Chapter 2

8.4K 677 9
                                              

"Menurutmu bagaimana?"

Donghyuck menatap pria di seberangnya, sementara yang ditanya malah sibuk dengan ponsel yang sedari tadi dimainkannya. Entah apa yang dilihat hingga membuat dirinya senyum sendiri sampai membentuk bulan sabit di kedua matanya.

Lama hening menerpa keduanya, hingga salah satunya sadar akan situasi yang tengah terjadi.

"Hyuck, kau bicara apa tadi?"

Jeno menatap sang kekasih yang tengah menyesap minuman coklat pesanannya.

Donghyuck hanya tersenyum kemudian menggeleng kecil. "Bukan hal penting,"

"Maaf, aku tidak mendengar." sesal Jeno.

Donghyuck menggeleng lagi. "Bukan apa-apa, tak perlu dipikirkan."

Ia menyesap minumannya sebelum beranjak dari sana. "Aku harus pergi, jam makan siangku sebentar lagi habis."

Jeno menangguk kemudian melambaikan tangannya. Setelah itu, Donghyuck berlalu meninggalkan Jeno yang kembali sibuk dengan ponselnya.

Donghyuck bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari perubahan yang terjadi dengan kekasihnya. Bukan sekali atau dua kali Jeno mengabaikan dirinya.

Dulu, Jeno adalah orang yang sangat memprioritaskan Donghyuck. Pertemuan seperti tadi adalah hal yang teramat sangat berharga mengingat betapa sibuk keduanya. Jeno dengan musiknya dan Donghyuck dengan desainnya.

Donghyuck tak mau menjadi egois untuk menuntut Jeno ini itu, bisa saja itu membuat Jeno tidak nyaman. Maka yang bisa ia lakukan hanya diam dan memaklumi. Mungkin Jeno ada urusan dengan bisnisnya.

"Oh Donghyuck!"

Merasa terpanggil Donghyuck berhenti kemudian melihat ke arah orang yang memanggilnya. Terlalu sibuk degan lamunannya membuat dirinya tidak sadar sudah berada di loby kantor.

"Iya sunbae?" Donghyuck menjawab sopan, di depannya berdiri Sowon selaku seniornya yang sedang tersenyum manis.

"Bagaimana makan siangmu?" tanyanya basa-basi. Donghyuck hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Kebetulan bertemu di sini, sajangnim memintaku untuk menyuruhmu ke ruangannya setelah jam makan siang."

Donghyuck mengernyit, seingatnya tak ada hal yang harus dibahas dengan atasan. Lantaran tugas yang harus dikerjakan sudah diserahkan dua hari yang lalu.

"Baiklah, terima kasih sunbae."

Sowon mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Donghyuck yang langsung ke ruangan Taehyung, atasannya.

•••

"Anda memanggil saya sajangnim?" tanya Donghyuck sopan kala sudah berdiri di hadapan atasannya.

Taehyung mendelik. "Ayolah Hyuck hanya kita berdua di sini,"

Donghyuck menghela napasnya kemudian sedikit melunakkan wajahnya namun-

"Baiklah, ada apa?" -kembali dengan sifat aslinya; kaku dan dingin.

Taehyung mendesis, dirinya kemudian mengambil map berwarna biru dari laci mejanya dan menaruhnya di hadapan Donghyuck.

"Kau tahu Park Company?" tanyanya.

Donghyuck mengangguk, siapa yang tidak tahu Park Company? Perusahaan fashion terbesar di Korea bahkan sudah tersohor sampai mancanegara.

Tak jarang model yang digunakan untuk mempromosikan desain pakaian mereka adalah model-model ternama dari berbagai negara. Mereka bahkan sampai berlomba-lomba agar bisa menjadi model pakaian rancangan perusahaan tersebut.

"Iya, aku tahu. Ada apa?"

"Pemilik perusahaan Park itu kenalanku dan istriku, Jungkook. Beberapa hari yang ia memintaku untuk meminjamkan salah satu staf dari divisi desain untuk bekerja sementara waktu di sana lantaran pegawai yang sebelumnya sedang ambil cuti karena hamil," jelas Taehyung.

"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Donghyuck belum mengerti.

Taehyung menghembuskan napasnya kemudian menyamankan duduknya. "Aku ingin kau yang bekerja di sana untuk menggantikan pegawai yang sedang cuti tersebut.

"Mengapa harus aku? Mereka bisa mencari orang lain di luaran sana yang juga punya kemampuan," Penolakan secara halus ala Donghyuck. Ada rasa tak senang kala Taehyung meminta dirinya pergi dari perusahaan ini sekali pun dengan dalih sementara waktu.

"Temanku itu perfeksionis sekali dalam pekerjaan. Lagi pula sebelumnya juga mereka sudah membuka lowongan kerja namun semua yang melamar ditolak lantaran tidak memenuhi standar temanku,"

Donghyuck mendengarkan dengan baik setiap ucapan Taehyung, dalam hati mengutuk teman atasannya yang dinilainya teramat sombong.

"Maka dari itu dia memintaku meminjamkan salah satu pegawaiku untuk perusahaannya. Lantaran dulu aku pernah memperlihatkan hasil gambarmu padanya dan sepertinya ia menyukainya. Lagi pula ini bisa jadi pengalaman bagimu, Hyuck. Apa kau tidak sayang bakat yang kau miliki hanya bisa kau aplikasikan pada perusahaan kecil sepertiku ini? Kau dan karyamu akan lebih banyak dikenal jika di sana,"

Donghyuck menimang. Sejujurnya ia tak masalah, toh menurutnya masih banyak yang lebih baik dalam merancang desain dibanding dirinya. Donghyuck hanya beruntung memiliki bakat menggambar sejak kecil mmebuat ia langsung bisa bekerja dengan bakatnya tanpa harus kuliah seperti kebanyakan orang.

"Hanya sampai pegawainya melahirkan. Setelah itu kau boleh kembali lagi ke sini dan bekerja denganku," Taehyung berupaya meyakinkan.

Ia sudah terlanjur janji pada adiknya untuk mengirim pegawainya hari ini dan Taehyung tak mungkin mengecewakan adik tersayangnya dengan mengirim pegawai yang standar. Donghyuck itu luar biasa dan Taehyung sangat menyadari hal itu. Namun di satu sisi, Taehyung tak tega memaksa Donghyuck. Ada beberapa hal yang membuat Donghyuck enggan pergi dari sini dan lagi hanya Taehyung yang tahu alasannya.

"Baiklah," Donghyuck berujar pelan. Menatap tepat pada hazel Taehyung. "Aku akan pergi dan bekerja di sana. Anggap saja ini bentuk balas budiku padamu hyung karena sudah menjagaku selama ini,"

Taehyung tersenyum kotak, mengusak sayang kepala Donghyuck. "Terima kasih Hyuck, aku tahu kau tak akan mengecewakan."

Donghyuck hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Taehyung.

Kemudian Taehyung menyerahkan map biru itu pada Donghyuck. "Serahkan ini padanya nanti, itu adalah surat perpindahan tugas dariku. Kau sudah bisa mulai bekerja dengannya hari ini. Aku akan meminta supir untuk mengantarmu ke kantornya."

Donghyuck kembali mengangguk, lalu membungkuk sopan sebelum keluar dari ruangan kerja Taehyung. Ia langsung berjalan ke luar gedung di mana sudah ada mobil yang terparkir rapi untuk membawanya menuju perusahaan yang akan menjadi tempat kerja barunya.

To be continued
.
.

Baby? || JihyuckTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang