"Kau yang telah melakukan ini semua padaku ?" tanya Rangga sembari memegang perban diperutnya.

Arman hanya mengangguk kecil dan berucap dengan nada pelan "Iya. . . . "

"Terima kasih, dan maaf telah merepotkan." Ucap Rangga sambil merendahkan sedikit punggungnya menghadap rangga.

Melihat Rangga sudah bisa tenang, Arman ingin segera menghilangkan rasa penasaran yang sejak tadi mengganggu kepalanya. "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ." kini Arman yang mengajukan berbagai pertanyaan. "Siapa kau sebenarnya ? apa tujuanmu kemari ? dan kenapa kau bisa terluka?"

"Maaf tapi aku tak bisa memberi tahunu." Balas Rangga. Arman sendiri sudah menduga, tidak akan mudah seseorang membocorkan informasi pada orang yang baru dikenal. Wajah Arman nampak sedikit kecewa. Melihat wajah kecewa Rangga melanjutkan perkataanya, "Tapi aku akan memberitahu semuanya bila kau bisa mempertemukanku dengan Jenderal Gaiman."

"Gaiman ya . . . " Arman merenung sebentar "biasanya dia datang kesini saat pagi." gumamnya pada diri sendiri. Namun karena kepalanya sudah dipenuhi dengan rasa penasaran Arman ingin memanggil Gaiman untuk datang kerumahnya. "Baiklah akan aku usahakan dia datang."

Arman bangkit dari kursinya "Tunggu disini sebentar, akan kupanggilkan dia." Lalu dia pergi memanggil Arman, sebelum dia pergi dia menaruh lilin di kamar tempat Rangga berbaring. Takutnya Arman belum kembali saat hari sudah gelap.

Kini Rangga sendiri dikamar hanya ditemani nyala lilin yang menari-nari. Matahari tadinya menyinari bumi, kini kehilangan keberadaanya. Hari mulai gelap, hanya api kecil lilin yang menerangi.

Sembari menunggu Arman kembali kegiatan Rangga hanya memakan roti yang Arman berikan saat menaruh lilin tadi, sebelum dia keluar memanggil Gaiman. Cukup lama Rangga menunggu kembalinya Arman. Rangga berharap bisa menemui Gaiman secepatnya.

Dalam keadaan yang begitu sunyi tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, dan seseorang sedang berjalan. Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat. Tak lama kemudian seorang berbadan besar tepat ditengah pintu berdiri dengan pria yang telah menolong Arman.

"Rangga! Kenapa kau bisa terluka, jadi benar yang diceritakan Arman tadi." Gaiman langsung cepat-cepat mendekati Rangga.

"Sekarang aku sudah tidak apa-apa Jenderal, semua ini berkat Arman." sahut Rangga, mencoba tidak membuat Gaiman khawatir mengenai kondisinya.

"Terima kasih Arman, telah menyelamatkan rekanku." ucap Gaiman, Arman hanya membalas dengan anggukan kecil. Lalu Arman duduk di kursi dekat ranjang Rangga tidur. Gaiaman sendiri duduk diranjang disamping Rangga yang mencoba bangkit untuk duduk. Gaiman membantu Rangga mengangkat tubuh.

"Jadi bisa kau ceritakan semuanya sekarang." Arman ingin segera menghilangkan rasa penasaran akan pria yang ditolongnya.

 Terlihat jelas Rangga tidak mau menjelaskan apa yang disembunyikannya pada Arman. Rangga terlihat gelisah dan tidak tenang, dia tak ingin ada orang lain yang tahu. Rangga mencoba mencari-cari alasan agar Arman tidak mengetahui kebenaran yang Rangga simpan. Menurut Rangga bila Arman mengetahui alasan dia datang kemari akan membebani pikiran Arman, kehidupannya akan terganggu.

Tapi rasa penasaran Arman sendiri sengat besar, dia bahkan membantah bukannya tadi Rangga sudah berjanji. Gaiman sendiri berkata, tak masalah Arman mengetahui, Gaiman sudah mempercayai penuh Arman, meski keduanya baru kenal 2 minggu yang lalu.

"Baiklah jika kau ingin mengetahuinya, tapi sebelum itu bisakah kita pergi ketempat yang jauh dari rumah penduduk. Aku tak ingin ada yang mendengar perbincangan kita." pinta Rangga.

Dengan cepat Arman langsung menyanggah "tak masalah rumah ini, jauh dari pemukiman penduduk." sepertinya Arman sudah tidak sabar.

Rangga menarik nafas panjang, lalu membuka mulutnya. "Negara akan hancur."

Babad Tanah ArtharaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang