012

213 47 3
                                              

Aku pulang keesokan paginya. Sedikit kecewa mendapati dua botol susu yang Yoongi letakkan di depan pintu.

Aku ingin bertemu pria itu. Ingin melihat tingkahnya yang menenangkan dan pergerakannya yang selalu misterius.

"Ada apa dengan wajahmu?"

Taehyung yang memaksa berkunjung ke rumahku bertanya. Ia mengambil botol-botol itu dan masuk ke rumahku tanpa harus meminta sandinya.

Yah, Taehyung dan Jimin tahu semua tentang diriku.

"Aku suka bau rumahmu," ujar pria itu saat kami sudah masuk.

"Kau kedengaran seperti om-om mesum, Tae," desisku sambil beranjak menuju kamar.

Taehyung memilih berbaring di sofa dengan dasi yang sudah tak rapi karena ia tarik dengan kasar.

"Dasi ini membunuhku, sialan."

Aku terkekeh sembari berganti pakaian. Pintu kamar tak kututup, tapi aku tak cemas kalau-kalau Taehyung mengintip. Pria itu punya rasa hormat yang tinggi pada wanita.

"Itu bagus. Aku akan jadi yang paling bahagia saat menghadiri pemakamanmu, Tae."

Bisa kudengar dengusan sebal dari ruang tamu. Aku sudah mengenakan kaos oblong dan celana pendek saat kulihat Taehyung yang penampilannya sudah acak-acakan.

"Astaga! Kau lebih pantas jadi gembel ketimbang penembak jitu, Bodoh!"

"Terima kasih atas pujiannya, J."

Taehyung meminum susu yang diantar Yoongi. Aku mendelik saat ia hampir meraih satu botol yang tersisa.

"Itu punyaku!"

"Pelit," oceh Taehyung dengan jemari yang beralih ke toples kue kering di meja.

"Terima kasih atas pujiannya, V."

Kami tergelak setelahnya. Taehyung sempat mengusak rambutku saat aku memilih duduk di sebelahnya.

Dering ponsel Taehyung mengisi ruangan. Dia mengangkatnya tanpa menunggu.

"Halo."

"Dimana kau? Aku sedang bosan."

"Di rumah Jasmine."

"Sialan! Kenapa tak ajak aku?!"

"Kau pasti membuat rusuh nanti."

"Bangsat kau."

"Bangsat juga kau."

"Aku kesana sekarang. Kita akan buat pesta daging. Titik."

Sambungan diputus sepihak. Taehyung mendesah gusar. Sedangkan, aku sibuk dengan sebotol susu yang hampir habis.

"Eum... Jasmine."

"Apa?"

Ia tampak gugup saat berkata, "Jimin mau datang kemari. Ia bilang kita akan buat pesta daging."

Aku hanya meliriknya acuh. Sebenarnya, merasa malas karena pria itu sangat cerewet dan aneh. Tapi, sudah agak lama juga sejak terakhir kami menghabiskan waktu di luar ranah pekerjaan.

Aku membutuhkan ketenangan dan hal-hal baik sebelum menghadapi si black cat itu.

"Baiklah. Ide bagus. Aku sedang butuh hiburan juga."[]

Maaf aku lama sekali. Kacoo lagi uts btw.

Ada yang kangen kucing hitam kita?

Xoxo,
Kacoo.

ɓɭɑck cɑt. [ ɱiɳ yѳѳɳgi ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang