Bab 10

1.7K 179 37
                                                  

Jangan lupa Vote dan Comment ya!!!

Hope you enjoy this chapter!!!



Siang ini matahari terlihat begitu bersahabat dengan Bastian, kulit putihnya seperti terbakar saking panasnya. Lelaki tampan dengan pakaian kasual itu tengah memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe. Dia tampak melenggang santai ketika turun dari mobil, dengan sebelah tangan di saku celana, dan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Senyum ramah terbit dari bibirnya ketika banyak pasang mata gadis remaja berbisik sembari menatapnya penuh minat.

Cup

"Menunggu lama?" tanyanya setelah mendaratkan kecupan kecil di pipi seorang gadis berambut pendek yang kini tengah merona karena perbuatannya.

"Koko lama banget sih," keluhnya memberengut sebal.

"Tadi ada pertunjukan seru tau..." kekeh Bastian mengingat apa yang tadi dilihatnya.

Gadis itu melirik ke atas, memikirkan apa lagi yang dimaksud lelaki tampan di hadapannya ini. "Emangnya pertunjukan apa yang bikin Kobas dari tadi cekikikan kayak Mbak Kunti?"

"Hapenya Angga hancur, dibanting Amey tadi," jawab Bastian berusaha menawan tawa agar tidak pecah dan mengganggu pengunjung lain.

"Wih! Asli, sih, Sendy. Emangnya Kak Angga ngapain, sih? Sampai hape jadi tumbal."

Bastian lebih memilih diam dan tidak memberikan jawaban pada Fifi yang kini tengah menantikan jawaban atas pertanyaannya itu. Dia tahu benar watak gadis cantik di depannya ini, kurang lebih seperti adiknya yang beringas itu. Tidak mungkin dia menceritakan jika Angga menerima telepon dari pacarnya, bisa habis dia jadi bulan-bulanan Fifi karena membiarkan Sendy menikah dengan lelaki yang sudah punya pacar.

"Kacang mahal, ya, sekarang, Ko?" tanya Fifi menyindir kebisuan Bastian.

"Koko nggak tau, secara gak pernah ke pasar, Say," jawabnya acuh.

Fifi yang kesal kemudian menendang tulang kering Bastian di bawah meja, dia kesal dengan cara lelaki itu memberi jawaban atas pertanyaannya. Tetapi apa mau dikata jika watak Bastian memang seperti itu? Dia bisa apa?

"Kok ditendang, sih? Nanti kalau Koko impoten gimana? Kasihan kamunya juga, kan."

"Anjir... Sarap nih, Kobas! Gimana ceritanya tulang kering ditendang, terus korbannya jadi impoten?" sinis Fifi semakin kesal.

"Kan itunya Koko di antara tulang kering. Aww!"

Sekali lagi Fifi menendang tulang kering Bastian yang lainnya, pembicaraan tentang yang iya-iya ini tidak akan berakhir dengan singkat jika dia tidak segera menghentikannya. Karena sepertinya otak dosen tampan itu telah berpindah ke bagian yang dia sebutkan tadi. Keduanya kini tengah menikmati makan siang yang jauh dari bisa dikatakan sebagai makan siang jika waktunya telah sangat terlambat.

Tidak banyak hal yang mereka bicarakan sore ini, selain perihal pendidikan Bastian di Amerika dan ujian kelulusan SMA yang tidak lama lagi akan dijalani Fifi. Rasanya cukup berat bagi Bastian untuk berjauhan dengan Fifi, apalagi mereka adalah pasangan kekasih baru. "Sayang, nanti kita LDR-an, dan Koko harap itu bukan LDR dalam artian yang lainnya, ya."

Fifi menatap jari-jemarinya yang berada dalam genggaman Bastian, melihat bagaimana cara lelaki itu membelai jari-jemarinya dengan ibu jari. Penuh kelembutan, dan ketulusan, Fifi bisa merasakannya dengan benar. "LDR dalam artian lain itu gimana?" tanya Fifi menyipitkan matanya.

"Kalau yang Koko tau kan LDR itu kepanjangannya Long Disctance Relationship. Nah! Jangan sampai LDR yang Koko tau itu berubah arti jadi Lo Doang Relationship. Sakitnya tuh di sini, kayak lagu dangdut," tunjuk Bastian pada dada kirinya dengan wajah meringis, seolah dia benar merasakan sakit di dadanya.

SAH!!! Sampai Akhirnya JodohTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang