Di Tumpukan Gandum

922 58 2
                                    

Aku berlari di ladang gandum dan teringat Holden Caulfield saat ia bilang pada adiknya bahwa ia ingin menjadi penangkap di gandum. Aku ingin selalu menemukan ibuku dengan nikotinnya sepanjang malam. Ia menunggu tukang koran datang sampai malam menjelang Natal pada tahun 70-an saat aku masih berumur 5 tahun. Aku akan menemukan ayahku di panggung teater menjadi aktor paling buruk karena naskahnya ditulis oleh orang yang hanya mementingkan uang.

Di ladang gandum Holden sedang terduduk dengan topi berburunya. Aku bayangkan saja demikian dan memikirkan apakah kau sudah tidur? Aku mendengarkan audio buku di walkman sambil tertidur di tumpukan gandum. Ada semacam zat-zat kimia yang busuk di kepalaku hingga aku berpikir aku akan mati bahkan jika aku mencium bau tubuhku sendiri. Buku-buku sastra yang kupinjam dari guru bahasaku sudah aku kembalikan-ada beberapa buku puisi dan aku malah mengguntingnya beberapa halaman kesukaanku dan ditempel di tembok kamarku. Sebenarnya jika difotokopi akan lebih baik, tapi aku tidak punya uang.

Holden tertidur bersama serpihan es di rambutnya. Berapa ribu dolar yang telah aku habiskan? Katanya pada dirinya sendiri. Aku tidak tahu akan pergi ke mana. Ayahku baru saja bilang goblok dan segala macam. Ia sibuk mencabuti rumput dan belajar di pasar. Ia pulang sekolah ketika sore hari dan belajar lagi di pasar. Holden sudah pergi dan dia hanya mengucapkan kalimat perpisahan yang menyedihkan. Dia bilang jangan pernah bercerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita kalian akan mulai merasa merindukan orang lain. Kami tidak pernah berpelukan, kami tiba-tiba berada di Central Park South dan membeku kedinginan.

Ayahmu Tumbuh di Halaman BelakangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang