Bagian 2

55.7K 3.5K 123
                                    

"Kenapa?" Satu pertanyaan yang lolos dari Bibir Gea sudah cukup untuk mewakili pertanyaan-pertanyaan yang sedang bersarang di kepalanya.

Jagat. Laki-laki yang diberikan pertanyaan itu menggulung kemejanya. "Demi harta."

Tangisan Gea reda. "Jelasin sejelas-jelasnya!"Titah Gea.

Jagat membaringkan tubuhnya di samping Gea, menatap lurus langit-langit kamarnya.

"Perjodohan konyol Gema dan Alika, Demi harta warisan."

"Dan kenapa Lo nikahin Gue?"

" Lo tau kan Nyokap Gue udah meninggal?" Pertanyaan Jagat diberi anggukan kepala oleh Gea.

"Karena melahirkan Gue. Dari situ Papa nggak pernah suka sama Gue, Papa cuma sayang sama Gema. Semua harta Papa di wariskan untuk Gema, dengan syarat Dia harus menikah dengan Wanita pilihan Papa."

"Hubungannya sama pernikahan kita?"

"Gue sayang sama Alika."

Gea menatap lekat mata elang milik Jagat, "Kalau Lo sayang sama Alika. Harusnya Lo bantu Gue gagalkan pernikahan mereka. Bukan malah nikahin Gue secara paksa kaya sekarang!"

"Gue nggak akan membiarkan kebahagiaan Alika rusak karena Lo!"

"Bodoh!"

"Dengan Gue nikah sama Lo, Gue bisa lindungin Alika dari Cewek gila kaya Lo."

Tak terima dengan gagasan dari Jagat. Gea pun bangkit dari posisinya, mengambil tas selempang miliknya di atas nakas, "Malam ini, Gue minta cerai sama Lo."

"Lo keluar! Gue akan lakuin apa yang lagi Gema dan Alika lakuin malam ini!" Ancaman dari Jagat membuat Gea merinding, Tujuh tahun mengenal Jagat. Laki-laki itu bukan tipekal orang yang main-main dengan ucapannya.

Gea terpaku di ambang pintu. Ia pikir Jagat akan berada di pihaknya, menghancurkan hubungan Gema dan Alika. Ternyata salah.

"Gea Reana, Lo sedang berada dalam genggaman Gue! Lo macam-macam sama Alika, Gue pastikan Lo akan hancur."

Tanpa aba-aba, Gea menerjang tubuh Jagat. Memukul apa yang ingin dipukul. Emosinya meledak-ledak.

"Lo sama Gema, sama! Sama-sama brengsek!"

Pukulan Gea terhenti. Jagat melawan, Laki-laki itu mendorong Gea hingga tubuh Kecilnya terpental ke belakang, beruntung ranjang milik Jagat berukuran besar sehingga tubuh Gea tak jatuh mencium lantai.

"Kriminal!" Ucapan sinis dari Jagat tak membuat Gea takut, Ia kembali memukul lengan Jagat.

"Tujuh tahun Gue pacaran sama Dia! Dan sekarang, Dia jadi suami orang lain! Mimpi buruk ini diperkuat dengan pernikahan gila ini!"

Kali ini Jagat membiarkan tubuhnya menjadi samsak oleh Gea. Memukul, menjambak, mencakar, bahkan menampar.

Lelah. Gea pun terisak dalam diam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tidak ada pelukan. Tidak ada kalimat penenang. Jagat mengabaikan Gea, Ia kembali membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar.

Hening untuk sesaat. Sampai akhirnya Gea meniru apa yang telah dilakukan oleh Jagat, menatap langit-langit kamar. Tangisannya kembali hadir menghiasi pelupuk matanya.

Gea menggeleng. Mana mungkin matanya tertutup, sementara hatinya meronta tak tahan dengan rasa sakit yang telah ditanam oleh Gema. Malam ini, Gema akan menjadi Milik Alika. Membayangkannya saja sudah membuat Gea meringis.

"Tidur! Gue nggak mungkin macam-macam sama Lo."

🍁🍁🍁

Gea mengikuti langkah Jagat, tangannya pun mencengkeram kuat kemeja Suaminya itu.

Hari pertama menjadi seorang Adik Ipar dari mantan Pacarnya sendiri. Tentu berat, ditambah dengan kehadiran Alika. Ingin sekali Gea membunuh Wanita itu.
Tatapan tak suka ditunjukan secara terang-terangan oleh Adi Papa mertuanya.

"Papa nyuruh Kamu jauhin Gadis ini dari kehidupan Gema, Bukan menikahinya." Tanpa basa-basi Adi membuka pembicaraan di pagi hari.

"Dengan Kamu nikahin Dia, Dia akan tinggal disini dan bertemu dengan Gema setiap hari."

Yang Gea rasakan, Tubuh jangkung Jagat menahan luapan emosi.

"Apa ini rencana Kamu dengan Dia?" Tuduhan tak berdasar itu dilayangkan oleh Adi pada Jagat.

"Plin-plan!" Cibir Jagat.

"Anak sialan!" Tak segan Adi bangkit dari duduknya, hendak memukul wajah Jagat namun Gema menahan gerakannya.

Adi pun pergi dari Meja makan, selera makannya hilang melihat Jagat dan Gea.

"Gue mau pulang." Cengkraman kasar dari Gea sama sekali tak dipedulikan oleh Jagat.  Laki-laki itu duduk bergabung dengan Gema dan Alika.

"Gea, ayo sarapan." Ajakan lembut dari Alika terdengar memuakkan di telinga Gea. Wanita itu mampu mencari muka di depan Dua kakak beradik itu, pikir Gea.

"Gue mau pulang, Jagat!" Frekuensi suaranya meninggi.

"Ge, Ayo sarapan,"ajak Alika.

"Jangan so baik sama Gue Pelakor!"

"GEA REANA!"Jagat membentak Gea.

Gea akan pulang. Lepas dari pernikahan ini. Melupakan fakta bahwasanya Ia telah terikat dengan Jagat.

Rencana Gea hancur saat Jagat menarik pergelangan tangannya dengan kasar. Membawanya bergabung dengan Gema dan Alika.

"Duduk!" Tubuhnya di dorong kasar oleh Jagat.

"Minum!" Tambahnya, menyodorkan segelas susu hangat pada Gea.

Gea tetap bungkam. Sementara tatapannya mengarah tajam pada Alika. Hal ini disadari dengan jalas oleh penghuni dalam ruangan itu.

"Minum!" Frekuensi suara Jagat tak pernah rendah berbicara dengan Gea, tetap tinggi.

Jagat mencengkeram kuat kedua pipi Gea. Tatapan sengit keduanya bertemu.

Tak ingin terlihat lemah, Gea menepis tangan Jagat, "Sakit!"

"Minum!" Kata penuh perintah itu dituruti oleh Gea, Ia meneguk habis segelas susu yang disodorkan oleh Jagat.

Gema yang menjadi penonton, Kali ini berdehem pelan.
"Gue sama Alika besok Honeymoon ke Jepang, Lo berdua mau ikut?"

"Ikut!" Jawab Gea dengan mantap.

"Nggak!" Seiring dengan jawaban Gea, Jagat pun menjawab tak kalah mantap dan lantang.

Untuk kesekian kalinya tatapan sengit keduanya bertemu.

"Ikut!"

"Nggak!"

"Gue ikut, Lo nggak usah!"

"Gue nggak ikut, Lo juga nggak!"

"Hak Gue!"

"Lo Istri Gue!"

"Gue nggak peduli!"

"Jangan nentang keputusan Gue!"

"Jangan mencampuri urusan Gue!"

"GEA REANA!"

"ANGKASA JAGAT!"

"Lo berdua nggak usah ikut!" Gema menengahi perdebatan keduanya.

Black WeddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang