6. Nuansa Bening

17.8K 4.3K 272
                                              

Taraaaa...  Hahahahaa
Aku lagi gemeesss sama cerita ini...

Dan ngomong2 judulnya itu bukan lagu yaaa wkwkwkwk

Baiklah happy reading...

***

Cakra menyukainya.

Dalam keadaan apa pun, ia selalu menatap Anin bagai dewi yang harus ia miliki. Tetapi rupanya, dewa-dewa tak menyukai idenya. Menjadikan mereka saudara tiri, membuat Cakra ingin sekali mengingkari. Ia menikah agar tak semakin gila. Ia pernah menjauh, supaya tak kian jatuh. Pesona Anin benar-benar membuat otaknya lumpuh. Hingga pada akhirnya, ia tak bisa ke mana-mana. Menjadikan Anin bagai primadona terindah, ia pasrah hanya sebagai pengagumnya yang paling setia.

Momen favorite Cakra adalah saat Anin memejamkan mata. Menyaksikan secara puas bagaimana jelita itu terbuai lelap, Cakra tak mampu menghentikan jemarinya menyusuri wajah Anin yang membuatnya kepayang.

Sengaja, tak ia nyalakan penerang di kamar wanita ini. Sengaja, ia biarkan gelap merajai momen di mana mereka tengah berdua. Tetapi, sulur-sulur pencahayaan yang menerobos melalui ventilasi, membuat obsesinya pada Anin makin tak terkendali. Ia mengelus kelembutan pipi Anin yang lembab bekas air mata. Ia duduk di samping wanita itu, menundukan wajah dan mengecup bibirnya.

Namun penerangan mengganggu keinginannya untuk meminta lebih.

“Mas!”

Cakra tahu, inilah waktunya berhenti.

“Makin nggak waras kamu!”

Sentakan kuat di punggung, membuat Cakra menghela napas panjang. Ia berdiri tanpa sekali pun menatap adiknya. Ia alihkan perhatian pada jendela sementara napasnya berembus tak beraturan. “Dia nyium Affan tadi, Hen,” gumam Cakra memukuli kepalanya beberapa kali.

“Dan tindakan Mas barusan apa? Mau ngehapus jejak, Affan?” Hena tak pernah mengerti mengapa Cakra begitu idiot sampai bertindak sejauh ini. “Keluar kamu, Mas. Aku mau ngegantiin baju Anin.”

“Aku suka dia, Hen.”

“Enggak! Kamu cuma terobsesi sama dia,” balas Hena sambil membuka lemari pakaian Anin.

“Aku nggak bisa jauh dari dia,” desah Cakra menyakitkan.

“Urusi istrimu, Mas. Jangan sampai Briana datang ke kamar ini juga.”

Cakra terdiam. Lalu ia membalikan tubuh, menatap Anin lagi. “Andai waktu itu, aku nggak ngasih uang dia buat ke sana. Dia pasti nggak bakal ngerasain trauma yang kayak gini, Hen.”

“Anin memang suka nyari penyakit. Bukan salah kamu.”

Penyesalan terbesar Cakra bukan hanya menyukai Anin. Tetapi juga karena telah memberikan fasilitas pada adik tirinya itu untuk mendapatkan trauma yang sulit terlupa. Cakra mendekati Anin lagi, kali ini ia turunkan lengan baju yang Anin kenakan. Bukan untuk bertindak asusila, melainkan melihat bagaimana bukti nyata itu masih berada di sana.

Sebuah bekas luka, yang pasti tak akan pernah Anin lupa.

“Mawardi keparat!” umpatnya menahan geram.

***

Bagai senja yang tertutup mendung, alih-alih indah pemandangan justru terlihat mengerikan. Sinar jingga yang seharusnya memayungi lautan, berubah temaram muram. Desau angin yang biasa membelai mesra, terasa begitu kencang kala membentur raga.

Setidaknya, seperti itulah yang Affan rasakan ketika tak menemukan Anin di mana-mana. Panggilannya tak kunjung terangkat, sementara dering panggilan keluarga mulai berdatangan kala ia tak kembali memijak tempat acara. Ia mencari Anin ke toilet dan wanita itu tak ada di sana. Ia kembali bertanya pada ibunya, dan wanita yang melahirkannya pun menjadi sama paniknya. Ia berlari ke lobi hotel, berharap menemukan Anin di sana. Namun Anin tak ia temukan juga.

Bening Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang