Candy Boy (Chapter 17)

640 170 103
                                          

     Musim dingin tak akan bertahan lebih lama lagi. Tampak dari suhu udara yang mulai menghangat—meskipun masih terhitung dingin. Salju juga tak lagi terlihat. Sudah setengah jam lamanya Yoona berdiri disana. Mengamati kondisi alam dari balik jendela kamarnya. Meskipun waktu sudah sangat larut malam, seharusnya salju akan tetap terlihat. Namun yang tampak hanya sinar redup dari lampu taman.

     Yoona tutup jendela kamar itu. Ia melangkah menuju tempat tidur—yang secara bersamaan matanya tak sengaja melihat kearah meja rias—dimana terdapat sebuah amplop besar diatasnya. Ekspresinya mendadak berubah seakan baru mengingat sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dengan amplop besar itu. Walau bergerak ragu, kakinya segera melangkah keluar dari kamarnya. Dipandanginya pintu kamar Sehun dari depan pintu kamarnya. Tentu saja ia tak akan berani untuk mengetuk pintu suaminya itu. Padahal saat itu Yoona memiliki sesuatu yang harus ia katakan kepada suaminya. Tidak terlalu mendesak, namun ingin segera mendengar jawaban dari Sehun agar dirinya bisa merasa tenang.

     Wajah cemberutnya masih terlihat ragu. Walau akan berdiri lebih lama disana, Yoona tetap saja tidak akan bisa mengumpulkan keberaniannya untuk melangkah maju menuju pintu kamar suaminya itu.

     Huh..

     Hela nafas penuh kekecewaan pun ia hembuskan dengan pasrah. Akan merasa suntuk jika kembali masuk kedalam kamar, Yoona putuskan untuk menyeduh teh di dapur. Langkah malasnya menapak pelan di atas anak tangga.

     Seharian ini ia sudah sangat sibuk mondar-mandir guna mencari lokasi beberapa panti asuhan. Syukur ia ditemani Pak Kang sehingga tak harus gonta-ganti angkutan. Ada hal yang masih sangat melekat pada ingatannya. Di panti asuhan yang terakhir ia datangi, ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang sangat manis. Gadis itu pendiam namun baik hati. Meski tak bermain bersama teman-teman asuh lainnya, gadis kecil itu tetap duduk disekitar mereka dengan sekotak cooler box yang berisikan minuman—yang tadinya diberikan nenek pemilik panti.

     Lagi-lagi Yoona tersenyum memikirkan itu. Gadis kecil itu sukses membuat Yoona terus memikirkannya.

     Aroma kopi terhirup olehnya. Membuat langkah Yoona terhenti tepat disamping meja makan.

    Ada siapa disana?

    Dilihatnya lampu remang milik meja bar yang tengah menyala. Membuat kakinya lanjut melangkah karena merasa penasaran dengan seseorang yang tengah menyeduh kopi di malam selarut ini. Langkahnya pun terhenti di ambang pintu menuju dapur. Tampaklah olehnya Sehun tengah berdiri dibalik meja bar. Masih dengan setelan pakaian kerjanya, dengan penuh penghayatan Sehun menuang air panas dari teko ke bubuk kopi yang berada di dalam kertas filter.

    Pada saat itu, entah mengapa Yoona tak begerak sedikitpun dari posisinya. Matanya tak juga berpindah dari tontonan itu. Wajah tampan itu masih sangat serius dengan proses penyeduhan kopi. Semakin memperjelas garis indah di wajah tampannya. Terlihat juga otot lengan bawahnya yang tampak mengeras, bergerak perlahan menuntun air teko dengan gerakan melingkar.

     "Kau belum tidur?" Yoona tersentak pelan ketika dilihatnya wajah tampan itu tengah melihat kearahnya.

     "Mau kopi?" dengan jeda beberapa detik, Yoona pun menggeleng pelan.

     "Jika begitu duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."

    Huh.. Im Yoona. Tenanglah. Jangan gugup. Tenang.. Tenang..

     Begitulah mantra yang Yoona lafalkan didalam hatinya. Suaminya itu memang tidak pernah bisa membuatnya merasa tenang. Meskipun belakangan ini mereka sudah lebih sering bersama, Yoona tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya ketika berhadapan dengan Sehun.

Candy Boy (Ongoing)Where stories live. Discover now