Apaan si ?

35 6 0
                                    

"Eh Ka kok ada mereka si ?" Ucap Della lirih hanya terdengar oleh lawan bicaranya.

"Ga tau." Jawab Santika singkat.

"Ekhemm." Deheman dari suara berat yang ada dihadapan Della.

"Maaf gue boleh duduk disini ?" Tanya Della kepada ketiga cowo tersebut.

"Sopan banget lo kekita kita." Sahut Sandy, namun tidak ada balasan dari Della.

"Yaelah duduk aja kali Dell, toh kita duluankan yang disini." Ucap Santika meraih pesanannya.

Della hanya mengangguk mengiyakan ucapan Santika, lalu duduk disamping Santika. Mereka berdua bersiap siap untuk mulai makan, tapi " lo pada disini cuma mau liatin gue sama Della makan doang ?" Tanya Santika melihat Sandy, Mukti dan Raditya hanya diam menatap mereka berdua.

"Haa ?"

"Ga lah, gue juga mau makan kali."

"Mba pesen bakso tiga, es teh jagan lupa ya!" Teriak Raditya kepada mba pelayan kantin yang sedang membersihkan sisa makanan yang ada di meja.

"Ok siap." Sahut mba pelayan itu masuk kedalam warungnya.

"Sip thankyou so much boskyuu." Ucap Mukti yang merasa bahagia, sepertinya dia akan mendapatkan makanan gratis lagi kali ini. Beruntungnya hidup Mukti.

"Atas ?" Raditya menautkan kedua alisnya.

"Lo tlaktir kita kan ?" Mukti menunjukkan jari telunjuknya kepada Sandy dan dirinya sendiri.

"Kata siapa ? Emang gue bilang ?"

"Lah tadi ?"

"Gue cuma pesenin doang, bukan berarti gue kasih lo tlaktiran bodoh." Raditya tak segan segan menonyor kepala Mukti.

"Lih lo mah gitu amat ke gue, jahat lo." Mukti memasang muka cemberut

"Whahaha unchh, kacian amat si ga dapet tlaktiran." Sontak Santika tertawa lepas melihat Mukti yang kalo mau makan pasti maunya digratisin.

"Apaan si !" Ucap Mukti merasa kesal.

"Lo tuh ya punya uang dipake dong, orang kaya juga medit amat jadi orang. Maunya gratisan mulu idup lo Ti." Cerca Santika sambil mengunyah bakso.

"Betul tuh." Timpal Sandy.

"Cih, gue bukannya medit ya. Tapi gue lagi nabung buat masa depan gue." Timpalnya tak mau kalah.

"Lo punya masa depan ?" Tanya Sandy dan Raditya bersamaan.

"Njay, gue serasa tersudutkan boy."

Disaat perbincangan mereka Raditya ternyata mencuri pandang memperhatikan Della yang sama sekali tidak merasa terganggu akan kebisingan dari kedua sahabatnya itu. Della masih tak bergeming memakan bakso sendok demi sendok. Dalam hatinya dia tidak ingin ikut campur urusan percekcokan mereka yang unfaedah baginya, bahkan tidak ingin sama sekali.

"Cewe emang gitu ya kalo makan didepan cogan, sok diem dan sok ga mau ngeliat." Sindir Raditya sembari melirik ke arah Della.

"Uhukk uhukk..." Della tersedak air bakso setelah mendengar ucapan cowo dihadapannya.

"Sial dia liatin gue terus !" Batin Della.

"Nih minum." Raditya mendekatkan es teh milik Della, dia pun meraih gelas itu lalu menyerutupnya.

"Makasih." Ucapnya.

"Sama sama." Raditya sedikit tersenyum tipis.

"Maaf permisi mba mbas, ini pesanannya." Mba pelayan itu menaruh ketiga mangkuk bakso beserta es teh di atas meja mereka.

"Ok makasih mba." Ucap Sandy dan tersenyum menggoda ke mba pelayan itu.

"Sama sama, silahkan di makan mas." Ucap mba pelayan itu lekas pergi.

"Eh iya, mbaknya perhatian amat ke gue."

"Pedean lo." Ucap Santika.

"Suka suka gue."

"Udah si makan makan aja ga usah banyak omong lo pada. Noh liat kaya disamping gue makan diem terus ga kaya kalian."

"Bodo amat." Sahut mereka bertiga kompak.

Santika hanya menghela nafas gusar. Mereka bertiga lalu menyantap bakso masing masing. Saat makan tidak ada yang berbicara diantara mereka. Setelah beberapa menit akhirnya mereka selesai juga.

"Dell yuk ke kelas." Ajak Santika berdiri bersamaan dengan Della.

"Hmm."

"Buset, temen lo irit banget ngomong."  Ucap Raditya.

"Kenapa masalah buat lo ?" Sinis Santika.

"Ga sih, cuma ngungkapin aja."

"Yuk ah Dell, males gue lama lama sama mereka."

RADELLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang