Dua Puluh Lima

68 10 0

Follow ig vandesca16

***

Sasha dan Emil bersandar kekenyangan di kursi masing-masing. Mereka baru saja menghabiskan sea food dengan porsi untuk empat orang.

"Ya ampun, Mil. Kenyang banget gue. Nggak sanggup berdiri nih," kata Sasha seraya menepuk-nepuk perutnya yang terisi penuh. Dibalas oleh Emil dengan anggukan setuju.

"Ini kita lapar atau doyan sih, Sha?"

"Lapar didominasi dengan doyan. Ugh, puas banget gue makan. Mana enak." Sasha menutup matanya lalu tersenyum senang. Emil yang duduk dihadapannya ikut tersenyum melihat gadis yang ia sukai senang.

Mereka terdiam beberapa saat seraya menunggu perut mereka kembali ke keadaan normal.

"Sha," panggil Emil setelah beberapa saat.

"Hm?" Sasha hanya menggumam. Matanya masih setia tertutup dengan posisi bersandar ke sandaran kursi.

"Gue ngajak lo keluar bukan cuma untuk curhat soal posisi direktur. Tapi ada yang lain," kata Emil pelan. Sasha membuka matanya lalu mengatur posisi duduknya.

"Apaan emang?"

"Gue mau dijodohin." Mulut Sasha terbuka begitu mendengar Emil yang akan dijodohkan.

"Dijodohin? Kita lagi nggak hidup di zaman siti nurbayakan?"

"Sebenernya perjodohan itu udah tradisi di keluarga gue. Siapapun yang umurnya dianggap sudah matang dan mampu untuk menikah, akan dijodohkan. Tapi kalau dia nggak punya calon ataupun pacar. Kalau punya, nggak bakal dijodohin," jelas Emil.

"Lo mau dijodohin sama siapa?" Tanya Sasha.

"Sama anak sahabat nyokap. Nyokap udah klop banget sama anak sahabatnya itu. Makanya nyokap nyesak gue untuk terima perjodohan ini. Tapi, lo tahukan, gue itu maunya sama lo doang Sha." Emil menatap Sasha sendu. Ada kilatan putus asa di matanya.

"Mil, pilihan orang tua nggak mungkin jelek kok. Gue yakin pilihan nyokap lo itu yang terbaik."

"Sebaik apapun cewek yang dipilih untuk gue, nggak bakal berpengaruh apa-apa selama hati gue cuma untuk lo. Sha, lo masih nggak mau pertimbangin gue? Gue sayang dan cinta sama lo. Sejak kita kenal, satu-satunya calon istri yang gue mau itu lo." Emil berdiri dari duduknya lalu pindah duduk ke sebelah Sasha. Ia mengenggam tangan gadis itu.

"Mil, ini bukan urusan yang mudah. Ini menyangkut masa depan. Gue masih belum bisa, Mil. Gue juga nggak mau ngegantung dan nahan lo kalau diluar sana udah ada cewek yang lebih baik dari gue untuk lo. Lo berhak dapat yang lebih baik daripada harus nungguin gue yang nggak jelas ini," tolak Sasha halus. Ia masih belum yakin pada dirinya saat ini. Masih belum tahu harus memilih Emil atau Deo. Atau tidak keduanya. Saat ini sudah ada gadis baik untuk Emil, Sasha tidak mungkin membiarkan Emil bertahan padanya yang penuh dengan ketidak pastian. Hal yang sama juga akan dilakukannya pada Deo jika sedang berada diposisi seperti ini.

"Satu minggu."

"Mil..." Emil menggeleng, tidak ingin Sasha melanjutkan perkatannya.

"Kasih gue waktu satu minggu. Gue akan berusaha semampu gue, meskipun selama ini gue udah berusaha. Satu minggu lagi, gue terima semua keputusan lo. Apapun itu," kata Emil pasti.

"Mil, lo jangan ngorbanin waktu lo untuk gue. Gue nggak sebaik itu untuk lo."

"Satu minggu, Sha. Biarkan gue berjuang untuk terakhir kalinya. Apapun yang menjadi keputusan lo satu minggu lagi, gue akan terima dengan lapang dada. Lo cewek terbaik yang pernah gue kenal. Biarkan gue untuk perjuangin lo, terakhir kali." Tidak bisa lagi yang bisa Sasha lakukan selain menyetujuinya. Emil tidak bisa dibantah dan keras hati.

FatumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang