Chapter Violet: Perfectly Perfect

5 4 0
                                          

Namaku Violetta Bella dan aku memiliki kehidupan yang sempurna. Aku lahir tanggal 8 Agustus. Aku seorang Leo. Aku pemberani, aku menyukai kehidupan hedonis, aku penyayang, dan aku senang membanggakan diri.

Banyak hal dalam hidupku yang dapat dibanggakan. Pertama aku lahir dari keluarga Tanuredja. Keluarga kami kaya tujuh turunan delapan pengkolan sembilan tanjakan. Pokoknya tajir melintir. Papa dan mamaku adalah investor sukses, mereka seperti Warren Buffet-nya Asia.

Aku bohong.

Keluargaku tidak sekaya itu tapi kami cukup kaya untuk membeli rumah di kawasan strategis Paradise Road sektor 4 Nine Island. Kawasan ini sangat prestigius. Semua orang ingin tinggal disini. Harga per-meter-nya dapat mencapai jutaan rupiah dan kalian tidak boleh membeli hanya dua meter, tapi ratusan meter per kavling. Rumah yang ada disini adalah rumah-rumah besar dengan halaman sebesar lapangan bola dan kolam renang dan jaccuzi.

Papa dan Mamaku sanggup menyekolahkan ketiga kakak laki-lakiku di luar negeri. Sekarang mereka menetap disana dan tidak kembali lagi ke Nine Island. Papa dan mamaku adalah investor. Mereka memiliki insting bisnis yang sangat tajam dan sejauh ini mereka tidak pernah melesat. Mereka juga salah satu founding fathers Nine Island. Saat Nine Island, proyek pemerintah tersendat, pihak pemerintah menyerahkan beberapa liabilitas ke swasta dan beberapa diantaranya jatuh ke papa dan mamaku.

Kini, papa dan mamaku dapat pensiun dini dan pergi mengunjungi kakak-kakakku bergantian di luar negeri. Aku lahir di saat yang sempurna. Aku lahir saat papa dan mamaku pensiun. Mamaku berusia 48 tahun saat beliau melahirkanku. Saat itu mamaku tidak berpikir masih dapat hamil lagi. Ia terkejut saat itu terjadi.

"Mama bimbang antara melahirkanmu atau mengaborsimu."

"Saat itu mama sudah terlalu tua untuk melahirkan. Takut berdampak burut bagi kesehatan."

"Tapi kami orangtua yang baik. Kami memutuskan melahirkanmu di dunia ini."

"Jadilah anak yang baik kepada kami seperti kami berbaik hati melahirkanmu di dunia ini, Violet,"kata papa dan mama bergantian.

"Terimakasih papa, terimakasih mama, kalian sangat baik tidak mengaborsiku,"kataku.

Papa dan mamaku adalah orang yang baik. Mereka memberi semua yang kuinginkan selagi mampu. Dan mereka sangat mampu. Sepatu kelap-kelip, tas berwarna unicorn, jam tangan mewah, handphone terbaru dan Ipad tercanggih. Mereka memberiku uang jajan yang cukup agar aku bisa makan ditempat yang kusukai. Favoritku tentu saja The Tiffanys, bistro yang ada di dekat sekolah untuk makan siang. Kafe la nuit l'homme café yang ada di pinggiran sektor 4 juga sangat baik untuk sarapan sambil menatap pemandangan pesisir pantai yang indah. Untuk makan malam, aku biasa ke rooftop restoran The Cloud Lounge, dinner sambil memandangi pemabdangan kota dari ketinggian.

Seleraku memang tinggi.

Bohong, sebenarnya tidak juga.

Pernah pada suatu hari saat aku masih kecil aku ke restoran tenda pinggir jalan untuk mencicipi sop iga yang katanya enak. Sebenarnya tempatnya bersih tapi seorang wartawan gosip memotretnya dan menjadikan fotoku bulan-bulanan tabloid High-end magazines, majalah sosialita. Terdapat artikel satu halaman penuh dengan fotoku dan kutipan bertulis, "I choose streetfood!"Seolah aku yang mengatakannya

Papa dan mamaku menjadi bahan ejekan 'rekan' bisnis mereka berbulan-bulan. Aku di hukum tidak boleh hang-out selama satu bulan. Itu adalah hukuman yang mengerikan. Sangat membosankan diam dirumah dan hanya keluar hanya untuk ke sekolah. Papa dan mamaku melarangku makan di streetfood lagi. Semenjak saat itu aku tidak berani lagi jajan disembarang tempat.

Jahanam kau High end!

Selain itu semuanya baik-baik saja.

Papa dan mamaku selalu memastikan aku berpenampilan baik dihadapan umum. Aku selalu diberi pakaian, sepatu dan tas branded. Aksesoris gelang, kalung dan cincin juga branded. Aku sendiri senang memastikan tubuhku tinggi dan langsing seperti manekin manekin di toko. Setidaknya ukuran tubuhku harus sesuai dengan model agar baju-baju yang kukenakan terlihat lebih cantik.

Dikelas, aku termasuk cewek yang paling tinggi meskipun Gwyna lebih tinggi satu senti. Dia sih penampakannya seperti setan slenderman, eww!! Aku cukup puas di angka 170 cm. Lagipula aku masih 17 tahun jadi kenapa harus terlampau tinggi? Berat badanku cukup ideal 53 kg. Kulitku putih kecoklatan. Kedua orangtuaku berkulit putih pucat jadi aku selalu memastikan mendapat sinar matahari yang cukup agar tidak terlampau pucat seperti Raka. Rambutku aslinya hitam legam lurus namun aku mengecatnya ungu sejak 8 tahun. Iya ungu! Aku suka warna ungu. Violet namaku juga artinya warna ungu!

"Violet, kamu tidak boleh mengecat rambutmu ungu!"tegur pak guru.

"Kenapa begitu pak?"

"Itu melanggar aturan sekolah."

"Prajnaparamitha memiliki motto Quod Erat Demontrandum yang artinya segala sesuatu harus dapat dibuktikan yang mana itu semua tidak ada hubungannya dengan warna rambutku,"kataku mengoceh. Pak guru tidak dapat berkata apa-apa. Speechless.

Keesokan harinya Jasmine, sahabatku mengecat rambutnya pink dan beberapa tahun kemudian Gwyna mengecat rambutnya pirang. Aku tidak masalah dengan Jasmine, menurutku itu manis. Jasmine adalah sahabatku. Sementara Gwyna si tukang ikut-ikutan itu adalah temannya Melanie, musuhku. Gwyna dikenal suka memanfaatkan kondisi orang lain untuk keuntungannya sendiri. Melanie pun sempat marah kepadanya. Eww, can't relate with her!!

Aku memiliki dua sahabat yang selalu bersamaku sejak aku benar-benar bisa mengingat sesuatu. Mareka adalah Argi dan Raka. Aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi ketiga kakakku. Mereka juga selalu protektif kepadaku. Selain itu di dalam geng juga ada Hugo dan Susan yang.... tidak terlalu penting di mataku. Mereka hanyalah sekelompok nerd yang 'dibawa' Argi kedalam geng.

Aku berjalan di beranda kamar, menikmati sinar matahari pagi. Ini adalah hari Minggu, hari terakhir liburan semester 2 kelas X. Besok aku akan masuk ke kelas XI. Aku tidak sabar.

Moodku sedang bagus-bagusnya saat ini. Aku baru membuka hadiah tahun ajaran baru dari papa mama dan ketiga kakakku.

Papaku menghadiahiku smartwatch dengan GPS yang mana mungkin akan kuhadiahkan untuk Hugo yang berulangtahun bulan Juli ini. Aku tidak suka posisiku dilacak setiap saat oleh papa. Thank you pap, Next!

Mamaku menghadiahiku dengan tas hermes Birkin warna biru tua, sewarna dengan seragam sekolah SMA Prajnaparamitha. Tas Hermes kali ini berbahan kain jadi lebih ringan. Dulu mamaku pernah membelikanku Hermes Brikin kulit warna hitam kelam. Itu adalah tas terbaik yang kupunya. Sekarang akmemiliki dua tas terbaik!! Yay! Thanks Mom, you are the best.

Kakak pertamaku yang bekerja sebagai dokter memberikanku satu set sepatu keds: Stella mc Cartney gold, Balenciaga white, dan Louis Vuitton black. I am perfect!

Kakak keduaku yang bekerja di bank swiss menghadiahiku kartu debit untuk belanja keperluan yang mungkin kubutuhkan nanti. He is perfect!!

Kakak Ketigaku yang bekerja di Nasa memberikanku sebuah cincin. Dia bilang cincin tersebut terbuat dari meteor yang berumur lebih tua dari bumi. Aku tidak terlalu memahami kakakku yang satu itu tapi aku akan memakainya! Thanks!

Tentu saja setelah kubuka hadiah-hadiah itu aku pamerkan ke social media sambil men-tagging akun kakak-kakakku. Papa dan mamaku tidak memiliki akun sosmed jadi mereka tidak ku-tag-ing.

Begitu unggahan selesai, banyak follower yang melihat dan berkomentar.

"Ihhh kakak sempurna banget sih hidupnya, aku iri loh!" Terimakasih!

"Ihhh ka Violet makin hebbring aja nih hidupnya. Jangan lupa ya liat liat katalog t-shirt terbaru aku. " Dih... kok promosi!

"Si tukang pamer." So what!! My life is perfect, peasant!

"Kalo punya uang banyak mending disumbangin kak. Kebetulan aku dari yayasan A sedang butuh dana untuk blablabla." Loh kok jadi minta sumbangan?

Dunia penuh dengan banyak hal yang aneh, orang-orang aneh dan barang-barang aneh. Aku beruntung terlahir untuk dapat menikmati bagian terbaiknya. Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan namun aku tahu.... sangat tahu... tidak semua orang seberuntung aku. Tidak semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan semudah aku. Karena itulah mereka menjelma menjadi hater, menumpahkan kebencian mereka pada diri mereka sendiri ke orang lain yang lebih beruntung seperti ... aku!

Ahhh daripada berpikir melankolis begitu lebih baik aku mendengar lagu saja. Aku memutar spotify dan memilih lagu. Akhir-akhir ini aku ketagihan lagi 7 Rings yang dinyanyikan Ariana Grande. Entah bagaimana, lagu itu sangat ... aku sekali!

12 Shades Of DaysWhere stories live. Discover now