Tangan Geledek 2

9.4K 14 0

1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XV
KARENA tertarik, Tiang Bu cepat menyelinap di antara
pepohonan dan menuju tempat pertempuran. Dan di dekat
sungat ia melihat pemuda tampan dan gadis jelita itu benarbenar
tengah bertempur melawan seorang pemuda tampan
yang lain yang hebat sekali kepandaiannya. Pemuda itu
tampan, bertubuh jangkung kurus, dahinya lebar seperti
botak, mulutnya tersenyum-senyum mengejek dan mata
yang bersinar-sinar aneh! Yang hebat, ia mainkan senjata
yang luar biasa sekali, yaitu sebatang huncwe (pipa
tembakau) yang panjangnya dua kaki, terbuat dari pada
bambu badan batangnya dan tempat apinya dari tanah.
Akan tetapi ia mainkan huncwe itu secara luar biasa sekaIi.
Jelas kelihatan oleh Tiang bu bahwa pemuda tampan ini
mainkan senjata huncwenya seperti orang mainkan pedang
dan ilmu pedangnya inilah yang hebat.
"Eh, seperti Soan-hong-kiamsut (llmu Pedang Angin
Puyuh) …… eh, mengapa begitu? Itu seperti Soan-lian
kiamsut (Ilmu Pedang Teratai Saju') .....” Tiang Bu berkata
seorang diri ketika matanya mengikuti permainan pedang
yang dilakukan dengan huncwe itu. Apalagi ketika tiba- tiba
2
ia merasa sambaran huncwe itu mendatangkan hawa dingin,
ia tidak ragu lagi bahwa tentu pemuda ini mengerah tenaga
dalam Ilmu Pedang Teratai Salju, semacam ilmu pedang
disertai lweekang tinggi yang asalnyn dari Omei-san!
"Siapa dia yang begini lihai .....?” Tiang Bu dalam hati,
membuat ia ragu untuk mencampuri pertempuran itu. Akan
tapi kakak beradik itupun ternyata memiliki kepandaian
yang tidak rengah. Hebat sekali adalah dara jelita itu, karena
ia menghadapi lawannya dengan senjata yang lebih luar
biasa lagi, yaitu dua ekor ular belang di kedua tangan kanan
kiri. Melihat senjata aneh di tangan dara cantik ini, Tiang
Bu, melengong dan seperti dibuka matanya. Teringatlah
akan peristiwa di puncak Gunung Omei-san ketika ia
melihat dua orang gadis kecil bertempur, yang seorang
adalah Lee Goat adiknya dan gadis kedua bukan lain adalah
gadis ini. Tak salah lagi! Dan pemuda itu ...... pemuda yang
sekarang mempergunakan pedang dengan amat indahnya
mengeroyok pemuda berhuncwe itupun bukan lain adalah
pemuda yang kemudian datang melerai adiknya yang
berkelahi. Akan tetapi, pendapat ini tetap saja tidak
mendatangkan keyakinan di hati Tiang Bu apakah ia harus
membantu mereka. Ia tidak mengenal mereka, juga tidak
mengenal pemuda lihai berhuncwe itu, kalau tanpa
mengetahui urusannya ia membantu sefihak, itu tidak adil
sekali. Akan tetapi kalau didiamkanya saja. juga tidak betul
karena ia merasa khawatir sekali akan keselamatan gadis
itu.
Selagi ia ragu ragu, terdengar pemuda berhuncwe itu
tertawa, suara ketawanya sungguh-sungguh berlawanan
dengan wajahnya yang tampan dan sikapnya yang halus.
Suara ketawanya parau, kasar dan kurang ajar. Apalagi
ucapannya yang menyusul ketawanya itu, "Ha, ha ha,
menurut patut aku harus membikin mampus kalian ini,
budak-budak bangsa Kin! Akan tetapi ...... aduh sayang
sekali kau, gadis manis. Mari ikut dengan aku mengejar
3
kebagiaan, dan aku akan mengampuni jiwa budak yang
menjadi kakakmu ini.”
Kata-kata ini saja cukup bagi Tiang Bu untuk mengambil
keputusan membantu gadis itu. Bukan karena ia kini tahu
bahwa gadis dan kakaknya itu bangsa Kin, ia tidak
mempunyai hubungan dengan bangsa Kin, akan tapi
kenyataan bahwa pemuda berhuncwe itu ternyata cabul dan
jahat cukup membuat ia menganggapnya bersalah.
“Setan pemadatan jangan kau menjual lagak,” bentak
Tiang Bu dan begitu ia menyerbu, pemuda berhuncwe itu
terkejut setengah mati. Tadinya ia sudah melihat datangnya
pemuda sederhana ini, akan tetapi tidak memperhatikannya
dan tidak memandang sebelah mata, mengira bahwa
pemuda itu bukan lain adalah seorang di antara "kuli-kuli"
pemuda dan gadis itu. Kiranya sekarang begitu membentak
dan menyerbu dengan tangan kosong angin dorongan
tangannya menyambar hebat dan hampir saja huncwenya
terlepas dari pegangan dan hampir terampas kalau saja
tidak cepat-cepat melompat mundur.
Dara jelita dan pemuda itu seperti pembaca sudah dapat
menduga adalah Wan Bi Li dan kakaknya, Wan Sun, melihat
datangnya benturan, dapat bernapas lega. Tentu saja
mereka mengenal Tiang Bu sebagai pemuda yang kemarin
mengejar-ngejar Ceng Ceng, akan tetapi karena sekarang
pemuda ini membantu mereka melawan si pemegang
huncwe yang lihai, mereka segera bersiap untuk mangeroyok
pemegang huncwe itu.
Pada saat semua barang dari dalam kuil sudah diangkut
ke sebelah perahu besar yang sejak tadi berada di tepi pantai
sungai dan muncullah seorang panglima gundul dari dalam
perahu itu.
“Bi Li dan kongcu, mari kita berangkat!” seru panglima
ini dengan suara keras. Dua orang pemuda itu biarpun raguragu
tak berani membantah perintah ini dan segera mereka
melompat keluar dari kalangan pertempuran, membiarkan
4
Tiang Bu seorang diri menghadapi si pemegang huncwe,
terus mereka berlompatan lari ke atas perahu.
"Gadis manis tunggulah aku!” Si pemegang huncwe
berseru dan tubuhnya berkelebat mengejar. Bukan main
cepatnya gerakannya ini karena tahu- tahu ia sudah berada
di dekat Bi Li yang melarikan diri dan begitu mulutnya
ditiupkan segulung asap ungu menyambar ke arah muka Bi
Li dan gadis itu terguling ! Akan tetapi, Tiang Bu yang
tadinya bengong dan heran mengenai panglima gundul di
perahu besar itu adalah Kwan Kok Sun atau orang gundul
yang dahulu membunuh suhunya, Bu Hok Lokai kini
menjadi sadar melihat tergulingnya Bi Li. Ia berseru keras
dan pemuda berhuncwe yang sudah membungkuk untuk
menyambar tubuh Bi Li, tiba-tiba terpental dan bergulingan
sampai beberapa tombak jauhnya. Ternyata ia telah kena
didorong oleh Tiang Bu yang marah sekali.
Hebatnya, dorongan yang dilakukan dengan tenaga
lweekang besar itu agaknya tidak melukai pemuda
berhuncwe ini. Ia telah bangkit kembali dan telah melompat
ke dekat Tiang Bu dengan muka bengong terheran, bahkan
saking herannya melihat kelihaian Tiang Bu tadi, ia sampai
tidak memperhatikan dan tidak perduli lagi melihat Bi Li
dipondong oleh kakaknya dan dibawa lari ke atas perahu.
Kemudian perahu dengan cepat berlayar ke tengah sungai
yang sedang banjir !
"Bagus, jadi kau mempunyai sedikit kepandaian? Setan
belang, kau ini siapakah berani sekali mencampuri
urusanku!”
Tiang Bu tersenyum, lega melihat gadis manis itu sudah
pergi dengan aman. Kini ia mendapat banyak kesempatan
untuk melihat dan memperhatikan pemuda itu. Pemuda itu
paling banyak berusia dua puluh satu tahun dan biarpun
wajah dan gerak-geriknya serta pakaiannya menandakan
bahwa dia itu seorang sopan terpelajar namun sepasang
matanya membuat orang berdebar ngeri. Sepasang mata
5
mempunyai sinar yang aneh menyambar-nyambar dan
seperti bukan mata manusia. Di dalam matanya inilah letak
keistimewaan dan mungkin kejahatan pemuda ini, pikir
Tiang Bu, kagum melihat seorang masih begini muda sudah
memiliki kepandaian tinggi. Ia amat tertarik karena tadi ia
mengenal dua ilmu pedang terbayang dalam ilmu pedang
yang dimainkan dengan huncwe oleh pemuda ini, dan dua
ilmu pedang yang berasal dari Omei-san.
"Sobat, ilmu silatmu hebat sekali. Sayang kau berlaku
kurang sopan kepada seorang gadis terhormat. Setelah gadis
itu pergi, perlukah kita meneruskan permusuhan ?
Bukankah lebih baik kita berkenalan ? Namaku Tiang Bu
dan aku sama sekali tidak mempunyai permusuhan dengan
kau, hanya tadi aku ingin menolong nona itu...... “
Akan tetapi ia melongo ketika tiba-tiba pemuda
berhuncwe itu terbahak-bahak sambil memegangi perutnya
dan kadang-kadang menatap wajahnya. Tiang Bu merasa
seakan-akan mukanya ada coretan arang, ia menjadi gemas
sekali akan tetapi diam-diam ia meraba-raba mukanya kalau
kalau muka itu kotor dan kelihatan lucu membuat orang
tertawa seperti tadi.
"Ha-ha ha-ha, kau ...... ? Kau yang bernama Tiang Bu
...... !? Ha-ha ha ha. kok begini saja macamnya ? Lucu......
lucu...... !”
Pada saat itu, dari jauh terdengar suara wanita bertanya.
"Twako kau tertawa- tawa gembira ada apakah ?"
Mendengar pertanyaan ini, pemuda Itu makin keras
ketawanya dan Tiang Bu diam-diam terkejut. Suara
pertanyaan Itu dikeluarkan orang dari tempat jauh dengan
pengerahan ilmu Coan im-jip-bit (Mengirimi Suara dari
Jauh) yang cukup lihai, tanda bahwa wanita yang bicara
tadipun memiliki kepandaian tidak boleh dipandang ringan.
"Moi.moi, kalian lekas datang ke sini. Ada hal yang amat
menyenangkan dan menggelikan hati. Lekas!” Pemuda
6
berhuncwe menjawab, juga dengan pengerahan Ilmu Coan
lm-jip-bit ke arah barat dari mana suara datang.
Baru saja gema suara ini lenyap, dari barat berlari datang
dua orang gadis berpakaian serba merah dan ketika dua
orang gadis itu datang dekat, Tiang Bu mendapat kenyataan
bahwa mereka ini masih muda belia, paling banyak usia
mereka sembilan belas dan delapan belas tahun, keduanya
cantik-cantik dan manis-manis menggairahkan. Apalagi cara
mereka berpakaian amat ketat dan ringkas, mencetak
bentuk tubuh mereka yang bagaikan kembang baru mekarmekarnya
sehingga muka Tiang Bu menjadi merah padam
melihat lekuk-lekuk tubuh yang kencang menantang dan
dicetak oleh pakaian tipis, padahal biasanya disembunyikan
rapat-rapat oleh setiap orang gadis sopan. Gadis pertama
yang mempunyai tahi lalat merah kecil di dagunya berusia
paling banyak sembilan belas tahun, matanya galak kejam
akan tetapi bibirnya yang indah bentuknya itu tersenyum
manis sekali. Gadis kedua yang lebih muda sedikit amat
menarik karena memiliki sepasang mata yang bening dan
indah bentuknya, bergerak- gerak dengan amat genit,
kerlingnya tajam menyambar-nyambar dari ujung mata.
"Apa yang menyenangkan hati twako tanya gadis bertahi
lalat sambil memandang kearah Tiang Bu. "Apakah pemuda
seperti ini kau bilang menyenangkan ?"
"Biarpun tidak menyenangkan, memang betul dia
menggelikan," kata gadis ke dua dan kerlingnya menyambar
ke arah muka Tiang Bu yang menjadi makin merah, semerah
warna pakaian dua orang dara lincah ini. "Enci Lin, kaulihat,
matanya lapar betul."
Memang sepasang mata Tiang Bu menyapu mereka
berdua dan nampaknya "lapar" sekali, padahal pemuda ini
memperhatikan mereka karena amat tertarik melihat
keadaan mereka ini seperti yang digambarkan oleh Ceng
Ceng! Tahi lalat di dagu itu! Dan sikap dua orang gadis ini,
tak salah lagi inilah dua orang gadis she Liok yang telah
7
merampas *kItab Omei-san dari tangan Ceng Ceng. Sebelum
ia sempat menegur atau bertanya, pemuda yang memegang
huncwe itu sudah berkata,
“Kalian tidak tahu, beliau ini bukan orang lain, akan
tetapi inilah dia yang bernama Tiang Bu !"
Disebutnya nama ini benar-benar mendatangkan
perubuhan besar pada dua orang dara manis itu. Lcnyap
muka yang tadinya geli mentertawakan itu, terganti oleh
perasaan heran, kagum, dan bahkan ..... mencari-cari muka.
"Memang namaku Tiang Bu apakah anehnya dengan itu
? Kalian ini siapa?”
Pemuda berhuncwe itu membusungkan dada, berdiri
dengan sikap menantang di depan Tiang Bu, lalu menjawab
dengau suaranya yang kasar dan serak,
“Mau tahu namaku? Aku...... Cui Kong namaku tidah
kalah baiknya dengan namamu, juga aku lebih tampan.
Adapun tentang kepandaian, aku tidak kalah kalau belum
mencoba. Sambut ini !” Begitu kata-kata ini dikeluarkan
huncwe itu meluncur cepat menusuk tenggorokan Tiang Bu,
disusul oleh tangan kiri yang masuk ke perut dengan telapak
miring seperti pedang membacok. Inilah serangan maut yang
luar biasa lihai dan berbahayanya.
"Bagus !” seru Tiang Bu yang cepat sekali reaksinya
menghadapi serangan dahsyat yang dilancarkan secara tibatiba
ini. Ia maklum bahwa pemuda di depannya ini tidak
main-main dan menyerangnya dengan mati-matian, begitu
pula bahwa pemuda yang mengaku bernama Cui Kong ini
memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada kepandaian Ceng
Ceng, bahkan lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li dan
kakaknya. Cepat ia mengerahkan ginkangnya, berkelebat
mengelak tusukan huncwe ke tenggorokan sedangkan
tangan kiri lawan yang “membacok" perutnya itu ia sambut
dengan tangan kanan untuk dicengkeram.
8
Akan tetapi Cui Kong ternyata cerdik dan gesit sekali.
Rupanya pemuda tampan inipun sudah dapat menduga
akan kelihaian Tiang Bu dan karenanya merasa jerih untuk
mangadu tangan. Cepat ia menarik kembali tangan kirinya
yang seperti seekor ular tahu-tahu telah menyusup ke dalam
saku bajunya dan keluar lagi, kemudian dibarengi bentakan
aneh, dari mulut pemuda itu menyambar asap ungu dan
dari tangan kirinya menyambar jarum-jarum hitam,
sedangkan huncwenya meluncur lagi ke arah ulu hati Tiang
Bu. Sekaligus tiga macam serangan yang dapat merenggut
nyawa telah mengurung Tiang Bu.
“Ganas dan keji...... !" seru Tiang Bu kaget. Ia cepat
melompat sambil mengumpulkan sinkangnya menggerakkan
tangan berulang-ulang untuk memukul runtuh jarum-jarum
hitam yang menyambar ke arahnya itu dengan hawa
pukulannya, sedangkan dengan tenaga khikang yang
mengagumkan, ia meniup arah asap ungu itu sehingga
buyar dan terbang tetbawa angin.
“'Hebat....... !" demikian dua orang gadis menonton
pertempuran itu memuji kepandaian Tiang Bu. Juga Cui
Kong diam-diam merasa kagum dan kaget sekali melihat
cara Tiang Bu menghadapi semua serangan dengan
demikian aneh dan mudah. Namun masih merasa penasaran
dan dengan marah kembali menyerang dengan empat cara,
yaitu dengan huncwe, dengan asap ungu, dengan jarumjarum
hitam atau dengan tangan kirinya. Setiap gerakan
dalam serangan ini merupak tangan maut menjangkau ke
arah nyawa Tiang Bu, karena serangan huncwe selalu
ditujukan kepada bagian tubuh yang berbahaya, sedangkan
asap ungu dan jarum hitam itu semuanya mengandung
racun yang amat jahat, juga pukulan-pukulan tangan kiri
selalu mengarah jalan darah kematian. Menghadapi
serangan-serangan lawan yang amat ganas ini, Tiang Bu
marah sekali. Akan tetapi dia tidak sekeji Cui Kong dan tidak
mau dia menewaskan orang tanpa sebab. Kalau Tiang Bu
menghendaki, dengan ilmunya yang jauh masih berada di
9
atas tingkat Cui Kong kiranya mudah saja ia mengeluarkan
serangan maut sebagai balasan yang takkan mungkin dapat
dihindari oleh lawannya. Akan tetapi Tiang Bu tidak berniat
membunuh orang. Ia hanya ingin mengukur sampai di mana
kepandaian pemuda ini dan ingin mengalahkannya tanpa
membunuh atau melukai berat. Inilah yang sukar karena
pemuda inipun bukan orang lemah dan memiliki kepandaian
tinggi sekali, maka mengalahkan dia tanpa melukai berat
atau membunuh, hanya mudah dibicarakan akan tetapi
pelaksanaannya sukar sekali.
"Aha, kau benar lihai, dan hatimu lemah sekali. Ha haha!”
berteriak-teriak Cui Kong memuji dibarengi ejekanejekan
yang memanaskan hati. “Lihat, alangkah manisnya
Cui Lin dan Cui Kim itu, alangkah bagusnya bentuk
badannya. Eh, Tiang Bu, kalau kau bisa menangkan aku,
akan kuberikan mereka kepadamu untuk menyenangkan
hatimu!”
Tiang Bu marah sekali dan berusaha sekerasnya untuk
merobohkan lawan yang lihai tangan lihai mulut ini. Seratus
lima puluh jurus sudah lewat dan selama itu Tiang Bu tetap
menghadapinya dengan tangan kosong. Makin lama Tiang
Bu makin terkejut oleh karena ilmu silat dari pemuda di
depannya itu selain lihai sekali juga banyak macamnya dan
diantaranya terdapat ilmu pedang yang sifatnya tak salah
lagi bersumber pada ilmu-ilmu Omei-san Di lain pihak,
biarpun mulutnya mengomel namun Cui Kong diam-diam
merasa panas bukan main. Belum pernah selama hidupnya
menghadapi lawan sehebat ini yang melayani huncwe dan
senjata-senjata rahasianya hanya dengan dua tangan kosong
untuk selama seratus lima puluh jutus, sedikitpun tak
pernah terdesak bahkan mendesaknya dengan hebat. Saking
gemas dan penasaran, ia melompat mundur dan melakukan
pelanggaran apa yang dilarang oleh ayahnya, yaitu
melakukan pukulan dahsyat ajaran ayahnya. Pukulan Tinsan-
kang (Pukulan Mendorong Gunung). Tubuhnya agak
merendah setengah berjongkok selagi Tiang Bu mengejar
10
maju, Cui Kong dorong dengan kedua tangan kosong ke
depan mulutnya membentak, “Roboh ...... !!"
Hebat tekali pukulan Tin-san-kang ini. Pukulan ini
asalnya ciptaan seorang tosu kenamaan, ketua lm-yang bu
pai dan bernama Giok Seng Cu. Tosu rambut panjang ini
adalah murid Pak Hong Siansu. Oleh Giok Seng Cu ilmu ini
diturunkan kepada Liok Kong Ji dan dari Liok Kong Ji
menurun kepada Cui Kong. Dalam menggunakan ilmu ini,
ternyata Cui Kong tidak kalah lihainya oleh Liok Kong Ji.
Tiang Bu merasa seperti terbawa tiupan angin keras, dan
ia tidak kuasa menahan lagi. Biarpun ia sudah mengerahkan
tenaga sehingga pukulan ini sama sekali tidat dapat
melukainya, namun dorongan hawa pukulan dahsyat ini
membuatnya terlempar ke belakang dan roboh terlentang!
Saking kaget dan kagumnya ia tidak cepat-cepat berdiri dan
ini dipergunakan oleh Cui Kong yang berwatak licik. Melihat
betapa Tiang Bu hanya roboh saja dan pada mukanya tidak
terlihat tanda kesakitan melainkan keheranan, Cui Kong
masih belum puas akan kemenangannya, cepat ia melompat
mendekati dan kini dari jarak dekat ia melancarkan pukulan
Tin-san-kang pada perut Tiang Bu. Pukulan maut !
Kali ini Tiang Bu tidak mau mengalah lagi karena
menghadapi bahaya sebesar itu, mengalah berarti mati.
Dengan tubuh masih telentang di atas tanah, ia
menggerakkan kedua tangannya dipukulkan ke atas, ke
arah dua tangan Cui Kong yang menghantamnya.
Biarpun tidak kelihatan dua pasang tangan bertemu,
namun pertemuan dua tenaga raksasa di tengah udara itu
akibatnya hebat sekali. Tubuh Tiang Bu yang terlentang itu
melesak ke dalam tanah sampai sejengkal lebih, sedangkan
tubuh Cui Kong bagaikan tertendang dari bawah, terpental
ke atas kemudian roboh lemas dan muntah-muntah darah !
"Saudaraku Tiang Bu, aku mengaku kalah ….. kau patut
menjadi putera sejati dari ayah.....” kata Cui Kong dan dua
orang gadis itu maju dan merangkul pundak Tiang Bu.
11
“Koko, kau benar-benar lihai sekali….” kata Cui Lin
sambil meremas remas tangan Tiang Bu.
*Koko, kau nanti harus ajarkan pukulan hebat itu
kepada adikmu ini, biar upah. kuberi dulu ...... " kata Cui
Kin dan cepat meraih kepala Tiang Bu untuk ditarik dan
diciumnya pipi pemuda itu dengan bibir dan hidungnya.
Hal ini sama sekali di luar dugaan Tiang Bu. Karuan saja
ia menjadi gelagapan hampir saja ia mendorong dua orang
gadis itu kalau saja tidat terjadi hal yang aneh di dalam
dirinya. Entah mengapa, begitu dua orang gadis itu
merangkulnya dan bersikap manja dan manis, begitu kulit
lengan yang halus putih bersentuhan dengan kulit leher dan
lengannya, begitu keharuman bunga- bunga yang keluar
dari pakaian mereka menyentuh hidungnya, tiba-tiba saja
Tiang Bu menjadi panas seluruh tubuhnya. Dadanya
berdebar tidak karuan, kepalanya seperti berdenyut-denyut,
pandang matanya berkunang dan pikirannya menjadi tidak
karuan. Tiba-tiba saja timbul sesuatu yang mendorongnya
untuk merasa senang, merasa gembira bersentuh kulit
dengan dua orang gadis ini, bahkan membuatnya ingin
membalas dan menyambut tangan dan belaian mereka.
Pendeknya dalam waktu singkat dan secara aneh sekali,
nafsu binatang telah menguasai hati dan pikiran Tiang-Bu,
sukar untuk dilawan lagi.
Sementara itu, Cui Kong sudah bangun berdiri dan
menghapus darah yang melumuri bibirnya, lalu
menghampiri Tiang Bu sambil menjura dan berkata,
'Benar-benar siauwie takluk sekali, kepandaian Tiang Bu
koko patut dikagumi dan tentu akan membanggakan hati
ayah kita."
Tiang Bu agak tersadar dari pada buaian pengaruh aneh
yang memabokkannya melihat kedatangan Cui Kong, akan
tetapi ia menjadi terheran- heran. "Kalian ini siapakah ? Dan
apa maksud kata-kata yang ganjil itu?'
12
“'Saudara tua Tiang Bu harap maklum bahwa aku adalah
putera angkat dari ayahmu Liok Kong Ji, jadi kita masih
terhitung saudara, dan mereka ini, Cui Lin dan Cui Kim
adalah ……”
“Kami juga saudara-saudara angkat, akan tetapi seperti
telah dijanjikan oleh Cui Kong toako tadi, setelah dia kalah
maka kami menjadi...... ' setelah berkata demikian, dengan
stkap genit sekali Cui Lin menggandeng tangan kanan Tiang
Bu sedangkan tangan kiri pemuda itu digandeng oleh Cui
Kim ! Adapun Cut Kong memandang dengan tersenyum
girang, lalu katanya.
"Tiang Bu koko, mari silakan mengaso di tempat di mana
kita dapat bercakap- cakap dengan senang."
"Kita bukan saudara...... " bantah Tiang Bu lemah karena
hatinya makin tidak karuan ketika dua tangannya digandeng
dan dibelai oleh dua orang dara cantik itu, "Aku ...... aku
bukan anak Liok Kong Ji…..”
Akan tetapi sambil tertawa-tawa Cui Kim berkata, "Aah,
koko jangan kau main-main dicubitnya lengan pemuda itu
dan ditarik-tariknya maju. Sambil tcrtawa-tawa dua orang
gadis itu membetot Tiang Bu yang terpaksa berjalan bersama
mereka, singguhpun mukanya masih memperlihatkan
keraguan Cui Kong di sepanjang jalan terus menerus
'bernyanyi” memuji kegagahan, kelihaian Tiang Bu. Bahkan
kini dua orang gadis itu mulai memuji-muji ketampanan
Tiang Bu, pada hal tadi mereka mencela. Anehnya. Tiang Bu
yang biasanya berwatak gagah dan bersemangat, kini
seakan-akan pikirannya diselubungi sesuatu yang membuat
daya pikirannya tumpul, membuat ia seperti kehilangan
semangat dan seluruh tubuhnya dikuasai oleh nafsu, kotor.
Tentu saja ia tidak menyangka sama sekali bahwa hal ini
adalah akibat pengeruh katak ajaib yang ada di dalam saku
bajunya! Katak hijau itu memang betul semacam katak yang
beracun aneh, seperti yang pernah dikatakan oleh Pekthouw
tiauw-ong Lie Kong bahwa katak hijau itu adlah katak
13
pembangkit asmara. Racun yang keluar dari tubuh katak itu
menjalar kepada orang yang membawanya dan
mendatangkan pengaruh yang luar biasa kuatnya sehingga
orang yang membawanya akan diserang nafsu berahi yang
tidak sewajarnya, membuat orang itu gelap mata dan
kehilangan semangatnya. Kalau si pembawa tidak
bersentuhan kulit dengan wanita, maka pengaruh katak itu
tidak terasa. Akan tetapi sekali orang bersentuhan kulit
dengan seorang wanita, ia akan terpenguruh hebat sekali,
apa lagi jika yang terpengaruh itu orang yang memang pada
dasarnya mempunyai watak romantis. Adapun Tiang Bu,
sebagai putera Liok Kong Ji yang aseli, ternyata sedikit
banyak ada “darah” ayahnya mengalir di tubuhnya yang
membawa watak "gila perempuan' dari ayahnya itu
kepadanya. Oleh sebab inilah maka mudah sekali dibinggapi
penyakit dari racun katak itu.
Bagaikan orang mabuk, Tiang Bu menurut saja
digandeng dan ditarik oleh Cui Lin dan Cui Kim, seperti
seekor kerbau ditarik hidungnya. Mereka menuju ke sebuah
pondok kecil yang berada di sebuah hutan, belasan li dari
pantai sungai tadi di mana perahu besar ng membawa Bi Li
dan Wan Sun menghilang.
Seperti kelenteng tua yang ditinggali Bi Li dan Wan Sun
tadi, pondok inipun dalamnya serba indah dan mewah,
bahkan di sini terdapat tiga orang pelayan laki-laki. Cui
Kong segera memberi perintah kepada para pelayan untuk
mengeluarkan hidangan arak wangi dan Tiang Bu dijamu
dengan segala kehormatan.
Dengan ramah-tamah Cui Kong menuangkan arak wangi
dalam cawan besar penuh dan memberikan cawan itu
kepada Tiang Bu. "Tiang Bu koko, silakan menerima ucapan
selamat bertemu dari siauwte dengan segelas arak
“'Aku...... aku tidak biasa minum arak,” kata Tiang Bu
menolak.
14
Akan tetapi Cui Kim merangkul lehernya dan menerima
cawan arak itu lalu menempelkannya pada bibir Tiang Bu
sambil berkata "Koko, apakah kau tidak suka kepada kami.
Terimalah. biar ucapan selamat itu ditambahi oleh
penghormatanku.” Dihadapi bujuk rayu oleh si jelita dalam
keadaan dia sedang terpengaruh oleh racun katak hijau,
mana Tiang Bu dapat menolaknya? Sambil tersenyumsenyum
bingung ia akhirnya menerima juga minum arak itu.
Akan tetapi begitu arak itu mrmasuki mulutnya, hawa
sinkang di dalam tubuhnya otomatis naik den menahan arak
itu sehingga tidak sampai masuk ke tenggorokan. Tiang Bu
merasa sesuatu yang panas, pedas dan nenusuk-nusuk dari
arak itu maka di dalam setengah sadarnya ia bercuriga.
Cepat ia memutar kepala ke samping dan menyemburkan
arak itu ke tanah.
“Racun...... !" katanya. Sebenarnya seruan itu hanya
karena kagetnya saja merasa sesuaru yang amat tidak cocok
di dalam mulutnya, akan tetapi tanpa disengaja ia telah
mengeluarkan seruan yang amat tepat. Kalau saja Tiang Bu
memperhatikan, tentu ia melihat betapa wajah Cui Kong dan
dua orang gadis itu menjadi pucat. Bahkan Cui Kong sudah
menarik huncwenya, bersiap kalau-kalau Tiang Bu akan
menyerang. Akan tetapi karena melihat Tiang Bu tidak
menyerangnya, Cui Kong lalu menyambar cawan arak di
tangan Tiang Bu yang masih ada sisa araknya.
"Kurang ajar, kau berani mencoba meracuni kakakku?"
bentaknya kepada pelayan yang tadi mengeluarkan
hidangan.
“Tidak ...... siauwya...... bukankah siuwya menyuruh
hamba ......”
Kata-kata pelayan yang menjadi ketakutan itu dipotong
cepat oleh Cui Kong. “Aku menyuruhmu mengeluarkan arak
terbaik dan yang paling wangi, akan tetapi apa yang
kauhidangkan? Arak obat luka, arak yang mengandung
racun. Hayo kauminum ini!” Ia mengulurksn tangan
15
memberikan cawan itu, akan tetapi pelayan itu dengan
muka pucat dan tubuh gemetar mundur tidak mau
menerimanya.
'Tidak...... tidak...... ampun siauwya…”
Akan tetapi sebuah totokan dengan ujung huncwe
membuat pelayan itu berdiri kaku dengan mulut ternganga,
kemudian sekali menggerakkan cawan, isi cawan itu
tertuang ke dalam mulut terus memasuki perut si pelayan
yang bernasib malang. Setelah itu Cui Kong menotok pula
jalan darah pelayan itu membebaskannya. Akan tetapi racun
sudah bekerja dan seketika itu juga pelayan itu terjungkal,
berkelojotan dan ...... mati.
“Akh, mengapa dia dibunuh?” Tiang Bu mencela, kaget
dan ngeri.
"Dia tentu pesuruh musuh-musuhmu, twako. Dia itu
pelayan yang baru saja tiga hari bekerja pada kami. Kalau
tidak dibunuh, dia bisa berbahaya," jawab Cui Kong yang
segera menyuruh dua orang pelayan lain untuk mcngurus
mayat pelayan sial itu. Kemudian ia mengundurkan diri dan
mempersilakan Tiang Bu bersenang-senang dengan dua
orang gadis itu.
Tiang Bu benar-benar seperti orang lemah. Tak kuasa ia
mengusir pengaruh racun katak pembangkit asmara itu dan
akibatnya membawa ia seperti buta, tidak dapat ia menolak
cumbu rayu kedua orang gadis yang sikapnya amat manis,
mesra dan penuh cinta kasih kepadanya. Tiang Bu menjadi
lupa akan segala ilmu batin yang pernah dipelajarinya, ia
tidak berdaya dan menurut saja dirinya dibawa dan diseret
ke jurang kehinaan oleh dua orang gadis yang biarpun pada
lahirnya cantik-cantik, namun di lubuk hatinya sebetulnya
adalah siluman-siluman bermuka manusia ini.
Pada keesokan harinya, seperti orang yang baru sadar
dari maboknya, Tiang Bu mendapatkan dirinya terlentang di
atas pembaring, di dalam kamar yang indah dan harum. Ia
16
tak melihat Cui Lin dan Cui Kim dan tubuhnya terasa kaku
dan sakit-sakit ketika ia hendak bangun. Pada saat itu,
perasaannya yang sudah terlatih, juga berkat sinkangnya
yang tinggi. ia tahu akan adanya senjata-senjata rahasia
yang menyambar. Cepat sekali reaksinya dan di lain saat ia
telah menggelundungkan tubuh ke bawah ranjang dan cepat
melompat berdiri pada saat ujung huncwe di tangan Cui
Kong menusuk ke arah matanya.
Tiang Bu kaget bukan main. Serangan ini luar biasa
cepatnya dan pula sedang dalam keadaan limbung.
pikirannya masih belum sadar benar, baiknya ilmu silat
yang dilatih bertahun tahun oleh Tiang Bu adalah ilmu silat
tinggi yang jarang bandingannya di dunia. Kedua kakinya
secara otomatis sudah bergerak menurutkan Ilmu Kelit Samhoan-
sam-bu. Kedua kaki ini ketika bergerak dalam Ilmu
Kelit Sam-hoan-sam-bu, seakan-akan dua ekor ular saja
lemasnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah melejit ke samping
dan bebaslah ia dari tusukan yang mengarah matanya.
Sebelum ia dapat mengatur kembali posisinya. Cui Kong
telah menerjangnya lagi dengan ilmu silatnya yang cepat dan
lihai, dengan serangan-serangan bertubi-tubi yang amat
ganas dan dahsyat. Kamar itu cukup lebar, tetapi karena di
situ terdapat meja kursi, sukar juga bagi Tiang Bu untuk
menghindar diri dari serangan-serangan yang bertubi-tubi
dan amat lihai itu, sehingga dua kali ia terkena juga tusukan
ujung bambu huncwe, sekali pada pahanya, dan kedua
kalinya pada pundaknya. Baiknya tubuh pemuda ini sudah
luar biasa kuatnya, kebal dan tidak mudah terluka sehiogga
tusukan-tusukan yang demikian cepat dan kerasnya itu
hanya merobek pakaian dan sedikit daging di bawah kulit
saja, sama sekali tidak mendatangkan luka yang
membayakan.
Marahlah Tiang Bu. Tadinya ia belum membalas karena
tidak tahu apa sebabnya ia diserang mati-matian oleh
pemuda yang mengaku sebagai saudararya itu. Akan tetapi,
17
luka-luka di pundak dan pahanya membuat ia maklum
bahwa tanpa perlawanan, ia akan menghadapi malapetiaka.
Sambil berseru keras yang merupakan bentakan dahsyat,
Tiang Bu mementang kedua tangannya dan sepuluh jari
tangannya didorongkan ke depan. Inilah pukulan dahsyat
sekali dari Ilmu Pukulan Pek-lo (Jari-jari Geledek). Masih
balk bagi Cui Kong bahwa Tiang Bu tidak bermaksud
membunuhnya maka pukulan dahsyat ini ditujukan ke
bawah. Cui Kong menjerit keras dan terlempar keluar
kamar, kedua tulang pahanya remuk.
Tiang Bu hendak melompat keluar pula, tetapi tiba-tiba
Cui Lin dan Cui Kim lari masuk dan memeluknya.
"Koko yang baik, jangan bunuh dia….” Cui Lin membujuk
sedangkan Cui Kim memeluknya erat-erat. Begitu dua orang
gadis itu berada di dekatnya, lemaslah seluruh tubuh Tiang
Bu, lenyap kemarahannya.
“Akan tetapi...... kenapa dia...... hendak membunuhku ?”
tanyanya, keningnya berkarut matanya bersinar penasaran.
“Duduklah ...... biar kuterangkan kepadamu ...... " kata
Cui Lin dan bersama adiknya ia menyeret Tiang Bu untuk
duduk di atas ranjang.
"Sesungguhnya, terus terang saja, dia mempunyai hati
kepadaku, akan tetapi aku tidak membalas cintanya dan
...... dan cinta padamu. Ini agaknya membuat iri dan
cemburu dan tanpa tanya lagi dia menyerangmu. Akan
tetapi dia sudah mendapat bagiannya dan tentu kapok. Biar
dia pergi dari sini, jangan kita perdulikan dia."
'Koko, kau ...... kau gagah parkasa hebat ...... !I" Cui Kim
memuji dan nampak bangga sekali.
Untuk kedua kalinya Tiang Bu roboh. Racun katak sudah
menjalar memasuki darahya membuat ia lupa daratan dan
tidak tahu bahwa dua orang wanita cantik ini mengatur
siasat untuk mencelakakannya. Namun, Cui Kim dan Cui
Lin agaknya jerih menghadapi kelihaian ilmu silat Tiang Bu,
18
sehingga sampai sebulan lebih mereka mengajak Tiang Bu
bersenang-senang di tempat itu. Segala keperluan
disediakan oleh dua orang pelayan itu dan anehnya, di
tempat sesunyi itu apa saja yang dikehendaki mereka akan
tersedia, makanan-makanan yang mahal atau minumanminuman
yang lezat. Dalam maboknya, hal inipun tidak
menarik perhatian Tiang Bu, apalagi menimbulkan
kecurigaannya.
Di luar pengetahuannya, makin lama tubuh Tiang Bu
makin lemas. Racun katak itu memang hebat. Kalau yang
dirangsang tidak melayaninya, racun itu takkan ada
gunanya dan akan mati sendiri. Sebaliknya, apabila orang
yang dirangsang menuruti dorongan nafsu yang timbul dari
rangsangan racun ini, racun itu akan bekerja makin hebat,
mengeram dalam jalan-jalan darah dan menyerang jantung.
Kalau bukan Tiang Bu. dalam waktu dua pekan saja orang
yang menuruti nafsu akibat rangsangan racun ini akan
kehabisan semua tenaganya dan darahnya akan keracunan
sedemikian hebat yang akan merenggut nyawa. Baiknya
Tiang Bu memang memiliki sinkang luar biasa, juga ia
pernah mempelijari kitab Seng-thian-to dan melatih
semacam yoga yang tertinggi, maka pengaruh racun itu
dalam waktu sebulan lebih hanya membuat ia lemas saja
dan tenaga sinkangnya banyak yang lolos ke-luar !
Empat puluh hari sudah lamanya Tiang Bu
dipermainkan oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim dan
masih tetap saja dua orang gadis ini jerih dan tidak berani
sembarangan turun tangan terhadap Tiang Bu. Pada suatu
pagi, Tiang Bu yang makin lemas tubuhnya dan masih
belum bangun dari tidurnya, akan tetapi dua orang wanita
itu sudah berhias dan sedang mengatur hidangan pagi di
atas meja. Tiba-tiba terdengar suara. "kok kok kok kok !"
yang nyaring. Cui Lin dan Cui Kim sampai tersentak
mendengar suara ini di dalam kamar. Mereka melihat Tiang
Bu masih tidur dan ketika mereka mercari-cari, terlihatlah
kotak hitam berukir di bawah bantal Tiang Bu. Dengan hati19
hati Cui Kim mengamhil kotak ini dan kembali terdengar
suara nyaring seperti tadi. Cui Kim membuka perlahan
tutupnya dan…... seekor katak hijau melompat keluar, terus
ia menycrbu ke atas meja dan ...... makan makanan buah
yang berada di situ. Agaknya katak ini paling doyan manisan
atau makanan yang manis- manis maka tadi ketika
mencium bau manis-manis yang baru dihidangkan pagi ini,
ia memberontak dan berbunyi di dalam kotaknya. Katak
aneh itu memang luar biasa biarpun tidak diberi makan
sampai berbulan-bulan ia tidak apa-apa.
"Aneh sekali!" kata Cui Kim. 'Untuk apakah dia
menyimpan seekor katak?'
"Hush, jangan keras keras. Kukira katak ini semacam
katak ajaib yang besar kasiatnya. Biar kupegang dia," Cepat
sekali tangan Cui Lin menyambar, namun sekali
menggerakkan pinggul saja katak itu sudah dapat mengelak.
Tiga kali Cui Lin menubruk, selalu katak itu dapat mengelak
di atas meja, mengelilingi piring berisi manisan itu.
"Pancing dengan manisan." kata Cui Kim yang segera
mengambil semua manisan, disukkan ke dalam kotak. Benar
saja, katak segera melompat dan sekali melompat tahu-tahu
ia telah berada di dalam kotak. Demikian cepat
lompatannya. Cui Kim cepat menutup kotak itu dan
memasukkannya ke dalam sakunya.
Suara ribut-ribut ini membuat Tiang Bu bangun dari
tidurnya. Dengan lemah dan ogah-ogahan ia membuka mata
lalu bangkit duduk, memutar pinggang ke kanan kiri lalu
bersila untuk bersamalhi seperti yang ia lakukan tiap malam
dan pagi. Begitu panca indranya terkumpul dan
pernapasannya jalan dengan sempurna, mendadak ia
merasa sesuatu yaig aneh sekali. Ia tidak rindu dan mencaricari
Cui Lin dan Cui Kim seperti biasa ia rasakan setiap saat
kalau ia tidak tidur dan semangatnya perlahan-lahan datang
kembali. Tiba-tiba saja pikirannya seperti dibuka dari
selubungan tirai hitam gelap, membuat ia teringat segala
20
kehinaan yang ia lakukan selama puluhan hari ini. Dan ia
tiba-tiba menjadi malu dan terkejut sekali. Cepat ia
membuka matanya dan melihat dua orang wanita cantik itu
tengah memandangnya sambil tersenyum-senyum. Senyum
mereka yang biasanya mendatangkan rasa nikmat pada
perasaan Tiang Bu, kini merupakan ejekan yang menikam
kalbu, seperti mentertawakan kelemahan dan
kedunguannya. Tak tertahan lagi Tiang Bu menutupi
mukanya dengan kedua tangan untuk mengusir bayang
wajah dua orang suhunya yang seakan-akan
memandangnya dengan bengis. Ia menggeleng-gelengkan
kepalanya keras-keras untuk mengusir kata kata Tiong Sin
Hwesio yang bergema di telinganya pada saat ia “sadar" itu.
"Tiang Bu muridku, syarat untuk menjadi seorang gagah
adalah sama dengan syarat untuk menjadi seorang kuncu
(budiman), karena seorang gagah itulah seorang budiman
dan demikian sebaliknya. Kalau kau dapat mengalahkan
seratus orang musuh, itu masih belum gagah. Sebaliknya
kalau kau dapat mengalahkan iblis yang selalu datang dan
hendak menguasai hati dan pikiran setiap orang, dapat
mengalahkan iblis yang mengeram dalam dirimu sendiri,
barulah kau patut mengaku sebagai murid Omei-san! Hatihati
bahwa iblis menguasai batinmu adalah kalau kau
menghindari menyakiti hati, atau mencelakai lain orang yang
tidak berdosa hanya untuk memuaskan nafsu dan benci,
kau merugikan lain orang hanya untuk kepentingan dan
keuntunganmu sendiri, kalau kau melakukan perbuatan
hina dan kotor untuk memuaskan nafsu, terutama sekali
kalau kau berjina…….”
Kata-kata ini semua berdengung di telinga Tiang Bu dan
akhirnya tak dapat tertahan lagi Tiang Bu menangis.
“Ampun suhu ...... ampunkan teecu…” katanya, masih
menutup muka dan air matanya jatuh berderai.
"Melakukan perbuatan salah itu sebuah kesesatan, akan
tetapi tidak menghentikan perbuatan yang salah itu sebuah
21
kesesatan lain yang lebih besar." suara Tiong Jin Hwesio
bergema di telinganya, membuat semangat Tiang Bu bangkit
dan ia menurunkan kedua tangannya, membuka matanya
yang menjadi merah dan basah.
“Koko, kau kenapakah ?" kata Cui Lin.
“Agaknya kau mimpi buruk...... " kata Cui Kim sambil
tertawa dan bersama encinya ia maju menghampiri Tiang
Bu.
Akan tetapi Tiang Bu mengebutkan selimut ke arah
mereka. 'Pergi kalian!" bentaknya keras. Selimut itu
menyambar ke arah dua gadis ini yang tidak mampu
mengelak. Akan tetapi sambaran selimut itu hanya
mendatangkan rasa pedas sedikit pada kulit. Maklumlah
dua orang gadis ini bahwa Tiang Bu telah kehilangan banyak
tenaganya sehingga pukulannya tidak berbahaya lagi.
“Twako ...... bantu kami........,!” tiba-tiba Cui Lin berteriak
sambil mencabut pedang diturut oleh Cui Kim. Mereka
serentak nyerang Tiang Bu !
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Tiang Bu atas
serangan yang sama sekali tak pernah disangkanya ini. Ia
melompat dari atas perbaringan sambil mengelak dan
dengan kecewa ia mendapat kenyataan betapa gerakannya
tidak begitu gesit lagi. Namun berkat ilmunya yang tinggi,
masih dapat ia menghindar sambaran-sambaran pedang dua
orang kakak beradik yang malam tadi masih menjadi
kekasih-kekasihnya yang kelihatannya mencintainya.
"Kerbau itu sudah cukup gemuk untuk disembelih?”
Terdengar suara orang dan muncullah Cui Kong dengan
huncwenya di tangan.
Selama puluhan hari ini, Cui Kong bersembunyi tak jauh
dari situ, sambil mengobati luka-lukanya dan menyambung
tulang-tulang pahanya yang remuk oleh pukulan Tiang Bu,
sementara dua orang wanita itu merayu dan menyeret Tiang
Bu ke lembah kehinaan mempergunakan kecantikan mereka
22
dan di luar tahu semua orang, mereka mendapat bantuan
dari katak pembangkit asmara!
Melihat pemuda ini muncul, pikiran Tiang Bu yang
selama ini gelap dia tidak ingat apa-apa seperti dibuka.
Dapatlah ia menduga bahwa selama ini ia memang sengaja
dibikin mabok oleh dua orang.gadis itu dengan rayuan dan
cumbuan mereka. Karena tidak dapat menangkan dia
dengan ilmu silat, mereka telah menggunakan
kecantikannya dan agaknya semua ini diatur oleh Cui Kong
yang menjadi dalang di belakang layar! Marahlah Tiang Bu
melihat pemuda itu dan cepat ia menubruk mengirim
pukulan ke arah dada Cui Kong. Akan tetapi, dua orang
"kekasihnya" yang selama puluhan hari dari malam berlaku
amat manis kepadanya, kini merupakan lawan yang haus
darah dan pedang mereka menyambar dari kanan kiri secara
kilat. Terpaksa Tiang Bu menarik kembali serangannya
terhadap Cui Kong untuk menge!ak dan menggunakan jari
tangannya menyentil pedang dua nona itu. Akan tetapi
alangkah kagetnya ketika hampir saja jari-jari tangannya
tcrbabat putus ketika bertemu dengan pedang! Masih baik ia
cepat melompat ke samping sambil menarik tanganya.
Ternyata bahwa tenaga sentilannyapun hilang kekuatannya.
Pada saat itu, ujung huncwe di tangan Cui Kong sudah
menyambar. Tiang Bu mencoba untuk mengelak, akan tetapi
kedua kakinya lemas dan ia hanya sempat miringkan tubuh.
Namun ujung huncwe terus mengejar dan lrhrr belakangnya
ditotok !
Tian Bu mengeluh. Kalau biasanya, totokan seperti itu
saja takkan mengakibatkan apa- apa karena hawa -
sinkangnya tentu akan melawannya, akan tetapi sekarang ia
tidak kuat menolak sehingga jalan darahnya terkena totokan
lihai, membuat ia lemas dan roboh terpelanting ketika Cui
Kong menendang lututnya. Di lain saat, ujung dua pedang
dan sebuah huncwe telah menodong jalan jalan darah
kematian, membuat ia tak berdaya sama sekali.
23
"Ha ha ha tikus buruk. Kau mau apa sekarang?" bentak
Cui Kong, menusuk- nusuk kulit dada Tiang Bu memancing
pemuda itu mengaduh. Akan tetapi biarpun kesakitan, Tiang
Bu diam saja, sama sekali tidak mengeluh. Ia lebih banyak
merasa hanteur hatinya mengingat akan kesesatannya dari
pada merasa takut.
Dua orang nona itupun tertawa cekikikan. “Twako, kalau
tidak ada kami dua orang wanita lemah, tak mungkin hari
ini berhasil membekuknya," kata Cui Kim.
"Memang kalian anak anak baik dan pintar sekali, telah
menjalankan siasatku secara sempurna. Tunggulah, kelak
aku akan menyatakan terima kasihku kepada kalian," jawab
Cui Kong sambil tertawa-tawa.
Mendengar ini, hati Tiang Bu makin hancur dan ia ingin
memukuli diri sendiri karena kebodohannya. Mataku telah
buta, pikiranku penuh penyesalan.
“Cui Kong, hayo kau bunuh saja aku. Orang macam aku
memang layak dibunuh, tidak ada gunanya hidup!' kata
Tiang Bu sambil memandang kepada Cui Kong dengan mata
mendelik.
"Ha-ha ha ha, .Tiang Bu. Kau merengek-rengek ingin
minta kasihan? Apa kau mau mengingatkan aku bahwa kita
masih saudara angkat?”
"Tidak, kaubunuhlah aku. Siapa sudi punya saudara
angkat macammu? Juga aku bukan anak ayah angkatmu.
Lebih baik mati !” jawab Tiang Bu gemas.
“Twako, tusuk saja jantungnya biar lekas beres. Sebal
hatiku melihat monyet ini,” kata Cui Kim sambtl menekan
ujung pedangnya sehingga ujung pedang itu masuk ke
dalam daging di pundak Tiang Bu sampai mengenai tulang
pundaknya. Dapat dibayangkan betapa nyerinya, namun
Tiang Bu sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit.
Jangankan mengeluh berkedippun tidak !
24
“Biarkan aku yang memenggal lehernya, dia sudah
terlalu banyak mempermainkan diriku. Aku ingin membalas
sakit hati dan penghinaan itu!" kata Cui Lan dan nona ini
mengayun pedangnya ke arah leher Tiang Bu yang menanti
datangnya pedang dengan mata menantang berani.
"Traaangeg....,...... !. Pedang itu terpental oleh tangkisan
huncwe di tangan Cui Kong.
“Eh, twako...... apa kau tiba-tiba menjadi lemah hati dan
penyayang ?"
"Lin-moi. jangan lupa akan pesan ayah? Dia boleh
ditawan, boleh dibikin tak berdaya dan dihilangkan
kepandaiannya, akan tetapi tidak boleh dibunuh. Dia
berbahaya dan aku masih meninggalkan hutang kepadanya,
biar sekarang kusurun dia membayarnya.” Setelah berkata
demikian huncwenya bcrgcrak cepat sekali dan, .....
"krak...... krak.....!" tulang-tulang kaki Tiang Bu patah-patah
oleh pukulan huncwe.
Rasa nyeri menyusup ke tulang-tulang seluruh tubuh
Tiang Bu, membuat wajah menjadi pucat seperti mayat dan
bibirnya tang tebal itu mengeluarkan darah karena
digigitnya sendiri dalam menahan rasa sakit akan tetapi
berkat kekerasan hatinya, ia masih sadar ketika ia diseret
oleh Cui Kong dan dua orang nona itu, diseret keluar dari
dalam pondok kemudian dilempar ke dalam jurang yang
dalam di pantai sungai!
Dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, Tiang
Bu mempergunakan kesempatan terakhir menolong nyawa
dari maut dengan cara membentangkan kedua lengannya
mencari pegangan sesuatu penahan tubuhnya yang
meluncur ke bawah, bergulingan di atas batu-batu yang
tajam. Akhirnya ia tertolong, tangan kanannya dapat
memeluk sebatang pohoa yang tumbuh di lereng jurang.
Mempergunakan sisa tenaganya Tiang Bu memeluk batang
pohon itu dan ia bcrhenti bergulingan. Agaknya Thian masih
menghendaki supaya ia hidup.
25
Setelah dapat menempatkan diri, duduk di atas batu di
dekat pobon sambil memeluk batang pohon yang menjadi
penolongnya itu, Tiang Bu pingsan. Tubuhnya
menggelantung di pohon, matanya meram dan napasnya
lemah sekali.
-oo(mch)oo-
Biar kita tinggalkan dulu Tiang Bu yang berada dalam
keadaan mati tidak hiduppun payah itu dan mari kita
menengok keadaan dunia luar jurang itu di mana terjadi halhal
yang tidak kalah hebatnja.
Pemimpin bangsa Mongol, Temu Cin yang pandai
meminpin itu, makin lama makin terkenal di antara para
suku bangsa yang tinggal di daerah utara. Suku bingsa demi
suku bangsa ia taklukkan, bahkan suku bangsa Kerait yang
amat kuat dan yang tadinya selalu mengalahkan orang -
orang Mangol, dapat ia tundukkan. Oleh karena semua
orang menganggap Temu Cin sebagai pemimpin besar yang
amat boleh diandalkan, pada tahun l206 semua suku
bangsa mengadakan rapat besar di hulu Sungai Onon dan
dalam kesempatan inilah Temu Cin diangkat menjadi raja
besar dari seluruh Mongolia dan diberi gelar Jengis Khan
yang kemudian menjadi tokoh besar yang amat termasyhur
di dalam sejarah.
Nama besar Jengis Khan ditakuti oleh semua suku
bangsa dan banyak sekali suku bangsa yang takluk tanpa
diserang, Sepak terjang barisan Jengis Khan yang gagah
berani dan ganas kejam terkenal di mana-mana. Memang di
dalam barisan Jengis Khan terdapat banyak sekali orangorang
pandai, bahkan banyak pula orang Han dan orang
orang selatan, ahli- ahli silat yang pandai, terkena
bujukannya dan masuk menjadi pembantu.
Di antara suku-suku bangsa di daerah perbatasan di
utara, hanya suku bangsa Han Hsia yang masih belum mau
26
tunduk. Jengis Khan mulai memimpin tentaranya ke sana
dan dalam waktu dua tiga tahun saja berturut-turut
diserangnya suku bangsa ini hancurlah balatentara Hsi-
Hsia. Setelah itu Jengis Khan mulailah dengan rencananya
yang besar, rencana yang sudah lama ia idam-idamkan dan
sudah lama ia mengatur siasat untuk rencana ini, yaitu
menyerbu ke selatan. Di serangnya Kerajaan Kin. Pada
tahun l2ll ia mulai menyerbu Shensi dais Hopei, mambakar
rumah-rumah rakyat, merampok, membinasakan,
mengganas dan menghancurkan segala apa yang
menghalangi tentaranya. Rakyat di daerah utara melakukan
perlawanan mati matian. Di mana-mana Jengis Khan
menemui perlawanan. Namun bala tentara Mongol
terlampau kuat. Biarpun dengan adanya perlawanan rakyat
ini pergerakan bala tentara Mongol agak terhalang, namun
dalam waktu dua tahun saja bala tentaranya sudah berhasil
menyerbu Yenking atnu Peking, kota raja Kerajaan Kin!
Hebat sekali pertempuran-pertempuran yang terjadi
sebelum bala tentara musuh berhasil menyerbu ibukota ini.
Pihak Kerajaan Kin melakukan perlawanan gagah perkasa
dan mati-matian. Pangeran Wanyen Ci Lun yang berhasil
mengumpulkan banyak orang gagah, apa lagi akhir-akhir ini
setelah ia mengutus Kwan Kok Sun untuk mercari bantuan
ke selatan, melakukan perlawanan mati-matian. Oleh usaha
Pangeran Wanyen Ci Lun yang melakukan segala daya upaya
untuk menghalau musuh inilah maka tidak mudah bagi
balatentara Mongol untuk memasuki atau membobolkan
kota raja. Juga bukan sedikit tentara dan perwira Mongol
yang tewas dalam perrempuran ini.
Beberapa kali pertempuran terpaksa ditunda karena
kedua fihak sudah banyak mengalami kerusakan. Mereka
menunda pertempuran untuk memberi nafas kepada
balatentera masing-masing. di fihak Mongol untuk dapat
berunding guna mengatur slaw peoyerbuao baru, saw nye di
fibak Kin untuk dapat berunding guna mengatur siasat
pertahanan yang kokoh kuat.
27
Sudah untuk kedua belas kalinya kedua pihak menunda
perang. Kembali masing-masing fihak mengatur siasat. Di
fihak istana kaisar, Pangeran Wanyen Ci Lun mengadakan
perundingan dengan para panglima perang. Pangeran ini
nampak jauh lebih tua dari pada usianya yang sebenarnya,
hal ini karena ia terlalu banyak menderira selama negaranya
diserang oleh orang Mongol. Keningnya berkerut
cambangnya panjang, menambah keangkeran wajahnya
yang tampan. Di dalam ruangan sidang itu. selain sepuluh
orang panglima besar Kerajaan Kin, juga di sampingnya
duduk berapa orang tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah
datang untuk membantu Kerajaan menghadapi serbuan
bala-tentara Mongol. Nampak di situ Tee-tok Kwan Kok Sun
yang berpakaian panglima dan berkepala gundul, Hwa Thian
Hwesio tukang dapur Kelenteng Kwan twe bio di selatan kota
raja, hwesio gemuk bundar yang amat lucu akan tetapi
kepandaiannya tinggi, dan banyak lagi tokoh kangouw yang
datang ke situ karena tertarik oleh hadiah-hadiah besar !
Bahkan disitu hadir pula Coa Hong Kin dan Go Hui Lian,
sepasang suami isteri pendekar yang gagah perkasa, yang
baru datang dari Kim-bun-to beberapa hari yang lalu.
Kedatangan sepasang suami-isteri ini bersama puteri
mereka Coa Lee Goat yang sudah remaja puteri dan selain
cantik jelita juga gagah perkasa murid Wan Sin Hong.
Mereka ini datang untuk menjemput Gak Soan Li dan anakanak
mereka karena dahulu Pangeran Wanyen Ci Lun sudah
minta pertolongan mereka agar supaya memboyong anak
isterinya ke Kim-bun-to apabila perang dengan orang-orang
Mongol pecah.
Akan tetapi, Gak Soan Li juga dua orang anaknya, Wan
Sun dan Wan Bi Li, berkeras idak mau mengungsi pergi
meninggalkan Pangeran Wanyen Ci Lun. 0leh karena itu,
biar pun tidak tertarik oleh perang, sepasang suami isteri ini
menjadi tidak enak hati kalau buru-buru pergi seakan-akan
mereka takut menghadapi perang. Terpaksa mereka
memutuskan untuk tinggal beberapa lama, selain
28
mengawani Gak Soan Li, juga melihat-lihat apakah mereka
dapat membantu sahabat mereka, Pangeran Wanyen Ci Lun
yang sedang berjuang membela negaranya. Pangeran
Wanyen Ci Lun merasa kecewa dan berduka karena Wan Sin
Hong tisak datang membantunya.
“Wan-taihiap tak mungkin mau datang,” kata Coa Hung
Kin yang sudah tahu akan pendirian pendekar besar itu.
"Tentu siauw ongya dapat menyelami perasaannya. Dia
adalah seorang patriot Han tulen dan terus terang saja dia
tidak mau mencampuri urusan dua kerajaan bukan
bangsanya." Memang Hong Kin suka berterus terang dan
hubungannya dengan Pangeran Wanyen Ci Lun sudah amat
erat, tanpa sungkan-sungkan lagi.
"Dan pendirianmu sendiri bagaimana, kawan?" tanya
Wanyen Ci Lun, memandang tajam dan penuh harap kepada
suami isteri itu.
Coa Hang Kin tersenyum pahit dan menarik napas
panjang. 'Tentu saja kami berdua siap sedia membantumu
dan akan rela mengorbankan nyawa untuk menolongmu.
Akan tetapi ini hanya kesetiaan seorang terhadap sahabat
baiknya, bukan kesetiaan seorang warga negara terhadap
negaranya."
Wanyen Ci Len menarik napas panjang. "Sayang aku
bukan orang Han. Aku akan senang sekali berjuang
membela tanah air bahu membahu dengan kalian dan
dengan orang-orang seperti Wan Sin Hong. Tidak, sobatsobatku
yang baik, aku takkan minta pengorban jiwa
sahabat-sahabat baik untuk kepentinganku semata. Aku
hanya minta apabila keadaan terlalu mendesak dan anakanak
serta isteriku terancam bahaya kalian suka
membawanya mengungsi dan menyelamatkan diri ke
selatan."
Demikianlah percakapan antara mereka sebelum rapat
penundaan perang itu diadakan. Dengan kagum Hong Kin
dan Hui Lian mendengar sahabatnya itu mengatur siasat,
29
akan tetapi mereka juga berduka mendengar betapa keadaan
sahabatnya itu sudah terdesak hebat seperti terbukti dalam
ucapan Pangeran Wanyen Ci Lun kepada orang-orang gagah
dan para panglima yang hadir di situ.
"Barisan musuh menggunakan siasat memecah belah
pusat kekuatan kita. Maka mereka menyerang dari empat
penjuru secara bergantian agar payah kita memusatkan
tcnaga pertahanan secara berpindah-pindah. Memang
pertahanan kita cukup kuat, benteng cukup tebal dan
terjaga kuat. Akan tetapi tentara kita jauh kalah banyak
jumlahnya. bahkan kini makin lama makin kecil karena
jatuhnya korban tanpa dapat ditampung tenaga baru karena
kota raja sudah terkurung. Makin berkurangnya anggauta
barisan, berarti makin lemahnya pertahanan kita. Memang
dengan cara baihok (barisan bersembunyi) kita dapat
melakukan pertempuran gerilya dan mendatangkan
kerugian lebih besar pada mereka. Namun, biarpun kita
andaikata dapat merobohkan seratus orang musuh hanya
dengan mengorbankan sepuluh orang, yang sepuluh ini bagi
kita amat besar artinya, karena tidak ada penggantinya
sedangkan musuh mudah saja mendatangkan bala bantuan
atau mengganti tentaranya yang luka- luka dan lelah. Juga,
amat sukar bagi kita untuk mendatangkan rangsum dari
luar tanpa menghadapi bahaya besar dirampas musuh." Ia
berhenti sebentar untuk melihat reaksi pada muka para
pendengarnya.
"Celakanya, semua hal yang tidak menguntungkan kita
itu diketahui belaka dengan baiknya oleh pihak musuh !"
kata Tee-tok Kwan Kok Sun dengan muka muram.
"Akan tetapi keadaan kita sebetulnya tidak amat buruk,"
kata Pangeran Wanyen Ci Lun cepat-cepat untuk mengusir
kelemahan semangat para pembantunya, "memang harus
diakui bahwa pihak musuh amat kuat. Akan tetapi selama
semangat orang-orang kita berkobar seperti sekarang,
jangan harap mereka dapat membobolkan pertahanan. Di
30
samping pertahanan kita yang kuat juga aku sudah
mengirim permintaan bala bantuan dari saudara saudara
bangsa Hsi-Hsia yang menaruh dendam terhadap orangorang
Mongol. Kepala barisan mereka yang masih
bersembunyi di hutan, Tiku Tami telah berjanji untuk
memperkuat pertahanan kita dan memukul dari luar.
Berita ini menggirangkan semua orang. Kwan Kok Sun
mangangguk-angguk dan berkata, "Memang baik sekali, dan
pula, dapat diharapkan kehadiran scorang tokoh besar yang
kepandaiannya amat tinggi. Tokoh besar inilah yang dapat
diharapkan untuk merobohkan pentolan-pentolan Mongol
seperti Thian-te Basek-Tai-hiap Liok Kong Ji. Bu-tek Sin
ciang Bouw Gan dan yang lain-lain."
Kaget semua orang mendengar ini. Siapakah yang dapat
mengalahkan pentolan Mongol yang disebutkan tadi? Kwan
Kok Sun tertawa cara ketawanya masih menyeramksn
biarpun sudah memakai pakaian panglima besar.
"Dia itu adalah Toat beng Kui-bo dari Banmo-tong !"
Baru saja nama ini disebut, tiba-tiba dari luar ruangan
terdeagar suara ketawa cekikikan terbawa angin yang
bertiup masuk, kemudian terdengar suara, "Hi-hi-hi-hi.
Pangeran Wan-yen, aku datang membawa hadiah!”
Dua buah benda melayang masuk, jatuh berdebuk di
atas meja yang dikelilingi mereka yang sedang berunding.
Ketika dua benda itu berhenti menggelinding dan semua
orang memandang, ternyata bahwa dua benda itu adalah
dua buah kepala manusia yang agaknya baru saja dipenggal
lehernya karena darah segar masih menetes netes dari leher!
Melihat bahwa dua kepala itu memakai topi panglima
Mongol, Kwan Kok Sun tertawa senang dan berkata ramah.
"Locianpwe Toat -beng Toanio, silahkan masuk!”
Akan tetapi belum habis kata-kata ini, orang yang
diundang itu telah berdiri di dekat meja sambil tertawa
cekikikan. Mereka yang belum pernah melihat rupa Toat
31
beng Kui-bo, menjadi pucat dan bergidik penuh kengerian
hati. Apalagi ketika melihat bahwa nenek itu memondong
seorang anak perempuan kecil yang usianya baru dua tiga
tahun, anak yang mungil sekali, pipinya kemerahan dan
bibirnya merah tersenyum-senyum. Akan tetapi, baju dan
jidat anak ini bernoda darah, agaknya darah dari dua buah
kepala yang dipenggal oleh nenek mengerikan itu!
"Pangeran Wanyen, aku memenuhi janji datang untuk
memberi hajaran kepala anjing-anjiug Mongol yang
melampaui perbatasan dan mengacau di bumi Tiongkok!
Ketika hendak masuk kota raja tadi, aku dihadang oleh
pasukan tentara Mongol Ketika mengamuk aku teringat
bahwa seorang tamu harus bawa oleh-oleh, maka kusambar
kepala dua orang panglima pemimpin pasukan itu dan
kubawa kemari untuk dipersembahkan kepadamu. Hi-hi hi
!"
Tadi Pangeran Wanyen Ci Lun bengong dengan kagum
dan ngeri. Sekarang ia cepat berdiri memberi hormat dan
berkata. "Kedatangan locianpwe bagi kami adalah seperti
datangnya air hujan di musim kening! Terima kasih atas
pemberian hadiah locianpwe. Dalam masa seperti ini tidak
ada hadiah yang lebih berharga dari pada kepala musuh !"
Pangeran itu mempersilakan nenek buruk rupa itu duduk
dan memberi perintah kepada pelayan untuk membawa
pergi dua buah kepala dan membersihkan bekas darah.
Kemudian ia sendiri menuangkan arak ke dalam cawan
emas untuk Toat-beng Kui-bo. Nenek itu menerima sambil
tertawa-tawa senang.
Kwan Kok Sun mengatur siasatnya. Orang seperti nenek
ini sukar diurus dan kalau tidak memakai akal, biarpun
nenek ini kepandaiannya tinggi sekali, takkan ada gunanya
karena tentu takkan mau mentaati perintah.
"Locianpwe, tadinya kami sudah kegiranaan sekali
karena mengira bahwa dua buah kepala itu adalah kepala
dari Liok Kong Ji dan Bouw Gun. Eh, tidak tahunya hanya
32
kepala dua perwira-perwira yang tidak ada nilainya. Akan
tetapi aku tidak berani menyalahkan locianpwe oleh karena
siapakah orangnya bisa memenggal kepala Thian.te Bu-tek
Taihiap Liok kong Ji dan Bu.tek Sin-ciang Bouw Gun yang
lihai sekali. Apalagi mereka berada di markas tentara
musuh. Sukar...... sukar…….!”
Kwan Kok Sun terpaksa berhenti bicara karena arak dari
cawan Toat-beng Kui.bo menyiram mukanya dan terasa
pedas, bukan main sampai-sampai ia tidak bisa membuka
matanya.
"Gundul pacul! Kau terlalu memandang rendah padaku.
Kaukira aku tidak becus mencabut kepala tikus-tikus
macam mereka?'
Kwan Kok Sun cepat memberi hormat pada nenek galak
itu dan berkata sambil memaksa tersenyum di mulut
padahal hatinya memaki marah. "Harap locianpwe tidak
marah, tentu saja aku percaya penuh akan kemampuan
locianpwe. Soalnya, kami sudah terlalu awat dibikin pusing
oleh orang orang seperti Thian-te Bu-tek Taihiap dan Bu-tek
Sin ciang, tanpa mampu berbuat apa-apa. Kalau kiranya
locianpwe sanggup mencabut kepala mereka dan dibawa ke
sini. benar benar kami akan berterima kasih besar sekali
kepada locianpwe.”
Semua orang, termasuk Pangeran Wanyen Ci Lun, diamdiam
memuji kecerdikan Kwa Kok Sun yang mula-mula
“membakar" hati nenek sakti itu untuk kemudian didorong
kearah perbuatan yang akan banyak membantu pergerakan
mereka melawan musuh. Hanya Toat-beng Kui-bo seorang
yang tidak tahu, buta oleh kesombongannya. Toat beng Kuibo
menoleh kepada Wanyen Ci Lun, lalu tiba- tiba
melontarkan anak kecil yang dipondongnya itu ke arah
Pangeran Wanyen.
“Pangeran, aku titip bocah ini kepadamu. Nanti kalau
sudah kubawa datang dua kepala tikus itu, aku ambil
kembali anak itu !”
33
Wanyen Ci Lun sudah menangkap bocah perempuan
yang menjadi kaget karena dilemparkan dan menangis itu.
Sebelum ia sempat menjawab, angin mendesir dan nenek
yang seperti siluman itu sudah lenyap dari ruangan itu.
Semua orang menjadi bengong. Bahkan Hong Kin dan Hui
Lian sendiri yang sudah banyak bertemu dengan orangorang
pandai, harus mengaku bahwa nenek itu memiliki
kepandaian yang hebat sekali. Yang paling gembira adalah
Pangeran Wanyen Ci Lun oleh karena kalau benar-benar
nenek itu bisa membunuh dua orang yang disebutkan tadi
berarti pihak musuh akan kehilangan dua orang panglima
yang kuat dan pandai.
Toat-beng Kui-bo memang luar biasa sekali. Ketika ia
berlari seperti terbang keluar dari kota raja, sukar bagi orang
biasa untuk dapat melihatnya. Yang nampak hanya
bayangan hitam berkelebat cepat, atau kalau orang melihat
ke atas akan terlihat tiga titik hitam terbang cepat ke utara
dan tiga titik hitam ini kalau diperhatikan adalah tiga ekor
kelelawar besar.
Ketika Toat-beng Kui-bo memasuki kota-raja, ia sudah
dihadang dan bertempur, maka para pasukan Mongol yang
bertugas mengurung kota raja, tahu bahwa kini nenek itu
sudah keluar lagi dari kota raja. Akan tetapi pengalaman
tadi masih membuat mereka gentar, pengalaman hebat di
mana sepasukan Mongol habis dibunuh oleh nenek itu dan
dua orang panglimanya lenyap kepalanya dibawanya pergi.
Kini melihat kelelawar dan bayangan hitam, mereka
sebagian besar hanya pura-pura tidak melihat! Bahkan
perwira yang memimpin pasukan kecil cepat-cepat
menyimpangkan pasukannya ke arah lain agar jangan
bertemu dengan nenek itu. '
Toat-beng Kui bo juga tidak memperdulikan mereka.
Tujuannya kini hanya mendatangi kemah para panglima
Mongol dan berusaha mencari Liok Kong Ji dan Bouw Gun
untuk dipenggal batang lehernya dan dibawa kepalanya ke
34
istana Pangeran Wanyen Ci Lun sebagai bukti bahwa ia
bukan hanya omong kosong. Kelelawar-kelelawar yang
terbang di atas selalu mengikuti ke mana nenek itu menuju.
Pada saat itn kaisar Jangis Khan juga sedang
mengadakan perundingan dengan para panglimanya,
merundingkan siasat untuk mcmbobolkan benteng
pertahanan Kora Raja Kin yang kokoh kuat itu. Di antara
para pangliwa besar, nampak pula di situl Liok Kong Ji,
Bouw Gun, Pak-kek Sam kui. Dan orang-orang akan merasa
terkejut, heran dan juga malu kalau saja mereka melihat
siapa-siapa yang hadir pula dalam ruangan kemah Raja
Mongol itu. Tokoh-tokoh besar dari selatan, orang-orang
yang menamakan dirinya orang gagah di dunia kang.ouw
banyak yang hadir di situ, menjadi pengkhianat-penghianat
penjual negara, menjadi kaki tangan orang Mongol! Di antara
mereka rampak Le Thong Hosiang ketua Tatyun-pai, Nam
Kong Hosiang dan Nam-Siang Hosiang dua orang tokoh
Kaolikung-pai, Heng-tuan Lojin, hwesio perantau dari
Hengtuan-san dan masih banyak lagi.
“Jalan terbaik menurut pendapat hamba, Kota Raja Kin
itu harus dikurung rapat. Jalan ke selatan harus dipotong,
dan pembantu-pembantu yang berada di dalam kota raja
dan mendapat kedudukan penting supaya mulai dengan
gerakan mereka pada sast kita mengadakan penyerbuan
besar-besaran, bukan dari satu pintu melainkan dari empat
jurusan,' demikian usul Liok Kong Ji kepada Jengis Khan.
Kaisar yang sekarang bertubuh kekar menganggukangguk.
“Taihiap berkata benar, cocok dengan rencanaku.
Memang kita tidak ada banyak waktu untuk dibuang-buang
di sini, hanya untuk mengepung sebuah kota saja. Aku
sudah mendatangkan bala bantuan dari utara, tiga puluh
laksa banyaknya, begitu mereka datang setelah diberi waktu
mengaso sehari, malamnya kita serbu kota Kin dari empat
penjuru. Kita habiskan dan ratakan kota itu dengan bumi.
35
Setelah memberi keputusan terakhir dalam pertemuan itu,
Jengis Khan memberi tanda bahwa persidangan ditutup dan
ia masuk ruangan dalam.
Pada saat kaisar sudah masuk ke dalam dan para
panglitna mulai berjalan keluar, tiba-tiba terjadi ribut-ribut
yang datangnya dari arah kiri. Nampak para penjaga berlarilarian.
Melihat ini Bu-tek Sin ciang Bouw Gun panglima Mongol
tua yang tinggi besar berewokan itu menjadi marah. Memang
dia terkenal berwatak keras dan berdisiplin sekali. Rata-rata
panglima Mongol amat berdisiplin sehingga, barisan-barisan
mereka terkenal sebagai barisan yang amat teratur dan kuat.
Melihat para penjaga cerai-berai, Bouw Gun cepat lari ke
arah tempat itu sambil beteriak-teriak memaki para penjaga.
“Anjing-anjing kekanyangan tak tahu malu. Begitukah
caranya berjaga? Seorang penjaga kebetulan lari ke
tempatnya tiba-tiba terlempar dengan kaki patah patah
karena ditendang oleh Bauw Gun. Penjaga itu kesakitan
hebat akan tetapi, masih dapat melapor dengan suara
mrintih-rintih,
'Ampun, taiciangkun. ..... . di sana….. ada ...... ada
siluman mengamuk hebat ...... banyak kawan binasa...... “
"Setan pengecut, di mana dia?”
"Di sana ...... " penjaga itu menudingkan jarinya, "dia tadi
masuk ke dalam kemah tai-ciangkun...... “
Bouw Gun marah sekali mendengar ada siluman
mengamuk dan memasuki ke kemahnya, cepat ia melompat
dan lari ke kemahnya. Alanglah kaget dan marahnya ketika
ia melihat di sepanjang jalan menuju ke kemahnya penuh
penjaga-penjaga yang menggeletak dalam keadaan mati atau
terluka berat. Ada yang kepalanya pecah, lehernya patah,
perutnya pecah berantakan, kaki tangan patah-patah.
36
Juga di depan kemahnya bergelimpangan mayat penjaga.
Bouw Gun berlari cepat dan menyerbu ke dalam kemahnya
sendiri, begitu ia membuka pintu, ia melihat seorang
perwira, kepala penjaga kemahnya sedang bertempur
melawan seorang nenek yang mengerikan.
Perwira itu kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi pada
saat itu ia kena dicengkeram oleh nenek itu yang
menggerakkan tangan kanan mencengkeram kepalanya.
Perwira itu menjerit keras dan mengerikan sekali sebelum
muka dan kepalanya hancur oleh cengkeraman kuku
panjang nenek itu. Darah dan otaknya berceceran, tubuhnya
roboh tak bernyawa lagi.
"Hi hi hi. hi, otak udang macam ini melawanku? Mana
tikus likus besar Liok Kong Ji dan Bauw Gun, suruh keluar
jangan sembunyi di kosong ranjang!" nenek itu bersumbar.
Bouw Gun sudah pernah mendengar nama besar Toatbeng
Kui.bo, bahkan di puncak Omei-san pernah ia bertemu
dengan nenek itu. Biarpun. maklum akan kelihatan nenek
ini namun saking marahnya ia tidak gentar. Apa lagi ia
berada dalam kandang sendiri,
"Siluman betina kau ingin mampus!” bentaknya marah
sambil menyerbu maju. Sesuai dengan julukannya, Bu tek
Sin-ciang atau Tangan Sakti Tanpa Tandinganya Bouw Gun
adalah ahli tangan kosong yang mengandalkan ilmu silat
tangan kosong dan kekuatan kedua lengannya yang hebat.
Selain ilmu silatnya juga orang tinggi besar ini mahir ilmu
gulat dari Mongol yang sudah terkenal dan berbahaya. Sekali
saja orang tertangkap oleh tangannya, jangan harap akan
dapat terlepas sebelum ada yang patah-patah tulangnya.
Oleh karena itu, kali inipun ia menyerbu Toat-beng Kui bo
dungan tangan kosong saja, menubruk sambil mengirim
pukulan yang disusul oleh cengkeraman.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi Toat-beng Kui bo
seorang tokoh yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi
dari padarya, baik dalam ilmu silat maupun dalam hal
37
tenaga lweekang. Melihat orang tinggi besar itu, Toat-beng
Kui-bo tertawa cekikikan.
"Ah! Kiranya kau? Mari cucuku, mari maju untuk
kucabut kepalamu dari tubuhmu yang tak terharga itu!"
Tongkatnya menyambar cepat memapaki serbuan Bouw
Gun, langsung menyambar ke arah leher dengan kekuatan
yang dahsyat dan kalau mengenai leher, bisa copot lepala itu
dari tubuhnya. Bouw Gun kaget sekali. Hawa pukulannya
biasanya amat kuat din dengan hawa pukulannya saja ia
dapat membunuh orang. Akan tetapi nenek ini sama sekali
tidak memperdulikan pukulannya, bahkan dengan tak
terduga sudah mendahuluinya dengan serangan maut.
Terpaksa ia mengelak mendekari untuk menyerang dari
jarak dekat. Tangan kirinya menyambar tongkat untuk
ditangkapnya, tangan kanan memukul dada.
"Hihi, kau lihai juga !" Toat beng Kui-bo mengejek. Ia
hanya menarik tongkatnya agar jangan sampai terampas
lawan sedangkan pukulan pada dadanya tidak dihiraukan
sama sekali. Bouw Gun kaget dan orang Mongol ini dapat
menduga bahwa tentu nenek itu mengandalkan sinkangnya
yang tinggi untuk menahan pukulannya, maka setelah
kepalannya menyambar dekat dada, ia merubahnya menjadi
cengkeraman. Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya
ketika tangannya bertemu dengan permukaan yang rata dan
keras seperti papan baja. Nenek itu sama sekali dadanya
sudah tidak ada daging maupun kulit yang dapat
dicengkeram. Agaknya kulitnya sudah mangeras dan rata
dengan tulang sehingga kuat sekali.
Bouw Gun dalam kagetnya cepat hendak menarik
kembali tangannya, akan tetapi terlambat. Toat beng Kui-bo
sudah menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara “buk”
yang keras ketika tongkat itu mendorong dadanya. Tubuh
orang Mongol itu terjengkang darah tersembur dari
mulutnya. Dalam keadaan sekarat ia tidak berdaya ketika
kembali tongkat menyambar, kini mengenai lehernya.
38
"Krak..!” leher itu remuk sama sekali dan ..... . putus. Kepala
Bauw Gun sudah terpisah dari badannya.
“Hi hi-hi-hi.........! Toat-beng Kui-bo tertawa-tawa ketika
ia menyambar kepala dan diangkat untuk mengamat-amati
muka Bouw Gun yang masih meringis dan masih marah.
"Iblis betina jangan kau menjual lagak!" Berturut-turut
beberapa orang yang memiliki gerakan gesit sekali melompat
masuk. Mereka ini adalah Liok Kong Ji yang diikuti oleh
tokoh-tokoh lain. Melibat betapa kepala Bouw Gun sudah
dicopot oleh nenek itu, karuan saja Liok Kong Ji dan kawan
kawannya marah sekali.
Di lain saat, melihat datangnya Liok Kong Ji, Toat-beng
Kui-bo juga menjadi girang. "Aha, kau datang pula, cucuku?
Mari..... mari sini, kawanmu ini sudah lama menanti.
Berikan kepalamu kepada nenekmu ini, hi hi-hi!"
Marah sekali Kong Ji mendengar ini. Tangannya bergerak
dan dari tengan kirinya menyambar sinar hitam, yaitu Hektok-
ciam (Jarum-jarum Racun Hitam) dan tangan kanannya
mengeluarkan hawa pukulan Hek-tok-ciang yang amat
berbahaya.
Toat-berg Kui bo yang terlalu memandang rendah kepada
Kong Ji, berlaku sembrono dan tidak mengelak atau
menangkis, hanya mangerahkan sinkangnya. Ketika jarumjarum
mengenai tubuhnya, jarum jarum itu runtuh, akan
tetapi pukulan Hek-tok-ciang membuat tubuh nenek itu
terhuyung ke belakang.
"Ayaao...... !” Setan, kau berani memukulku…!” bentak
nenek itu marah sekali dan, tiba-tiba dari atas udara
menyambar turun benda hitam yang cepat menyambar Kong
Ji. Tentu saja Liok Kong Ji kaget dan menankis dengan
tangannya. Sebuah benda hitam terlempar dan yang dua
berhasil menyambar pundaknya. Baiknya Liok Kong Ji
berkepandaian tinggi sehingga ia cepat miringkan tubuh dan
kelelawar itu hanya merobek baju saja. Namun cukup
39
membuat ia bergidik karena maklum bahwa terluka oleh
kelelawar itu sukar sekali mengobatinya.
“Serbu, bunuh siluman ini!” Kong Ji berteriak- teriak
marah sekali sambil menyerbu diikuti oleh kawankawannya.
Kini tahulah Toat-beng Kui-bo bahwa nama besar Liok
Kong Ji bukan kosong belaka dan bahwa ia telah dikurung
oleh banyak orang pandai. Sambil tertawa-tawa ia melempar
kepala Bouw Gun ke depan. "Makaulah kepala sahabat
baikmu !"
Liok Kong Ji dan kawan-kawannya terpaksa mengelak
agar jangan sampai terkena sambitan dengan kepala ini.
Kong Ji mengulur tangannya menyambar kepala itu dan
memberikan kepada seorang pengawal untuk merawatnya.
Sementara itu Toat-beng Kui-bo mempergunakan
kesempatan ini untuk melompat keluar dari kemah. Akan
tetapi Kong Ji dan kawan-kawannya mana mau
melepaskannya ? Cepat mereka mengejar. Akan tetapi dalam
kegaduhan ini, sambil tertawa cekikikan, kembali tongkat di
tangan nerek itu sudah merobohkan tiga orang pengeroyok.
Pcngepungan rapat sekali dan nenek itupun berlaku
nekad, mengamuk bagaikan siluman terjepit. Tongkatnya
sampai mcnjadi merah karena darah para korban yang
dirobohkannya. Keadaan menjadi gempar. Baru kali ini
orang-orang Mongol itu menghadapi lawan sehebat ini.
Bahkan ketika Ang jiu Mo-li mcngamuk dikeroyok oleh
panglima-panglima Mongol tidak sclihai nenek ini. Selain
lihai nenek inipun ganas sekali, setiap kali tongkatnya
menyambar tentu ada lawan roboh binasa. Akhirnya hanya
yang pandai-pandai saja berani mengeroyok, di antaranya
Liok Kong Ji sendiri, Pak Kek Sam-kui, dan para ketua
partai yang membantunya.
Selagi mereka repot mengeroyok nenek yang benar-benar
kosen sekali itu, tiba-tiba terdengar suitan panjang dan
tinggi. Suitan ini memekakkan telinga.
40
“Lo thian-tung Cun Gi Toting datang….,” seru Liok Kong
Ji dengan suara girang sekali. "Totiang yang mulia, bantulah
kami !" Kemudian disambungnya dengan suara memerintah.
"Cui Kong, lekas bantu kami !"
Yang datang adalah seorang tosu tua yang buntung kaki
kanannya, namun biar kakinya hanya sebelah saja yang kiri,
jalannya tidah pincang. Sebuah tongkat panjang menjadi
pengganti kaki kanannya, gerakannya cepat sekali. Ia datang
bersama seorang pemuda yang memegang huncwe. Liok Cui
Kong yang sudah kita kenal kelihaiannya.
"Silakan semua minggir, biar kami berdua menangkap
siluman ini." kata tosu buntung itu, yang bukan lain adalah
Lo-thian-tung Can Gi Tosu. Seperti dapat diduga dari
julukannya Lo Thian-tung atau Tongkat Pengacau Langit,
kakek ini adalah seorang ahli bermain tongkat yang jarang
bandingannya. Dia adalah seorang tosu pengembara dari
barat yang dapat diperalat oleh Liok Kong Ji, bahkan ia
akhirnya mendapat kepercayaan dari Kong Ji untuk melatih
ilmu silat kepada anak-anak angkatnya, yaitu putera
angkatnya, yaitu Liok Cui Kong, dan dua orang puteri angkat
sejak kecil Cui Lin dan Cui Kim. Melihat bakat yang amat
baik dan luar biasa dalam diri Cui Kong, Liok Kong Ji
menjadi amat sayang kepada putra angkat ini dan
menurunkan semua kepandaiannya, maka ditambah oleh
gemblengan dari tosu buntung itu, kepandaian Cui Kong
menjadi hebat sekali.
Begitu Can Gi Totiang menggerakkan tongkatnya dan Cui
Kong menyerang dengan huncwenya, Toat beng Kui-bo
sudah maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang
amat tangguh. Ia memutar tongkatnya dan sekaligus
menangkis serangan dua orang lawannya itu. Terdengar
suara keras, bunga api berpijar dan tiga orang itu melompat
mundur untuk memeriksa senjata masing-masing. Setelah
dengan lega melihat bahwa senjata masing-masing tidak
rusak mereka maju bertempur lagi dengan seru. Ttga ekor
41
kelelawar menyambir ke bawah hendak membantu Toat beng
Kui-bo, akan tetapi, Liok Kong Ji mengayun jarum-jarum
Hek-tok-ciamnya sehingga binatang binatang itu jatuh ke
bawah mengeliarkan pekik nyaring.
Toat -‘beng Kui-bo berlaku nekad. Ia tadi sudah
menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai dan sudah
merasa lelah sekali. Kini ia dikeroyok oleh dua orang guru
dan murid yang kepandaiannya tinggi, apa lagi Liok Kong Ji
yang juga lihai sekali itu mulai maju mendesak membantu
dua orang pengeroyok, maka Toat-beng Kui-bo merasa
makin terdesak hebat. Sambil mengeluarkan seruan-seruan
seperti harimau terjepit, nenek yang sudah tua sekali ini
mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga terakhir
untuk membela diri dan membalas menyerang. Namun tiga
orang lawannya terlampau kuat dan setelah beberepat kali
terkena pukulan, akhirnya Toat bong Kui-bo terpaksa harus
mengakui keunggulan lawan.
Tongkat dari Lo thian tung Cun Gi Tosu berhasil
menyerampang kakinya, menibuat ia roboh dan pada saat
itu, pukulan Tin san-kang dilancarkan oleh Liok Kong Ji,
membuat nenek itu muntah darah, ditambab totokan huncwe
di tangan Cui Kong yang mengenai jalan darah kematian
pada lehernya membuat nyawa Toat-beng Kui-bo melayang
meninggalkan raganya.
Liok Kong Ji tertawa bergelak saking girangnya. Dengan
kasar ia membalik tubuh nenek itu terlentang lalu
menggerayangi saku-saku jubah nenek itu. Sebuah kitab
keluar dari saku dan sektlas pandang saja Liok Kong Ji
maklum bahwa itu adalah kitab wasiat dari Omeisan.
Judulnya DELAPAN JALAN UAMA. Cepat-cepat kitab itu
menghilang di dalam bajunya sendiri.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XVI
“KURANG ajar sekali, ini tentulah perbuatan Pangeran
Wanyen Ci Lun yang berhasil menarik bantuan nenek
siluman ini untuk mengacau kita. Kita kehilangan banyak
tenaga, di antaranya Bu tek Sin-ciang Bouw Gun sampai
tewas. Kalau kita tidak membalas, benar-benar
merendahkan nama besar kita semua,” kata Liok Kong Ji.
"Liok-sicu, biarlah pinto yang akan menyelinap ke kota
raja dan mengantarkan kepala nenek ini,” kata Lo-thiantung
Cun Gi Tosu dengan suara tenang.
"Perkenankan aku ikut dengan Con Gi To-tiong, ayah,"
kata Cui Kong cepat cepat karena pemuda ini ingin sekali
mengalami hal-hal baru. Di samping gurunya yang lihai, ia
tidak usah merasa takut.
Liok Kong Ji cukup percaya akan kelihaian tosu itu dan
tahu pula bahwa tingkat kepandaian Cui Kong sekarang
sudah demikian tinggi sehingga tidak berselisih banyak
dengan kepandaiannya sendiri. Dua orang ini tentu dengan
mudah dapat melampaui penjaga dan pengawal. Ia memberi
perkenan dan berangkatlah dua orang itu menjelang senja
2
membawa kepala Toat-beng Kui-bo yang dibungkus kain
kuning.
Memang dugaan Liok Kong Ji tepat. Tosu itu bersama
muridnya dengan mudah dapat melampaui para penjaga dan
berhasil memasuki lingkungan istana pada malam hari itu.
Akan tetapi beda dengan sepak terjang Toat-bong Kui-bo
yang masuk sambil mengamuk dan membuh musuh, dua
orang ini berlaku hati-hati sekali dan masuk tanpa diketahui
orang. Cun Gi Tosu maklum betul bahwa kalau sampai
ketahuan, keadaan mereka amat berbahaya karena di istana
banyak terdapat orang pandai. Bahkan ia memesan kepada
Cui Kong agar supaya hati-hati dan tidak boleh membunuh
orang secara sembarangan saja.
"Kita harus menghemat tenaga dan hanya turun tangan
kalau bertemu dengan orang penting. Setidaknya harus
keluarga Pangeran Wanyen yang kita bunuh atau culik.
Membunuh penjaga-penjaga dari perwira biasa saja tidak
akan menggemparkan dan tidak mengangkat nama kita,”
demikian kata tosu itu kepada Cui Kong yang maklum akan
maksud gurunya.
“Demikianlah, menjelang tengah malam tosu ini bersama
muridnya berhasil memasuki istana Pangeran Wanyen Ci
Lun. akan tetapi mereka terkejut melihat penjagaan yang
amat kuat. Apalagi tempat di mana pangeran itu berada,
yaitu di kamarnya. terjaga kuat sekali sehingga mereka tidak
mungkin menyerbu.
Tiba tiba terdengar suara anak kecil menangis dari kamar
itu. Cun Gi Tosu dan Cui Kong yang mendekam di tempat
mengintai. Terdengar suara Wanyen Ci Lun memberi
perintah kepada para penjaga supaya menjaga lebih teliti,
dan kepada seorang pelayan wanita setengah tua pangeran
itu berkata. “Anak ini menangis saja, bawa keluar dan biar
dia tidur denganmu!"
Tak lama kemudian, pelayan pengasuh itu keluar
memondong seorang anak perempnan berusia dua tahun
3
lebih yang menangis terus. Beberapi orang penjaga bergerakgerak
di tempat gelap dan nampak berkilaunya pedang dan
golok terhunus dari para penjuga istana itu.
Pintu kamar tertutup kembali. akan tetapi segera
terdengar jerit wanita pemondong anak tadi yang roboh dan
anak kecil itu kini sudah berada dalam pondongan seorang
tosu yang berkaki buntung.
"Penjahat ! Penculik !” teriak para penjaga menggema di
malam gelap. Beberapa sosok bayangan para penjaga ini
berkelebat mengejar, akan tetapi empat orang penjaga
menjerit roboh terkena pukulan dari belakang yang ternyata
dilakukan oleh Cui Kong dengan hun-cwe. Banyak penjaga
datang berlari ke tempat itu, di antaranya banyak panglima
yang berkepandaian tinggi.
Teriakan "tangkap penjahat” makin gencar terdengar dari
empat penjuru. Akan tetapi dengan gerakan kilat Cun Gi
Tosu melemparkan bungkusan kuning ke arah para penjaga.
Seorang panglima menyampok bungkusan itu yang jatuh
menggelinding ke arah lantai. Bungkusan terbuka dan.......
para pengejar untuk sejenak terkesiap melihat kepala Toat
beng Kui-bo yang nampak lebih menyeramkan dari pada
ketika masih hidup.
"Celaka......,... !” teriak seorang panglima. "Kejar matamata
Mongol itu !”
Akan tetapi Cun Gi Tosu dan Cui Kong sudah menghilang
di dalam gelap, berlari cepat keluar dari lingkungan istana.
Mereka menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara.
Tanda bahaya dari istana itu dengan cepat sudah terdengar
oleh seluruh penjaga di pintu-pintu gerbang kota raja dan
semua orang menjaga dengan teliti.
Oleh karena inilah maka tidak begitu mudah bagi Cun Gi
Tosu dan Cui Kong untuk keluar, tidak seperti masuknya
tadi.
4
"Kita harus menggunakan, kekerasan!” kata Cun Gi Tosu
yang mengikat anak itu di pungungnya dan menyumpal
mulut yang kecil itu dengan saputangan sehingga tidak
dapat menangis lagi. Dengan hati-hati mereka berlari
menuju pintu gerbang. Cun Gi Tosu menyeret tongkatnya,
Cui Kong memegang huncwenya.
*Berhenti ! Siapa itu”?” bentak dua orang penjaga yang
berdiri terdepan ketika melihat bayangan dua orang
mendatangi. Akan tetapi jawaban pertanyaan ini adalah
berkelebatnya sinar hitam dan di lain saat dua orang
penjaga itu roboh dengan kepala pecah dan nyawa melayang
!
“Mata-mata Mongol jangan lari!" terdengar bentakan dari
belakang dan sebatang pedang sang digerakkan secara cepat
bukan main menyambar ke arah leher Cui Kong. Pemuda ini
kaget sekali, cepat memutar tubuh sambil mainkan
huncwenya menangkis. ternyata yang menyerang adalah
seorang gadis cantik dan gagah yang datang bersama Wan Bi
Li dan Wan Sun yang sudah pernah dijumpainya. Gadis
gagah ini bukan lain adalah Coa Lee Goat. Usianya paling
banyak baru enam belas tahun, akan tetapi dara remaja ini
sudah mewarisi ilmu pedang dari Wan Sin Hong gurunya,
maka ia lihai sekali. Sementara itu, Wan Bi Li dan Wan Sun
juga menyerbu mengeroyok Cu Gi Tosu. Setelah dekat
dengan ayahnya yang mengaku sebagai ayah angkatnya,
kepandaian Bi Li makin meningkat. Apalagi dalam hal
memelihara ular, ia malah mendapat julukan atau cuma
poyokan Dewi Ular karena jarang orang melihat dia tidak
membawa ular. Dalam pertempuran inipun ia
mempergunakan senjata aneh yaitu ular hidup yang
dimainkannya sebagai orang bermain senjata joanpian
(cambuk). Inilah permainan ilmu silat joanpian dengan ular
hidup yang ia pelajari dari gihu (ayah angkatnya). Di
sampingnya, Wan Sun mainkan pedangnya yang juga amat
lihat karena pemuda ini sudah mewarisi kepandaian Ang-jiu
Mo-li bahkan sudah mulai memperdalam ilmu Silat Kwan Im
5
Cam-mo (Dewi Kwan Im Menaklukkan Iblis) yang
terkandung dalam kttab Omei-san yang terjatuh ke dalam
tangan Ang-jiu Mo-li.
Sebetulnya Cun Gi Tosu tidak usah takut menghadapi
keroyokan putera dan puteri Pangeran Wanyen Ci Lun ini
karena tingkat kepadaiannya masih jauh lebih tinggi, juga
Cui Kong masih lebih lihai dari pada Lee Goat. Akan tetapi
guru dan murid ini maklum bahwa mengalahkan tiga orang
pengejar muda ini bukan hal yang dapat dilakukan dalam
waktu singkat, sedangkan di dalam kota raja masih banyak
terdapat orang-orang pandai yang setiap saat pasti akan
datang mengeroyok.
"Cui Kong, mari kita pergi ! Buka jalan darah !” seru Lothian
tung Cun Gi Tosu kepada muridnya.
Cui Kong terpaksa mentaati perintah suhunya karena
iapun maklum akan bahayanya tempat itu. "Totiang, apa
kita tidak bisa membawa Nona Ular itu bersama kita pulang
?" tanyanya, karena melihat Bi Li kembali timbul gairah dan
cintanya.
"Hush, jangan main-main. Lekas kita pergi......!”. bentak
tosu itu.
Keduanya memutar senjata lalu membalikkan tubuh dan
menyerbu penjaga yang menghadang di depan pintu gerbang
yang tertutup. Sebentar saja lima-enam orang penjaga roboh
terkena terjangan dua orang lihai ini dan sebelum Bi Li, Wan
Sun dan Lee Goat sempat menghalangi, dua orang itu sudah
melayang naik ke atas pagar tembok. Beberapa orang
penjaga di atas pagar tembok melepas anak panah, akan
tetapi hujan anak panah ini sia-sia saja. Runtuh semua
ketika tiba di depan dua orang yang sedang melompat, kena
disampok oleh putaran senjata mereka. Ketika para penjaga
itu bendak menyerang, kembali beberapa orang roboh dan
terus terjungkal ke bawah benteng mengeluarkan pekik
mengerikan. Bagaikan dua ekor ular, Cui Kong dan gurunya
melayang turun keluar pagar tembok dan sebentar saja
6
mereka sudah selamat tiba di barisan mereka sendiri. Tentu
saja hal ini menggirangkan hati Jengis Khan yang tadinya
marah sekali karena kehilangan beberapa orang penglima
termasuk Bouw Gu yang setia. Kini hinaan dari fihak Kin
sudah terbalas dan nama kehormatan orang Mongol sudah
terangkat lagi olek sepak tcrjang Cu Gi Tosu dan Cui Kong.
Dua orang ini diberi hadiah besar. Pesta gembira diadakan
untuk menyambut mereka dan Kong Ji merasa puas melihat
tosu itu berhasil menculik seorang anak dari Wanyen Ci
Lun.
"Totiang, hendak diapakan anak perempuan dari
Pangeran Wanyen Ci Lun ini?" tanyanya kepada Cun Gi
Tosu.
Tosu kaki bunting itu tersenyum. "Tidak kusengaja dapat
menculik puteri Pangeran Wanyen dan kebetulan sekali
anak ini bertubuh baik. Sayang kalau dibiarkan tersia-sia.”
"Kita bawa saja ke Ui-tok-lim, totiang.” kata Cui Kong.
Tosu itu mengangguk.angguk. "Betul, memang dia patut
menjadi panghuni Ui-tok-lim.”
-oo(mch)oo-
Sementara itu, di dalam istana Pangeran Wanyen Ci Lun
menjadi gempar. Pangeran ini marah sekali, bukan saja
melihat kepala Toat-beng Kui-bo yang berarti panghinaan
besar bagi istana Kin, akan tetapi juga merasa mendongkol
sekali karena bocah itu kena diculik. Dia tidak tahu
sinpakah anak itu yang oleh Toat-beng Kui-bo dititipkan
kepadanya, akan tetapi dia dan isterinya merasa suka sekali
melihat bocah yang mungil itu. Biarpun sekarang Toat-beng
Kui bo sudah tewas dan tidak ada orang yang akan
menuntutnya karena hilangnya bocah itu, namun di dalam
hatinya pangeran ini merasa berdosa dan bersalah. Masih
baik kalau anak yang terculik itu mendapat perlakuan baik
7
dari orang-orang Mongol, Kalau sebaliknya, bukankah itu
kesalahannya?
Pada keeaokan harinva, Pangeran Wanyen Ci Lun duduk
di dalam kebun belakang istananya bersama Gak Soan Li.
Juga di situ hadir. Wan Bi Li dan Wan Sun yang
menceritakan pengalamanoya malam tadi ketika mangejar
penjahat.
"Pemuda yang memegang huncwe itu mengaku bernama
Liok Cui Kong, putera Liok Kong Ji. Dia memang lihai dan
jahat.” kata Wan Bi Li menutup penuturunnya. Memang
sudah terdengar berita oleh Pangeran Wanyen Ci Lun dan
isterinya bahwa Liok Kong Ji masih hidup dan kini
membantu pergerakan orang-orang Mongol. Kini Gak Soan Li
yang menjadi agak pucat mendengar penuturan Bi Li, tak
tertahan lagi mengutarakan keheranannya yang terpendam
sekian lama.
“Tidak salahkah bahwa si jahat Liok Kong Ji masihb
hidup? Pedang di tanganku sendiri yang mencabut
nyawanya, kutusuk dadanya sampai tembus ke punggung.
Bangkainya sudah di kubur, bagaimana sekarang dia bisa
muncul d antara orang Mongol, Benar-benar aku masih
belum percaya.”
"Banyak orang yang mehhat dia itu betul-betul Liok Kong
Ji. Memang aku sendiri juga merasa heran seperi yang
kaupiktrkan. Benar-benar manusia itu selalu membawa
bencana. Kurasa hanya seorang di dunia ini dapat
menerangkan rahasia aneh ini,” kata Pangera Wanyen Ci
Lun perlahan.
“...... Wan Sin Hong.......?” terdengar Gak Soan Li
bertanya, suaranya lemah.
Wanyen Ci Lun mengangguk. Di antara suami isteri ini
terdapat rahasia besar. Di dalam cerita indah PEDANG
PENAKLUK IBLIS diceritakan betapa sebelum menjadi isteri
Pangeran Wanyen Ci Lun, Gak Soan Li telah menjadi kurban
8
kebiadaban Liok Kong Ji sehingga Gak Soan Li melahirkan
seorang putera yang bukan lain adalah Tiang Bu. Akan
tetapi semua hal ini terjadi ketika Soan Li berada dalam
keadaan kehilangan ingatan. Jauh sebelum itu, sebelum
menjadi korban Liok Kong Ji, Soan Li telah berjumpa dengan
seorang pemuda yang dianggapnya seorang pemuda bodoh
sederhana bernama Gong Lam dan gadis yang gagah itu
telah jatuh cinta kepada Gong Lam. Lalu oleh kekejian Kong
Ji, Gak Soan Li kehilangan ingatannya. Setelah sadar, ia
hanya ingat dua orang. Wan Sin Hong yang dibencinya
karena ketika melakukan kekejiannya, Kong Ji mengaku
bernama Wan Sin Hong. Dan orang ke dua adalah Gong Lam
yang tetap dicintanya dan kembali Liok Kong Ji yang
mengaku sebagai Gong Lam, crimper. mempergunakan
kesempatan selagi Soan Li masih kehilangan ingatan.
Padahal Gong Lam itu bukan lain adalah Wan Sin Hong.
Untuk mengetahui peristiwa ruwet dan menarik ini lebh
jelas, silakan baca cerita PEDANG PENAKLUK lBLIS.
Sampai sekarang Soan Li masih belum sadar betul akan
duduknya perkara. Dia hanya mengira babwa Gong Lam itu
acbetulnya tidak ada, yang ada ialah Pangeran Wanyen Ci
Lun yang semenjak dahulu ia cinta, memang wajah Gong
Lam alias Wan Sin Hong itu serupa benar dengan wajah
Pangeran Wanyen Ci Lun, seperti pinang dibelah dua.
Memang mereka ini sesungguhnya masih saudara misan.
Perlahan-lahan Pangeran Wanyen Ci Lun suka menceritakan
kepada isterinya tentang Wan Sin Hong yang dianggap
saudaranya dan seorang ggah perkasa yang amat ia cinta
dan hormati.
Setelah mendengarkan penuturan Wan Bi Li dan Wan
Sun tentang penyerbuan dua orang mata-mata Mongol itu.
Wanyen Ci Lun menarik napas panjang dan berkata kepada
Soan Li. "Isreriku, bagi seorang panglima yang penuh
tanggung jawab terhadap negaranya, aku sama sekali tidak
tahut atau khawatir terhadap musuh. Kau tahu bahwa aku
siap sedia mengurbankan nyawa demi membela negara.
9
Akan tetapi kalau aku melihat engkau dan anak-anak kita,
berat juga rasa hatiku. Memang akupun tahu bahwa kau
cukup pandai menjaga diri, demikian pula Bi Li dan Sun-ji.
Akan tetapi. menghadapi balatentara Mongol yang begitu
banyaknya. bagaimana kelak kita bisa saling membantu ?
Aku tetap akan merasa khawatir kalau kau dan anak-anak
kita tidak mengungsi ke selalan. Ikutlah dengan Hong Kin
dan isterinya ke Kim-bun to. Kelak kalau aku dapat lolos
dengan selamat dari perang ini. pasti aku akan menyusul ke
sana. Andaikata aku gugur,. kau dan anak-anak pun,
berada di tempat aman dan aku akan mati dengan mata
meram.”
"Tidak, tempat kami di sini, di sampingmu. Dalam suka
maupun duka," jawab Soan-Li dengan suara tetap.
"Bukankah begitu, anak-anak?”
"Betul, ibu. Ayah, akupun harus membantn ayah
berjuang melawan iblis-iblis Mongol!" kata Wan Sun.
"Kalau saja ayah tidak menghadapi musuh dan negara
sedang aman, aku akan suka sekali pelesir ke Kim bun-to.
Akan tetapi dalam kedaan seperti ini, bicara tentang pelesir
sungguh bukan pada tempatnya. Ayah, kita masih belum
kalah oleh tikus-tikus Mongol, mengapa ayah nampak
berkhawatir?" kata Wan Bi Li sambil mendekati ayahnya
dengan sikapnya yang manja.
“Kalian tidak tahu....... balatentara Mongol luar biasa
kuatnya, mereka beberapa kali lipat banyak dari pada kira.
Kota raja sudah terkurung rapat, tidak ada ransum dapat di
datangkan dari luar. Berpuluh-puluh gerohak ransum yang
datang dari selatan juga sudah dirampas mereka. Bukan aka
takut akan tetapi benar-benar harapan kita tipis sekali,
sekarang kiranya masih mungkin bagi kalian untuk
menerobos keluar dari kepungan, mengungsi ke selatan
seperti dilakukan oleh kaisar dan pembesar tinggi dan....... “
10
“Akan tetapi mengapa kau sendiri tidak pergi mengungsi?
Kau mendesak kami menyelamatkan diri, mengapa kau
sendiri tidak ikut pergi?" Soan Li menegur suaminya.
"Aku lain lagi. Aku seorang pangeran kerajaan Kin, aku
harus membela negara dan kerajaan sebagai seorang
panglima yang setia. Akan tetapi lain lagi dengan kau dan
anak-anak. lnilah sebab-sebabnya mengapa aku memberi
she Wan kepada anak anak kita, aku ingin mereka tetap
menjadi orang Han, bercampur dengan rakyat jelata di
Tiongkok, jangan dicap bangsa penjajah."
Pada saat itu muncul Coa Hong Kin dan Go Hui Lian.
Nyonya ini sambil tertawa berseru keras, "Coba lihat, siapa
yang datang bersama kami?”.
Pangeran Wanyen Ci Lun mengeluarkan suara girang,
melompat dari kursinya, berlari maju dan di lain saat ia
sudah berpelukan dengan Wan Sin Hong ! Gak Soan Li
duduk seperti patung di atas kursinya, wajahnya dan
matanya terbelalak memandang ke Wan Sin Hong dan
Pangeran Wanyen Ci Lun. Dua orang laki-laki setengah tua
yang serupa benar wajahnya, tampan dan gagah, hanya
pakaian saja yang berbeda. Pangeran Wanyen berpakaian
seperti seorang panglima sedangkan Wan Sin Hong
berpakaian sederhana. "Aku pernah bertemu dengan dia
....... aku pernah bertemu dengan diaa. ..... “ demikian kata
hati nyonya ini dan dadanya berdebar aneh, keningnya yang
masih halus itu berkerut-kerut seakan-akan ia sedang
mengerahkan tenaga otaknya untuk mengingat-ingat. Di
belakang Sin Hong muncul Siok Li Hwa yang masih cantik
gagah, akan tetapi kelihatan lesu dan berduka..Nyonya ini
digandeng oleh Coa Lee Goat, murid suaminya juga
muridnya.
"Saudaraku yang baik....... ... ! Tentu Thian yang
menuntunmu mengunjungi kami yang sedang amat
mengharap-harapkan kedatanganmu. Silakan duduk di
dalam. kita bicara ...,.."
11
Wan Sin Hong menjadi terharu dan matanya basah
ketika ia memandang kepada pangeran itu dan kepada Gak
Soan Li yang masih duduk mematung, kemudian ketika ia
melirik dan melihat Wan Bi Li sudah bergandeng tangan
dengan Lee Goat dan dua orang gadis itu berbisik-bisik
agaknya membicarakan. mereka yang baru datang,
wajahnya yang tadinya muram menjadi agak berseri
"Ah, sekarang kalian sudah menjadi sahabat baik,
bukan? Memang semua adalah orang sendiri. dulu di Omeisan
kalian berkelahi !”
"Suhu, dulu teecu tidak tahu bahwa Bi Li adalah puteri
dari bibi guru sendiri. Kalau tahu masa bertempur ? jawab
Lee Goat tertawa.
Sin Hong memperkenalkan isterinya kepada Pangeran
Wanyen Ci Lun dan mereka memberi hormat sebagaimana
mestinya. Sin Hong menghadapi Soan Li dengan wajah tidak
memperlihatkan perubahan apa-apa, ia menjura sambil
berkata sopan, “Harap hujin banyak bailk....... “
Soal Li hanya menjura kepada Sin Hong dan isterinya,
bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara, akan tetapi
hatinya berbisik. “Aku pernah mengenalnya, pernah
mengenalnya……..”
Pangeran Wanyen Ci Lun mengajak tamu-tamunya
masuk ke ruangan dalam untuk bercakap-cakap dan tak
lama kemudian Pangeran Wanyen Ci Lun duduk
menghadapi Wan Sin Hong dan Coa Hong Kin, sedangkan di
ruangan belakang Gak Soan Li bercakap-cakap gembira
dengan Go Hui Lian dan Siok Li Hwa.
Baik penuturan Li Hwa kepada Soan Li dan Hui Lian,
maupun penuturan Sin Hong pada PangeranWanyen Ci Lun
dan Hong Kin, amat mengejutkan para pendengarnya. Hati
siapa yang takkan terkejut dan menyesal mendengar bahwa
anak perempuan yang tadinya dibawa oleh Toat-beng Kui-bo
dan yang baru kemarin siculik oleh mata-mata Mongol,
12
bukan lain adalah onak tunggal dari Wan Sin Hong dan Siok
Li Hwa!
Pangeran Wanyen Ci Lun menggebrak meja. "Celaka !
Kalau tahu demikian. tentu anak itu takkan pernah
kubiarkan terpisah dari sampingku. Pantas saja kami amat
suka kepadanya, kiranya dia Itu anakmu.....?” Cepat ia
menceritakan semua peristiwa yang terjadi malam tadi di
mana anak itu telah terculik oleh seorang tosu buntung dan
seorang pemuda putera Liok Kong Ji.
Wan Sin Hong menjadi pucat mendengar ini. “Putera Liok
Kong Ji ? Sampai sekarang iblis itu masih tetap
menggangguku. Tunggu saja kau. Kong Ji. lain kali kita
bikin perhitungan. Awas, kau kalau sampai anakku
terganggu,” kata Sin Hong mendengar penuturan itu.
Kemudian atas permintaan Pangeran Wanyen Ci Lun, ia lalu
menuturkan pengalamannya secara singkat selama ini.
Seperti telah kita ketahui, kurang lebih tiga tahun yang
lalu ketika Tiang Bu mengunjungi Toat-beng Kui-bo di Banmo-
tong, Wan Sin Hong berada di sana bersama istertnya
yang ketika itu sedang mengandung. Tadinya Wan Sin Hong
mengejar Toat berg Kuibo yang membawa Siok Li Hwa, akan
tetapi ketika tiba di Ban-mo-tong, ia mendengar hal yang
amat mengherankan hasinyat, yaitu bahwa Toat beng Kui-bo
sesungguhnya adalah ibu sendiri dari Li Hwa ! Li Hwa amat
percaya kepada keterangan Toat-beng Kui-bo yang dapat
menceritakan segala hal tentang Pat-jiu Nio-nio gurunya
dahulu ketika ia masih berada di perkumpulan Hui-eng-pai.
Juga Li Hwa amut kasihan melihat nenek itu maka nyonya
yang memang sejak kecil rindu sekali untuk bertemu dengan
ibunya, menjadi tidak tega meninggalkan Toat-beng Kui-bo
dan membujuk suaminya untuk mengawan "ibunya" di
tempat yang menyeramkan itu.
Pada waktu itu Sin Hong sedang menghadapi hal-hal
yang tidak menyenangkan terutama sekali karena sikap
bermusuh dari tokoh-tokoh kang-ouw setelah mereka
13
mendengar bahwa dia masih keturunan keluarg pangeran
Kin. Inilah sebabnya mengapa Sin Hong menuruti
permintaan isterinya dan suami isteri ini tinggal di tempat
itu seperti mengasingkan diri sambil melayani keperluan
Toat-beng Kui-bo dan mengawasi nenek itu. Betapapun juga,
di dalam lubuk hatinya Sin Hong masih ragu-ragu dan
curiga, belum sepenuh hati dapat menerima bahwa isterinya
adalah anak kandung dari nenek yang mangerikan itu.
Waktu berjalan cepat sekali, Li Hwa melahirkan seorang
anak perempuan, Toat-beag Kui-bo kelihatan sayang sekali
kepada “cucunya" ini dan seringkali nenek itu datang
menimang-nimang bayi itu. Sin Hong sudah mulai bosan
tinggal di tempat itu, akan tetapi Li Hwa selalu
membujuknya agar supaya mereka tinggal di situ dan
mengawani ibunya sudah sangat tua.
"Ibu sudah berusia tua sekali, bagaimana kalau kita
tinggalkan seorang diri lalu jatuh sakit? Siapa yang akan
merawatnya? Kau harus tahu bahwa semenjak kecil aku
tidak pernah dekat dengan dia, kalau tidak sekarang pada
saat dia sudah sangat tua aku melakukan kewajiban dan
baktiku sebagai anak, mau tunggu kapan lagi?” demikian
isteri ini membantah dan terpaksa Sin Hong menahan sabar.
Memang kesabaran Sin Hong luar biasa sekali, hasil
latihannya ketika ia berada di Luliangsan. Kembali dua
tahun lebih lewat dan Wan Leng atau yang biasa mereka
panggil Leng Leng anak itu sudah berusia dua tahun dan
menjadi seorang anak yang mungil.
Pada suatu hari ketika Sin Hong sedang duduk di lereng
memandang ke tempat jauh, agaknya rindu untuk berkelana
turun dari tempat itu. bertemu dengan sahabat-sahabat baik
dan orang-orang gagah di dunia kangouw, tiba-tiba
terdengar suara ketawa merdu, ia kaget sekali karena
maklum bahwa orang yang dapat datang di dekatnya tanpa
ia dengar, banyalah orang yang sudah memiliki kepamdaian
tinggi sekali. Ketika ia melompat berdiri dan memutar tubuh,
14
ternyata yang berdiri di depannya adalah Ang-jiu Mo-li,
masih tetap cantik seperti dulu biarpun usia sudah empat
puluh tahun lebih, hampir lima puluh tahun.
“Ang-jiu Mo-li mengejutkan orang. Ada keperluan apakah
kau sampai datang ke tempat ini ?”
“Wan Sin Hong manusia pelamun ! Makin tua kau makin
tidak ada tidak ada guna!” Ang Jiu Mo-li mengejek.
"Hmmm, mungkin…..” jawab Sin Hong sebal karena
memang sudah sering kali ia merasa bahwa ia makin tiada
guna, maka ejek orang amat mengenai hatinya. "Akan tetapi
mengapa kau berkata demikian ?”
"Di utara api peperangan sudah bernyala- nyala. Orangorang
gagah mempergunakan kesempatan untuk
mengeluarkan kepandaian agar tidak sia-sia. Akan tetapi
kau, yang katanya berdarah bangsawan Kin, yang terkenal
sebagai pangeran bangsa Kin berpakaian Han. kau memeluk
lutut melamun di sini bersenang-senang dan berbulan madu
yang tiada berkesudahan dengan isterimu, menjadi kaki
tangan dari siluman tua Toat-beng Kui-bo. Cihh, tak tahu
malu dan betul betul seorang pengecut besar."
"Ang jiu Mo-li, kau datang-datang memaki aku apakah
maksudmu? Mau apa kau datang ke sini?"
"Lupakah kau akan pertemuan kita yang lalu ketika aku
menampar muka wanita yang sekarang menjadi isterimu?
Aku datang untuk membuktikan sampai di mana
kepandaianmu, orang pemalas dan pelamun yang sudah
pernah berani mengagulkan diri sebagai seorang bengcu !
Bersiaplah kau !”
Sin Hong melihat betapa kedua tangan wanita itu
perlahan-lahan berubah warnanya, menjadi merah muda
menjadi merah tua. Ia makum apa artinya. Memang Ang-jiu
Mo-li amat terkenal namanya oleh kedua tangan ini yang
mengandung sinkang beracun luar biasa kuat dan
berbahaya. Ia menarik napas panjang.
15
"Ang-jiu Mo-li, sebetulnya aku merasa enggan untuk
bertempur dengan seorang wanita tanpa sebab-sebab yang
kuat. Akan tetapi karena kau tadi sudah memaki aku
seorang pengecut, terpaksa aku harus membela diri dan
membuktikan bahwa makianmu tidak berdasar. Aku sudah
siap. Ang-jiu Mo-li.”
"Bagus, jaga seranganku !" seru wanita itu gembira.
Sudah lama sekali ia rindu untuk mengukur kepandaian
pendekar yang terkenal ini dan baru sekarang ia mendapat
kesempatan. Selain itu, semenjak ia bertemu dengan Sin
Hong dahulu, diam-diam Ang-jiu Mo-li sering kali duduk
termenung dan melamun. Belum pernah selama hidupnya ia
tertarik oleh laki-laki, akan tetapi bengcu muda ini benarbenar
telah merebut hatinya. Maka dapat dibayangkan
betapa sakit hatinya dan betapa kecewanya ketika ia
mendengar bahwa kini Wan Sin Hong sudah menjadi suami
Hui-eng Niocu Siok Li Hwa.
Wan Sin Hong berlaku hati-hati sekali dalam menghadapi
serangan Ang-jiu Mo-li. Ia maklum bahwa wantia ini
bukanlah lawan biasa, sama sekali tidak boleh dipandang
ringan karena memiliki kepandaian yang tingkatnya sudah
amat tinggi. Dengan penuh perhatian ia menghadapi
serangan lawan, mengerahkan kepandaian dan tenaganya
untuk mempertahankan diri dan balas menyerang.
Kepandaian Ang-jiu Mo-li memang sudah setingkat dengan
Sin Hong. Wanita sakti ini ketika menjelajah di utara, sudah
mengemparkan tokoh-tokoh utara, bahkan sudah
menggegerkan tokoh-tokoh Mongol dengan kepandaiannya
yang tinggi. Liok Kong Ji sendiri di utara hampir menjadi
korban tangannya ketika Liok Kong Ji yang mata keranjang
tertarik oleh kecantikannya dan mencoba mengganggunya.
Kalau saja tidak dikeroyok oleh banyak tokoh Mongol yang
tinggi kepandaiannya, tentu Ang-jiu Mo-li tidak akan
melarikan diri dan Kong Ji dapat selamat terlepas dari
tangannya.
16
Sebaliknya Wan Sin Hong yang sudah bertahun-tahun
tak pernah bertempur melawan orang-orang pandai, juga
tidak merosot kepandaiannya, bahkan selama ini ilmu
lweekangnya meningkat. Dalam pertempuran menghadapi
lawan ini ia berlaku tenang sehingga biarpun Ang jiu Mo-li
mengeluarkan semua kepandaian dan menyerang dengan
cepat dan gencar, Sin Hong dapat mengimbanginya. Jarang
ada pertempuran tangan kosong demikian ramainya, di
mana tipu dilawan tipu dan kegesitan dilawan ketangkasan.
Bayangan dua orang ini sampai sukar dikenal lagi, sepeti
sudah menjadi satu.
Kegagahan Sin Hong ini makin menggerakkan hati Ang:
jiu Mo-li yang mencinta Sin Hong. Dahulu ketika masih
muda wanita ini selalu bersumpah bahwa ia takkan mau
menikah dengan orang yang tidak dapat melawan
kepandaiannya, dan benar saja. Tak pernah ia menemui
laki- laki yang wajahnya mencocoki hatinya dan
kepandaiannya dapat mengimbangi kepandaiannya. Kini
menghadapi Sin Hong yang memang sudah menarik hatinya
ia menjadi kagum bukan main sehingga wajahnya menjadi
merah napasnya memburu dan matanya bersinar-sinar.
"Wan Sin Hong, tahan dulu!” katanya.
Sin Hong pun menghentikan serangannya dan
memandang heran. "Kau mau bicara?" tanyanya tenang.
Diam-diam ia harus mengakui bahwa kecuali Toat-beng Kuibo,
belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan
seorang wanita sehebat ini kepandaian silatnya.
“Sin Hong, kepandaian kita seimbang. ...... tidak
melihatkah kau betapa cocoknya kalau kita berdampingan,
kau dan aku berdua akan dapat menguasai dunia ! Pekthouw-
tiauw-ong dan isterinya yang terkenal bukan apa-apa
kalau dibandingkan dengan kita berdua! Sin Hong, di dunia
ini tidak ada jodoh yang lebih setimpal dari pada kita !"
Kalau pipinyu ditampar, kiranya Sin Hong takkan
semerah itu mukanya.
17
"Ang-jiu Mo-li, bagaimana kau bisa mengeluarkan katakata
seperti itu? Kau tahu aku sudah berisieri. Kau memang
patut ditampar seperti yang diminta oleh isteriku!” bentak
Sin Hong sambil melompat maju dan mengirim tamparan ke
arah pipi Aug-jiu Mo-li. Memang Sin Hong tidak pernah lupa
akan hinaan yang dilakukan oleh Ang-jiu Mo-li terhadap
Siok Li Hwa ketika belum menjadi isterinya.
Pipi Li Hwa ditampar sampai merah oleh Ang jiu Mo-li
dan Li Hwa menjadi sakit hati sekali, bahkan menuntut agar
supaya Sin Hong berjanji untuk membalaskannya. Namun
tadinya Sin Hong sama sekali tidak ingin menanam
permusuhan dan tidak mau menghina Ang-ji Mo-li dengan
menampar pipinya. Hanya setelah mengeluarkan kata-kata
yang dianggapnya terlalu dan tak tahu malu, Sin Hong
menjadi marah dan menamparnya.
Ang-jiu Mo-li mana mau membiarkan dirinya ditampar ?
Dengan marah ia mengelak dan memaki. "Manusia sombong
! Aku akan mcmbunuh binimu itu ! Lebih dulu aku akan
membunuhmu pelamun tiada guna!” Kembali Ang jiu Mo li
menyerang dan begitu ia bergerak, Sin Hong mengeluarkan
seruan kaget. Serangan-seranyan Ang-jiu Mo-li sekarang ini
benar-benar hebat dan sama sekali berbeda dengan tadi.
Dalam gebrakan pertama saja sudah hampir saja lehernya
terkena totokan, dan selanjutnya ia terdesak terus dan
terpaksa hanya bisa menjaga diri dan main mundur
menghadapi gclombang serangan yang dahsyat itu. Ia tidak
tahu, bahwa inilah Ilmu Silat Kwan-im-cam-mo yang
dipelajari oleh Ang jiu Mo li dari kitab Omei-san yang dulu
terjatuh ke dalam tangannya. Tidak heran apabila Sin Hong
sendiri tidak mengenal ilmu ini dan menjadi terdesak
olehnya.
Sin Hong adalah seorang pendekar besar yang berjiwa
gagah perkasa. Biarpun sudah amat terdesak oleh pukulanpukulan
aneh dan sakti dari lawannya, tetap ia tidak sudi
mengeluarkan Pak-kek sin-kiam untuk melawan seorang
18
wanita yang bertangan kosong. Ang-jiu Mo-li tadi sudah
menyatakan bahwa kedatangannya hendak menguji
kepandaian. Setelah sekarang mereka bertempur dan wanita
itu melawannya dengan tangan kosong, bagai mana ia ada
muka untuk mempergunakan pedangnya ? Ia lebih suka
kalah dan roboh dari pada menurunkan kehormatannya
dengan bersikap curang atau licik.
Pada saat itu. muncul Siok Li Hwa yang berlari-lari
sambil memondong anaknya, Leng Leng. Melihat bahwa
suaminya sedang bertempur melawan Ang-jiu Mo-li, Li Hwa
menjadi marah sekali dan berseru, "Suamiku, balaskan sakit
hatiku. kautampar pipinya biar bengkak-bengkak !"
Akan tetapi Ang-jiu Mo-li yang menjawab sambil
mengejek dan mendesak Sin Hong. “Bagus. perempuan tiada
guna kau sudah datang. Tunggu sebentar aku membereskan
dulu lakimu ini, baru aku akan mencabut nyawamu berikut
nyawa anakmu!”
Saking marahnya. Li Hwa menurunkan anaknya di
bawah pohon dan siap membantu suaminya mengeroyok
Wanita Tangan Merah yang lihai itu. Melihat gerakan
isterinya, Sin Hong cepat berseru.
"Li Hwa, jangan....... ! Lebih baik kau bawa Leng Leng
kepada gakbo (ibu mertua) agar terlindung dari ancamn
perempuan ini."
"Kita robohkan dia bersama!” Li Hwa membantah.
"Jangan. Isteriku! Ini pertandingan pibu, tidak boleh
main keroyokan !" kata pula Sin Hong yang tetap hendak
menjaga namanya.
"Huh, terhadap seorang siluman tangan merah mana
perlu menggunakan aturan lagi? Dia jahat dan sudah biasa
tidak pakai aturan, perempuan hina macam itu saja
meagapa kita harus sungkan-sungkan ?”
19
Mendengar makian ini, kemarahan Ang-jiu Mo li tak
dapat ditahan lagi. Sambil berteriak nyaring tubuhnya
melayang meninggalkan Sin Hong, langsung ia menerjang Li
Hwa !
"Ang-jiu Mo-li, jangan serang isteriku !” bentak Sin Hong
mengejar, “Li Hwa, jangan lawan dia. Lari !”
Akan tetapi mana Li Hwa mau lari? Dia sendiri berilmu
tinggi dan bukan menjadi wataknya untuk lari menghadapi
lawan yang bagaimana tangguhpun. Melihat serangan Angjiu
Mo-li, ia cepat menggerakkan kedua tangan menangkis.
"Plak !" dua lengan tangan bertemu dan Li Hwa terlempar
terus muntah darah.
"Hai, berani melukai anakku ?" terdengar bentakan dan
sekaligus sebatang tongkat melayang ke arah kepala Ang-jiu
Mo-li dan dua ekor kelelawar menyerangnya dari kanan kiri.
Ang-jiu Mo-li maklum siapa yang datang maka ia cepat
melompat ke belakang menghindarkan diri dari serangan
hebat itu.
“Gakbo, dia datang hendak berpibu dengan aku, biarkan
aku melayaninya !" kata Sin Hong yang melihat isterinya
menelan sebuah pil putih, ia lalu melompat lagi mendekati
dua orang wanita sakti yang kini sudah bertempur.
“Anak mantu, kau diamlah, sudah tentu kau suka
melayaninya karena dia ini masih cantik dan terkenal gila
laki-laki. Biar aku mengambil jantungnya untuk makanan
kelelawar-kelelawarku. Hi hi-hi !"
Tongkatnya mendesak terus dan diam-diam Ang-jiu Mo-li
terkejut sekali. Tadinya ia tidak gentar terhadap nenek ini
karena biarpun dulu kepandaiannya masih kalah setengah
tingkat, namun bertambahnya kepandaiannya dengan ilmu
Silat Kwan im-cam-mo dari Omei-san, ia kira akan cukup
untuk menghadapi nenek itu. Akan tetapi kiranya melihat
gerakan tongkat, kepandaian nenek itupun meningkat
20
banyak! Dan Ang-jiu Mo-li ingat bahwa ketika terjadi
keributan di Omei-san nenek inipun melarikan sebuah kitab.
Tentu nenek inipun sudah mendapatkan semacam ilmu
silat yang lihai. Mengingat ini, Ang-jiu Mo-li menjadi gentar
juga. Menghadapi Sin Hong andaikata ia kalah, ia masih bisa
mengharapkan selamat. Akan tetapi nenek ini seperti bukan
manusia lagi dan kekejamannya sudah terkenal di seluruh
dunia kang-ouw. Di samping ini, Ang-jiu Mo-li juga merasa
gelisah mendengar sebutan-sebutan antara Sin Hong dan
Toat-beng Kuibo. Mantu dan mertua? Gila ia tahu betul
bahwa Toat-beng Kui-bo tak pernah punya anak ! Otak di
dalam kepala Ang-jiu Mo-li memang cerdik sekali. Ia melihat
keuntungan dalam keganjilan itu, Tiba-tiba ia tertawa keras.
dengan nada mengejek.
"Toat-beng Kui-bo, manusia tak tahu malu. Apa kau
berani mendengarkan kata-kataku sebentar?”
"Bocah ingusan, mengapa aku takut ? Cepat atau lambat,
jantungmu pasti akan menjadi mangsa kelelawarkelelawarku.
Syyyyt. Anak-anak baik, nanti dulu, dia mau
bicara." katanya kemudian pada dua ekor kelelawar yang
anehnya seperti mengerti, menunda serangan dan hinggap di
atas pundak itu.
Ang pu Mo-li bergidik, akan tetapi ia tetap tertawa. "Toatbeng
Kui-bo, kau ini sudah tua bangka apakah masih mau
membadut? Kau menyebut Wan Sin Hong anak mantumu
apa-apaan sih ini? Siok Li Hwa adalah Hue-eng Niocu,
bagaimana bisa menjadi anakmu Apakah kau mengangkat
anak kepadanya? Ha ha, siluman macam engkau ini, yang
sejak muda tidak ada laki-laki yang sudi mengerlingmu
sebentarpun juga, bagaimana bisa punya anak dan mantu?
Ha. Toat- beng Kui-bo, jangan bikin aku mati tertawa geli !"
“Iblis 1 Dia memang anakku. Li Hwa me mang
anakku.....” bentak Toat-beng Kui bo dan tongkatnya
bergerak pula.
21
"Nanti dulu, jangan kau menipuku. Ketika aku masih
kecil sebelum orang-orang seperti Li Hwa ini lahir, aku
sudah mendengar dari ayah bahwa kau adalah seorang
wanita bermuka siluman yang amat buruk dan orang malah
menyangsikan apakah kau ini laki-laki atau wanita.
Mungkin kau banci! Sejak kapan kau menikah dan kapan
pula kau punya anak? Menurut perhitunganku, ketika aku
masih kecil kau sudah berusia lima puluh atau enam
pulunan, jadi sekarang kau tidak kurang dari seratus tahun.
Sedangkan Li Hwa ini paling banya berusia empat puluh
tahun. Dalam usia berapakah kau melahirkan dia? Dalam
usia tujuh puluh tahun, barungkali? Ha-ha.ha, Toat-beng
Kui-bo, seorang anak kecilpun akan tahu bahwa kau
membohong."
Terdengar jerit tertahan dari Li Hwa ketika mendengar
kata-kata ini dan Toat-beng Kui-bo dengan marah sudah
memutar tongkatnya pula menyerang Ang-jiu Mo-li Si
Tangan Merah cepat mengelak lalu melarikan diri sambil
tertawa.
"Mulut jahat, kau mau lari ke mana?" Toat beng Kui-bo
mengejar, akan tetapi Ang-jiu Mo-li menyebar Pat-kwa-ci
yang dipukul runtuh oleh tangan baju nenek itu yang terus
mengejar.
Tiba-tiba Sin Hong melompat dan menghadang di depan
Toat-beng Kui-bo. "Biarkan dia lari, tak perlu membunuh
orang."
Dalam kemarahannya yang luar biasa, Toat-beng Kui-bo
membentak." Kau...... mau membela dia ?” Dan tongkatnya
menghantam Sin Hong. Sin Hong sudah siap sedia karena)
memang selama ini ia merasa curiga terhadap nenek yang
aneh itu. Dengan sigap ia melompat ke samping. Ketika
Toat-beng Kui-bo memandang ke depan, ternyata Any-jiu
Mo-li sudah menghilang. Marahlah dia, kemarahannya kini
tertuju kepada Sin Hong dan tongkatnya melayang lagi
22
menyerang Sin Hong. Kembali Sin Hong mengelak dan kali
ini mencabut Pak-kek-sin kiam.
"Ibu mengapa kau hendak membunuh mantumu
sendiri.....?” tiba-tiba Li Hwa berseru sambil mendekati
dengan Leng Leng dalam pondongannya.
Mendengar ini tiba-tiba Toat-bang Kui- bo menghentikan
gerakannya. Matanya yang mengerikan itu menatap wajah Li
Hwa penuh selidik, lalu ia berkata,
“Kau tidak percaya akan obrolan siluman tadi, bukan?
Kau masih percaya dan mengaku aku sebagai ibumu?"
Dengan air muka tidak berubah Li Hwa menjawab.
"Tentu saja, tentu saja."
Toat-beng Kui-bo mengampit tongkatnya, "Kesinikan
cucuku, aku ingin menggendongnya."
Sesungguhnya, di dalam hatinya Li Hwa sudah
terpengaruh oleh ucapan Ang-jiu Mo-li tadi dan kini iapun
merasa yakin bahwa tidak mungkin kalau Toat-beng Kui-bo
ini ibunya. Akan tetapi ia maklum betapa lihai adanya nenek
ini dan kalau ia tidak mengambil hatinya lalu nenek ini
mengamuk, berabe juga. Suaminya belum tentu sanggup
mengalahkan nenek ini, apalagi dia sendiri masih terluka.
Kini nenek itu minta Leng Leng untuk digendong. Sungguh
berat ujian ini. Namun, dengan senyum penuh kepercayaan,
ia menyerahkan Leng Leng yang segera dipondong oleh Toatbeng
Kui-bo, Nenek ini lalu terhuyung-huyung pergi sambil
memondong cucunya. Terdengar ia bersungut-sungut,
"Kalau kau tidak percaya lagi bahwa aku ibumu, hmm,
kubunuh kalian semua, kubunuh ....... !”
Setelah Toat-beng Kui bo pergi jauh membawa Leng Leng,
barulah Li Hwa memperlihatkan kecemasannya. Ia
memandang kepada suaminya, mereka saling pandang
penuh pengertian dan Li Hwa lalu menubruk Sin Hong
sambil menangis.
23
"Kau betul...... dia bukan ibuku ..... " katanya, "kalau saja
aku percaya akan keraguanmu dahulu ....... sekarang dia
membawa pergi Leng Leng, bagaimana baiknya ....... ?”
"Tenanglah. Memang kau tadi bersikap tepat sekali.
menghilangkan kecurigaannya dengan memperlihatkan
kepercayaan. Kalau kau bersikap lain, aku khawatir kita
takkan dapat menolong diri. Nenek itu lihai bukan main.
Dalam keadaan biasa. kiranya aku masih akan dapat
menahannya. Akan tetapi kulihat ilmu toogkatnya tadi luar
biasa sekali ketika ia menghadapi Ang-jiu Mo-li. Tak salah
lagi dugpaanku bahwa kitab DELAPAN JALAN UTAMA itu
mengandung sari pelajaran ilmu silat tinggi tentu betul
adanya. Tiang Bu telah ditipunya. Aku sudah
mengkhawatirkan hal itu. Tak mungkin orang-orang sakti di
Omei-san menyimpan kitab pelajaran Agama Budha biasa
saja, tentu di situ tersembunyi sari pelajaran Ilmu silat. Dan
nenek itu agaknya sudah mulai mempelajarinya. Ilmu
tongkat yang dimainkannya tadi benar-benar luar biasa dan
aku takkan dapat melawannya, biarpun dengan Pak kek sinkiamsut.”
"Sekarang bagaimana caranya untuk minta kembali Leng
Leng?"
“Kita harus menggunakan akal. Kau tetap bersikap
seperti tadi, penuh kepercayaan. Seperti biasa ia akan
mengembalikan Leng Leng kalau kau menyusul ke sana.
Kemudian secara diam diam kita akan pergi dari sini."
Dengan hati berdebar gelisan mereka menanti-nanti,
akan tetapi sampai keesokan harinya, Toat-beng Kui-bo tak
kunjung datang. Terpaksa Li Hwa lalu naik menyusul ke
tempat tinggal nenek itu, sedangkan San Hong menanti dari
tempat yang tidak begitu jauh sambil mengintai. Tak lama
kemudian ia melihat Li Hwa berlari kembali sambil
menangis.
"Celaka....... dia ....... dia sudah pergi membawa Leng
Leng!" katanya.
24
Sin Hong menjadi pucat dan berlaku nekad. Ia cepat lari
ke arah tujuh buah gua besar dan mencari, bersiap untuk
menempur Toat beng Kui-bo. Akan tetapi betul seperti katakata
isterinya, nenek itu tidak kelihatan bayangannya lagi.
Agaknya nenek itu dapat menduga bahwa Li Hwa takkan
mau mengaku dia sebagai ibu lagi dan dengan marah lalu
pergi membawa Leng Leng.
"Sudahlah, jangan kau menangis." Sin Hong menghibur
isterinya. "Bagaimanapun juga dia amat sayang kepada Leng
Leng. Dia pergi tentu karena takut kalau kita membawa
anak itu pergi meninggalkamnya, maka ia mendahului dan
membawa anak kita."
"Ke mana kita harus mengejar dan mencarinya?”
"Kalau tidak salah dugaanku, dia tentu pergi mencari
Ang-jiu Mo-li. Tentu dia marah sekali kepada Ang. jiu Mo-li
karena Si Tangan Merah itulah yang membuka rahasianya.
Maka kita harus mencari di utara, di kota raja Kerajaan Kin,
karena aku mendengar bahwa Ang-jiu Mo-li pernah menjadi
guru dari anak-anak Pangeran Wanyen Ci Lun dan kiranya
tidak terlalu salah kalau kita mencari dia di sana."
Tanpa membuang waktu lagi, suami isteri ini menyusul
ke kota raja dan seperti telah diceritakan di bagian depan,
mereka bertemu dengan Pangeran Wanyen Ci Lun setelah
berhasil mcmasuki kora raja, hal yang tidak mudah karena
kota raja itu sudah terkurung oleh bala tentara Mongol.
-oo(mch)oo-
"Demikianlah, kita menyusul ke sini. ternyata terlambat
dan baru kemarin anakku diculik oleh kaki tangan Liok
Kong Ji.” Sin Hong inengakhiri penuturannya sambil
membanting kaki.
Dari ruangan datang Li Hwa berlari sambil menangis.
Nyonya inipun mendengar Gak Soan Li tentang penculikan
25
atas diri Leng Leng pada malam tadi oleh orang-orang
Mongol. Sambil menangis ia berlari mencari suaminya.
"Kita harus mengejar ke sana. sekarang juga!" Nyonya ini
berteriak marah. "Biar kita mengadu jiwa dengan iblis jahat
Liok Kong Ji !”
Sin Hong menyabarkan isterinya. “Mari kita berunding
dulu dan mengatur siasat jangan terburu nafsu."
Gak Soan Li dan Go Hui Lian juga menyusul ke situ
untuk menghibur Li Hwa dan sekarang merekapun
dipersilahkan duduk di ruangan itu. Mendengar disebutnya
nama Liok Ko Ji oleh Li Hwa tadi, tak tertahan lagi Soan Li
bertanya, "Heran sekali, bukankah iblis yang namanya Liok
Kong Ji itu dahulu sudah mampus kubunuh dengan
pedangku? Bagaimana sekarang bisa muncul di antara
orang-orang Mongol?" ia bertanya demikian sambil
memandang kepada suaminya, padahal Pangeran Wanyen
jugu maklum kepada siapa pertanyaan ini ditujukan. Maka
ia lalu berkata kepada Sin Hong.
"Saudara Sin Hong hanya kaulah yang dapat menjawab
pertanyaan isteriku tadi. Sudah lama kami terganggu oleh
pertanyaan yang tak terjawab ini."
Sin Hong menarik napas panjang. "Memang yang
terbunuh dahulu itu bukan Liok Kong Ji. Dia terlalu licin
dan siang-siang sudah menyediakan orang ke dua yang
mukanya memang serupa dengan dia. Orang itulah yang
terbunuh sedangkan dia sendiri melarikan diri ka utara dan
menggabung kepada orang-orang Mongol.”
"Dan sejak dulu kau sudah tahu akan ini?" tanya
Pangeran Wanyen.
Sin Hong mengangguk. "Sengaja aku diam saja agar
jangan menggelisahkan hati banyak orang, iblis itu memang
jahat sekali dan sampai sekarang ia masih saja
mendatangkan kesusahan kepadaku. Akan tetapi sekarang
26
aku akan menyusul ke sana dan sekali ini perhitungan
terakhir harus dibuat. Dia atau aku yang mati."
"Adik Li Hwa. jangan khawatir, kami akan ikut
membantumu," tiba-tiba Hui Lian berkata yang disetujui
oleh Hong Kin dan Lee Giok.
Sin Hong menggeleng kepala. "Untuk memasuki
perkemahan orang orang Mongol secara sembunyi, lebih
baik dilakukan oleh seorang saja. Makin banyak makin
berbahaya karena ketahuan seorang saja bearti akan
menggagalkan urusan. Bahkan Li Hwa sendiri harus
menanti di sini dan akuslah yang akan pergi ke sana. Kalau
aku berhasil merampas kembali Leng Leng tanpa
pertempuran, itulah paling baik. Kalau tidak, terpaksa aku
harus mengadu nyawa dengan Liok Kong Ji. Malam nanti
aku berangkat dan terima kasih atas kesediaan kalian
membantu dan berkorban.”
Percakapan dilanjutkan dan mereka menuturkan riwayat
masing-masing selama berpisah. Dengan girang akan tetapi
juga terharu sekali Hong Kin dan Hui Lian mendengar
penuturan Sin Hong tentang diri Tian Bu yang menurut Sin
Hong kini sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan
betapa pemuda itu disiksa oleh keraguan karena pengakuan
Liok Kong Ji kepadanya sebagai anaknya. Tentu saja ketika
menceritakan hal Tiang Bu, Sin Hong sengaja agar jangan
sampai terdengar oleh Soan Li yang sedang bercakap-cakap
dengan Li Hwa. Juga Lee Goat, Wan Sun dan Wan Bi Li
sudah ikut bercakap-cakan dengan gembira. Dalam
kesempatan ini terdorong oleh kegembiraan bertemu dengan
sababat baik Sin Hong melupakan kedudukannya dan
timbul niat yang amat baik. Ia menghampiri Pangeran
Wanyen Ci Lun dan membisikkan sesuatu, kemudian iapun
memberi tahu dengan suara perlahan kepada Coa Hong Kin.
Dua orang ini saling pandang, tersenyum dan kemudian
mengangguk setuju.
27
Tak lama kemudian larilah Lee Goat keluar sari ruangan
itu dengan muka merah ketika Pangeran Wanyen Ci Lun dan
Coa Hong Kin mengumumkan pertunangan antara Wan Sun
dan Coa Lee Goat! Adapun Wun Sun yang mendengar ini,
juga menjadi merah sekali mukanya, akan tetapi lirikan
matanya sekilas ke arah Bi Li membayangkan kehancuran
hatinya. Pemudaa ini semenjak mendengar bahwa Bi Li
bukan adik kandungnya, yaitu ketika ia mendengarkan
percakapan antara ayah bundanya dan Kwan Kok Sun,
berubahlah pandangannya terhadap gadis yang selama ini ia
sayang sebagai adik sendiri itu.
Diam-diam bersemi cinta kasih yang lain dalam hatinya
terhadap Wan Bi Li. Maka dapat dibayangkan betapa hancur
hatinya mendengar keputusan ayahnya bahwa ia dijodohkan
dengan Coa Lee Goat, sungguhpun harus akui bahwa Lee
Goat bukan gadis sembarangan dan tidak tercela sedikitpun
juga. Setelah mengerling sekilas ke arah Bi Li dengan hati
hancur, iapun mengerling ke arah Wan Sin Hong dengan
hati menaruh dendam.
Tadinya tiap kali memandang kepada Wan Sin Hong,
pemuda ini merasa kagum dan juga bangga karena pendekar
itu masih satu she dengan dia dan masih terhitung paman.
Akan tetapi setelah Sin Hong mengusulkan perjodohan itu,
diam-diam Wan Sun menjadi marah dan sakit hati kepada
Sin Hong,
Malam tiba. Sin Hong sudah berkemas menyiapkan
pedangnya dan berpakaian serba ringkas, Li Hwa tadinya
merengek hendak ikut karena ia mengkhawatirkan
keselamat suaminya, akan tetapi setelah Sin Hong
menjelaskan bahwa pergi dua orang akan lebih berbahaya, ia
mengalah.
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar berkali-kali
disusul sorak-sorai menggegap- gempita.
"Musuh menyerbu……!!”
28
"Mereka membobol dari empat jurusan..!"
“Siap… ! Lawan ....... !!"
Teriakan ini simpang siur. Sin Hong dan Li Hwa menjadi
pucat karena suara ledakan tadi hebat luar biasa membuat
kamar mereka seperti hendak roboh. Cepat mereka
melompat keluar dan hampir mereka bertumbukan dengan
Coa Hong Kin dan isterinya yang juga berlari keluar.
“Tantara Mongol melakukan serbuan besar-besaran,"
kata Hong Kin.
"Mari kita cari Pangeran Wanyen Ci Lun. Kita bantu dia!"
kata Sin Hong dengan hati tetap dan suara tenang. Tadinya
memang pendekar ini tidak ada nafsu untuk mencampuri
urusan perang, akan tetapi karena Kong Ji berada di pihak
sana dan puterinya sekarang diculik pula oleh orang-orang
Mongol, ia tidak bisa tinggal diam saja. Datang pula Lee Goat
dan berlima mereka lari ke ruangan besar di mana Pangeran
Wanyen Ci Lun sudah berkumpul dengan para panglima,
membagi-bagi perintah.
Juga Kwan Kok Sun, Wan Sun. dan Wan Bi Li sudah
berada di situ, semua berpakaian dinas, Gak Soan Li tidak
setinggalan. Nyonya ini dulu mendampingi suaminya,
sedetikpun tak mau ditinggal. Pedang tajam berkilauan
berada di tangan kanannya dan pakaiannya ringkas,
membuat ia nampak gagah biarpun wajahnya agak pucat.
Setelah selesai membagi-bagi tugas dan semua panglima
sudah pergi melakukan penjagaan sekuatnya. Wanyen Ci
Lun berpaling kepada Sin Hong dan memegang kedua
tangannya.
"Saudaraku yang baik, sayang sekali sebelum kau
merampas kembali anakmu, setan-setan itu sudah datang
menyerbu. Seperti sudah kukhawatirkan, mereka kini
agaknya mengerahkan seluruh kekuatan, menycrbu dari
empat penjuru. Kaudengar tembok bagian utara sudah bobol
dan agaknya malam ini kita harus menyerah kalah. Akan
29
jatuh banyak korban......” suara pangeran itu menggetar,
“akan tetapi aku akan mempertahankannya dengan titik
darah penghabisan! Aku hanya minta kepadamu, Wan Sin
Hong saudaraku, kauselamatkan dua orang anakku. Jangan
mereka ikut berkorban seperti aku dan ...... dan istcritu yang
setia ini."
"Jangan khawatir, kami akan membantumu menghadapi
iblis-iblis Mongol itu apabila mereka betul-betul menyerbu
ke sini,” jawab Sin Hong terharu.
"Jangan....... kaujaga saja Bi Li dan Wan Sun. Jangan
biarkan mereka membuang nyawa sia-sia.... nah, selamat
tinggal, aku harus pimpin sendiri anak buahku !" Wanyen Ci
Lun bersama isterinya keluar, akan tetapi sebelumnya
mereka menghampiri Bi Li dan Wan Sun. Pangeran itu
dengan suara mamerintah berkata, "Kalian kutugaskan
menjaga rumah kita agar jangan dimasuki orang-orang jahat
dalam keadaan sekacau ini !”
“Baik, ayah!” jawab mereka bcrbareng, nampak bangga
karena mendapat bagian tugas.
Perang hrbat terjadi pada malam itu. Darah membanjiri
kota raja. Tentara Mongol mengamuk laksana iblis-iblis
neraka mencari kurban. Rumah-rumah dirampok dan
dibakar orang-orang dibunuh, wanita-wanita cantik diculik.
Jerit tangis bercampur aduk dengan pekik marah dan
kesakitan. Api mengaamuk membakari rumah. Perlawanan
fihak tentara Kin juga patut dipuji pantang mundur. Namun
mereka kalah banyak dan makin lama makin terdesak
mundur. Balatentara Kin makin mendekati lingkungan
Istana yang sudah hampir kosong karena ditinggalkan oleh
para pembesar yang sudah mengungsi lama sebelum
penyerbuan terjadi.
Dalam kekecauan seperti itu balatentara Mongol tak
dapat ditahan lagi. Sebagian, mereka yang jahat dan
memang tadinya orang-orang jahat seperti perampok dan
lain-lain yang menggabungkan diri hanya dengan maksud
30
mencari kesempatan, menyerbu ke dalam istana untuk
mencari benda-benda berharga. Akan tetapi beberapa orang
yang “kesasar” ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun, hanya
mengantarkan nyawa karena di sana mereka disambut oleh
orang-orang gagah!
Sin Hong dan isterinya juga keluar. Di sana sini mereka
merobohkan beberapa orang musuh yang sedang menyeret
wanita atau sedang membakari rumah. Melihat keadaan
yang tak tertahankan lagi, Sin Hong maklum bahwa
melakukan perlawanan akan sia-sia belaka. Ia mengajak Li
Hwa kembali ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun. Ternyaia di
situ pun sudah terjdi pertempuran. Wan Sun, Wan Bi Li
dibantu oleh Hui Lian dan Hong Kin serta Lee Goat sedang
mengamuk, dikeroyok oleh belasan orang tentara Mongol
yang buas. Sin Hong marah sekali. Pedangnya berkelebatan
dan para pengeroyok itu sebentar saja terbasmi habis.
"Wan Sun, Bi Li, tak mungkin dapat dipertahankan lagi.
Pertahanan sudah bobol, perlawanan hampir tidak ada lagi.
Sebentar lagi mereka semua pasti akan menyerbu ke mari
dan kita takkan dapat mempertahankan lagi. Mari kita
keluar dari sini dengan jalan darah dapat kita keluar dari
kepungan." kata Sin Hong.
"Tidak….! Kita harus mencari ayah, Bi Li.” Wan Sun
menyambar lengan adiknya, "Mari ...... !" Dan tanpa dapat
dicegah lagi kakak beradik itu berlari keluar mercari ayah
mereka.
Sin Hong hanya manggeleng kepala, akan tetapi diamdiam
ia merasa kagum. Kalau ia mau, tentu saja ia dapat
mencegah mereka pergi dan memaksa mcreka itu ikut
dengan dia menyelamatkan diri. Akan tetapi ia tak tega
berbuat demikian. Ia tidak mau menghalangi sikap mereka
yang gagah perkasa yang hendak membela ayah dan
membela negara.
"Biarkan mcreka, mereka memang berhak. Kalau Thian
manghendaki, mereka akan dapat lolos dengan selamat."
31
kata Sin. Hong. Kemudian ia bersama isterinya, Hong Kin.
Hui Lian dan Lee Goat inenyerbu keluar dan membuka jalan
darah ke selatan. Pekerjaan ini bukan mudah karena di
mana-mana mereka dihalangi oleh tentara Mongol yang
tentu saja tidak mau melepaskan rombongan di mana ada
tiga orang wanitanya yang cantik-cantik. Akan tetapi mereka
ini bukan lawan berat bagi Sin Hong dan kawan-kawannya.
Akhirnya Sin Hong berhasil membawa rombongannya
melalui pintu selatan yang sudah tak terjaga lagi. Kota raja
menjadi lautan api di sana-sini bertumpukan mayat-mayat
dan orang-orang terluka. Jerit wanita-wanita diseret, orangorang
dibunuh, memenuhi udara.
"Kalian pulang dulu ke Kim-bun-to, aku akan berusaha
mencari Kong Ji dan membuat perhitungan !" kata Sin Hong.
Li Hwa maklum bahwa suaminya lebih bebas kalau bergerak
sendiri menghadapi lawan-lawan yang amat berbahaya
seperti Kong Ji dan tokoh-tokoh Mongol, maka ia tidak
membantah dan melanjutkan parjalanan cepat ke selatan.
Sedangkan Sin Hong barkelebat kembali ke kota raja yang
geger itu. Di mana-mana masih terdapat pertempuran matimatian,
yaitu perlawanan dari sisa-sisa pengawal dan
panglima yang tidak mau menyearah kalah.
Dengan tubuh penuh luka-luka dan mandi darah,
Pangeran Wanyen Ci Lun berlari terhuyung-huyung menuju
ke istana sambil memondong tubuh Gak Soan Li yang juga
penuh luka dan sudah pingsan. Pangeran ini bersama anak
buahnya melakukan perlawanan juga Soan Li
membantunya.
Ketika memasuki istananya, beberapa orang serdadu
menyerbunya. Namun dalam keadaan terluka. Pangeran
Wanyen Ci Lun masih gagah dan setelah serdadu perampok
kena dirobohkan, yang lain pada lari. Istana itu sudah awutawutan,
barang-barang berharga sudah menjadi rebutan.
Akan tetapi Wanyen Ci Lun merasa lega karena tidak melihat
anak-anaknya menjadi korban. Ia hanya mengharapkan
32
anak-anaknya sudah pergi bersama Sin Hong. Setelah tiba di
ruang tengah, ia tidak kuat lagi. Darah sudah terlalu banyak
keluar dari tubuhnya. Ia roboh terguling dengan Soan Li
masih dalam pelukannya.
Soan Li membuka matanya, nampaknya kaget dan takut.
Akan tetapi menjadi tenang lagi kelika melihat bahwa ia
berada dalam pelukan suaminya yang duduk menyandar
tembok.
"Kau....... kau gagah sekali......." ia memuji suaminya
yang mandi darah. Tadi ia mengamuk tanpa memperdulikan
keselamatan nyawa sendiri, pada hal para pangeran dan
para pembesar yang lain sudah siang-siang lari mengungsi,
tak lupa membawa harta mereka.
Wanyen Ci Lun meraba pipi isterinya dengan sentuhan
mesra. "Kaupun gagah perkasa dan kau isteriku yang
setia.......”
Di luar suara peperangan masih ramai. Sorak-sorai suara
serdadu-serdadu Mongol membuktikan bahwa pertahanan
tentara Kin makin runtuh. Pangeran Wanyen Ci Lun
menghela napas. "Runtuhlah kekuasaan Kin dan sebentar
lagi kalau iblis-iblis itu masuk ke sini, kita akan mati."
Akan tetapi Soan Li tidak merasa gentar. "Tidak apa mati
disampingmu." jawabnya. "Suamiku, dalam saat terakhir ini,
aku ingin sekali keraguanku lenyap. Jawablah, siapakah
sebenarnya Wan Sin Hong itu? Begitu bertemu muka, aku
merasa bahwa dahulu aku pernah bertemu dengan dia.......
dan....... dia serupa benar dengan....... dengan......" Ia tak
berani, melanjutkan kata-katanya dan memandang wajah
suaminya.
Wanyen Ci Lun tersenyum dan mengangguk "Sama
dengan Gong Lam ...... ?"
Kini Soan Li yang mengangguk.
33
"Memang dia itu Gong Lam, isteriku. Mula-mula kau
bertemu dengan dia. dengan Win Sin Hong yang mengaku
bernama Gong Lam. Kemudian muncul iblis busuk Kong Ji
yang mengaku bernama Wan Sin Hong dan kemudian
mengaku bernama Gong Lam. Kau diberinya minum racun
yang merampas ingatanmu. Kemudian muncullah aku yang
begitu melihatmu terus jatuh cinta. Atas kehendak Wan Sin
Hong, aku terpaksa mengaku sebagai Gong Lam pula untuk
membantu ingatanmu yang ketika itu belum sadar betul.”
Soan Li merangkul suaminya."Kau memang mulia ......
dan bagaimana dengan.. ...., dengan anak si keparat itu?
Betul-betulkah ketika Hui Lian menyatakan bahwa anak itu
sudah …… sudah matt?"
Pada seat itu, dari luar menerobos seorang pemuda.
Gerakannya ringan dan gesit sekali. Ternyata dia ini adalah
Liok Cui Kong yang malam kemarin datang di istana ini
bersama gurunya dan berhasil menculik Leng Leng. Pemuda
ini tentu saja ikut menyerbu kota raja dan begitu tentara
Mongol berhasil menguasai istana, pertama-tama yang ia
lakukan adalah lari ke istana Pangeran Wanyen Ci Lun,
karena ia teringat akan Wan Bi Li gadis jelita yang membuat
ia rindu dan gandrung itu. Melihat Pangetan Wanyen Ci Lun
duduk bersandar tembok sambil memeluk tubuh isterinya,
keduanya bermandi darah dan sudah lemah sekali. Cui Kong
tertawa mengejek.
"Pangeran Wanyen Ci Lun, mana kegagahanmu? Ha-haha
ha, akhirnya Kerajaan Kin harus bertekuk lutut juga.
Kemarin kau masih kaya raya dan menikmati kemuliaan,
sekarang akan habislah semua harta benda berikut nyawa
keluargamu. Ha-ha-ha!"
Gak Soan Li dan Pangeran Wanyen Ci Lun heran sekali
mellhat persamaan pemuda ini dengan Liok Kong Ji, yaitu
persamaan dalam gerak-gerik dan kekejamannya. Dalam hal
rupa memang berbeda, Cui Kong bahkan lebih tampan. Akan
34
tetapi pemuda ini benar-benar mewarisi sifat-sifat jahat dari
Liok Kong Ji.
"Iblis kecil!, kami mati sebagai orang-orang gagah,
sebagai patriot bangsa, matipun tidak menyesal, sebaliknya
kau dan kawan-kawanmu hidup sebagai manusia-manusia
hina. dina, sebagai orang orang Han yang tak tahu malu,
panjual negara penjilat bangsa Mongol!"
"Bangsat!" Cui song marah sekali dan melompat maju.
Huncwe digerakkan ke atas siap memukul kepala pangeran
itu yang memandangnya dengan mata tak berkedip, sama
sekali tidak gentar menghadapi maut. Dia dan isterinya
sudah tidak berdaya tidak ada tenaga untuk menggerakkan
badan melakukan perlawanan.
Akan tetepi Cui Kong menahan huncwenya ketika
teringat akan gadis jelita yang tidak ia lihat di situ.
"Bagaimanapun juga, kalau teringat akan puterimu aku jadi
tidak tega membunuhmu. Eh, Pangeran Wanyen, di mana
puterimu? Biarkan aku menolongnya dari bahaya. Katakan
di mana dia dan puterimu itu akan hidup, terlepas dari
bahaya maut dan hidup menikmati kebahagiaan dengan
aku.....”
“Keparat !” Soan Li mempergunakan tenaga terakhir,
melompat bangun dan menubruk dengan pedangnya. Akan
tetapi sekali sampok saja pedang itu terlepas dari pegangan
dan tubuh nyonya itu terpelanting ke atas lanyai.
"Huh huh, kalian memang tidak patut dibaiki.
Mampuslah!” Sambil berkata demikian, Cui Kong kembali
menggerakkan huncwenya, kali ini hendak memukul kopala
Soan Li. Akan tetapi ....... “traangg......!” huncwe itu terpental
entah ke mana dan di lain detik di depan Cui Kong yang
kaget sekali itu telah berdiri....... Tiang Bu !
“....... kau.....??” Cui Kong menjadi pucat seperti melihat
setan. Dua tahun lebih telah lewat dan ia tahu betul bahwa
pemuda di depannya ini sudah mati ketika terguling ke
35
dalam jurang. Sekarang tiba-tiba dan dengan pukulan
tangan saja mampu membikin huncwenya terlempar.
Setankah dia ? Apakah ini arwah Tiang Bu yang muncul?
Tiang Bu tersenyum dingin. "Ya, aku Tiang Bu. Masih
ingatkah kau? Cui Kong manusia jahanam, di mana-mana
kau menyebar kejahatan. Benar-benar iblis seperti kau ini
harus diberi hajaran ketas!”
Cui Kong yang mcngingat bahwa ia berada di tempat itu
sebagai pemenang dan di seluruh kota terdapat barisan
Mongol dan kawan-kawannya, tiba-tiba menjadi berani dan
sombong. "Kaukita aku takut kepadamu? Terimalah ini !"
Cui Kong memukul dengan keras ke arah dada Tiang Bu.
"Blekkk.,....... !" bukan Tiang Bu yang roboh, melainkan
Cui Kong yang terheran heran tercampur kesakitan
terbayang pada mukanya. Memang tak masuk di akal kalau
ada orang dengan dada terbuka menerima pukulanaya tadi,
bukan saja orang ini tidak rubuh, bahkan kepalan
tangannya kini lengket pada dada tak dapat ditarik kembali.
Sebelum lenyap kagetnya, Tiang Bu menggerakkan kedua
tangannya menangkap kaki dan lehernya lalu ....... tubuh
Cui Kong dilemparkan jauh, nabrak meja bangku sampai
bergulingan. Baru saja Cui Kong merangkak bangun, ia
sudah ditangkap lagi, dilontarkan ke atas sampai mengenai
langit-langit dan jatuh menimpa meja.
"Braakkk !" Meja itu remuk. Baiknya Cui Kong bukan
orang sembarangan sehingga biarpun tubuhnya dibikin
"main bal" oleh Tiang Bu. namun ia hanya merasa sakitsakit
dan lecet-lecet, tidak menderita luka dalam. Cui Kong
berusaha menggunakan tenaganya memukul lagi ketika
Tiang Bu dengan langkah lebar menghampirinya, akan tetapi
seperti seorang dewasa melawan anak kecil, tahu-tahu
pundaknya sudah dicengkeram lagi dan kembali ia dilempar.
"Buuuk ...... kraak !" kembali beberapa bangku
bergulingan dan tubub Cui Kong menjadi makin lemas.
36
"Tiang Bu....... tahan.......!” teriaknya terengah-engah.
"Apa kau mau membunuh saudara sendiri? ingat, ayah Liok
Kong Ji adalah ayahku dan ayahmu pula, biarpun aku
pernah bersalah padamu, kau tentu bisa memandang muka
ayah dan mengampuninya…..”
"Aku tidak perduli.... kembali tubuh Cui Kong ditangkap
dan dilempar, saking gemasnya dilempar keras sehingga
keluar pintu.
Benar-benar Cui Kong merasa penasaran dan juga
mendongkol sekali bagaimana ia diperlakukan orang seperti
seekor kirik (anjing kecil) saja, ditangkap dan dilempar
seperti benda mati saja.
Tiang Bu hendak menghajar lagi, akan tetapi jerit
menyayat hati di dekatnya. Ternyata Soan Li sudah bangun
dan duduk dengan mata terbelalak, muka yang berlepotan
darah itu pucat sekali.
“Kau ...... kau anak Liok Kong Ji.....? Kau....... kau....... !"
Soan Li tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia
sudab roboh pingsan lagi.
Tiang Bu melompat mendekati dan kecepatan pemuda ini
luar biasa sekali sehingga ia masih dapat memegang kepala
Soan Li sehingga tidak terbanting pada lantai. Dengan
lembut ia merebahkan kepala itu dan memandang wajah
Soan Li dengan kasihan,
"Apa kau yang bernama Tiang Bu dan dulu ketika kecil
kau ikut Coa Hong Kin dan Go Hui Lian sebagai anak
mereka?" pertanyaan yang dikeluarkan dengan lembut ini
mengejutkan Tiang Bu. Ia menoleh dan menghampiri
Pangeran Wanyen Ci Lun yang juga sudah bangun dan
dengan terhuyung-huyung menghampiri isternya.
Tiang Bu sekali lompat sudah berada di dekat mereka.
"Maaf aku datang terlambat Wanyen Taijin,” kata Tiang Bu.
"Seharusnya dua tahun lebih yang lalu aku sudah datang
mengahadap, membawa surat dari Wan Sin Hong siok-siok."
37
Akan tetapi Winyen Ci Lun sudah payah keadaannya dan
tidak begitu memperhatikan kata-kata anak muda itu. Juga
Soan Li yang sudah siuman kembali dan kini menyandarkan
kepala pada suaminya, sudah terengah-engah napasnya.
Kedua suami isteri ini memandang kepada Tiang Bu.
"Soan Li, isteriku yang baik, inilah dia Tiang Bu, anakmu
yang kaudapat secara paksa dari jahanam Liok Kong Ji itu.
.....”. kata Pangeran Wanyen Ci Lun perlahan dan suaranya
mengandung penuh kasih sayang.
Soan Li tersedu "Dia .......dia....... aku tidak sudi
mengakuinya sebagai anak....... aku dahulu ingin
membunuhnya....... tapi ah……… dia tidak berdosa.. Tiang
Bu....... kau....... anakku....... “
Tiang Bu menjadi pucat sekali wajahnya Sin Hong pernah
berpesan kepadanya bahwa kalau ia ingin mengetahui
rahasia kelahirannya ia harus datang kepada Pangeran
Wanyen Ci Lun dan apa yang sekarang ia dengar dan
saksikan adalah hal-hal di luar dugaannya sama sekali.
Bagaimana nyonya pangeran ini mengakuinya sebagai anak
pula? Apakah karena terluka hebat dan dalam sakratul
maut nyonya ini bicara tidak karuan?
"Wanyen Taijin, kau orang yang dipercaya penuh oleh
Wan siok-siok, katakanlah apa artinya semua ini?”
tanyanya, suaranya penuh keharuan dan tubuhnya
menggigil
"Tiang Bu, dia inilah ibumu ! Isteriku inilah ibumu yang
sejati sebelum dia menjadi Isteriku."
Tiang Bu ....... anak yang tadinya hendak kubunuh
sendiri........ kau tidak berdosa, nak. Ampunkan ibumu.......”
"Ibu....... " Tiang Bu menubruk kaki Soan Li dan
membentur-benturkan jidatnya pada lantai di depan ibunya.
Air matanya bercucuran. Kemudian kelihatan beringas. "Ibu,
siapa yang melukaimu seperti ini? Apakah jahanam Cui
Kong tadi ? Biar kuseret dia ke sini.......!” Ia sudah melompat
38
keluar dengan gerakan yang cepat sekali, akan tetapi tentu
saja ia sudah tak dapat menemukan Cui Kong di luar.
Pemuda itu sudah menjadi gentar sekali terhadap Tiang Bu
dan siang-siang sudah menyeret kakinya lari dari situ.
"Tiang Bu....... bukan....... bukan ...... dia…..!" kata Soan
Li lemah. Mendengar kata-kata ini, Tiang Bu berlari cepat
kembali ke dalam dan berlutut lagi di depan ibunya "Aku
terluka karena membela suamiku melawan orang-orang
Mongol. Sudah sepatutnya kami berkorban nyawa demi
negara. Aku ..... aku girang sekali kau menjadi seorang
pandai....... syukur dulu aku tidak membunuhmu ...... kau
anak........ anakku....... " sampai di sini Soan Li tidak kuat
lagi dan menghembuskan napas terakhir dalam pelukan
suaminya yang juga sudah lemah sekali kehabisan darah.
“Taijin, katakan siapa sebenarnya ayahku,…..” Tiang Bu
mengeraskan hatinya supaya tidak menangis menghadapi
ibunya yang telah tewas. Baru saja ia ditemukan dengan ibu
kandungnya, ia telah ditinggal lagi untuk selamanya.
"Ayahmu ....... ayahmu....... “ Pangeran Wanyen Ci Lun
tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saking scdihnya
melihat isterinya mendahuluinya, pangeran ini menjadi
lemas dan tidak ingat diri!
“Taijin ....... Taijin....... !”
Alan terapi pada saat itu dari liar terdengar suara hiruk
pikuk dan menyerbulah sepasukan tentara Mongol, dua
puluh orang banyaknya. Mereka adalah sebagian dari pada
tentara Mongol yang mulai merampoki habis istana-istana di
lingkungan istana kaisar itu. Gedung Pangeraa Wanyen
amat besar dan indah, maka saking gembira mereka
bersorak- sorak. sama sekali tidak mengira bahwa masih ada
orang berani berada di gedung itu.
"Setan-setan keji, kalian mau apa ? Mundur !" bentak
Tiang Bu dengan suara menyeramkan. Akan tetapi seorang
pemuda seperti Tiang Bu ini, mana ditakuti oleh mereka?
39
Sambil tertawa-tawa seakan-akan sikap pemuda itu lucu
sekali, mereka menyerbu. Akan tetapi suara ketawa mereka
itu segera berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan,
bahkan pekik kematian ketika sekali pemuda itu berkelebat,
mereka menjadi sungsang sumbel dan terlempar dengan
kepala remuk, kaki tangan patah atau dada pecah! Setelah
merobohkan lima orang sekaligus, Tiang Bu melompat ke
dekat Wanyen Ci Lun lagi, takut kalau-kalau pangeran ini
akan tewas sebelum memberi keterangan kepadanya.
Melihat pengeran itu sudah empas-empis ia bertanya di
dekat telinganya. “Wan Taijin. ini aku Tiang Bu bertanya
kepadamu. Siapakah sebetulnya ayahku ?”
Bibir Wanyen Ci Lun begerak-gerak. akan tetapi pada
saat itu, enam orang serdadu Mongol menyerbu dengan
golok mereka. Tiang Bu menggerakkan kedua kakinya dan
empat orang roboh. Yang dua nekad membacok terus akan
tetapi tangan Tiang Bu bergerak mereka roboh dengan leher
hampir putus terbacok oleh golok sendiri.
"Taijin, siapakah ayahku ...... ?"
Dengan pengerahan tenaga terakhir. Wan-yen Ci Lun
menjawab berbisik.
"Ayahmu ..... Liok Kong Ji ...... ibumu Gak Soan Li ini
....... ketika masih gadis .....menjadi,....,. korban kakejian
Liok Kong Ji.... kaulah keturunannya....... " Tiba tiba wajah
Wanyen Ci Lun berubah beringas dan ia memaki-maki
dengan suara keras. "Kong Ji iblis bermuka manusia!
Kejahatanmu sudah bertumpuk-tumpuk. dosamu akan
menyeretmu ke neraka jahanam .......!” Pangeran itu menjadi
lemas dan menghambuskan nafas terakhir di samping tubuh
isterinya.
Tiang Bu menjadi makin pucat. Tak terasa lagi kedua
kakinya lemah dan seperti lumpuh. Tubuhnya menggigit, air
mata membanjir turun. Jantungnya serasa ditusuk-tusuk.
Dia putera seorang penjahat besar, anak seorang yang
berwatak iblis, keji dan kejam. Dia terlahir dari perhubungan
40
yang tidak sah, bahkan dari penumpahan nafsu binatang
yang serendah-rendahnya di mana manusia iblis itu
mempermalukan ibunya yang tidak berdosa.
"Aka bunuh dia....... ! Aku akan bunuh dia ......!
Ahhhh....... dia ...... ayahku....... Thian Yang Maha Kuasa,
apa yang harus kulakukan……..??” Dengan bimbang dan
sedih Tiang Bu menangis di dekat janazah ibunya. Teringat
ia akan peristiwa yang menimpa dirinya dilempar ke dalam
jurang oleh Cui Kong yang jahat, putera angkat Liok Kong Ji.
Seperti telah dituturkan di bagian depan. Tiang Bu yang
di luar tahunya terpengaruh oleh hawa beracun katak
pembangkit asmara, ditambah pula oleh dorongan yang
sudah mengeram di dalam darahnya roboh di bawah
kekuatan Cui Lin dan Cut Kim, dua gadis jalita yang
mempergunakan kecantikan mereka untuk
mengalahkannya. Kemudian, dalam keadaan lemas dan
tubuh penuh hawa racun katak itu Tiang Bu tidak berdaya
sama sekali, kedua kalinya dirusak oleb Cui Kong yang
mematahkan tulang-tulang kaki itu kemudian dilempar ke
dalam jurang. Kalau saja tidak kebetulan ada pohon yang
menahannya dan dapat dipeluknya, tentu, tubuh pemuda
itu akan terbanting ke dasar jurang dan hancur binasa.
Sampai tiga hari tiga malam Tiang Bu tidak mampu
bergerak. Tubuhnya sakit dan panas. Tenaga dari hawa
sinkangnya sudah hampir habis sehingga tubuhnya lemah
sekali. Baiknya ia teringat akan bekal obat-obatan yang
masih disimpan di saku bajunya. Obat-obat pemberian dari
Wan Sin Hong. Dengan pengetahuannya tentang ilmu
pengobatan, Tiang Bu yang kini sudah sudar akan keadaan
dirinya itu mengambil beberapa buah pel dan ditelannya pelpel
itu secara berturut-turut dalam tiga hari. Keadaannya
banyak baik. Setelah kedua tangannya bertenaga lagi, ia
mulai membenarkan tulang kakinya yang patah oleh
pukulan huncwe Lui Kong. Ia telah mendapat pelajaran kilat
dari Sin Hong tentang cara menyambung tulang patah,
41
kepandaian khusus dan istimewa ini adalah warisan dari
Raja Obat Kwa Siucai guru Sin Hong, maka berbeda dengan
cara penyambungan tulang biasa.
Dalam waktu sembilan hari saja tulang-tulang itu sudah
tersambung sendiri berkat dan cara penyambungan yang
istimewa ini. Selama beberapa hari itu, Tiang Bu hanya
mengisi perutnya dengan daun-daun dan rumput kemudian
denpan girang sekali ia mendapat kenyataan bahwa pohon
yang telah menolong nyawanya itu adalah pohon yang
berbuah dan buahnya enak dimakan pula. Makin
terjaminlah perutnya dan ia kembali tertolong oleh pohon itu
dari bahaya kelaparan.
Akan tetapi orang tidak nungkin dapat hidup dari daundaun,
rumput, dan sedikit buah melulu, maka setelah kedua
kakinya dapat digerakken mulailah Tiang Bu menyelidiki
tempat itu, mencari jalan ke luar. Sebelum ia pergi jauh,
tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari atas jurang,
dan muncul kepala seorang laki.laki. Tiang Bu memandang
dan merasa kaget serta heran sekali karena orang itu bukan
lain adalah Liok Kong Ji!
"Tiang Bu, kau di situ.. ......?” terdengar Kong Ji berseru
sambil melongok ke bawah.
"Kau mau apa mencariku ?” jawab Tiang Bu ketus. Ia
benci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya ini, apa
lagi ia moderita celaka karena tiga orang muda yang menjadi
kaki tangan Liok Kong Ji.
“Syukur kau math hidup ! Kalau kau dibunuhnya aku
tidak akan mengampuni Cui Kong." Setelah berkata
demikian. dengan gerakan lincah dan gesit Liok Kong Ji
melompat-lompat, terus turun ke dalam jurang menghampiri
Tiang Bu yang memandang dengan penuh perhatian.
Ginkang orang ini hebat juga, pikirnya.
42
Mereka berhadapan. Ayah dan anak. Kong Ji memandang
penuh perhatian dan tertarik. Tiang Bu memandang dan
merasa sebal.
"Kau mau apa datang ke sini? Mau bunuh aku ? Cobalah
!” kata Tiang Bu, biarpun tubuhnya masih belum sehat
benar ia sudah siap menghadapi pertempuran terakhir.
Kong Ji tersenyum dan menatap sepasang mata pemuda
yang tajam sekali itu dengan matanya yang juga sama
tajamnya. Wajah dua orang ini jauh sekali perbedaannya,
akan tetapi kalau orang memperhatikan sinar mata mereka
akan nampaklah persamaan yang luar biasa. Mata yang
tajam sinarnya, tajam gesit membayangkan kecerdasan otak
luar biasa. Hanya bedanya. kalau mata Kong Ji
membayangkan kekejaman, adalah mata Tiang Bu
membayangkan kehalusan budi.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XVII
“TIANG BU, agaknya kau masih belum mau mengaku
bahwa aku ini ayahmu yang sejati. Padahal kau memang
betul anakku bukankah kau sudah mendengar sendiri dari
Wan Sin Hong yang tidak menyangkal bahwa kau adalah
puteraku? Anak yang baik, kau tidak percaya padaku
memang pantas karena kita tidak pernah bertemu, akan
tetapi apakah keterangan Wan Sin Hong masih belum
kaupercayai? Tiang Bu, kau hanya mempunyai seorang
akulah orangnya. Dan puteraku di dunia ini hanya seorang,
kaulah orangnya !"
“Hmm, setahuku anakmu banyak. Ada Cui Kong, ada
...... ada yang lain-lain." Tiang Bu tidak dapat menyebut
nama Cui Lin dan Cui Kim. Jangankan menyebut nama dua
orang gadis itu, teringat kepada mereka saja sudah
mendatangkan rasa malu yang luar biasa besarnya. Kalau
bisa ia ingin melupakan dua orang gadis itu selama
hidupnva, ingin malenyapkan mereka dari ingatannya.
"Aah, mereka itu hanya anak-anak angkat atau muridmurid.
Cui Kong menjadi anak angkatku baru beberapa
tahun ini. Dia anak yatim piatu yang berbakat baik maka
2
kuangkat menjadi puteraku. Ini terjadi sebelum aku tahu
bahwa kau masih hidup. Akan tetapi sekarang ada kau,
yang lain-lain tidak masuk hitungan. Tentang Cui Lin dan
Cui Kim ..... mereka itu biarpun kuangkat menjadi anakanakku,
sebetulnya mereka itu akan menjadi bini-bini
mudaku. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa kau cinta
kepada mereka. Tidak apa, aku mengalah. Dua orang gadis
cantik itu biar kuberikan kepadamu. Mari kau ikut dengan
aku, Tiang Bu. dan dua orang gadis itu, Cui Lin dan Cui
Kim, biar melayanimu untuk selamanya atau selama kau
masih suka kepada mereka ....... “
“Tutup mulut dan pergilah!" Tiang Bu membentak marah.
mukanya berubah marah sekali. Ucapan yang keluar dari
mulut orang ini benar-benar membuat ia merasa muak
perutnya. “Aku tidak percaya bahwa aku anakmu. Aku tidak
sudi punya ayah seperti engkau !"
Kong Ji tersenyum getir. "Kau sudah terlalu lama hidup
di antara orang-orang yang memusuhiku, sehingga tertanam
kebencian terhadapku di dalam dadamu. Baik juga kau
merasai hukuman di sini agar dapat merubah pendirianmu
yang keliru itu. Mana ada anak membenci bapaknya ? Kalau
aku mempunyai anak lain, tentu sekali pukul aku dapat
bikin mampus kau. Akan tetapi anakku hanya kau seorang
sedapat mungkin hendak kuperbaiki watakmu. Biar kau
bertapa di sini sampai kau mengakui aku sebagai ayahmu,
ikut dengan aku sebagai anak berbakti. hidup mulia dan
bahagia di Ur-liok-lim seperti seorang pangeran. Sebelum
kau mau mengaku, jangan harap kau bisa keluar dari sini.”
Setelah berkata demikian, Kong Ji melompat lagi dan ke luar
diri jurang itu. Ketika Tiang Bu yang mengikuti gerakangerakannya
melihat Kong Ji sudah keluar dari jurang, ia
melihat belasan orang berpakaian serdadu menjaga di
pinggir jurang siap untuk menghalangi ia keluar ! Memang
mudah saja kalau orang mau mencegah ia keluar. Dengan
melemparkan batu ke bawah, biarpun kepandaiannya tinggi
takkan mungkin ia dapat keluar dari jurang yang terjal itu.
3
Akan tetapi Tiang Bu tidak kehilangan akal. Ia mulai
menyelidiki keadaan lereng jurang yang seperti anak gunung
tingginya itu. Akhirnya penyelidikannya berhasil. Di antara
batu-batu karang yang terjal. ia melihat sebuah gua yang
lebarnya hanya paling banyak satu meter segi empat. Ia
merayap dan dengan susah payah akhirnya ia dapat masuk
dan duduk di dalam gua melepaskan kelelahannya. Kini
mendapatkan tempat terlindung dari hujan dan angin atau
panas matahari.
Diraba-rabanya saku bajunya. Bagus, kitab-kitabnya dari
Omei-san ternyata masih ada berikut ohat-obatnya. Agaknya
dua orang gadis tidak berani mengambil kitab-kitabnya
selama mereka masih menjadi “kekasihnya”. Hanya peti kecil
berisi katak itu saja yang terampas. Juga kiranya dalam
keadaan tergesa-gesa, Cui Kong tidak memeriksa isi
sakunya. kalau kitab-kitab Omei-san itu sampai terjatuh ke
dalam tangan Cui Kong, celaka !
Setelah lelahnya berkurang, Tiang Bu merayap makin
dalam. Ternyata gua kecil itu adalah sebuah terowongan. Ia
merayap terus di dalam gelap membawa setangkai kayu
untuk dipakai melindungi diri, kalau-kalau di depan ada
sesuatu yang menyerangnya. Terowongan itu panjang dan
berliku-liku, sukar diukur berapa panjangnya, hanya Tiang
Bu merayap sudah cukup lama ketika ia tiba di sebuah jalan
buntu. Terowongan itu berhenti di tepi sebuah sumur !
Sumur ini hanya dapat ia ketahui atau duga-duga dengan
meraba-raba saja karena keadaan gelap Melihat jari tangan
di depan mata sendiri saja tidak kelihatan. Tiang Bu makin
tertarik dia ingin tahu.
Dengan pengerahan tenaga yang masih ada padanya. ia
mencabut batu kecil dari dinding karang dan melempar ke
bawah. Tidak ada air di bawah, juga tidak terlalu dalam.
Hanya lima kali ia menghitung, batu kecil itu sudah
mengenai dasar sumur berdebuk seperti jatuh di atas tanah
yang lunak. Tiang Bu berlaku nekad, mengerahkan
4
sinkangnya dan merosot turun. Ia meluncur ke bawah dan
tepat seperti sangkaannya. Sumur itu tidak dalam dan
dasarnya bukan batu karang melainkan tanah lempung.
Ketika ia meraba-raba di sebelah kiri kembali ada lubang,
bentuknya bundar, bergaris tengah satu meter. Dan yang
membuat hati Tiang Bu berdebar tegang, adalah sinar terang
yang samar samar ia lihat di ujung sana ketika ia melongok
ke dalam terowongan baru ini.
Akan tetapi hanya kelihatan samar samar saja. Cepat ia
merayap lagi melalui lubang ini. Ia tertipu sinar samarsamar
yang dilihatnya itu cahaya yang datang dari jauh,
karena kembali ia tiba di tikungan. Terowongan ini tidak saja
berliku-liku akan tetapi juga naik turun dan dua kali
panjang terowongan pertama. Tanpa mengenal lelah Tiang
Bu merayap terus. Keadaan terowongan makin lama makin
terang dan akhirnya, dengan napas terengab-engah, tibalah
ia di sebuah ruangan dalam tanah yang lebar dan lega
seperti sebuah kamar. Di atas terdapat lubang-lubang di
antara batu-batu karang dari mana sinar matahari masuk.
Dan di bawah terdapat lubang merupakan sungai-sungai
kecil di mana air hujan yang masuk dari alas terus mengalir
ke bawah, tidak sampai membanjiri ruangan.
Melihat bentuk dinding ruangan, tak salah lagi bahwa
tempat ini adalah buatan alam dan sama sekali belum
pernah dijamah tangan manusia atau diinjak kaki manusia.
Ketika Tiang Bu merayap naik melalui dinding sebelah kiri
yang agak mendoyong, melalui sebuah lubang yang cukup
besar ia keluar atas ruangan itu dan ternyata tiba di sebuah
lereng gunung yang penuh dengan tetumbuhan segar.
Bukan main girangnya dan diam-diam ia menertawai Liok
Kong Ji yang menyuruh orang menjaga di pinggir jurang.
Di dalam ruangan itu Tiang Bu menggembleng dirinya
lagi. Untuk mengembalikan sinkang yang sudah
meninggalkan tubuhnya selama ia bermain gila dengan dua
orang gadis cabul itu, ia harus melatih diri keras-keras dan
5
tanpa mengenal lelah. Siang malam bersamadhi mengatur
napas, dan melatih ilmu dari kitab-kitabnya, Seng.thian-to,
Thian te-Shi-keng, dan Kiang-liong-kun-hwat. Ia melatih diri
sungguh-sungguh dan dengan tekun sekali, bahkan
menghafal semua isinya di luar kepala. Ia ingin
memindahkan semua kitab ke dalam kepala kemudian
hendak membakar kitab-kitab itu agar jangan sampai
terjatuh ke tangan orang-orang jahat.
Oleh karena belajar seoring diri dengan tekun kadangkadang
mendatangkan keisengan, dan pula membalik-balik
lembaran buku untuk mempelajari tiap jurus merupakan hal
yang melelahkan juga, tanpa disengaja Tiang Bu
menggunakan jari telunjuknya untuk melukiskan tiap
gerakan di atas dinding ruangan batu itu. Setelah melatih
diri dengan amat tekun dan prihatin, pemuda ini mendapat
kembali kekuatannya, bahkan setelah ilmu Seng-thian-to
dan Thian-te Si-keng ia pelajari sampai tamat tenaga
lweekangnya meningkat cepat dan sinkang di tubuhnya
bertumbuh cepat.
Ia memerlukan waktu setahun lebih untuk menghafal
tiga kitab itu, lalu dibakarnya sampai menjadi abu semua.
Akan tetapi sebagai penggantinya di dinding gua itu terdapat
lukisan-lukisan tiap jurus dari ilmu silat tinggi dan luar
biasa. Thian-te Si keng dan Seng-thian-to sama sekali tidak
mengajarkan ilmu silat. Akan tetapi di dalam tiap sajak itu
bersembunyi gerakan yang harus dimengerti sendiri. Tiang
Bu yang selain memiliki dasar ilmu silat tinggi dari Omeisan,
juga memiliki bakat dan kecerdikan luar biasa, dapat
menangkap maksud-maksud tersembunyi dalam sajak ini
dan dapat menciptakan gerakan silat jurus-jurus ilmu silat
yang tiada bandingannya di dunia ini. Girangnya bukan
main karena baru sekarang terbuka matanya dan ia betulbetul
dapat mengisap sari pelajaran dari dua macam kitab
itu.
6
Inilah sebabnya mengapa ia terlambat datang di kota raja
dan ketika ia akhirnya meninggalkan gua itu pergi ke kota
raja, ia melihat kota raja sudah diserbu oleh balatentara
Mongol. Dengan amat kaget pemuda ini ikut menyerbu
masuk, morobohkan setiap orang serdadu Mongol yang
hendak menghalanginya. Cepat ia menyelidiki dan akhirnya
ia berhasil menemukan istana Pangeran Wanyen Ci Lun.
Akan tetapi kedatangannya terlambat, pangeran itu bersania
isterinya sudah tewas. Namun masih belum terlambat bagi
Tiang Bu untuk bertemu dengan ibunya, Gak Soan Li, dan
mendengar keterangan yang menusuk hatinya dari Pangeran
Wanyen Ci Lun bahwa memang betul dia adalah anak dari
Liok Kong Ji.
Dewikianlah perjalanan Tiang Bu semenjak dia
terjerumus ke dalam jurang sampai ia muncul di kota raja
yang sedang geger itu. Kemudian, di antara asap dan api
yang membakar kota raja dan di artara pertempuranpertempuran
yang masih juga belum padam, berkelebat
bayangan seorang pemuda yang memondong tubuh seorang
wanita yang sudah mati. Gerakan pemuda ini luar biasa
cepatnya dan sebentar saja ia sudah keluar dari kota raja
yang menjadi neraka itu, terus lari ke selatan sambil
memondong mayat itu. Pemuda ini adalah Tiang Bu yang
memondong jenazah ibunya, Gak Soan Li.
Sementara itu, di lain bagian dari lingkungan istana, Wan
Sun dan Wan Bi Li mengamuk dikoroyok oleh banyak
panglima Mongol, Wan Sun menggerakkan pedangnya
dengan ganas, akan tetapi, lebih ganas lagi adalah Wan Bi Li
yang tangan kanan mainkan pedang tangan kiri mainkan
seekor ular ! Sudah banyak pengeroyok yang roboh binasa
oleh dua orang muda murid Ang-jiu Mo-li ini.
Sementara itu, tidak jauh dari mereka Kwan Kok Sun
dan beberapa orang panglima lain mengamuk secara nekad
dan mati-matian. Lawan juga amat kuat karena di antara
mereka terdapat Pak-kek Sam-kui yang berkepandaian
7
tinggi. Kwan Kok Sun sudah terdesak hebat dan terluka
pundaknya, sedangkan Bi Li dan Wan Sun yang
kepandaiannya lebih tinggi juga tak dapat membantunya
karena dua orang muda ini sendiri terkurung oleh musuh
yang banyak jumlahnya.
Beberapa jurus kemudian, setelah dengan nekad
merohohkan dua orang pengeroyok dengan pululan Hek-tokciang
yang lihai. Kwan Kok Sun juga roboh terkena pukulan
tangan Giam-lo-ong Ci Kui sehingga ia terbanting pingsan
dengan kepala luka-luka berat.
“Semua minggir, biarkan kami bertiga menangkap dua
orang muda liar ini,” seru Sin-sai-kong Ang Louw yang
merasa penasaran melihat orang-otangnya tidak mampu
merobohkan Bi Li dan Wan Sun. Tentu saja perintah ini
diterima dengan girang oleh para panglima Mongol. Mereka
segera mengundurkan diri dan diam-diam pergi dari situ
untuk meIakukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan
menggembirakan, yaitu merampok istana. Tak lama
kemudian tinggal Pak-kek Sam-kui yang bertempur melawan
Bi Li dan Wan Sun.
Pak-kek Sam-kui adalah tokoh-tokoh dari utara yang
memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi menghadapi dua
orang muda ini, mereka tidak dapat mengalahkan dengan
mudah. Bi Li dan Wan Sun adalah murtd-murid; Ang-jiu Moli
dan Wan Sun sudah mewarisi ilmu dari Omei-san pula,
yaitu Kwan-im cam-mo biarpun belum sempurna betul,
demikian pula Bi Li. Bahkan akhir-akhir ini Bi Li mewarisi
ilmu-ilmu yang lihai dari Kwan Kok Sun.
Maka dapat dibayangkan betapa hebat dan serunya
pertempuran itu yang hanya disaksikan oleh mayat-mayat
bergelimpangan di sekitar tempat itu. Malam telah mulai
surut dan fajar sudah menjelang datang. Perlawanan pihak
Kin sudah mulai habis, sebagian besar terbunuh, ada yang
tertawan, dan hanya sebagian kecil saja berhasil melarikan
diri menerobos pintu belakang.
8
Akhirnya Bi Li dan Wan Sun terdesak juga oleh Pak-kek
Sam-kui yang lihai. Kalau hanya seorang lawan seorang,
kiranya dua orang muda ini takkan kalah. Akan tetapi
sekarang mereka berdua menghadapi tiga orang lawan yang
sudah ada kerja sama yang amat kompak, maka perlahan
akan tetapi tentu mereka berdua terdesak mundur dan
terkurung rapat.
"Pak-kek Sam kui jangan menghina orang-orang muda!"
terdengar seruan keras dan sinar pedang yang gemilang
menyambar, membuat tiga orang itu kaget sekali. Ketika Ci
Kui melihat bahwa yang datang itu adalah Wan Sin Hong
yang memegang Pak-kek-sin-kiam, ia menjadi gentar.
Apalagi ketika menengok ke sana ke mari tidak melihat
seorangpun kawan kecuali mereka bertiga. Sin Hong tidak
membuang banyak waktu dan menggerakkan pedang
menyerang Pak-kek Sam-kui.
Sementara itu ketika melihat bahwa yang datang adalah
Wan Sin Hong yang gagah perkasa, Wan Sun menjadi lega
dan segera mengajak Bi Li melihat keadaan Kwan Kok Sun
yang sudah menggeletak mandi darah.
Wan Sun berlutut dan melihat Kwan Kok Sun sudah
empas empis napasnya dan matanya memandang ke arah Bi
Li penuh peraaaan, cepat bertanya,
“Suhu, harap suhu suka membuka rahasia Li-moi…….!”
Sebagai seorang tua, Kwan Kok Sun tentu saja menjadi
maklum dan gerak-gerik Wan Sun selama ini. Pemuda ini
mencinta puterinya, tak salah lagi. Dan sekarang tentu Wan
Sun ingin Bi Li mendengar bahwa mereka bukan saudara
kandung.
"Bi Li, datanglab dekat. Ayahmu takkan lama lagi ......”
Bi Li mempunyai perasaan sayang yang yang ia mengerti
terhadap ayah angkatnya ini. Mungkin karena sikap Kwan
Kok Sun amat sayang kepadanya maka gadis ini
membalasnya.
9
“Gihu, (ayah angkat), mari kutolong kau keluar dari
tempat ini dan berobat, kau akan sembuh…….,” katanya
terharu.
"Bi Li, anakku sayang ........” Kwan Kok-Sun memegang
tangan anaknya, "dengar baik-baik. Aku tertuka berat,
hanya untuk meninggalkan pesan ini aku menguatkan diri.
Kau..... kau adalah anakku yang sesungguhnya....... Ibumu
telah meninggal dunia ...... ketika kau masih kecil sekali,
aku ....... aku menitipkan kau pada Pangeran Wanyen Ci
Lun. Mereka itu adalah orang tua pungut, akulah
sebenarnya ayahmu…….”
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bi Li, kaget dan
kecewa. Ia tadinya mengira senang puteri bangsawan, tidak
tahunya dia adalah anak Kwan Kok Sun yang ia tahu
dahulunya adalah orang jahat. Dengan muka pucat ia
memandang ayahnya yang makin pucat dan lemah dan
dengan mengeluarkan jerit tertahan Kwan Kok Sun
menghembuskan nafas terakhir dengan tangan Bi Li masih
dalam genggamannya.
Bi Li merenggutkan tangannya, berdiri dengan kaki
gametar, lalu ...... ia lari cepat pergi dari situ!
“Li-moi ....... kau mau ke mana…..??”
Wan Sun mengejar, akan tetapi enam orang panglima
Mongol yang kebetulan lewat di situ segera menyerangnya
dengan hebat sehingga terpaksa ia melawan. Sementara itu,
Bi Li sudah lenyap dari pandangan mata.
Enam orang panglima Mongol ini memiliki kepandaian
yang lumayan juga sehingga dengan susah payah setelah
bertempur lama baru Wan Sun dapat merobohkan seorang
lawan. Akan tetapi hampir saja pahanya kesetempet golok,
baiknya pada saat itu muncul Wan Sin Hong lagi. Ternyata
bahwa Pak-kek Sam-kui tidak kuat melawan Sin Hong dan
larilah mereka sambil membawa luka pada pangkal lengan
10
Giam-lo-ong Ci Kui. Sin Hong juga tidak mengejar karena ia
melihat Wan Sun dikeroyok dan cepat ia membantunya.
Tiga orang pengeroyok roboh pula oleh Sin Hong. Yang
lain cepat lari.
"Wan Sun. mari kita pergi. Di mann Bi Li?”
"Dia sudah lari, entah ke mana. ...... ." jawab Wan Sun
sedih.
Dari luar terdengar kaki banyak orang mendatangi.
"Wan Sun. cepat pergi!" Sin Hong menyambar lengan
orang dan di lain saat ia telah membawa pemuda itu
melompat ke atas genteng. Wan Sun kagum sekali melihat
kehebatan kepandaian pamannya ini, maka tanpa banyak
cakap lagi iapun mengikuti Sin Hong melarikan diri. Di atas
genteng tidak terdapat banyak rintangan karena para
serdadu Mongol sedang senang-senang merampoki istana di
bawah. Juga di pintu gerbang sebelah barat tidak terdapat
banyak rintangan sehingga Sin Hong dan Wan Sun dapat
melarikan diri dengan mudah.
Karena tidak tahu ke mana perginya Bi Li dan Sin Hong
berjanji ketak akan bantu mencari, akhirnya dengan hati
berat dan sedih karena berita tentang kematian ayah
burdanya, pemuda ini ikut dengan Sin Hong ke Kim-bun to.
Memang Sin Hong tadinya datang ke istanu Pangeran
Wanyen Ci Lun, akan tetapi ia terlambat. Yang dilihatnya
hanyalah jenazah pangeran itu saja, sedangkan Gak Soan Li
tidak melihat ke mana perginya. Namun, kalau Wanyen Ci
Lun tewas, kecil sekali kemungkinannya Soan Li akan
selamat. Ia tadinya hendak membawa pergi jenazah Wanyen
Ci Lun, akan tetapi kemudian is teringat akan kata-kata
pangeran itu bahwa mati hidup ia akan tinggal di kota raja.
Akhhirnya ia meletakkan jenazah itu di atas bangku dan
menutupinya dengan sehelai kain hijau yang dirobeknya dari
dekat pintu besar. Kemudian ia pergi. Kepada Wan Sun ia
menceritakan bahwa Pangeran Wnnyen Ci Lun sudah gugur
11
sebagai orang gagah dan ibunya entah pergi ke mana, akan
tetapi sedikit harapan selamat melihat keadaan di istana
yang sudah rusak itu.
Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Wan Sun.
Ayahnya meninggal dunia tanpa ada yang dapat merawat
jenazahnya. Ibunya lenyap tidak ketahuab bagaimana
nasibnya, Bi Li juga entah ke mana. Di sepanjang perjalanan
ke Kim-bun to. Wan Sun hanya menundukkan kepala saja
mendengarkan kata hiburan Wan Sin Hong. Kadang-kadang
ia menarik napas panjang dan kadang-kadang jarang sekali
ia mengusap air mata yang jatuh berderai di atas pipinya.
-oo(mch)oo-
Di mana-mana pergerakan Jengis Khan ke selatan
menemui perlawanan rakyat yang gigih. Orang-orang gagah
di seluruh penjuru bangkit memimpin rakyat melakukan
perang gerilya. Karena orang-orang seperti Liok Kong Ji dan
lain-lain meninggalkannya dan merasa bosan menghadapi
rong-rongan rakyat, perhatian Jengis Khan beralih ke barat.
Ia menarik semua pasukannya, mengumpulkan kekuatan
dan bagaikan gelombang banjir yang dahsyat dan tak
terbendung bala tentara Mongol mulai menyerbu ke barat.
Mula-mula Sin-kiang diserbu, lalu terus menaklukkan Iran,
Afghanistan, bahkan dari Iran Utara mereka menyerbi Rusia
Selatan melalui Peguuungan Kaukasia. Puluhan laksa orang
dibunuh, kota-kota dibakar, dihancurkan oleh bala tentara
yang maha hebat ini.
Sementara itu, kerajaan Kin yang tiba-tiba ditinggal pergi
musuhnya ini mulai lagi membangun kota yang sudah
rusak. Akan tetapi semangat mereka sudah patah-patah dan
Karajaan Kin sudah tidak semakur dahulu. Apalagi karena
orang-orang besar seperti Pangeran Wanyen Ci Lun sudah
tidak ada lagi.
12
Betapapun juga, setelah tidak ada gangguan dari bala
tentara Mongol keadaan di dalam negeri menjadi aman
kembali. Orang berdagang seperti biasa dan scbentar saja
keramaian menjadi pulih kembali. Orang sudah hampir
melupakan perang kalau saja di sana sini tidak nampak
sisa-sisa tumpukan puing, tanda bahwa belum lama ini
perang mengganas.
Pada suatu pagi yang cerah di kota Si-yang yang terletak
di perbatasan Propinsi Shensi dan Honan, di sebelah selatan
Sungai Kuning yang membelok dari utara ke timur. Kota Siyang
adalah kota ramai, karena adanya Sungai Kuning
membuat lalu lintas perdagangan hidup. Apa lagi di situ
adalah kota di perbatasan antara dua propinsi, mika orangorang
dari ke dua wilayah pada datang untuk berdagang.
membuat kota itu makin lama menjadi makin besar penuh
dengan hotel-hotel dan restoran-retoran untuk melayani
para tamu pedagang dari luar kota.
Semenjak orang-orang Mongol menyerbu dari utara dan
orang-orang gagah dari hutan dan gunung bermunculan,
orang-orang tidak merasa heran dan aneh lagi melihat
orang-orang kang-ouw yang ganjil, baik roman muka,
pakaian maupun sikap mereka. Akan tetapi apa yang dilihat
orang pada pagi hari itu di dalam sebuab restoran terbesar
di kota Si-yang, benar-benar membuat para tamu restoran
lari cerai. berai dan para pelayan restoran berdiri melongo
dengan muka pucat dan kaki gametar ketakutan.
Mula-mula orang ini tidak mendatangkan rasa takut
sama sekali bahkan banyak mata diarahkan kepadanya
dengan kagum dan penuh gairah. Dia seorang gadis muda
yang cantik sekali, cantik manis wajahnya, dengan bentuk
tubuh yang indah tercetak oleh pakaiannya yang ketat.
Lekuk lengkung tubuh yang menunjukkan kedewasaan,
bagaikan setangkai bunga cilan yang baru mulai mekar.
Namun tak seorangpun berani memperlihatkan sikap atau
mengeluarkan kata-kata sembrono oleh karena sikap si
13
cantik ini amat gagcah, apalagi gagang pedang yang
tersembul di balik bajunya membisikkan bahwa gadis jelita
ini-pun adalah seorang gadis kang-ouw yang gagah perkasa
dan berbahaya. Mula-mula gadis ini hanya duduk dan minta
pesanan arak dan bakmi serta beberapa macam kueh basah.
Akan tetapi, ketika arak dihidangkan dan ia mulai
minum, sedangkan semua mata di kerlingkan ke arahnya,
tiba-tiba muncul ular-ular berbisa yang galak dan
mengerikan, keluar merayap dari dalam baju gadis itu.
Makin lama makin banyak ular ke luar, ada yang merayap
dan mengalungi leher si cantik, ada yang membelit-belit
kaki, ada yang membelit tangan dan ular-ular itu menjilatjilat
arak dari cawan yang dipegang olehnya! Ular-ular itu
biarpun nampat jinak, akan tetapi maras mendesis-desis
dan kelihatan galak sekali ketika melihat orang lain.
Mclihat ini, para tamu merasa ngeri dan larilah mereka
keluar dan restoran itu, berbisik pada orang-orang yang
berada di luar restoran. "Ada siluman ular ..... !”
Para pelayan tidak berani mendekat, karena ular-ular itu
nampaknya siap menyerang siapa saja yang mendekati gadis
itu dan semua orang dapat melihat bahwa ular-ular itu
adalah binatang-binatang berbisa yang paling berbahaya.
Pada saat itu, dari luar restoran terdengar suara laki-laki
yang tenang dan lembut, "Aah, kalian mengingau. Mana ada
siluman muncul di pagi hari?” Tak lama kemudian dari luar
masuklah seorang pemuda dengan langkah tenang. Begitu ia
memandang dan melihat gadis itu, ia mengeluarkan seruan
girang,
"Aah, kiranya kau, nona Wanyen ......!”
Pemuda itu bukan lain adalah Tiang Bu. Tadi ketika ia
sedang berjalan, ia mendengar bisikan-bisikan mereka yang
lari keluar dari restoran. Tentu saja ia merasa tertarik sekali
mendengar ada "siluman ular” di dalam restoran, maka
cepat ia memasuki restoran itu dan melihat bahwa ying
14
disebut “siluman ular” itu bukan lain adalah Wan Bi Li.
Maka dengan girang ia menegur dan dalam
kesederhanaannya tanpa banyak sungkan lagi Tiang Bu lalu
menyeret sebuah bangku duduk menghadapi nona itu.
Melihat pemuda ini duduk menghadapi nona aneh itu dan
sama sekali tidak kelihatan takut akan empat ekor ular yang
kini semua mengulurkan kepala kepadanya dengan garang,
para tamu yang tadinya masih ragu-ragu sekarang pergi
semua, Bahkan para pelayan juga menjauhkan diri, berdiri
berkelompok sambil berbisik-bisik.
Dengan tenang Bi Li memandang kepada Tiang Bu,
cawan arak masih di tangan kirinya, dan ia berkata dingin.
"Aku bukan nona Wanyen!”
"Aah, harap jangan main-main nona Wan-yen. Aku
mengenalmu, bahkan dulu di Omni-san kita sudah pernah
bertemu. Aku Tiang Bu dan....... dan sesungguhnya diantara
kita masih ada tali persaudaraan. Kita ini masih saudara tiri
nona satu ibu lain ayah."
"Sudah kukatakan, aku bukan keluarga Winyen. Ayahku
Kwan Kok Sun yang berjuIuk Tee-tok (Racun Bumi),
kongkongku yang berjuluk See-thian Tok-ong ( Raja Racun
dari barat ). Apa kau tidak lekas lari minggir ketakutan
seperti orang-orang itu ?" Bi Li bersikap angker, hendak
mematut diri dengan sebutan-sebutan menyeramkan dari
ayah dan kongkongnya itu.
Biarpun Tiang Bu merasa heran mendengar ini namun ia
tidak takut. Ia bahkan tersenyum. "Bctulkah itu?" tanyanya
ragu-ragu.
"Siapa membohong padamu? Wanyen Ci Lun dan
isterinya bukan orang tuaku, hanya semenjak kccil ayah
menitipkan aku kepada mereka…….. eh, kau ini orang
apakah yang mengajakku bercakap-cakap? Setan, pergi kau
!”
15
Tiang Bu tersenyum, nampak girang dan geli melihat
sikap nona ini. Nona yang cantik jelita, tak pernah ia
bertemu dengan yang secantik ini, akan tetapi yang
berusaha sekerasnya supaya kelihatan menyeramkan.
"Kalau kita bukan saudara, lebih baik lagi, nona Kwan. Kau
memang dari keluarga yang cukup menakutkan. Akan tetapi
jangan kira bahwa akupun dari keluarga biasa saja. Siapa
yang tidak mengenal ayahku, Liok Kong Ji yang dijuluki
manusia manusia iblis karena jahat, keji dan kejamnya ?
Akulah puteranya! Nah, bukankah kita sama-sama
keturunan orang-orang jahat belaka?”
Akan tetapi, mendengar kelakar ini, Bi Li tidak tertawa.
bahkan membanting cawan araknya di atas mejat sampai
ambles ke dalam lalu melompat berdiri dan pedangnya
sudah berada di tangan. Empat ekor ular itu otomatis sudah
melingkar di kedua tangannya, siap untuk membantunya.
Nona ini benar-benar kelihatan menyeramkan sekarang,
dengan senjata pedang dan ular-ularnya itu. Bau semerbak
harum yang keluar dari tubuhnya makin keras menyengat
hidung.
Akan tetapi Tiang Bu tetap duduk memeluk lutut,
menggoyang-goyangkan kaki dan tersenyum, seakan-akan
melihat pemandangan yang lucu sekali.
“Bagus, anak dari bangsat keji Liok Kong Ji? Dengar aku
hendak membunuh keparat Liok Kong Ji dan kau ini
anaknya, boleh sekarang juga membela ayahmu !"
Senyum Tiang Bu melebar. "Baik sekali kalau begitu, kita
setujuan. Akupun hendak membunuhnya kalau bertemu
dengan Liok Kong Ji."
Bi Li kelihatan kaget dan terheran-heran. "Kau....... ?
Kalau kau anaknya....... kau hendak membunuh ayahmu
sendiri ...... ?” ia nampak tidak percaya dan pedannya masih
siap di tangan.
16
“Biar dia ayahku namun aku tak shdi mengakunya. Dia
telah berdosa besar kepada ibuku Gak Soan Li yang menjadi
Nyonya Wanyen Ci Lun. Aku sudah bersumpab di depan
jenazah ibuku untuk membunuhnya."
Padang itu menurun, lalu kembali ke tempat di punggung
gadis itu. Bi Li duduk lagi, kini pandang matanya kepada
Tiang Bu agak ramah. Garis garis duka membayang di
jidatnya.
"Ibu ...... eh, Nyonya Wanyen sudah....... sudah tewas
.......?” tanyanya, jelas sekali ia menahan isak tangisnya.
Tiang Bu menelan ludah menekan keharuan hati. "Betul,
juga Pangeran Wanyen Ci Lun, mereka tewas sebagai orangorang
gagah. Aku hanya sempat merawat dan mengubur
jenazah ibuku, terpaksa meninggalkan jenazah Pangetan
Wanyen di istananya. Nona Wanyen....... oh, nonae
Kwan....... “
"Namaku Bi Li !”
"Baiklah, Bi Li, mana kakakmu, Wan Sun? Dia itulah
saudara tiriku yang satu-satunya, aku ingin sekali bertemu
dengan saudaraku itu."
"Entahlah, aku pergi meninggaIkannya. Dia bukan
kakakku lagi, kami adalah orang lain yang secara kebetulan
saja sejak kecil mengaku saudara kandung. Aku kini seorang
yatim piatu sebatang kara di dunia ini, hanya dengan ularularku
yang setia.”
“Sama dengan aku. Biarpun ayahku, masih hidup, aku
sudah menganggapnya tidak ada. Akupun yattm piatu
seperti kau. Bi Li, kau sekarang hendak ke manakah ?”
"Mencari Liok Kong Ji untuk kubunuh, karena dia sudah
terlalu banyak membikin susah orang-orang yang
kusayang.”
“Kau tahu ke mana harus mencarinya?”
"Ke mana saja. Biar ke neraka sekalipun akan kususul.”
17
"Tidak usah bergitu jauh. Aku tahu tempat sembunyinya,
dan akupun hendak ke sana. Mau kau ikut? Dia bukan
orang sembarangan, kaki tangannya banyak, kedudukannya
amat kuat. Kau bergerak seorang diri amat berbahaya, kalau
kita menyerbu bersama, baru ada harapan. Bagaimana?"
“Di mina tempatnya ?”
“Di tempat berbahaya yang dinamai Un-tiok-lim, tempat
yang penuh rahasia dan kabarnya tak seorangpun,
bagaimana gagahnya mampu masuk ke sana. Di sana Liok
Kong Ji tinggal bersama kaki tangannya. Bagaimana kau
suka?”
”Boleh sekali ! Kau orang baik, Tiang Bu."
Pemuda itu tertawa girang. Gadis ini benar-benar
berwatak polos dan jujur, dan ini, menggirangkan hatinya,
sesungguhnya baru sekarang ia bertemu dengan gadis yang
menarik hati dan menyenangkan hatinya, di samping Ceng
Ceng dan Pek Lian.
"Kalau begitu, sesudah kita menjadi sahabat, mengapa
kau tidak menawarkan minum?” Bi Li tersenyum dan hati
Tiang Bu berdebar keras. Hebat sekali. Bukan main
manisnya gadis ini kalau tersenyum, pikirnya. Kalah Ceng
Ceng.
"Agaknya watak nenek moyangku yang buruk sudah
menurun padaku. Duduklah di sini menghadapi meja dan
mari minum arak bersamaku, Tiang Bu."
"Terima kasih, Bi Li. Heei, pelayan, tambah araknya
seguci lagi. Dan bakmi semangkok besar, bakpauw sepiring.
Cepat....... !!"
"Ba ...... baik, siauwya .......!” Seorang pelayan cepat
mengerjakan pesanan ini, akan tetapi setelah siap dan
hendak mengantarkan, ia berdiri ketakutan di tempat agak
jauh, memegangi mangkok dan piring itu, tidak berani
mendekat.
18
“Kenapa kau?” tanya Tiang Bu.
"Maaf, siauwya .......maaf, siocia…….. itu……. itu ularular…"
Bi Li tersenyum dan mengeluarkan suara mendesis
perlahan dengan bibirnya yang merah. Cepat sekali empat
ekor ular itu manyelinap dan lenyap ke dalam saku bajunya
setelah mendengar desis perintah ini.
"Nah, mereka sudah sembunyi, takut apa lagi?" kata
Tiang Bu dan pelayan itu dengan masih takut-takut
sekarang berani mendekat untuk menaruh bakmi, arak dan
bakpauw di atas meja. Ia hendak berlaku hormat den
membuka tutup guci menuangkan arak untuk Tiang Bu ke
dalam cawan. Akan tetapi ketika hendak menuangkan arak
untuk Bi Li dan melihat cawan melesak ke dalam meja,
menjadi pucat.
“Tuangkan arak untuk siocia,” kata Tiang Bu sambil
menekan meja dan....... seperti tercabut oleh tangan yang
tidak kelihatan tahu-tahu cawan yang tadinya melesak ke
dalam meja itu mumbul kembali. Melihat ini, pelayan itu
makin kaget dan kagum, di dalam hatinya menduga bahwa
hari ini restorannya betul-betul kedatangan siluman-siluman
yang pandai ilmu sihir ! Setelah menuangkan arak untuk Bi
Li, ia cepat mengundurkan diri dengan sikap hormat. Akan
tetapi begitu ia masuk ke dalam ia cepat lari ke luar dari
pintu belakang.
Di kota Si-yang terdapat tikoan the Thio. Dia adalah
tikoan baru. yang diangkat semenjak perang selesai. Tikoan
she Thio ini sebetulnya adalah bekas guru silat yang
sombong. Setelah perang selesai, entah bagaimana Thiokauwsu
ini menjadi kaya raya. Padahal menurut
pengakuannya sendiri, ketika terjadi penyerbuan orangorang
Mongol ia bcrjuang di kota raja dan berjasa besar
dalam "memukul mundur" bala tentara Mongol! Dia kembali
ke Si-yang dengan harta benda banyak dan membual akan
jasa-jasanya. Dengan alasan jasa-jasa terhadap negara inilah
19
terutama sekali dengan pengaruh sogokan-sogokan yang
secara royal ia sebarkan kepada pembesar. pembesar tinggi,
akhirnya ia berhasil merebut kedudukan pembesar tikoan di
kota Si-yang. Memang sudah lajim di dunia ini, sesudah
perjuangan selesai, cecunguk-cecunguk rendah
bermunculan dan berebut penonjolan jasa-jasa.
Contohnya Thio-kauwsu ini. Ketika perang berkobar dan
orang-orang gagah berjuang untuk membela negara, dia
menyelundup ke kota raja, bukan untuk berjuang melawan
musuh melainkan untuk “berjuang" mengumpulkan harta
yang ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang bangsawan,
bekerja sebagai maling atau rampok. Kemudian, di Si-yang,
ia menonjolkan jasa-jasanya sebagai pejuang dan
menggunakan harta curiannya untuk menyuap dan
menyogok sana-sini sehingga akhirnya ia dapat menduduki
tempat sebagai pembesar. Dapat dibayangkan betapa
bobroknya keadaan masyarakat dengan "pembesarpembesar"
macam ini sebagai orang-orang berkuasa yang
"memimpin” rakyat !
Cara Thio-kauwsu, atau sekarang disebut Thio-tikoan,
mempertahankan dan membela kedudukannya adalah cata
lama yaitu mengumpulkan tukang-tukang pukul yang
merupakan pasukan istimewa, pada lahirnya disebut
pasukan pengawal keselamatan tikoan, pada hal sebetulnya
adalah pasukan yang harus mempertahankan isi gudang
kekayaannya dan mempertahankan pangkatnya. Selain ini,
Thio-tikoan juga berusaha mengambil hati rakyat. Dengan
jalan melidungi rakyat dari gangguan orang jahat. Tentu saja
sebutan rakyat dalam mata tikoan ini berbeda dengan rakyat
dalam pandangan mata kita.
Bukan rakyat kalau orang itu tidak dapat memberi "apaapa"
kepadanya ! Yang dimaksudkan rakyat olehnya, rakyat
yang perlu dilindungi dan dibela, adalah orang yang dapat
memberi "apa-apa" untuk menambah penuh isi gedungnya.
Petani-petani miskin ? Ooo, mereka itu bukan rakyat,
20
melainkan tenaga-tenaga yang harus tunduk kepada
“rakyat”, pemilik tanah seperti kerbau-kerbau bermuka
manusia. Si jembel? Apalagi. Mereka itu bukan rakyat
melainkan penjahat penjahat yang perlu diawasi.
Restoran-restoran pada waktu menghasilkan untung
besar, maka menjadi "langganan" baik Thio-tikoan dan
terlindung. Maka ketika pelayan itu dengan terengah
melaporkan bahwa restorannya didatangi dua "siluman"
aneh yang mencurigakan. Thio-tikoan lalu memberi perintah
kepada serombongan tukang pukulnya untuk
"membereskan" perkara ini.
Demikianlah, ketika Tiang Bu dan Bi Li sedang enakenak
makan bakmi dan bakpauw sambil minum arak, tibatiba
serombongan orang terdiri dari tujuh orang yang
kelihatan kuat-kuat dan galak memasuki restoran itu.
Tadinya Tiang Bu dan Bi Li tidak ambil perduli, akan tetapi
ketika melihat betapa mata ketujuh orang itu diarahkan
kepada mereka, Bi Li berkata nyaring.
"Kaulihat restoran ini jorok sekali, lalat hijau yang kotor
dibiarkan masuk. Mari kita habiskan arak dan lekas pergi !”
Sambil berkata demikian, Bi Li mengangkat hidungnya yang
kecil mancung dengan sikap menghina.
Tujuh orang tukang pukul itu saling pandang, lalu
pemimpinnya seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan
dengan kedua lengan baju disingsingkan ke atas sehingpa
nampak otot-otot melingkar di sepasang lengannya berkata
kepada pelayan yang kepalanya menongol dari balik daun
pintu di belakang restoran, “Memang cantik jelita, akan
tetapi mana ularnya? Jangan-jangan kau yang khilaf,
bidadari disangka siluman. Ha ha ha !"
Pelayan itu diam saja karena ia takut. Akan tetapi
pemimpin rombongan yang mempunyai tahi lalat di ujung
hidungnya ini, dengan langkah lebar menghampiri Bi Li dan
Tiang Bu, lalu berkata sambil menunjuk hidungnya sendiri.
21
“Nona manis, kau memaki lalat hijau padaku, memang
aku lalat yang ingin sekali hinggap di pipimu yang licin. Ha
ha ha. Kalian tidak tahu, aku adalah Ban-Ek Si Kepalan
Besi, komandan polisi kota ini. Apa kalian masih berani
kurang hormat ?" Ban-Ek SiKepalan Besi itu mengamangkan
tinjunya untuk memperkuat julukannya: “Kepalan Besi"
Tiang Bu yang tidak ingin mencari perkara mendahului
Bi Li yang sudah merah padam pipinya. Pemuda ini
mengedipkan mata kepada gadis lalu menengok kepada Ban
Ek. "Kau datang-datang kok ribut-ribut, mau apa sih?”
Dada Ban Ek hampir meledak saking marahnya.
Biasanya nama besar Ban Ek Si Kepalan Besi sudah cukup
untuk membikin seorang liok-lim bertekuk lutut ketakutan,
atau setidaknya seorang kang ouw bersikap lebih hormat
dan bersahabat. Akan tetapi pemuda yang sederhana ini
sama sekali tidak mengacuhkannya.
"Pemuda tahu ! Kau dan nona ini mencurigakan, harus
kami periksa. Kalian berani makan di restoran, hayo
keluarkan uang pembayarannya di depan kami !"
"Apa kau yang tadi mengaku komandan polisi sudah
merangkap pekerjaan pelayan restoran? Kami tentu akan
bayar makanan, akan tetapi hanya kepada pelayan restoran.
Siapa tahu kalau kau bukan perampok yang Ingin membawa
lari uang kami ?"
“Setan alas kelaparan! Kau berani menghina Ban Ek Si
Kepalan Besi ? Jangan menantang kesabaranku. Hayo lekas
perlihatkan bahwa kau bukan tukang tipu makanan dan
bahwa kau memang betul akan membayar. Kalau tidak,
sebelum makananmu habis, mukamu akan lebih dulu habis
oleh kepalan besiku !”
Kini Tiang Bu yang tedinya sabar menjadi marah. Terlalu
sekali, pikirnya. Biasanya orang-orang yang menamakan
dirinya penjaga-penjaga keamanan kota atau polisi itu
adalah orang-orang terpelajar, orang-orang sopan yang
22
betul-betul menjadi pelindung menjadi penegak keadilan,
menjadi bapak-rakyat yang mendatangkan rasa cinta dan
terima kasih rakyat atas jasa-jasa mereka. Akan tetapi, sikap
yang diperlihatkan oleh Ban Ek Si KepaIan Besi ini sama
sekali bukan sikap penjaga keamanan, bahkan sebaliknya,
sikap pengacau keamanan, bukan sikap bapak atau
palindung rakyat, sebaliknya sikap musuh rakyat yang
harus diganyang habis-habisan.
"Bi Li, keluarkan uangmu dan perlihatkan kepada
monyet ini," katanya menahan marah. Memang Tiang Bu
tidak punya uang. Kalau tadi ia berani masuk dan makan,
adalah karena ia percaya bahwa Bi Li tentu punya uang. Bi
Li semenjak kecil hidup di dalam gedung pangeran, mustahil
kalau gadis itu tidak bawa uang...... “
Memang betul dugaannya. Gadis seperti Br Li puteri
pangeran, tak mungkin berkantong kosong. Biarpun
uangnya yang tadinya berada di saku sudah habis, namun
gadis ini sudah menjual perhiasannya satu demi satu dan
selalu ia membawa uang. Akan tetapi sejak tadi Bi Li sudah
naik darah dan kalau tidak ada Tiang Bu di situ yang selalu
main sabar, tentu dia sudah memberi hajaran kepada orang
yang mengaku diri komandan polisi itu. Sekarang
mendengar kata-kata Tiang Bu, ia sengaja berkata.
"Aku tidak punya uang, yang ada hanya sepasang
kepalan tahu. Kau ini anjing kudisan minta bayaran. Nah,
terimalah kepalan tahu ini untuk kawan kepalan besimu!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh yang tadinya
duduk di kursi itu tahu-tahu telah berkelebat di depan Ban
Ek dan....... “plak! plak !" Dua kali telapak tangan gadis
"mampir" di sepasang pipi Ban Ek. Pukulan itu kelihatannya
tidak keras, juga terasa sendiri oleh Ban Ek sendiri tidak
keras. Maka komandan ini bertolak pinggang dan tertawa
bergelak.
"Ha ha haaaeeekkk !” Suara ketawanya berubah secara
mengagetkan karena tiba-tiba ia muntah darah segar diikuti
23
gigi- giginya yang ternyata sudah copot semua seperti
dicabuti. Ternyata bahwa tamparan Bi Li tadi hanya
kelihatannya saja perlahan, namun dilakukan dengan
pengerahan lwekang tinggi sehingga melukai jantung dan
mencopotkan semua gigi.
Ban Ek terhuyung-huyung. baru terasa mulutnya sakitsakit
dan dadanya sesak. Ia hendak marah-marah, akan
tetapi dadanya menjadi sesak dan di lain saat ia roboh
terlentang dalam keadaan pingsan.
Gegerlah di situ. Enam orang tukang pukul yang lain
menjadi marah dan mencabut golok mereka, akan tetapi
hanya tiga orang yang berani menyerbu. Yang tiga takuttakut
dan hanya berdiri dengan golok di tangan. Begitu
menyerbu tiga orang ini menjerit dan roboh tak bernyawa
lagi. Masing-masing tergigit oleh tiga ekor ular yang tahutahu
sudah menyambar ke luar. dan kini merayap masuk
lagi ke dalam saku baju Bi Li.
"Tahan....... ! Tahan ........ ! Celaka dua belas dia itu
adalah Wanyen Siocia ! Apa mata kalian sudah buta ??” Dari
luar datang Thio-tikoan berlari-lari dan pembesar itu serta
merta menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.
Melihat lagak pembesar yang berlutut itu kemarahan Bi
Li seperti api disiram minyak. Ia sudah memegang seekor
ularnya untuk menyerang pembesar itu, akan tetapi Tiang
Bu yang sejak tadi sudah mengerutkan kening tak senang
melihat gadis itu menyebar maut cepat melangkah maju dan
menendang. Sekali tendang saja tubuh Thio-tikoan
terlempar keluar dari rumah makan, bergulingan seperti
bola.
“Pergilah ! dan jangan mengganggu kami !” Tiang Bu
berseru dengan suara keras berpengaruh.
Thio-tikoan kaget sekali. Di dalam hati ia marah sekali
dan kalau tidak melihat bahwa gadis itu adalah puteri
Pangeran Wanyen Ci Lun yang terkenal di kota raja, tentu ia
24
akan mengerahkan tukang pukulnya untuk mengeroyok dan
mencelakai dua orang muda itu. Apa lagi karena sebagai ahli
silat ia tahu bahwa pemuda yang menendangnya tidak
memiliki kepandaian hanya bertenaga kuat, buktinya ia yang
ditendang sampai mencelat jauh itu tidak menderita luka
dalam tubuh. Tentu saja sebetulnya ia tidak terluka karena
memang Tiang Bu sengaja tidak mau melukainya.
Bi Li sudah mengeluarkan uangnya dan membayar harga
makanan dan minuman kepada pelayan yang berdiri
gemetaran saking takutnya. Kemudian orang muda itu pergi
meninggalkan tumah makan.
“Bi Li, kenapa kau begitu kejam? Memang tukang-tukang
pukul itu menjemukan sekali, akan tetapi kurasa belum
patut dibunuh,” di tengah jalan Tiang Bu mencela gadis itu.
Celaan ini tidak memarahkan Bi Li, bahkan ia tersenyum
merasa dipuji.
"Aku sudah cukup kejam, Tiang Bu? Bagus, aku sudah
takut kalau-kalau kelihatan tarlampau lemah. Ingat, aku
keturunan See-thian Tok ong dan Tee-tok, dua orang yang
sudab amat terkenal sebagai manusia-manusia paling kejam
di dunia ini. Mengapa aku tak boleh kejam dan jahat? Hai,
aku orang yang kejam di dunia ini, patut menjadi cucu See
thian Tok-ong. Awas, Tiang Bu, kalau datang seleraku
kaupun dapat kubunuh!”
Tiang Bu tersenyum pahit. Ia maklum akan gejolak hati
gadis cantik ini. Agaknya kenyataan bahwa ia adalah puteri
Tee-tok Kwan Kok Sun, menghancurkan hatinya dan ia
menjadi nekad, sengaja berlaku jahat dan kejam karena
tentu orang-orang akan memandang rendah dan hina
kepada keturunan See thian Tok ong yang jahat. Dari pada
disangka kejam dan jahat, lebih baik sekalian menjadi orang
jahat dan kejam agar cocok menjadi keturunan orang yang
terkenal paling jahat di dunia. Tentu demikian jalan pikiran
gadis ini. Diam-diam Tiang Bu berpikir dan ketidaksenangan
hatinya menipis, terganti oleh perasaan kasihan yang besar.
25
“Ingat, Bi Li. Bukan kau saja keturunan orang jahat.
Orang tuaku jauh lebih jahat dart pada orang tuamu. Kalau
tidak percaya kau boleh tanya-tanya di dunia kang-ouw,
siapa yang lebih jahat antara Kwan Kok Sun dan Liok Kong
Ji. Tidak ada orang lebih jahat dari Liok Kong Ji yang
disebut manusia iblis. Tapi, apa kaukira kalau keturunan
orang jahat itupun harus jahat pula ? Kau keliru! Pohonnya
boleh bongkrek batangnya, akan tetapi belum tentu kalau
buahnya buruk."
Bi Li tertawa mendengar perumpamaan ini. Memang
pada dasarnya Bi Li seorang gadis lincah gembira mudah
tertawa. Hanya semenlak ia mendengar bahwa dia anak
orang jahat membuat wajahnya diliputi kebengisan
mengerikan.
“Kau bicara seperti kakek-kakek. Nenek-moyang kita
jahat, siapa yang akan percaya kita baik? Nenek moyang kita
jahat, kalau kita lebih jahat dari mereka, bukankah itu
artinya melanjutkan garis hidup mereka? Katanya seorang
anak harus berbakti. kalau kita pura-pura menjadi orang
baik, selain tak seorangpun di dunia ini percaya, juga
saolah-olah kita mengejek dan merendahkan orang tua
sendiri, manyeleweng dari jalan hidup mereka. Aku tidak
sudi menjadi anak orang jahat yang pura-pura baik,
ditertawai oleh orang kang-ouw dan dikutuk oleh arwah
nenek moyang sendiri !”
Hebat, pikir Tiang Bu. Celakalah kalau jalan pikiran
macam ini tidak dirubah. "Bi Li ! Kau keliru! Diumpamakan
ayah kita itu sebatang pobon yang bongkrek dan buruk tiada
guna, akan tetapi kita sebagai buah-buah pohon bongtkrek
itu ternyata manis dan berguna, tentu pohonnya akan
dihargai orang dan tidak dirusak. Sebaliknya, kalau
pohonnya buruk buahnya masam, dua-duanya tiada guna
bukankah pohonnya akan ditebang dan dijadikan umpan
api. Nama buruk orang tua kita hanya dapat dicuci dan
dibersihkan oleh perbuatan baik kita, bukan makin
26
dicemarkan dan dikotori oleh perbuatan jahat kita. Kau tahu
betapa sakit dan hancur hatiku memusuhi ayah sendiri,
akan tetapi biarpun harus meramkan mata, kalau bertemu
dengan Liok Kong Ji yang di luar kehendakku ternyata
adalah ayahku itu, pasti akan kubunuh !”
Bt Li memandang dengan matanya yang indah seperti
mata burung Hong. Kemudian tertawa geli sambil menutupi
mulutnya yang berbibir merah segar dan bergigi putih
seperti mutiara itu. "Kau....... kau orang lucu benar! Kau
bilang mau berbuat baik menebus kedosaan ayah, akan
tetapi kau bermaksud membunuh ayah sendiri! Hei, Tiang
Bu, tidak tahukah kau bahwa tidak ada kejahatan yang
lebih besar dari pada membunuh ayah sendiri? Andaikata
aku dapat membunuh seratus orang tidak berdosa, aku
masih kalah hebat olehmu yang membunuh ayah sendiri !"
Mendengar ucapan ini, Tiang Bu melongo dan untuk
sesaat tak dapat menjawab. Akhirnya ia hanya dapat berkata
lirih, terputus-putus, “Dia jahat ...... dia jahat sekali ..... aku
harus bunuh dia......” Bimbang hatinya mendengar ucapan
Bi Li yang langsung menusuk hatinya itu. Ucapan sederhana
namun mengandung sari filsafat hidup tentang "hauw" atau
berbakti. Sari pelajaran dari Guru Besar Khong Hu Cu
tentang hauw ini banyak disalahgunakan orang. khususnya
para pengikut atau para penganut pelajaran-pelajaran guru
besar yang tiada keduanya di dunia itu. Sebagian besar
orang tua mempergunakan ujar-ujar Khong Hu Cu tentang
hauw ini demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri.
Anak-anak diajar atau bahkan hampir dapat dikatakan
dipaksa untuk berbakti secara membuta, untuk menurut
apa yang dikehendaki oleh orang tua bukan demi
kepentingan anak itu sendiri melainkan demi keuntungan si
orang tua. Anak-anak hendak dijadikan alat-alat untuk
menyenangkan hati orang tua dan agar anak-anak itu
melakukannya dengan senang hati den membuta, maka si
orang tua menyalahgunakan hauw, pelajaran yang suci dari
Guru Besar Khong Hu Cu! Karena penyalah gunakan
27
pelajaran tentang hauw inilah maka di Tiongkok dahulu
banyak terjadi hal-hal yang tidak adil, hanya karena orang
hendak mengikuti pelajaran tentang hauw secara membabi
buta. Mtsalnya, anak harus menikah dengan orang yang tak
disukainya karena orang tuanya sudah suka, dan anak itu
dihadiahi sebutan u-hauw (berbakti). Anak harus membantu
orang tuanya biarpun orang tuannya melakukan pekerjaan
jahat dan biarpun si anak di dalam hati tidak menyetujui
pekerjaan itu dan anak itu juga anak u-hauw ! Masih
banyak hal-hal yang rendah terjadi akibat orang tua
menyalahgunakan sari pelajaran ini demi kesenangan dan
kepentingan sendiri.
"Kau keliru, Bi Li," kata Tiang Bu dengan suara tegas.
"Kalau sampai aku membunuh Liok Kong Ji, aku
membunuhnya sebagai orang pembela keadilan membunuh
seorang penjahat besar, seorang pcngkhianat bangsa dan
seorang pengganggu keamanan rakyat. Bukan sekali-kali
sebagai seorang anak membunuh ayahnya."
Untuk beberapa detik sinar mata gadis menatap wajah
Tiang Bu penuh kekaguman akan tetapi hanya sebentar
karena gadis segera tertawa lagi dengan nada mengejek
kemudian berkata,
"Kau tadi telah bilang sudah tahu tempat tinggal
ayahmu....... eh, jahanam she Liok itu. Jauhkah dari sini ?"
"Tidak begitu jauh. Ui-tiok-lim berada di lembah Sungai
Luan-ho, di luar tembok Kota Raja Kin di utara. Di sanalah
Liok Kong Ji tinggal, menyembunyikan diri dengan anakanak
angkat dan kaki tangannya semenjak dia
mengundurkan diri dari bala tentara Mongol."
"Judi dia tidak membantu Jengis Khan lagi?”
“Sepanjang yang kudengar tidak. Bala tentara Mongol
menyerhu ke barat dan hampir semua orang Han yang
tadinya membantu, merasa enggan untuk menyerbu ke
negara orang lain dan meninggalkan bala tentara Mongol.
28
Akan tetapi mereka ini agaknya merasa malu kepada bangsa
sendiri, juga Liok Kong Ji menyembunyikan diri di Ui-tioklim,
tak pernah muncul lagi di dunia, kang-ouw. Yang
muncul hanya anak-anak angkatnya yang dalam kejahatan
kiranya tidak kalah oleh Liok Kong Ji.” Tiang Bu menarik
napas panjang, teringat akan Liok Cui Lin dan Liok Cui Kim,
dan tiba-tiba mukanya menjadi merah.
"Kalau begitu mari kita segera berangkat ke sana!" ajak
Bi Li dengan nada gembira.
"Baiklah, hanya pesanku jangan kau semberono. Aku
mendengar sudah ada beberapa orang gagah mencoba
memasuki Ui-tiok-lim, akan tetapi mereka itu gagal di tengab
jalan dan dan tewas sebelum mereka dapat bertemu muka
dengan Liok Kong Ji atau anak-anak angkatnya."
"Mengapa begitu? Demikian berbahayakah Hutan Bambu
Kuning” itu?”
Tiang Bu mengantguk-angguk “Kabarnya begitu. Bambubambu
di hutan itu sengaja di tanam merupalan barisanbarisan
dalam bentuk yang ganjil, dipasangi alat-alat rahasia
yang berbahaya. Kubarnya memasuki Ui-tiok-lim tempat
tinggal Liok Kong Ji itu bahkan lebih sulit dari pada
memasukt Kuil Siauw-Lim si yang terkenal kuat."
DIam-diam Bt Li kaget sekali. ia pernah mendengar dari
gurunya, Ang jiu Mo-li bahw Kuil Siauw-lim-si amat
kuatnya. Bahkan gurunya itu, Ang-Jiu Mo li yang lihai,
pernah mencoba-coba memasuki Siauw lim-si untuk
memcuri kitab, akan tetapi terpaksa keluar lagi dan hampir
saja tewas ! Kalau Siauw-lim-si saja sudah begitu lihat dan
tempat ini katanya lebih lihai lagi. dapat dibayangkan betapa
sukarnya memasuki Ui tok-lim.
Tanpa kenal lelah, Bi Li dan Tiang Bu melakukan
perjalanan bersama menuju ke utara melalui tembok besar.
Di sepanjang perjalanan tiada hentinya Tiang Bu
mengulurkan tangan menolong rakyat jelata yang
29
keadaannya amat menyedihkan. Bekas tangan bala tentara
Mongol kelihatan nyata, mendirikan bulu roma, mengerikan
sekali. tumpukan puing menghitam sisa api, bau busuk dari
mayat manusia yang lambat dikubur dan darah-darah
manusia yang berceceran di atas tanah, ditambah pula
dengan manusia-manusia hidup setengah mati, kurus kering
sepetti rangka hidup terhuyung-huyung atau berjongkok
dan bergelimpangan di antara tumpukan puing, suara anakanak
menangis minta makan, semua ini menggugah hati
Tiang Bu untuk bertindak, didatanginya rumah-rumah
pembesar setempat, digunakannya kekerasan agar para
pembesar lalim ini suka menggulung lengan baju dan
melakukan tugasnya sebagai bapak rakyat, menolong
mereka yang patut ditolong dan mengatur mana yang patut
diatur. Berkat kekerasan tangan Tiang Bu, banyak orang
desa tertolcong, tidak saja yang kelaparan mundapat
makanan, juga yang kepanasan mendapat tempat berteduh
dan yang menganggur mendapat pekerjaan. Semua dijamin
oleh para pembesar yang dipaksa oleh tangan keras Tiang
Bu.
Mula-mula Bi Li tidak sabar bahkan mendongkol melihat
betapa pemuda itu melakukan usaha ini. Dianggapnya
membuang waktu dan tenaga, hanya memperlambat
perjalanan. Akan tetapi ketika ia melihat betapa rakyat yang
sengsara itu berterima kasih, betapa anak-anak yang
menangis menjadi tertawa, tergugah pula batin gadis yang
memang bukan pada dasarnya jahat ini. Bi Li sengaja
berlaku jahat dan kejam untuk "menyesuaikan diri" dengan
darah keturunannya yang mengalir di tubuhnya. Setelah
rakyat memberi julukan PEK LUl ENG (Ksatria Iangan
Geledeg.) kepada Tiang Bu. Bi Li juga mulai aktip membantu
pemuda itu. Tiang Bu diberi julukan demikian karena selalu
ia bertindak tanpa mempergunakan senjata, hanya
mengandalkan kedua tangannya yang cepat dan ban bahaya
seperti geledek menyambar. Setelah Bi Li turun tangan pula.
mempergunakbn pedangnya untuk menabas buntung
30
hidung atau batang telinga pembesar lalim dan korup,
mempergunakan ular-ularnya untuk menakut nakuti
mereka yang menindas rakyat, maktn berhasil lah usaha
Tiang Bu. Makin banyak pulae desa-desa tertolong dari
kelaparan dan kebinasaan. Akan tetapi perjalanan dua orang
muda itu menjadi makin lambat sehingga tiga bulan lewat
tak terasa ketika mereka akhirnya tiba di daerah lembab
Sungai Luan-ho. Mereka terus menyusur tepi sungai yang
mengalir dari utara,
Pada pekan ke dua terpaksa bermalam di sebuah hutan.
Belasan li di sekeliling tempat ini tidak ada pedusunan
sehingga mereka terpaksa bermalam di bawah pohon. Malam
itu bulan bersinar terang sekali, mendatangkan suasana
romantis di dalam butan itu. Mereka memilih sebuah tempat
yang bersih, dibayangi pohon-pobon yangliu yang tinggi dan
berbatang ramping seperti pinggang gadis-gadis ayu. Di atas
pohon, langit bersih, biru putih kekuning-kuningan penuh
sinar bulan yang mendatangkan hawa dingin sejuk
menyegarkan.
Bi Li sepera menjatuhkan diri. duduk di atas rumput
lunak menyandarkan tubuh pada sebatang pohon sambil
menarik napas penuh nikmat melemaskan anggauta tubuh
yang kaku-kaku kelelahan.
"Aaahhh, enaknya di sini ....... nyaman sekali .......!"
katanya perlahan, senyumnya menambah cemerlang sinar
bulan.
Tiang Bu juga merebahkan tubuhnya yang lelab di dekat
batang pohon yang sudah tumbang melintang tak jauh dari
tempat Bi Li duduk. Mendengar ucapan gadis itu, Tiang Bu
memandang dan hatinya berdebar aneh. Bukan main
indahnya pemandangan itu. Seorang bidadari mandi cahaya
bulan. Alangkah cantik jelitanya Bi Li ketika bersandar pada
pohon dengan muka sepenuhnya disinari cahaya bulan
purnama. Matanya tertutup dan bulu matanya yang lentik
31
panjang itu menimbulkan bayang-bayang di bawah matanya,
manis sekali.
Bi Li membuka matanya, "Kau di mana, Tiang Bu ?"
tanyanya tanpa menoleh, dengan mata berkedip-kedip
jarang.
"Di sini- ..... !” jawab pemuda itu. "Lebih enak di sini,
dapat tidur."
Mendengar jawaban ini, Bi Li menengadah dan
memandang. Ia melihat Tiang Bu melonjorkan kakinya ke
depan, pungaung dan kepalanya disandarkan pada batang
pohon melintang, seperti memakai bantal. Nampaknya
memang enak sekali, tidak seperti bersandar pada batang
pohon berdiri, terlalu lurus dan hanya dapat duduk, tak
dapat berbaring.
"Minggirlah, akupun ingin tidur ! Jangan borong semus
tempat itu !” Bi Li meloncat lincah jenaka.
Tiang Bu mengguling-gulingkan tubuhnya sampai ia
berada di ujung batang pohon lalu berbaring miring sambil
tersenyum memandang kawannya yang jenaka itu. Bi Li
merebahkan diri terlentang di ujung batang pohon yang lain,
kurang lebih lima belas kaki jauhnya dari Tiang Bu sehingga
pemuda ini dapat melihat dengan nyata. Bahkan ia dapat
mencium bau harum yang selalu selalu semerbak
menghambur dari tubuh gadis itu, bau harum yang ganjil
sekali. Makin berdebar hati Tiang Bu melihat keindahan
wajah dan tubuh gadis remaja yang kini berbaring tak jauh
dari tempatnya. Teringat ia akan semua pengalamannya
dengan Cui Lin dan Cui Kim dan tiba tiba ingin ia menampar
mukanya sendiri. Bi Li seorang gadis terhormat, tak patut
seorang rendah budi dan hina dina semacam dia
memikirkan dan merindukannya ! Cepat ia membuang muka
ke lain jurusan agar jangan matanya manatapi mahluk
indah di depannya itu dan agar jangan sampai hatinya
tergoda. Akan tetapi makin dijauhi makin menggoda. Ke
manapun juga ia melempar pandang, bayangan gadis
32
telentang dengan, dada dan kepala terganjal batang pohon
sehingga dada itu membusung padat dan leher yang putih
kekuningan itu berlawanan sekali dengan batang pohon
yang berwarna coklat, selalu nampak di depan mata.
Seakan-akan bayangan gadis itu berpindah-pindah selalu ke
depan matanya, atau seakan-akan sepasang matanya yang
pindah ke belakang keplanya, tidak mau meninggalkan
pemandangan yang indah itu
Akhirnya Tiang Bu berbaring miring lagi menghadapi Bi
Li! Aku tidak berhak mengganggunya. aku tidak berharga
mcncintainya. tidak patut mengenangkannya, sama sekali
tidak boleh mendekatinya. Akan tetapi kalau hanya pandang
mata saja apa salahnya? Aku tidak akan merugikannya
dengan hanya pandang mata. Dengan pikiran ini, Tiang Bu
memuaskan rindunya dengan sepasang matanya. Bi Li
agaknya lelah sekali karena gadis itu sudah tertidur,
napasnya lambat dan halus, bibirnya agak terbuka sehingga
gigi yang berderet rata dan putih itu terkena cahaya bulan
bersinar-sinar seperti mutiara. Oleh karena gadis itu sudah
tidur, Tiang Bu dapat leluasa memandangnya. Dengan sinar
mutanya ia mencumbu rayu Bi Li dibelai-belainya rambut
yang agak kusut itu, penuh kasih sayang. Heran sekali,
terhadap Bi Li ia tidak mengalami rangsangan seperti ketika
ia digoda oleh kakak beradik Cui Lin dan Cui Kim. Tidak
timbul nafsu binatangnya, yang ada hanya kasih sayang,
kasihan dan ingin melindunginya, ingin berkorban untuknya
dan ingin hidup berdua yang lain-lain tidak ada artinya lagi
baginya.
"Bi Li mengapa perasaanku terhadap kamu seperti ini
...... . ?" Tiang Bu mengeluh di dalam hatinya dan tak terasa
ia merasa berduka sekali. Teringat ia akan keadaannya yang
sama sekali tidak patut dijejerkan dengan gadis itu. Bi Li
cantik jelita. lebih cantik daripada Ceng Ceng, lebih cantik
dari pada Cui Lin dan Cui Kim, lebih cantik dari pada Lai
Fei, pendeknya lebih cantik dari pada semua wanita yang
pernah ia jumpai. Dan dia sendiri, ah, Tiang Bu cukup
33
maklum dan insaf akan keburukan rupanya. Ia tahu bahwa
dia tidak boleh dibilang tampan, apa lagi ganteng. Olok-olok
dan ejekan yang dulu dilontarkan ke mukanya oleh Ceng
Ceng, sudah cukup jelas. Hidungnya pesek, bibitnya tebal,
mukanya kehitaman, gerak-geriknya canggung. Selain itu, ia
seorang yatim pialu, seorang pemuda terlantar yang miskin,
tidak punya apa-apa. Dia sama sekali tidak memikirkan Bi
Li, apalagi mengharapkan dapat mencintai gadis itu.
Bermalam di tempat seperti ini bersama saja sebetulnya dia
sudah tidak berhak! Apa lagi kalau diingat akan
perbuatannya yang terkutuk dengan Cui Lin dan Cui Kim.
Auhh, dia seorang bermoral bejat. seorang rendah budi. Tak
terasa pula dua titik air mata turun dari sepasang matanya.
Cepat-cepat Tiang Bu menghapusnya dengan tangan.
Mengapa putus asa ? Aku sudah cukup menyesal akan
penyelewengan itu. bahkan sudah cukup terhukum di dalam
jurang, sudah cutup terhina karena perbuatan kotor itu.
Aku sudah bertobat dan takkan mengulangi perbuatan keji
itu. Ia akan mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk
melawan rangsangan nafsu jahat yang agaknya sudah
mengalir ke dalam darahnya. Aku harus kuat. Aku seorang
jantan.
“Tiang Bu kau melamun apa........ ?”
Tiang Bu kaget sekali. Begitu jauh ia melamun sehingga
tidak tahu bahwa gadis itu sudah bergerak dalam tidurya,
kini juga miring menghadapinva dan membuka mata
perlahan. Pertanyaan itu biarpun diucapkaa dengnan
perlahan dan lembut, tetap saja membuat Tiang Bu kaget
dan hampir pemuda int melompat. Baiknya ia dapat
menekan perasaannya dan hanya bangkit lalu duduk
menyandarkan punggung di batang pohon.
“Aku....... aku hanya memtkirkan nasib kita yang
buruk.....,” akhirnya dapat juga ia menjawab.
"Mengapa kau bilang buruk?” Kini suara Bi Li
menyatakan bahwa ia sudah sadar betul dan sepasang
34
matanya juga terbuka lebih lebar. Ia nampak ingin tahu
sekali.
"Betapa tidak buruk ? Nasibmu sudah tak usah ditanya
lagi. Dari seorang puteri bangsawan yang semenjak kecil
hidup serba mewah dan mulia, sekarang kau berada di
tempat sepeti ini, di udara terbuka, bertilam rumput beratap
langit berkelambu hutan berlampu bulan.......”
Bi Li tertawa geli. “Kau seperti bersajak ! Tiang Bu, di
tengah malam buta kau bersajak. Benat-benar lucu!”
Tiang Bu menarik napas panjang sehingga terdergar oleh
gadis itu. Bi Li juga bangkit dan duduk seperti Tiang Bu.
“Tiang Bu, susah benarkah hatimu? Kenapa?"
“Aku menghela napas bukan menyusahkan nasib sendiri
melainkan ...... aku kasihan kepadamu kalau kukenang
perubahan nasib hidupmu, Bi Li.”
"Aaah, aku yang mengalami sendiri tidak apa-apa kok
kau yang susah ! Lebih baik kau ceritakan mengapa kau
melamun tentang nasibmu. Buruk benarkah nasibmu?”
"Semenjak kecil ketika berada dengan keluarga Coa. aku
memang merasa bahagia, akan tetapi selalu timbul keraguan
dan keheranan kalau meIihat sikap para pelayan yang aneh
terhadapku. Kemudian aku terculik dan semenjak itu tak
pernah kembali ke Kim-bun-to, dan mengalami hal-hal yang
selalu tidak menyenangkan hati. Makin tua nasibku menjadi
semakin buruk jua……”
Kembali Bi Li tertawa geli, mengangkat muka ke atas
memandang bulan lalu berkata. “Bulan, kaudengarlah
keluh-kesah kakek ini! Sudah tua nasibnya buruk. Bulan,
tak dapatkah kau monolong kakek ini?”
Kebetulan tegumpal awan putih lewat di bawah bulan,
untuk sajenak menutupi ratu malam itu.
"Tiang Bu, kaulihat. Kesusahan hatimu membuat bulan
sendiri ikut merasa sedih dan bermuram muka."
35
Tiang Bu menghadapi kejenakaan gadis ini dan hatinya
terbuka, ia menjadi ikut gembira. “Bi Li, kukatakan tadi
bahwa nasibku sejak dulu sampai sekarang sialan, akan
tetapi hanya berhenti sampai sekarang., Mulai aku berjumpa
dengan kau sinar terang mengusir semua kegelapan dan.......
"
"Apa maksudmu !?" Bi Li tersentak dari duduk tegak,
sepasang matanya memandang penuh selidik dan tajam
sekali.
Tiang Bu sadar bahwa ia mengeluarkan ucapan yang
janggal dan patut menimbulkan curiga. "Aku tidak
bermaksud buruk, Bi Li. Kumaksudkan bahwa semenjak
bertemu dengan kau, aku mendapat seorang kawan baru
yang kiranya akan dapat bekerja sama dengan aku
membasmi orang-orang jahat. Bukankah hal ini
menggirangkan hati benar dan mengusir semua kesunyian?
Aku... aku tidak bermaksud kurang ajar. Bi Li,... jangan kau
marah.....”
Sikap terang yang diperlihatkan Bi Li menjadi kendur
kembali dan gadis itu kembali merebahkan diri seperti tadi
sebelum terjaga berbaring terlentang berbantal batang pohon
ia mengeluarkan seekor ularnya yang berkulit putih lalu
main-main dengan ular ini yang melingkar-lingkar diantara
jari-jari tangannya.
"Siapa marah ? Hanya kau yang canggung dan bodoh,
ucapanmu kadang kadang membingungkan orang."
“Memang aku bodoh, Bi Li. Bodoh dan dungu.” kata
Tiang Bu perlahan, hatinya gondok. Kalau ia masih kecil,
tentu ia akan menangis.
"Pemuda yang merasa seperti kakek-kakek padahal
masih hijau, orang berilmu tinggi tapi lemah, yang mau
pura-pura jadi orang baik memang kau bodoh ! Pek Coa
(Ular Putih) ini lebih pintar dari padamu....... !"
36
Tiang Bu makin mendongkol, akan tetapi tidak
membantah atau menjawab, takut kalau-kalau jawabannya
akan lebih menonjolkan kecanggungan dan kebodohannya.
Padahal ia sendiri tidak tahu dalam hal apakah ia disebut
bodoh, sedangkan dalam persoalan apapun juga ia merasa
tidak kalah pintar oleh dara ini. Ia hanya mengerling tanpa
menoleh, berbuat seolah-olah tidak mengindahkan dan tidak
memperdulikan Bi Li, pada hal matanya sampai terasa
hampir juling karena selalu mengerling ke kanan ! Dari
sudut matanya ia melihat gadis itu makin lama makin lemas
dan napasnya makin lembut tak lama kamudian Bi Li
kembali tidur pulas. Ular putih itu merayap-rayap di antara
jari-jari tangan Bi Li dan diam-diam Tiang Bu menyumpahi
ular itu.
"Bedebah kau ! Masa macammu lebih pintar dari pada
aku ? Ular setan, ular siluman! Dan kau boleh sesuka
hatimu merayap-rayap membelai-belai dia, disayang dan
dicintai!”
Dengan hati gemas dan kepala penuh cemburu dan iri
hati ia melihat betapa ular putih merayap-rayap terus di
antara dada Bi Li, kepalanya yang berlidah merah itu
dijulur-julurkan, merayap melalui leher yang berkulit putih
kekuningan itu, beberapa kali terpeleset di atas rambut
hitam halus yang jatuh di pundak. Beberapa kali Tiang Bu
menelan ludah memaki-maki ular itu dengan mata penuh
kebencian. Tangannya sudah gatal-gatal untuk meraih ular
itu dan membantingnya hancur di atas batu untuk
melampiaskan rasa marah, cemburu dan iri hatinya.
Kemudian gangguan ular itu sampai pada puncaknya ketika
ular itu merayap melalui dagu Bi Li dan Iidahnya menjilatjilat
pipi dan bibir gadis itu.
"Jahanam jangan menghina dia.....!” bentaknya dan
sekali tangannya bergerak sebuah batu kecil menyambar
dan di lain saat ular itu Sudah menggeletak di dekat tubuh
37
Bi Li dengan kepala remuk dilanggar batu tadi, mati tak
berkutik lagi !
Bi Li tersentak kaget. Ketika matanya yang tajam itu
melihat Pek Coa sudah menggeletak dengan kepala hancur
di dekat, ia melompat bangun dan sudah mencabut
pedangnya.
"Siapa berani membunuh Pek coa ?" bentaknya marah.
Melihat sikap Bi Li ini, baru Tiang Bu sadar akan
perbuatannya tadi dan merasa menyesal. Iapun bangkit
berditi dan berkata dengan suara lemah.
"Maaf, Bi Li. Akulah yang membunuhnya.”
Pedang itu dengan perlahan memasuki kembali
sarangnya. Untuk sebentar mata Bi Li terbelalak heran,
kemudian membayangkan kekhawatiran ketIka ia
melangkah menghampiri Tiang Bu untuk menatap wajah
pemuda itu lebih dekat.
"Kau ...... ? Kau membunuh Pek Coa......?” Aneh sekali,
Tiang Bu, kau kenapakah dan mengapa Pek Coa yang kau
tahu menjadi kesayanganku itu kaubunuh ?”
“Aku....... aku tidak sengaja……”
"Tadinya akupun tidak ada niat itu, akan tetapi ......
melihat dia menjalar ke atas dada-mu, merayap ke leher dan
dagumu ...... melihat dia secara kurang ajar sekali
menjilat..... pipimu ...... bibirmu .....”
"Lalu timbul bencimu?" Heran sekali hati Tiang Bu.
Bagaimana gadis itu tahu belaka akan perasaannya?
“Ya.... eh, aku takut kalau kalau ........ kau digigitnya, dia
ular berbisa dan kau sedang tidur pulas....... aku lalu.......
lalu lupa diri dan...... membunuhnya.! Bi Li, maafkan aku.
Kelak aku akan mencarikan ular putih berapa hanyak kau
suka untuk menjadi penggantinya.”
38
Kalau saja ia tidak bicara sambil menundukkan muka,
tentu Tiang Bu akan melihat perobahan luar biasa pada
wajah gadis itu. Seluruh muka Bi Li menjadi merah sekali
dan gadis ini membuang muka, lalu duduk di tempatnya
yang tadi. Sekali cokel ia telah membuang bangkai ular putih
itu.
"Dia toh hanya seekor binatang ular ....” katanya
perlahan. "Tiang Bu, kau memang laki-laki bodoh. Jangan
ganggu, aku ingin tidur, besok harus melanjutkan
perjalanan jauh .....” Gadis itu membaringkan tubuhnya,
miring membelakangi Tiang Bu dan tak lama kemudian ia
sudah pulas lagi. Tinggal Tiang Bu yang gulak-gulik tak
dapat pulas, hatirqa tidak karuan rasanya, merasa berdosa
terhadap Bi Li. Ularnya kubunuh dan dia tidak marah !
Bagaimana dia tahu bahwa aku menjadi benci melihat ular
itu menciummya? Heran, sampai berapa jauh dia
mengetahui isi hatiku ?
Menjelang pagi, ketika Tiang Bu baru layap-layap
tertidur, ia mendengar suara orang. Seperti kebiasaan.
seorang ahli silat tinggi, Tiang Bu segera sadar dan
menengok. Dilihatnya Bi Li tersenyum-senyum dalam
tidurnya dan mengigau dengan suara yang belum pernah ia
dengar keluar dari mulut gadis itu, demikian merdu bagikan
lagu indah memasuki telinganya. "Tiang Bu ....... kau.......
baik sekali……..”
Dengan wajah berseri Tiang Bu pulas lagi, hatinya girang
bukan main, Alangkah lucu dan bodohnya manusia kalau
lagi diamuk asmara !
-oo(mch)oo-
Beberapa pekan kemudian tibalah Tiang Bui dan Bi Li di
daerah lembah Sungai Luan ho yang menikung. Daerah ini
terdapat banyak pegunungan dan kaya akan hutan.
Tanahnya subur sekali akan tetapi sayangnya, di sana-sani
39
terdapat rawa yang amat berhahaya. Bahkan ada bagian lain
yang disebut rawa-rawa maut, karena di sini terdapat rawa
yang tertutup rumput-rumput hijau tebal. Padahal di bawah
rumput tebal ini bukanlah tanah keras, melainkan lumpur
yang amat dalam dan yang mempunyai hawa menyedot.
Sekali orang terpeleset ke dalamnya, kalau tidak mendapat
pertolongan orang lain. akan sukarlah ia menolong diri
sendiri, karena begitu kedua kaki terperosok ke dalam
lumpur yang sembunyi di bawah rumput, kaki itu akan
terhisap dan sukar dibetot keluar lagi. Makin lama makin
dalam sampai akhirnya seluruh tubuh dihisap masuk.
Kebetulan sekali ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di daerah
ini, mereka menjadi saksi akan kengerian ini. Mula-mula
mereka mendengar suara binatang menguak keras berkalikali.
Mereka merasa tertarik dan berlari cepat ke arah suara
itu.
Mula-mula mereka tidak tahu mengapa kijang besar itu
meronta-ronta di tengah padang rumput hijau itu sambil
menguak-nguak ketakutan. Seakan-akan binatang itu patah
kakinya dan tidak bisa lari lagi, atau seakan-akan kedua
kakinya terikat sesuatu.
Jangan-jangan ia dimangsa ular !" kata Tiang Bu.
Bi Li mengerutkan kening, bidungnya yang mancung
kecil itu berkembang-kempis.
“Tidak ada ular di sini. Akan tetapi kasihan sekali kijang
itu, agaknya ketakutan. Coba kulihat dekat !” Sebelum Tiang
Bu sempat mencegah karena pemuda ini sudah merasa
curiga melihat padang rumput yang nampaknya mtin sunyi
dan menyeramkan itu. Bi Li sudah melompat dan berlari
mendekati tempat binatang itu yang meronta-ronta dan
momekik-mekik ketakutan. Tiba-tiba Bi Li menjerit dan
kedua kakinya amblas ke dalam lumpur yang tertutup
rumput hijau. Baiknya gadis ini telah memiliki kepandaian
tinggi sehingga tubuhnya tak sampai roboh. Ia mengerahkan
ginkangnya untuk menahan keseimbangan badan, tetapt
40
ketika ia mencoba untuk mencabut kedua kakinya, makin
dalam ia terjerumus ! Baru sekarang Bi Li mengerti apa yang
menyebabkan binatang itu meronta-ronta dan memekikmekik
ketakutan. Ia merasa seperti ada sesuatu yang hidup,
yang amat kuat menghisap kedua kakinya, terasa dingindingin
dan betapapun kuat ia bertahan. tubuhnya makin
tersedot ke bawah. Tiba-tiba ia menjadi pucat dan baru kali
ini selama hidupnya Bi Li ketakutan dan ...... menjerit !
“Tiang Bu…… tolong.......!”
Tiang Bu sudah tiba di situ. Pemuda yang cerdik ini
sebentar saja dapat menduga apa yang telah terjedi. Dengan
hati-hati ia melangkahkan kakinya mcnjaga jangan sampai
terjerumus pula. Kalau demikian halnya mereka takkan
tertolong lagi.
"Tenang, Bi Li. Kau tertangkap oleh apa yang dinamai
lumpur maut atau rawa maut. Jangan banyak bergerak,
tunggu aku membetotmu keluar. Diam jangan bergerak, Bi
Li.......“
Benar saja, setelah Bi Li berhenti bergerak sedotan yang
terasa pada kedua kakinya berhenti pula, akan tetapi
lumpur itu sudah menghisapnya sampai ia amblas sebatas
paha ! Ia mandi keringat dingin saking ngeri dan takutnya,
dan kini dengan penuh harapan ia melihat betapa Tiang Bu
menghampirinya dengan kedua kaki diraba-rabakan ke
depan, sambil tangannya mencabuti rumput untuk memilih
tanah keras. Akan tetapi, tanah yang tadinya kelihatan
keras, begitu diinjaknya lalu Iongsor dan di bawahnya tanah
keras itu hanya tipis saja, dan di bawahnya adalah lumpur
belaka.
Celaka, pikir Tiang Bu dengan jantung terhenti
berdenyut. Kalau begini, tak mungkin Bi Li dapat tertolong.
Begitu ia menarik tubuh gadis itu, tentu tanah yang
diinjaknya amblas pula dan mereka berdua akan terjerumus
dimakan lautan lumpur!
41
“Tiang Bu, mengapa kau berhenti.... Apakah ……. apakah
aku tak dapat ditolong lagi…….!” Sebagai jawaban, terdengar
kijang itu menguak penuh kengerian. Terpaksa Bi Li
menengok ke belakang, ke arah kijang yang hanya terpisah
lima enam meter dari padanya dan melihat keadaan itu, Bi
Li menjerit, "Tiang Bu ...... !"
Pemuda itupun menengok‹ dan menjadi pucat. Kijang itu
kini telah terhisap sampai melewati lehernya, yang kelihatan
hanya sapasang mata yang terbelalak ketakutan lebar,
hidung yang mendengus-dengus mengeluarkan uap putih
dan mulut yang menguak-nguak panjang dan nyaring.
Binatang itu tidak merasa sakit hanya takut....... takut luar
biasa melihat maut berjoget di depan mukanya. Dan Bi Li
yang merasa ngeri lupa diri dan bergerak membuat ia
amblas lagi sampai sebatas pinggang.
"Tiang Bu....... demi Thian ....... tolonglah aku ...... aku
tidak mau mati begini, tidak mau!” teriak Bi l,i ketakutan
dan sepasang matanya melebar seperti mata kijang itu.
Nguak terdengar terus, makin lama makin lemah dan yang
terakhir suara itu terdengar aneh seperti parau kemudian
berhenti tiba-tiba seperti tercekik. Mulut atau moncong
kijang itu tidak kelihatan lagi, hanya rumput di mana tadi ia
berada bergcrak-gerak, seperti ada ular besar lewat di
bawahnya.
"Bi Li. kautunggu sebentar. Kau tenanglah jangan
bergerak. Ingat ini . jangan bergerak kalau kau ingin
tertolong. Demi Thian, aku akan menolongmu, biarpun aku
harus berkorban nyawa. Akan tetapi kau tenanglah,
pergunakan lweekang untuk mematikan semua pergerakan
tubuh. Hanya kalau kau diam seperti barang mati lumpur
itu takkan dapat menyedotmu. Aku akan mencari bambu
untuk menolongmu. Tenang..... !"
Tiang Bu melompat dan berlari ke arah hutan kecil di
mana ia melihat batang batang bambu berkelompok dengan
daun daunnya yang indah. Setelah tiba di tempat itu,
42
pemuda yang tidak mcmbekal senjata tajam ini lalu
menggunakan kedua tangan, mencabuti bambu yang amat
kuat itu sampai terlcpas akarnya.
Tak lama kemudian ia sudah menyeret tiga batang
bambu yang sudah ia patah-patahkan cabang-cabangnya.
Dengan bambu ini dipasang melintang, dapat
menghampiti Bi Li yang betul saja tidak bergerak sama
sekali sehingga ia terbenam hanya sampai di pinggang, tidak
lebih. Akan tetapi matanya berlinang air mata, mukanta
pucat dan bibirnya gemetar. Berdiri di atas tiga batang
bambu itu, Tiang Bu dapat berjalan dengan mudahnya,
karena bambu-bambu yang panjang itu tidak tenggelam,
seperti sebuah perahu rakit.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XVIII
ALANGKAH girang hati Tiang Bu dan juga Bi Li ketika
mereka dapat bertemu tangan. Tiang Bu membetot,
mengerahkan tenaganya dan....... terangkatlah Bi Li dari
dalam lumpur maut yang hampir saja menjadikan gadis ini
mangsanya. Saking girangnya Tiang Bu lupa diri dan
memeluk gadis itu, tidak perduli pakaiannya sendiri menjadi
kotor terkena lumpur yang menyelimuti tubuh dari pakaian
Bi Li sebatas pinggang kebawah, Juga Bi Li yang baru saja
terlepas dari cengkeraman maut, yang amat mengerikan dan
menakutkan, saking terharunya tidak merasa lagi akan
pelukan pemuda itu, bahkan ia menyandarkan kepalanya di
atas dada Tiang Bu sambil terisak-isak. Bi Li bukan seorang
gadis penakut, jauh dari pada itu. Sebaliknya, dia memiliki
kepandaian tinggi dan nyalinya besar sekali. Menghadapi
kematian dalam pertempuran kiranya akan dilakukan
dengan senyum di bibir. Akan tetapi ancaman maut yang
baru saja dialaminya tadi terlalu mengerikan. Dihisap oleh
lumpur perlahan-lahan, sama sekali tidak berdaya seakanakan
maut merenggut nyawa sekerat demi sekerat, ditambah
lagi pandangan mengerikan dari kijang yang di hisap sampai
lenyap perlahan-lahan tadi, benar-benar luar biasa sekali.
2
Orang yang paling tabah juga akan merasa ngeri. Jauh
bedanya dengan menghadapi lawan, biarpun lawan itu kuat
bagaimanapun juga, kita dapat melawan dapat berdaya
upaya mempertahankan diri.
Sementara itu, biarpun tadinya ia memeluk tubuh Bi Li
karena terharu dan girang dalam usahanya yang berhasil
menolong gadis itu terlepas dari cengkeraman maut, setelan
pikirannya tenang kembali dan merasa betapa kepala
dengan rambut yang hitam halus dan harum itu terletak di
dadanya, ketika melihat kulit leher putih kekuningan yang
hangat itu demikian dekat dengan mukanya. Tiang Bu
teringat akan pengalaman membunuh Pek Coa malam itu.
Tiba-tiba dadanva tergetar, berdebar-debar tidak karuan,
kedua lengan yang memeluk juga menggigil dan tubuhnya
menjadi panas dingin.
Bi Li agaknya juga tersadar atau terjalar oleh rangsang
yang mulai menguasai Tiang Bu, karena ia tersentak kaget
dan tiba-tiba merenggutkan tubuhnya dari pelukan Tiang
Bu. Pemuda itu sendiri menundukkan mukanya, kedua
pipinya merah sekali dan wajahnva nampak sedih,
keningnya berkerut. Tiba-tiba tangan kanannya diangkat
dan "plakl plak !!” ditamparnya pipinya sendiri dengan
kerasnya sampai bibirnya sebelah kanan pecah dan
berdarah.
“Tiang Bu, kau kenapakah ?!" Bi Li bertanya, terheranheran
dan lupa akan perasaan malu dan jengah yang tadi
membuat ia merenggutkan tubuhnya dan menjauhi pemuda
itu.
"Aku seorang jahat.... aku telah menggunakan
kesempatan selagi kau terharu untuk ...... untuk
memelukmu. Sebenarnya tidak boleh ....... aku memang
amat jabat. Bi Li....... !”
Bi Li melangkah maju, sepasang matanya kini bersinar
dan wajahnya barseri. Dipegangnya kedua tangan Tiang Bu
dan ia berkata, "Tidak, Tiang Bu. Kau seorang yang baik
3
sekali, amat baik aku berterima kasih kepadamu. Kalau saja
kau tidak capat mendapatkan akal dengan bambu-bambu
itu, aahh ......” Bi Li melepaskan kedua tangan Tiang Bu dan
menengok memandang ke arah rawa lumpur itu dan
bergidik.
Sikap dan kata-kata gadis ini mengusir kesedihan Tiang
Bu yang tadi merasa betapa kembali ia dikuasai oleh
rangsang yang jahat dan berbahaya, yang timbul dari dalam
tubuhnya. Rangsang yang amat kuat dan kalau kurang
waspada, akan dapat manguasai seluruh hati dan
pikirannya. akan melumpuhkan pertimbangannya dan
melenyapkan sifat kegagahannya seperti dulu dengan Cui
Lin dan Cui Kim. Karena itulah ia bersedih. Akan tetapi
kata-kala Bi Li menghiburnya, dan pula bukankah tadi
iapun belum dikuasai benar-benar dan masih ingat,
buktinya ia masih dapat merasa bersedih dan marah kepada
diri sendiri?
“Bi Li, kita harus mencari air untuk mencuci lumpurlumpur
ini. Lihat. pakaianmu sudah tidak karuan
macamnya, kotor semua.”
Bi Li memandang. “Apa kau juga bersih? Lihat saja,
lumpur sudah mengotori muka dan rambutmu," Gadis ini
tertawa geli, agaknya baru sekarang ia melihat betapa pipi
dan kepala pemuda itu penuh lumpur hitam.
Dengan gembira kembali dua orang muda ini berlari-lari
menjauhi rawa itu dan mncari air. Untuk ini mudah saja.
karena Sungai Luan-ho mangalir dekat saja dan mereka
segera turun ke dalam sungai. Bi Li berganti pakaian kering
dari buntalan yang tadi digendongnya. Akan tetapi Tiang Bu
yang tidak mempunyai bekal pakaian, terpaksa, hanya
mencuci bagian yang terkena lumpur dan masih terus
memakainya. Tentu saja mereka mencuci pakaian di tempat
terpisah yang tidak kelihatan dari tempat masing-masing.
Tak lama kemudian mereka sudah melanjutkan
perjalanan, menjelajah daerah pegunungan itu, mencari-cari
4
di mana Hutan Bambu Kuning. Biarpun Tiang Bu sudah
menyelidiki dan mendengar bahwa tempat tanggal Liok Kong
Ji berada di sekitar tempat ini, namun ia sendiri belum
pernah mendatangi tempat ini dan belum tahu di mana
sebetulnya letak Hutan Bambu Kuning yang menjadi sarang
Liok Kong Ji. Mereka berputaran sampai beberapa hari di
tempat ini, naik turun gunung. masuk keluar hutan hutan
besar. namun belum juga mereka melihat Hutan Bambu
Kuning.
Bi Li sudah mulai hilang sabar ketika pada hari ke tujuh,
pada pagi hari selagi dua orang muda ini berada di sebuah
daerah berbatu karang, tiba-tiba mereka mendengar suara
orang. Suara ini adalah suara laki laki dan wanita yang
agaknya bertengkar, karena suara mereka keras dan
terdengar marab-marah. Bi Li dan Tiang Bu menuju ke
tempat itu, dan dari balik pohon-pobon dan batu karang
mereka mengintai.
Bi Li melihat seorang pemuda tampan berhadapan
dengan dua orang gadis cantik. Melihat pemuda itu,
teringatlah Bi Li bahwa itulah pemuda yang dulu ikut
menyerbu ke kota raja, pemuda yang tadinya datang
bersama tosu kaki buntung sebagai utusan Kaisar Mongol,
pemuda lihai yang pernah ia keroyok dengan Wan Sun
dahulu di tepi Sungai Hoan ho, pemuda kurang ajar dan
ceriwis, Liok Cui Kong. Akan tetapi dua orang gadis cantik
itu belum pernah dilihatnya. Tidak demikian dengan Tiang
Bu. Begitu melihat dua orang gadis itu, wajahnya berubah
sebentar pucat sebentar merah, matanya menyinarkan
cahaya aneh, seperti marah dan malu. Ini tidak
mengherankan oleh karena dua orang gadis itu bukan lain
adalah Cui Lin den Cui Kim! Dua orang kakak beradik ini
masih secantik dulu, tahi lalat kecil di dagu Cui Lin masih
amat manis menarik hati, sepasang mata yang genit dan
berbentuk indah itu masih membuat Cui Kim seorang gadis
cantik yang jarang ada keduanya. Akan tetapi kecantikan
mereka sekarang menjadi racun bagi mata Tiang Bu,
5
bagaikan duri menusuk hatinya, membangkitkan marah dan
sakit hatinya. Akan tetapi ia tidak mau rahasianya diketahui
Bi Li dan ia dapat mengendalikan perasaannya dan tinggal
diam, mengintai di samping Bi Li. Ular-ular yang berada di
dalam saku baju Bi Li mulai keluar, tanda bahwa gadis itu
bersiap-siap manghadapi pertempuran. Dua orang muda ini
masih tidak mau bergerak lebih dulu, hanya mendengarkan
pertengkaran antara Cui Kong dan dua orang gadis itu.
"Kalian masih kukuh tidak mau memberikan katak itu
kepadaku?" Cui Kong berkata marah. "Kalian ini orang-orang
perempuan sungguh tak tahu malu. Untuk apa kalian
menyimpan katak itu? Binatang ajaib itu hanya untuk lakilaki,
tidak ada artinya kalian membawanya. Lekas berikan
kepadaku !"
"Kong ko, bukan kami yang tidak tahu malu, sebaliknya
engkau yang keterlaluan," bantah Cui Lin berani. “Binatang
ajaib katak pembangkit asmara ini kami dapatkan dari Tiang
Bu dan kami simpan sebagai kenang-kenangan. Kami yang
berhak memilikinya, setidaknya menjadi hadiah kami
sebagai balas jasa kami ketika kita merobohkan Tiang Bu.
Mengapa kau mau memaksa kami minta katak ini? Aku tahu
kau hendak main gila, kau akan menjadi makin binal dan
mata keranjang. Sudah cukup kau menyakiti hati kami !"
“Setan! Kau bilang apa? Cui Lin, kau dan adikmu ini
menjadi berbeda benar sikap kalian setelah menjadi kekasihkekasih
Tiang Bu. Agaknya kalian sudah jatuh cinta benarboner
kepadanya, he? Cinta kepada monyet busuk itu,
bukan ? Ha-ha ha, sungguh menggelikan !”
"Cui Kong, kau bicara apa !?" Cui Kim membentak marah
sampai lupa menyebut Cui Kong dengan kakak. “Jangan
terlalu menghina kami !”
"Cui Kim, di mana kesopananmu ?! Aku adalah
kakakmu, lupakah kau? Atau kau sudah tidak mau
mengaku aku sebagai kakakmu lagi ?" bentak Cui Kong
marah.
6
"Kakak macam apa kau ini ?!" Cui Kim berkata dengan
nada mengejek. 'Mana di dunia ini ada kakak yang
memperlakukan kami seperti yang kaulakukan? Kami!
menurut saja karena kami memang bukan adik-adik
kandungmu, kita masing-masing adalah orang lain, dan
kami melayani segala kehendakmu membantu dalam segala
hal yang kaulakukan. Attie tetapi mana terima kasihmu ?
Sekarang malah hendak merampas barang yang menjadi hak
milik kami. Cuh, tak tahu malu !”
"Bedebah !" Cui Kong memukul dada Cui Kim. Gadis ini
mengelak cepat, akan tetapi sebuah tendangan mengenai
perutnya, membuat ia terlempar dan roboh. Sambil meringis
kesakitan Cui Kim duduk dan menekan perutnya yang
tertendang.
"Cui Kong, kau terlalu sekali !” seru Cui Lin marah.
"Untuk kepentinganmu kami sering kali berkorban. Untuk
kemenanganmu dan membalasmu kami sampai rela menjadi
kekasih Tiang Bu. Sampai sebulan lebih, rela meterima
hinaan dari padanya. Sekararg kau bertindak sewenangwenang
melukai adikku. Kau dan kami sama-saina anak
angkat dari ayah, adakah apa kau bersikap sebagai atasan
kami ?”
Cui Kong tertawa mengejek. "Hak tingkat kepandaian,
bodoh ! Pula, jangan kira ayah akan terlalu membela kalian
kalau kalian tidak menurut perintahku. Ayah masih belum
tahu bahwa anak-anak angkatnya yang manis-manis, caloncalon
penghiburnya yang dirawat sejak kecil sampai menjadi
gadis-gadis jelita, ternyata telah menjadi kekasih Tiang Bu.
Ha ha ha...... !"
Pada saat itu, sebelum dua orang yang sodah siap
bertempur ini saling serang, terdengar seruan orang dan dari
balik gunung batu karang muncul dua orang, satu dari
kanan kedua dari kiri.
"Hayaa, kami mencari kalian di mana……!" teriak seorang
di antara mereka. Melihat kedatangan dua orang ini,
7
otomatis Cui Kong dan Cui Lin merubah sikap menjadi biasa
tidak seperti orarg mau bertempur. Bahkan Cui Kim sudah
berdiri lagi menahan sakit.
Sementara itu, mendengar percakapan itu, muka Bi Li
juga berubah merah sekali. Ia merasa muak mendengar isi
percakapan yang kotor itu, dan beberapa kali ia mengerling
ke arah Tiang Bu, bibirnya yang manis ditarik sedemikian
rupa untuk mengejek pemuda itu.
“Aha, kiranya kau mempunyai banyak kekasih ! Sekali
bertemu saja sudah ada dua orang. Mengapa kau tidak lekas
keluar menemui dua orang kekasihmu itu ?” katanya
perlahan.
"Ssstt!, diamlah, Bi Li." kata Tiang sambil menyentuh
tangin gadis itu, akan tetapi Bi Li menarik tangannya sambil
berkata ketus.
"Jangan pegang tanganku !"
Tiang Bu kaget dan khawatir. Belum pernah gadis itu
bersikap segalak ini, dan agaknya seperti orang marahmarah.
Heran ! Akan tetapi ia tidak berkata-kata lagi,
sebaliknya memperhatikan ke depan seperti Bi Li yang juga
sudah memandang ke depan penuh perhatian.
Yang baru datang adalah seorang laki-laki tinggi besar
bermuka hitam, kelihatannya kuat sekali, usianya setara
empat puluh tahun. Orang ke dua sebaliknya adalah seorang
yang kecil pendek, mukanya kuning pucat seperti
berpenyakitan. Akan tetapi baik Bi Li maupun Tiang Bu
maklum bahwa orang berpenyakitan ini adalah seorang ahli
lweekeh yang tak boleh dipandang ringan.
”Liok-kongcu, kau membuat beberapa orang kawan sibuk
mencarimu ke sana ke mari. Tidak tahunya sedang
bersenang-senang dengan jiwi siocia ini di sini," kata si
muka hitam.
8
”Jiwi-siokhu (kedua paman) menyusul ke sini ada
keperluan apakah gerangan ?” tanya Cui Kong,
menyembunyikan kemendongkolannya.
"Kami disuruh menyusulmu karena ayahmu yang mulia
bendak membicarakan urusan penting denganmu. Agaknya
Ui-tiok-lim akan kedatangan tamu tamu penting."
Mendengar bahwa ia dipanggil ayahnya, Cui Kong tidak
berani membantah. Setelah melempar karling penuh
ancaman kepada Cui Lin, ia lalu menyatakan baik dan
berlari cepat meninggalkan tempat itu, berlari ke balik
Pegunungan Batu Karang Putih. Si muka hitam juga lari di
belakang Cui Kong. Akan tetapi orang yang kurus kering dan
pucat itu tersenyum-senyum di depan Cui Lin lalu berkata.
"Nona tadi agaknya ribut mulut dengan Liok kongcu. Di
antara saudara ribut-ribut ada urusan apakah. Aku adalah
saudara angkat Liok-taihiap, aku akan merasa girang sekali
kalau dapat mendamaikan urusan kalian."
Mendengar ini, dua orang gadis itu diam-diam memuji
akan kelihaian si muka pucat ini. Juga Tiang Bu diam-diam
kaget karena hal itu saja membuktikan bahwa si muka
pucat ini benar-benar lihai.
"Ah, Cong-susiok agaknya main-main. Di antara saudara
serdiri, mana kami bertengkar! Hanya sedikit ribut mulut
urusan kecil," kata Cui Lin.
Si muka pucat she Cong itu tertawa bergelak, suaranya
tinggi kecil mengiris telinga rasanya, "Ha ha,ha-ha, nona.
Aku terhitung pamanmu sendiri. mengapa hendak
membohong? Kulihat adikmu ini menderita luka dalam
akibat tendangan, apakah ketika menendang Liok-kongcu
juga main-main ? Lebih baik lekas minum obat ini, agar luka
itu tidak menjalar makin hebat? Setelah berkata demikian, ia
melemparkan sebutir pel merah kepada Cui Kim yang
menerimanya lalu menelannya.
9
"Teriima kasih, Cong-sustok. Kau baik sekali. Memang
saudaraku Cui Kong itu keterlaluan." kata Cui Kim, "Coba
saja pikir, kami merampas sebuah benda dari musuh kami
dan benda itu sudah menjadi hak milik kami. Masa Kong-ko
datang-datang hendak merampasnya dari kami? Mena ada
aturan demikian?”
"Memang tidak ada aturan seperti itu, apalagi kalau
benda itu sebuah pusaka seperti katak pembangkit asmara."
kata si pucat yang bernama Cong Lung itu.
”Bagaimana kau bisa tahu, Cong-susiok?” Cui Lin
bertanya kaget, juga Cui Kim memandang dengan heran.
"Tentu saja aku tahu. Juga aku tahu bahwa katak di
tanganmu itu tidak ada gunanya bagimu, sebaliknya katak
yang berada di tanganku juga tidak ada gunanya bagiku.
Kaiau kita bertukar katak, barulah ada gunanya."
“ ..... Apa maksudmu, Cong-susiok?" tanya Cui Lie.
"Kalian mendapatkan katak betina yang tidak ada
gunanya bagi orang-orang wanita. sebaliknya aku
mendapatkan katak jantan yang sama sekali tidak ada
artinya dan tidak lebih baik dan pada katak mampus bagi
orang laki-laki. Sebaliknya kalau kita bertukar katak,
barulah dua benda ajaib itu akau banyak gunanya bagi
kita." Ia tertawa menyeringai.
"Bagaimana kami bisa mempercayai omonganmu, Congsusiok.
»
“Bukankah katakmu itu berwarna hijau ? Katakku
berwarna merah dan kalau kalian mau buktinya, mari kita
keluarkan katak masing-masing." Sambil berkata demikian,
Cong Lung mengeluarkan sebuah kotak yang sama dengan
katak yang dibawa oleh Cui Lin. Ia membuka sedikit kotak
itu dan terdengarlah bunyi nyaring tinggi. ”Kok ! Kok I Kok !"
Pada saat itu, Cui Lin mengeluarkan seruan kaget karena
kotak di dalam saku bajunya bergerak. Cepat ia
10
mengeluarkan kotak itu dan membuka sedikit tutupnya.
"Kok- kok-kok !” terdengar suara keras dan besar dari dalam
kotak itu dan tutup kotak bergerak-gerak karena binatang
itu meronta-ronta.
"Nan, mereka sudah saling mengenal suara. Bagaimana
maukah kau bertukar, nona? Aku bersumpan bahwa aku
tidak menipumu."
Cui Lin yang memang tidak mendapat untung apa-apa
dari katak hijau yang ia rampas dari Tiang Bu, segera
menukarkan kotak berisi binatang aneh itu. Dan belum lama
begitu ia memegangi kotak berisi katak jantan, tiba-tiba
mukanya berubah merah dan tak lama kemudian ia tertawa
cekikikan sambil memeluk adiknya dan membisikkan
sesuatu di telinga adiknya. Juga Cui Kin tertawa cekikikan.
Agaknya dua orang gadis bermoral bejat ini sudah mulai
merasai pengaruh dari katak ajaib itu yang membuat mereka
terkekeh sambil berpelukan mereka hendak lari pergi dari
situ, akan tetapi Con Lun berkata.
"Nanti dulu, nona-nona manis. Ceritakan dari mana
mendapatkan katak ini ?"
"Dari dalam saku orang bernama Tiang Bu musuh kami.
Karena dia membawa katak itulah kami dapat merobohkan
dia, dan kami merampas kataknya setelah itu tak berdaya
lagi," jawab Cui Kim yang tertawa-tawa genit dengan mata
liar dan pipi kemerahan. Kemudian dia dan kakaknya
berlari-larian pergi, kelihatannya girang sekali.
“Perempuan cabul jangan lari......!” Tiba-tiba Bi Li
melompat keluar dengan marah. Sekarang tahulah Bi Li
bahwa Tiang Bu roboh di bawah kekuasaan dua orang
wanita itu karena pangaruh katak ajaib. Hal ini
menimbulkan kemarahan yang luar biasa padanya, maka
tanpa menanti isyarat dari Tiang Bu lagi ia sudah melompat
ke luar dan beberapa kali lompatan sudah berhadapan
dengan Cui Lin dan Cui Kim yang berhenti dan membalikkan
tubuh dengan heran. Dua orang gadis ini terheran-heran
11
melihat Tiang Bu yang mereka sangka sudah tewas. Cui
Kong tidak pernah bercerita tertang Tiang Bu kepada
siapapun juga, karena pemuda itu tentu saja malu bahwa
dirinya dibikin seperti bola mati oleh Tiang Bu. Akan tetapi,
ketika melihat Bi Li menyerang dengan ular di tangan kiri
dan pedang di tangan kanan, Cui Lin dan Cui Kim kaget.
Cepat merekapun mencabut pedang dan sebentar saja
mereka bertempur ramai.
Melihat Bi Li sudah turun tangan, Tiang Bu terpaksa
melompat ke luar pula. Ia memang ingin menawan seorang
di antara mereka untuk menjadi penunjuk jalan. Ia tidak
mengkhawatirkan Bi Li yang kiranya cukup tangguh untuk
menghadapi pengeroyoknya dua orang gadis cabul itu maka
ia segera menghampiri Cong Lun dengan tenang.
Sementara Cong Lun yang melihat munculnya seorang
gadis cantik jelita bersenjata ular dan nampak gagah sekali
kini sudah bertempur dikeroyok oleh Cui Lin dan Cui Kim,
maklum bahwa inilah agaknya dua di antara tamu-tamu
penting" yang dikatakan oleh Liok Kong Ji yaitu musuhmusuh
yang datang menyerbu Ui-tiok lim yang harus
dilawan. Maka melihat munculnya seorang pemuda tangan
kosong bersikap tenang, tanpa banyak cakap lagi ia lalu
memapaki dengan tangan kanan diulur untuk menangkap
Tiang Bu. Justeru pada saat itu, Tiang Bu juga mengulur
tangan untuk menangkapnya. Dua tangan bertemu, dua
tangan yang dibentangkan sehingga telapak tangan kanan
mereka saling bertumbukan.
“Plakk……” Tiang Bu merasa betapa ada semacam tenaga
mesedot yang luar biasa sekali keluar dari telapak tangan
lawan dan menjalar ke dalam tangannya sendiri membuat
tangannya terasa pegal-pegal dan kaku. Ia kagum bukan
main, tidak mengira bahwa lawannya memiliki tenaga
kweekang setinggi itu, maka tadi ia tidak mengerahkan
seluruh tenaga karena ia memang tidak berniat membunuh
orang.
12
Baiknya pemuda ini sudah melatih diri secara hebat
sekali di dalam gua yang ia sebut sendiri Gua Siluman di
dalam jurang di daerah lembah Sungai Huang-ho itu. Ia
telah mempelajari semua isi kitab Seng thian-to yang luar
biasa sekali, ilmu keturunan yang hanya menjadi rahasia,
diturunkan oleh Tat Mo Couwsu sendiri dan hanya dua
orang kakek Omei-san yang pernah melihat dan
mempelajarinya. Bedanya kalau kakek 0mei-san itu terlalu
banyak mempelujari ilmu silat dari kitab kitab itu, adalah
Tiang Bu dapat mempelajari Song-thian-to secara khusus
karena karena terkurung dalam jurang, maka kalau
dibandingkan dengan dua orang gurunya itu. Tiang Bu lebih
sempurna ilmunya yang ia pelajari dari kitab Song-thiau-to.
Hasilnya, ia memiliki sinkang yang luar biaya sekali, bahkan
lebih hebat dari pada ketika ia mewarisi sin-kang dari dua
orang gurunya, kemudian tenaga atau hawa sakti dalam
tubuhnya itu lenyap ketika ia tergoda oleh Cui Lin dan Cui
Kim.
Begiitu merasa ada tenaga menyedot luar biasa dari
telapak tangan lawannya, Tiang Bu mengerahkan sedikit
tenaga membetot dan dengan mudah saja ia dapat menarik
kembali tangannya. Cong Lung yang mendapat julukan Bankin
liong (Naga Bertenaga Selaksa Kati) di daerah utara
mengeluarkan seruan kaget. Ia sudah terkenal akan
tenaganya yang hebat luar biasa sehingga diumpamakan
seekor naga yang bertenaga selaksa kati. Setiap pukulannya
akan menghancurkan batu karang, tiap kali tangannya
menggunakan tenaga menyedot, tak seorangpun di dunia ini
dapat melepaskan diri dengan mudah. Akan tetapi bocah ini,
yang kelihatannya sederhana dan masih hijau, setelah kena
ditempel telapak tangannya, sekali betot sudah terlepas !
Apakah dia sudah kehilangan tenaganya ataukah bocah ini
yang menggunakan ilmu sihir? Dengan malu dan penasaran
sekali Cong Lung menyerang lagi, kini mengerahkan seluruh
Iweekangnya memberondong dada Tiang Bu dengan pukulan
tangan kanan kiri. Untuk menebus malu tadi Si Naga
13
Bertenaga Selaksa Kati ini rupa-rupanya hendak membunuh
Tiung Bu dalam sekali serangan. Akan tetapi, justeru inilah
kesalahannya, kalau ia mempergunakan ilmu serangan
biasa, dengan ilmu silatnya yang tinggi kiranya mereka
berdua masih akan dapat bertempur ramai untuk beberapa
babak lamanya. Celakanya, dia mengandalkan lweekangnya,
tidak tahu bahwa dalam hal ilmu ini menghadapi Tiang Bu
ia sama dengan berjumpa gurunya! Serangannya yang hebat
dan dilakukan dengan maksud membunuh ini memukul
dirinya sendiri. Tiang Bu menghadapi pukulan dahsyat ini
dengan tenang, hanya melakukan gerakan mendorong
dengan tangan kirinya ke depan untuk menghadapi
gelombang serangan dahsyat itu.
Ketika dua tenaga raksasa ini bertemu tubuh Tiang Bu
hanya bergerak sedikit ke belakang, akan tetapi yang hebat
adalah Cong Lung. Ia menjerit kesakitan, tubuhnya
terjengkang ke belakang dan jatuh telentang tak bergerak
lagi, pingsan. Dari mulutnya keluar darah segar. Masih
untung baginya bahwa Tiang Bu tadi tidak mengerahkan
tenaga untuk menyerangnya, hanya melakukan pertahanan
saja sehingga tenaga serangannya membalik dan
memukulnya sendiri. Kalau tenaga yang membalik ini
ditambah oleh tenaga serangan Tiang Bu sedikit saja, Cong
Lung tidak hanya akan roboh pingsan, akan tetapi tentu
akan mati seketika itu juga.
Sementara Cui Lin dan Cui Kim yang sedang mengeroyok
Bi Li merasa kewalahan juga. Gadis yang baru datang ini
lihai bukan main ilmu pedangnya, terutama sekali ular di
tangan kirinya itu merupakan senjata yang amat berbahaya
dan sukar dilawan. Tadinya dua orang gadis ini masih besar
hati karena di situ ada Cong Lung, akan tetapi ketika
melihat bahwa Cong Lung roboh pingsan, mereka kaget
bukan main dan cepat melompat ke belakang terus
melarikan diri.
14
"Siluman-siluman betina hendak lari kemana ?” Bi Li
membentak sambil mengejar dua orang lawannya yang
melarikan diri ke arah batu karang putih ke mana tadi Cui
Kong, juga pergi. Sambil mengejar, B Li menggerakkan
tangan dan beberapa buah senjata rahasia pat-kwa-ci
menyambar ke arah dua oran gadis yang melarikan diri itu.
Senjata rahasi yang dipergunakan oleh Bi Li ini adalah
senjata rahasia Ang-jiu Mo-li, hebatnya buka main. Biarpun
Cui Lin dan Cui Kim sudah memiliki kepandaian tinggi juga,
namun mereika terpaksa membalikkan tubuh dan
menggunakan pedang menyampok semua senjata rahasia
ini, tidak berani mereka berlaku semberono. Sementara
mereka membalik ini Bi Li sudah dekat lagi dan langsung
menyerang. Akan tetapi Cui Lin dan Cui Kim tidak mau
melayaninya, setelah sekali menangkis, mereka kembali lari,
Bi Li hendak melepas senjata rahasia lagi akan tetapi dua
orang lawannya sudah melompat ke belakang batu karang
dan terus lari sehingga untuk sesaat gunung batu karang
menjadi penghalang baginya.
“Bi Li, jangan kejar ...........!” seru Tiang Bu, tahu bahwa
Bi Li bukanlah serang gadis yang mudah tunduk menurut,
ia melompat mencegat. Dapat dibayangkan betapa
mendongkol hati Bi Li ketika tahu tangannya dipegang dan
ditarik dari belakang oleh Tiang Bu.
"Kau ..... kau begitu sayang kepada mereka sehingga
tidak ingin melihat aku membunuh mereka? Kau membela
kekasih-kekasihmu itu ...... ?” bentaknya marah sambit
membanting-banting kaki karena ia tidak berdaya
melepaskan pegangan tangan Tiang Bu.
"Bi Li, kau selalu salah mengerti. Dua orang wanita itu
amat eurang dan licin kau harus ingat bahwa agaknya kita
sudah sampai di daerah Ui-tiok-lim, siapa tahu mereka itu
sengaja memancingmu untuk mangejar kemudian
menjebakmu! Pula, aku sudah berhasil menangkap yang
seorang itu dia bisa menjadi penunjuk jalan ke Ui tiok-lim.
15
Mendengar ini, dan melihat bahwa dua orang gadis tadi
sudah lenyap dari situ, Bi Li mengalah. Akan tetapi pandang
matanya kepada Tiang Bu masih membayangkao ke-tidak
senangan hatinya. Tiang Bu merasa hal ini ia tahu pula
bahwa tentu gadis ini memandang rendah kepadanya setelah
mendengar percakapan antara Cui Lin, Cui Kim dan Cong
Lung tadi.
Bi Li menghampiri Cong Lung yang masih pingsan. Ia
metihat saku baju orang itu dan teringatlah ia akan katak
ajaib yang berada di dalam peti. Tanpa banyak cakap lalu
mengambil peti kecil itu dari dalam saku baju Cong Lung.
"Bi Li, jangan ...... sentuh binatang itu!” Tiang Bu berseru
dan mengulur tangan hendak merampasnya.
Bi Li mengelak dan mengejek, matanya bersinar marah.
"Manusia rendah kau hendak merampasnya dan mengulangi
perbuatan rendah seperti dulu dengan dua orang pelacur
tadi?"
Tiang Bu tersentak kaget. Sungguh diluar dugaannya
gadis ini akan begitu marah. Benar-benar sukar dimengerti
watak wanira. "Tidak, Bi Li. Aku....... aku hendak
membunuh binatang berbahaya itu!”
"Bukan kau, akan tetapi aku yang akan membunuhnya.
Binatang menyebalkan, menjijikkan!" Dengan gemas ia
membuka peti kecil itu dan...... katak hijau itu melompat ke
luar cepat bukan main dan di lain saat ular di lengan Bi Li
sudah putus lehernya tergigit oleh kaiak itu! Anehnya, tiga
ekor ular lain yang tadinya bersembunyi di saku baju Bi Li,
kini meruyap ke luar semua, nampak ketakukan dan hendak
melarikan diri. Akan tetapi, cepat seperti bersuyap, katak itu
sudah melayang lagi dan dalam sekejap mata saja, dua ekor
ular lain sudah putus lehernya dan mati. Tinggal seekor lagi
ular kecil bersisik putih yang dengan ketakutan mencoba
bersembunyi di balik lipatan baju Bi Li. Katak hijau itu
mengejar terus dengan buasnya. Melihat ketiga ekor ularnya
16
mati digigit katak yang dibencinya ini, Bi Li menjadi makin
marah.
“Katak siluman mampuslah !” Tangannya mencengkeram
ke arah katak, akan tetapi katak itu bukan main cepat
gerakannya karena sudah dapat mengelak lagi melompat ke
bawah dan cepat menyambar ke belakang tubuh Bi Li untuk
mengejar ular bersembunyi di balik punggung. Dengan
mulut terpentang lebar katak itu menyerang dari luar baju,
tercium olehnya agaknya bau ular yang bersembunyi di balik
pungung. Sebelum Bi Li dapat mengelak, katak itu ternyata
sudah menempel di punggungnya, menggigit kulit daging
punggungnya dan tidak dapat teelepas lagi. Bi Li menjerit
dan roboh terguling, pingsan. Ternyata bahwa ketika katak
itu menyambar ke arah ular yang bersembunyi di balik
bajunya, katak ini mencium bau harum luar biasa yang
sumbernya berada di punggung Bi Li, maka mengira kalau
ular tadi berada di situ, ia lalu menggigit sekuat tenaga.
Akan tetapi, begitu menggigit, katak itu bertemu dengan
racun yang dulu dipasang oleh Tee-tok Kwan Kok Sun di
bawah kulit punggung anaknya ini dan gigitan itu tak dapat
terlepas lagi karena katak ajaib ini telah tewas. Di lain fihak,
racun yang keluar dari mulut katak sudah menjalar ke
tubuh Bi Li, bertemu dengan racun penarik ular, terjadi
perang hebat menimbulkan hawa panas membakar tubuh
gadis itu sehingga Bi Li roboh pingsan.
Tiang Bu kaget dan cepat mameluk tubuh gadis itu
sehingga tidak terbanting. Ia lebih kaget lagi merasa betapa
tubuh itu panas membakar. Pertama-tama in melihat katak
itu yang ternyata sudah mati akan tetapi masih lengket pada
punggung Bi Li. Dan ular itu sudah bersembunyi di tempat
aman, di dalam lipatan baju. Tiang Bu menjadi bingung.
Biarpan sudah pernah mempelajari ilmu pengobatal dari
Wan Sin Hong tentang luka-luka dan akibat racun, namun
belum pernah ia mendengar tentang racun katak hijau,
katak pembangkit asmara! Malah baru sekarang ia tahu
bahwa ”gilanya" dia dulu ketika ia tergoda oleh Cui Lin dan
17
Cui Kim juga karena hawa beracun dari katak hijau ini.
Berita yang ia dengar dari percakapan tadi tentang khasiat
katak hijau terhadap pria, membuat ia terhibur sedikit.
Setidaknya ia mempunyai alasan kini mengapa ia dahulu
sampai melakukan perbuatan rendah itu. Kiranya ia berada
di bawah pengaruh katak pembangkit asmara.
Tiang Bu tidak berani sembarangan mempergunakan
obat-obatnya untuk menolong Bi Li sebelum ia tahu betul
obat apa yang harus diberikannya. Ia menarik bangkai katak
itu, tanpa ragu-ragu lagi merobek baju Bi Li bagian
punggung setelah miringkan tubuh gadis itu. Tampak kulit
punggung yang putih halus dan bekas gigitan katak itu
meninggalkan bekas kehijauan. Anehnya, ia melihat bintik
merah di punggung itu. bintik yang agaknya sudah lama ada
dan yang mengeluarkan bau harum keras sekali. Kini bintik
merah itu dilingkari bekas gigitan katak yang berwarna
hijau. Tiang Bu mengambil pedang Bi Li yang terlempar di
atas tanah menggunakan ujung pedang untuk melukai
sedikit pada punggung Bi Li dan melihat darah yang keluar
diri luka. Darah yang keracunan selalu mendatangkan
warna yang akan dapat memastikan obatnya. Keluarlah
darah merah segar dari luka itu, darah merah biasa seperti
darah orang sehat. Aneh sekali, pikir Tiang Bu. Saking
penasaran ia menusuk lagi di dekat luka gigttan katak itu.
Kembali mengalir darah merah segar, sama sekali tidak ada
tanda-tanda racun. Tiang Bu menjadi makin bingung. Hanya
dengan melihat warna darah orang yang tergigit binatang
berbisa, ia akan dapat menentukan obat yang mana harus ia
pakai. Akan tetapi darah Bi Li ternyata darah sehat yang
sama sekali tidak memperlihatkau tanda keracunan.
Tiang Bu mengeluarkan buku catatannya tentang
pengobatan ketika ia belajar dari Wan Sin Hong. ia membaca
dan membalik-balik lembaran catatannya itu namun sia-sta
belaka. Dia masih terlalu hijau dalam hal ini. Kalau Wan Sin
Hong berada di situ pendekar ini akan tahu sebabnya dan
akan tertawa, karena sesungguhnya, racun dari katak hijau
18
itu lenyap kekuatannya oleh racun merah yang berada di
tubuh Bi Li, racun merah yang dahulu dimasukkan ke
punggungnya oleh Tee-tok Kwan Kok Sun. Racun merah
inilah yang mengeluarkan bau harum dan yang menarik
semua ular-ular berbisa yang segera menjadi jinak kalau
berdekatan dengan Bi Li. Kini dua macam racun itu saling
serang dan kedua-duanya menjadi habis kekuatannya.
Perlahan-lahan dan racun yang bertawanan itu menjadi
musnah lenyap di dalam darah yang segar, yang mempunyai
daya sendiri untuk melebur dua macam racun yang sudah
tidak ada gunanya itu. Racun katak lenyap juga racun
merah yang menimbulkan bau harum itu musnah. Bau
harum dari tubuh Bi Li makin lama makin menghilang dan
ia menjadi seorang menusia biasa lagi.
Karena kehabisan akal dan tidak tahu harus
mempergunakan obat apa, Tiang Bu hanya bisa mengambil
obat tempel untuk mengobati luka-luka bekas gigitan katak
dan bekas tusukan ujung pedang, ditempelkau di punggung
gadis itu. Kemudian ia membereskan lagi baju di bagian
punggung yang trrbuka dan mengangkat Bi Li ke tempat
bersih, di atas rumput yang tumbuh di bawah pobon. Baru
saja ia menurunkan Bi Li di atas rumput, gadis itu siuman,
mengeluh perlahan, disambung seruan yang menyenangkan
hati Tiang Bu.
•Aduh nyamannya....... .....!” Ketika pemuda itu meraba
jidat Bi Li, ternyata hawa panas tadi sudah hilang dan
keadaan Bi Li sudah normal kembali. Gadis itu bangkit
duduk dan teringatkah dia akan katak hijau yang
menyerangnya tadi.
“Mana binatang itu ?” katanya gemas.
“Dia sudah mati setelah menggigit punggungmu. syukur
kau tidak apa-apa,” kata Tiang Bu yang menceritakan
dengan singkat kejadian tadi. Bi Li menyesal bukan main
kehilangan tiga ekor ularnya. Kini ia hanya tinggal
mempunyai seekor ular kecil bersisik putih itu, akan tetapi
19
ular ini cukup berbahaya. Ia sendiri masih belum insyaf
bahwa sekarang pengaruhnya terhadap ular telah lenyap,
bau harum yang aneh itu telah meninggalkan tubuhnya.
Ular kecil putih yang tinggal satu satunya itu masih jinak
kepadanya karena sudah lama ia pelihara.
Terdengar keluhan orang dan Cong Lung bergerak lalu
duduk sambil meringis kesakitan.
“Kau benar-benar orang lihai, orang muda,” katanya
sambil memandang ke arah Tiang Bu dengan kagum,
"Kau sudah mengaku kalah?" desak Tiang Bu.
Cong Lung mengangguk. "Belum pernah aku bertemu
dengan lawan seperti engkau akan tetapi kalau lukaku
sudah sembuh, aku masih ingin minta petunjuk darimu
dalam ilmu silat. Sispakah namamu ?”
"Namaku Tiang Bu dan kalau kau sudah mengaku kalah,
sekarang kau harus menjadi petunjuk jalan kami memaauki
Ui-tok-lim.
Mendengar nama itu, Cong Lung agak terkejut. “Kau
bernama Tiang Bu ? Aku pernah mendengar tentang Putera
Liok-taihiap yang bernama Tiang Bu .....”
”Bukan aku ! Aku musuh besar Liok Kong Ji. Bawa aku
ke sana."
Tiba-tiba Cong Lung bergelak, kelihatannya geli.
“Kau....... ? Kau hendak memasuki Ui-tiok-lim untuk
mencari Liok-taihiap? Benar-benar sukar dipercaya. Akan
tetapi kalau demikian kehendakmu, marilah kuantar kalian
ke Ui tiok-lim!” Ia melompat berdiri dan tiba-tiba ia merabaraba
saku bajunya, keningnya berkerut.
“Katak hijau yang kotor itu telah mampus, tak porlu
kaucari lagi,” kata Tiang Bu sambil menunjuk ke arah
bangkai katak yang sudah kering.
Cong Lung menarik napas panjang berulang-ulang,
kelihatannya menyesal bukan main. Ia mengerling ke arah
20
wajah Bi Li yang amat jelita itu, lalu berkata, "Sayang....... !"
Akan tetapi ia segera berjalan cepat dan berkata, “Marilah !"
Dengan hati-hati sekali Tiang Bu mengikutinya, memberi
isyarat kepada Bi Li untuk berjalan di belakangnya. Gadis
itupun bersiap-siap; berjalan di belakang Tiang Bu dengan
pedang di tangan kanan dan ular putih melingkar di
pergelangan tangan kiri.
Cong Lung berlarl mengitari Pegunungan Batu Karang
Putih, lalu memnbelok ke kiri menuju ke pegunungan yang
penuh dengan batu karang dan sebatang pohonpun tidak
kelihatan dari bawah. Orang yang hendak mencari Ui tiok
lim *Hutan Bambu Kuning) tidak nanti akan mengambil
jalan ini karena siapakah orangnya mau mencari sebuah
hutan di atas pegunungan yang begitu kering penuh batu
melulu ? Inikah keistimewaan Ui-liok-lim yang amat sukar
dicari orang. Tidak saja letaknya di tempat yang tak
semestinya, yitu di atas pegunungan batu karang, akan
tetapi juga amat sukar mencari jalan di antara batu karang
itu. batu-batu yang berada di situ menjulang tinggi
menutupi pandangan sehingga orang mudah tersesat tidak
mengenal daerah ini.
Cong Lung adalah seorang di antara kaki tangan Liok
Kong Ji. Liok Kong Ji satelah mengundurkan dari bala
tentara Mongol dan berhasil mengumpulkan harta kekayaan
besar sekali dari harta rampasan di istana Kerajaan Kin dan
hadiah hadiah diri Jengis Khan, lalu hidup sebagai raja
muda di Ui tiok lim. Di tengah Rimba Bambu Kuning ini
mendirikan gedung besar seperti istana yang mempunyai
hampir seratus buah kamar. Kini Kong Ji tinggal bersama
selir-selirnya yang jumlahnya ada enam belas orang muda
muda, ayu-ayu, didampingi pula oleh tiga orang “anak
angkatnya" yaitu Liok Cui Kong, Cui Lin dan Cui Kim.
Tadinya Cui Kim juga menjadi calon selirnya akan tetapi
semenjak ia mendengar bahwa dua orang "anak” ini sudah
melayani Tiang Bu, ia tidak mau menganggu mereka. Dasar
21
manusia berwatak bejat biarpun di depan matanya ia
melihat betapa Cui Lin dan Cui Kim dua orang gadis cabul
itu bermain gila dengan “kakaknya” sendiri Cui Kong,
namun Kong Ji sengaja menutup mata. Dapat dibayangkan
betapa rusak dan bejat moral orang-orang yang tinggal di Uitiok-
lim.
Karena maklum bahwa ia mempunyai banyak musuh,
terutama sekali ia merasa jerih terhadap Wan Sin Hong,
Kong Ji telah memilih lima orang jagoan yang memiliki
kepandaian tinggi. Lima orang ini adalah kawan-kawannya
yang ia kenal di dalam perantauannya, bahkan mereka telah
pula membantu pergerakan tentara Mongol. Dengan lima
orang ini Kong Ji yang cerdik mengangkat saudara dan dia
diangkat menjadi saudara tua. Bukan karena usia,
melainkan karena kepandaiannya, kedudukannya dan
terutama sekali karena hartabendanya. Dua di antara lima
orang “adik angkat” ini adalah si muka pucat Cong Lung ahli
lweekeh itu dan orang tinggi basar muka Imam yang muncul
bernama Cong Lung, bernama Ma It Sun. Seperti juga Cong
Lung, Ma It Sun ini adalah seorang tokoh besar di
perbatasan utara yang sudah lama malang melintang
sebagai seorang penyamun tunggal yang disegani karena
golok besarnya. Maka ia mempunyai julukan Twa-to (Si
Golok Besar). Tiga orang yang lain juga bukab orang-orang
biasa, melainkan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang
sudah terkenal memilih kepandaian tinggi. It-ci-san Kwa Lo
It Dewa Jari Tunggal adalah seorang ahli totok dari barat,
berwajah gagah penuh brewok berusia lima puluh tahun.
Orang ke empat tak lain adatah Lee Bok Wi, seorang kate
kecil, berusia belum empat puluh tahun namun sudah
membuat nama besar karena kepandaian meneopetnya yang
luar biasa sehingga ia mendapat julukan Koai- jiu Sin-touw
(Malaikat Copet). Yang ke lima adalah seorang hwesio
murtad dari Siauw lim-si, ahlit toya bernama Hok Lun
Hosiang. Dengan adanya lima orang ini di sampingnya. Liok
Kong Ji merasa aman. Dia dan anak-anak angkatnya sudah
22
merupakan barisan yang amat kuat dan sukar terkalahkan,
apa lagi para selirnya juga rata-rata memiliki kepandaian
silat karena ia beri latihan, lalu para pelayan yang puluhan
jumlahnya juga bukan orang-orang sembarangan. Keluarga
besar berikut kaki tangannya ini selain amat kuat, juga
mereka tinggal di Ui-tiok-lim, sebuah hutan rahasia yang
penuh jebakan- jebakan, penuh perangkap- perangkap
berbahaya juga bambu yang tumbuh di situ diatur menurut
tin ( barisan ) tertentu sehingga belum pernah ada musuh
dapat masuk. Sekali masuk, orang akan tersesat dan
menghadapi pasangan perangkap yang aneh-aneh dan
menyeramkan dan jaranglah ada orang masuk dapat keluar
kembali dalam keadaan hidup !
Akan tetapi sekarang Cong Lung telah terjatuh ke dalam
tangau Tiang Bu, pendekar muda yang baru muncul dan
memaksanya menjadi petunjuk jalan memasuki Ui-tiok-lim.
Sudah tentu saja Cong Lung dan kawan-kawanrya dapat
memasuki Ui-tiok-lim melalui jalan satu-satunya, jalan
rahasia yang tidak diketahui orang luar. Cong Lung berlarilari
di antara batu-batu karang yang sulit untuk dikenal
karena semua hampir sama dan jalan yang dilaluinya ini
benar benar sukar untuk diingat. Tiang Bu sendiri yang
biasanya amat cerdik, menjadi bingung ketika untuk
kesembilan kalinya Cong Lung menikung pada tikungan
yang kelihatannya sama saja dengan yang tadi, seolah-oleh
mereka menikung pada belokan yang itu-itu juga.
Cong Lung tentu tidakakan termasuk seorang diantara
"lima besar” yang sudah mendapat kehormatan diangkat
saudara oleh Liok Kong Ji kalau dia seorang bodoh. Seperti
juga Liok Kong Ji dan semua kaki tangannya, Cong Lung ini
juga selain lihai ilmu silatnya, lihai pula otaknya. Ia cerdik
sekali. Melihat kehebatan ilmu kepandaian pemuda yang
menawannya ini, ia maklum bahwa melawan takkan ada
gunanya. Oleh karena itu ia sengaja mengalah dan takluk,
lalu bersedia mangantar Tiang Bu dan Bi Li ke Ui tiok-lim.
23
Akan tetapi ini hanya pancingan belaka. Hal ini diketahui
oleh Tiang Bu sebelah terlambat.
Ketika menikung untuk kesebelas kalinya tiba-tiba Cong
Lung mendorong sebuah gunung-gunungan di sebelah
kirinya. Batu karang yang berbentuk bukit kecil itu tentu
beratnva laksaan kati, akan tetapi anehnya ketika didorong
oleh Cong Lung lalu bergeser dan terbukalah sebuah lubang
seperti sumur. Cong Lung sudah mendesak masuk dan
tubuhnya terguling ke dalam sumur di balik batu karang itu.
Terdengar ia menjerit ngeri !
Tentu saja Tiang Bu dan Bi Li kaget bukan main dan
sempat menahan kaki tidak mengikuti jejak Cong Lung.
Kalau demikian halnya tentu mereka juga akan terjerumus
ke dalam sumur itu pula. Akan tetapi, ketika mereka
menahan kaki dan beidiri tegak dan ngeri di depan batu
karang itu tiba-tiba saja tanah yang mereka injak nyeplos ke
bawah! Untuk melompat tiada kesempatan lagi karena kiri
tebing gunung batu karang, di depan menghalang batu
karang yang ada sumur di belakang itu.
“Celaka ......!!” seru Tiang Bu yang cepat menyambar
lengan tangan Bi Li sehingga mereka dapat melayang turun
bersama ke bawah. Ketika kaki mereka menyentuh tanah,
ternyata mereka telah terjerumus ke dalam sumur yang
dalamnya ada lima tombak lebih gelapnya bukan main dan
di sekeliling mereka adalah dinding batu karang yang keras
dan licin belaka. Terdengat suara ketawa dari atas dan
alangkah heran dan mendongkolnya hati Tiang Bu dan Bi Li
ketika mendatpat kenyataan bahwa yang menertawakan
mereka itu alalah Cong Lung yang tadi dikira mati tersuling
ke dalam sumur. Tidak tahunya itu hanya akal belaka dari si
muka pucat yang lihai.
"Ha-ha ha, Tiang Bu. Biarpun kau menghadapi kematian
di dalam jurang maut itu, kau tidak penasaran karena di
sampingmu ada bidadari cantik Ha-ha, puaskanlah hatimu
sebelum mampus orang muda!" Kemudian keadaan sunyi
24
sekali karena si muka pucat itu segera pergi meninggalkan
tempat itu. Tiang Bu berusaha melompat ke atas, akan
tetapi kedua tangannya terbentur batu karang yang telah
menutup lagi lubang itu dari atas, agaknya semua itu tadi
digerakkan oleh alat-alat tersembunyi yang sengaja dipasang
di situ untuk menjebak musuh.
"Tidak ada jalan ke luar ?” tanya Bi Li, suaranya tenang
saja karena gadis ini tidak takut menghadapi bahaya. Di
dalam gelap Bi Li tidak tinggal diam, iapun meraba-raba
dinding mencari-cari jalan ke luar.
"Tiang Bu, di sini ada lobang besar !" serunya dari arah
kiri. Tiang Bu eepat menghampiri ke arah suara gadis ini
dan karena keadaan di situ amat gelap, hampir saja beradu
muka dengan Bi Li.
"Hugh, kau gila. Main tubruk saja !” gadis itu menegur.
"Maaf tidak kusengaja, Bi Li. Mana lubang itu ?"
"Ini rabalah. Nah, bukankah ini merupakan jalan
terowongan ?”
Tiang Bit meraba-raba. Memang betul, pada dinding
sebelah kiri itu terdapat lubang, antara satu tombak
tingginya dari dasar sumur. Telowongan batu karang yang
cukup besar untuk orang merayap masuk, basah dan licin.
Memang ada bahayanya tempat seperti itu dipergunakan
oleh binatang buas seperti ular untuk bersembunyi, akan
tetapni dari pada mati konyol di dalam sumur, lebih baik
berusaha mencari jalan. keluar.
"Bi Li, mari kau ikut di belakangku. Kita memeriksa
terowongan ini akan membawa kita sampai ke mana."
“Aku di depan, aku yang membawa pedang,” kata Bi Li.
”Tidak, kau di belakang. Biar aku yang menghadapi
bahaya lebih dulu”
"Kalau begitu, bawalah pedangku, Kalau kau tidak mau,
akupun tidak mau di belakang.” Bi Li berkeras. Akhirnya
25
Tiang Bu mengalah dan menerima pedang gadis itu, lalu ia
melompat ke dalam lubang terowongan diikuti oleh Bi Li.
Dua orang muda ini merayap terus. Terowongan itu panjang
sekali dan di dalam gelap itu rasanya ada setengah hari
mereka merangkak sampai kaki tangan terasa sakit akhirnya
mereka tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup
besar seperti sebuah kamar tidur atau sebuah kamar
tahanan. Ini lebih baik, setidaknya lebih lebar dan ada sinar
masuk dari atas membuat mereka dapat saling melihat,
biarpun hanya remang-remang seperti orang melihat
bayangan. Kembali mereka benar-benar terkurung oleh
empat dinding batu karang yang amat kuat.
"Bagaimana Tiang Bu? apakah kita harus mati konyol di
tempat ini?"
Tiang Bu tak segera menjawab, hatinya tertusuk. Setelah
memeriksa agak lama, iapun habis harapan. Perjalanan
melalui terowongan tadi sama dengan perjalanan mencari
kuburan mereka sendiri. Tidak ada jalan keluar lagi dan
bicara tentang pertolongin sama dengan mimpi kosong.
”Agaknya begitulah, Bi Li. Bagi aku.... seorang rendah
budi dan kotor. masih tidak apa ..... akan tetapi kau ...... .”
Suaranya tertahan haru.
"Akupun tidak lebih baik dari pada kau. Tak perlu kita
bersedih menghadapi saat terakhir. Lebih baik kita saling
menceritakan riwayat masing-masing. Nah, kaumulailah
Tiang Bu.”
”Keadaanku sudah kuceritakan kepadamu walaupun
singkat. Apa sih yang menarik dari diriku yang tak berharga
ini?”
“Belum semua kauceritakan, misalnya tentang.-.......
mengenai....... dua orang gadis kakak beradik itu. Aku ingin
sekali mendengar ceritamu tentang mereka. Manis, benarkah
sikap mereka terhadaprau. Tiang Bu?" Biarpun kata-kata ini
diucapkan lemah-lembut, namun terasa oleh Tiang Bu
26
betapa di dalamnya mengandung hawa marah dan tak
senang. Heran !
"Bi Li, tentu kau mendapat kesan buruk sekali setelah
kau mendengar percakapan antara mereka itu. Aku tidak
menyalahkan kau memang sudah sepatutnya kau
memandang hina kepadaku. Aku orang lemah iman dan
berberwatak kotor dan cabul. Kau mau mendengar
riwayatnya? Baik, dengarlah. Ketika aku bertemu dengan
mereka, Cui Kong dan dua orang gadis itu, Cui Kim dan Cui
Lin, di dalam pertempuran aku dapat mengalahkan mereka.
Akan tetapi mereka membujuk dan mengatakan bahwa
sebapai anak-anak dari Liok Kong Ji tidak selayaknya kita
bermusuhan. Mereka membawaku ke rumah di lembah
Sungai Huang-ho dan di sana mereka mulai menipuku. Dua
orang grdis itu sengaja membujuk rayu. mempergunakan
kecantikan mereka dan di luar tahuku, katak hijau yang
kubawa dan kurampas dari tangan isteri Pek thouw-tiauwong
itu membantu usaha keji mereka. Dan aku terjeblos, tak
berdaya di dalam permainan mereka. Akhirnya setelah aku
tidak berdaya lagi, mereka melemparku ke dalam jurang di
mana seharusnya aku mampus sebagai hukuman atas dosadosaku.
Akan tetapi agaknya Thian belum menghendaki
orang macam aku ini mampus, agaknya aku harus bertemu
dengan orang-orang agar aku menderita malu. Setelah
terkurung hampir tiga tahun, aku dapat meloloskan diri dari
tempat itu kembali ke dunia ramai. Nah, demikianlah cerita
tentang dua orang gadis itu. Kau tentu akan makin jemu,
bukan ?”
Bi Li tidak menjawab, takut kalau suaranya akan
tergetar. Diam-diam ia merasa terharu, kasihan dan kagum
sekali kepada Tiang Bu yang dianggapnya amat jujur dan
berbudi mulia. Ia dapat mengerti bahwa perbuatan Tiang Bu
itu tentu karena pengaruh hawa racun dari katak hijau yang
dari namanya saja katak pembangkit asmara, sudah dapat
diduga bagaimana pengaruhnya terhadap seorang pria.
Kesalahan Tiang Bu pantas dimaafkan.
27
Sebaliknya Tiang Bu mengira bahwa gadis itu tentu
muak dan jemu mendengar penuturannya tadi maka diam
saja. Untuk melenyapkan suasana muram ini, ia lalu
bertanya dengan suara dibikin gembira. "Bi Li, tahukah
kamu di mana adanya Wan Sun kakakmu itu? Aku angin
sekali bertemu dengan dia." Sebetulnya ucapan ini kosong.
karena dalam keadaan seperti itu, menghadapi maut karena
tidak ada jalan keluar, bagaimana bicara tentang ingin
bertemu dengan Wan Sun?
"Dia bukan kakakku," bantah Bi Li sambil duduk di
pojok kamar batu itu melepaskan lelah. "Dan aku tidak tahu
ke mana perginya. Mungkin pergi bersama Wan Sin Hong
taihiap yang datang menolong kami pada saat kami
terdesak." Lalu gadis ini menceritakan pengalamannya pada
saat kota raja diserbu bala tentara Mongol dan pada saat itu
ia mendengar pengakuan Kwan Kok Sun sehingga ia pergi
meninggalkan Wan Sun.
Tiang Bu menarik napas panjang. "Memang aneh, dia
bukan kakakmu padahal semenjak kecil berdekatan, akan
tetapi dia adalah adik kandungku berlainan ayah, biarpun
kami tak saling mengenal. Aku ingin sekali bertemu dengan
adikku itu. Ingin aku berbuat sesuatu untuknya, berkorban
sesuatu untuknya demi baktiku kepada ibu yang tentu amat
mencintanya....... ”
Bi Li menjadi terharu. Mulia benar hati pemuda ini.
"Memang,....... ibu....... eh. Nyonya Wanyen amat sayang
kepadanya. juga kepadaku. Dan San-ko sudah ditunangkan
dengan Coa Lee Goat, puteri Coa Hong Kin..."
"Betulkah ?” Tiang Bu berjingkrak seperti hendak menari
kegirangan. "Dengan Lee Goat adikku? Ha-ha-ha. Lee Goat
adikku manis yang suka menangis ! Ahh, alangkah baiknya
...... alangkah bahagiannya kalau saja aku dapat
menyaksikan pernikahan itu....... !” Tiba-tiba ia berhenti
bicara karena segera teringat akan keadaannya bersama Bi
Li yang agaknya sudah tidak ada harapan lagi itu.
28
“Kau seorang yang baik sekali, Tiang Bu.......” kata Bi Li
lirih terharu.
"Ah, hanya kau yang memujiku, Bi Li. Kaulah orang baik,
adapun aku....... aku orang lemah .......”
"Tidak, kaulah satu-satunya orang yang mendatangkan
kagum dalam hatiku."
Mendengar kata-kata yang jujur ini Tiang Bu melengak.
”Bi Li..,.. kau tidak berolok-olok ? Kau ..... betulkah katakatamu
itu ?”
Bi Li mengangguk.
“Terima kasih Bi Li, terima kasih.” menyentuh tangan
gadis itu. "Sekarang aku bersiap untuk mati dengan hati
senang. Setidaknya ada orang yang...... suka kepadaku. Kau
suka kepadaku, Bi Li? Betulkah ini ?”
“Aku..... aku suka kepadamu, Tiang Bu.”
”Luar biasa ! Hampir tak dapat aku percaya ! Bi Li, kau ..
gadis perkasa yang begini cantik jelita, bekas puteri
pangeran....... bisa jadikah kau suka kepada laki-laki
semacam aku ini yang buruk rupa, miskin, dan hina? Bi Li,
jangan kau mempermainkan aku dengan ini ! Jangan....... .."
Suara Bi Li terdengar keras dan marah ketika ia
menjawab, "Tiang Bu. apa kaukira aku menjual hatiku
begitu murah, suka kepada laki-laki hanya oleh wajah
tampan dan budi bahasa halus belaka ? Kau memang tidak
tampan, juga tidak pandai mengambil hati akan tetapi,
watakmu gagah perkasa, budimu mulia dan kau benarbenar
seorang jantan sejati. Itulah yang kusuka .....”
Saking girang dan herannya. Tiang Bu hanya berdiri
seperti patung, mengerahkan selurub tenaga urat-urat
matanya untuk menembus kegelapan agar ia dapat menatap
pandang mata gadis itu membaea isi hatinya. Akan tetapi
kegelapan menghalanginya. Bi Li tetap merupakan bayangan
yang duduk tersardar pada dinding batu karang.
29
Tiba-tiba keduanya tersentak kaget ketika mendengar
seruan-seruan tertahan disusul oleh makian dan teriakan
kesakitan, tepat di balik dinding sebelah kanan. Agaknya di
balik dinding sebelah kanan itu terdapat "kamar tahanan"
pula dan baru saja ada orang orang. wanita dilempar masuk,
karena segera ada suara dua orang wanita di balik dinding
itu. Alangkah heran dan kagetnya hati Tiang Bu dan Bi Li
ketika mereka mengenal suara-suara itu sebagai suara Cui
Lin dan Cui Kim !
"Benar-benar manusia berhati binatang Cui-Kong itu”
terdengar Cui Kim memaki marah. Dahulu dia bemanis
muka, membujuk bujuk kita dan menyatakan cintanya,
semua itu palsu belaka....... !" terdengar gadis ini menangis.
“Memang hati laki-laki semua palsu, mana yang bisa
dipercaya?” kata Cui Lin, suaranya mengandung kemarahan.
"Apa lagi Cui Kong, dia malah lebih jahat dari semua lakilaki
yang pernah kita jumpai. Kurang apa kita membantu
dia? Sampai-sampai kita mengorbankan diri beberapa kali
kepada musuh yang terlalu berat untuk ditawan dengan
kekerasan, terpaksa kita mempergunakan kecantikan untuk
mengalahkan musuh. Sekarang melupakan kita, malah
memusuhi kita. Benar-benar anjing biadab !”
“Agaknya ini hukuman bagi dosa-dosa kita, enci Lin.
kalau aku mengingat akan Tiang Bu yang dulu kita goda,
benar-benar aku masih merasa malu. Dia itulah laki-laki
sejati dan kita harus mengaku bahwa tanpa bantuan katak
hijau kiranya tak mungkin kita dapat menjatuhkannya.
Kalau aku tahu Cui Kong akan menyia-nyiakan kita dan
menyiksa seperti ini, lebih baik aku dulu turut dan
membantu Tiang Bu. Dia laki-laki gagah betilmu tinggi......”
"Hush, adik Kim, bagaimana kau bisa melamun yang
tidak-tidak? Cui Kong sudah menipu kita dan melempar kita
ke tempat ini. Kita sudah tertotok hiat-to kita sehingga tidak
berdaya keluar dari tempat ini. Kalau ayah tidak lekas-lekas
mencari kita dan Cui Kong mendiamkan saja apakah kita
30
tidak akan mati kelaparan......?” Kedua orang gadis ini lalu
menangis terisak-isak.
Sementara itu, di balik dinding batu itu, Tiang Bu
memegang tangan Bi Li dengan hati girang. “Bi Li,
kesempatan baik untuk lolos dari sini, bahkan untuk
menyerbu masuk mencari manusia Liok Kong Ji." Tanpa
menanti Bi Li menjawab, Tiang Bu mengetuk- ngetuk
dinding batu itu dan berkata dengan suara nyaring.
"Cui Lin dan Cui Kim. Aku Tiang Bu berada di sini,
terjebak oleh Cong Lung. Kalau kalian bisa menolongku
keluar, tentu akupun dapat menolong kalian !"
Suara tangis di sebelah terhenti seketika dan agaknya
dua orang gadis itu terheran dan kaget. "Kau di situ. Tiang
Bu ? terdengar Cui Lin berkata, hati-hati sekali. "Bagaimana
kau bisa menotong kami yang pernah mencelakaimu?”
"Tolonglah aku keluar dari sini, tentu aku akan
melupakan perbuatan kalian yang dulu dan aku akan
berusaha menolongmu ke luar pula serta membebaskan
hiat-totmu yang tertotok."
Beberapa lama tidak terdengar jawaban, agaknya emci
dan adik itu berunding. Kemudian terdengar lagi suara Cui
Lin melalui celah-celah kecil di tembok batu karang itu.
”Tiang Bu kau cari sebuah batu berbentuk tengkorak di
ujung kanan bagian ini, putar hulu tengkorak itu tiga kali ke
kiri, akan terbuka pintu rahasia."
Bukan main girangaya hati Tiang Bu mendengar ini.
Cepat tangannya meraba-raba akhirnya ia mendapatkan
batu tengkorak itu. Hatinya berdebar tegang ketika
tangannya mengerahkan tenaga memutar batu tengkorak ke
kiri.
“Kriiittt ....... !" Perlahan-lahan terbukalah pintu rahasia
yang tidak kelihatan di ujung itu. Tiang Bu dan Bi Li
menerohos ke luar. Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan
sudah curiga kepada Bi Li yang sejak tadit diam saja. Begitu
31
melihat pedang berkelebat ia menangkap pergelangan tangan
Bi Li.
"Bi Li, demi Thian....... kau hendak berbuat apa ?"
“Tiang Bu, dua ekor siluman seperti dia patut dibunuh !
Apa kau hendak melindungi mereka ini, due ekor siluman
jahat bekas...... bekas...... kekasihmu.... ?"
Ruangan di mana Cui Lin dan Cui Kim berada ini cukup
terang sehingga mereka dapat saling melihat wajah masingmasing.
Dua orang gadis itu menggeletak dalam keadaan
setengah lumpuh dan tidak berdaya karena sudah tertotok
hiat-to (jalan darah) mereka. Bi Li nampak marah sekali,
sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api ketika ia
memandang kepada dua orang gadis itu.
”Sabarlah, Bi Li. bukan perbuatan gagah untuk menarik
kembali janji kita. Aku tadi telah berjanji akan balas
menolong mereka ini yang sudah menolong kita."
"Kau yang berjanji, akan tetapi aku tidak !" Bi Li
membantah.
"Akan tetapi aku sudah berjanji akan bebaskan mereka."
sambil berkata demikian, Tiang Bu cepat melepaskan
pegangannya, lalu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya
ia menepuk punggung Cu Lin dan Cui Kim yang segera
menjadi bebas kembali.
"Tiang Bu, kau mau bertemu dengan ayah? mari
kuantar," kata Cui Lin tanpa banyak cakap lagi, juga tidak
mau memandang kepada Bi Li yang galak.
Tiang Bu mengangguk, lalu dengan ramah menggandeng
tangan Bi Li yang masih marah, karena mendengar bahwa
dua orang gadis itu hendak mengantarnya ke tempat Liok
Koug Ji, maka Bl Li menurut dan tidak banyak cakap. Tentu
saja berhadapan dengan Kong Ji lebih penting dari pada
mengurus dua orang gadis yang amat dibencinya itu.
32
Segera setelah empat orang ini melompat ke luar dari
sumur dangkal di mana Cui Lin dun Cui Kim berada tadi,
kelihatan sebuah Hutan Bambu Kuning di depan.
Nampaknya seperti hutan biasa, dengan bambu kuning yang
amat indah berkelompok di sana sini. Akan tetapi
sesungguhnya kelompok-ketompok bambu kuning itu
teratur menurut kedudukan bintang dan amat sulit
dimasuki orang. Kali ini Cui Lin dan Cui Kim tidak berani
berlaku curang lagi. Memang mereka ingin membalas
dendam, terutama kepada Cui Kong, maka dengen sengaja
mereka mengantar Tiang Bu memasuki sarang Ui-tiok-lim
ini.
Di dalam gedungnya yang indah seperti Istana, Liok Kong
Ji dan saudara angkatnya sedang duduk menghadapi meja
perjamuan. Mereka sedang mendengarkan penututan Cong
Lung tentang Tiang Bu dan seorang gadis jelita yang telah
dijebaknya masuk ke dalam sumur maut.
"Siauwte tidak berani lancang membunuh karena harus
menanti keputusan Liok-toako tentang puteranya itu. Harus
diakui bahwa pemuda itu lihai bukan main dan agaknya
tidak menaruh hormat sama sekali terhadap Liok toako.”
Cong Lung mengakhiri penuturannya.
Pada saat mereka sedang bercakap-cakap muncullah
orang yang menjadi bahan percakapan mereka. Tiang Bu
memasuki pintu ruangan yang luas itu bersama Bi Li
sedangkan dua orang gadis yang mengantarnya tentu saja
tidak berani masuk den sudah dari tadi pergi.
”Tiang Bu, akhirnya kau datang juga di sini!” Liok Kong
Ji melompat berdiri dari bangkunya dengan wajah
tersenyum girang sekali, padahal dadanya berdebar keras.
Memang pandai sekali Kong Ji menyembunyikan
perasaannya. “Ayahmu telah amat mengharapkan
kedatanganmu, syukur kau datang, nak ! Dan ini siapakah?
Calon istetimu? Bagus, Kau boleh tinggal di sini sebagai
33
puteraku bersama isterimu yang jelita ini. Mari, mari
duduklah di sini, kuperkenalkan dengan susiok-susiokmu.”
Tiang Bu memandang dengan hati tidak keruan rasa. Ia
berhadapan dengan orang yang sejahat-jahatnya, akan tetapi
orang ini adalah ayahnya sendiri, hal ini sekarang ia tidak
dapat membantah atau menyangkal pula. Inilah Liok Kong
Ji, ayahnya yang dengan keji melebihi binatang telah
merusak hidup ibunya. Gak Soan Li sehingga terlahirlah ia,
anak yang tidak diakui ibunya sendiri!
Tiang Bu memandang penuh perhatian dan harus ia akui
bahwa Liok Kong Ji tidak patut menjadi ayahnya. Liok Kong
Ji yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu
kelihatannya masih muda, pakaiannya terbuat dari pada
sutera yang halus dan mahal, wajahnya tampan berseri-seri
dan terawat baik, rambulnya yang masih hitam itu
mengkilap oleh minyak, digelung ke atas dan diikat dengan
sutera halus pula. Pedang yang indah gagangnya tergantung
di punggung, kelihatan tanpan dan gagah sekali.
"Liok Kong Ji manusia iblis ! Jangan kau bicara tak
karuan. Siapa itu puteramu ! Aku, Tiang Bu datang untuk
mengambil kepalamu agar rohmu dapat menebus dosamu
yang sudah bertumpuk,” kata Tiang Bu, suaranya terang
saja namun mengandung ancaman hebat.
Terdengar suara tertawa bergelak dan empat orang
saudara angkat Kong Ji bangkit dari kursi mereka. Cong
Lung dan Cui Kong yang berada di situ tidak berani
sembarang berkutik karena dua orang ini sudah mengenal
kelihaian Tiang Bu, akan tetapi empat orang jagoan yang
lain merasa amat lucu melihat seorang pemuda sederhana
tanpa memegang senjaia apa-apa berani datang di Ui tioklim
dan mengancam hendak mengambil kepala Thian te Butek
Taihiap Liok Kong Ji begitu saja. Ini benar-benar
keterlaluan sekali.
"Bocah ingusan jangan kau kurang ajar! Twa-ko, kalau
kau memberi ijin, biar siauwte menangkap puteramu yang
34
puthauw (tidak berbakti ) ini !" kata Koat-jiu Sin-touw Lee-
Bok-Wi Si Malaikat Copet.
Kong Ji yang menjadi merah mukanya mendengar
dampratan Tiang Bu tadi, menganguk sambil berkata,
“Bocah ini memang mendapat pelajaran dari orang-orang
tidak benar. Perlu digembleng di sini. Kautangkaplah, akan
tetapi hati-hati, Lee.sute."
Begitu mendapat perkenan Kong Ji, Lee Bok Wi
melompat dan bukan main cepatnya gerakannya ketika
melompat karena tahu-tahu ia sudah berada di depan Tiang
Bu, terus kedua tangannya dipukulkan ke depan bertubitubi.
Melihat gerakan orang kate yang amat cepal ini, diamdiam
Tiang Bu kagum dan tahu bahwa ia berhadapan
dengan orang pandai yang ahti dalam ilmu ginkang. Akan
tetapi karena tujuan kedatangannya ini untuk membunuh
Liok Kong Ji, ia tidak mau membuang banyak waktu.
Pukulan Lee Bok Wi ia hadapi dengan pukulan pula sambil
mengerahkan sin-kangnya. Akan tetapi Si Malaikat Copet
ternyata cepat sekali. Dari sambaran angin pukulan Tiang
Bu, dengan kaget sekali ia dapat mengetahui bahwa pemuda
sederhana ini ternyata memiliki tenaga yang luar biasa,
cepat ia menarik kembali tangannya dan sekali
menggerakkan kaki, tubuhnya sudah berkelebat ke belakang
Tiang Bu dan mengirim totokan dari belakang ke arah
punggung pemuda itu. Akan tetapi bukan Tiang Bu yang
roboh, melainkan dia sendiri yang mencelat dan membentur
tembok. Tanpa menoleh Tiang Bu tadi sudah menggerakkan
tangan ke belakang dan sekali dorong ia telah dapat
membuat tubuh si kate itu terlempar.
"Dia lihai, mari beramai tangkap!” seru Cui Kong tak
sabar. Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian Tiang Bu,
maka begitu tubuh Lee Bok Wi terlempar, ia menjadi
khawatir dan menganjurkan supaya dilakukan
pengeroyokan.
35
"Betul, mari keroyok!” seru Cong Lung yang sudah tahu
pula bahwa maju seorang demi seorang takkan ada
gunanya. Demikianlah, Twa-in Ma It Sun memutar golok
besarnya, It-ci-sian Kwa Lo juga melompat maju dan
mengirim serangan totokannya yang lihai, Hok Lun Hosiang
juga memutar toyanya. Ditambah lagi dengan Cong Lung
dan Cui Kong serta Lee Bok Wi yang sudab maju lagi,
sebentar saja Tiang Bu dikeroyok oleh enam orang ahli silat
tinggi yang mempunyai kepandaian lihai.
"Majulah. majulah semua kalau sudah bosan hidup!"
Tiang Bu membentak garang, sedikitpun tidak takut. Kaki
tangannya bergerak cepat dan semua serangan lawan dapat
digagalkannya. dielak atau ditangkis. Pemuda ini benarbenar
mengagetkan para lawannya, karena hanya dengan
sentilan jari tangan ia berani menangkis serangan senjata
tajam.
Sementara itu, melihat betapa Tiang Bu dikeroyok, Bi Li
menjadi marah sekali. Ia menggerakkan pedangnya dan
menyerang Liok Kong Ji sambil membentak marah.
"Manusia keji Liok Kong Ji, rasakan pembalasanku!” Pedang
itu menyambar ke arah leher Liok Kong Ji sedangkan ular di
tangan kirinya juga ia gerakkan dalam serangan susulan.
“Hem, kau cantik sekali akan tetapi ganas !" seru Liok
Kong Ji sambil tersenyum mengejek. Akan tetapi senyum
ejekannya segera lenyap ketika hampir saja lehernya tergigit
oleh ular kecil yang melingkar di pergelangan tangan Bi Li
karena gadis ini menggerakkan tangan kirinya dengan cepat
bukan main, Inilah ilmu serangan yang khusus dengan
senjata ular hidup. yang ia pelajari dari ayahnya, Kwan Kok
Sun.
"Keji sekali !” seru Liok Kong Ji dan pedangnya sudah
tercabut pula. Dengan mainkan pedangnya secara tenang
dan lambat, Kong Ji dapat mempertahankan diri dengan
mudah. Memang kalau dibandingkan, ilmu kepandaian Liok
Kong Ji jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Bi Li, maka
36
dengan mudah saja Kong Ji mempermainkanrya. Kadangkadang
pedangnya mengancam dada Bi Li, akan tetapi tidak
terus ditusukkannya, melainkan sedikit colekannya
membuat baju gadis itu bolong sedikit !
"Kau jelita sekali, kau cantik dan gagah. Ahh ..... . kalau
belum menjadi milik dia, hemm....... kau akan membikin
gedungku lebih menyenangkan lagi.... !” dengan kata- kata
yang kotor Kong Ji memuji-muji kecantikan Bi Li, setengah
mempermainkan dan setengah kagum betul-betul karena
memang gadis ini memiliki kecantikan yang luar biasa.
Bahkan di antara belasan orang selirnya yang cantik-cantik,
di antaranya terdapat pula puteri-puteri dari istana hasil
rampasan, tidak ada yang memiliki kecantikan asli seperti Bi
Li. Mendengar ini dan melihat betapa ia dipermainkan, Bi Li
menjadi makin marah bertempur dengan nekat.
Sementara itu, dengan kegagahannya yang luar biasa
Tiang Bu mengamuk. Apa lagi melihat Bi Li bertempur
dengan Kong Ji ia merasa khawatir karena ia sudah
mendengar akan kepandaian Kong Ji yang tinggi dan
wataknya yang kejam. Karena ingin cepat cepat membantu
Bi Li, Tiang Bu segera mengeluarkan kepaundaiannya yang
istimewa. Tubuhnya seakan-akan lenyap dari pandangan
mata orang-orang pengeroyoknya dan dalam segebrak saja
tubuh Cui Kong sudah terlempur berikut huncwenya, juga
Ban-kin-liong Cong Lung bergulingan roboh tak dapat
bangun pula. Cui Kong terkena tendangan kilat sehingga
menderita luka di dalam perut, sedangkan Cong Lung
terkena pukulan hawa lweekangnya yang membalik ketika
tadi ia memukul punggung pemuda itu, didiamkan saja oleh
Tiang Bu akan terapi sinkangnya bekerja sehingga tangan
yang memukulnya itu terpukul sendiri oleh tenaga lweekang
yang membalik, membuat Cong Lung merasa tangannya
seperti dibakar dan ditusuk-tusuk dan ia bergulingan seperti
cacing terkena abu panas.
37
It-ci-sian Kwa Lo menjadi kaget dan penasaran sekali. Ia
mengerjakan jari-jari tangannya berganti-ganti untuk
mengirim totokan sehingga tulang-tulangnya berkerotokan
tanda bahwa setiap totokannya dilakukan dengan
pengerahan tenaga dalam dan sekali saja mengenai sasaran
tentu tak perlu diulang pula. Namun Tiang Bu yang sudah
marah itu mengangkat tangannya, membuka telapak tangan
menerima sebuah totokan jari satu dengan telunjuk kanan.
Kwa Lo sudah girang sekali. Pemuda ini goblok, pikirnya,
mengira bahwa totokanku seperti totokan biasa yang dapat
dipunahkan dengan telapak tangan yang penuh tenaga
sinkang. Dia tidak tahu bahwa aku sudah melatih jari jariku
dengan bubuk baja putih, jangankan telapak tangan dari
kulit daging, biarpun besi akan dapat tembus oleh jari
telunjukku, demikian Kwa Lo berpikir dan melanjutkan
totokannya dengan sepenuh tenaga.
"Trakk.......!!” Jari telunjuk menotok tengah tengah
telapak tangan kiri Tiang Bu dan akibatnya tubuh Tiang Bu
tergetar sedikit akan tetapi Dewa Jari Satu itu menjerit
kesakitan sambil melompat mundur terus memegangi
tangan kanannya. Jari telunjuknya sudah bongkak bengkok
tidak karuan karena tulang jarinya sudah patah-patah.
Melihat ini, Twa-to Ma It Sun yang melihat gelagat buruk
cepat berseru.
"Liok-twako, lekas bereskan bocah itu dan bantu kami!”
Liok Kong Ji sudah tahu bahwa dengan mudah Tiang Bu
sudah merobohkan tiga orang dan tinggal tiga orang lagi
yang mengeroyoknya. Ia mendapatkan akal. Cepat ia
manggerakkan tangan kiri, dengan Ilmu Lokoai-sin-kiam
(Iblis Tua Menyambut Pedang) ia berhasil menggunakan jarijari
tangannya menjepit pedang Bi Li dan pada saat gadis itu
berkutetan hendak mencabut pedaog, pedang Kong Ji
menyambar bagaikan kilat.
"Capp ....!” Bi Li mengeluh, darah menyembur dan gndis
itu roboh pingsan dengan lengan kiri terbabat putus oleh
38
pedang Kong Ji ! Ular putih yang masih melingkar di
pergelangan tangan kiri ini misih menggeliat-geliat di tangan
yang kini menggetetak di atas terpisah dari tubuh Bi Li.
"Bi Li...!" Tiang Bu memekik nyaring sekali dan berdiri
bagai patung melihat ke arah gadis yang sudah buntung
lengan kirinya itu. Ia tidak perdulikan lagi Iawan-lawannya,
mukanya pucat matanya terbelalak.
“Bi Li ...... . ! Tiang Bu malompat dan menubruk gadis itu
yang masih pingsan dan darah bercucuran keluar dari
pangkal lengan yang buntung. Dipondongnya tubuh gadis
itu, sama sekali tidak perduli akan Twa-to Ma It un yang
mempergunakan saat baik itu untuk mengerakkan goloknya
dari belakang menyambar kepala Tiang Bu !
Namun kepandaian Tiang Bu sudah mencapai tingkat
yang sukar diukur tingkatnya, biarpun perhatiannya
tercurah kepada Bi Li dan pikirannya bingung sekali melihat
gadis ini buntung tangannya, namun perasaannya yang
sudah otomatis dalam menghadapi serangan lawan dapat
menangkap adanya golok yang menyambar dari belakang.
Secara otomatis pula tubuhnya miring dan kakinya
menyambar. Terdengar pekik kesakitan, golok terlepas dan
tubuh Ma It Sun yang tinggi besar itu terjengkang mengukur
tanah.
Tiang Bu memandang kepada Kong Ji, pandang matanya
beringas penuh ancaman.
"Kau....... kau ....... manusia keji.......!” Cepat laksana
kilat, dengan Bi Li masih dalam pondongannya. Tiang Bu
menyerang ke depan, tangan kanan memondong Bi Li,
tangan kiri melakukan pukulan dengan pangerahan tenaga
sinking sepenuhnya ke arah dada Liok Kong Ji. Pukulan ini
hebat sekali karena mengandung hawa sinkang yang sakti.
Inilah pukulan berdasarkan gerakan sajak yang berkepala
"Ya tertembut menembus yang terkeras di kolong langit"
yaitu sebait sajak dari kitab To-tikkeng yang termuat dalam
kitab pelajaran Thian-te Si-kong dan di dalam pukulan
39
"terlembut” ini bersembunyi kekuatan maha dahsyat yang
sudah dapat ia kumpulkan berdasarkan latihan dari kitab
Seng thian to.
Seperti diketahui. Liok Kong Ji adalah se orang ahli silat
yang sakti yang memiliki ilmu-ilmu sakti seperti Hek tok
ciang (Tangan Racun Hitam ), Tin-san-kang (Tenaga
Mandorong Gunung) dan lain-lain ilmu silat tinggi yang
serba lihai. Kepandaiannya pada waktu itu sudah amat
jarang tandingannya maka ia berani memakai julukan
Thian-te Bu-tek. (di Dunia Tidak Ada Lawannya) !
Menghadapi serangan anaknya yang sesungguhnya ini, ia
cepat menggerakkan dua tangan menangkis, mengerahkan
tenaga untuk melumpuhkan Tiang Bu dan menawannya.
Betapapun juga hasrat hati Kong Ji terhadap Tiang Bu
hanya untuk menaklukkan pemuda itu, untuk menarik
Tiang Bu sebagai anaknya yang tidak memusuhinya untuk
memberi penghidupan mulia dan bahagia kepadanya. Sama
sekali tidak ingin melihat Tiang Bu tewas, maka ia sengaja
menangkis dengan pengerahan tenaga untuk kemudian
menangkap anaknya ini.
Akan tetapi belum juga ia dapat manangkap lengan Tiang
Bu, hawa pukulan pemuda ini sudah menyambar,
mendobrak hawa tangan Kong Ji dan terus memukul ke
arah dada. Bukan main kagetnya hati Kong It. Sungguh di
luar dugaannya bahwa pukulan pemuda akan sedemikian
hebatnya, pukulan yang selama dia hidup belum pernah
mengalaminya. Cepat ia merendahkan tubuhnya dan dengan
kedua tangan ia mendorong, melakukan pukulan Tin san
kang sehebat-hebatnya karena maklum bahwa pukulan
pemuda itu merupakan pukulan maut.
Dua tenaga tidak kelihatan bertemu di udara, dan.......
Liok Kong Ji terlempar kebelakang sepeti rumput kering
ditiup angin menubruk dinding sehingga dinding itu jebol!
Untung baginya, tubuhnya sudah kebal dan setidaknya
hawa pukulan Tin-san-kang tadi sudah mengurangi atau
40
menghambat daya serangan pukulan Tiang Bu sehingga ia
tidak terluka hebat, hanya muntahkan darah segar karena
getaran yang amat hebat. Dengan sepasang mata terbelalak
lebar saking kagum, kaget, heran, dan takut Kong Ji berdiri
lagi, siap- siap menghadapi pemuda yang lihai ini.
Tiang Bu sudah mendesak maju lagi dengan muka
beringas, sedangkan Hok Lun Hosiang sudah mendekati
Kong Ji untuk membantu "twako" ini. Juga para jagoan yang
tidak terluka berat seperti Lee Bok Wi dan Ma It Sun sudah
bangkit lagi dan bersiap-siap membantu Kong Ji.
Akan tetapi Kong Ji yang maklum bahwa biarpun
dtkeroyok kiranya mereka takkan mampu menahan amukan
pemuda yang memiliki kepandaian luar biasa ini, cepat ia
berkata. "Tiang Bu, kalau tidak lekas diobati, gadis itu akan
mati kehabisan darah!"
Memang Kong Ji cerdik bukan main. Sekilas pandang
saja ia sudah dapat menduga bahwa Tiang Bu mencinta
gadis itu sepenuh hatinya, maka ia sengaja berkata
demikian untuk menahan amukan pemuda itu. Dan katakatanya
ini memang tidak bohong. Tiang Bu kaget
mendengar ini dan baru ia sadar dan melihat betapa darah
terus menerus mengucur dari pangkal lengan Bi Li.
"Bi Li...........!” serunya tercampur isak. Cepat ia menekan
jalan darah Bi Li di pundak dan untuk menghentikan darah
yang mengucur ini perhatiannya tercurah kembali kepada Bi
Li dan ia tahu, bahwa yang terpenting di antara segalanya
adalah merawat Bi Li lebih dulu. Cepat is melompat pergi
dari tempat itu melalui para penjaga yang sudah datang
mengepung sambil berseru, *Bangsat Liok Kong Ji, lain kali
aku datang mengambil kepalamu!”
Beberapa orang penjaga roboh dan kocar-kacir ketika
mencoba untuk menghadang larinya. "Biarkan dia pergi”"
seru Kong Ji kepada para penjaga, maklum bahwa mereka
ini sama sekali bukan tandingan Tiang Bu dan ia masih
41
mengharapkan untuk dapat menawan pemuda perkasa itu
mengandalkan alat- alat rahasia di dalam Ui-tiok-lim.
Siapakah yang dapat ke luar dari Ui-tiok-lim? Hutan
Bambu Kuning ini sudah terkenal sebagai tempat yang tak
mungkin dimasuki orang kalau toh orang itu dapat masuk,
tak mungkin akan dapat ke luar. Lebih sulit dan berbahaya
dari pada Kuil Siauw-lim-si yang termasyhur.
Tanpa mendapat rintangan lagi dari kaki tangan Liok
Kong Ji, Tiang Bu berlari cepat ke luar ruangan itu dengan
maksud ke luar dari istana besar dan membawa Bi Li ke
tempat aman. Begitu melompat ke luar ruangan itu, lebih
dulu ia mengeluarkan obat dari saku bajunya, yaitu obat
tempel yang ia tempelkan pada luka atau ujung lengan yang
buntung dan dibalutnya ujung itu depan robekan bajunya
sendiri. Kemudian ia menotok beberapa jalan darah penting,
selain untuk menghentikan darah yang mengalir ke bagian
yang buntung, juga untuk mematikan rasa nyeri yang tentu
akan menyiksa gadis itu apabila siuman.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XIX
DILIHATNYA wajah Bi Li pucat sekali seperti mayat.
Tiang Bu makin bingung. Inilah tanda bahwa gadis itu telah
kehilangan banyak sekali darah maka perlu cepat-cepat
diberi obat dan makanan penambah darah. Ia perlu cepatcepat
pergi dari tempat ini. Segera ia memondong lagi tubuh
Bi Li dan berlari ke luar. Akan tetapi, manakah jalan ke
luar? Tadi ketika ia memasuki gedung ini, jalan masuk
mudah saja, dari pekarangan depan melalui ruangan depan
dan gang kecil panjang sampai di ruangan belakang di mana
Liok Kong Ji dan kawan-kawannya berada.
Akan tetapi sekarang keadaannya lain sekali. Setelah
mecari-cari, akhirnya dengan hati lega Tiang Bu
mendapatkan lorong atau ruang kecil tadi yang cepat
dimasukinya. Akan tetapi, setelah lari beberapa lama. ia
menjadi makin bingung. Lorong keeil ini ternyata bercabangcabang
banyak sekali dan sudah lebih dari sepuluh cabang
ia masuki akan tetapi selaln tiba di jalan buntu.
Celaka, pikirnya, ini tentu bukan yang tadi. Ia lari
kembali akan tetapi anehnya, ia sudah tidak bisa sampai ke
tempat semula. Lorong ini mati di sebuah, kamar buntu,
2
lorong itupun demikian, benar-benar membingungkan
sekali.
Setelah lebih dari tiga jam ia berputar di lorong-lorong
yang tidak ada jalan keluarnya dan ruwet seperti benang ini,
tiba-tiba terdengar suara orang ketawa. suara ketawa Liok
Kong Ji yang tidak kelihatan orangnya.
"Ha ha-ha, Tiang Bu. Baru mengenal kelihaian ayahmu!
Inilah yang disebut Gua Seribu Lorong. Menyesatkan. Kau
takkan bisa ke luar dari ini. Kau menakluklah, anakku. Aku
takkan mencelakaimu, aku ........ aku ayahmu dan sayang
kepadamu. Lihat, gadis itu sudah amat payah, banyak
kehilangan darah dia akan mati lemas. Kau menaluklah dan
akan menyuruh orang merawatnya sampai sembuh.
Kauterimalah menjadi anakku yang terkasih dan kalau
perlu, gadis itu boleh menjadi mantuku."
"Lionk Kong Ji manusia Iblis. Siapa percaya omonganmu
yang berbisa? Kau sendiri baru saja membuntungkan
lengannya !"
"Karena terpaksa, puteraku. Karena terpaksa, kalau tidak
kulakukan siasat itu, bagaimana dapat mengundurkan kau
yang begitu gagah perkasa? Oo anakku, aku bangga bukan
main melihat pureraku demikian sakti ....... !
Tiang Bu, sebetulnya permusuhan apakah yang ada
antara anak dan ayah, antara kau dan aku? Bisa jadi
banyak orang yang merasa menjadi musuhku, akan tetapi
mengapa kau? Aku tak pernah mengganggumu....... ”
"Kau, setan! Kau telah menghina ibuku, kau telah
mencelakai banyak orang baik baik !”
"Tiang Bu, kau keliru. Kapankah aku menghina ibumu?”“
"Jahanam, kau masih hendak menyangkal?" Tiang Bu
membentak ke arah suara yang bersembunyi di balik
dinding itu. ”Kau telah mempermainkan ibuku,
menghinanya ketika dia masih gadis."
3
Liok Kong Ji yang bicara dari balik pintu rahasia itu
tertawa bergelak.
”Ha ha ha, Tiang Bu, kau bicara apa ini? Ingatkah kau
kalau tidak ada aku yang kau bilang menghina Soan Li,
bagaimana bisa terlahir kau ? Kau adalah putera Soan Li
dan aku, bagaimana kau bisa bilang begitu?"
Tiang Bu merasa sepeti ditampar mukanya. Ia menjadi
pucat sekali ketika ia meletakkan tubuh Bi Li di alas lantai
dan ia berlari mengepal tinju ke arah suara itu. "Memang,
aku memang anak haram ! Aku anak hina dina yang terlahir
dari perbuatanmu yang keji terkutuk! Akulah bukti hidup
tentang kejahatanmu yang tak berampun. Dan bukan orang
lain aku sendiri yang akan mencabut nyawamu. Hampir ia
menangis saking sakit hatinya kalau teringat akan keadaan
dirinya yang berayah sedmikian jahat dan hinanya.
"Hemmm, kau terlalu terpengaruh oleh hasutan manusia
macam Wan Sin Hong. Mana ada anak bijaksana melawan
ayah sendiri. Kau belum insyaf Tiang Bu belum insyaf. .....”
Setelah mengeluarkan ucapan dengan nada sedih ini, Liok
Kong Ji menghilang.
Tiang Bu kembali memperhatikan Bi Li. Gadis itu
mengeluh dan bergerak perlahan. Ia cepat berlutut dan
menyangga leher Bi Li. "Uuhhh. lenganku....... ah, Tiang
Bu....... aduuuhhh......” Setelah membuka mata sebentar, Bi
Li pingsan lagi, lemas dalam pelukan Tiang Bu. Tentu saja
pemuda ini menjadi makin bingung. Ia mencoba lagi untuk
mencari jalan ke luar, berlari-larian di sepanjang lorong yang
panjang berputar-putar itu. Selagi ia kebingungan, tiba-tiba
terdengar suara perlahan dari jauh, suara wanita.
"Dari Gu-seng (Bintang Kerbau) membelok ujung tanduk
melalui Liu-seng (Bintang Pohon Cemara) ada pintu ke luar!”
Tiang Bu girang sekali. Tidak perduli itu suara siapa ia
lalu berlari terus, membelok menurutkan gambar Bintang
Kerbau. Pantas saja tadi ia berputaran tak dapat ke luar.
4
Tidak tahunya yang dimaksudkan dengan ujung tanduk
kanan itu bukanlah lorong, hanya sebuah lobang yang
hanya dapat dilalui dengan merangkak. Sambil memeluk
tubuh Bi Li, ia memasuki lubang ini, merangkak ke depan
dan tak lama kemudian betul saja ia tiba di sebuah lorong
lain, dari sini ia berlari terus mengambil tikungan sesuai
dengan kedudukan bintang Liu-seng. Di dalam ilmu silat
memang terdapat langkah- langkah kaki menurutkan
beutuk bintang yang dua puluh tujuh buah banyaknya.
Setiap bintang mempunyai bentuk-bentuk tertentu, dari
dua titik sampai tujuh titik banyaknya. Ini merupakan
bentuk langkah-langkah ilmu silat tinggi yang tentu saja
dikenal oleh setiap orang ahli silat kelas tinggi. Tiang Bu
juga sudah mempelajari titik ini, maka begitu mendengar
seruan dari luar tadi. ia dapat menurut dan membuat
belokan sesuai dengan gambar atau titik Gu-seng dan Liuseng.
Alangkah girangnya ketika ia mendapatkan lorong
terakhir itu membawanya ke luar ke sebuah hutan bambu
kuning. Akan tetapi baru saja ia berlari belasan langkah,
kaki kirinya, sudah terjeblos ke dalam lumpur yang tertutup
pasir dan rumput ! Baiknya Tiang Bu selalu waspada dan
cepat ia dapat menahan keseimbangan tubuhnya sehingga
yang terjeblos hanya kaki kirinya, sedangkan kaki kanan
masih di atas tanah keras. Dengan mencabut kaki kirinya
yang sudah melesak ke dalam lumpur selutut lebih
dalamnya.
Ia bergidik. Kalau kaki kanannya tadi juga terjeblos,
kiranya sukar baginya untuk menyelamatkan diri.
Pengalaman mendebarkan ini membuat pemuda itu ragu
ragu untuk berlari terus. Tempat ini benar- benar luar biasa
sekali, penuh bahaya yang tak disangka-sangka. Baru keluar
dari gedung saja tadi sudah sukar bukan main, sekarang
masih harus keluar dari Ui tiok-lim, hutan Bambu Kuning
yan agaknya bahkan lebih sukar dari pada jalan rahasia di
5
gedung besar itu. Padahal Bi Li perlu cepat-cepat dibawa ke
luar untuk diobati.
"Tiang Bu ....., kau di situ ............. Lekas ke sini.......
turutkan jalan itu, akan tetapi jangan menginjak jaln, ambil
jalan di sebelah kiri deretan bambu di atas rumput!" Kembali
terdengar suara wanita yang tadi memberitahukan rahasia
loronig, kini suara itu terdengar lemah dan Tiang Bu
mengenal suara Cui Lin !
Tiang Bu menurut petunjuk ini. Segera ia melangkah dari
jalan itu ke sebelah kiri di mana tumbuh rumput liar.
Kemudian ia melangkah maju menurut sepanjang lorong
yang pinggirnya ditumbuhi bambu-bambu kuning. Benar
saja, di bawah rumput itu terdapat tanah keras dan sama
sekali tidak dipasangi perangkap. Memang siapakah
orangnya akan mengambil jalan ini kalau di sampingnya
terdapat jalan yang bersih rata dan baik ?
Serelah berjalan hati-hati beberapa puluh tindak, jalanan
terhalang serumpun bambu kuning muda yang tumbuh di
tanah yang bundar.
”Hati-hati, jangan terlalu dekat rumpun bambu muda !”
kembali terdengar suara Cui Lin di depan, tak jauh lagi.
Tiang Bu kaget dan cepat melompat ke kiri menjauhi. Akan
tetapi karena ingin tahu ia mengambil batu dan
melemparkannya ke dekat rumpun bambu dan ”........
sssshhh ....... ssssttt....... !” Tujuh ekor ular berbisa yang
mokrok lehernya menyambar ke sekeliling rumpun. Ularular
ini ternyata ekornya diikat pada rumpun dan selalu
bersembunyi. Hanya pada saat ada korban melewat dekat,
ular-ular kelaparan ini tentu serentak menyerangnya. Tentu
saja Tiang Bu tidak takut menghadapi serangan binatangbinatang
ini, akan tetapi kalau dia tadi amat dekat tentu ia
akan kaget dan mungkin melompat ke kanan di mana
dipasangi macam-macam alat rahasia jebakan.
Tergesa-gesa Tiang Bu maju terus ke arah suara tadi..
Tak lama kemudian ia melihat pemandangan yang membuat
6
jantungnya serasa berhenti berdetak! Ia melihal Cui Lin dan
Cui Kim terbenam di lumpur maut, terhisap lumpur sampai
ke Ieher. Bahkan Cui Kim sudah tak bergerak lagi, hanya
matanya yang besar dan indah itu terbelalak ketakutan,
tidak bersinar lagi seperti mata orang yang kehilangan
ingatannya. Agaknya saking takutnya menghadapi kematian
mengerikan ini, Cui Kim telah hilang ingatannya. Cui Lin
dengan air mata bercucuran memandang ke arah Tiang Bu.
Pemuda ini bingung bukan main. Dua orang gadis itu
berada di tengah-tengah kolam lumpur jauhnya ada empat
tombak dari tempat ia berdiri. Tanpa membuang waktu lagi,
Tiang Bu meletakkan tubuh Bi Li di atas rumput dengan
cekatan menggunakan kekuatan tangannya mencabut dua
batang bambu kuning.
"Jangan, Tiang Bu ...... tak ada gunanya ..........kami .......
kami....... ”
Akan tetapi mana Tiang Bu mau mendengarkannya?
Seorang berjiwa kesatriya seperti dia tentu saja tidak bisa
tinggal berpeluk tangan melihat dua orang gadis terancam
bahaya maut seperti itu.
Cepat ia memasang dua batang bambu itu sampai dekat
mereka, lalu berjalan di atas bambu-bambu yang melintang
mendekati Cui Lin dan Cui Kim. Dengan cepat ia menyambar
tangan Cui Lin dan menariknya. Akan tetapi ia melepaskan
kembali karena Cui Lin menjerit kesakitan.
"Jangan, Tiang Bu........ kau hanya akan menyiksaku
....... ketahuilah, tadi kami berusaha menolongmu ketahuan
oleh ..... . oleh si keji Liok Kong Ji dan Cui Kong ...... kedua
kaki kami dihancurkan tulang-tulangnya, kami diloloh
racun....... kemudian dilempar ke sini. Tempat ini akan
menjadi kuburan kami...... aduuh ...... percuma saja kau
menolong kami, tak mungkin lagi, mana bisa kau menolong
nyawa kami?! Lihat........ aduh, adikku dia sudah .......
sudah....... " Cui Lin menangis dan gerakannya ini membuat
7
tubuhnya makin melesak ke bawah. Hanya dagu yang
bertahi lalat keeil itu kelihatan.
Tiang Bu terharu bukan main. Dalam keadaan hampir
mati gadis ini masih berusaha menolongnya. Teringat ia
akan kenang-kenangan lama, dahulu ia menganggap tahi
lalat di dagu ini manis bukan main.
"Cui Lin....... " katanya bingung. "Apa yang harus
kulakukan untuk menolong kalian. Lekas katakan !"
Cui Lin tersenyum di antara tangisan "Kau harus ke luar
dari sini dengan selamat. Dengar baik-baik, dari sini kau
mengambil jalan di antara rumpun-rumpun bambu itu
dengan hati-hati menurutkan letak titik bintang Pin-seng
(Bintang Purnama). lalu Ni-seng (Bintang Wanita),
selanjutnya Bi-seng (Bintang Ekor) kemudian yang terakhir
Sin-seng (Bintang Hati). Nah, dengan demikian kau akan
tiba di bukit batu- bats karang di mana kau bertemu dengan
aku ....... aduuhh ...... Tiang Bu, kalau kau mau menolong
aku dan adikku....... kelak balaskan sakit hati kami kepada
mereka berdua ....... aaahh, pergilah ...... "
"Tidak, aku harus menankmu ke luar dari sini !" Tiang
Bu berseru, marah dan penuh keharuan. Marah kepada
Kong Ji dan Cui Kong, terharu melihat keadaan dua gadis
yang mengenaskan ini.
"Aduuhhh, jangan ! Aku akan mati karena nyeri! Kakiku
sudah patah patah, rusak sakit sekali. Enak begini, hangathangat
d dalam lumpur....... selamat jalan, Tiang Bu ......
Pergilah, kalau mereka datang mengejar, sukar bagimu
untuk ke luar.”
Tiang Bu ragu-ragu, akan tetapi tiba-tiba terdengar
keluhan Bi Li, "Tiang Bu ...... kau di mana ..... .? Apakah aku
sudah mati.......?” ternyata Bi Li siuman dan mendapatkan
dirinya rebah di atas rumput, ia segera memangil-manggil
Tiang Bu. Untuk bangun berdiri tidak ada tenaga lagi.
8
Terpaksa Tiang Bu berdiri. Sekali lagi ia memandang
kepada Cui Lin den Cui Kim. ”Selamat tinggal.......” katanya,
suaranya tersendat di tenggorokan.
”Pergilah....... eh, nanti dulu ...... Tiang Bu, coba kau
....... kaupeluk kepalaku untuk penghabisan kali ...... kaulah
orang termulia ....... bayanganmu hendak kubawa ke sana
..... "
Dengan isak tertahan Tiang Bu berlutut di atas batangbatang
bambu, mendekap kepala yang hampir terbenam itu
lalu mencium jidat Cui Lin. Juga ia mencium jidat Cui Kim
yang segera menangis meraung-raung,
”Aku harus menolong kalian....... . harus......!” kata Tiang
Bau setengah berteriak.
”Tiang Bu.......!” terdengar pula suara Bi Li memanggil
lemah,
”Terima kasih, Tiang Bu, selamat berpisah....... " kata Cui
Lin ketika Tiang Bu menoleh ke belakang untuk melihat Bi
Li. Ketika pemuda ini memandang lagi ke lumpur, ia hanya
melihat hawa keluar dari dua tempat menerbitkan suara
perlahan. Dua kepala gadis itu sudah tidak kelihatan lagi,
ternyata Cui Lin telah menggerakkan tubuhnya sekerasnya
agar kepalanya lekas terbenam dan kematian lekas
menyambut nyawanya. Cui Kim yang menangis menggerunggerung
juga segera terhisap oleh lumpur karena tubuhnya
bergerak-gerak. Sunyi di situ....... .sunyi mengerikan.
Tiang Bu memutar tubuh, memandang arah hutan
bambu kuning yang ditinggalkan di belakang. Gunung itu
tidak kelihatan lagi. Ia mengepal tinju dan terdengar giginya
kerot-kerotan. Memang tadinya ia membenci dua orang gadis
ini yang sudah pernah memperdayainya. Akan tetapi melihat
betapa dua orang gadis ini tersiksa sedemikian hebat apa
pula dua orang gadis itu akhir-akhir ini berdaya
menolongnya, ia menjadi sakit hati sekali terhadap Kong Ji
dan Cui Kong.
9
Akan tetapl ketika Bi Li memanggil lagi ia tersadar dan
cepat lari menghampiri Bi Li. Melihat pemuda ini, gadis yang
rebah terlentang itu tersenyum lembut.
"“Tiang Bu, apakah kita sudah berada sorga....... ?"
Tiang Bu membungkuk, mengangkat dan memondoug
tubuh Bi Li dengan hati hati. Bisiknya di dekat telinga gadis
itu. "Belum, Bi Li. Kita sedang berusaha keluar dari neraka
ini.......!” Copat Tiang Bu maju ke depan, mengambil jalan
menurut petunjuk Cui Lin. Setelah berbelok-belok
menurutkan titik empat bintang yang kesemuanya ada dua
puluh satu titik atau dua puluh tikungau, benar saja tiba di
bukit batu-batu karang di mana ia pernah bertemu dengan
dua orang gadis yang sekarang telah tewas itu. Makin
terharu hati Tiang Bu. Sampai dekat kematiannya, Cui Lin
masih menolongnya. Lunaslah sudah kedosaan gadis itu
terhadapnya.
Akan tetapi, ketika hendak melanjutkan perjalanannya,
ia menjadi bingung sekali. ketika dulu di tempat ini, ia
mengikuti Cong Lung yang menjadi petunjuk jalan. Kini ia
tidak tahu lagi mana jalan itu dan maklum bahwa tempat ini
amat berbahaya, sekali keliru melangkah kaki....... terjeblos
ke dalam perangkap.
Bi Li yang masih setengah pingsan itu berbisik, "Tiang
Bu, mengapa berhenti?”
"Aku ...... lupa lagi jalannya, Bi Li."
"Kaucari saja....... dulu aku sudah memberi tanda.......
ketika mengikuti Cong Lung kupotong-potong sabuk merah,
kusebar di sepanjang jalan ....... " BI Li terlalu banyak
bicara, napasnya memburu dan ia memejamkan lagi
matanya untuk mengaso. Ia merasa tubuhnya lemas bukan
main, demikian lemasnya sampai-sampai ia lupa agaknya
bahwa lengannya sudah buntung.
Tiang Bu girang mendengar ucapan gadis itu. Ketika
matanya mencari-cari, benar saja melihat sepotong kain
10
merah di sebelah sana. Ia menghampiri kain merah itu dan
selanjutnya ia mencari jalan dengan bantuan potonganpotongan
kain merah yang disebar di atas tanah setiap
sepuluh langkah. Diam-diam Tiang Bu memuji kecerdikan Bi
Li, gadis ya dikasihinya itu. Akan tetapi kalau ia teringat
akan lengan Bi Li, ia menjadi berduka sekali. Cepat ia lari
lagi ke luar dari bukit batu karang dan akhirnya terlepaslah
mereka dari daerah Ui- tiok-lim yang amat berbahaya. Akn
tetapi sekarang Tiang Bu sudah mengingat baik- baik semua
jalan yang dilaluinya tadi, baik jalan masuk maupun jalan
ke luarnya.
Hari telah menjelang senja, Bi Li rebah telentang di atas
rumput, Mukanya pucat, matanya yang seperti mata burung
Hong itu menatap wajah Tiang Bu yang duduk di sisinya.
Tiang Bu sudah merawat Bi Li, memberi pencegah
keracunan juga obat penambab darah. Sekarang keadaan
gadis itu tidak menghawatirkan lagi. Juga pundak yang
sudah tak berlengan lagi itu telah dibalutnya baik-baik.
"Tidurlah, Bi Li, agar enak badanmu. Biar aku
menjagamu di sini. Kubuatkan api unggun, ya?” kata Tiang
Bu sengaja bersikap gembira karena pandang mata Bi Li tadi
seperti pandang menikam hatinya karena ia tak tahan
menyembunyikan rasa iba dan harunya.
Bi Li tidak menjawab, menggigit bibir menahan tangis,
lalu menggerakkan kepala mengangguk. Setelah itu
membuang muka ke sisi agar jangan melihat lagi pemuda
itu, karena sekali saja ia beradu pandang dengan Tiang Bu
yang sinar matanya penuh haru dan iba itu, ia dapat
menangis menjerit-jerit.
Tiang Bu mengumpulkan kayu kering lalu membuat api
unggun agar hawa malam yang dingin dan nyamuk dapat
terusir pergi dan Bi Li dapat tidur nyenyak. Setelah selesai
membuat api unggun, ia mendengar isak tangis dan ketika
ditengoknya ternyata Bi Li telah bangkit duduk dan
menangis sedih. Tangan kanannya menutupi muka, air mata
11
menetes turun melalui celah-celah jari tangan, pundak yang
buntung sebelah kiri itu bergoyang.goyang.
Tiang Bu maklum akan kesedihan hati gadis itu. Akan
tetapi ia pura-pura tidak tahu dan duduk di dekatnya,
menyentuh lengannya sambil berkata lembut. "Bi Li,
mengapa kau menangis. Kita sudah terlepas dari bahaya
maut....... ”
”Tiang Bu ...... ah....... lenganku.........”
Bi Li tak dapat melanjutkan kata-kata karena tangisnya
makin sedih.
Tiang Bu memegang erat erat tangan kanan gadis itu IaIu
berkata menggigit gigi.
“Aku tahu, Bi Li aku tahu ....... aku bersumpah untuk
membalas dendam ini, tunggulah saja....... !”
Akan tetapi Bi Li rupanya tidak memikir tentang sakit
hati. yang lebih dipikir adalah keadaan pundak kirinya yang
buntung.
“Aku menjadi orang..... buntung... aduh Tiang Bu ......
aku menjadi seorang jelek penderita cacat selama hidup.......
menjadi buah tertawaan orang ....... aku akan terhina
selama-lamanya....... ”
Tiang Bu maklum apa yang dipikirkan gadis ini. Sebagai
seorang gadis muda, cantik jelita, tentu saja cacat ini amat
menghancurkan hati.
"Tidak, Bi Li. Siapa yang berani mentertawakanmu akan
kutampar mulutnya sampai copot-copot giginya, siapa berani
menghina akan kubuntungi lengannya. Tidak ! Dalam
pandanganku kau tidak menjadi buruk, aku.. tetap sayang
kepadamu, Bi Li. Jangankan baru hilang sebelah lengamu
yang tidak ada artinya karena kau masih tetap cantik dan
baik bagiku, andaikata kau menjadi bercacad lebih hebat
lagi, pada mukamu atau di mana saja aku tetap akan.......
akan....... mencintaimu seperti biasa, bahkan lebih lagi. Bi
12
Li, kaulah satu-satunya wanita yang telah merampas hatiku
..."
Rupanya terkejut Bi Li mendengar ini. Jari tangan yang
menutupi mukanya diturunan dan muka yang pucat dan
basah air mata ini menghadapi muka Tiang Bu, sepasang
mata yang gelap indah tetapi penuh linangan air mata itu
menatap mata Tiang Bu. Sejenak mereka berpandangan tak
bergerak. Kemudian Bi Li menundukkan mukanya,
menangis makin sedih. Sambil terisak ia berkata terputus.
“Tak mungkin ...... tak mungkin, aku orang cacat ....... kau
akan ditertawai orang...... ah, lebih baik aku mati saja, Tiang
Bu......”
Tiang Bu merangkul pundaknya, menghiburnya sedapat
mungkln, bahkan menjanjikan untuk kelak memberi
pelajaran ilmu silat tinggi sehingga biarpun lengannya
buntung sebelah tidak akan kalah menghadapi musuh
bagaimana tangguhpun.
Akhirnya Bi Li terhibur dan sambil merebahkan
tubuhnya yang lemas itu terlentang di atas rumput ia
mendengarkan kata-kata hiburan Tiang Bu yang mulukmuluk.
Pemuda ini berusaha sedapat mungkin menghibur
hati Bi Li, bahkan bersumpah dengan kesungguhan hati. Bi
Li mendengarkan sambil meramkan mata, akhirnya gadis itu
jatuh pulas.
Baru legalab hati Tiang Bu. Tadinya amat berkhawatir Bi
Li tak dapat menahan kesedihannya dan melakukan
perbuatan nekad membunuh diri. Baru setelab melihat gadis
itu tertidur dan pipinya menjadi agak kemerahan, pemuda
ini merasa betapa tubuhnya lelah bukan main. Ia telah
melakukan pertempuran hebat, dan menderita goncangan
batin yang berat, baru sekarang terasa tubuhnya seakan -
akan tidak bertenapa lagi. Ia menyadarkan tubuh di batang
pohon dekat api unggun dan tak lama kemudian iapun
tertidur.
13
Menjelang pagi Tiang Bu terkejut mendengar suara ayam
hutan berkokok nyaring. melompat bangun dan baru ia tahu
bahwa tanpa terasa ia telah jatuh pulas di luar
kehendaknya. Bagaimana ia bisa jatuh pulas selagi menjaga
Bi Li. Cepat ia menengok dan jantungnya berhenti berdetak
ketika ia melihat tempat yang tadinya ditiduri Bi Li sekarang
telah kosong. Ia menengok ke sana ke mari, sinar matanya
cemas mencari-cari, namun orang yang dicari tidak
kelihatan lagi. Bi Li telah pergi dari situ tanpa memberi tahu
padanya.
"Bi Li......!” Tiang Bu berseru memanggil mengerahkan
tenaga lweekangnya sehingga auarnya bergema di hutan itu
dan terdengar sampai jauh sekali.......” Bi Li! Kau di mana
...... ?"
Namun tidak ada jawaban kecuali kokok ayam hutan
yang terkejut ketakutan dan gema suaranya sendiri. Tiang
Bu menjadi gelisah sekali. Sekali melompat ia telah berada di
bekas tanah berumput yang tadinya ditiduri Bi Li untuk
melihat kalau-kalau di situ terdapat tanda-tanda
mencurigakan. Benar saja, di atas tanah yang rumputnya
sudah dicabuti, ia melihat huruf-huruf yang halus
bentuknya tanda tertulis seorang wanita terpelajar. Memang
Bi Li semenjak kecil hidup di istana pangeran, tentu saja is
mahir sekali menulis huruf-huruf indah. Huruf-huruf itu
berbunyi demikian.
"Ada waktu suka, ada waktu duka.
Sekali bertemu pasti akan berpisah,
Badan cacat, tidak patut menerima cinta.
Tak perlu menyeret enghiong ( orang gagah ) ke lembah
hina)."
"Bi Li kau terlalu merendahkan diri...." Tiang Bu
mengeluh setelah membaca "surat" di atas tanah itu berkalikali
dengan hati ter-haru. "Biarpun lengan kirimu buntung,
Kau masih seratus kali lebih berharga dari pada aku."
14
Ia bangkit bardiri, teringat akan keadaan Bi Li yang
masih belum sembuh lukanya dan badannya masih lemah,
teringat betapa akan sengsaranya gadis itu merantau
seorang diri dalam keadaan bercacat tanpa kawan yang
menghibur dan melindunginya, ia memekik "Bi Li ..... !
Jangan tinggalkan aku....... !”
Seperti orang gila Tiang Bu memanggil- manggil nama
gadis itu sambil berlari cepat sekali keluar masuk hutan.
Namun jangan orangnya, bayangannya sekalipun tidak
nampak seakan-akan Bi Li sudah lenyap ditelan bumi.
Akhirnya setelah setengah hari berlari-larian ke sana ke
mari tanpa tujuan, kembali ke tempat semula dan pemuda
menjatuhkan dirinya di atas rumput bekas tempat tidur Bi
Li.
”Bi Li....... Bi Li....... aku cinta padamu. Walaupun
lenganmu buntung...........”
Tiba-tiba ia bangkit berdiri, wajahnya menyeramkan.
kedua tangannya terkepal dan ia memandang ke arah Uitiok-
lim lalu mengacung-acungkan tinju sambil berseru
keras "Liok Kong Ji, jahanam besar! Akan kubunuh kau.......
kubunuh kau dan kaki tanganmu .....!” Larilah pemuda ini
ke arah sarang ayahnya itu dengan hati panas. Sekarang ia
telah tahu jalan ke Ui tiok-lim didorongnya batu karang
basar dan ia melompat ke bawah ketika tanah tiba-tiba
terbuka, melompat ke dalam sumur di mana ia pada
kemarin harinya terjerumus bersama Bi Li. Melalui
terowongan yang ke. marin, ia terus merayap sampai di
tempat tahanan Cui Lin dan Cui Kim. Dari sini ia sampai di
sumur dangkal, di tengah-tengah hutan bambu.
Dengan hati-hati Tiang Bu melompat naik dan duduk di
pinggir sumur, matanya memandang ke sekelilingnya, penuh
selidik. Kedatangannya kali ini berbesa dengan kemarin.
Selain ia telah tahu betul akan jalan rahasia di sini, juga ia
datang dengan nafsu membunuh terbayang pada matanya
yang tajam slnarnya, pada mulutnya yang cemberut, pada
15
gerak tangannya yang tangkas dan kuat. Tiang Bu datang ke
Ui-tiok-lim untuk mengamuk, untuk membunuh.
Kebenciannya terhadap ayahnya yang ganas itu meluapluap.
Berkat petunjuk Cui Lin tentang rahasia memasuki Uitiok
lim, dan karena kepandaianya yang tinggi, tanpa banyak
susah Tiang Bu berhasil memasuki gedung besar Liok Kong
Ji, ayahnya yang amat dibencinya. terutama sekali karena
orang itu ayahnya! Memang kebencian Tiang Bu terhadap
Liok Kong Ji adalah terutama sekali karena orang itu
ayahnya yang sejati. Sekiranva Liok Kong Ji bukan ayahnya,
kebencian Tiang Bu takkan demikian hebat. Dalam hati
pemuda ini timbul penasaran dan kekecewaan besar sekali.
Alangkah akan bahagia hatinya bertemu dengan ayahnya
kalau saja ayahnya bukan seorang demikian jahat dan keji.
Sebagai protes mengapa berayah sedemikian jahat maka
Tiang Bu membenci ayahnya.
Liok Kong Ji sedang berkumpul dengan saudara-saudara
angkatnya. Sebagian pada mereka telah merasai kelihaian
Tiang Bu dan bekas tangan pemuda lihai ini masih terasa.
Biarpun dengan kepandaian mereka yang tinggi mereka
sudah dapat menguasai diri dan menyembuhtan lukalukanya,
namun masih terasa sakit, terutama sekali It-ci-san
Kwa Lo yang telunjuknya patah-patah masih nampak pucat.
Telunjuk kanannya dibalut dan membengkak, akan tetapi
tulang-tulangnya sudah disambung kembali.
"Sungguh tidak mengira dua setan betina itu
mengkhianatiku!" Demikian ucapan terakhir Liok Kong Ji
yang nampak bersungut-sungut. Mereka baru saja
membicarakan tentang Cui Lin dan Cui Kim yang dihukum
secara keji. Ketika mengetahui bahwa dua orang gadis itu
yang membawa datang Tiang Bu kemudian bahkan
menolongnya keluar dari Ui tiok-lim, Kong Ji marah bukan
main. Bersama Cui Kong ia menangkap dua orang gadis itu
menyiksa mereka, memukul hancur tulang-tulang kaki
16
mereka dan melemparkan mereka ke dalam rawa lumpur
maut.
Kini mereka membicarakan kehebatan sepak terjang
Tiang Bu. Di dalam hatinya Kong Ji merasa keperihan hebat.
Sebetulnya ia amat bangga bahwa putera satu-satunya
ternyata demikian lihai. lebih pandai dari pada Wan Sin
Hong yang ditakutinya. Ah, kalau saja Tiang Bu puteranya
itu mau berbaik dengan dia. mau mengakuinya sebagai ayah
dan berada di sampingnya, ia takkan takut kepada Wan Sin
Hong, takkan takut kepada siapa-pun juga dan tidak perlu
bersembunyi di tempat seperti Ui tiok-lim. Ia akan dapat
merajai dunia! Ia merasa kecewa sekali. Putera tunggalnya
bahkan memusuhinya, agaknya amat membencinva.
Sekarang tentu akan makin benci lagi setelah ia
membuntungi lengan gadis cantik itu. Sayang! Ia terpaksa
membuntungi lengan gadis itu, kalau tidak, kiranya tidak
ada jalan lain untuk menahan amukan Tiang Bu kemarin.
Apa boleh buat, keadaan sudah demikian. dan terpaksa ia
harus menghadapi permusuhan dengan puteranya sendiri.
"Kita harus memperkuat penjagaan. Siapa tahu kalaukalau
anak bengal itu datang mengacau lagi. Kalau perlu,
Lo-thian-tung Cun Gi Tosu akan kupanggil untuk
memperkuat kedudukan kita,” katanya dengan muka
murung. ”Benar-benar aku tidak mengerti bagaimana ia
memperoleh kepandaian sehebat itu dan....... ”
Kata-katanya terhenti oleh pekik mengerikan. Kong Ji
dan kawan-kawannya tersentak kaget. Memang hati mereka
selalu dag-dig dug, sekarang mendengar pekik ini tentu saja
wajah mereka menjadi pucat. Apa lagi ketika pekik itu
disusul oleh melayangnya tubuh seorang penjaga pintu yang
dilemparkan orang ke arah Kong Ji. Cepat Kong Ji
menggunakan tangan kiri menyampok dan....... penjaga
pintu itu terlempar ke atas lantai di pojok ruangan. Telah
tewas tanpa kelihatan terluka.
17
Menyusul ini, tubuh Tiang Bu berketebat dan tahu-tahu
ia sudah berdiri di depan pintu ruanpan. Dengan langkah
tenang perlahan berjalan masuk, matanya menyapu orangorang
di dalam ruangan itu bagaikan petir menyambarnyambar.
Kong Ji menjadi maka pucat, akan tetapi karena ia
bersama banyak kawan, ia memberanikan hati dan berkata
lantang,
“Tiang Bu, anakku yang baik. Bagus sekali kau datang
kembali. Akhirnya seorang anak pasti akan kembali kepada
ayahnya."
Berkata demiktan. Korg Ji melangkah maju dengan
kedua tangan terjulur ke depan, seakan-akan seorang ayah
hendak memeluk puteranya. Melihat sambutan seperti ini,
biarpun hatinya amat panas dan marah, ingin hatinya
segera menyerang orang ini, namun Tiang Bu merasa tidak
enak kalau terus menyerang tanpa bicara dulu. Akan tetapi,
sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba ia merasa
betapa dari dua tangan Liok Kong Ji yang diulur ke depan
itu, menyambar tenaga pukulan yang amat dahsyat. Sekali
lirik melihat kedudukan tubuh Kong Ji agak merendah,
terkejutlah Tiang Bu. Itulah pukulan Tin san-kang yang
maha hebat.
Memang bukan Liok Kong Ji si manusia iblis kalau tidak
securang dan selicik itu. Kong Ji pandai membaca sinar
mata dan wajah orang. Begitu melihat Tiang Bu, ia maklum
bahwa perbuda ini datang untuk membalas dendam, bahkan
tak ada gunanya berunding secara damai dengan pemuda
yang sedang marah. Oleh karena itu, pada luarnya ia
kelihatan ramah tamah dan baik, namun diam-diam ia telah
mengerahkan tenaga, bersiap untuk menyerang secara tibatiba
dengan ilmu pukulan Tin-san-kang yang lihai. Inilah
serangan gelap yang sama sekali tidak diduga oleh Tiang Bu,
biarpun pemuda ini sudah maklum akan kejahatan orang
yang mengaku menjadi ayahnya.
18
Cepat Tiang Bu mengerahkan tenaga sinkang pada
dadanya karena untuk mengelak sudah tidak mungkin.
Semacam tenaga dorong yang luar biasa kuatnya
menyambarnya dan dadanya tentu akan remuk kalau saja
tenaga sinkangnya tidak hebat. Dada itu sekarang terisi
hawa, menjadi seperti bola karet padat dengan angin,
pukulan itu terpental da membuat tubuhnya terlempar ke
belakang namun tidak terluka. Bagaikan dilempar oleh
tenaga raksasa, Tiang Bu terlempar membentur dinding.
Baiknya ia sudah bersiap-siap sehingga cepat dapat
mengerahkaa ginkagnya dan tubuhnya tertahan dinding lalu
jatuh dalam keadaan berdiri. Orang lain tentu akan
membuat tembok itu bobol dan menderita luka-luka.
Bagaikan harimau terluka Tiang Bu membalikkan tubuh,
akan tetapi lagi-lagi ia dihadapi serangan gelap dari Kong Ji.
Beberapa sinar menyambar ke arah jalan darahnya, tidak
kurang dari tujuh bagian ! Sinar hitam itu adalah Hek-tok
ciam (Jarum Racun Hitam) yang amat lembut dan datangnya
tanpa mengeluarkan suara. Tiang Bu tidak menjadi gugup.
Ia telah menggerak-gerakkan kedua tangannya memancing
ke luar tenaga lwee-kangnya dan begitu kedua tangannya
menyambar ke depan, tanpa mengelak ia telah dapat
menghindarkan serangan gelap ini.
Semua jarum hitam tersampok runtuh oleh angin
pukulannya. Tiang Bu marah sekali dan hendak memaki
akan kecurangan orang. akan tetapi lagi-lagi Kong Ji sudah
mendesaknya dengan pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun
Hitam), semacam pukulan warisan See-thian Tok-ong yang
luar biasa jahatnya. Jangankan terkena tangan yang
melakukan pukulan ini baru terkena hawa pukulan saja
lawan akan roboh dengan tubuh menghitam dan nyawa
melayang !
"Setan, kau curang !” bentak Tiang Bu sambil
menggerakkan kedua tangan memukul ke depan. Akibat dari
adu tenaga dari jauh ini, Liok Kong Ji mundur tiga tindak
19
dengan muka pucat, sedangkan Tiang Bu hanya menahan
napas saja.
"Bagus. kepandaianmu memang hebat, dan kau cukup
berharga untuk bicara. Kau datang kalau bukan hendak
berbakti kepada ayahmu, habis mau apakah....?” tanya Kong
Ji, biarpun ia juga marah, tak dapat ia menyembunyikan
kekagumannya terhadap pemuda lihai ini.
"Kau masih hendak bertanya lagi ? Aku datang untuk
menamatkan riwayatmu, untuk membunuhmu !" jawab
Tiang Bu sambil melangkah maju, tidak perduli betapa Cui
Kong, Ban kin-liong Cong Lung, Twa-to Ma-It Su, It-ci-san
Kwa Lo, Koai-jiu Sin-touw Lee BokWi dan Hok Lun Hosiang
sudah bangkit dan mengeluarkan senjata masing-masing,
mengambil tempat untuk mengeroyoknya.
Liok Kong Ji menyeringai. "Tiang Bu, Tiang Bu ! Di
manakah ada di dunia ini ada seorang anak membunuh
bapaknya? Apa kau tidak takut akan terkutuk oleh Langit
Bumi ?"
"Banyak cerewet yang tidak ada gunanya. Aku datang
bukan untuk membunuh ayahku melainkan untuk
membunuh seorang penjahat sekeji-kejinya di dunia ini !"
“Lho, aku ini ayahmu, Tiang Bu! Aku Liok Kong Ji
ayahmu, dan ibumu Gak Soan Li...!”
"Cukup ! Ibuku sudah mati, demikian ayahku sudah mati
dalam hati dan ingatanku. Kau bukan ayahku, kau seorang
iblis yang harus dibasmi dari muka bumi. Kau... kau...
jahanam besar !" Tiang Bu melangkah maju, sinar matanya
mengandung penuh ancaman sehingga Liok Kong Ji yang
biasanya amat pemberani dan keji itu bergidik.
”Ayah, mengapa banyak mengalah terhadap orang
kurang ajar semacam ini? Hantam saja !” kata Cui Kong
mempersiapkan huncwenya.
20
"Saudara-saudara, sekarang aku tidak sayang lagi,
keroyok dan bunuh bedebah ini !”
Kong Ji kini marah betul-betul dan semua kasih
sayangnya sebagai ayah terhadap anak lenyap, terganti oleh
kebencian besar. Tiang Bu bukan dianggap anaknya lagi,
melainkan musuh besar yang berbahaya dan yang harus
dilenyapkan dari muka bumi kalau dia mau hidup aman.
Cepat Kong Ji mencabut pedangnya dan menyerang Tiang
Bu. Pedangnya berputar secara luar biasa, berkembang ke
depan sampai lebar membundar, mengeluarkan sinar putih
berkilau dan mendatangkan hawa dingin menyusup tulang
kepada yang diserangnya.
Tiang Bu mengeluarkau teriakan kaget menghadapi
serangan ini. Pernah ia melihat Tiong Jin Hwesio memainkan
ilmu pedang ini maka tahulah ia bahwa yang dimainkan oleh
Liok Kong Ji secara hebat untuk menyerangnya adalah ilmu
pedang warisan Hoat Hian Couwsu yang lihainya bukan
kepalang.
“Setan ! Kau sudah mencuri pula Ilmu Pedang Swat-Tiankiam-
sut ( Ilmu Pedang Teratai Salju ) dari Omei-san,"
toriaknya sambil cepat mengelak dan mengibaskan
tangannya dengan pengerahan tenaga lweekang untuk
melawan hawa dingin yang keluar dari serangan pedang itu.
Merasa betapa pedangnya terdorong ke samping oleh
kibasan tangan ini, Kong Ji diam-diam terkejut sekali, apa
lagi pemuda itu sekali melihat sudah mengenal ilmu
pedangnya. Memang dahulu ketika beramai-ramai menyerbu
ke Omei-san, Liok Kong Ji sudah berhasil mendapatkan
sebuah kitab ilmu pedang yaitu Swat-lian-kiam-coansi yang
dilatihnya secra rahasia dengan amat tekunnya. Orang lain
tidak ada yang tahu bahwa ia mendapatkan kitab itu dan
mempelajarinya, akan tetapi sekarang baru sejurus saja ia
keluarkan, pemuda ini sudah lantas mengenalnya.
21
"Ha ha, kaukira hanya kau saja yang pandai? Hari ini
kau akan mampus di depan kakiku, boeah jahanam tak
tahu diri!” bentaknya untuk menutupi kekagetannya.
Kembali ia menyerang dengan ilmu pedangnya yang
tinggi tingkatnya digerakkan dengan pengerahan tenaga
sepenuhnya karena nafsu membunuh sudah memenuhi
dirinya. Terpaksa Tiang Bu mengelak. Serangan-serangan
“ayahnya” kali ini dilakukan dengan sungguh-sungguh dan
benar-benar bukan serangan yang tidak berbahaya. Ia harus
hati-hati. Agaknya Liok Kong Ji kali ini mengeluarkan
kepandaiannya betul-betul untuk menghadapinya.
"Kau memamerkan kepandaianmu ? Bagus. Akulah
lawanmu." kata Tiang Bu dengan gerakan indah melakukan
jurus Sam hoan-bu sehingga kembali serangan Kong Ji
mengnai tempat kosong.
”Bunuh keparat ini!” Teriak Cui Kong yang cepat
menyerbu membantu ayah angkatnya, menyerang dengan
huncwenya yang juga amat lihai.
Biarpun tadinya merasa gentar, kini melihat sang twako
Liok Kong Ji sudah bergerak dan agaknya betul-betul
hendak membunuh pemuda itu, lima orang saudara angkat
Kong Ji menjadi besar hati dan berturut-turut mereka
melompat maju, menyerang dengan keistimewaan
masing.masing. Ban-kin-liong Cong Lung menyerang dengan
tangan kosong, namun pukulan-pukulannya mendatangkan
angin yang sudah cukup untuk merobohkan lawan karena
dia memang seorang ahli lweekeh yang tanggub tenaga
lweekangnya. Twa-to Ma it Sun memutar-mutar golok
besarnya. It-ci-san Kwa Lo biarpun jari telunjuknya kini
dibungkus dan tak dapat dipergunakan, namun jari-jari
tangannya yang lain masih ampuh. Si jari lihai Kwa Lo ini
adalah ahli totok nomor satu di daerahnya, memiliki
kepandaian Tiam-hiat-hoat (Ilmu Menotok Jalan Darah) yang
istimewa dilakukan dengan satu jari dan betapa tingi
22
kepandaian Kwa Lo dapat dilihat dari kepandaiannya
mempergunakan jari tangan yang manapun juga.
Babkan ibu jari yang besar tumpul dapat pula ia
pergunakan! Koai-jiu Sin-touw Lee Bok Wi Si Malaikat Copet
juga merangsek maju, kini mengeluarkan senjatanya yang
istimewa berupa besi kaitan kecil alat yang biasa dibawa
oleh ahli-ahli copet untuk menyambar barang orang. Akan
tetapi kini kaitan besi ini bukan dipergunakan untuk
menyambar benda berharga yang dipakai orang, melainkan
dikerjakan secara hebat untuk menyambar nyawa Tiang Bu.
Akhirnya Hok Lun Hosisng, orang yang memiliki Ilmu toya
Siauw lim-si, lihai dan amat hati-hati toyanya menyambarnyambar
mengeluarkan angin.
Untuk kedua kalinya Tiang Bu menghadapi
pengeroyokan tujuh orang yang amat lihai, yang
kesemuanya merupakan jago-jago kelas satu. Akan tetapi
sekarang ia seorang diri, tidak melindungi Bi Li, juga tidak
memondong orang sepertI kemarin. Di samping ini, hatinya
marah dan sakit hati, maka Tiang Bu hebat sekali
gerakannya, seperti seekor naga mengamuk. Dengan
pengerahan sinkang yang ia miliki dari latihan Ilmu Seng
thian-to, jari jari tangannya demikian kuat dan kebal untuk
mengibas dan menangkis setiap sambaran senjata lawan.
Cukup dengan angin pukulannya saja dapat menahan dan
setiap orang lawan tidak berani datang terlampau dekat,
karena sambaran angin pukulannya cukup membuat lawan
menderita luka dalam yang hebat, tidak kalah berbahayanya
dari pada senjata yang paling tajam.
Namun tujuh orang lawannya juga bukan ahli silat
sembarangan, mereka bertempur dengan hati-hati, maklum
akan kelihatan pemuda sakti itu. Senjata datang menerjang
seperti hujan, semua dilakukan dengan teratur dan hatihati.
Terutama sekali pedang di tangan Liok Kong Ji benar
benar hebat gerakannya. Kalau saja pemuda itu bukan
murid Omei-san dan kebetulan sakali pernah melihat Ilmu
23
Padang Soat hoat-kiam-sut dimainkan oleh guru ke dua
Hong Jin Hwesio di Omei-san, tentu ia akan payah melawan
Ilmu pedang yang mendatangkan hawa dingin ini.
Pertempuran itu hebat sekali, cepat dan seru sampaisampai
sukar membedakan satu dari yang lain. Di sekeliling
tempat pertempuran, angin pukulan menyambar-nyambar
membuat meja kursi beterbangan dan suara angin bersiutan
sungguhpun di luar gedung pada saat itu tidak ada angin.
Benar-benar sebuah pertempuran ahli-ahli silat tingkat
tinggi.
Seratus jurus lewat sudah. Belum dapat tujuh orang itu
mendesak Tiang Bu, bahkan sebaliknya perlahan akan tetapi
tentu Tiang Bu mulai dapat mengacau pertahanan mereka.
Dengan pukulan pukulan yang ia mainkan dari Ilmu
Pukulan Sakti Thian-te Si-kong ia menolak semua serangan
lawan, kemudian dengan ilmu silat bersegi delapan, ia
dengan mudah menghadapi tujuh orang pengeroyoknya dan
dapat secara bergiliran membagi serangan.
Kong Ji yang merasa penasaran bukan main menggerung
seperti singa. Pedangnya meluncur seperti kitat menyambar
ke arah tenggorokan Tiang Bu. Ketika pemuda ini yang
sedang menangkis serangan toya Hok Lun Hosiang dengan
tendangan kaki cepat mengelak ke kiri, Kong Ji
memapakinya dengan pukulan Hek tok ciangnya.
Keadaan Tiang Bu terjepit sekali. Pada saat pukulan Hektok-
ciang ini mengancam lambungnya, masih ada dua
serangan lawan yang tidak kalah berbahaya. Pertama-tama
huncwe di tangan Cui Kong melakukan totokan ke arah
jalan darah di punggungnya, sedangk golok besar Ma It Sun
membabat lehernya. Jadi sekaligus tiga macam serangan
yang merupakan tangan-tangan maut mengancam
nyawanya.
Baiknya Tiang Bu adalah murid Omni-san dan sudah
memiliki kepandaian, ketenangan dan parhitungan yang
tepat. sekilas pandang tahulah ia bahwa dari tiga serangan
24
ini pukulan Hek-tok-ciang dari Kong Ji ke arah lambungnya
datang paling akhir, juga baginya yang sudah memiliki hawa
sinkang untuk mengebalkan badan, pukulan Hek-tok-ciang
ini paling kecil artinya. Huncwe yang menotok jalan darah di
Thai-hut-hiat dan golok yang membabat leher lebih
berbahaya.
Jalan darah Thai-hut-hiat adalah jalan darah paling
lemah bagi ahli-ahli silat dan ahli lwee-keh, sedangkan
penotokan dilakukan oleh Cui Kong dengan Huncwe
mautnya, bahayanya besar sekali. Adapun babatan golok ke
arah lehernya juga tak boleh dipandang ringan, sebelum
golok tiba angin sudah menyambar, tanda bahwa si tinggi
besar hitam Ma It Sun itu bertenaga besar dan goloknya
sendiripun berat.
Tiang Bu membagi tenaga. Sebagian yang mengandung
hawa murni dari sinkang ia salurkan ke arah lambung
untuk menerima pukulan Hek-tok-ciang, sedangkan
sebagian pula ia pergunakan di kedua tangannya yang
bergerak cepat sekali.
Dengan Ilmu Twi-san-siu-po (Tolak Gunung Menyambut
Mustika) ia menggunakan tangan kiri yang dimiringkan
menolak atau menangkis tusukan huncwe berbareng dengan
tangan kanannya secepat kilat menyambut datangnya golok
dari samping. Betapapun cepatnya golok melayang, tangaa
kanan Tiang Bu lebih cepat lagi menempel golok dari
tamping dan mendorongnya sekuat tenaga ke belakang.
“Celaka.....!” seru Cui Kong melihat golok yang tadinya
menyambar leher Tiang Bu sekarang menyeleweng dan
sebaliknya malah menyambar kepadanya! Twa to Ma It Sun
tentu saja maklum akan hal ini, namun ia tidak dapat
mengendurkan tangannya yang sudah terdorong oleh tenaga
Tiang Bu. Untuk membersihkan diri agar jangan sampai
dianggap menyerang Cui Kong, Si golok besar terpaksa
melepaskan gagang goloknya. Senjata itu terus meluncur ke
arah Cui Kong. Pemuda ini dapat menggerakkan huncwenya
25
menangkis. Terdengar suara keras, tangannya tergetar
hebat, namun ia selamat, Golok dapat terpukul jatuh hanya
mengalami kekagetan luar biasa. Sungguh berbahaya
keadaan tadi.
Sebaliknya Ma It Sun lebih sialan. Begitu ia melepaskan
goloknya, baru ia merasa ada angin panas menyambar. Ia
berusaha mengelak namun tidak sempat lagi. Tadi ia
terlampau kaget melihat goloknya hendak minum darah
kawan sendiri maka perhatiannya tarpecah. Pantangan
besar bagi ahli silat kelas tinggi untuk membagi perhatian
selagi menghadapi lawan tangguh. Sedangkan pukulan yang
dilakukan oleh Tiang Bu ini bukan pukulan biasa,
melainkan pukulan tangan miring yang menganduog tenaga
lweekang kuat sekali.
"Kekkk!" Seperti disambar petir Ma It Sun memegangi
kepala dengan perut ditekuk. Perutnya telah kena pukulan,
namun kepalanya yarg terasa panas seperti hendak meledak,
napasnya putus. Ia terjungkal kedepan, tergelimpang dan
roboh telungkup, tak bernapas lagi.
Enam oraug yang lain melihat ini menjadi marah, tetapi
juga gentar. It ci-sian Kwa Lo yang masih merasa penasaran
dan sakit hati karena telunjuknya patah-patah, diam-diam
melakukan serangan gelap dari belakang, sekaligus kedua
tangannya bekerja. Tangan kiri menotok ke arah tulang
belakang sedangkan tangan kanan yang telunjuknya
terbungkus itu menggunakan jari kelingking menotok jalan
darah Siauw-hu hiat, jalan darah terkecil di punggung, akan
tetapi paling berbahaya kalau sampai terkena.
Yang lain-lain membantu Kwa Lo. Si Malaikat Copet Lee
Bok Wi juga mengerjakaa besi kaitannya, dari depan. Ia
dengan besi kaitannya ke arah muka Tiang Bu, hendak
mengait biji mata atau hidung. Juga Ban-kin liong Cong
Lung memukul dari samping dibantu oleh Hok Lun Hosiang
yang menyodokkan toyanya ke arah perut lawan. Kong Ji
dan Cui Kong tidak mau ketinggalan. Setelah Kong Ji
26
menendang mayat Ma It Sun sehingga terlempar ke pinggir
dan tidak akan terinjak-injak ia lalu mengerjakan lagi
pedangnya, demikian pula Cui Kong maju, biarpun kini amat
hati-hati karena tadi hampir celaka.
Sekarang Tiang Bu sudah tidak sabar lagi. Kalau tadi
nafsu membunuhnya hanya ditujukan kepada Kong Ji dan
Cui Kong. sekarang ia mulai marah kepada yang lain-lain
pula. Pengeroyokan ini menghalangi atau setidaknya
memperlambat terlaksananya keinginan hatinys
menewaskan ayah anak yang jahat itu. Tiba-tiba ia
mengeluarkan pekik keras sekali.
Inilah lweekang yang setinggi-tingginya, disalurkan dalam
suara yang menggetar. Biarpun Tiang Bu tidak pernah
mempelajari Ilmu Sai-ciu Hokang (Ilmu Auman Singa),
namun sinkang dan lweekangnya sudah lebih dari kuat
untuk melakukan pekik yang mengandung tenaga hebat ini.
Kitab Sang thian-to yang sudah dipelajarinya telah
mengumpulkan tenaga sinkang baginya, tenaga yang
sehebat-hebatnya namun masih kurang ia sadari.
Kini Tiang Bu terserang kemarahan besar ia gemas
melihat pengoroyokan mereka, maka untuk melampiaskan
hawa marah yang mendesak di dada, ia mengeluarkin
pekikan ini. Tadinya ia hanya ingin memuaskan hawa
marah, ingin menantang. Siapa kira pekikannya ini
merupakan serangan yang luar biasa hebatnya.
"Eeeiiiikkk ...... !” Pekik ini lebih menyerupai suara
garuda dari pada suara singa mengaum. Yang paling rendah
Iweekangnya antara para pengeroyok adalah Koai jiu in-touw
Lee Bok Wi Si Malaikat Copet. Begitu mendengar pekik ini
wajahnva menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil.
senjata kaitan terlempar dan kedua tangannya ia
pergunakan menutupi kedua telinganya. Namun tetap saja
ia terguling roboh, muntah-muntah darah, kejang lalu ......
mati! Hawa serangan yang terkandung dalam pekik itu telah
27
merusak dan menghancurkan seluruh latihan lweekang
dalam dirinya.
Lima orang yang lain juga mengalami goncangan hebat
sekali. Bahkan Hok Lun Hosiang hwesio Siauw-lin si yang
murtad itu, telah melempar toyanya dan duduk bersila
mengatur napas, karena ia telah menderita luka dalam yang
tidak ringan. It ci-sian Kwa Lo terhuyung-huyung mundur
dengan wajah pucat seperti mayat, kedua kakinya menggigil.
Cui Kong yang tadi merasa jantungnya seperti copot
mendengar gerengan cepat mengerahkan tenaga lweekang
melindungi telinga dengan tangan.
”Iblis ...........!” Kong Ji berbisik dengan muka pucat pula.
Hanya dia yang dapat menahan serangan pekik yang
dahsyat ini, biarpun merasa dadanya berdebar-debar dan
telinganya mendengar suara gema mengiang.
Akan tetapi Tiang Bu yang tadinya juga kejut melihat
akibat pekikannya, tidak mau banyak membuang waktu.
Kedua tangannva bergerak ke kanan kiri dan pertama-tama.
Hok Lun Hosiang tergelimpaag tewas, disusul robohnya Ban
kin lions Cong Lung dan yang terakhir It-ci-sian Kwa Lo!
Tewaslah lima orang jago Ui-tiok-lim, saudara-saudara
angkat dan tangan kanan Liok Kong Ji.
Tiang Bu bersiap menghadapi Kong Ji dan Cui Kong.
Akan tetapi, sekali melompat orang itu telah lenyap dari situ!
"Jahanam pengecut Liok Kong Ji kau hendak !ari ke
mana?” Tiang Bu lari meagejar ke depan, akan tetapi ke
mana ia harus mencari. Tempat di situ penuh rahasia dan
perginya Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong tadi saja pun sudah
aneh sekali. Tahu-tahu hilang begitu saja.
Tiang Bu ragu-ragu dan bingung, juga amat penasaran
dan gemas. Biarpun ia sudah berhasil menewaskan lima
orang kaki tangan Kong Ji yang paling diandalkan dan
karena itu berarti sudah menewaskan lima orang jahat yang
28
mengotorkan dunia, namun ia masih belum dapat
membunuh Kong Ji.
”Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong ! Majulah kalau kalian
jantan!!” Kembali Tiang Bu memaki-maki dan berteriak –
teriak memanggil keluar ayah dan anak itu. Namun keadaan
sunyi saja, tidak terdapat seorangpun manusia. Biarpun
tadinya di dalam gedung itu penuh dengan pelayan dan para
selir Kong Ji, namun sekarang entah bagaimana mereka
sudah pada menghilang semua.
"Percuma......." pikirnya. "Aku mencari-cari tak mungkin
dapat menemukan mereka, salah-salah aku bisa terjebak.
Lebih baik kutunggu mereka di bawah bukit.”
Setelah berpikir demikian. Tiang Bu lalu lari
meninggalkan daerah Ui tiok lim, mengikuti jalan yang
pernah dilaluinya ketika ia memondong Bi Li keluar.
Akhirnya ia selamat sampai di bawah bukit. Di sini ia
bersembunyi sambil mangaso untuk mencegat keluarnya
Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong.
Sehari ia berjaga di situ, namun tak seorangpun muncul.
Menjelang senja, barulah ia melihat rombongan orang turun
gunung. Hatinya berdebar tegang, tak salah lagi, tentu itulah
rombongan Liok Kong Ji, pikirnya. Diam-diam ia
mentertawakan Liok Kong Ji yang dianggap goblok sekali,
mengungsikan keluarganya demikian tergesa-gesa.
Rombongan itu terdiri dari belasan joli yang dipikul oleh
para pelayan, ada pula yang membawa buntalan-buntalan
besar, agaknya membawa harta benda dari Ui-tiok-lim.
Tiang Bu melompat ke luar. "Berhenti!” bentaknya. "Liok
Kong Ji, keluarlah untuk terima binasa !"
Melihat munculnya pemuda ini, para pelayan menjadi
kaget dan ketakutan. Mereka berkumpul, menutunkan joli
lalu berlutut dengan tubuh gemetar.
29
"Siauw-ya, ampunkan kami....... " yang berani membuka
mulut berkata lemah.
"Di mana majikan kalian? Surub Liok Kong Ji ke luar
menemuiku !’
"Liok-loya tidak....... tidak ada....... kami tidak tahu......
hanya disuruh pergi meninggalkan gunung ...... " jawab
seorang pelayan.
“Bohong......!” Tiang Bu tidak sabar lagi. Dengan
menggerakkan sedikit kaki kirinya, pelayan itu tergulingguling
dan Tiang Bu maju menghampiri joli-joli itu.
Disingkapnya joli diperiksanya dalam joli. Terdebgar pekik
dan jerit wanita.
"Laki-laki kurang ajar !”
”Cih. tak tahu malu !"
"Kau mau apa....... !”
”Hee....... ada pemuda kurang ajar. Jangan buka buka
joli...... !”
Tiang Bu kewalahan. Ternyata joli-joli terisi wanitawanita
muda cantik yang menjadi selir Kong Ji. Sudah
diperiksa seluruh joli, juga diperiksa semua anggauta
rombongan tidak terdapat Kong Ji maupun Cui Kong.
Saking marahnya Tiang Bu membanting-banting kaki.
Kemudian ia mendapat akal. Dihampirinya sebuah joli,
disingkapnya joli itu tanpa memperdulikan jerit tangis orang
di dalamnya. Bahkan ia lalu mengulurkan tangan ke dalam
joli, menangkap lengan wanita di dalam joli, dan ditariknya
ke luar. Seorang wanita muda yang cantik akan tetapi
berbedak tebal sekali meronta-ronta dalam pegangannya.
"Hayo kau mengaku, di mana adanya Liok Kong Ji !”
bentaknya marah. ”Kalau tidak mau mengaku, akan
kulempar kau ke dalam jurang itu !” Ia menuding ke arah
sebuah jurang yang curam.
30
“Aaiiihhh, ampun....... taihiap....... . ampun.
Sesungguhnya kami tidak tahu ...... ke mana dia......,”
wanita itu menangis dan meratap. ”Kami hanya diberi
perintah supaya pergi mengungsi turun gunung, tidak
diperbolehkan kembali lagi ......”
Tiang Bu membentak bentak dan menakut-nakuti
sampai wanita itu terkencing-kencing ketakutan dan Tiang
Bu dengan jongah dan mendongkol melepaskan tangannya.
Dengan pakaian bawah basah wanita itu merayap kembali
ke dalam joli. Tiang Bu menyeret keluar wanita dari joli ke
dua. Akan tetapi sama saja. biarpun ia sudah mengancam,
wanita itu tidak dapat menceritakan di mana adanya Liok
Kong Ji.
Tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian hijau muda,
datang-datang membentak marah, "Begal tak tahu malu!
Kau berani menghina kaum wanita?"
Tiang Bu memutar tubuh dan dua sinar berkilauan
menyambarnya. Cepat ia mengelak dan mengulur tangan
menangkap pergelangan dua tangan gadis baju hijau itu
yang telah menyerangnya dengan sepasang kapak kecil
secara hebat sekali.
"Fei Lan,......!” katanya tertegun ketika mengenal gadis
puteri penebang kayu yang pernah ditemuinya ketika ia
melakukan perjalanan ke selalan mencari Toat-beng Kui-bo.
Gadis cantik berbaju hijau itu terkejut mendengar
namanya dipanggil, juga ia tidak sanggup menarik kedua
tangannya yang terpegang oleh pemuda itu. ia memandang,
memperhatikan dan mengingat-ingat. Kemudian pecahlah
senyumnya,....... seruannya.
"Tiang Bu koko ..... ..! Akhirnya aku dapat berjumpa
denganmu!"
Tiang Bu melepaskan pegangannya dan gadis itu
bertanya, keningnya berkerut penuh curiga dan penasaran.
31
"Tiang Bu koko, hendak berbuat apakah terhadap wanitawanita
ini ?”
Melihat sikap dan pandang mata gadis ini merah muka
Tiang Bu. Celaka, ia tentu disangka hendak berbuat yang
tidak patut terhadap rombongan itu.
”Fei Lan, jangan salah sangka. Rombongan ini adalah
keluarga musuh besarku, aku sedang memaksa mereka
mengaku di mana adanya musuh besarku yang
menyembunyikan diri itu.”
"Begitukah?" Tiba-tiba sikap Fei Lin berubah cepat sekali.
Ia menghampiri joli terdekat menendang joli itu sehingga
wanita yang ada di dalamnnya menjerit dan terlempar jatuh
bergulingan.
"Kau tidak mau mengaku? Hayo katakan di mana adanya
musuh besar
tunanganku ini!”
"A....... am.......
ampun...... aku tidak
tahu .......” wanita itu
masih mencoba
menjawab dan inilah
kesalahannya. Sepasang
kapak bergerak dan .......
tubuh wanita itu
terpotong menjadi tiga!
Putus pada leher dan
pinggangnya,
"Fei Lan. ...... !" Tiang
Bu berteriak tidak kuasa
mencegah pembunuhan
yang sama sekali tak
pernah disangka-dangka
itu.
32
Fei Lan berpaling kepadanya, tersenyum semanismanisnya.
“Koko. musuhmu adalah musuhku, anjing-anjing
betina ini harus dipaksa, kalau perlu dibunuh !"
"Tidak, jangan !" tegur Tiang Bu sambil melompat
mendekati Fai Lan untuk mencegah gadis ini menyebar
kematian. Biarpun amat benci kepada Kong Ji dan Cui Kong,
namun Tiang Bu tidak menghendaki rombongan yang terdiri
dari para selir dan pelayan ini dibunuh. Mereka ini adalah
orang-orang biasa yang tidak mempunyai dosa, bahkan
harus dikasihani berada di bawah kekuasaan seorang jahat
macam Kong Ji. "Kalian pergilah dari sini." katanya kepada
mereka. Bagaikan dikejar setan, rombongan itu lalu berlarilari
turun dan cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Fei Lan, bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Tiang
Bu setelah rombongan itu pergi sambil membawa mayat
wanita yang sudah terpotong menjadi tiga itu.
"Tiang Bu koko, kau benar-benar lelaki yang tidak tahu
kasihan kepada tunangan. Sudah dua tahun aku mencaricarimu,
hidup terlunta-lunta. Baru sekarang kebetulan
sekali kita bertemu dan kau masih tanya bagaimana aku
bisa berada di sini? Kau benar-benar terlalu !" Fei Lan
menyelipkan sepasang kapaknya di pinggang, menutupi
muka dengan kedua tangan, menangis.
Tiang Bu melongo. Untuk beberapa lama ia sampai tidak
dapat mengeluarkan sepatah katapun. Teringat ia akan
peristiwa yang dahulu, ketika ia bertemu dengan Fai Lan
dan ayahnya. Ayah gadis ini secara begitu menetapkan
perjodohan antara dia dan gadis ini dan Fel Lan juga
menerimanya. Tanpa bertanya tentang pendapatnya, ayah
dan anah ini sudah menganggap otomatis perjodohan itu
terikat. Benar-benar gila.
"Fai Lan, di mana ayahmu ?” akhirnya dapat juga
membuka suara.
33
Akan tetapi mendengar pertanyaan ini, Fei Lan
memperhebat tangisnya. Tiang Bu menjadi makin bingung.
ia paling bingung menghadapi wanita menangis. Tak tahu
apa yang harus dilakukan atau diucapkannya, ia banyak
berdiri mematung memandaog gadis yang menangis tersedusedu
itu.
“Fei Lan, jangan menangis dan bicaralah!” Akhirnya ia
membentak saking tidak sabar lagi. Aneh.
Fel Len tiba tiba saja berhenti menangis dan memandang
kepadanya dengan heran dan mendongkol. "Koko, kau
keterlaluan sekali. Bertahun-tahun tidak muncul, setelah
kucarari sampai dua tahun lebih, sekarang bertemu kau
membentak-bentak."
Kembali Tiang Bu yang melengak. Celaka, pikirnya,
sudah bertahun-tahun gadis ini masih belum insyaf dan
belum sembuh, bahkan penyakitnya ”mengaku-aku jodoh"
makin menggila.
"Katakanlah mengapa kau datang ke sini dan mana
ayahmu. Jangan bicara tidak karuan, aku tidak ada waktu,
hendak mengejar musuh-musuhku”
"Ayah telah tewas. pembunuhnya kakek buntung. Koko,
sekarang aku sebatang kara. Aku ingat jenjimu. Bukankah
kau menyuruh aku menanti lima tahun? Nah, sekarang
sudah lima tahun, aku mau ikut kau !”
Akan tetapi Tiang Bu tidak memperhatikan kata-kata
terakhir ini, yang ia perhatikan adalah tentang kakek
buntung yang membunuh Lim-bong Lai Fu Fat si penebang
kayu yang lihai.
"Kakek buntung lihai? Kau tahu nemanya?”
”Namanya Lothian tung Cun Gi Tosu, dia membawa
seorang bocah perempuan dan ......”
34
"Dia lari ke mana? Tahukah kau, Fei Lan, Dia lari ke
mana ?" Tiang Bu bertanya sambil memegang lengan gadis
itu.
Fei Lan memandang heran. Ia tidak mengerti mengapa
”tunangannya" ini demikian memperhatikan Lo-thian-tung
Cun Gi Tosu.
"Kakek buntung itu naik peruhu ke selatan. Karena aku
tidak kuat melawannya akan tetapi aku mendendam atas
kematian ayah, aku mengikutinya terus diam-diam. Ternyata
terus ke laut, menuju ke pulan-pulau selatan. Aku tidak
dapat mengejar terus. Mengapa kau bertanya, koko ?"
Tiang Bu memegang lengan gadis itu erat-eral dan
suaranya mengandung kasihan sungguh-sungguh ketika ia
berkata, "Fei Lan, aku tidak bisa menjadi jodohmu. Kau
cantik, gagah, tentu mudah mendapat pasangan. Kau
carilah pemuda lain, jangan mengharapkan aku. Jangan
khawatir, kematian ayahmu kelak aku yang akan
membalaskan kepada kakek buntung itu. Nah, selamat
tinggal dan jangan mencari aku lagi !"
Fei Lan hendak merangkul, akan tetapi Tiang Bu lebih
cepat. Sekali berkelebat pemuda itu lenyap dari depannya.
Fei Lan bengong terlongong-longong, lalu menangis dan
berkata seorang diri,
"Mencari pemuda lain........? Mana ada seperti dia....... ?
Ah, ayah....... nasib anakmu buruk sekali...... " Gadis itupun
berjalan sambil menangis, pundaknya bergoyang-goyang dan
jalannya limbung.
-oo(mch)oo-
Wan Sin Hong meninggalkan isterinya, Siok Li Hwa, di
Kim-bun-to dan dia sendiri merantau untuk mencari
puterinya yang diculik oleh tosu buntung Lo-thian-tung Cun
Gi Tosu. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, di
35
dalam peperangan hebat di kota raja ketika bala tentara
Mongol menyerbu, Sin Hong berhasil menolong Bi Li dan
Wan Sun dari kepungan tentara musuh. Akan tetapi Bi Li
melarikan diri ketika mendengar dia bukan putera Wanyen
Ci Lun, dan Wan Sun diajak pergi oleh Sin Hong ke Kim
bun-to pula. Di pulau ini, Wan Sun seringkali bertemu
dengan Coa Lee Goat yang menjadi calon isterinya.
Bersemilah cinta kasih di dalam hati dua orang muda ini,
dan mereka memang merupakan pasangan cocok, sama
muda, sama elok dan sama gagah.
Akan tetapi hati Wan Sun selalu berduka kalau ia
teringat akan Bi Li. Diam-diam ia harus mengaku dalam hati
bahwa cintanya yang pertama jatuh kepala Bi Li, semenjak
ia tahu bahwa dara jelita itu bukanlah adik kandungnya.
Akan tetapi, dia telah dicalonkan menjadi jodoh Lee Goat
dan setelah ia bertemu dengan gadis tunangannya itu,
timbul juga rasa suka.
Karena orang tua Wan Sun sudah meninggal dunia dan
walinya yang paling berhak menjadi pengganti orang tuanya
adalah Wan Sin Hong. maka sesuai dengan kehendak
pendekar ini, taklama sesudah tinggal di Kim-bun-to,
dilangsungkanlah pernikahan antara Wan Sun dan Coa Lee
Goat. Pernikahan ini dilangsungkan dengan meriah dan agak
tergesa-gesa karena Wan Sin Hong hendak segera pergi
melakukan perantauannya mencari anaknya yang hilang.
Beberapa bulan setelah menikah. Wan Sun juga
mengajak isterinya pergi untuk menyelidiki perihal Bi Li
yang sekarang setelah menikah, kembali timbul perasaan
cinta saudara terhadap gadis itu. Tentu saja Coa Lee Goat
tidak keberatan. bahkan merasa gembira pergi merantau
mencari adik iparnya. Anak-anak orang gagah selalu merasa
gembira apabila melakukan perantauan, karena hanya
dalam perantauan inilah kepandaian silat yang dipelajari
semenjak kecil, kelihatan kegunaannya. Perjalanan sepasang
suami isteri ini tidak menemui banyak rintangan. Siapakah
36
yang berani mati mengganggu mereka ? Kepandaian Lee
Goat dalam ilmu silat sudah termasuk tingkat tinggi, dia
adalah puteri dari Go Hui Lian terutama sekali dia murid
Wan Sin Hong! Selain dia, suaminya, Wan Sun juga bukan
seorang biasa saja. Wan Sun adalah murid Ang jiu Mo-li,
tokoh utara yang disegani kawan ditakuti lawan itu.
Dibandingkan dengan isterinya, Wan Sun tidak kalah lihai.
Kasihan bagi sepasang suami isteri yang meninggalkan
Kim-bun-to ini, juga bagi Wan Sin Hong, mereka ini tidak
mengetahui bahwa beberapa bulan semenjak mereka pergi
meninggalkan Kim-bun-to, peristiwa besar terjadi di pulau
itu.
Yang kini tinggal di rumah besar Coa Hong Kin adalah
dia sendiri bersama isterinya Go Hui Lien, kemudian Siok Li
Hwa yang merasa agak kecewa tidak diajak pergi bersama
oleh suaminya. Win Sin Hong memberi alasan bahwa
perjalanan kali ini sungguh amat berbahaya. Penculik puteri
mereka adalah Lothian tung Cun Gi Tosu seorang tokoh
besar yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Wan Sin Hong merasa lebih aman meninggalkan Li Hwa
di Kim-bun-to. Memang pendapat Sin Hong ini ttdak keliru.
Dalam menghadapi Cun Gu Tosu, dia lebih leluasa bergerak
seorang diri, tak usah melindungi isterinya. Dan isterinya
tinggal di Kim bun-to bersama Coa Hong Kin dan Go Hui
Lian, tempat aman dan di antara sahabat-sahabat baik yang
gagah perkasa pula.
Disamping tiga orang pendekar ini, di rumah itu masih
ada lagi dua orang penjaga rumah yang mempunyai
kepandaian lumayan karena mereka sudah mendapat
petunjuk dari Coa Hong Kin. Hong Kin yang maklum bahwa
banyak sekali musuh dan orang jahat selalu berlaku hatihati
dan menaruh penjaga- penjaga malam yang mempunyai
kepandaian, sehingga dia sekeluarga di waktu malam tak
melakukan penjagaan sendiri dan dapat tidur tanpa
terganggu.
37
Pada suatu hari, ketika Hong Kin, Hui Lian dan Li Hwa
sedang duduk bercakap- cakap di ruang depan, penjaga
memberi tahu bahwa Hwa Thian Hwesio dari Kwan-te-bio
datang ingin bertemu, bersama seorang laki-laki setengah
tua. Girang hati tiga orang ini cepat mereka, menyambut.
Hwa Thian adalah kenalan lama. Hwesio ini adalah tukang
dapur atau tukang masak dari Kuil Kwan-te-bio yang sudah
berusia lima puluh tahun, berkepala gundul pelontos
bertubuh gemuk, lucu dan ilmu silatnya tinggi. Dahulu
hwesio ini banyak membantu Pangeran Wanyen Ci Lun dan
karenanya dia adalah sahabat karib Coa Hong Kin yang
dahulupun merupakan tangan kanan Wanyen Ci Lun.
Dengan mulut tersenyum-senyum hwesio gemuk itu
memasuki ruangan, di sampingnya berjalan seorang laki laki
setengah tua berkumis panjang yang sikapnya keren dan di
punggung terselip sebatang pedang. Sungguh berbeda sekali
sikap dua orang ini. Hwesio itu mulutnya melengeh
(tersenyum lebar) terus sedang kawannya keren dan
mendekati cemberut.
"Hwa Thian suhu, angin apakah yang membawamu ke
sini? Kau makin gemuk dan makin muda saja!” sambut Coa
Hong Kin yang memang sudah biasa berkelakar dengan
hwesio ini.
Hwesio itu tertawa terbahak. "Kalau angin tentu angin
Nirwana yang meniup pinceng ke sini. Pinceng makin gemuk
dan muda karena apakah yang harus disusahkan? Hidup di
dunia bukan untuk berduka, melainkan untuk
menghilangkan sengsara. Ha ha-ha, tepat sekali ujar-ujar
kuno bahwa bertemu dengan sahabat kental yang terpisah
jauh benar-benar merupakan yang menggembirakan. Coasicu,
melihat kau dan jiwi hujin ini, pinceng merasa seperti
memasuki sarang harimau dan naga !"
Hui Lian dan Li Hwa memberi hormat dan Hui Lian yang
masih memiliki wataknya yang lincah gambira, berkata,
"Hwa Thian suhu bergurau saja. Kalau hendak bicara
38
tentang naga, kau adalah Kiang Lions (Naga Tangguh)
sedangkan kami hanyalah Tee-couw-coa (Ular Biasa) saja."
Hwa Thian Hwosio tertawa bergelak sambil memegangi
perutnya yang gendut, tongkatnya digoyang-goyangkan,
sampai keluar air matanya ia tertawa.
“Ha-ha-ha-ha. Coa-hujin benar-benar pandai
merendahkan diri. Mana gundul seperti pinceng patut
disebut Kiang Liong ! Kak Ouw-sicu ini kiranya masih
pantas." Berkata demikian, hwesio itu menunjuk kepada
kawannya Kemudian disambungnya. "Inilah Ouw sicu yang
bernama Ouw Beng Sin, berjuluk Huangho kiam sian (Dewa
Pedang dari Huangho)
Ouw Beng Sin cepat cepat menjura kepada Hong Kip
bertiga sambil berkata,
"Hwa Thian Losuhu terlalu memuji, aku orang she Ouw
hanya bisa main sejurus dua jurus. Kawan-kawan yang
terlalu mengambil hati memberi julukan Kiam sian, apa
boleh buat, sesungguhnya tidak berani di depan samwienghiong
aku menggunakan nama julukan itu.”
Sikap orang ini setengah merendah setengah
mengagulkan diri. Dunia persilatan, jarang ada orang yang
menggunakan nama juluka Kiam-sian (Dewa Pedang) atau
Kiam-ong (Raja Pedang) kalau dia tidak memiliki kepandaian
bahwa ilmu pedangnya tidak ada yang melawan di dunia ini.
Orang ini berani memakai julukan seperti itu, tentu
mempunyai kepandaian berarti.
Di samping dugaan ini, juga timbul perasaan tidak puas
dan penasaran, apa lagi bagi Siok Li Hwa yang memang
wataknya agak keras dan tidak suka mengalah. Nyonya ini
menganggap bahwa di dunia ini tak ada yang melebihi
suaminya. Wan Sin Hoog, dalam permainan pedang.
Masa orang macam ini saja berani memakai gelar Dewa
Pedang ? Akan tetapi sebagai seorang wanita, pula sebagai
fihak tuan rumah, ia diam saja hanya mata yang bening itu
39
menyambar laksana kilat. Kebetulan sekali Ouw Beng Sin
juga sedang melirik ke arahnya. Orang berkumis yang
mengaku Dewa Pedang ini terkejut melihat sinar mata ini
dan ia mulai percaya akan kata-kata Hwa Thian Hwesio
bahwa ia telah memasuki gua harimau dan naga.
Setelah semua dipersilakan duduk dan arak telah
dikeluarkan biarpun menjadi hwesio, Hwa Thian Hwesio
tidak pantang arak Hwa Thian Hwesia mulai menceritakan
maksud kedatangannya.
"Selain hendak menengok Coa-sicu dan juga Wan sicu
yang sayang sekali tidak berada di rumah. pinceng juga
memenuhi permintaan yang amat sangat dari Ouw sicu ini.
Dia ini adalah kenalan lama, seorang gagah yang malang
melintang di Sungai Huangho dan seperti juga kita semua,
dia amat suka akan ilmu silat, terutama ilmu pedang dan
suka pula meluaskan pengalaman dan persabatan. Sudah
lama Ouw-sicu mendengar nama besar Wan-taihiap, dan
tahu pula bahwa Kim-bun-to adalah sarang ahli-ahli ilmu
pedang. Sudah bertahun-tahun Ouw-sicu rindu untuk
mencoba ilmu pedangnya di Kim-bun-to, akan tetapi belum
juga dilaksanakan dan sekarang....” Hwa Thian Hwesto
berhenti dan nampaknya sukar untuk melanjutkan katakatanya
ketika sinar matanya bertemu dengan pandang
mata Li Hwa yang tajam menusuk.
"Harap Ouw-sicu suka melanjutkan menyampaikan
sendiri maksud hatinya," katanya kemudian dengan tertawa
tawa untul menghilangkan kebingungannya.
Orang she Ouw itu bangkit berdiri dari kursinya, menjura
kepada tga orang yang menjadi tuan rumah, lalu batukbatuk
tiga kali untuk membersihkan kerongkongannya baru
ia berkata,
"Apa yang diucapkan oleh Hwa Thian Hwesio yang
terhormat tadi memang betul sekali,” ia mulai berkata dan
diam-diam Hong Kin harus mengaku bahwa tamunya ini
pandai mengatur kata-kata, seorang ahli pidato agaknya.
40
"Telah bertahun-tahun siauwte rindu sekali akan
kesempatan berkunjung ke Kim-bun-to dan menerima
sedikit petunjuk dalam hal ilmu pedang, Sampai bermimpimimpi
oleh siauwte pertemuan dengan Wan Sin Hong Taikiam-
hiap (Pendekar Pedang Besar) dan mendapat petunjuk
ilmu pedang barang dua puluh jurus sebelum siauwte
mengakui keunggulannya.
Selain Wan-taitiap, kiranya di dunia ini tidak ada lagi
yang dapat memberi petunjuk kepada siauwte. Sekarang
berkat kemurahan hati Hwa Thian Losuhu yang terhormat,
siauwte mendapat kurnia dan kehormatan menginjakan kaki
di Kim-bun-to, akan tetapt sayang seribu kali sayang. Wantaihiap
tidak berada di sini. Ah, memang nasib siauwte yang
sial, dahulu siauwte mana berani lancang datang ke sini!?
Sekarang ada perantaran. kiranya tidak berjumpa dengan
orangnya .....!”
Hong Kin hanya saling pandang dengan isterinya, akan
tetapi Li Hwa mendongkol bukan main. Besar kepala benar
orang ini, pikirnya. Di dalam pidatonya tadi jelas ia
menonjolkan kesombongannya sungguhpun diatur dengan
rangkaian kata yang berliku-liku. Dengan sombong orang
she Ouw ini membayangkan bahwa sebelum kalah oleh Wan
Sin Hong, sedikitnya ia sanggup melawan sampai dua puluh
jurus, dan lebih-lebih lagi sombongnya dengan kata-kata
bahwa di dunia ini selain Wan Sin Hong tidak ada yang
dapat memberi petunjuk atau dengan lain kata-kata, selain
Wan Sin Hong tidak ada orang mampu menandingi ilmu
pedangnya !
Dengan mata berapi Li Hwa juga bangkit berdiri, lalu
berkata dengan suara nyaring "Sungguh tidak baik
mengecewakan tamu yang sudah payah datang dari tempat
jauh. Menilik dari ucapan saudara Ouw, tentu memiliki
kiamhoat (ilmu pedang) jempolan, apa lagi julukannya Dewa
Pedang. Mana suamiku mampu menandingi ? Biarpun
suamiku sedang pergi dan tidak dapat melayani kehendak
41
tamu, namun aku isterinya dengan ilmu pedang pasaran
sanggup mewakili suami sebagai tanda setia. Silakan!”
Setelah berkata demikian tangan kanannya bergerak dan
"srattt...!” pedang Cheng-liong-kiam tercabut, mengeluarkan
cahaya hijau menyilaukan mata.
Boleb jadi 0uw Bong Sin agak sombong akin tetapi ia
seorang jujur. Kalau tidak miliki sifat baik di samping
kosombongannya mana orang seperti Hwa Thian Hwesio
mau menjadi sahabatnya? Melihat sikap Li Hwa dan
mendengar bahwa nyonya ini isteri Wan Sin Hong, ia cepatcepat
menjura dan berkata,
"Ah, kiranya hujin ini Wan-toanio? Maaf seribu kali maaf.
siauwte bermata tak dapat mengenal ! Harap toanio jangan
salah duga dan tidak manjadi marah, maafkanlah kala
siauwte tadi berlancang mulut. Sesungguhnya dari lubuk
hati siauwte tidak ada maksud buruk, siauwte ingin sekali
menerima petunjuk dari Wan-taihiap. Mana siauwte berani
kurang ajar terhadap toanio? Maaf, maaf !" Ia menjura
berulang ulang sebingga kemarahan Li Hwa lenyap sebagian
besar. Akan tetapi pedang sudah dicabut, amat tidak enak
kalau harus disimpan kembali sebelum dimainkan.
“Saudara” Ouw, Kim-bun-to memang tempat orang-orang
yang suka akan ilmu silat. Setelah tiba di sini dan sengaja
hendak main-main ilmu pedang, apa sih susahnya memberi
petunjuk kepada kami? Hitung-hitung memberi pelajaran
kepada kami yang masih bodoh.....”
"Ah, mana berani ...... mana berani ....!”
"Kalau begitu, biarlah. Hitung-hitung kita saling menukar
dan menambah ilmu, bagai mana ?" kata pula Li Hwa.
"Bagus sekali !" Hwa Thian Hwesio bertepuk tangan
gembira "Usul Wan-hujin ini memang tepat. Di antara
golongan sendiri, di antara ahli-ahli silat, mengapa banyak
sungkan-sungkan ? Ouw-sicu bertanding pedang dengan
Wan-hujin hampir sama dengan berhadapan dengan Wan42
taihiap sendiri. Mari beri kesempatan kepada piceng untuk
melihat keindahan sinar pedang."
Dengan kata katanya yang mengandung kegembiraan ini
Hwa Thian Hwesio sudah mengubah keadaan, dari panas
menjadi dingin dan memancing suasana baik sehingga kalau
toh terjadi pibu (mengadu kepandaian) akan dilakukan
dengan maksud baik, tidak disertai hati meradang dan
kepala panas.
"Baiklah, kalau berdasarkan menukar dan menambah
ilmu tentu saja siauwte tidak keberatan. Maafkan
kelancangan siauwte !” sambil berkata demikian, ia menjura
kepada semua orang dengan tubuh membungkuk, ketika
tubuhnya tegak kembali, kelihatan sinar merah dan
sebatang pedang yang kemerah-merahan telah tercabut,
melintang di depan dadanya.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XX
GERAKANNYA ini sudah menunjukkan bahwa
kesombongan orang she Ouw ini memang berisi. Namun Li
Hwa sama sekali tidak gentar. Dengan tenang ia melangkah
ke tengah ruangan yang luas, berdiri melintangkan pedang
di dada sambil berkata, “Saudara Ouw, silakan !"
Ouw Beng Sin melangkah maju menghampiri,
membungkuk-bungkuk dan menjawab, “Wan toanio, siauwte
menanti. Mulailah."
"Aku pihak nyonya rumah, kaumulailah dulu." Li Hwa
menjawab, sesuai dengan kesopanan ahli silat.
"Akan tatapi siauwte seorang pria, tidak patut kurang
ajar. Toanio jangan banyak sungkan, harap membuka
serangan."
Memang LI Hwa bukan seorang yang biasa sungkansungkan,
maka ia mulai memutar pedangnya dan berkata,
“Saudara Ouw, lihat pedang !" Tangannya menggerakkan
pedang dan sinar hijau manyambar ke arah dada Ouw Beng
Sin.
2
Ouw Beng Sin cepat menangkis sambil mengerahkan
tenaga untuk mengukur sampai di mana tenaga nyonya
pendekar itu. Akan tetapi ia kecele karena bagaikan seekor
belut yang cepat gerakannya, pedang Cheng-liong kiam
sudah ditarik mundur untuk melakukan serangan ke dua
membabat leher.
Terkejutlah sekarang Ouw Beng Sin. Dia sudah banyak
berhadapan dengan ahli pedang namun belum pernah
bertemu ilmu pedang secepat ini. Ia berlaku hati-hati,
mengelak dan menangkis sambil mencari lowongan
membalas serangan. Akan tetapi, Li Hwa tidak
memungkinkan adanya lowongan itu. Pedangnya terus
menerjang secara berantai, tidak dapat diselingi sebuah
tusukan maupun bacokan dari lawan. Demikian cepatnya
gerak pedangnya sehingga yang kelihatan hanya sinar hijau
dan Ouw Beng Sin merasa diserang oleh ratusan buah
pedang !
"Hebat .....! Kim-hoat bagus....... ! berkali-kali Ouw Bwng
Sin berseru kagum. Baru sekarang ia merasa takluk betulbetul.
Baru isteri Wan Sin Hong saja kiam hoatnya sudah
begini luar biasa, apa lagi ilmu pedang pendekar sakti itu !
Sebentar saja sinar pedangnya yang kemerahan sudah
lenyap cahayanya, terbungkus oleh berkelebatnya sinar
hijau, pedang di tangan Li Hwa.
Kalau ia mau, Li Hwa dapat melukai Ouw Beng Sin. Akan
tetapi tentu saja Li Hwa tidak mau membikin malu seorang
tamu yang dibawa datang oleh Hwa Thian Hwesio. Bukannya
karena ilmu kepandaian orang she Ouw itu amat rendah.
Sebetulnya ilmu pedang Ouw Beng Sin juga lihai dan pantas
kalau jarang ada orang kangouw dapat menandinginya.
Kalau hanya Coa Hong Kin atau Go Hui Lian saja kiranya
hanya bisa mengimbangi permainan pedang Ouw Beng Sin
dan tentu akan makan waktu ratusan jurus baru bisa
mangalahkannya.
3
Kepandaian mereka setingkat. Akan tetapi harus
diketahui bahwa sebelumnya Li Hwa memang sudah lebih
tinggi tingkat kepandaiannya. Kemudian ditambah lagi oleh
latihan dari Toat beng Kui-bo dan akhir-akhir ini mendapat
petunjuk dari suaminya sendiri. Tentu saja kiam-hoatnya
luar biasa sekali.
Li Hwa hanya menyerang sampai dua puluh jurus.
Sengaja ia menanti sampai dua puluh jurus dan pada jurus
terakhir ujung pedangnya menotol bajunya di bagian dada
kiri Ouw Beng Sin, kemudian ia melompat mundur sambil
berkata
"Saudara Ouw memang memiliki kiam hoat bagus !"
Merah sekali muka Ouw Beng Sin. Gerakan Li Hwa tadi
selain indah juga amat cepat sehingga "tusukannya" tidak
terlihat oleh orang lain keceuali Ouw Beng Sin yang cepat
melirik ke arah bajunya yang sudah bolong kecil.
"Wan-toanio benar-benar lihai sekali ihmu pedangnya." ia
berkata sambil menjura berkali-kali. Hwa Thian Hwesio
tertawa bergelak dan berkata nyaring.
"Bagus, pinceng telah menyaksikan kiam-hoat indah dan
kali ini Ouw-sicu tidak penasaran. Ha-ha-ha !”
Tiba-tiba terdengar suara keras dan tubuh seorang
penjaga melayang ke dalam ruangan itu. Muka penjaga itu
pucat sekali. Agaknya menderita luka bebat. Dengan susah
payah ia bangun kembali dan Hong Kin cepat menolongnya,
mendudukkannya di atas bangku.
"A Liok, kau kenapakah?” tanyanya.
"Di luar..... ada penjahat ...... Ting twako dibunuh.......
dan....... dan....... uaaah!" Penjaga itu muntahkan darah
segar dan tubuhnya menjadi lemas, kepalanya lunglai dan
terbanting ke atas meja. Bagaikan orang tertidur saja ia tak
bergerak.
4
Semua orang menjadi terkejut dan cepat memandang ke
luar. Sunyi saja di luar. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat
bayangan yang gerakannya cepat bukan main sehingga
tahu-tahu kelihatan orangnya di dalam ruangan itu,
tersenyum-senyum mengejek dan matanya menyapu-nyapu
lima orang yang berdiri memandangnya. Dia masih muda,
seorang pemuda tampan yang membawa dua senjata aneh
sekali.
Tangan kanannya memegang sebuah lengan manusia
yang sudah tidak ada dagingnya, tinggal kulit yang
membungkus tulang dan di dekat pergelangan tangan
terdapat seekor ular putih berbisa. Tangan kirinya
memegang sebatang huncwe bambu. Ia memandang sambil
tersenyum, kadang-kadang mengisap ujung huncwe yang
sudah diisi tembakau dan menyala, akan tetapi anehnya,
asap yang diisapnya tak pernah keluar dari mulutnya.
Lima orang yang berada di ruangan itu adalah ahli-ahli
silat tinggi. Melihat cara pemuda tampan ini mengisap
huncwa yang terus disedot ke dalam akan tetapi tidak
dikeluarkan lagi, menjadi terkejut. Hanya dengan lweekang
yang amat tinggi orang dapat melakukan hal ini dan secara
diam-diam pemuda ini datang-datang telah
mendemonstrasikan kesaktiannya.
"Kau siapakah dan apakah kau yang membunuh, dan
melukai dua orang panjaga rumah kami?" tanya Coa Hong
Kin yang sudah melangkah maju.
Pemuda itu bukan lain adalah Liok Cui Kong! Senyumnya
melebar dan harus diakui bahwa pemuda ini berwajah
tampan. Dengan sikap kurang ajar ia melirik ke arah Hui
Lian dan Li Hwa, kemudian menjawab.
"Kusangka penjaga-penjaga Kim bun-to lihai, tidak
tahunya hanya gentong-gentong kosong! Ada tamu agung
tidak disambut, bukankah mereka itu kurang ajar dan patut
dibunuh?’
5
Mendengar ucapan ini, Hui Lian naik darah. Ia
melangkah maju dan berdiri dekat suaminya, lalu
menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu.
"Tikus busuk ! Siapa namamu dan dengan maksud apa
kau datang-datang mengacau? Apa kau sudah bosan
hidup?” Sambil berkata demikian Hui Lian sudah mencabut
pedangnya juga Hong Kin meraba gagang pedang karena
maklum bahwa pemuda itu datang bukan dengan maksud
baik.
"Hmmm, kalau tidak salah lihat, pernah pinceng melihat
muka orang muda ini, dia bersama bangsat besar Liok Kong
Ji.....” Hwa Thian Hwesio menghentikan kata-katanya ketika
sepasang mata pemuda itu memandang dengan tajam penuh
ancaman seperti mata setan.
"Aku bernama Liok Cui Kong dan siapakah di antara
kalian yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian?”
"Kami yang bernama Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Kau
mau apa?” Kini Hong Kin juga sudah mencabut pedang.
Cui Kong tertawa mengejek. "Apakah Tiang Bu itu anak
kalian ?”
Mendengar pertanyaan ini, Hong Kin melengak. Akan
tetapi Hui Lian segera menjawab. "Betul, Tiang Bu anak
kami. Kau mau apa ?"
Kembali Cui Kong tertawa dan tiba-tiba menyemburkan
asap putih bergumpal-gumpal ke arah muka Hong Kin dan
Hui Lian. "Bagus! Aku datang hendak membunuh kalian.
Ha-ha ha!” Makin banyak asap ke luar dari mulut pemuda
ini. agaknya asap dari huncwe yang tadi diisapnya dan baru
sekarang ia keluarkan. Hong Kin dan Hui Lian kaget sekali,
hendak mengelak namun tidak keburu,. Mata mereka terasa
pedas tak dapat dibuka dan bau yang amat keras
menyesakkan pernapasan mereka.
6
“Asap beracun, awas !” seru Hwa Thian Hwesio yang
cepat mendekap hidung dan mulutnya, sedangkan tangan
kirinya menggerakkan tongkat. Juga Li Hwa sudah
mencabut pedang sambil mengeluarkan dua butir pil merah.
Sebutir ia masukkan ke dalam mulut, yang sebutir lagi ia
berikan kepada Hwa Thian Hwesio.
“Hwa Thian suhu, simpan ini di mulut dan mari kita
gempur iblis cilik ini !”
Akan tetapi, Cui Kong benar benar hebat. Ia
menyemburkan terus asap putih itu memenuhi ruangan dan
lengan manusia dengan ularnya itu mulai ia gerakkan
menyerang Hwa Thian Hwesio yang berada di mukanya.
Ouw Beng Sin berseru, “Pemuda jahat sekali, kau
mampus di tanganku orang she Ouw.” Pedangnya diayun
dan karena kebetulan berdiri di belakang Cui Kong ia
langsung menyabetkan pedang ke arah kepala pemuda itu
sekuat tenaga. Akan tetapi. tanpa menoleh Cui Kong
menyabetkan tangan kering itu ke belakang untuk
menangkis dan ...... Ouw Beng Sin memekik nyaring lalu
roboh, tewas tergigit ular putih yang amat berbisa!
Sementara itu, Hui Lian dan Hong Kin masih terhuyung
huyung dan mundur sambil batuk-batuk. Baiknya ada Hwa
Thian Hwesio dan Li Hwa yang sudah memutar senjata
menyerang Cui Kong sehingga pemuda ini terhambat
gerakannya. Kalau tidak ada pertolongan ini, tentu dengan
mudah Cui Kong dapat menyerang suami isteri yang sedang
repot ini.
Asap yang disemburkan oleh Cui Kong memang asap
berbisa yang amat berbahaya. Mata hanya terasa pedas saja
kalau terkena akan tetapi siapa yang menyedot asap ini,
paru-parunya akan keracunan dan keadaannya berbahaya
sekali. Cui Kong seridiri sudah mempergunakan obat
penawar maka ia tidak terpengaruh oleh asap ini. Selain
asapnya yang berbisa, juga huncwe di tangan pemuda itu
7
adalah sebuah senjata yang luar biasa lihainya
dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Kepandaian Cui Kong dalam mempergunakan senjata
istimewa ini amat tinggi. Ditambah lagi dengan senjata aneh
berupa lengan manusia dengan ular berbisa, benar-benar
Cui Kong merupakan lawan yang amat tangguh. Bahkan
pengeroyokan Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio tak dapat
mendesaknya. Sebaliknya. Cui Kong tidak mau
menghabiskan seluruh perhatiannya untuk dua orang lihai
ini. Kedatangannya untuk membunuh ayah ibu Tiang Bu
sebagai perbuatan balasan dari serbuan Tiang Bu ke Ui tioklim.
la tahu bahwa setelah Tiang Bu tidak mau mengaku
Kong Ji sebagai ayah bahkan memusuhinya, tentu Tiang Bu
amat sayang kepada ayah bunda angkatnya ini. Dan
menghadapi Tiang Bu sendiri adalah berbahaya dan sukar
karena Tiang Bu amat
lihai, jalan satu-satunya
yang paling mudah dan
terbaik untuk membalas
dendam hanyalah
mencelakai ayah bunda
angkat Tiang Bu yang
berada di Kim-bun-to ini.
Oleh karena itulah, ia
menangkis seranganserangan
Li Hwa dan Hwa
Thian Hwesio sambil
menghambur-hamburkan
asap beracun, kemudian
berusaha keras untuk
menyerang dan mendesak
Hong Kin dap Hui Lian
yang masih belum dapat
membuka mata dan masih
8
kebigungan di pojok ruangan. Li Hwa maklum akan maksud
ini, demikian pula Hwa Thian Hwesio.
Maka dua orang ini yang merasa amat khawatir akan
keselamatan suami isteri terus mendesak Cui Kong sambil
melindungi mereka, sungguhpun amat sukar bagi mereka
usaha ini karena mata mereka sendiri terasa pedas-pedas
dan sudah mengeluarkan air mata karena pengaruh asap
beracun. Cui Kong mempercepat gerakan lengan manusia
dan huncwenya. Kepandaiannya memang masih lebih tinggi
dari pada kepandaian Li Hwa dan Hwa Thian Hwesio, maka
sedikit demi sedikit ia mulai dapat mendekati Hong Kin dan
Hui Lian! Keselamatan suami isteri Kim-bun-to ini benarbenar
terancam bahaya maut!
Asap beracun yang keluar dari huncwe Cui Kong itu
benar-benar amat berbahaya. Karena Hong Kin dan Hui Lian
tadi berdiri di depannya, maka asap yang disemburkan itu
tepat memasuki mata suami-isteri ini dan membuat mereka
sukar membuka mata yang amat pedas rasanya.
Hwa Thian Hwesio sudah mempunyai pengalaman luas.
Ia dapat menduga atau mengira-ngira bahwa tentu Tiang Bu
telah membuat sakit hati Kong Ji dan Cui Kong maka
sekarang pemuda ini datang hendak membalas dendam
kepada ayah bunda Tiang Bu. Maka sambil menggereng
kakek gundul ini mengayun tongkatnya menyerang pemuda
itu agar jangan sampai mencelakai Hong Kin dan isterinya.
Akan tetapi dengan enak saja Cui Kong meloncat maju,
huncwenya menangkis tongkat dan lengan kering yang
dipegangnya menyambar.
“Krakk!” Jari-jari tangan lengan kering itu tepat
menghantam leher Hwa Thian Hwesio. Dunia menjadi gelap
di depan mata hwesio semua kesadarannya masih membuat
ia lekas-lekas melempar diri ke belakang. Ia bergulingan di
atas lantai dan pingsan Baiknya ia tadi melempar diri ke
belakang kalau tidak, tentu ular putih yang melingkar di
9
lengan itu akan menggigitnya dan kalau hal ini terjadi,
nyawanya tentu sudah melayang.
"Iblis keji, rasakan pembalasanku!" Li Hwa menjerit
marah dan pedangnya yang berubah menjadi segunduk
sinar hijau menyambar-nyambar bagaikan naga mengamuk.
Cui Kong kewalahan juga menghadapi ilmu pedang yang
lihai ini, maka terpaksa untuk sementara meninggalkan
Hong Kin dan Hui Lian, mencurahkan perhatiannya
menghadapi serangan Li Hwa. Setelah ia melawan dengan
sepenuh tenaga, baru ia dapat membendung gelombang
serangan sinar hijau itu.
Sementara itu, biarpun matanya sukar di buka lamalama,
Hui Liao dan Hong Kin dapat menangkap suara
pertempuran itu dan tahu bahwa Ouw Beng Sin dan Hwa
Thian Hwesio sudah roboh oleh pemuda lihai itu. Mereka
menjadi nekat. Dengan mata dipaksa terbuka, Hui Lian
menerjang dengan pedangnya. Hong Kin juga demikian,
menyerang mati-matian membantu Li Hwa.
“Adik Hui Lian, jangan dekat …..!’ seru Li Hwa. "Biar aku
menghadapi setan ini !” Nyonya ini maklum bahwa
kedatangan Cui Long adalah hendak membunuh suami isteri
ini dan melihat keadaan mereka, sukar untuk mengalahkan
Cui Kong. Kalau saja mata suami isteri ini tidak terpengaruh
asap beracun, tentu mereka bertiga dapat menandinginya,
akan tetapi keadaan sekarang lain. Amat berbahaya kalau
Hong Kin dan Hui Lian maju. Akan tetapi mana suami isteri
yang berjiwa gagah itu mau mundur membiarkan Li Hwa
seorang diri menghadapi musuh yang tangguh? LI Hwa
hendak menolong mereka tampa memperdulikan
keselamatan nyawa sendiri, mereka juga tidak akan
mundur, tidak takut mati dalam menghadapi musuh
membantu Li Hwa.
“Ha-ha.ha, ayah bunda Tiang Bu, si keparat ternyata
tidak seberapa! Ha-ha!” Cui Kong mengejek sambil memutar
dua senjatanya yang aneh.
10
Sebetulnya ilmu kepandaian Hong Kin tidak rendah. Apa
lagi Hui Lian. Nyonya ini adalah adik seperguruan dari Liok
Kong Ji sendiri. Ilmu pedangnya lihai bukan main. Akan
tetapi, kini mereka tidak dapat bergerak leluasa karena mata
terasa sukar sekali dibuka terus. Dan yang mereka hadapi
adalah Liok Cui Kong, seorang pemuda gemblengan yang
amat luar biasa ilmu kepandaiannya. Selain mendapat
petunjuk dari Liok Kong Ji sendiri, juga pemuda ini adalah
murid dari Lothian-tung Cun Gi Tosu.
Hui Lian marah bukan main. Sambil menggertak gigi ia
membuka matanya yang pedas itu lebar-lebar. kemudian ia
menggerakkan pedangnya dari atas ke bawah lalu membalik
dengan mendadak dimiringkan dengan gerakan menyerong
dan ujungnya membuat lingkaran- lingkaran.
Inilah gerakan yang disebut Hui-in-ci-tian (Awan
Mengeluarkau Kilat ), sebuah gerakan tipu dalam ilmu
Pedang Pak-kek Kiam-sut. Hebatnya bukan kepalang ! Tidak
percuma Hui Liang menjadi puteri pendekar besar Go Ciang
Lee.
Cui Kong benar-benar terkejut. Baru terbuka matanya
bahwa dua orang suami isteri yang secara menggelap telah
ia serang dengan asap ini adalah ahli-ahli pedang yang lihai.
Cepat ia meninggalkan Li Hwa, menggunakan tongkatnya
menangkis sinar pedang yang menyambar-nyambar leher
dan kepalanya.
“Plaak !” Tongkatnya menempel pada pedang dan tak
dapat ditarik kembali karena tiba-tiba pedang nyonya itu
diputar cepat sehingga tongkatnya turut berputaran.
"Mampuslah kau, bedebah!” Hui Lian membentak sambil
memukul dengan tangan kirinya ke arah pusar lawannya.
Pukulan ini juga bukan serangan biasa, melainkan gerakan
Hai ti lap-liong (Menyelam ke Laut Mengejar Naga) dari Ilmu
silat Thian-hong cianghwat peninggalan ayahnya.
Keistimewaan pukulan ini yalah dilakukan dalam keadaan
tak tersangka-sangka dan luar biasa cepat datangnya.
11
Sebelum Cui Kong sempat mengelak atau menangkis,
pukulan sudah sampai di pusarnya ! Pemuda itu pasti akan
terjungkal mampus kalau saja tenaga lweeeang dari Hui Lian
lebih besar lagi. Sayangnya, tenaga dalam nyonya itu masih
kalah jauh oleh Cui Kong, pemuda ini dengan muka pucat
cepat merendahkan diri sehingga pukulan itu tidak
mangenai pusarnya, melainkan mengenai dada. Ia
mengerahkan sinkangnya menyambut datangnya pukulan,
akan tetapi berbareng mengerjakan lengan kirinya ke arah
leher Hui Lian.
Dada Cui Kong terpukul dan pemuda itu terhuyung
mundur dengan muka pucat, akan tetapi Hui Lian mengeluh
perlahan dan roboh dengan pedang masih di tangan.
Ternyata bahwa leher nyonya perkasa ini telah terpagut ular
putih yang melingkar di pergelangan lengan kering itu dan
dalam sekejap saja racun ular telah menjalar ke seluruh
tubuhnya. Sungguh sayang nyonya yang perkasa ini
terpaksa harus melepaskan napas terakhir dalam tangan
Liok Cui Kong.
Hong Kin mengeluarkan seruan kaget dan marah bukan
main. Ia menubruk maju dan menukan pedangnya secepat
kilat. Gerakannya ini sudah bukan gerakan menurut ilmu
pedang lagi yang selain mengandung sifat menyerang selalu
ada sifat melindungi diri. Serangan Hong Kin kali ini sama
sekali tidak mengandung unsur penjagaan diri, seratus
prosen menyerang dengan nekat dan cepat sekali.
Menghadapi kenekatan seorang ahli pedang seperti Hong
Kin, betapapun lihai adanya Cui Kong tetap saja ia tidak
keburu mengelak. Hampir saja lehernya tertembus pedaug
kalau saja ia tidak sempat membuang diri ke kanan
sehingga hanya kulit leher dan pundaknya yang terkena
pedang sampai mengeluarkan darah banyak sekali.
Marahlah Cui Kong, dengan sepenuh tenaga lengan
kering itu di sabetkan kepada Li Hwa yang sudah
mendesaknya lagi, sedangkan huncwenya ia pukulkan ke
12
depan menghantam kepala Hong Kin. Hong Kin mencoba
untuk menangkis pukulan ini dengan pedangnya, namun ia
kalah tenaga. Benar huncwe dapat tertangkis, akan tetapi
melesat dan dengan tepat mengenai pinggir kepala di atas
telinga.
"Prakk !" Tanpa mengeluarkan keluhan. Tubuh Hong Kin
terguling dan bergelimpangan di dekat jenazah isterinya, tak
bernyawa lagi !
"Iblis terkutut ! Mari kita mengadu jiwa !” seru Li Hwa
marah sekali dan kedua matanya bercucuran air mata
melihat nasib dua orang sahabat baiknya itu. Pedangnya
mendesak dan kemarahannya membuat gerakannya lebih
hebat daripada biasanya. Juga kini tangan kirinya sudah
mengeluarkan Cheng-jouw-cian ( Jarum Rumput Hijau) siap
untuk menyerang lawan tangguh itu dengan senjata
rahasianya yang sudah amat terkenal itu.
Cui Kong tertawa bergelak. Girang sekali hatinya dapat
menewaskan Coa Hong Kin dan Go Hui Lian. Himpas sudah
sakit hatinya terhadap Tiang Bu yang dalam penyerbuan Uiliok-
lim telah menewaskan banyak kawan dan merusak
bangunan itu semau-maunya.
"Ha-ha-ha, Tiang Bu ! Aku ingin melihat mukamu kalau
kau melihat ayah ibumu menggeletak tak bernyawa oleh
tanganku. Ha ha ha !" Sambil tertawa-tawa Cui Kong
melawan Li Hwa. Memang ilmu kepandaian pemuda ini
hebat sekali, bahkan Li Hwa masih bukan tandingannya.
Ular di lengan kering itu terus menerus mengancam,
membuat Li Hwa tak dapat mendesaknya. Sebaliknya,
nyonya yang terkenal dengan julukan Hui eng Niocu ini
sekarang terpaksa mundur selalu untuk menghindarkan
sepasang senjata aneh dari lawannya yang masih muda.
"Ha ha ha, nyonya manis, kepandaiannya boleh juga.
Akan tetapi tuan mudamu tak boleh kaupandang rendah !
Nah, terima seranganku !” Huncwe mautnya bekerja cepat
sekali. Li Hwa masih menangkis dengan pedangnya dengan
13
maksud mematahkan huncwe itu dengan Cheng-liong-kiam.
Namun, huncwe di tangan Cui Kong itu terbuat dari bahan
yang amat keras. Huncwe terpental, akan tetapi bukan
terpental membalik, melainkan menyerong ke atas dan tahutahu
huncwe itu telah berhasil mengetuk pundak kiri Li Hwa
! Nyonya ini terhuyung sambil memegangi pundaknya.
Cui Kong tertawa terbahak-bahak sumbil melompat
keluar karena pada saat itu di luar rumah terdengar amat
banyak orang. 0rang-orang penduduk Pulau Kim-ban-yo
yang datang tertarik oleh ribut-ribut di dalam. Li Hwa
menggigit bibirnya, melepaskan pedang dan tangan
kanannya yang masih dapat sigerakkan lalu menghujankan
Cheng-jouw-ciam ke arah bayangan Cui Kong.
Namun percuma saja. Cui Kong gesit sekali gerakannya
dan sebentar sudah menghilang melalui atas genteng. Hanya
suara ketawanya yang bergema menyeramkan. Ketika
penduduk datang menyerbu ke dalam. mereka hanya dapat
menolong para korban keganasan Liok Cui Kong. putera
angkat Liok Kong Ji yang telah mewarisi kekejaman ayah
angkatnya.
-oo(mch)oo-
Pada suatu pagi yang indah di kaki Pegunungan Tapiesan,
matahati sudah naik tinggi dan pagi hari itu benarbenar
indah. Di pinggir jalan, para petani sibuk bekerja di
sawah ladang di mana batang-batang padi sudah satu kaki
tingginya, hijau segar bergoyang- goyang tertiup angin
seperti penari penari bergerak lincah. Para petani bekerja
riang, dan digembirakan oleh harapan panen baik.
Burung-burung beterbangan, diteriaki dan disoraki,
ditakut-takuti oleh para petani yang amat membenci mereka.
Biarpun barang padi belum berbuah, namun para petani
sudah benci melihat kedatangan burung-burung ini.
Sebagian besar para petani mencabut-cabuti rumput liar
14
yang tumbuh di sekitar padi. Sebagian pula mengatur
perairan agar sawah mereka tidak kekurangan air.
Dari arah utara kelihatan seorang gadis menuntun
seekor kuda tinggi besar. Gadis ini sampai turun dan
kudanya dan berjalan kaki agar dapat lebih menikmati
pemandangan alam indah di pagi cerah itu. Pakaian gadis ini
sederhana saja, rambutnya yang hitam dibiarkan tergantung
ke belakang punggung, diikat pita di tengah-tengah. Namun
kesederhanaannya tidak menyembunyikan kecantikannya
yang menawan hati. Gadis ini manis benar, usianya paling
banyak sembilan belas tahun. Pada wajahnya yang manis
dan halus itu terbayang kegagahan, terutama sekali
terpancar dari pasang matanya yang tajam. Memang tidak
sukar menduga bahwa dia adalah seorang gadis kangouw
yang memilliki kepandaian ilmu silat. Seorang gadis muda
melakukan perjalanan seorang diri, membawa seekor kuda
yang kelihatan liar dan tinggi besar. sudah barang tentu
gadis itu bukan sembarang wanita. Tanpa memiliki
kepandaian, mana seorang gadis seperti dia berani
menunggang kuda setinggi itu.
Dara manis ini bukan lain adalah Lie Ceng, puteri Pektouw
tiauw ong Lie Kong. Usianya delapan belas tahun dan
semerjak Ceng Ceng dikalahkan oleh Tiang Bu dahulu ketika
ia berusia lima belas tahun, gadis ini melatih diri dengan
tekun sehingga ia mewarisi kepandaian ayah bundanya, juga
ia kini telah dapat mewarisi isi kitab Pat-sian-jut-hun yang
didapat oleh ayahnya dari Omei-san. Kepandaiannya sudah
meningkat tinggi sekali, akan tetapi wataknya masih tetap
seperti dulu gembira, lincah dan galak!
Seperti telah dituturkan di bagian depan, tiga tahun yang
lalu pernah ia bertemu dengan Tiang Bu dan kedua orang
tuanya malah sudah menetapkan untuk menjodohkan dia
dengan Tiang Bu. Akan tetapi Ceng Ceng dengan tegas
menolak perjodohan itu,
15
Berkali-kali kedua orang tuanya mendesaknya, namun
tetap saja Ceng Ceng tidak mau. Akhir-akhir ini, ayah
bundanya mengalah dan ayahnya berkata gemas.
"Ceng Ceng, kau sekarang sudah berusia delapan belas
tahun dan ayah bundamu sudah ingin sekali mempunyai
anak mantu. Dalam pandangan kami selin Tiang Bu di mana
lagi ada pemuda yang patut menjadi sisianmu diukur dari
kepandaiannya? Apakah kau tidak kecewa kalau
medapatkan pemuda yang kepandaiannya rendah? Kalau
kau selalu menolak untuk menikah, habis kau. Hendak
hendak menanti sampai berusia berapa?”
"Biar aku berusia sampai seratus tahun tak menikah,
apa sih salahnya, ayah? Apakah pernikahan itu suatu
keharusan hidup?”
“Sudah tentu, Ceng Ceng !” kata ibunya marah.
"Bagaimana kau masih bertanya lagi ?”
“Ehm, begini, ibu. Kalau memang betul ini suatu
keharusan, siapakah gerangan yang mengharuskan ?”
Memang Ceng Ceng sebagai anak tunggal semenjak kecil
dimanjakan dan sudah biasa berdebat dengan ayah
bundanya.
“Yang mengharuskan siapa....... ?" bentak ibunya gemas.
“Kau..... kau memang anak terlalu manja…..” karena tidak
bisa menjawab, nyonya Lie Kong hanya bisa menunjuknunjuk
muka anaknya dengan telunjuknya.
“Ceng Ceng. seorang manusia harus mengalami tiga
kejadian. Pertama Lahir, ke dua kawin, ke tiga mati. Orang
terlahir pasti akan mati dan matinya itu baru sempurna
kalau dia meninggalkan keturunan. Kalau tidak kawin,
bagaimana bisa meninggalkan keturunan ? Salah satu di
antara sifat-sifat tidak berbakti yang paling penting adalah
tidak punya keturunan. Kalau kau tidak ingin disebut anak
puthauw (anak durhaka), kau harus memilih jodohmu agar
16
ayah bundamu dapat menikmati kebahagiaan menimang
cucu.”
Merah wajah Ceng Ceng mendengar kata-kata ayahnya
yang diucapkan dengan tenang namun sungguh-sungguh
ini. “Akan tetapi, ayah,” bantahnya berkepala batu, "kalau
aku tidak suka, masa aku harus dipaksa ?"
"Akan datang saatnya timbul rasa suka kalau kau sudah
bertemu dengan jodohmu. Kau menolak seorang pemuda
seperti Tiang Bu, yang kau cari orang macam apakah?"
Dengan kepala tunduk Ceng Ceng menjawab perlahan,
"Dia harus memiliki kepandaian labih tinggi dari pada
kepandaianku, dia harus gagah perkasa, harus berbudi
mulia, dan dia harus berwajah tampan.......”
lbunya menggeleng-geleng kepala, akan tetapi Lie Kong
tertawa. “Semua wanita tentu saja mencari suami begitu !
Akan tetapi kau lupa sedikit, Ceng Ceng anakku yang manja.
Yang harus diutamakan adalah sifat jujur dan setia ! Tiang
Bu memiliki kejujuran, juga dia seorang yang memiliki
kegagahan dan kesetiaan. Memang harus aku nyatakan
bahwa dia tidak tampan. Akan tetapi jangan kau ngukur
watak manusia dari tampangnya. Banyak sekali laki-laki
yang kelihatan gagah, tampan dan mulia, padahal semua itu
palsu belaka. Aku amat khawatir kau akan terpikat oleh
macam itu. Ceng Ceng. Sekali lagi kunasehatkan, jangan
kau terlalu percaya kepada wajah tampan."
Ceng Ceng diam saja, akan tetapi di dalam hatinya ia
tetap berkeras bahwa dia hanya kawin dengan seorang
pemuda yang tampan, ganteng dan mendatangkien rasa
suka di dalam hatinys, Tidak seperti Tiang Bu yang
berhidung pesek berbibir tebal!
Semenjak kecil Ceng Ceng memang suka pergi bermainmain
sampai jauh. Setelah dewasa dan kepandaiannya tinggi
dia sering kali pergi jauh ke kota lain sampai berhari- hari.
Ayah bundanya membolehkannya saja. Pertama agar gadis
17
itu bertambah pengalaman serta pengetahuannya, ke dua
siapa tahu kalau di kota lain bertemu jodohnya.
Demikianlah, pada pagi hari itu Ceng Ceng juga sedang
melakukan perantauannya. Ia mendaki Bukit Tapie-san dan
kini sedang berada dalam perjalanan pulang. Tertarik oleh
keindahan alam dan kesibukan para petani, gadis ini
melompat turun dari kuda, lalu berjalan perlahan menuntun
kudanya yang besar dan bagus itu. Ceng Ceng memang
semenjak kecil suka akan keindahan. Kepada orang tuanya
ia selalu minta apa-apa yang serba indah. Pakaian
sederhana yang dipakainya itu hanya untuk menutupi
pakaian indah dan mewah yang tersembunyi di dalamnya. Ia
selalu menutupi pakaiannya yang indah apabila melakukan
perjalanan, pertama tama untuk menjaga agar pakaiannya
yang indah tidak menjadi kotor terkena debu, kedua kalinya
agar jangan menarik perhatian orang-orang jahat. Kudanya
pun kuda mahal, kuda pilihan yang amat kuat.
Ceng Ceng berdiri di pinggir sawah dan tersenyum
gembira melihat dua orang anak laki-laki berusia enam
tujuh tahun mengejar-ngejar burung. Memang amat nakal
burung-burung kecil berdada kuning itu. Digebah dari sini
turun di sana, diusir dari sane hinggap di sini. Burung yang
berkelompok itu seakan-akan tahu bahwa yang mengusir
mereka hanya dua orang bocah maka sengaja menggoda dan
mengejek. Dipermainkan oleh burung kecil ini, dua orang
bocah cilik itu marah-marah. Mereka berteriak-teriak dan
menyambitkan batu.
“Awas kalian, perampok perampok kecil. Kalau terjatuh
ke dalam tanganku, kau tentu akan kucabuti bulumu,
kupuntir batang lehermu, kupanggang sampai kuning !” kata
seorang anak.
“Setan-setan kelaparan !” memaki anak kedua. "Kami
bersusah payah bekerja, ayah dan kerbau meluku, Ibu
menanam, aku membersihkan rumput, kami menunggu
18
panen dan kalian ini setan setan selalu mengganggu. Enyah
keparat !”
Bocah-bocah itu lari ke sana ke mari sambil memakimaki.
"Kami makan tak pernah memakai daging, kalau kami
dapat menangkapmu, kami makan kepalamu !"
Melihat bocah-bocah ini dan para petani yang sepagi itu
sudah bekerja keras dan rajin di sawah ladang, timbul
pikiran di dalam kepala Ceng Ceng betapa sukarnya orang
bekerja untuk menghasilkan bahan makanan. Dia setiap
hari makan nasi akan tetapi belum pernah bekerja di ladang
untuk manuai padi, apa lagi meluku dan mencangkul.
Alangkah senangnya orang kota, hidup mewah dan setiap
hari makan nasi dari padi terbaik. Sebaliknya para petani
yang setiap hari semenjak pagi buta sampai malam gelap
bekerja membanting tulang memeras keringat di sawahnya,
hidup serba kurang dan miskin.
Ceng Ceng membungkuk, mengambil segenggam pasir,
menanti sampai kelompok burung dada kuning itu terbang
lewat. tangannya digerakkan, pasir menyambar mekar jala
dan....... belasan ekor burung runtuh ke atas tanah, sisanya
terkejut dan terbang jauh-jauh.
Dua orang bocah itu memandang dengan mata terbelalak
lebar dan mulut bengong, kemudian melihat burung-burung
bergeletakan di atas tanah, mereka bersorak-sorak girang
dan berlari-lari menghampiri untuk mengambil bangkai
burung-burung itu.
"Hebat, timpukan yang lihai sekali……!” dengan suara
halus memuji.
Ceng Ceng cepat menengok dan melihat seorang pemuda
tampan lewat di atas jalan itu. Pemuda ini berpakaian
seperti seorang ahli silat, akan tetapi sikap dan gerakgeriknya
halus seperti seorang pelajar. Ketika Ceng Ceng
menengok, pemuda itu mempercapat langkahnya dan
sebentar saja sudah jauh.
19
Ceng Ceng tertarik. Sikap pemuda itu gagah bukan main,
juga wajahnya amat tampan, agaknya seorang pendekar
perantau. Di pinggangnya terselip sebatang bambu kecil,
bukan pedang. Biarpun amat tertarik dan ingin tahu
siapakah gerangan pemuda itu dan sampai di mana
kelihaiannya, namun sebagai seorang wanita tentu saja Ceng
Ceng tidak berani menegur. Apa lagi pemuda itu sudah pergi
jauh dan sebentar saja bayangannya lenyap di tikungan
jalan sebelah selatan.
Gadis itu lalu melanjutkan perjalanannya, melompat ke
atas kuda yang dilarikan ke selatan. Ia hendak mencari ayah
bundanya yang berada di kota Kiu-kiang yang terletak di
dekat Telaga Poyang. Perjalanan masih jauh, makan waktu
dua hari lagi.
Malam hari itu Ceng Ceng tiba di sebuah dusun yang
cukup ramai. Ia bermalam di rumah perginapan,
memberikan kudanya kepada pelayan sambil memesan.
"Beri makan dan minum secukupnya pada kudaku ini
dan masukkan dalam kandang yang baik dan terlindung dari
angin malam. Jaga dia baik-baik. besok kuberi hadiah."
Pelayan itu mengangguk-angguk lalu menuntun kuda
besar itu ke samping hotel. Lewat tengah malam, Ceng Ceng
terkejut bangun dari tidurnya ketika pintu kamarnya digedor
orang.
"Siocia....... siocia....... bangunlah ! Kuda itu dilarikan
orang !"
Ceng Ceng mendengar suara kaki kuda berderap lewat di
depan hotel. Dengan cepat ia melompat turun, menyambar
pedangnya lalu menerjang pintu luar. Begitu mendadak dan
cepat ia membuka pintu sehingga pelayan yang melaporkan
tentang kehilangan kuda dan tadinya berdiri di luar pintu,
terjengkang tunggang-langgang ketika pinta dibuka. Akan
tetapi Ceng Ceng tidak memperdulikannya lagi, terus saja
melompat keluar dan lari mengejar ke arah suara kuda
20
melarikan diri ke barat. Malam itu baiknya terang bulan,
dan ternyata malam sudah larut sekali dan sudah menjelang
fajar.
Ceng Ceng memiliki ginkang yang tinggi warisan dari
ayah bundanya. Kalau hanya kuda biasa saja yang dilarikan
orang, kiranya ia masih akan sanggup menyusulnya, akan
tetapi kudanya yang dieuri ini bukanlah kuda biasa,
melainkan kuda pilihan dari utara yang sanggup lari seribu
li sehari semalam.
"Maling kuda pengecut jahanam! Berhentilah kalau kau
memang jantan l° teriak Ceng Ceng sambil mengerahkan
tenaga dalamnya agar suaranya terdengar jauh. Akan tetapi
pencuri kuda itu bahkan membalapkan kudanya dan hanya
suara ketawanya terdengar dari jauh. Diam-diam Ceng Ceng
terkejut. maklum bahwa pencuri kudanya itu bukanlah
pencuri biasa. Orang yang suara ketawanya dari tempat
sejauh itu dapat terdengar, tentu memiliki Iweekang tinggi.
Ia mempereepat larinya, akan tetapi percuma saja. Makin
lama derap kaki kuda makin menghilang berikut bayangan
kuda. Ceng Ceng membanting banting kakinya dengan
gemas ketika ia berdiri di luar sebuah hutan. Ia tidak tahu
kemana pencuri itu melarikan kudanya.
Dengan hati mendongkol sekali Ceng Ceng berjalan terus
sampai pagi. Ia keluar dari hutan dan mengambil keputusan
untuk mencari terus kudanya yang hilang sebelum pergi
menyusul ayah bundanya. ia merasa penasaran sekali kalau
belum mendapatkan kembali kudanya, terutama sekali
kalau belum mamberi hajaran kepada pencuri kuda yang
kurang ajar itu.
Tiba-tiba ia mendengar ringkikan kuda dari arah kiri.
Girangnya bukan main karena ia segera mengenal suara
kudanya ! Biarpun sudah letih karena bangun pada tengah
malam tidak tidur lagi, ia segera lari ke arah kiri dengan
cepat. Dan betul saja. ia melihat kudanya sedang makan
rumput di bawah pohon dilepas begitu saja ! Dengan
21
beberapa kali lompatan Ceng Ceng sudah tiba di dekat
kudanya dan segera ia memegang kendalinya. Dan pada saat
itu baru ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, di atas barubaru
besar, duduk seorang pemuda tampan yang bersila dan
sedang bersamadhi ! Pemuda ini bukan lain adalah pemuda
yang memujinya kemarin ketika ia menyambit burtingburung
dengan pasir. Peniuda Itu meramkan mata. bibirnya
agak tersenyum, tampan sekali, kedua tangan di depan dada
dan sebatang bambu yang ternyata adalah huncwe terselip
di pinggangnya.
Sampai lama Ceng Ceng berdiri memandang, kemudian
ia menjadi marah. Tentu pemuda ini yang telah mencuri
kudanya ! Ia melepaskan kendali kudanya, melangkah maju
mendekati pemuda itu sambil membentak.
"Pencuri kuda kurang ajar ! Turunlah kau menerima
hajaran!"
Pemuda itu membuka matanya memandang kepada Ceng
Ceng dengan mata bersinar dan bibir tersenyum. "Nona, kau
memaki siapa ?" tanyanya, suaranya halus, sikapnya sopan.
“Memaki kau, siapa lagi ? Kau pencuri kuda hina,
turunlah kalau kau mempunyai kepandaian !” Dilolosnya
pedang dari pinggangnya dan gadcis ini siap untuk
menyerang. Pemuda itu tersenyum tenang. "Nona, aku Cui
Kong selamanya tidak pernah mencuri kuda. Harap kau
dapat memperbedakan antara pencuri kuda dan orang baikbalk.”
Memang pemuda ini bukan lain adalah Liok Cui Kong.
Setelah berhasil membunuh Coa Hong Kin dan Go Hui Lian,
pemuda ini lalu melakukan perjalanan ke selatan menuju ke
tempat tinggal ayah angkatnya yang baru, yaitu di sebuah
pulau di pantai selatan, mendekati Lo thian-tung Cun Gi
Tosu yang juga melarikan diri ke selatan setelah di utara ia
tidak diterima baik oleh Jengis Khan.
Kobetulan sekali di tengah jalan ia melihat Ceng Ceng.
Sebagai seorang pemuda mata kerarjang yang bejat
moralnya, tentu saja melihat seorang dara cantik seperti
22
Ceng Ceng. hati Cui Kong tergorcang hebat. Akan tetapi,
melihat sikap dan gerak gerik Ceng Ceng, pula menyaksikan
kepandaian gadis ini, timbul perasaan aneh dalam diri Cui
Kong. Berbeda dengan perasaan kalau melihat gadis-gadis
lain. ia amat tertarik dan timbul kasih sayang. Inilah
agaknya cinta yang bersemi di dalam hatinya, oleh karena
manusia bagaimana jahatpun sekali waktu akan jatuh hati
kepada seorang tertentu.
Ini pula sebabnya maka Cui Kong tidak mau bermain
kasar. Ia sengaja mencari kuda nona itu dan sekarang
menanti di sini, siap mencari alasan baik untuk berkenalan.
Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar jawaban
pemuda itu. Ia tidak mengenal nama Cui Kong, dan ia raguragu
apakah ucapan itu betul.
"Bagaimana kau bisn bilang bukan pencuri kuda kalau
kudaku hilang dari rumah penginapan, dibawa orang pada
tengah malam, terus kukejar di sini dan kudapatkan kuda
itu berada di sini bersamamu? Bagaimana kau bisa
menyangkal ?”
Cui Koug mengangguk-angguk berkata, masih tersenyum
memikat hati. “Memang ada kulihat tadi seorang laki-laki
membalapkan kuda lewat dekat ini. Karena curiga melihat
orang pagi-pagi membalapkan kuda yang besar dan indah,
aku menegurnya. Akan tetapi orang itu malah mengayun
pecut menyerangku. Aku menangkap pecutnya dan
membetotnya sehingga orang tidak punya guna itu roboh
terjungkal. Dua kali ia menyerangku lagi akan tetapi dua
kali ia terjungkal lalu melarikan diri. Kuda itu ia tinggalkan
dan kuda baik ini ternyata tidak mau pergi. Nah, aku sudah
memberi keterangan, apakah kau masih hendak memaki
aku sebagai maling kuda?"
Ceng Ceng memang seorang gadis lincah pandai
berdebat. Mendengar penuturan ini ia menjawab, "Enak saja
kau mendongeng! Apa buktinya kebenaran dongenganmu itu
dan siapa bisa bilang kalau kau tidak membohong?"
23
“Nona, ada dua sebab kuat yang menjelaskan bahwa aku
bukan pencuri kuda. Aku sudah menyaksikan
kepandaianmu, kalau aku yang mencuri, perlu apa aku
masih melarikan diri ? Kedua, andaikata aku yang mencuri
lalu lari ketakutan, perlu apa aku sekarang musti
menantimu di sini? Coba kau pikir baik-baik."
Memang beralasan sekali ucapan ini, akan tetapi perut
Ceng Ceng sudah menjadi panas. Kalau saja Cui Kong
memberi alasan yang ke dua saja, ia sudah akan merasa
puas dan percaya. Akan tetapi, alasan pertama dari pemuda
itu menyatakan bahwa pemuda itu memandang rendah
kepadaianya ! Cui Kong bilang bahwa dia sudah
menyaksikan kepandaian Ceng Ceng dan andaikata dia yang
mencuri kuda, ia takkam lari. Bukankah itu berarti bahwa
pemuda ini menganggap kepandaian Ceng Ceng tidak berapa
?
"Bagus, tidak tahunya kau selihai itukah ? Boleh, boleh
kita coba-coba. Kalau kau betul sudah dapat mengalabkan
pencuri kuda, tentu kepandaianmu lebih tinggi dari pada
aku. Turunlah ¡" Setelah berkata demikian, Ceng Ceng
menggunakan kakinya mendorong baru besar yang diduduki
oleh Cui Kong. Hebat sekali lweekang nona ini. Batu yang
beratnya ada seribu kali ini menjadi miring !
"Ayaaa, kiranya kau sekuat ini!” Seru Cui Kong, benarbenar
terkejut. Tadinya ia hanya melihat gadis itu
menimpukkan pasir merobohkan banyak burung sekaligus.
Kepandaian ini indah, akan tetapi belum menunjukkan
bahwa gadis itu seorang ahli silat tinggi. Melihat usianya
yang bogitu muda, Cui Kong menganggap gadis itu tentu
tidak sedemikiah hebat. Akan tetapi dorongan kaki pada
batu besar tadi benar-benar mendemonstrasikan tenaga
yang hebat dan kepandaian yang tinggi !
Sementara itu, Ceng Ceng juga kagum melihat tubuh
yang tadinya bersila di atas batu, kini, "melayang” turun
dalam kedudukan masih bersila seakan-akan pemuda itu
24
pandai terbang. Padahal inipun demonstrast ginkang yang
hebat dari Cui Kong, yang mempergunakan ujung-ujung jari
kakinya menotol batu di bawahnya sehingga tubuhnya dapat
mencelat turun. Ketika tiba di tanah, kedua kakinya dilepas
sehingga ia jatuh berdiri dengan ringan dan tenang.
Ceng Ceng bersiap-siap, ia mengandalkan Ilmu silatnya
Pat-sian-jut-bun, sama sekali tidak mengira bahwa pemuda
di depannya inipun ahli dalam ilmu silat itu ! Soalnya begini.
Seperti telah diceritakan dahulu, kitab Pat-sian-jut-bun yang
tadinya terjatuh ke dalam tangan Pek-thouw tiauw ong Lie
Kong dan diberikan Ceng Ceng, telah dirampas oleh Cui Lin
dan Cui Kim dan akhirnya terjatuh ke dalam tangan Liok
Kong Ji. Akan tetapi sebelum terjatuh ke dalam tangan Liok
Kong Ji, Cui Kong sudah mencuri lihat dan otaknya yang
cerdas dapat menghafal isinya dan diam-diam iapun
mempelajari ilmu silat ini. Oleh Liok Kong Ji kitab itu
bahkan dijadikan bahan untuk mengatur barisan bambu di
Ui tiok-lim, yang makin disempurnakan ilmu dari kitab ini.
Demikianlah Ceng Ceng sama sekali tidak pernah
menyangka bahwa ia berhadapan dengan tokoh Ui-tiok lim
atau kakak angkat dari dua orang gadis yang mencuri
kitabnya dan yang sekarang masih dicarinya itu.
"Nona, kau betul-betul hendak mengujiku ? Boleh, boleh,
akupun ingin sekali tahu sampai di mana tingginya
kepandaianmu. Akan tetapi harap kauingat bahwa aku
betul-betul bukan pencuri kudamu dan kita bertempur
hanya sebagai pibu persahabatan saja."
"Jangan banyak cingcong ! Keluarkan senjatamu !" seru
Ceng Ceng. Gadis ini belum tahu sampai di mana tingkat
kepandaian pemuda ini. Biarpun ia tertarik akan
ketampanan wajah pemuda ini dan sifat-sifainya yang gagah,
namun sebelum mengukur tinggi rendah kepandaiannya,
mana bisa ia menarh penghargaan ?
Cui Kong mencabut keluar huncwenya menjawab, “Aku
masih muda dan tidak doyan menghisap tembakau, akan
25
tetapi huncwe ini sudah menjadi kawau lama yang selalu
melindungiku, inilah senjataku nona. Kau majulah!”
Diam-diam Ceng Ceng menjadi agak gembira. Seorang
yang mempergunakan senjata begitu aneh, tentu memiliki
kepandaian tinggi dan ia ingin sekali tahu sampai
bagaimana tingginya.
"Lihat pedang !” serunya dan dengan gerakan manis
sekali ia menusuk ke arah tenggorokan lawannya, kemudian
pedang diteruskan dengan gerakan memutar ke atas ke
bawah sedangkan tangan kirinya ditekuk di depan dada.
Sekaligus ujung pedang itu menyerang tiga bagian tubuh
yang berbahaya. Melihat gerakan ini, Cui Kong terkejut
sekali. Itulah gerakan Cui sian-sia-ciok ( Dewa Arak
Mamanah Batu) sebuah gerak tipu dari Ilmu Silat Pat sianjut-
bun! Ia cepat memutar huncwenya ke depan tubuh
sambil melompat mundur dan berkata.
"Nanti dulu, nona. Seranganmu begitu Iihai dan ganas,
kalau sampai mengenai aku, bukankah nyawaku akan
menghadap Giam-kun (Dawa Maut)?" ia berkelakar.
Ceng Ceng cemberut. "Kalau takut pedang jangan bicara
sombong !"
"Aku seorang jantan tulen tidak takut mati, nona. Hanya
aku khawatir akan mati dengan mata melek karena
penasaran sebelum aku tahu siapa orangnya yang akan.
membunuhku. Pedang tidak bermata, nona. Sebelum ada
kemungkinan dada ini tergores pedang aku harus tahu siapa
gerangan nona yang gagah perksa ini? Kau sudah tahu,
namaku Cui Kong. Akan tetapi siapa nona dan dari aliran
manakah ?”
"Namaku Lie Ceng, bukan dari aliran mana-mana.
Ayahku Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong.”
Cui Kong pura-pura terkejut girang, padahal di dalam
hatinya ia benar-benar terkejut dan cemas. Ia merasa punya
dosa terhadap Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong karena
26
bukankah Cui Lin dan Cui Kim telah mencuri kitab gadis
ini? Dengan air muka kelihatan tercengang girang ia berseru
sambil merangkapkan kedua tangan memberi hormat,
"Aduh, kiranya li-hiap (pendekar wanita) adalah puteri
dari Lie-locianpwe yang mulia. Maaf, maaf, aku yang bodoh
tidak tahu dan berlaku kurang hormat. Memang li-hiap
tentu saja tidak mengenal namaku yang terpendam ke dalam
lumpur, akan tetapi sebaliknya dari bawah lumpur aku
sudah melihat rajawali kepala putih terbang melayang di
angkasa raya."
Mendengar pujian yang muluk ini tentu saja hati Ceng
Ceng merasa senang, akan tetapi ia masih penasaran.
Seranga n pertamanya tadi ternyata dengan mudah dapat
ditangkis oleh Cui Kong, apakah pemuda ini betul-betul
akan dapat menangkan dia....... ? Kalau betul demikian .....
hemmm, pemuda seperti ini lah kiranya yang patut.......
menjadi jodohnya! Merah muka Ceng Ceng dengan
sendirinya ketika ia berpikir sampai di situ.
"Sudahlah, tak perlu banyak peradatan ini. Hayo kita
selesaikan pibu kita !”
Cui Kong merasa girang mendengar nona itu menyebut
“pi-bu", bukan pertandingan sungguh-sungguh, maka ia
segera bersiap dan berkata, "Aku yang bodoh sudah siap
menerima petunjuk dari li-hiap."
Ceng Ceng tidak mau berlaku sungkan lagi. Pedangnya
digerakkan amat cepatnya, menyambar-nyambar bagaikan
seekor burung rajawali mengamuk. Sinar putih seperti perak
bergulung-gulung mengurung diri Cui Kong yang berlaku
tenang tenang saja. Pemuda yang sudah tahu akan kelihaian
ilmu Pak-sian-jut-bun ini, tidak mau berlaku gugup dan
tidak mau mengikuti pergerakan pedang lawan. Kalan ia
mengikutinya, akan celakalah dia. Inilah kehebatan ilmu
pedang itu yang harus dilawan dengan tenang. Ia hanya
memperhatikan sinar pedang menyambar ke arahnya untuk
ditangkis dengan huncwenya. ilmu silat Cui Kong masih
27
setingkat lebih tinggi dari pada gadis ini, juga tenaganya
lebih besar. Oleh karena itu ia dapat melayani Ceng Ceng
dengan baik. Andaikata ia belum mencuri baca kitab Patsian-
jut-bun, kiranya dia takkan depat menghadapi gadis ini
demikian enak, sedikitnya dia harus mengerakkan seluruh
kepandaiannya untuk mengimbangi.
Sebaliknva, Ceng Ceng merasa seakan-akan menghadapi
tembok baja yang amat kuat. Biarpun pemuda itu bergerak
lambat dan tenang namun ke mana saja pedangnya
menyerang di situ sudah ada huncwe yang menangkis. Dan
setiap tangkisan huncwe membuat telapak tangan tergetar.
Hati Ceng Ceog ikut tergetar pemuda itu benar-benar lihai.
Kiranya tidak kalah lihai oleh Tiang Bu.
Akan tetapi dia pernah dikalahkan oleh Tiang Bu dan ia
merasa penasaran apakah pemuds tampan yang lihai inipun
dapat mengalahkannya.
"Hayo kaubalas menyerang !" bentaknya berulang-ulang
melihat pemuda itu hanya menjaga diri saja.
"Mana aku berani !" jawab Cui Kong mengambil hati.
Tentu saja pemuda ini tidak tahu akan suara hati gadis ini.
Dia tertarik kepada Ceng Ceng dan berusaha mengambil
hatinya, ia takut kalau kalau gadis itu akan merasa terhina
dan marah kalau sampai ia mengalahkannya, maka ia hanya
mempertahankan diri saja. Tidak tahunya gadis ini bahkan
menghendaki sebaliknya.
“Bagaimana tidak berani ini pi-bu namanya ! Hayo
kaubalas, hendak kulihat apa kau mampu mengalahkan
aku."
"Aku tidak berani melukaimu. nona. Aku tidak mau kau
menjadi sakit hati dan marah,” jawab Cui Kong halus sambil
menangkis tusukan pedang sehingga lagi lagi terdengar
bunyi "tringg" yang amat nyaring dibarengi bunga api
berpijar.
28
“Bodoh ! Kalau pedangku terlepas dari tangan aku
menyerah kalah," kata pula Ceng Ceng.
Mendengar ini, Cui Kong cepat menggerakkan
huncwenya, kini membalas dengan totokan-totokan
berbahaya. Gerakannya cepat sekali karena ia telah mainkan
ilmu pedang yang ia pelajari dari gurunya, mengambil dari
kitab Omei-san yang terjatub ke dalam tangan Lo. Tniantung
Cun Gi Tosu, yaitu kitab Soanhong-kiam-coan-si (Kitab
Ilmu Pedang Angin Puyuh). Pedang ini sekarang diganti
dengan huncwe dan diputar sampai mengeluarkan angin
dingin. Sebetulnya, sama-sama kitab dari Omei-san
kehebatan ilmu yang dimainkan oleh Cui Kong dengan Patsian
jut-bun yang dimainkan Ceng Ceng itu mempunyai
keistimewaan sendiri-sendiri. Namun karena Cui Kong
memangnya menang setingkat, tentu saja permainannya
juga lebih lihai dan Ceng Ceng sebentar saja merasa pening.
Ia mencoba menangkis dengan pedangnya, akan tetapi
pedang itu tertempel huncwe dan ikut berputaran dan
terlepas dari pegangannya, berpindab ke tangan kiri Cui
Kong !
Dengan sikap manis budi dan merendah Cui Kong
memutar pedang itu dan memegang ujungnya. Gagangnya ia
angsurkan kepada Ceng Ceng sambil berkata.
"Karena kurang hati-hati pedangmu terlepas, nona.
Terimalah kembali dan maafkan aku, kiam-hoatmu benarbenar
hebat sekali aku merasa kagum."
Ucapan ini dikeluarkan dengan sikap sungguh-sungguh
sehingga sama sekali Ceng Ceng tidak merasa diejek. Akan
tetapi, tetap saja mukanya menjadi merah sekali ketika ia
nerima kembali pedangnya dan memasukannya kedalam
sarung pedang.
"Dalam ilmu pedang aku telah kalah, akan tetapi aku
masih hendak menecoba ilmu silat tangan kosong!" kata
Ceng Ceng. Ia tahu bahwa sikapnya ini keterlaluan. Sudah
jelas bahwa ia kalah lihai, tantangannya ini benar-benar
29
bocengli (tidak pakai aturan). Akan tetapi gadis ini memang
keras kepala dan pada saat itu ia memang ingin sekali tahu
apakah benar-benar pemuda tampan ini lebih lihai dari
padanya dalam sagala macam ilmu silat.
Cui Kong tersenyum. Gadis ini cantik jelita dan keras
hati, puteri Pak-thouw-tiauw-ong pula. Hemm, aku harus
dapat menundukkannya. Jarang di dunia ini bisa
kudapatkan gadis sehebat ini.
“Baiklah, nona. Aku yang bodoh hanya menurut saja atas
segala kehendakmu, dan tentu saja aku girang mendapat
petunjuk-petunjuk dari puteri Pek-thouw-tiauw-ong yang
ternama."
”Lihat pukulan !" Ceng Ceng terus saja menyerang tanpa
mau membuang waktu lagi. Begitu menyerang ia
mempergunakan ilmu silat ciptaan ayahnya, yaitu Pektiauw-
kun-hwat (Ilmu Silat Rajawali Putih). Ayahnya
mencipta ilmu silat ini dari gerak-gerak pek-thouw-tiauw
(rajawali kepala putih) peliharaannya. Ketika dua ekor
rajawali itu pertama kali dipeliharanya dan masih liar, sering
kali Lie Kong sengaja mengajaknya bertempur atau ia
menyuruh isterinya melayani mereka dan diam-diam ia
memperhatikan gerak gerik mereka. Cara mereka mengelak,
menangkis dan menyerang. Dari ”latihan” inilah pendekar
pantai timur ini akhirnya berhasil mencipta Pek-tiauw-kunhwat
yang merupakan gabungan dari gerak gerak rajawali
dicampur gerak-gerak tipu ilmu silat tinggi yang sudah ia
pelajari semenjak kecil.
Gerakan Ceng Ceng amat lincah. Kedua tangannya
bergerak-gerak, kadang-kadang mekar seperti sayap
rajawali, kadang-kadang menotok seperti paruh rajawali,
tubuhnya menyambar ke atas ke bawah, kedua kakinya
kadang-kadang berjungkit, kadang-kadang merendah atau
meloncat loncat tinggi. Pendeknya amat indah dipandang
akan tetapi amat berbahaya dihadapi lawan.
30
“Bagus sekali ! Kau hebat, nona,” berkali-kali Cui Kong
mengeluarkan suara pujian bukan hanya sekedar untuk
mengambil hati akan tetapi memang ia merasa kagum
sekali. Sifat gadis yang lincah jenaka ini memang cocok
sekali dengan ilmu silat ini. Dan Cui Kong girang mendapat
kesempatan “main-main" dengan gadis seperti ini,
sungguhpun main-main ini dapat membahayakan
keselamatannya karena pukulan-pukulan gadis itu ternyata
bukan main-main. Tingkat kepandaian Cui Kong memang
masih menang setingkat, akan tetapi ia harus berlaku hatihati
sekali kalau tidak mau terkena pukulan yang
berbahaya.
Seratus jurus lewat dan belum juga Ceng Ceng dapat
mendesak Cui Kong. Sebenarnya kalau Cui Kong mau, ia
tentu akan dapat robohkan lawannya ini dalam seratus
jurus, dia sudah banyak mempunyai ilmu pukulan yang
aneh-aneh dan beracun. Namun menghadapi Ceng Ceng ia
menjadi lemah, tidak tega mencelakainya. Ia ingin merebut
hati gadis ini tanpa kekerasan, melainkan dengan kehalusan
dan cinta kasih.
Di lain pihak, Ceng Ceng makin lama makin kagum
terhadap pemuda ini. Belum pernah ia bertemu dengan
seorang pemuda demikian pandainya, kecuali Tiang Bu. Ia
sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, tetap saja
tidak mampu ia mendesak. Pertahanan pemuda itu kuat
seperti baja sehingga semua serangannya membalik.
Cui Kong berpikir bahwa kalau dalam pertandingan
tangan kosong ini ia mengalahkin gadis itu, mungkin gadis
itu akan menjadi tersinggung hatinya dan berbalik
membencinya. Harus kuberi kesempatan kepadanya supaya
kali ini dia menang, pikirnya. Cepat ia menyerang akan
tetapi berbalik memberi kesempatan dan lowongan. Sebagai
seorang ahli silat ia tentu saja Ceng Ceng dapat melihat
lowongan ini dan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik.
Tangan kirinya menyambar ke arah dada yang terbuka
31
dengan pukulan keras, akan tetapi segera kepalannya
dibuka dan hanya telapak tanganuya yang mendorong
sekuat tenaga.
"Bukk !” Cui Kong terjengkaog dan berjungkir balik ke
belakang, Sedangkan Ceng Ceng merasa tangannya
kesemutan dan kaku. Bukan main kagetnya dan diam-diam
ia menjadi makin kagum karena hal itu membuktikan bahwa
tenaga lweekang pemuda itu tinggi.
"Nona lihai sekali. Aku Cui Kong mengaku kalah," kata
Cui Kong sambil mengebut-ngebutkan bajunya.
Akan tetapi Ceng Ceng bukan anak kecil. Kini ia maklum
bahwa pemuda itu sengaja mengalah dan merahlah
mukanya. Makin tertatarik hatinva, pemuda ini selain gagah
perkasa, juga berbudi manis dan pandai merendah. Di lain
fihak, Cui Kong hampir menari kegirangan karena ketika
merubah pukulan menjadi dorongan tadi. Ia dapat menduga
bahwa sedikitnya gadis itu mempunyai pandangan baik
terhadap dirinya dan tidak mempunyai sikap bermusuh lagi
!
"Ah, kau terlalu memuji. Sebetulnya akulah yang kalah
dan terus terang saja aku mengakui kelihaianmu, saudara....
saudara,....”
“Cui Kong namaku, nona. Kau selalu merendah, nona
Lie. Sebetulnya saja kepandaian kita setingkat, mungkin aku
sodikit lebih kuat, ini tidak aneh karena kau seorang wanita,
Akan tetapi, dibandingkan dengan ayahmu tentu aku kalah
jauh sekali. Sudahlah, tertang kepandaian memang tidak
ada batasnya, nona. Bolehkah aku bertanya, nona hendak
pergi kemanakah?"
"Aku pergi merantau meluaskan pengalaman," jawab
Ceng Ceng singkat.”
Wajah Cui Kong berseri. "Aah, tentu saja begitu. Puteri
seorang pendekar tentu ingin pula mengetahui bagaimana
keadaan dunia kang-ouw. Akupun mempunyai keinginan
32
seperti itu, nona. Hanya bedanya, kalau ayah bundamu
terkenal sebagai pendekar-pendekar besar, adalah aku
seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini,
hanya mempunyai seorang ayah angkat. Akan tetapi .....”
Cui Kong menarik napas panjang, “Ayah angkat inipun
hanya menambah beban hidupku. Aku ...... aku terpaksa lari
dari rumahnya.....”
Mendengar ucapan terputus-putus dan tidak jelas ini,
hati Ceng Ceng tertarik. Kepribadian pemuda itu memang
telah menarik hatinya. ingin sekali ia mengetahui keadaan
pemuda ini.
"Mengapa ...... ? Mengapa kau....... lari?"
Diam-diam Cui Kong makin gembira. Jelas bahwa nona
ini menaruh perhatian kepada dirinya. Ia harus berlaku hatihati.
Nona ini bukan nona sembarangan, melainkan puteri
dari Pek.thouw-tiauw-ong Lie Kong. Ia harus menggunakan
akal dan siasat untuk mendapatkan gadis yang benar-benar
yang benar-benar telah membetot semangatnya ini.
"Ahh, kepada orang lain biar mati aku takkan mau
menceritakan urusan keluargaku, nona. Akan tetapi
terhadapmu....... entah mengapa biarpun baru sekarang
bertemu, aku merasa ...... seakan-akan kita sudah menjadi
sahabat baik puluhan tahun lamanya.......” Ia berhenti
sebentar untuk melihat bagaimana reaksi kata-katanya yang
berani ini, apakah gadis ini akan marah? Tidak, Ceng Ceng
malah menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan. Ia
menjadi makin berani dan melanjutkan kata-katanya,
"Sebenarnya, ayah angkatku hendak memaksa aku untuk
menikah dengan seorang gadis kampungku. Maka aku .....
lari pergi !”
Tanpa disengaja Ceng Ceng tertawa kecil mendengar ini.
Ia memandang muka pemuda itu dan bertanya jenaka sudah
timbul sifatnya yang jenaka dan lincah. 'Mengapa lari? Apa
dia itu buruk rupa?”
33
“Tidak buruk, bahkan cantik menjadi kembang
kampungku. Akan tetapi, nona Lie yang baik, bukan seorang
gadis cantik yang lemah menjadi idam-idaman hatiku. Gadis
itu benar cantik, akan tetapi dia lemah dan bodoh. Kakinya
sebesar kepalan tangan .....”
”Eh. bukankah itu baik sekali? Kata orang kaki wanita
harus kecil, makin kecil makin baik.” Diam-diam ia melirik
ke arah kakinya yang biarpun tidak besar dan mungiL
namun tidak bisa dibilang kecil seperti kaki wanita dusun
yang semenjak bayi dibungkus dan diikat.
"Mana bisa dibilang baik? Kaki kecil bengkok, jalannya
terpincang-pincang. Ah, tak sudi aku dekat wanita demikian.
lemah berpenyakitan. Idaman hatiku, kalau orang buruk
rupa dan bodoh semacam aku ini laku kawin, calon isteriku
harus seorang wanita yang gagah perkasa. Tak usah dibilang
lagi kalau gagahnya seperti engkau, nona, baru memiliki
kegagahan setengah kepandaianmu saja, aku sudah akan
merasa bahagia sekali. Kalau ......... andaikata....... dia itu
seperti engkau baik rupa maupun kepandaian....... ah.
aku....... aku mau berlutut di depannya, nona!” Sambil
berkata demikian, Cui Kong betul betul menjatuhkan diri
berlutut di depan Ceng Ceng. Deikian pandainya Cui Kong
mengambil hati ! Ceng Ceng cepat membalikkan tubuh tidak
mau menerima penghormatan itu sambil berkata, "Jangan
begitu! Tidak patut orang-orang muda seperti kita bicara
tertang perjodohan. “Itu urusan orang tua. Berdirilah agar
kita bisa bicara dengan baik.” Diam-diam gadis ini merasa
girang sekali hatinya. Sudah lama ia mengidamkaa seorang
calon suami yang tidak saja tampan dan halus budinya,
akan tetapi juga memiliki kepandaian yang melebihi
kepandaiannya. Dan pemuda ini tidak saja sudah memenuhi
semua syarat, bahkan terang-terangan sudah menyatakan
cinta kepadanya !
34
"Kau tidak marah ? Terima kasih, nona. Agaknya hari ini
Thian menuntunku ke jalan babagia." Cui Kong berdiri dan
nona itu kembali menghadapinya.
“Seperti juga kau. aku dipaksa oleh ayah untuk menikah
dengan seorang pemuda yang tidak kusetujui. Aku tadinya
hendak dipaksa menjadi jodoh seorang pemuda bernama .....
Tiang Bu."
Kalau Cui Kong tidak mempunyai kepandaian menguasai
diri, tentu ia akan tersentak kaget mendengar disebutnya
nama ini. Hendak dijodohkan dengan Tiang Bu pemuda sakti
nu, Hatinya berdebar keras. Alangkab kebetulan. Kalau ia
bisa mendapatkan gadis ini, tidak saja hatinya akan puas
karena memang ia tartarik dan cinta kepada Ceng Ceng,
Akan tetapi juga sekaligus itu merupakan pukulan terhadap
Tiang Bu, merupakan sebagian dari pada balas dendam
kepada pemuda yang dibencinya itu.
"Mengapa kau tidak setuiu, nona ? Apakah Tiang Bu itu
seorang pemuda yang tidak memiliki kepandaian silat?” ia
pura.pura bertanya.
Ceng Ceng tersenyum. “Tentang kepandaian silat aku
sama sekali tidak dapat menang melawan dia, mungkin kau
dapat mengalahkannya. Hemm, aku ingin sekali melihat kan
dan dia bertempur.”
Diam-diam Cui Kong mengeluh di dalam hatinya. Kalau
saja Ceng Ceng tahu betapa Tiang Bu sudah membikin
kocar.kacir Ui-tiok-lim ! Dikeroyok tujuh saja masih tidak
kalah, bagaimana Cui Kong harus menghadapi Tiang Bu
seorang diri? memikirkan hal ini saja bulu tengkuknya
sudah berdiri saking ngerinya.
"Ah, kalau begitu dia seorang yang berkepandaian tingi?
Mengapa kau menolaknya. nona?" tanyanya
menyimpangkan pembicaraan tentang kepandaian silat.
Kemudian disambungnya cepat agar dianggap sopan. "Ah,
35
maaf beribu maaf, sebetulnya tidak patut aku berlancang
mulut. Malutku patut digampar!"
Cenga Ceng yang tadinya hendak marah menjadi
tersenyum, "Apakah kepandaian tinggi saja cukup menjadi
syarat perjodohan? Kalau hati tidak suka, siapa bisa
memaksaku?”
Cui Kong bertepuk tangan, wajahnya berseri. "Bagus!
Barus! Memang menjadi orang muda barus demikian. Aku
girang sekali bahwa ternyata pendirianku ada yang
menyamai, keadaanku dan keadaanmu cocok sekali, nona."
Kembali Ceng Ceng menjadi merah mukanya, akan tetapi
dia memang bukan gadis pemalu. Ditatapnya wajah pemuda
itu penuh selidik, lalu bertanya.
“Kau telah memperkenalkan nama, akan tetapi siapa she
( nama keturunan ) mu ? Dan kemana kau hendak pergi ?”
“Aku she Kwe dan seperti juga kau, aku pergi merantau
menjauhkan diri dari paksaan ayah angkatku." Kemudian ia
berkata dengan sikap sungguh-sungguh. “Nona Lie Ceng,
aku Kwee Cui Kong biasa bicara jujur dan terbuka, sesuai
dengan sikap orang gagah yang tidak suka menyimpan
perasaan sendiri sebagai rahasia. Terus terang nona. Begitu
bertemu dengan nona, apa lagi setelah mengadu
kepandaian, aku merasa cocok sekali denganmu, dan.......
apa bila nona setuju….. maafkan kelancanganku karena aku
suka berterus terang menyatakan isi hatiku, apabila nona
setuju, aku ingin ikut nona menemui orang tua nona
untuk........ untuk mengajukan pinangan atas diri nona."
Dapat dibayangkan betapa likat dan malu rasa hati Ceng
Ceng sebagai seorang dara mendengar kata-kata yang terus
terang seperti ini. Akan tetapi diam-diam ia memuji
keberanian pemuda ini dan sama sekali ia tidak bisa marah
karena memang pemuda ini tidak bisa dibilang kurang ajar.
Bahkan ucapan itu membuktikan betapa jujur dan gagah
sikapnya ! Memang Ceng Ceng hanya pandai ilmu silat akan
36
tetapi pengalamannya masih hijau sekali. Tentu saja
menghadapi seorang "buaya " seperti Cui Kong, ia terpikat !
Sampai lama Cang Ceng tidak bisa bicara, akhirnya
sambil menundukkan muka ia berkata, "Urusan jodoh
urusan orang tua, bagaimana jika kau hendak bertemu
sendiri dengan ayah bundaku ?"
Sudah menang setengah bagian, pikir Cui Kong! Terang
gadis ini setuju, kalau tidak masa bertanya demikian, tentu
marah. Kalau gadis ini marah dan menolaknya, tentu Cui
Kong hendak menggunakan kekerasan menculiknya, akan
tetapi ia lebih senang mengambil jalan halus karena memang
kali ini ia bersungguh-sungguh, begitu berjumpa dengan
Ceng Ceng ia tertatik sekali. Apa lagi kalau diingat bahwa
dara ini puteri Pek-tbouw-tiauw-ong, dia harus berhati-hati.
"Ucapanmu itu memang tepat sekali, nona, dan akupun
tentu akan mematuhi peraturan dan kesopanan. Akan tetapi
apa mau dikata, seperti tadi telah kuceritakan, aku adalah
seorang anak yatim piatu, tiada ayah bunda lagi........”
Sampai di sini dengan pandai sekali sepasang mata Cui
Kong menjadi basah oleh air mata ! "Ayah angkatku
memaksaku menikah dengan seorang gadis kampungku
puteri seorang hartawan, kalau kuceritakan kepadanya
tentang niatku ini sudah pasti ia akan marah-marah dan
menolak. Oleh karena itu, lebih baik aku datang sendiri
kepada ayah bundamu dan menyatakan bahwa di dunia ini
tidak ada lagi waliku sehingga terpaksa aku mengajukan
pinangan sendiri. Nona Lie yang mulia. sudikah kau
menyetujui permohonanku ini ?”
Ceng Ceng menjadi terharu. Hatinya sudah jatuh betulbetul.
akan tetapi sebagai seorang gadis terhormat,
bagaimana dia bisa menjawabnya ¿ Tiba-tiba kudanya
meringkik dan menggaruk-garuk tanah dengan kaki depan.
Kuda itu sudah tidak sabar dan minta diberi kesempatan
lari.
37
"Aku memang hendak manyusul ayah di kota Kiu-kiang.
Kalau kau hendak mencari kami, datang saja di Telaga Poyang,
di sana ayah mempunyai perahu besar tempat kami
pelesir. Nah, aku pergi dulu !” Dengan gerak ringan sekali
Ceng Ceng melompat ke atas punggung kudanya. Sekali
menarik kendali kuda itu meringkik dan melompat jauh
terus berlari cepat.
“Nona, bagaimana aku tahu yang mana perahu ayahmu?”
Cui Kong berteriak keras.
“Carl saja burung pek-thouw-tiauw, tentu ketemu!” jawab
Ceng Ceng sambil menoleh dan melambaikan tangannya.
Kemudian kuda itu membalap cepat, sebentar saja lenyap di
sebuah tikungan jalan. Cui Kong berdiri bengong, merasa
hatinya dan semangatnya terbawa lari oleh kuda itu.
Akhirnya ia menghela napas panjung dan berkata heran,
"Cui Kong ......Cui Kong....... mengapa hatimu seaneh ini?
Hemm, banyak sekali wanita cantik, akan tetapi tak
seorangpun dapat menandingi Ceng Ceng. Dia itulah calon
isteriku ! Aku harus mendapatkan dia !” Kemudian iapun lari
cepat menuju ke Kiu-kiang.
-oo(mch)oo-
Telaga Poyang adalah sebuah telaga besar di Propinsi
Kiang-si. telaga yang indah dan juga ramai. Telaga ini
menjadi pusat keramaian dan tempat orang berpelesir,
terutama sekali oleh karena letaknya di dekat kota-kota
besar seperti Nan ciang dan lain-lain. Para saudagar tidak
ada yang tidak melewatkan waktu untuk mengunjungi telaga
ini apa bila maraka kebetulan lewat di daerah ini, juga para
pembesar setempat selalu menghibur hati di telaga dengan
perahu-perahu mereka yang serba mewah dan indah. Telaga
ini menjadi pusat para seniman di mana mereka menvari
ilham di tempat sunyi indah ini untuk menghasiIkan karyakarya
besar. Hanya rakyat kecil, kaum petani dan nelayan
yang agaknya tidak menaruh perhatian atas segala
38
keindahan alam ini, pandangan mata mereka jauh sekali
bedanya dengan orang-orang kota itu.
Mengapa demikian ? Oleh karena rakyat kecil yang
selamanya tinggal di dusun-dusun ini sudah biasa dengan
segala keindahan alam semenjak mereka kecil. Mereka telah
menjadi satu dengan keindahan tamasya alam sehingga para
pelukis dan penyajak tidak pernah lupa menyebut mereka
ini dalam lukisan atau sajak mereka. Memang sagala
keindahan itu akan kehilangan rasanya apabila telah
dimiliki.
Di antara puluhan buah perahu indah millik para
pembesar dan saudagar, terdapat sebuah perahu cat putih
yang sedang saja besarnya. Akan tetapi tentu saja sudah
termasuk besar dan mewah apa bila dibandingkan dengan
perahu-perahu butut milik para seniman dan nelayan yang
banyak berkeliaran di permukaan telaga. Perahu bercat
putih ini sudah tiga bulan berada di situ, dimiliki oleh
sepasang suami isteri pendekar yang amat ternama, yaitu
Pek-thouw tiauw ong Lie Kong dan isterinya Souw Cui Eng.
Bagi orang-orang yang sudah biasa merantau di dunia
kangouw, melihat dua ekor burung pak-thouw-tiauw yang
sering kali hinggap di atas perahu atau terbang berputaran
di atasnya, tentu akan mengenal siapa pemilik perahu itu.
Pada suatu pagi, ketika matahari mulal memancarkan
sinarnya di permukaan telaga suami isteri pendekar ini
sudah kelihatan duduk di atas dek perahu mereka. Sudah
jadi kebiasaan mereka untuk "mandi cahaya matahari" di
waktu pagi yang merupakan sebagian dari pada latihan
mereka sehingga tubuh selalu sehat dan awet muda. Inilah
saatnya mereka bercakap cakap dengan asyik, si isteri
melayani suami minum teh hangat dan sekedar santapan
pagi.
"Heran mengapa Ceng Ceng masih juga belum kembali ?
Apa dia lupa bahwa dalam bulan ini kita akan meninggalkan
39
Po-yang ?” terdengar Lie Kong berkata sambil menghirup teh
panasnya.
"Anak ini kalau sudah bertamasya lupa waktu." jawab
Souw Cui Eng. ”Akan tetapi pada saatnya ia tentu akan
datang. Biarpun suka pelesir, Ceng Ceng selalu ingat akan
pesan kita. Kurasa sebelum lewat bulan ini tentu ia akan
pulang."
Lie Kong menarik napas panjang, "Tabun ini Ceng Ceng
sudah berusia delapan belas lebih, dan kita belum
mendapatkan calon jodohnya.......”
Isterinya juga menarik napas panjang. "Anak itu agak
bandel. Akupun sudah setuju sekali kalau dia menjadi isteri
Tiang Bu pemuda yang sakti itu. Akan tetapi, aahhh,
memang Ceng Ceng amat bandel…..”
"Tunggu saja sampai kita bertemu dengan keluarga di
Kim-bun-to, tentu hal perjodohan ini akan kujadikan,” kata
Lie Kong,
Tiba-tiba terdengar pekik nyaring. Suami isteri itu
menoleh ke darat sebelah timur sambil mengerutkan kening.
Sekali lagi pekik terdengar dan tak lama kemudian seekor
buruag rajawali berkepala putih datang beterbangan di alas
perahu, berputar-putar sambil cecowetan.
“Hemm, betinanya ke mana?” tanya Lie Kong sambil
memandang burungnya itu.
“Celaka, tentu terkena bencana. Hayo kita lihat !” kata
isterinya yang amat sayang kepada separang burungnya.
Suami isteri ini cepat minggirkan perahu, diikuti oleh pokthouw-
tiauw dari atas. Dengan sigap mereka melompat ke
darat meninggalkan perahu lalu berlari mengikuti burung
mereka yang menjadi penunjuk jalan.
Burung itu terbang terus ke sebuah hutan kecil di
sebelah timur telaga. Setelah memaauki hutan, mereka
melihat enam orang laki-laki aneh yang berdiri saling
40
berhadapan. Lie Kong dan isterinya berdiri bengong seperti
patung! Apa yang mereka lihat memang luar biasa anehnya.
Tiga di antara enam orang itu pernah mereka lihat, yaitu
bukan lain adalah Pak-kek Sam-kui (Tiga Iblis Kutub Utara)
yang bernama Giam lo-ong Ci Kui, Liok-to Mo-ko Ang Bouw,
dan Sin sai-kong Ang Louw.
Akan tetapi, tiga orang ini sekarang berdiri berhadapan
dengan tiga orang Pak kek Sam-kui pula! Tegasnya pada
saat itu terdapat dua orang Ci Kui, dua orang Ang Bouw,
dan dua orang Ang Louw. tiga pasang manusia kembar yang
sukar sekali dibedakan mana aseli mana palsu! Hanya
bentuk pakaian mereka yang agak berbeda, selebihnya
mereka serupa benar. Saking heran dan terkejut
menyaksikan pemandangan ganjil ini, Lie Kong dan isterinya
sampai tak dapat mengeluarkan suara. Burung pek-thouwtiauw
betina sedang dipegang sayapnya oleh seorarg Ci Kui
dan burung itu sama sekall tak dapat berkutik. Memegang
burung besar yang amat kuat seperti itu menunjukkan
keahlian sipemegangnyaa.
“Ha, pemilik pek thouw tiauw sudah datang kau masih
juga belum melepaskannya!" kata Ci Kui kedua kepada Ci
Kui pertama. Ci Kui yang memegang burung mengeluarkan
ketawa sambil memandang kepada Lie Kong, agaknya ia
jerih dan sekali menggerakkan tangan, burung pek thouw
tiauw betina itu sudah terbang tinggi mengeluarkan pekik
marah.
Ci Kui kedua yang menyuruh Ci Kui pertama tadi lalu
menjura kepada Lie Kong. "Si-cu harap sudi memaafkan
kami. tiga orang adik kakak ini membuat kesalahan
terhadadap sicu, kami yang mintakan maaf. Sekarang kami
enam orang kakak beradik masih mempunyai urusan
panting sekali, harap sicu mengalah dan mundur."
Lie Kong cepat-cepat mengerahkan tenaganya ketika dari
sepasang kepalan itu menyambar angin yang amat kuatnya.
Ia membari penghormatan itu dengan merangkap kedua
41
tangan ke dada dan digerakkan ke depan. Dua tenaga
dahsyat saling bertemu dan Lie Kong tergeser sedikit kaki
kirinya, tanda bahwa orang tinggi kurus itu benar-benar
lihai sekali. Hal ini mengejutkan hati Lie Kong. Ia tahu
bahwa tiga orang Pak kek Sam kui lihai, akan tetapi tidak
mungkin seorang saja dari mereka dapat menandinginya.
Akan tetapi karena orang bicara dengan cengli (menurut
aturan), iapun tidak mau banyak cakap. Burungnya tidak
terganggu, mengapa ia harus banyak ribut? Ia mengangguk
kepada isterinya, lalu mengundurkan diri.
Akan tetapi oleh karena hutan itu tempat umum, ia
berani dengan isterinya duduk di bawah pohon agak jauh
dari situ untuk melihat apa yang selanjutnya akan terjadi
antara tiga pasang manusia kembar yang aneh-aneh seperti
siluman itu.
Dua pasang Pak-kek Sam kui selanjutnya tidak
memperdulikan lagi akan hadirnya Lie Kong dan isterinya
dan mereka saling berhadapan, sikapPak-kek Sam kui
pertama menantang dan Pak-kek Sam -kui kedua sikapnya
tenang, sabar membujuk.
"Bagaimana, apakah kalian masih berkeras kepala tidak
mau ikut kami pulang ke utara?” terdengar Ci Kui kedua
bertanya.
Ci Kui pertama menjawab, "Tidak! Kami bebas
melakukan apa saja yang kami sukai dan kalian tak perlu
mencampuri urusan kami!" Agaknya seperti juga Ci Kui
kedua, yang pertama inipun mewakili kawan-kawannya.
"Hemmm, kalian ini benar-benar tak tahu diri. Kami
sebagai saudara-saudara tua masih bersikap sabar sekali.
Kalian patut dilenyapkan dari muka bumi. Kalian secara tak
tahu malu sekali mencemarkan nama saudara tua,
membantu manusia manusia jahat dan pengkhianat
semacam Liok Koug Ji dan Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Di
mana sifat kegagahanmu? Raja besar kami sedang sibuk
memukul ke barat, kalian anak-enak hedak mengikuti Liok
42
Kong Ji yang bersembunyi di Pulau Pek-houw-to (Pulau
Harimau Putih) di laut selatan. Sudah banyak kejahatan
kalian lakukan sebagai kaki tangan Liok Kong Ji sudah
banyak kalian membuat permusuhan dengan orang-orang
gagah di dunia selatan. Dari pada kelak kalian mampus di
tangan orang-orang gagah, lebih baik sekarang kalian roboh
oleb tangan kami sendiri.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXI
MENDENGAR ini, Pak-kek Sam-kui pertama menggereng
marah dan mereka mulai menyerang. Ci Kui pertama
menyerang kakaknya, demikian pula Ang Bouw dan Ang
Louw. Pertempuran hebat terjadi, pertempuran aneh antara
orang-orang kembar yang aneh !
Memang membingungkan sekali melihat pertempuran
antara orang-orang ganjil itu. Sabenarnya, tiga orang yang
biasa disebut Pak-kek sam-kui yaitu yang sekarang menjadi
Pak-kek Sam-kui pertama, adalah adik-adik kembar dari Pak
kek Sam kui ke dua. Mereka adalah tiga pasang orang
kembar dari daerah Mongol yang semenjak kecil menjadi
sahabat.
Kemudian setelah mereka dewasa, mereka terpisah,
merupakan dua kolompok. Yang tua melanjutkan ilmu
mereka, menyembunyikan diri di gunung sedangkan yang
muda. yaitu Pak-kek Sam-kui yang sudah banyak dikenal,
membantu perjuangan Temu Cin atau Jengis Khan. Seperti
telah dituturkan di bagian depan, Pak-kek Sam-kui ini
terpikat oleh Li Kong Ji dan menjadi kaki tangannya.
2
Ketika saudara saudara tua mereka mendengar akan
penyelewengan adik-adiknya ini mereka turun gunung,
membantu Jengis Khan kemudian mereka menuju ke
selatan untuk mencari adik-adik mereka yang mengikuti Li
Kong Ji. Tidak mengherankan apabila kepandaian mereka
lebih tinggi dari pada Pak kek Sam-kui yang sudah dikenal
Lie Kong.
Sekarang dapat menduga pula akan hal itu setelah
mendengar percakapan tadi. Yang menggirangkan hatinya
adalah berita tentang tempat tinggal Liok Kong Ji, akan
tetapi berbareng juga membuatnya tidak mengerti. Ia sedang
berusaha mencari Ui tiok lim tempat tinggal Liok Kong Ji
untuk mencari kembali kitab Omei-san yang dirampas oleh
dua orang gadis Ui-tiok-lim dari tangan Ceng Ceng. Mengapa
sekarang Liok Kong Ji sudah ke Pek-houw-to?
Ketika ia memandang ke arah pertempuran, mudah saja
ia menduga bahwa tak lama lagi Pak kek Sam-kui yang
muda akan kalah. Pertempuran itu memang hebat,
dilakukan dengan tangan kosong saja akan tetapi angin
pukulan mereka membuat batang pohon bergoyang-goyang
dan daun-daun rontok semua seperti ada enam ekor gajah
mengamuk.
Betul saja dugaannya, hampir berbareng tiga orang Pakkek
Sam-kui yang muda terpukul roboh dan pingsan.
Masing-masing mengangkat adik sendiri, memanggulnya dan
tanpa menoleh lalu lari pergi dari situ.
“Sam-bengcu, tunggu!" teriak Lie Kong sambil melompat
mengejar. "Hendak kutanya sedikit, bukankah Liok Kong Ji
berada di Ui tiok-lim ? Mengapa sam-wi tadi mengatakan dia
sudah pindah ke Pek-houw to ?”
Si jangkung gundul yang memanggul tubuh Ci Kui
menengok dan berkata, “Kami juga tadinya menyusul ke Uitiok-
lim, ternyata di sana sudah rusak, dihancurkan oleh
seorang pemuda perkasa bernama Tiang Bu. Sekarang Liok
Kong Ji dan Cun Gi Tosu berada di Pek-houw-to, kedudukan
3
mereka lebih kuat lagi !" Setelah berkata demikian, bersama
kawan-kawannya ia lari cepat sekali, sebentar saja sudah
lenyap dari situ.
Lie Kong menarik napas panjang dan berkata kepada
isterinya, "Benar benar banyak sekali orang pandai di dunia
ini. Baiknya tiga orang saudara tua Pak-kek Sam kui itu
tergolong orang orang baik, kalau mereka jahat seperti adikadiknya,
entag siapa yang dapat menghadapi mereka.
Sekarang kita sudah tahu bahwa Liok Kong Ji berada di Pek
houw to, tentu kitab Pat-sian-jut-bun juga ia bawa ke sana.
Kita menanti kembalinya Ceng Ceng, kemudian kita harus
mengejar ke Pek-houw to."
Suami isteri ini lalu kembali ke perahu mereka di Telaga
Po-yang. Alangkah kaget dan girang hati mereka melihat
Ceng Ceng sudah tiba di situ, kudanya ditambatkan di
pinggir telaga dan gadis itu sendiri duduk melamun di atas
dek perahu.
"Ceng Ceng....... !” ibunya berseru girang.
“Ayah ....... ! Ibu....... !" seru gadis itu, sadar dari
lamunannya.
Setelah bertemu dengan ayah bundanya, Ceng Ceng
mendapatkan kembali kelincahannya dan sebentar saja ia
sudah sibuk manceritakan pengalaman perjalanannya
kepada ayah bundanya. Diceritakannya keindahan alam
yang dilihatnya di Tapie-san, tentang para petani dan
tentang bagaimana ia membantu anak petani menangkap
burung. Akhirnya ia berkata tentang Cui Kong setelah bicara
tentang hal yang sepele-sepele, "Ayah, Aku bertemu dengan
seorang pemuda dan aku....... aku kalah bertanding ilmu
silat olehnya."
"Mengapa kau bertempur dengan orang ?” kontan
ayahnya menegur.
“Dia mengalahkanmu! Waah, tentu dia lihai sekali”. Siapa
pemuda itu ? Agaknya kau kagum padanya," komentar
4
Ibunya. Memang wanita lebih tajam perasaannya dalam hal
ini.
Ceng Ceng sekaligus menjawab pertanyaan ayah dan
ibunya, “Aku salah kira, tadinya ia kusangka pencuri
kudaku, tidak tahunya dia malah yang merampas kembali
kudaku dari tangan pencuri. Dengan singkat dia
menceritakan pengalamannya tentang kuda yang dicuri
orang pada malam hari, lalu tentang pertemuannya dengan
Cui Kong.
"Kami bertempur, mula-mula dengan senjata lalu
bertangan kosong. Akan tetapi dua kali aku kalah. Dia she
Kwee seorang yatim piatu. .....”
“Eh. eh. alangkah tak patutnya kau sampai berkenalan
dengan orang asing !” tegur Lie Kong.
“Habis dia memperkenalkan diri, masa aku harus
menutupi kedua telingaku," bantah Ceng Ceng manja. "Dia
...... dia bilang mau datang ke sini...... mau berjumpa dengan
ayah ibu.....” Sampai di sini muka gadis itu menjadi merah
sekali dan ia berlari memasuki kamarnya sambil berkata,
“Ayah, aku lelah sekali hendak mengaso."
Lie Kong saling pandang dengan isterinya, lalu keduanya
mengangguk-angguk maklum. "Bagaimanapun juga, kita
harus berlaku hati-hali dalam memilih calon jodohnya," kata
Lie Kong dan untuk ini isterinya setuju.
Pada keesokan harinya, Cui Kong sudah tiba di tepi
Telaga Po-yang karena ia telah melakukan perjalanan cepat
sekali. Banyak terdapat perahu-perahu besar di telaga yang
luas itu. Akan tetapi tidak sukar untuk mencari perahu yang
dimaksudkan oleh Ceng Ceng. Dari tepi pantai ia sudah
melihat dua ekor burung, yang seekor hinggap di atap
perahu, yang seekor lagi beterbangan di atap perahu,
berputaran. Burung-burung yang indah dan besar.
Berdebar hati Cui Kong. Ia sudah mendengar nama besar
Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, yang berilmu tinggi, juga
5
kabarnya Lie adalah seorang pendekar wanita yang lihai. Ia
tahu pula bahwa ayahnya tidak cocok dengan suami isteri
pendekar ini dan bahwa dahulu ketika beramai-ramai
menyerbu ke Omei-san suami isteri inipun mendapatkan
sebuah kitab yang akhirnya terjatuh ke tangan ayah
angkatnya. Ia harus berlaku hati-hati dan pandai beraksi.
Disewanya sebuah perahu kecil dan didayungnya perahu
itu ke tengah telaga, mehampiri perahu cat putih yang
kelihatannya tidak ada penghuninya. Akan tetapi setelah
perahu kecilnya mendekati perahu besar cat putih itu, tibatiba
terdengar suara bersuit dan burung pek thouw tiauw
yang yadinya enak enak melengut di atas atap perahu
mengulur kepala dan memandang ke arah perahu kecil
kemudian ia terbang menyambar menyerang Cui Kong
dengan ganasnya!
Cui Kong adalah seorang cerdik. ia dapat menduga
bahwa perbuatan burung ini tentu ada yang mengaturnya.
Kalau burung itu memang liar dan menyerang semua orang
asing, sudah tentu telaga itu takkan aman. Setiap orang
tentu akan diserang burung ini dan sebentar saja telaga itu
akan kosong ditinggal pergi para pengunjung. Jadi jelas
bahwa burung ini tentu ada yang memerintah maka
menyerangnya. Dan justeru dia yang diserang! Pasti orang
yang menyuruhnya itu hendak nenguji sepandaiannya. Dia
tadi sudah mendengar suitan nyaring sebagai tanda, Ceng
Cengkah gerangan yang menyuruh burung itu
menyerangnya ? Tak mungkin.
Gadis itu "ada hati" kepadanya, tak mungkin hendak
mencelakainya dan untuk coba-coba, gedis itu sudah cukup
tahu akan kepandaiannya. Tak bisa salah lagi, pikirnya,
tentu pemilik burung itu, Pek-thouw-tiauw-ong sendiri atau
isterinya yang menyuruh burung rajawali ini menyerangnya.
Dan ini-pun tidak mungkin kalau tidak ada sebabnya. Pekthouw.
tiauw-ong dan isterinya belum mengenalnya,
mengapa turun tangen ? Jawaban satu satunya, cukup
6
mudah, tentu Ceng Ceng sudah menceritakan hal dirinya
kepada ayah bundanya dan sekarang begitu tiba ia diuji oleh
ayah gadis itu yang ingin melihat sendiri sampai di mana
kelihaian pemuda yang dibicarakan oleh anaknya !
Cui Kong memikirkan ini semua sambil mengelak. Sedikit
saja miringkan tubuh patukan dan cakaran burung itu
mengenai tempat kosong. Lewatnya tubuh burung besar itu
membawa angin yang cukup santer, membuat ikat kepala
Cui Kong berkibar-kibar.
Memang dugaan Cui Kong tepat sekali. Da balik dinding
balik perahu, Lie Kong, isterinya dan Ceng Ceng mengintai
ke luar dan tad Lie Kong yang memberi aba-aba kepada
burung rajawalinya untuk "mencoba” kepandaia pemuda
yang ditunjuk oleh puterinya. Melihat betapa mudahnya Cui
Kong menghindarkan sambaran burungnya, kembali Lie
Kong bersuit lebih keras. Sekarang tidak saja burung betina
yang tadi menyerang pula, bahkan burung jantan yang
beterbangan di atas ikut pula menyambar dan mengepung
Cui Kong.
Cui Kong terkejut. Ia maklum bahwa burung itu kuat
bukan main dan sekali kena disamhar, buarpun ia depat
mengebalkan diri dan tidak terluka, akan tetapi ada
bahayanya, ia akan terlempar dari perahu dan jatuh ke
dalam air telagu ! Tentu saja dengan pukulan tin-san-kang
ia dapat memukul mampus dua burung itu, akan tetapi
inipun tidak baik. Kalau ia membikin mati burung-burung
kesayangan orang tua Ceng Ceng. bukankah berarti ia akan
mengecewakan dan membikin marah Pek.thouw tiauw ong
Lie Kong? Kalau terjadi demikian, mana ada harapan
baginya untuk meminang gadis itu ?
Pada saat yang kritis ini, Cui Kong mendapt pikiran baik.
Perahu itu adalah perahu nelayan dan di pojok perahu
terdapat sebuah jala ikao. Cepat ia menyambar jala itu dan
begitu dua ekor burung menyambar dekat, ia menggetakkan
jala ikan ke atas memapaki. Jala itu milik seorang nelayan
7
miskin, sudah robes-robek dan butut. Alan tetapi di dalam
tangan Cui Kong yang memiliki lweekang tinggi, jala itu
rupakan senjata hebat. Sekali lempar saja ia telah berhasil
menangkap dua ekor burung itu ia dalam jala. Cepat ia
memutar-mutar jala itu sehingga tubuh dan kaki dua pekthouw-
tiauw itu tergubat sama sekali. Dua ekor burung itu
meronta kuat, namun Cui Kong lebih kuat lagi. Dengan
tenang Cui Kong lalu menggenjot tubuhnya dan melompat ke
atas dek, jala terbuka dan dua ekor burung tadi terbang
tinggi sambil berteriakteriak
ketakutan !
Lie Kong dan isterinya
kagum sekali. Kini
mereka percaya bahwa
pemuda ini memiliki
kepandaian yang lebih
tinggi dari pada Ceng
Ceng. Cara yang
dipergunakan untuk
menghadapi dua ekor
burung pek thouw-tiauw
tadi saja sekaligus telah
membuktikan adanya
kecerdikan, kegesitan dan
tenaga lweekang yang
mengagumkan.
Muncullah Lie Kong
den Souw Cui Eng dari
dalam bilik perahu,
diikuti oleh Ceng Ceng
yang menundukkan muka kemalu-maluan dan mengerling
dengan ekor matanya ke arah Cui Kong.
Pemuda itu cepat-cepat menjatuhkan berlutut di depan
Pek thouw-tiauw ong Lie Kong dan isterinya sambil berkata,
"Mohon locianpwe yang budiman sudi memaafkan boanpwe
8
yang berlaku lancang. Tanpa diundang boanpwe Kwee Cui
Kong berani lancang naik ke perabu locianpwe, tidak lain
oleh karena di tengah jalan boanpwe mendapat kehormatan
bertemu dengan puteri locianpwe yang terhormat. Boanpwe
sudah berjanji hendak datang ke sini menghadap locianpwe
berdua."
Sow Cui Eng berseri girang melihat sikap yang amat
sopan santun dan merendah dari pemuda ini. Benar-benar
seorang pemuda yang pandai membawa diri, tepat sekali
menjadi mantuku, pikirnya. Akan telapi Lie Kong
mengerutkan alisnya. Hatinya tak senang melihat sikap
berlebih-lebihan dan agak menjilat dari pemuda ini. Bukan
sikap seorang gagah, pikirnya. Akan tetapi oleh karena orang
sudah berlutut, tidak baik kalau tidak disambut. Ia lalu
membungkuk dan berkata. "Orang muda, jangan terlalu
sungkan, bangunlah." Dipegangnya kedua pundak Cui Kong
untuk ditarik baneun tambil dikerahkan sedikit tenaganya.
Merasa betapa dua tangan itu mengenai pundaknya
seperti bukit karang menindihnya, Cui Kong cepat-cepat
mengerahkan lweekangnya menahan sehingga Lie Kong
memegang pundak yang lunak seperti tidak bertulang. Pekthouw-
tiauw-ong mengangpuk-angguk. Diam-diam ia agak
terkejut karena dari sentuhan ini ia dapat menaksir babwa
tenaga lweekang pemuda ini sudah hampir mengimbanginya.
"Bangunlah, aku sudab tahu akan kepandaianma yang
tinggi.”
Setelah Cui Kong bangkit berdiri, kembali Lie Kong
mengerutkan keningnya. Sepasang mata pemuda ini benarbenar
tidak menyenagkan perasaan batinya. Mata yang
tajam liar, mengsndung sesuatu yang mangerikan seperti
bukan mata manusia. Mata Iblis! Sabaliknya, Souw Cui Eng
memandang kagum kepada pemuda ini. Dia juga tahu
betapa suaminya telah mencoba tenaga pemuda yang
agaknya menjadi pilihan hati puterinya.
9
"Sekarang katakan apa kehendakmu mengunjungi kami,"
tanya Lie Kong, suaranya dingin dan tenang. Hati Cui Kong
berdebar. Suara ini nadanya tidak memberi banyak harapan,
akan tetapi ia dapat menenteramkan hatinya, menarik napas
panjang lalu berkata,
"Maafkan, boanseng yang berani mati menghadap
locianpwe mengandung maksud hati. Bososeng sudah
bertemu dengan puteri locianpwe, tak disengaja mencoba
kepandaian dan boanseng menganggap di dunia ini tidak
ada gadis yang lebih sampurna dari pada puteri loeianpwe.
Oleh karena itu, melupakan kerendahan diri sendiri,
bounseng datang untuk mohon tangan puteri locianpwe.......

"Hemm, orang muda berani mati! Mana ada aturan orang
meminang sendiri?” bentak Lie Kong.
“Boanpwe seorang yatim piatu, hidup sebatangkara di
atas.dunia tiada sanak kadang. siapa yang sudi menjadi wali
boanpwe?”
“Menilik gerakanmu tadi, kau seorang ahli waris
kepandaian dari utara, siapa -gurumu dan mengapa gurumu
tidak mewakilimu mengajukan pinangan?"
Cui Kong terkejut. Alangkah tajam pemandangan
pendekar ini. Ketika ia mainkan dua ekor pek thouw tiauw
tadi, ternyata pendekar ini sudah dapat melihatnya bahwa ia
mewarisi ilmu silat utara.
“Memang sesungguhnya boanpwe adalah murid seorang
tosu perantau di perbatasan utara dan sekarang suhu telah
meninggal dunia. Oleh karena tidak mempunyai wali lain,
terpnaksa boanpwe memberanikan diri menghadap
locianpwe,” jawabnya sedih sekali. Ia dapat mengatur
suaranya demikian berduka sehingga Ceng Ceng dan ibunya
merasa terharu.
Akan tetapi Lie Kong memandang tajam penuh selidik ke
arah pemuda di depannya itu, kemudian ia berkata,
10
suaranya tetap tenang akan tetapi dingin dan berpengaruh,
“Orang muda, tidak gampang mendapatkan tangan puteri
tunggal kami secara begitu saja. Kepandaianmu memang
memenuhi syarat, cukup tinggi. Akan tetapi kepandaian
tidak akan ada artinya kalau orang tidak dapat
mempergunakannya untuk maksud baik. Sekarang
dangarlah syarat kami. Kami telah kehilangan sebuah kitab
pelajaran ilmu Silat Pat-siat-jut bun. Kitab itu dicuri oleh
dua orang perempuan jahat dari Ui-tiok-lim, sarang penjahat
iblis Liok Kong Ji. Kalau kau bisa merampas kembali kitab
itu dan memberikannya kepada kami, nah, permintaanmu
akan dapat kami pertimbangkan."
Mendengar ini, berseri wajah Cui Kong. Kalau hanya itu
syaratnya, apa sih sukarnya? Kitab pelajaran Pat sian-jutbun
telah berada di tangan ayahnya, dan bukan hal yang
sukar baginya untuk mencurinya,
“Baiklah, locianpwe. Boanpwe sanggup dan paling lama
dalam waktu satu bulan kitab itu pasti akan boanpwe
haturkan di depan locianpwe. Selamat tinggal, boanpwe
bermohon diri.” Setelah berkata demikian, Cui Kong
memberi hormat kepada Lie Kong suami isteri, mengerling
diiringi senyum manis kepada Ceng Ceng, kemudian dengan
sigapnya ia meloncat ke atas perahu kecilnya yang masih
tarapung-apung tak jauh dari situ. Ini saja sudah
membuktikan kelihaiannya. Perahu kecilnya terpisah empat
tombak lebih dan meloncat ke atas perahu kecil ringan yang
bergoyang-goyang. Itu merupakan kepandaian ginkang yang
tinggi.
Karena terlampau girang mendengar syarat yang amat
mudah baginya itu, Cui Kong berlaku kurang hati-hati. Ia
tidak tahu betapa Lie Kong makin menaruh curiga
kepadanya. Permintaan Lie Kong ini sebetulnya sama sekali
tak boleb dibilang ringan. Bagi orang lain, merampas
kembali kitab dari tangan Lie Kong Ji di Ui-tiok-lim, bukan
hal semudah itu. Akan tetapi pemuda ini bahkan dengan
11
muka berseri berani memastikan akan berhasil dalam satu
bulan.
Hal ini sudah merupakan jawaban yang amat
mencurigakan Pertama, kalau pemuda itu tidak pasti akan
berhasil, tak mungkin dia begitu bergembira. Ke dua. Ulan
dia berani memastikan dapat berhasil dalam satu bulan, itu
berarti bahwa pemuda ini sudah tahu akan kepindahan Liok
Kong Ji ke laut selatan. Karena, andaikata mencari kitab itu
ke Ui-tiok-lim, perjalanan pulang pergi saja ke Ui tiok-lim
akan mamakan waktu berbulan-bulan !
“Pemuda itu mencurigakan sekali,” kata pendekar yang
cerdik dan waspada ini, "siapa tahu kalau-kalau dia itu
mempunyai hubungan dengan penjahat iblis Liok Kong Ji."
"Akan tetapi sikapnya demikian sopan santun juga
kepandaiannya demikian tinggi,” bantah isterinya.
“Kau tabu apa?” kata Lie Kong mencela. "Dahulu di
waktu mudanya Liok Kong Ji si Iblis juga seorang pemuda
sopan dan berkepandaian tinggi.”
"Ayah menurut pendapatku. dia bukan orang jahat
Buktinya dia telah merampaskan kembali kudaku dari
tangan pencuri sela Ceng Ceng berani.
“Hem hem, apa kau melihat sendiri ? Betul dia berkata
demikian, akan tetapi kau tidak melihat sendiri ia bettempur
melawan pencuri kuda.”
“Kau memang terlalu curiga,” mencela Souw Cui Eng
kepada suaminya.
"Kita lihat saja. Mudah-mudahan kecurigaanku keliru."
-oo(mch)oo-
Apa yang didengar oleh Pek-thouw- tiauw-ong Lie Kong
dari percakapan Pek-kek Sam-kwi tentang Liok Kong Ji
memang betul. Orang yang licin sekali itu setelah terlepas
12
dari tangan Tiang Bu dapat menyelamatkan diri dan pindah
ke selatan. Ia merasa tidak aman. Tadinya hanya Wan Sin
Hong seorang yang ia takuti. Malah belakangan ini ia tidak
begitu jerih lagi terhadap Sin Hong setelah ia tinggal di Ui
tiok-lim dan selain kepandaiannya sendiri sudah banyak
maju, juga ia dilindungi oleh lima orang saudara angkatnya.
Akan tetapi, sungguh tidak nyana sekali lima orang
pembantunya itu tewas semua oleh Tiang Bu puteranya
sendiri, putera keturunannya yang hanya satu-satunya.
Malah ia sendiri hanya dengan kecerdikannya saja dapat
meloloskan diri. Sekarang merasa makin tidak aman lagi,
tahu bahwa Tiang Bu takkan mau berhenti mencarinya
untuk membalas dendam, untuk membunuhnya. Kalau
Kong Ji teringat betapa putera keturunannya sendiri hendak
membunuhnya, mau tak man hatinya menjadi perih sekali.
Ia takut melawan Tiang Bu, maklum bahwa kesaktian
pemuda itu sekarang bahkan jauh melebihi kepandaian Sin
Hong atau kepandaian tokoh yang manapun juga yang
pernah ia ketahui.
Kemudian ia teringat kepada Lo-thian tung Cun Gi Tosu,
kakek buntung yang amat lihai. Hanya kakek buntung ini
yang akan dapat membantunya. Dan kebetulan sekali, kakek
itu sekarang sudah pindah ke selatan, tempat yang amat
terpencil, di sebuah pulau kosong yang disebut Pek houw-to
(Pulau Macan putih), Andaikata kakek itu masih berada di
utara masih ada bahaya lain. Di utara adalah tempat
pasukan-pasukan Mongol, ia tahu bahwa diam-diam Jengis
Khan tidak suka kepadanya. Raja besar itu memberi hadiah
kepadanya karena memang tadinya ia membantu, akan
tetapi setelah ia mengundurkan diri tidak mau membantu
penyerbuan orang Mongol ke barat, Jengis Khan menjadi
curiga dan tentu akan mencelakainya.
Demikian, Liok Kong Ji lalu pergi menyusul Cun Gi Tosu
ke Pulau Pek-houw to. Ia diterima baik oleh kawannya ini
yang maklum bahwa kedatangan Kong Ji berarti memperkut
13
kedudukannya. Kong Ji diam-diam lalu mendatangkan selirselirnya
yang ia sayang, lima orang jumlahnya dan sebentar
saja pulau kosong itu berubah menjadi ramai dan indah,
berkat pembiayaan Kong Ji yang masih mempunyai harta
simpanan. Hanya Cui Kong yang tidak betah tinggat lamalama
di pulau itu dan pemuda ini sering kali pergi merantau
ke luar pulau.
Di atas pulau ini, Liok King Ji memperdalam ilmu
silatnya. Dengan tekun ia mempelari kitab-kitab dari Omeisan
yang terjatuh ke dalam tangannya. Dia sendiri
mendapatkan kitab Swat lian-kiam-coan-si yang sudah
dilatih dengan baik, kemudian kitab silay Pat-sian-jut-bun
yang didapatkan oteh Cui Lin din Cui Kim juga telah
dipelajari sampai hafal benar. Akhirnya ia membuka-buka
kitab Delapan Jalan Utama yang ia ambil dari mayat Toatbeng
Kui bo. Tadinya Cun Gi Tosu yang mempelajari kitab
ini, akan tetapi tosu ini terlalu bodoh sehingga mengira
bahwa kitab ini hanya kitab pelajaran Buddha biasa saja.
Akan tetapi begitu Kong Ji melihatnya dengan girang ia
dapat memecahkan rahasia kitab itu. Sama sekali bukan
hanya sekedar pelajaran kebatinan dari Agama Buddha,
melainkan pelajaran ilmu silat yang amat hebat. Akan tetapi
di samping kehebatannya, juga sukarnya bukan main
sehingga payah Kong Ji mempelajarinya. Isi kitab ini
mengandung delapan sari pelajaran lweekang dan penyatur
hawa dalam tubuh, setiap pelajaran mempunyai pecahan -
pecahan yang amat banyak.
Setiap huruf mengandung pelajaran tinggi dan Kong Ji
bukanlah seorang ahli dalam ilmu sastera, maka dapat
dibayangkan betapa ia memeras otaknya dan dalam waktu
setengah tahun ia baru dapat memetik buahnya dua saja di
antara delapan mata pelajaran itu. Sungguhpun begitu, yang
dua ini sudah mendatangkan kepandaian yang mujijat,
tenaga lweekangnyat meningkat tinggi dan sinkang (bawa
sakti) di dalam tubuh dapat ia salurkan sampai ke ujung
14
pedang. Semua ini ia latih secara diam-diam. Cun Gi Tosu
sendiri sampai tidak mengetahuinya.
Demikianlah, sekali lagi Kong Ji mengalami hidup
tenteram dan aman. Ia pikir, tak mungkin Sin Hong atau
Tiang Bu dapat mencarinya. Andaikata mereka dapat
mencarinya, ia juga tidak takut. Selain di sampingnya ada
Cui Kong dan Cui Gi Tosu yang lihai, juga dia sendiri
sanggup menghadapi mereka. Ia malah ingin sekali mencoba
kepandaian barunya dengan Sin Hong atau Tiang Bu.
Sementara itu, Wan Leng. puteri Sin Hong yang diculik
oleh Cun Gi Tosu juga hidup di Pulau Pek Houw-to, ia
dirawat oleh para selir Liok Kong Ji yang rata-rata sayang
kepada bocah mungil ini. Juga Cun Gi Tosu kelihatan
sayang kepada calon muridnya.
Kita ikuti perjalanan Pendekar Sakti Wan Sin Hong yang
mencari jejak Can Gi Tosu, penculik puterinya. Seperti telah
dituturkan di bagian depan, setelah mengurus pernikahan
antara Wan Sun dan Coa Lee Goat. Wan Sin Hong lalu
meninggalkan Kim bun-to untuk pergi mencari puterinya
yang diculik oleh Lethian-tung Cun Gi Tosu. Ia sudah
mendengar bahwa bala tentara Mongol kini menghentikan
serangannya ke selatan dan mengalihkan perahatiannya ke
barat.
Dan ia tahu bahwa musuh besarnya itu ialah pembantu
orang Mongol, di samping Liok Kong Ji. Oleh karena itu,
walaupun perjalanan ke utara amat berbahaya dan tidak
sembarang orang berani ke sana, Sin Hong melupakan
bahaya, merantau ke utara lewat perbatasan Tiongkok utara
untuk mencari jejak musuh besar yang melarikan puterinya
itu.
Tepat sekali keputusan yang diambil Sin Hong untuk
melakukan perantauan seorang diri tampa membawa
isterinya, karena perjalanan yang ditempuhnya ini memang
amat berbahaya. Sungguhpun isterinya juga gagah perkasa
dan jarang ada orang yang mampu menandinginya, namun
15
memasuki wilayah Mongol yang rakyatnya sedang bergolak
itu, apa lagi menghadapi Cun Gi Tosu dan Liok Kong Ji,
benar-benar merupakan hal yang amat berbahaya. Baru saja
memasuki wilayah Mongol, selagi enak berjalan di dalam
hutan belukar, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar belasan
batang anak panah yang cepat sekali datangnya!
Baiknya Sin Hong bukan pendekar basa saja, melainkan
seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi dan
kewaspadaan yang mengagumkan. Begitu mendengar
bersiutnya anak panah dan melihat sinar berkelebat dari
kanan kiri, cepat ia telah menggerakkan kedua tangannya ke
kanan kiri dan ujung lengan bajunya dengan tepat mengibas
runtuh belasan anak panah itu.
Melihat bentuknya anak panah yang bergerak lalu,
tahulah Sin Hong bahwa dia dikepung orang Mongol.
Memang anak panah Mongol amat terkenal dan di dalam
perang di selatan yang lalu, tentara Tiong-goan kewalahan
menghadapi serangan anak panah ya amat kuat dan laju ini.
Benar saja dugaannya tempat yang tadinya sunyi itu tibatiba
menjadi ramai dengan munculnya dua puluh orang
Mongol dan terdengar suara kuda meringkik. Heran hati Sin
Hong bagaimana kuda dapat dilatih sampai berdiam diri
tanpa mengeluarkan suara apa-apa dalam pemasangan bai
hok (barisan pendam) itu.
Sambil berteriak-teriak menyeramkan, dua puluh orang
Mongol seorang di antaranya berpakaian sebagai perwira,
menerjang dan mengeroyoknya tanpa bertanya lagi. Ini tidak
aneh karena dalam masa seperti itu, kedatangan seorang
berpakaian seperti orang Han tentu dianggap musuh atau
mata-mata. Senjata senjata bermacam macam, ada pedang,
golok dan tombak. Bagaikan hujan sekalian sanjata itu
menyambar ke arah tubuh Wan Sin Hong dan kalau
semuanya mengenai tubuh, tentu tubuh itu akan menjadi
hancur.
16
Sin Hong tidak sudi hanyak bersoal jawab. Walaupun dia
tidak perdulikan urusan negara dan perang, akan tetapi
orang-orang Mongol sudah banyak merampok, membunuh
dan membakari rumah rakyat, dengan demikian mereka
menjadi juga musuhnya. Tampak sinar menyilaukan mata
berkelebatan ke sana kemari, disusul jerit dan keluh
kesakitan. Sebentar saja sembilan belas orang serdadu
Mongol telah bergeletakan mandi darah di atas tanah dan
perwira tadipun sudah kehilangan pedangnya dan sekali
totok perwira itu menjadi lemas.
Sin Hong sengaja tidak mau membunuh perwira itu.
"Katakan di mana adanya thian-tung Cun Gi Tosu dan Liok
Kong Ji.” Sin Hong mengancam dengan ujung pedangnya.
Semua perwira Mongol mempunyai ke gagajan yang luar
biasa. Mereka itu rata-rata tidak takut mati dan melakukan
perjuangan sampai titik darah penghabisan. Inilah sebuah di
antara rahasia kekuatan balatentara Mongol, setia dan
berdisiplin. Demikian pula perwira yang sudah terjatuh ke
dalam tangan Wan Sin Hong ini. Dia sudah tertotok dan
tubuhnya tak dapat bergerak pula. Akan tetapi ia masih
dapat bicara dan mendengar pertanyaan serta ancaman
musuhnya ini, ia tertawa besar.
"Aku seorang perajurit sejati, sudah terjatuh ke dalam
tangan musuh, mau bunuh mau siksa, silahkan. Kaukira
aku takut mati?” jawabnya gagah.
Diam-diam Sin Hong kagum sekali. Tadi pun ketika ia
mengamuk, tak seorangpun antara para perajurit Mongol itu
kelakutan atau melarikan diri, sungguhpun kawan-kawan
mereka roboh seorang demi seorang oleh pedang pendekar
sakti itu. Kalau saja bala tentara Kin demikian setia dan
gagah berani tidak nanti Kerajaan Kin demikian mudah
dibikin kocar kacir oleh Jangis Khan, pikir Sin Hong.
"Kau benar-benar seorang tai-tiang-bu (seorang gagah
setia) tulen. Aku suka benar akan orang yang berhati jujur
dan setia. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku datang ke utara
17
ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang,
melainkan untuk urusan pribadi. Salahmu sendiri kau
datang-datang menyerangku dengan anak buahmu sehingga
terpaksa aku harus membela diri. Juga sedikitnya
merupakan hukuman akan perbuatan terkutuk anak
buahmu ketika menyerbu ke selatan. Aku menanyakan dua
orang itu, terutama Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, adalah
karena urusan pribadi.
Kau sdalnh pecundangku dan sudah menjadi hak yang
menang untuk mengambil nyawa yang kalah. Akan tetapi
melihat kesetiaan dan kegagahanmu, aku mau menukar
nyawamu dengan keterangan di mana adanya dua orang itu,
atau terutama sekali Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Agar kau
tidak ragu-ragu, baik kau ketahui bahwa aku sedang
mencarinya untuk merampas kembali puteriku yang ia
culik.” Sin Hong yang sudah banyak pengalaman dan amat
cerdik itu tahu bahwa berhadapan dengan orang yang jujur
dan setia seperti ini, lebih baik ia berterus terang.
"Mata-mata selatan memang pandai menipu dan
membohong," jawab Perwira Mongol itu berkeras.
"Aku bukan mata-mata. Kalau aku mata-mata masa aku
memasuki wilayah Mongol secara berterang begini?” Wan Sin
Hong menjawab sabar.
"Bagaimana aku bisa yakin sebelum tahu betul siapa kau
? Siapa namamu ?"
Wan Sin Hong mulai jengkel. Dia menang dia yang
menawan, akan tetapi sebaliknya dia malah "diperiksa" oleh
tawanannya ini. Akan tetapi karena membutuhkaa
keterangan di mana adanya musuh besarnya, ia menahan
sabar dan menjawab,
"Namaku Wan Sin Hong”
Perwira itu membelalakkan matanya. "Kau ....... Wan Sin
Hong yang disebut Wan-bengcu ? Raja besar kami sering kali
menyebut-nyebut namamu sebagai seorang pendekar besar
18
yang sakti, bukan pembela kerajaan selatan akan tetapi
sayang tidak mau membantu pergerakan kami yang suci.
Pantas saja aku dan sembilan belas orangku kalah ! Ah, jadi
kau Wan-bangcu....... ?"
“Apa kau sekarang mau menolongku ?”
"Tentu saja! Manusia-manusia macam Cun Gi Tosu dan
Liok Kong Ji itu mana ada harga kulindungi namanya !”
Sin Hong cepat membuka totokannya, membebaskan
kembali orang itu.
"Nah, ceritakanlah di mana mereka."
"Mereka tidak membantu kami lagi. Malah mereka itu
diancam oleh raja besar kami karena mereka mengingkari
janji, tidak mau membantu penyerbuan ke barat. Kalau kami
mendapat kesempatan menyerbu ke wilayah selatan lagi,
manusia-manusia macam itu pasti akan kami binasakan !
Menurut keterangan para penyelidik kami, Liok Kong Ji
sekarang bersembunyi di Ui-tiok-lim di lembah Sungai Luanho
di luar tembok Kota Raja Kin, sedangkan Cun Gi Tosu
katanya melarikan diri ke selatan dan kabarnya tinggal di
sebuah pulau kosong di laut selatan, namanya Pulau
Harimau Putih.
Wan Sin Hong percaya penuh. Keterangan seorang setia
seperti ini tak mungkin bohong. Ia mengangguk-angguk lalu
berkata, "Terima kasih aku harus kembali ke selatan.”
Perwira itu memandang kepadanya dengan mulut
celangap, “Kau ..... kau membebaskan aku ? Tidak
membunuhku ?”
"Mengapa harus kubunub ? Kita tidak bermusuhan."
"Akan tetapi ..... kalau aku menjadi engkau, setiap orang
musuhku tentu akan kubunuh. Negara kita kan sedang
saling berperang.” Saking jujurnya perwira itu malah
menyatakan keheranannya mengapa ia tidak dibunuh !
19
Sin Hong tersenyum. Ia memang kagum sekali kepada
orang ini, maka ia suka membuang waktu untuk memberi
sedikit kuliah, "Perang adalah perjuangan bunuh
membunuh di antara sesama manusia yang sama sekali
tidak punya urusan pribadi, bahkan saling tidak mengenal!
Memang seorang perajurit harus membunuh musuhnya
selagi negara dalam perang bukan sekali-kali membunuh
karena rasa benci perseorangan, melainkan membunuh agar
jangan dibunuh dan membunuh untuk memenuhi kewajiban
sebagai perajurit terhadap negara. Memang perjuangan
dalam perang untuk membela nusa bangsa adalah tugas
suci setiap orang gagah."
"Akan tetapi sekali saja kau membunuh tentara lawan
dengan hati mengandung kebencian pribadi, maka sifat
membunuh itu menjadi keji dan hina ! Kau boleh
membunuh seribu orang tentara lawan tanpa
memperdulikan siapa lawan itu, tanpa rasa benci kepada
orangnya, dengan pegangan bahwa dia itu musuh negara
dan harus dibunuh. Akan tetapi, sekali-kali kau tidak boleh
membunuh dengan rasa benci perseorangan.
Kalau aku membunuhmu, apa alasanku? Aku tidak ada
parmusuhan dengan kau, juga aku bukan tentara lawanmu.
Kalau tadi aku membunuh anak buahmu adalah karena aku
dikeroyok dan aku diserang lebih dulu sehingga aku harus
membela diri. Dengan kau lain lagi, kau seorang gagah dan
setia, kau telah memberi keterangan penting kepadaku, Nah,
selamat tinggal.”
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Sin Hong
sudah lenyap dari depan mata perwira itu yang mula-mula
melongo, kemudian ia berjingkrak seperti orang kemasukan
setan.
“Ha ha. Aku sudah bertemu dengan Wan Sin Hong ! Aku
mengalami hal luar biasa yang dapat kudongengkan kepada
anak cucuku ! Baru kali ini aku mengalami kekalahan
terhormat dari orang besar seperti Wan-bengcu!” Orang itu
20
tertawa-tawa kemudian lari ke utara untuk mencari kawankawan
guna merawat para korban pedang Wan Sin Hong.
Wan Sin Hong memutar perjalanannya sembilan puluh
derajat. Ia kini memutar ke selatan. Ada keinginan hatinya
untuk mencari Liok Kong Ji di Ui-tiok-lim. untuk membuat
perhitungan terakhir dengan musuh lama ini. Akan tetapi ia
menekan keinginan ini karena perhatiannya tercurah kepada
puterinya.
la harus mencari dan menolong dulu puterinya, baru
kelak membereskan perhitungan dangan Kong Ji. Oleh
karena itu ia tidak mencari ke Ui-tiok-lim, melainkan terus
melakukan perjalanan ke selatan yang luar biasa jauhnya.
Di dalam perjalanan ini, Wan Sin Hong teringat akan
perjalanannya, ketika ia mencari Tiang Bu yang terculik oleh
Hui-eng Niocu yang sekarang sudah menjadi isterinya.
Kalau saja ia lebih dulu pergi ke Ui-tiok- lim, ada
kemunngkinan ia akan menjadi saksi betapa Tiang Bu
mengobrak-abrik tempat persembunyian Liok Kong Ji ini.
Dalam melaksanakan perjalanan ke selatan, Wan Sin Hong
menuju ke barat lebih dulu sampai ia bertemu dengan
Sungai Huang-ho, kemudian ia nyambung perjalanannya
dengan sebuah perahu setelah lebih dulu ia singgah di
Luliang san untuk mengunjungi makam suhunya.
Perjalanan dengan perahu amat cepat karena selain perahu
dibawa aliran sungai, juga Sin Hong menambah dengan
dayungnya yang digerakkan dengan tenaga.
Terjadi pertemuan dan peristiwa yang menarik hati ketika
ia tiba di dekat kota Lok yang, di mana air Sungai Huang-ho
dari utara itu membelok ke timur. Memang Sin Hong hendak
mendarat dan melanjutkan perjalanan darat lagi terus ke
selatan. Akan tetapi sebelum ia mendarat, ketika perahunya
tiba di daerah berhutan yang liar, tiba-tiba di depannya
menghadang lima buah perahu kecil yang diatur berjajar,
sengaja menghalangi perahunya.
21
Dari pengalamannya. Wan Sin Hong tahu bahwa
penghadangnya tentulah golongan bajak. Akan tetapi ia
tidak menjadi gentar. Empat buah perahu masing-masing
hanya ditumpangi dua orang berpakaian hitam yang
memegang golok, sedangkan perahu ke lima diduduki tiga
orang, yaitu seorang kakek, seorang pemuda tampan dan
seorang gadis cantik. Tiga orang ini lebih menarik perhatian
Sin Hong karena mereka memperlihatkan sifat-sifat gagah.
Selagi Sin Hong hendak menegur mengapa ia dihadang, tiba
tiba ia mendengar suara khim (alat musik) ditabuh oleh
pemuda itu dan si gadis cantik bernyanyi, sedangkan kakek
itu mengambil irama dengan ketokan dayungnya pada air,
Sin Hong memasang telinga memperhatikan isi nyanyian.
"Serigala utara pergi menghilang
Datang banjir dan belalang
Tinggalkan uang dan barang
Baru perahu takkan terhalang !
Hati siapa takkan risau?
Siapa pula akan hirau?
Membuka yangan membantu petani,
Kalau bukan bangsa sendiri.
Suara gadis itu halus dan merdu, akan tetapi
mengandung kekuatan dapat menembus angin dan
mencapai telinga Sin Hong, demikian pula permainan khim.
Ini semua selain merupakan pernyataan “minta barang dan
uang", juga merupakan demonstrast lweekang yang tinggi
dari pemuda dan gadis itu. Akan tetapi, sudah tentu saja
demonstrasi pemuda dan gadis itu merupakan permainan
biasa bagi Sin Hong. Yang amat menarik perhatian Sin Hong
adalah kakek yans memukul-mukulkan dayungnya ke air
untuk menerbitkan suara berirama.
Dayung itu dipukul-pukulkan biasa saja akan tetapi
perahu sedikitpun tidak bergoyang dan air sedikitpun tidak
22
memercik ke atas. Nainun, setiap kali dayung mengenai air
terdengar bunyi “plak" yang keras dan air tertekan ke dalam
sedangkan di sekitarnya menaik ke atas ! demonstrasi
tenaga lwrekang yang benar-benar tak boleh dipandang
ringan. Melihat betapa tiga orang itu mendemonstrasikan
kepandaian, timbul sifat gembira dalam hati Wan Sin Hong.
Iapun berdiri di kepala perahunya, dayungnya digerakgerakkan
perlahan menahan majunya perahu dan ia
bersajak.
"Serigala suara pergi menghilang
Datang banjir dan belalang.
Memang merisaukan hati kawan !
Sudah barang tentu bangsa sendiri membantu,
Akan tetapi membajak, apakah itu perlu?
Apa lagi yang dihadapi adalah seorang dungu,
Yang tidak mempunyaI sepeser di dalam saku !”
Terdengar kakek itu tertawa, lalu ia berdiri sehingga
kelihatan tubuhnya yang jangkung. Sajak Sin Hong tadi
biasa saja, akan tetapi cara Sin Hong menahan majunya
parahu dengan menggerak gerakkan dayung perlahan di
atas air sungguh bukan perbuatan biasa.
"Tamu yang lewat bilang tidak punya sepeser, mana bisa
melakukan perjalanan? Pedang bagus disimpan di dalam
baju, siapa tahu kalau tidak digunakan menambah sengsara
rakyat? Jaman ini banyak sekali anjing busuk, Aah, Harus
diselidiki betul-betul.”
Wan Sin Hong tercengang mendengar kata-kata kakek
pemimpin bajak sungai itu. Alanglah tajam pandang mata
kakek itu yang dari jarak jauh dapat melihat pedang Pakkek.
sin-kiam yang ia sembunyikan di balik baju. Juga katakata
kakek itu menunjukkan bahwa kakek ini bukanlah
bajak sungai biasa saja. Hatinya timbul ingin mencoba
kepandaian kakek itu dan belajar kenal. Dengan tenang Sin
Hong lalu menggerakkan perahu ke pinggir sambil berkata,
23
“Aku bukan termasuk golongan buaya bicara di atas air
sungguh tidak leluasa, Kalau sahabat tua ingin bicara, mari
ke darat !” Dongan sekali melompat Sin Hong telah tiba di
darat dan berdiri menanti sambil tersenyum tenang.
Memang Sin Hong seorang pendekar yang hati-hati sekali.
Biarpun ia tidak gentar menghadapi bajak sungai itu, akan
tetapi kalau sampai terjadi perkelahian di atas perahu, ia
bisa menderita rugi. Sekali saja perahunya digulingkan, ia
akan berada di fihak lemah. Oleh karena itu ia mendahului
menantang sambil mendarat.
Kakek itu melihat cara Sin Hong melompat, berseru
gembira. "Aha. kiranya memiliki sedikit kepandaian. Aku
akan manyelidiki di atas darat. Kalau kawan boleh terus
kalau lawan baru meninggalkan barang!” Sambil berkata
demikian, iapun melompat dari perahunya ke atas darat
dengan gerakan yang ringan sekali. Berturut-turut pemuda
dan pemudi yang duduk seperahu dengan kakek itupun
melompat dengan gerakan yang menunjukkan ilmu ginkang
yang sudah tinggi.
"Bagus!" kata Sin Hong sambil tersenyum. "Sudah
kuduga bahwa kalian tentu bukan bajak-bajak sungai biasa.
Sekarang dengan cara bagaimana kalian hendak memeriksa
dan menyelidik apakah aku seorang baik atau busuk
menurut ukuranmu?"
Kakek itu mengurut urut jenggotnya yang panjang dan
matanya memandang penuh selidik, “Hemm. sikapmu
mengingatkan aku akan seorang yang sudah sering kali
kudengar namanya disebut-sebut orang. Akan tetapi tak
mungkin kau orang itu. Mau tahu bagaimana cara kami
menyelidik ? Bersiaplah dengan pedang yang
kausembunyikan itu. Kalau kau bisa mempertahankan
pedang itu dari rampasan kami, kami mengaku kalah dan
kau boleh melanjutkan perjalanan diiringi hormatku." Sin
Hong tersenyum. "Hemm, begitukah cara seorang bajak
24
bertindak ? Benar-benar sombong! Siapa di antara kalian
yang hendak maju?”
"Thia-thia (ayah), biarlah aku memberi hajaran kepada
orang yang banyak lagak ini," kata gadis cantik yang tadi
bernyanyi sambil mecabut pedangnya. Sikapnya galak dan
pipinya kemerahan menambah kecantikannya. Kakek itu
hendak mencegah akan tetapi gadis yang lincah dan galak
itu telah menikam dada Sin Hong dengan pedangnya.
Wan Sin Hong adalah seorang pendekar besar dan sudah
berusia setengah tua. kesabarannya tebal bukan main. Mana
ia mau melayani seorang dagis remaja yang bertingkah?
Dengan tenang ia mengulur tangan dan di lain saat ia telah
mencengkeram pedang itu. dibetot dan pedang telah
terampas olehnya!
"Ang Lian, mundur kau!" seru si pemuda sambil
menyerang dengan pedangnya tanpa minta perkenan kakek
itu.
Sin Hong nienggerakkan pedana rampasan yang dipegang
pada bagian tajamnya, dengan sekali ia memapaki ujung
pedang pemuda menggoyangkan gagang pedang yang dia
pegang dan..... benang ronce hiasan gagang pedang
rampasan itu melibat pedang pemuda itu tak dapat ditarik
pula. Sekali Sin Hong membetot, pedang pemuda itu terlepas
dari pegangan dan sudah berpindah ke tangan pendekar
besar ini !
"Pek Lian, kau telah sombrono!” mencela kakek itu
sambil tertawa.
Sin Hong memandang kepada Ang Lian dan “pemuda”
yang ternyata seorang gadis berpakaian pria bernama Pek
Lian itu. tersenyum dan menyerahkan pedang-pedang
rampasannya kembali. Ang Lian dan Pek Lian bermerah
muka, malu untuk menerima kembali pedang yang sudah
terampas.
25
"Pek Lian, Ang Lian, terima kembali pedang kalian dan
haturkan terima kasih!" kata kakek itu yang bukan lain
adatah Huang-ho Sian-jin, “datuk" bajak sungai di sepanjang
sungai Huang-ho. Dua orang gadis itu melangkah maju
menerima pedang masing-masing dan bibir mereka berbisik
menyatakan terima kasih. Mereka merasa heran dan kagum
bukan main. Dahulu mereka dibikin kagum dan tidak
berdeya terhadap seorang pemuda bernama Tiang Bu,
sekarang kembali mereka bertemu "guru” yang lihai bukan
main. Masa dalam segebrakan saja pedang mereka sudah
terampas secara aneh!
Sementara itu, Huang-ho Sian-jin menghadapi Wan Sin
Hong dengan mata bersinar-sinar. Ia merasa gembira sekali
dapat bertemu dengan orang selihai ini. Ia sudah dapat
menduga siapa orang ini, Akan tetapi dia bukan ayah Ang
Lian yang keras kepala kalau dia sendiri tidak kepala batu!
“Orang gagah, aku tidak memparkenalkan nama dan
tidak akan menanyakan namamu sebelum kita mengukur
kepandaian. Kepandaianmu hebat sekali, ingin aku
mencobanya. Cabut pedangmu itu dan mari kita main-main
sebentar”!” Setelah berkata demikian, ia menyambar dayung
perahunya. Dayung itu terbuat dari pada baja panjaog dan
berat berwarna hitam. Wan Sin Hong adalah seorang
pendekar sakti. Tidak saja ilmu silaynya tinggi sekali, juga ia
memiliki kecerdikan melebihi orang banyak. Orang
kebanyakan menilai kepandaian murid dari kepandaian
gurunya, akan tetapi Sin Hong dapat menilai kepandaian
guru terlihat dari kepandaian muridnya. Ia tahu bahwa dua
orang gadis itu adalah puteri kakek ini, tentu mendapat
warisan ilmu silat sebanyaknya. Dan ia sudah dapat menilai
bakat dua orang gadis tadi. Dari perhitungan ini ia sudah
dapat menduga sampai di mana tingkat ilmu kepandaian
kakek itu dan ia tahu bahwa ia akan dapat
mengalabkannya.
26
"Pedangku sudah kusembunyikan di balik baju, biarlah
ia tinggal bersembunyi di sana karena aku tidak bisa
mempergunakan kalau bukan berhadapan dengan musuh
jahat. Sahabat tua hendak main-main, biarlah aku minta
bantuan anakmu meminjam pedang.” Baru ucapannya
habis. Pek Lian yang berdiri dekat, kurang lebih tujuh
langkah dari Sin Hong, tiba-tiba merasa ada angin
menyambar dan di lain saat pedangnya sudah terambil lagi,
terpegang oleh orang sakti itu.
"Maaf anak yang baik. Aku pinjam sebentar pedangmu,"
kata Sin Hong, suaranya halus dan ramah sehingga Pek Lian
tidak bisa marah. Sin Hong tahu bahwa kalau ia mencabut
pedangnya, selain mungkin sekali, kakek itu akan mengenal
Pak-kek-sin kiam. juga kemenangannya takkan ada artinya.
Pedang pusakanya amat tajam dan kalau sekali tangkis
dayung lawannya putus, berarti ia akan menang
mengandalkan ketajaman pedang pusaka maka ia sengaja
meminjam pedang biasa kepunyaan Pek Lian.
Perbuatan dan sikap Sin Hong ini memang boleh
dipandang sebagai suatu kesombongan atau sikap
memandang rendah lawan, biarpun Huang-ho Sian-jin
seorang kakek yang banyak pengalaman dan memiliki
kesabaran besar, ia menjadi mendongkol juga. Tanpa
sungkan-sungan sebagai imbalan atau imbangan sikap Sin
Hong itu, ia menggerakkan dayungnya, diputar di atas
kepala lalu berseru.
"Awas, lihat senjata !"
Bagaikan seekor ikan besar menyambar mangsanya,
dayung itu bergerak miring dan sekaligus melancarkan
serangan yang mempunyai pecahan lima macam banyaknya.
Lima macam pukulan susul-menyusul dan bertubi-tubi
dilakukan dengan kedua ujung dayung, dalam cara dan
gerak yang berbeda sifatnya, bergantian mengandung tenaga
keras dan lemas! Inilah serangan hebat sekali yang amat
sukar dihindari. Dayung itu panjang dan berat, digerakkan
27
oleh seorang yang memiliki lweekang tinggi, datangnya
cepat, tidak terduga dan kuat sekali.
Akan tetapi, datuk bajak itu menghadapi Wan Sin Hong,
seorang pendekar sakti yang tinggi ilmu silatnya bahkan
yang pernah di pilih menjadi beng-cu dari para orang gagah.
Biarpun harus ia mengakui bahwa serangan kakek itu benar
luar biasa dahsyatnya dan berbahaya, namun ia bersikap
tenang sekali. Dari sambaran angin pukulan ia dapat
membeda-bedakan tenaga yang dipergunakan kakek itu.
Harus diketahui bahwa selama "bertapa” di Luliang-san.
Wan Sin Hong telah dengan amat tekun melatih diri dan
mempelajari serta memperkuat tenaga lweekang sehingga ia
boleh dibilang seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Maka
dari itu, sekali lihat saja ia tahu bagaimana harus melayani
lawannya. Pedang pinjaman di tangannya digerakkan
parlahan namun mengandung dua macam tenaga yang tepat
menghadapi tenaga dayung lawan. Lima kali dayung itu
dapat disambut pedang, di waktu mempergunakan tenaga
Yang-kang, terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar
di waktu bertemu tenaga Im-kang, tidak ada suaranya
seperti dua barang lunak akan tetapi setiap kali membuat
Huang-ho Sin.jin menderita pukulan hebat. Pertemuan
tenaga Yang-kang membuat ia merasa panas seluruh
tubuhnya dan tergetar mundur, sedangkan pertemuan
tenaga Im-kang mombuti kakek itu mengstigil kedinginan
dan kedua kakinya lemas. Ini menandakan bahwa dalam hal
tenaga, Sin Hong yang lebih muda itu masih jauh
mengatasinya.
Sin Hong yang selalu inenghormati orang lebih tua,
membiarkan kakek itu menyerangnya sampai tiga puluh
jurus, ia hanya mempergunakan kelincahannya mengelak
dan kadang-kadang menangkis tanpa balas menyerang.
Setelah tiga putuh jurus lewat, ia merasa bahwa sudah
cukup ia mengalah, lalu katanya, “Sahabat, maafkan
pedangku !"
28
Tiba tiba pedang itu berubah menjadi segulung sinar
menyilaukan mata dan Huang-ho Sian.jin sampai berseru
kaget. Baru sekarang ia menyaksikan ilmu pedang yang luar
biasa sekali, Ilmu Padang Pak-kek Kiam sut yang tiada
taranya di dunia ini. Lebih dari tujuh belas pucuk sinar
pedang seperti api bernyala menjilat-jilatnya, sukar
ditentukan dari mana arah penyerangannya, kelihatan
kacau balau Namun teratur sekali demikian baik teraturnya
hingga tiap serangan menuju ke arah jalan darah yang
penting !
Sebentar saja Huang-ho Sian jin sudah tak berdaya lagi.
Ia menjadi pening, dayungnya hanya diputar-putar tidak
karuan dalam usahanya melindungi tubuhnya, lalu ia
berteriak-teriak.
"Hebat...... cukup ....... cukup. Kalau ini bukan Wan
taihiap, bengcu yang tersohor, aku si bodoh tidak tahu lagi
kau siapa !"
Wan Sin Hong menahan pedangnya, mengembalikannya
kepada Pek Lian sambil mengucapkan terima kasih
kemudian berkata pada Huang-ho Sian-jin.
"Nama besar Huang-ho Sian-jin bukan kosong belaka,
aku Wan Sin Hong merasa girang dapat berkenalan." Ia lalu
mengangkat tangan memberi hormat.
Huang-ho Sian-jin tertawa bergelak, "Ha-ha-ha! Kalau
tidak bertempur mana bisa saling mengenal? Sekarang aku
tahu mengapa Wan taihiap tidak mengeluarkan pedangnya
Pak-kek-sin-kiam yang tersohor. Karena, hendak
menyembunyikan keadaan diri sendiri. Ha-ha-ha......!” Kakek
itu lalu menoleh kepada dua orang anaknya, Ang Lian dan
Pek Lian gadis berpakaian pria sambil berkata, "Hayo kalian
memberi hormat kepada Wan Sin Hong taihiap yang dulu
terkenal dengan sebuta Wan-bengcu.”
Dua orang anak dara itu memang cerdik. Sudah lama
mereka mendengar nama besar Wan Sin Hong disebut ayah
29
mereka, kini setelah berhadapan mereka segera
menjatuhkan diri berlutut dan Pek Lian berkata, "Kami
kakak beradik mohon petunjuk dari taihiap.”
Sin Hong tersanyum dan juga tercengang karena baru
sekarang ia mendapat kenyataan bahwa "pemuda" yang ia
pinjam pedangnya itu ternyata seorang gadis pula.
“Kalian sudah memiIiki kiam-hoat bagus, belajar apa lagi
?”
Terdengar Huang-ho Sian-jin berkata sambil menarik
napas panjang dan berkata dengan suara sungguh-sungguh,
"Kiam hoat apakah yang bagus? Kalau bukan Wan –taihiap
yang menaruh kasihan dan bermurah hati memberi
petunjuk, habis siapa lagi ? Harap saja Wan taihiap tidak
terlalu pelit." Ia mengangkat kedua tangan menjura dungan
hormat,
Menghadapi permintaan yang sungguh-sugguh dari ayah
dan anak ini, Wan Sin Hong merasa tidak enak kalau tidak
menuruti. Tangan kanannya bergerak, sinar terang
menyilaukan mata ketika Pak-kek-sin-kiam berada di
tangan.
“Kim-hoat dimiliki karena jodoh. Entah nona-nona
berjodoh atau tidak, silakan melihat baik-baik !" setelah
berkata demikian, Sin Hong menggerakkan pedangnya dan
dengan perlahan ia mainkan Soan-houg-kiam-hoat (Ilmu
Pedang Anglo Puyuh) yang dulu ia pelajari dari Luliang
Ciangkun. Tentu saja ia tak mau menurunkan Ilmu Pedang
Pak kek kiam-sut karena selain ilmu pedang ini tidak boleh
diturunkan pada sembarang orang, juga untuk mempelajari
ilmu pedang ini membutuhkan dasar-dasar yang amat kuat
dan amat sukar dipelajari!
Sampai tiga kali Sin Hong mengulang permainannya di
depan dua orang gadis Huang-ho Sian jin yang tahu aturan
kang-ouw. memerintahkan anak buah bajak untuk berdiri
30
membelakangi tempat latihan itu, bahkan dia sendiri juga
tidak mau melihat.
Setelah mainkan pedangnya tiga kali ditonton penuh
perhatian oleh Pek Lian dan Ang Lian, Sin Hong berhenti
bermain berkata,
"Cukup sekian dan selanjutnva tergantung dari jodoh
dan bakat."
Dua orang gadis itu berlutut menghaturkan terima kasih
lalu pergi dari situ mencari tempat sunyi untuk mengingat
dan mempelajari ilmu pedang yang terdiri dari tujuh belas
jurus itu. Sedangkan Huang-ho Sian-jin dengan wajah
girang berseri mempersilakan Sin Hong untuk singgah di
tempat kediamannya, yaitu di sebuah perabu besar untuk
menerima penghormatan dan jamuan. Akan tetapi Sin Hong
menolak dan menyatakan bahwa ia masih mempunyai
banyak urusan. Kemudian ia teringat akan kedudukan
Huang-ho Sian-jin sebagai bajak sungai yang malang
melintang sepanjang Sungai Huang-ho dan tentunya juga ia
pernah keluar berlayar di lautan dan mengenal keadaan
pulau-pulau di sebelah selatan.
“Siauw-te ada sebuah urusan dan mengharapkan
bantuan lo enghiong," katanya.
Wajah Huang-ho Sian jin berseri. "Tentu saja lo-hu suka
sekali membantumu. Wan-taihiap. Entah urusan apakah
gerangan dan bantuan apa yang dapat kuberikan?"
"Hanya sebuah keterangan dari lo-enghiong. Aku sedang
mencari sebuah pulau di laut selatan, pulau yang bernama
Pek-houw to (Pulau Hariman Patih), entah lo enghiong
mengenal atau tidak?”
Wajah yang berseri dari kakek itu segera berubah,
keningnya berkerut dan untuk sejenak ia memandang
kepada Sin Hong dengan mata tajam.
31
"Kiranya taihiap juga mengalami gangguan mereka? Iblisiblis
itu belum lama tinggal di Pe houw to, akan tetapi sudah
membikin kacau banyak orang. Terutama sekali penduduk
di sekitar pantai selatan. Aku sendiri sedang bersiap-siap
untuk nekat menyerbu ke sana, biarpun aku tahu bahwa
mereka terdiri dari orang-orang berhati iblis yang amat keji
dan berkepandaian tinggi sekali.
"Aku tidak tahu siapa yang kaumaksudkan dengan
mereka itu, lo enghiong. Akan tetapi terus terang saja, aku
mercari seorang tosu kaki buntung bernama Lo-thian-tung
Cun Gi Tosu......”
“Celaka......!” Huang-ho Sian-jin berseru kaget
mendenpar nama ini. “Jadi diakah gerangan orangnya?
Sudah kudengar bahwa pemimpin iblis itu adalah seorang
kakek buntung kaki kanannya akan tetapi siapa kira adalah
Lo-thian-tung Cun Gi Tosu. Pantas saja banyak anak
buahku tewas !”
Huang-ho Sian jin lalu bercerita bahwa memang di pulau
itu tinggal banyak orang di dipimpin oleh seorang kakek
buntung. Kakek itu sendiri jarang sekali kelihatan keluar
dari Pulau Pek-houw-to, akan tetapi banyak anak buahnya
melakukan gangguan gangguan kepada rakyat dan nelayan
di sekitar daerah itu terutama di pantai daratan Tiongkok.
“Beberapa kali anak buahku mencoba untuk menegur
mereka,” Huang-ho Sianjin melanjutkan penuturannya.
"Kami biarpun tergolong kaum bajak, namun kami
melakukan parampasan bukan semata menggendutkan
perut sendiri. Di samping untuk makan anak buah kami
yang hanyak jumlahnya, semua sisa hasil pembajakan selalu
kupergunakan untuk menolong rakyat yang sedang
menderita kekurangan. Maka sepak terjang pebghuni Pek
houw-to itu memarahkan hati anak buah dan mereka
menegur. Celakanya, mereka tidak suka ditegur sehingga
terjadi pertempuran dan selalu pihak anak buahku yang
menderita kekalahan. Selama ini aku bersabar saja sampai
32
akhirnya kumendengar mereka itu banyak melakukan
penculikan anak-anak gadis di pantai. Ini melewati batas
dan aku sudah merencana persiapan untuk menyerbu ke
sana dan merobohkan pemimpinnya. Tidak tahunya,
pemimpinnya adalah Lo thian-tung Cun Gi Tosu! Aku bisa
apakah terhadap dia ?”
"Lo-enghiong jangan khawatir. Biarkan aku menghadapi
kakek buntung yang telah menculik dan aku hanya minta
bantuan lo enghiong untuk mengantarku ke sana sebagai
petunjuk jalan," kata Sin Hong.
"Mana bisa begitu? Aku akan mengawani taihiap dan
mari kuantar taihiap mendarat di sana. Akupun tidak takut
menghadapi Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, sungguhpun dia
terkenal sakti !”
Cepat Huang-ho Sian-jin memberi perintah kepada anak
buahnya untuk menyediakan sebuwh perahu terbaik dan
menyuruh pergi. Kemudian ia bersama Sin Hong mulai
melakukan pelayaran, keluar dari Sungai Huang ho
memasuki perairan laut dan terus berlayar ke selatan. Tidak
mengecewakan Huang-ho Sian jin dianggap datuk para
bajak, kepandaiannya mengemudi perahu dan berlajar
memang hebat sekali. Perahu berlayar cepat dan dalam tiga
hari mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Pek-houw-to terletak tak jauh dari pantai di antara
sekumpulan pulau-pulau lain. Pulau ini tidak kelihatan
istimewa, hanya kalau dilihat dari jauh memang agak
keputihan bentuknya seperti binatang harimau mendekam.
Oleh karena bentuk dan warna inilah maka disebut Pek
houw to atau Pulau Harimau Putih.
Hari telah menjadi senja ketika perahu dua orang
pendekar itu tiba di kepulauan Itu. Keadaan di situ benarbenar
sunyi, tidak kelihatan sebuahpun perahu nelayan.
Padahal daerah ini terkenal banyak ikannya.
33
"Kaulihat sendiri, taihiap. Tak seorangpun nelayan berani
mencari ikan di sini, pada dahulu di sini amat ramai. lni
tandanya betapa ganas orang-orang jahat itu mengganggu
ketenteraman para nelayan"
Sin Hong hanya mengangguk dan minta kepada kakek
itu untuk melanjutkan palayaran ke pulau itu. Perahu terus
didayung mendekati pulau dan setelah dekat nampak bahwa
di antara pulau-pulau itu, hanya Pek houw-to yang kelihatan
ada rumah-rutnahnya. Wuwungan rumah nampak
menjulang tinggi di antara batu-batu karang dan pohonpohon.
Perahu didaratkan dan mereka melompat ke darat
dengan hati-hati. Setelah perahu ditambatkan pada batang
pohon, Sin Hong berkata, “Harap lo-enghiong suka menanti
di saja. Aku akan naik dan menyelidiki ke tengah pulau.”
Maklum bahwa kepandaiannya memang tdak dapat
mengimbangi Sin Hong. Huang- ho Sin-jin mengangguk dan
menerima pesan ini tanpa membantah. Akan tetapi setelah
ia melihat bayangan Sin Hong berkelebat lenyap menuju ke
jurusan kiri, iapun lalu menyusup di antara tetumbunan
menuju ke kanan, untuk melakukan penyelidikan sendiri.
Tentu saja seorang gagah perkasa seperti kakek ini yang
disegani di antara para bajak, merasa tidak enak sekali
kalau hanya dijadikan tukang turggu atau tukang perahu.
Biarpun kepandaiannya tidak setinggi Wan Sin Hong,
namun ia tidak takut menghadapi kakek buntung dan
kawan-kawannya !
Belum lama Huang ho Sian-jin berjalan mengendap di
antara pohon-pohon, berindap-indap ia mengintai dengan
hati- hati, ia mendengar makian orang dan angin pukulan,
tanda bahwa ada dua orang pandai bertempur. Cepat ia
manyelinap di balik pohon dan menghampiri tempat itu,
mengintai. Dilihatnya dua orang pemuda tengah bertempur
seru. Mereka ini adalah seorang pemuda yang berenjata
sepasang ranting kayu dan pemuda ke dua senjatanya
34
mengerikan yaitu sebuah tulang Iengan kering di tangan kiri
dan seekor ular kecil putih di tangan kanan ! Pemuda
bersenjata ranting itu terus terdesak mundur oleh Iawannya
yang ternyata lebih lihai. Namun ia melawan dengan nekat
sekali, ia tidak memperdulikan ejekan dan sikap lawan yang
tertawa-tawa.
“Ha ha-ba, Wan Sun bocah tolol. Apakah kau masih tidak
mau menyerah? Isterimu sudah tertawan dan kau sendiri
sudah tak berdaya. Dengan pedangmu saja kau tidak
mampu melawanku. Apa lagi dengan ranting? Ha ha jangan
kau bersikap goblok. Ayah masih berlaku murah dan
melarang kau dibunuh. Kalau tidak begitu, apa kaukira
sekarang kau tidak akan menjadi setan tak berkepala dan
isterimu sudah menjadi milikku ?”
"Keparat jahanam Liok Cui Kong! Kau sudah membunuh
ayah dan ibu mertuaku, secara keji menyebar maut di Kimbun
to, kau kira aku sudi mendengar omonganmu ? Mari
kita mengadu nyawa, aku tidak takut !” Setelah berkata
demikian, Wan Sun menyerang makin hebat. Dia adalah
murid Ang jiu Mo Ii, tentu saja kepandaiannya tidak rendah.
Biarpun pedangnya sudah terampas oleh Cui Kong dan
sekarang ia hanya mempergunakab dua ranting kayu,
namun ini masih merupaken senjata yang berbaya bagi
lawan.
Bagaimana Wan Sun bisa berada di pulau itu dan
bertempur melawan Cui Kong? Seperti pernah diceritakan,
setelah melangsungkan pernikahannya dengan Coa Lee
Goat, Wan Sun mengajak isterinya untuk pergi ke utara dan
mencari adiknya, Wan Bi Li. Setelah menikah, tentu saja
cinta kasih Wan Sun terhadap Bi Li berubah menjadi cinta
kasih kakak terhadap adiknya. karena memang dia tidak
beradik dan Bi Li selain tidak bersauaara, juga telah menjadi
anak yatim piatu seperti juga dia sendiri. Kalau teringat
akan keadaan Bi Li, sedihlah hati Wan Sun. Ia ingin bertemu
dengan adik angkatnya itu, ingin menarik Bi Li tinggal
35
bersama dia dan kelak mencarikan pasangan yang setimpal
untuk adiknya itu. Lee Goat maklum akan perasaan sayang
adik dari suaminya ini, maka ia setuju untuk pergi mencari
Bi Li. sekalian berbulan madu sebagai pengantin baru.
Akan tetapi, setelah berbulan-bulan merantau di utara
dan mencati-cari, usaha Wan Sun sia-sia belaka. Tak
seorangpun manusia tahu ke mana perginya Bi Li. Gadis itu
lenyap tanpa meninggalkan jejak. Wan Sun menjadi berduka
sekali. Lee Goat yang melihat kedukaan suaminya, lalu
menghiburnya dan mengajaknya pulang saja ke Kim-bun to.
“Biar nanti ayah membantumu. Jika ia memberi surat
kepada para ketua partai besar minta bantuan mereka,
mustahil adik Bi li tidak dapat ditemukan? Ayah mempunyai
hubungan dengan semua orang kangouw di empat penjuru
dan kalau semua orang kang-ouw membantu mengamatamati
tentu segera akan ada berita di mana adanya adik Bi
Li," kata Lee Goat dengan suara menghibur. Wan Sun
menganggap kata-kata isterinya ini tepat juga, maka dia pun
menurut.
Akan tetapi, sipa kira, sesampainya si Kim-bun-no,
bukannya menerima hiburan bahkan mendengar berita yang
hebat menghancurkan hati mereka. Yang menyambut
kedatangan mereka hanya Hwa Thian Hwesio. Melihat
sepasang suami isteri ini datang, Hwa Thian Hwesio
menyambutnya dengan air mata bercucuran. Tentu saja Lee
Goat dan Wan Sun terkejut sekali.
"Lo.suhu. ..... mengapa lo-suhu menangis. Mana ayah
dan ibu, mana bibi Li Hwa dimana semua orang? Mengapa
begini sunyi……?” Lee Goat menoleh ke sana ke mari dan
merasa berdebar hatinya, tidak melihat siapa-siapa di situ.
Juga Wan Sun mendapat firasat tak enak, wajahnya sudah
menjadi pucat ketika ia melihat hwesio itu menangis terisakisak
seperti anak kecil.
“Hwa Thian lo-suhu, harap suka bercerita trus terang.
Apakah yang telah terjadi ?”
36
Hwesio itu akhirnya dapat menenangkan diri. Ia
menyusuti air mata dengan ujung lengan bajunya yang
lebar, lalu memandang kepada Lee Goat sambil berkata
kepada Wan Sun.
“Kongcu, jagalah isterimu baik-baik sementara
mendengar ceritaku."
Wan Sun segera menggandeng lengan isterinya, hatinya
berdebar karena ia maklum bahwa tentu telah terjadi
malapetaka hebat di Kim-bun to. Adapun Lee Goat seketika
menjadi pucat sekali dan suaranya serak ketika ia bertanya,
“Lo-suhu, ceritakanlah, ada apa…?”
“Beberapa bulan yang lalu, pinceng kebetulan sekali
datang berkunjung ke sini bersama sahabatku Ouw Beng
Sin, tiba-tiba datang Liok Cui Kong putera Liok Kong Ji.
Pemuda jahat itu mengamuk dan dia lihai bukan main.
Biarpun dia dikeroyok, tetap tetap saja menyebar maut.
Selain Ouw Beng din dan seorang pelayan tewas, pinceng
dan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa terluka hebat, juga Coe-sicu
dan isterinya tewas....... “
Lee Goat menjerit. Wan Sun cepat memeluknya dan
nyonya muda ini pingsan dalam pelukan suaminya. Air mata
bercucuran dari sepasang mata Wan Sun, giginya berkerotkerot,
akan tetapi tak sedikitpun suara keluar dari
mulutnya. Dengan menekan goncangan dalam dada sendiri,
ia memondong isterinya dan membawanya ke dalam kamar,
di mana Lee Goat dibaringkan dan dirawat.
Menjelang tengah malam baru Lee Goat siuman dari
pingsannya, menjerit-jerit nyaring "Liok Cui Kong bajingan
besar! Aku harus bunuh kau! Aku akan mencabut
jantungmu dipakai sembahyang !" berkali-kali ia menjerit
menangis sedih. Baiknya Wan Sun pandai sekali
menghiburnya, dan menjanjikan untuk segera mencari
musuh besar itu dan membalas dendam. Akhirnya Lee Goat
terhibur juga. Segera setelah melakukan sembahyang di
depan makam ayah bundanya sambil menangis
37
menggerung-gerung, Lee Goat mengajak suaminya pergi lagi
mencari jejak Cui Kong!
Akhirnya mereka mendenger bahwa orang yang dicari itu
berada di selatan, di Pulau Pek-houw-to. Tanpa mengenaI
lelah dan bahaya, kedua suami isteri ini menyusul ke sana
menyeberang dan dengan nekat lalu menyerbu.
Penyerbuan dua orang muda ini mendatangkan rasa geli
dalam hati Cui Kong, kagum dalam hati Cun Gi Tosu, dan
girang dalam hati Liok Kong Ji. Cui Kong merasa geli karena
melihat dua orang muda yang kepadaiannya belum berapa
tinggi berani main-main di depan mulut gua harimau, Cun
Gi Tosu kagum menyaksikan keberanian suami isteri muda
ini dan Liok Kong Ji merasa girang oleh karena munculnya
dua orang muda ini memberi kesempatan baginya untuk
menghadapi musuh-musuh besarnya yang ia takuti yaitu
Sin Hong dan Tiang Bu. Kalau saja ia dapat menawan dua
orang ini, tentu ia dapat menebus keselamatannya dengan
jiwa mereka ! Demikianlah, tanpa banyak cakap lagi Kong Ji
memberi perintah kepada Cui Kong untuk menangkap dua
orang muda itu hidup-hidup.
Lee Goat sendiri biarpun kepandaiannya tinggi dan kiamhoatnya
lihai karena ia murid Wan Sin Hong, namun tentu
saja berhadapan dengan Liok Kong Ji ia marupakan
makanan lunak. Belum sampai tiga puluh jurus, nyonya
muda ini sudah terkena totokan yang lihai, jatuh lemas dan
menjadi tawanan.
Wan Sun didesak mundur terus oleb Cui Kong. Biarpun
kepandalan Wan Sun tadinya sudah hampir setingkat
dengan Cui Kong, akan tetapi akhir-akhir ini Cui Kong
mendapat kemajuan hebat dan kini Wan Sun masih kalah
sedikitnya dua tingkat ! Dengan senjatanya yang aneh, Cui
Kong mendesak Wan Sun yang masih melakukan
perlawanan mati-matian.
Ketika Wan Sun menggerakkan pedangnya dengan hebat
untuk mamatahkan lengan kering yang mengerikan itu, Cui
38
Kong berkata sambil tertawa, “Awas, hati-hati sedikit. Kalau
tidak, pedangmu akan mematahkan lengan tangan adikmu
sendiri. Lihat baik-baik, ini lengan tangan Wan Bi Li, apa
kau tidak mengenal lagi ?"
Dapat dibayangkan betapa kagetnya Wan Sun mendengar
ini dan tanpa terasa gerakannya menjadi lambat dan tahutahu
ia kehilangan pedangnya yang kena dirampas oleh Cui
Kong. Namun Wan Sun bukan orang penakut. Ia melawan
terus dengan sepasang ranting pohon yang ia pungut dari
bawah pohon, lalu melawan mati-matian.
Pada saat itulah Huang-ho Sian-jin muncul dan
mengintai. Mendengar ucapan Cui Kong yang ditujukan
kepada Wan Sun tadi, tahulah kakek ini siapa yang harus ia
tolong. Tadinya ia ragu-ragu karena ia tidak mengenaI dua
orang muda yang sedang bertempur itu. Akan tetapi, ucapan
Cui Kong cukup meyakinkan bahwa dia harus membantu
pemuda bersenjata sepasang ranting itu.
“Orang muda, jangan takut, lo-hu datang membantumu!”
seru kakek itu dan dayungnya sudah datang menyambar
kepala Cui Kong dengan kemplangan yang mematikan.
Cui Kong terkejut sekali dan cepat melompat ke belakang
menghindarkan diri dari sambaran dayung yang bukan main
kuatnya itu.
“Eh... eh, kau ini orang tua gila dari mana datang-datang
menyeraog orang ? Kau siapa dan ada permusuhan apa
dengan aku?” teriak Cui Kong, mendongkol dan kaget.
Huang-ho Sian-jin penasaran sekali. Kepandaiannya
tinggi, serangannya tadi adalah serangan maut yang sukar
dihindarkan, namun pemuda yang membawa lengan kering
dan ular itu sekali melompat telah dapat menyelamatkan
diri.
"Pemuda jahat, tentu kau yang selama ini menyebar
kejahatan! Aku Huang-ho Sian-jin datang untuk membalas
kematian beberapa orang anak buahku." Setelah berkata
39
demikian, kembali kakek ini menyerang dengan dayungnya.
Melihat datangnya bala bantuan, Wan Sun timbul kembali
semangatnya dan ikut mendesak.
Sibuklah sekarang Cui Kong menghadapi gelombang
serangan dua orang lawannya yang tak boleh dipandang
ringan ini. Ia sama sekali tak boleh berlaku gegabah.
Terutama sekali menghadapi dayung Huang-ho Sian-jin, Cui
Kong tak dapat menangkis, hanya mengelak jauh ke sana ke
mari menghindarkan diri dari jangkauan dayung yang
panjang dan berat itu. Kalau ia berusaha bertempur merapat
datok bajak itu Wan Sun manyambutnya, kalau manjauh,
kakek itu menggempurnya.
Cui Kong tahu bahaya. Ia cepat bersuit keras melepas
suara isyarat bahaya kepada kawan-kawannya. Untung
baginya, pada saat itu Kong Ji berada di tempat yang tidak
berapa jauh. Beberapa menit kemudian muncullah Liok
Kong Ji di gelaoggang pertempuran.
"Anak bodoh, kalau masih belum mampu membekuk
Wan Sun?” Kong Ji mengomel.
“Kakek bajak Huang-ho ini datang mengacau, ayah," Cui
Kong membela diri.
Kong Ji melompat ke tengah dengan tangan kosong. Tiga
kali tangannya bergerak dan dilain saat Wan Sun sudah
roboh tertotok dan ditawan oleh Liok Kong Ji yang sekarang
memiliki kepandaian amat lihai itu.
"Jadi kau ini orang tua yang disebut Huan-ho Sian jin ?”
tanya Kong Ji penuh perhatian.
Huang- ho Sian jin sudah mendengar dari Sin Hong
tentang Liok Kong Ji dan Cui Kong. Tentang Liok Kong Ji,
memang sudah lama ia mendengar nama busuknya. Ia
menunda dayungnya, memandang tajam lalu
membentak."Hemm kau tentu Liok Kong Ji si Manusia Iblis!
Pantas saja daerah ini menjadi kacau dan tidak aman tidak
40
tahunya di samping manusia manusia jahat ada kau iblis,
yang bersembunyi!"
Liok Kong Ji tersenyum. Kakek ini ilmu dayungnya boleh
juga, pikirnya. Tidak ada salahnya untuk menguji Cui Kong.
"Cui Kong, gempur dia!"
Cui Kong memang sudah merasa gemas sekali. Kalau
tidak datang kakek itu tentu ia tak mendapat tegoran
ayahnya dan sekarang setelah Wan Sun tertawan, ia dapat
melayani kakek itu dengan leluasa. Ia mengeluarkan suara
keras dan tubuhnya melayang, ular dan tangan itu
bergantian bergerak menyerang. Dua macam senjata ini ada
keistimewaan masing-masing. Ular itu amat berbahaya
karena sekali saja manggigit akan merobobkan lawan
dengan bisanya yang lihat. Tangan kering yang tadinya
menjadi lengan Bi Li itupun tidak kalah hebatnya. Selain
dipergunakan untuk mengemplang dan menotok, juga
terutama sekali lengan kering ini mendatangkan hawa yang
menyeramkan pada lawan yang kurang kuat batinnya.
Namun Huang-ho Sian-jin seorang tokoh kang.onw yang
sudah banyak makan asam garam dunia dan sudah banyak
sekali menghadapi banyak pertempuran besar, tidak menjadi
gentar. Dayungnya menyambar-nyambar bagai naga hitam
mengamuk, sedtkitpun tidak mau memberi kesempatan
kepada lawannya untuk mendekatinya. Sebaliknya, Cui
Kong mempergunakan kelibcahannya untuk bertempur dari
jarak dekat, karena hanya dengan pertempuran jarak dekat
saja ia akan peroleh kemenangan dan kakek yang
kepandaiannya sudah menginibangi tingkatnya sendiri itu.
Pertempuran berjalan seru, seorang menjaga supaya
pertempuran terjadi dengan jauh, yang seorang lagi
berusaha merobah kedudukan menjadi pertempuran jarak
dekat. Kalau kadang-kadang Cui Kong berhasil, Huang- ho
Sian-jin merobah permainan dayungnya, dipegang di tengahtengab
sehingga rupakan toya atau sepasang senjata
pendek, akan tetapi ia segera mendesak lagi supaya dapat
41
menggunakan dayungnya sebagai senjata panjang yang
dipakai menyerang dari jauh. Mereka memperebutkan
kedudukan dan pertempuran berjalan seru, ramai dan lama.
Puluhan jurus berlalu tak terasa.
Kong Ji mendongkol sekali. Semenjak melihat kelihaian
Tiang Bu puteranya yang sejak itu ia menjadi tidak sabar
melihat Cui Kong dianggapnya amat bodoh. Tentu saja kalau
menghendaki putera angkatnya ini sebagai Tiang Bu, ia
mengimpi jauh. Untuk melampiaskan kekecewaannya
melihat Tiang Bu yang saat itu menolak untuk menjadi
puteranya, ia menumpahkan kemendongkolan hatinya
kepada Cui Kong. Sering kali pemuda ini dimaki-maki goblok
dan bodoh, akan tetapi terus ia menurunkan kepandaiannya
kepada Cui Kong. Sekarang melihat Cui Kong tak dapat
merobohkan Huang-ho Sian-jin, kembali Kong Ji memakimaki
sambil memberi petunjuk.
“Totol, jangan bilarkan ujung dayungnya menggertakmu.
Pergunakan Soat lian dan barengi Hok- te-twi !"
Cui Kong cepat bergerak menurut petunjuk ayahnya.
Gerakan Soat-lian adalah dari Soat-te kiam hoat (Ilmu
Pedang Teratai Salju) yang didapat dari kitab Omei-san,
gerakannya lembut namun merupakan inti ilmu ginkang
sehingga tubuh menjadi ringan dan cepat, adapun Hok totwi
berarti tendangan mendekam. Dengan dua ilmu ini Cui
Kong menghindarkan diri dari kurungan ujung dayung dan
mengirim tendangan-tendangan tak tersangka ke arah
dayung dan tangan lawan- Memang hebat rantai serangan
ini. Huang-ho Sian-jin sampai mundur-mundur terdesak
untuk menyelamatkan dayungnya, sementara itu dua
macam senjata di tangan Cui Kong menggantikan
kedudukan pedang dalam gerakan Soat-sian tadi, hebatnya
bukan main.
Bagaimanapnn juga, tidak mudah merobohkan seorang
tokoh besar seperti Huang-ho Sian-jin, kalau yang
42
merobohkan itu hanya seorang dengan tingkat yang dimiliki
Cui Kong.
Pertemputan hebat itn berjalan terus sampai seratus
jurus dan masih belum dapat dibilang Cui Kong menang di
atas angin walaupun selalu diberi petunjuk oleh Kong Ji.
Tiba tiba dari jurusan tengah pulau terdengar suitan lain
seperti Cui Kong tadi.
"Gurumu menghadapi musuh lain !" Kong Ji kaget
karena tidak menyangka bahwa masih ada musuh lain yang
malah sudah masuk ke dalam pulau. Ia segera menurunkan
tubuh Wan Sun yang tadi dikempitnya dan dengan beberapa
kali lompatan ia sudah memasuki gelanggang pertempuran.
Kedua tangannya bergerak memukul dengan tenaga Tin-sankang
secara hebat.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXII
“BRAKK!" Dayung patah menjadi dua dan tubuh kakek
itu terlempar, roboh tak sadarkan diri lagi karena hebatnya
pukulan Tin-san-kang. Kong Ji tak memperdulikan lagi
kakek itu, menyambar tubuh Wan Sun dan mengajak putera
angkatnya cepat kembali ke sarang untuk membantu Lothian-
tung Cun Gi Tosu menghadapi musuh.
Suitan tadi memang datangnya dari Lothian-tung Cun Gi
Tosu yang sedang berhantam dengan Wan Sin Hong!
Wan Sin Hong yang meninggalkan Huang-ho Sian-jin,
dengan gerakan cepat sekali menghampiri kelompok rumah
di tengah pulau itu dari arah kiri. Ia tidak berani bertindak
secara sembrono. Ia tahu bahwa dengan beradanya Leng
Leng di tangan musuh, ia menjadi tak berdaya. Musuh dapat
mempergunakan anak itu untuk melawannya. Oleh karena
itu, yang paling penting adalah merampas kembali anaknya,
baru setelah anaknya ditemukan ia akan memberi hajaran
kepada Lothian tung Cun Gi Tosu si kakek buntung.
Ia sudah merasa heran melihat tidak adanya penjagaan
kuat di dalam pulau itu lebih-lebih herannya ketika ia
2
melihat banyal wanita cantik berada di dalam rumah
terbesar yang berada di tengah-tengah kelompok rumahrumah
itu. Tentu di sini tempat tinggal Cun Gi Tosu,
pikirnya. Akan tetapi siapakah wanita-wanita muda cantik
genit yang pakaiannya mewah itu? Apakah kakek buntung
seorang gila perempuan dan mempunyai banyak selir? Panas
muka Sin Hong saking jemu dan marahnya.
Dengan kepandaiannya yang tinggi tak seorangpun di
antara anak buah yang tinggal di rumah-rumah kecil itu
mengetahui kedatangannya. Bagaikan bayangan setan Sin
Hong berhasil memasuki rumah besar. Tidak terlihat lakilaki
di situ, hanya sedikitnya ada tujuh orang wanita cantik
dilayani oleh banyak sekali pelayan, lebih sepuluh orang. Ia
tidak berani bertindak sembrono. Kalau sampai ia terlihat
dan wanita-wanita itu menjerit, tentu akan gagal uaahanya
merampas kembali anaknya.
Dengan sabar Sin Hong menanti sampai melihat seorang
di antara wanita-wanita cantik itu pergi ke taman belakang
diikuti dua orang pelayannya, wanita ini cantik sekali,
usianya paling banyak tiga puluhan tahun, pakaiannya
mewah dan bicaranya halus. Ragu.ragu hati Sin Hong untuk
menyerang seorang wanita, apa lagi sang wanita yang
demikian cantik dan halus gerak-geriknya. Akan tetapi demi
untuk menolong anaknya, ia menekan perasaannya dan
secepat kilat ia muncul. Sebelum tiga orang wanita itu
sempat menjerit dua orang pelayan sudah tertotok pingsan
dan wanita cantik itu berdiri ditotok urat gagunta.
"Jangan takut, aku hanya ingin bertanya. Kalau kau
bicara terus terang, kau akan kubebaskan," bisik Sin Hong.
Wanita itu membelalakan matanya yang lebar dan
mengangguk. Sin Hong membuka totokannya dan menarik
wanita itu ke tempat gelap. Memang taman itu sudah mulai
gelap dengan bayangan-bayangan pohon.
"Katakan, siapa tinggal di rumah besar ini ?”
3
"Yang tinggal di sini suami kami, Liok- taihiap yang
berjuluk Tbian-te Bu-tek Tai-hiap," wanita itu balas beibisik
dengan sikap menakut-nakuti Sin Hong dan dia sendiri
agaknya tidak takut sama sekali, malah kini memandang ke
wajah Sin Hong yang gagah itu dengan senyum-senyum
genit.
Berdebar jantung Sin
Hong. “Liok Kong Ji di
sini.......... ?”
Wanita itu
mengangguk dengan
sinar mata senang. Sin
Hong menjadi bingung,
girang dan cemas. Dengas
adanya Kong Ji, berarti
makin sukarlah untuk
merampas kembali
anaknya, tetapi juga
memberi kesempatan
kapadanya untuk
mengadu nyawa dengan
musuh besarnya itu.
"Siapa lagi ?"
"Kautanyakan selirselirnya..........
?" wanita
itu mengerling penuh
gaya.
“Siapa perduli selir ?” bentak Sin Hong, gemas melihat
kegenitan wanita yang tadinya disangka halus dan sopan itu.
“Siapa lagi selain Kong Ji?"
Melihat kegalakan Sin Hong, wanita itu agak takut.
"Masih ada Liok-kongcu........”
"Cui Kong...... ?"
4
Wanita itu memandang heran. "Bagaimana kau bisa tahu
?"
"Diam ! Kau menjawab, aku yang bertanya. Masih ada
lagikah ? Kakek buntung Cun Gi Tosu itu di mana?"
"Dia juga ada. Nah, kau tahu di sini banyak terdapat
orang pandai. Lebih baik kaubebaskan aku den lekas
menyingkir..........”
“Diam ! Kaulihat seorang anak perempuan yang dibawa
oleh Cun Gi Tosu ..... ?”
"Ohhhh kaau datang untuk mencari Leng ji (anak Leng)?"
“Ya, Leng-ji, anakku ...... di mana sekarang ?” Sakiog
tegangnya Sin Hong sampai lupa diri dan mencengkeram
pundak wanita itu,
Tiba- tiba wanita itu menjadi pucat dan tubuhnya
menggigil, "Ampun.......... ampunkan aku. taihiap ..... aku
tidak tahu apa-apa ..... !"
Sin Hong sadar bahwa wanita ini sekarang tahu siapa dia
dan menjadi ketakutan. Tentu saja namanya diketahui oleh
selir Kong Ji.
"Aku takkan menggangggumu asal kauceritakan di mana
adanya Leng Leng dan di mana adanya Cun Gi Tosu."
katanya perlahan dan tenang.
"Tadi serelah ada dua orang datang mendarat, siangsiang
Cun Gi totiang telah membawa diri Leng-ji dibawa ke
pantai timur untuk bersembunyi. Selalu apabila pulau
kedatangan orang yang dicurigainya, ia segera
menyembunyikan Leng-ji."
"Ke pantai timur katamu? Betulkah?"
"Untuk apa aku membohong ?”
Sin Hong menyangsikan ucapan wanita ini maka sekali
menotok wanira itu roboh pingsan. Kemudian dengan
mudah ia mengempit tubuh tiga orang wanita itu dan
5
membawa melompat keluar dari tempat itu. ia meninggalkan
tiga orang wanita yang pingsan itu di tempat sepi. Ia perlu
melakukan hal ini agar perbuatannya jangan diketahui
orang sebelum ia berhasil merampas kembali anaknya.
Setelah meninggalkan tiga orang wanita pingsan itu, Sin
Hong cepat berlari ke timur, menuju ke pantai sebelah timur
pulau itu. Akan tetapi di tengah jalan ia berhenti, berpikir
berfikir sebentar lalu berlari kembali ke tempat ia
meninggalkan tiga orang wanita tadi. Disambamya tubuh
sorang pelayan dan ditotoknya hingga siuman kembali.
Pelayan ini ketakutan, akan tetapi Sin Hong berkata
perlahan.
"Kau akan kubawa ke tempat persembunyian Cun Gi
Tosu dan di sana nanti kau harus berteriak memanggil
namanya, bilang bahwa Cun Gi Tosu dipanggil oleh Liok
Kong Ji. Awas, kalau kau tidak menuruti aku akan memukul
remuk kepalamu dari belakang !”
Dengan tubuh menggigil pelayan itu mengangguk. Sin
Hong lalu mengempitnya dan membawanya lari ke pantai
timur. Pulau itu tidak berapa besar maka sebentar saja Sin
Hong sudah tiba di pantai timur yang ternyata marupakan
daerah batu karang yang banyak terdapat gua-gua besarnya.
Ia merasa puas telah membawa pelayan itu karena kalau
tidak demikian, kiranya tidak mudah mencari tempat
persembunyian kakek buntung itu.
Sin Hong bersembunyi di balik batu karang dan pelayan
itu mulit berteriak-teriak.
"Totiang.......... ! Liok-taihiap.......... menyeruh totiang
datang segera! Ada musuh menyerbu…..,” pelayan itu
berteriak memanggil, tiba-tiba sebuah di antara gua-gua itu
terdengar suara nyaring, “Mengapa kau pelayan wanita
disuruhnya? Ke mana para penjaga dan pelayan laki-laki?”
Pertanyaan ini memang sudah diduga dulu oleh Sin
Hong, maka tadipun dia sudah menyiapkan jawaban.
Pelayan itu menjawab cepat.
6
“Semua penjaga dan pelayan sudah bertempur. Bantuan
totiang amat diharapkan. Lekaslah, musuh kuat sekali !”
Akhirnya tosu kaki buntung itu muncul juga dan
berdebar hati Sin Hong melihat Leng Leng berada dalam
pondongan tangan kiri kakek itu ! Sekali melompat kakek itu
sudah berada, di depan pelayan tadi.
"Aku tidak mendengar suara apa-apa, siapa yang
bertempur ?”
Pada saat itu Sin Hong muncul cepat.
"Cun Gi totiang, serahkan kembali puteriku. Kalau kau
hendak mengadu kepandaian, kulayani secara laki-laki,
jangan mengganggu bocah yang tidak tahu apa-apa !”
Alangkah kagetnya hati tosu buntung itu melihat tibatiba
Sin Hong berdiri di depannya. Sekali tongkatnya
bergerak, tubuh pelayan wanita itu terlempar jauh ke dalam
jurang, meninggalkan pekik mengerikan.
“Kalau pinto berniat mengganggu bocah ini, kaukira dia
masih hidup." jawabnya.
Sementara itu, ketika Leng Leng melihat Sin Hong, segera
mengenalnya dan berteriak nyaring, "Ayah.......!" Akan tetapi
anak itu tidak menangis, agaknya merasa senang dalam
pondongan kakek itu!
Mata Sin Hong yang tajam dapat melihat hal itu dan ia
merasa lega. Tak dapat disangsi pula, Leng Leng kelihatan
sehat montok dan kelihatan tidak takut kepada kakek itu.
Ini hanya menandakan bahwa Leng Lang mendapat
perawatan baik, dan kakek itu sayang kepadanya, agaknya
hendak dijadikan muridnya!
"Cun Gi tosu, kau telah menculik anakku. Apakah kau
tidak malu dengan perbuatan rendah itu? Anak kecil jangan
dibawa-bawa, kita sama-sama tua kalau hendak bertempur
mengadu nyawa, sampai seribu jurus kulayani. Lepaskn
Leng Leng!"
7
"Tidak, lebih baik kau pergilah dari sini, Wan Sin Hong.
Bocab ini akan menjadi muridku, kelak kalau sudah jadi
tentu akan pulang sendiri."
Muka Sin Hong nulai merah, tanda kemarahan hatinya.
“Cun Gi Tosu, apa benar-benar kau menghendaki aku
menggunakan kekerasan?”
Tosu kaki buntung itu tertawa terkekeh- kekeh "Hehheh-
heh heh, orang lain takut kepadamu, akan tetapi pinto
tidak. Ada berapa sih kepandaianmu maka berani bersikap
somhong selama ini? Mengangkat diri sebagai benbcu,
menjagoi dunia kang-ouw! Hemm, ketahuilah, Wan Sin
Hong. Justeru untuk memberi rasa kepadamu agar kau
jangan sombong, maka aku mengambil Leng Leng sebagai
murid.”
"Pendeta berhati kotor! Siapa tidak tahu bahwa kau
pembantu musuh negara dan pembantu penjahat iblis Liok
Kong Ji? Kau menghendaki kekerasan, baiklah. Lihat
seranganku.”
Wan Sin Hong sudah mulai melangkah maju dan
menggerakkan tangan memukul pundak kanan kakek yang
tangan kanannya membawa tongkat itu. Lihai sekali kakek
ini, biarpun, kakinya hanya sebelah, menghadapi pukulan
Sin Hong yang luar biasa lihainya itu ia melompat ke atas
dan tertawa mengejek, tongkatnya menyambar dalam
serangan yang tak kurang dahsyatnya !
Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian kakek buntung
ini memang tinggi sekali. Ia memiliki permainan tongkat
yang tiada tara sehingga mendapat julukan Lo thian tung
(Tongkat Pengacau Langit). Apa lagi setelah berhasil
mendapatkan kitab dari Omei-san yaitu Soan-hong-kiam-si,
ilmunya bertambah dan ia merupakan orang lihai yang
setingkat dengan Liok Kong Ji.
Akan tetapi, menghadapi Wan Sin Hong kiranya ia
takkan dapat banyak berlagak atau paling-paling ia hanya
8
bisa mengimbangi kelihaian pendekar itu, kalau saja ia tidak
mempunyai “jimat” berupa Leng Leng dalam pondongannya.
Dengan adanya bocah ini di gendongannya, memang Sin
Hong tak dapat berbuat banyak. Ini pula sebabnya maka ia
tidak mencabut Pak-kek sin-kiam, melainkan dua tangan
kosong untuk menghadapi kakek buntung itu. Jika ia
menggunakan pedang, tentu ada bahayanya ia melukai
puterinya sendiri.
Betapapun juga, dengan kepandaian yang ia terima dari
Pak Kek Siansu. kedua lengan tangannya cukup hebat
untuk mendesak lawannya. apa lagi Sin Hong sekarang telah
menjadi seorang ahli Yang-kang dan Im-kang. Ia tidak jerih
menghadapi tongkat Cun Gi Tosu, bahkan dapat membalas
dengan angin pakulan yang selalu menyambar ke arah kaki
lawan yang tinggal sebelah. Memang Sin Hong seorang
cerdik. Setelab lawannya memondong Leng Leng, maka satu
satunya bagian yang lemah dan mudah diserang adalah
kakinya yang tinggal satu itu. Sekali saja ia berhasil
memukul kaki itu dan membuat Iawannya terguling tidak
begitu sukar kiranya untuk merampas anaknya.
Diserang terus-menerus bagian kakinya, Cun GI Tosu
menjadi marah sekali, biarpun kakinya tinggal sebelah,
namun ia dapat melompat tinggi dan jauh. Ia melompat ke
belakang. berdiri dengan satu kaki dan tongkatnya diputar
bagaikan kitiran cepatnya. Sayang bahwa tangannya
memondong Leng Leng, kalau tidak tentu ia dapat
menambah susulan dengan tangan kirinya. Ternyata bahwa
adanya "jimat” berupa bocah itu dalam gendongannya, tidak
hanya mendatangkan keuntungan baginya karena Sin Hong
tidak berani menggunakan pedang, akan tetapi juga
mendatangkan kerugian yaitu pergerakannya jadi terhalang.
Pertempuran dilanjutkan dengan hebat. Kalau dua orang
pandai bertempur, hanya angin pukulan mereka saja yang
menyambar-nyambar dan biarpun jarak diantara merasa
kadang kadang jauh, masih mereka saling pukul untuk
9
menyerang lawan dengan angin pukulan yang tak kalah
dahsyatnya dari pada tusukan pedang atau hantaman golok.
Melihat kelihaian lawannya, Lo-thian-tung Cun Gi Tosu
mulai khawatir. Jangan-jangan masih ada kawan-kawannya,
pikirnya. Maka ia lalu bersuit untuk memberi tahu kepada
Liok Kong Ji dan yang lain-lainnya. Kalau mereka datang
dan membawa dulu Leng Leng. tentu ia akan mencoba lagi
menghadapi Sin Hong dengan mati-matian, dapat
menggunakan seluruh perhatian dan kepandaiannya. Kakek
ini masih belum mau tunduk dan tidak merasa kalah.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, mendengar
suitan ini Liok Kong Ji dan Cui Kpng segera lari
meninggalkan Huang-ho Sian-jin yang pingsan dan
membawa pergi, Wan Sun yang tertawan. Liok Kong Ji lebih
dulu melempar Wan Sun pada seorang penjaga, menyuruh
penjaga memasukkan orang muda itu dalam kamar tawanan
bersama Coa Lee Goat yang sudah tertawan lebih dulu dan
supaya dijaga kuat-kuat. Kemudian bersama Cui Kong ia lari
ke timur untuk membantu Cun Gi Tosu.
Ketika Kong Ji melihat siapa yang bertempur melawan
Cun Gi Tosu, ia terkejut sekali. Tak disangka-sangka bahwa
Sin Hong yang penyerang kakek itu.
“Aha, kiranya kau mengantar nyawamu ke sini? Ha-haha
!” Kong Ji menutupi kekagetannya dan tertawa bergelak
sambil mencabut pedangnya.
“Cui Kong, kaubawa pulang dulu Leng Leng!” kata Cun Gi
Tosu kepada muridnya, C ui Kong menerima Leng Leng yang
tetap tidak menangis biarpun sejak tadi melihat ayahnya
bertempur melawan “suhunya”. Bocah masih terlalu kecil
untuk mengetahui urusan itu. Gurunya, juga "paman Liok"
baik sekali terhadap dia, tentu saja dia tidak bisa membenci
mereka. Akan tetapi sekarang mereka ini bertempur dengan
ayahnya. Hal yang lalu ruwet dan sulit dimengerti oleh anak
sekecil dia.
10
Melihat datangnya Liok Kong Ji dan Cui Kong,
kemarahan Sin Hong memuncak. Juga ia gelisah sekali.
Harapan untuk dapat menolong puterinya makin menipis.
Tentu saja ia tidak takut menghadapi Kong Ji dan Cun Gi
Tosu, akan tetapi sekarang anaknya berada di tangan Cui
Kong dan Kong Ji yang jahat. Ia cukup mengenaI siasat Kong
Ji yang tentu takkan ragu-ragu untuk mempergunakan
anaknya sebagaI perisai apa bila kalah. Memikirkan hal ini
ia menjadi bingung. Kalau tidak ada urusan Leng Leng,
tentu tanpa ragu-ragu tentu ia akan menyerang dua orang
ini dan akan mengajak Kong Ji musuh busar itu bertempur
mati-matian menentukan siapa yang menang dan siapa yang
kalah. Akan tetapi pada saat itu, semua urusan pribadinya
ia lupakan dan yang ia pentingkan lebih dulu adalah
keselamatan Leng Leng. Oleb karena itulah Sin Hong
pendekar sakti itu menjadi bingung dan ragu ragu. Tadipun
ia menyerang Cun Gi Tosu hanya dengan maksud merampas
Leng Leng.
Pada saat itu terdengar pekik burung dari arah darat.
Orang-orang yang lain tidak tahu bahwa itulah tanda
rahasia dari Huang-ho Tian-jin, hanya Sin Hong yang tahu
bahwa kalau kakek itu memanggilnya. Tentu ada urusan
penting. Lebih baik ia pergi dulu dan kelak datang lagi. Dia
toh sudah tahu di mana letak Pek-houw to dan tahu pula
bahwa Leng Leng puterinya berada dalam keadaan selamat.
Ini saja sudah melegakan hatinya dan sudah berarti bahwa
kedatangannya kali ini tidak sia-sia.
"Kong Ji, biar lain kali kita bertemu!” katanya dan tanpa
menanti jawaban, tubuhnya berkelebat lenyap di antara
batu-batu karang dan puhon-pohon.
"Kejar.......... !” Cui Kong berseru.
Akan tetapi Kong Ji mengangkat tangannya mencegah.
"Ha ba-ha, selama hidupku baru aku ini melihat Wan Sin
Hong melarikan diri terbirit-birit seperti anjing dirukul !”
katanya keras-keras dengan sengaja mengerahkan lweekang
11
supaya didengar oleh Sin Hong. “Untuk apa mendesak anjing
yang sudah lan? Birlah, kelak kalau dia berani datang lagi,
baru aku sediakan pedang untuk memenggal lehernya !"
Memang disamping kelihaian dan kelicikannya, Kong Ji
berwatak sombong. Tadi sudah disaksikannya bahwa
biarpun menggendong Leng Leng, Cun Gi Tosu sanggup
menghadapi Sin Hong. Dengan adanya Cun Gi Tosu yang
lihai, juga Cui Kong yang sudah maju dan ditambah dia
sendiri yang sekarang sudah mulai melatih ilmu-ilmu
kesaktian dari kitab-kitab Omei-san, siapa yang ia takuti lagi
?
Pekik burung tadi memang tanda rarsia dari Huang-ho
Sian-jin ditujukan kepada Sin Hong. Ketika ditinggalkan oleh
Kong Ji dan Cui Kong, kakek ini sudah siuman. Ia hanya
sebentar saja pingsan terkena sambaran angin pukulan Tinsan-
kang yang hebat dari Kong Ji. Orang lain tentu akan
remuk remuk isi dadanya, dan demikian pula disangka Liok
Kong Ji maka tanpa curiga lagi Kong Ji meninggalkan tubuh
kakek itu. Namun Huang-ho Sian-jin bukanlah orang biasa.
Tubuhnya sudah memiliki kekebalan, dan pukulan ini
biarpun mengguncang isi perut dan dada membuatnya
pingsan sebentar, namun tidak mendatangkan luka maut.
Kalau saja Ko Ji tidak begitu sombong dan mau memeriksa,
tentu akan membunuh Huang ho Sian-jin lebih dulu
sebelum meninggalkannya.
Melihat Kong Ji dan Cui Kong pergi membawa Wan Sun,
Huang ho Sian-jin merayap bangun dan di dalam gelap ia
menyelinap mengikuti dari belakang. Ia mendengar betapa
Wan Sun diserahkan kepada seorang penjaga. Biarpun tadi
sudah terpukul, Huang ho Sian-jin masih memiliki
keberanian besar. Ia mengikuti sampai Kong Ji dan Cui Kong
yang tergesa- gesa itu pergi lari ke timur,. kemudian ia
muncul dan sekali ketok saja pada kepala penjaga itu, ia
telah dapat membuat orang roboh..
12
Cepat ia membebaskan totokan Wan Sun bersama orang
muda ini ia maju terus mencari tempat ditahannya Coa Lee
Goat. Hal ini tidak sukar dilakukan. Berbeda dengan Ui tioklim,
pulau ini tidak sukar dimasuki rumah-tumah di situ
tidak berapa banyak. Sebentar saja dua orang gagah ini
dapat menemukan tempat tahanan di mana Lee Goat
ditawan, yaitu sebuah rumah kecil dan enam orang penjaga
menjaga rumah itu dengan tombak di tangan.
Akan tetapi apa artinya enam orang penjaga yang hanya
kuat tubuhnya dan memiliki ilmu silat biasa saja bagi Wan
Sun dan Huang-ho Tian-jin? Sekali serbu enam orang itu
sudah roboh malang melintang dan Wan Sun mendobrak
pintu, menyerbu ke dalam.
Lee Goat berada di dalam kamar, tangan kakinya terikat
kuat-kuat sehingga ia tidak berdaya lagi. Wan Sun cepat
menolong isterinya, kemudian bersama isterinya ia lari
mengikuti Huang-ho Sian-jin ke pantai barat di mana tadi
kakek itu meninggalkan perahu.
Tahu bahwa keadann pulau itu kuat sekali dengan
adanya orang-orang seperti Liok Kong Ji, Liok Cui Kong, dan
Lo-thian-tung Cun Gi Tosu, maka Huang-ho Sian-jin lalu
mengeluarkan pekik burung untuk memanggil Sin Hong. Ia
sudah merasa khawatir akan keselamatan Sin Hong yang
begitu lama meninggalkannya belum juga kembali.
Akan tetapi dengan girang mereka melihat berkelebatnya
bayangan dan Sin Hong telah berdiri di depan mereka.
"Cepat, kita pargi dulu dari sini !" bisik Sin Hong sambil
mengajak mereka melompat dalam perahu. Sin Hong merasa
girang sekali melihat Wan Sun dan Lee Goat di situ.
"Bagaimana kalian bisa berada di Pek-houw to?" tanya
Sin Hong setelah perahu bargerak cepat meninggalkan pulau
itu.
Sebelum ada yang menjawab, Lee Goat menjatuhkan diri
berlutut di depan kaki gurunya dan menangis tersedu-sedu,
13
tak dapat bicara apa-apa. Sin Hong kaget sekali dan
mengelus-elus kepala muridnya.
"Lee Goat, tenangkan hatimu. Apakah yang telah terjadi
?”
Dengan air mata bercucuran Wan Sun yang juga berlutut
di sebelah isterinya lalu bercerita bagaimana dia dan
isterinya menyerbu pek-houw-to dan tentu mengalami
bencana kalau tidak ditolong oleh Huang-ho Sian-jin,
kemudian dengan suara terputus-putus ia menceritakan
betapa Cui Kong telah menyerang Kim-bun-to dan
mebewaskan banyak orang, diantaranya ayah bunda Lee
Goat dan melukai Li Hwa.
Kalau ada geledek menyambarnya, belum tentu Sin Hong
begitu terkejut seperti ketika mendengar penuturan ini. Ia
mengepal-ngepal tinjunya, wajahnya pucat dan matanya
memancarkan sinar yang menakutkan, giginya
mengeluarkan bunyi karena saling beradu.
"Kong Ji, sampai sekarang kau masih menyebar
kejahatan," kutanya dengan suara mendesis. "Cui Kong si
keparat itu adalah bentukanmu. Aku hersumpah takkan
berhenti sebelum dapat membasmi kalian ......."
Huang-ho Sian-jin menarik napas panjang. “Bagi
manusia yang rendah budinya melakukan kejahatan
merupakan kesenangan. Berbuat keji terhadap sesama
manuais ia anggap perbuatan gagah perkasa, membuat
matanya buta dan mengira bahwa dengan merajalela itu ia
menjadi seorang yang tidak terlawan. Kong Ji seorang
manusia iblis yang bertindak hanya menurutkan nafsu iblia
tanpa mengingat akan perikemanusian. Memang iblis-iblis
berwajah manusia macam dia dan Cui Kong harus dibasmi
dari muka bumi. Sukarnya, mereka mereka memiliki
kepandaian tinggi, apa lagi di sana masih ada Lo thian-tung
Cun Gi Tosu yang lihai sekali....... " Kembali kakek itu
menghela napas.
14
Sin Hong menjadi panas mendengar itu. "Lo-enghiong,
sungguhpun mereka itu lihai, sekali-kali aku tidak takut
menghadapi mereka. Sayangnya Leng-ji berada di tangan
mereka dan inilah yang menghalangi sepak terjangku. Kalau
aku memaksa dan menyerbu, aku takut kalau-kalau mereka
menggunakan Leng-ji untuk malawanku dan sebelum aku
turun tangan mereka dapat mengganggu anakku. Orang
macam Kong Ji takkan segan-segan melakukan perbuatan
keji itu untuk mencapai maksud hatinya." Tiba tiba Sin
Hong menghentikan kata-katanya karena kebetulan sekali
sinar bulan yang sudah mulai keluar itu menerangi muka
Huang-ho Sian-jin !
"Lo.enghiong, kau terluka dalam!"
Datuk bajak itu tersenyum. "Pukulan Kong Ji betul
hebat, sekali pukul saja hawa pukulannya telah
mematahkan dayungku dan melukai dadaku."
Sin Hong adalah seorang ahli pengobatan. Cepat ia
mengeluarkan sebuah pil putih dan memberikan obat itu
kepada Huang-ho Sian-jin. Ia memeriksa nadi tangan kakek
itu, lalu berkata, "Untung kau cukup kuat sehingga tidak
menderita luka hebat." Betul saja, setelah menelan pil itu,
rasa sakit pada dadanya lenyap.
"Habis sekarang bagaimana baiknya, suhu?" akhirnya
Lee Goat dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara sayu.
"Apakah kematian ayah ibuku takkan dapat terbalas?"
"Sabar, Lee Goat. Aku sudah bersumpah takkan berhenti
sebelum dapat membasmi Liok Kong Ji dan kaki tangannya.
Akan tetapi kita harus berhati-hati dan menggunakan siasat
karena adikmu Leng Leng berada di tangan mereka. Akan
kucari kawan-kawan sehingga keadaan kita cukup kuat.
Selagi kawan-kawan menyerbu, diam diam aku akan
berusaha merampas Leng-ji lebih dulu dari tangan mereka."
Demikianlah, dengan hati kecewa tak dapat menolong
puterinya, akan tetapi juga girang dapat menolong Lee Goat
15
dan Wan Sun, Sin Hong mengajak mereka kembali ke
daratan Tiongkok untuk mempersiapkan penyerbuan besarbesaran.
-oo(mch)oo-
Setelah mengalami serbuan Sin Hong, sedikit banyak
timbul kekhawatiran dalam hati Kong Ji, sungguhpun Lo
thian-tung Con Gi Tosu dengan sombong menyatakan bahwa
sanggup mengusir Sin Hong kalau berani muncul lagi.
"Kalau saja Lang Leng tidak menghalangi pergerakanku,
pada waktu itu juga orang she Wan itu tentu sudah
kuhancurkan kepalanya,” ia menyombong.
Pada lahirnya Liok Kong Ji tertawa memuji kelihaian si
kakek buntung, akan tetapi dalam hatinya ia tersenyum dan
tidak percaya. Ia tahu bahwa kepandaian Sin Hong amat
tinggi dan kiranya dia dan kakek buntung itu baru dapat
mengimbangi saja, untuk menang masih merupakan
pertanyaan yang harus dibuktikan kebenarannya. Apa lagi
kalau ia teringat Tiang Bu, bulu tengkak Liok Kong Ji yang
terkenal pemberani itu bisa berdiri meremang. Lima orang
pembantu pembantunya yang amat diandalkan ketika ia
tinagaI di Ui-tiok-lim telah ditewaskan semua oleh Tiang Bu.
Maka setelah Sin Hong pergi, Liok Kong Ji segera keluar dari
pulau dan mendarat, mencari kawan-kawan untuk dijadikan
pembantu-bantunya. Kong Ji pernah menjelajah menjelajah
daerah selatan, maka orang orang dari kalangan liok-lim
hampir semua mengenalnya. Dengan mudah ia dapat
mencari orang.orang yang berilmu tinggi untuk jadi
pembantunya. Siapakah yang tidak suka hidup mewah di
Pulau Pek-houw-to ? Akan tetapi Kong Ji tidak sembarangan
memilih orang, setelah mencari-cari, akhirnya pilihan jatuh
pada tujuh orang saudara seperguruan yang terkenal di
daerah selatan. Mereka disebut Lam-thiam-chit-ong (Tujuh
Raja Dunia Selatan) ! Sebutan raja sudah lajim diberikan
kepada kepala perampok dan memang mereka ini adalah
16
kepala-kepala perampok yang amat terkenal di daerah
Kwang-tung dan Kwang-si. Mereka selalu melakukan operasi
bersama dan yang amat hebat adalah ilmu bertempur
mereka yang disebut Chit-seng-tin )Barisan Tujuh Bintang).
Kalau hanya maju serang demi seorang, kepandaian mereka
biarpun tinggi tidak akan menggegerkan daerah selatan.
Akan tetapi ketika dicoba, Liok Kong Ji sendiri tak dapat
membobolkan barisan Chip-seng-tin dari tujuh orang raja
hutan ini !
Dengan adanya Lam thian-chit-ong di Pulau Pek-houwto,
kedudukan Liok Kong Ji semakin kuat, akan tetapi
daerah pantai timur menjadi makin rusak dan kacau! Dasar
kepala rampok, tujuh orang ini selalu mangadakan
pengacauan, pembunuhan dan penculikan.
Sementara itu, Cui Kong sudah berterus terang di depan
ayah angkatnya tentang hubungannya dengan Ceng Ceng.
"Ayah, diantara semua dara yang pernah kujumpai, tidak
ada yang sehebat Lie Ceng, puteri Pak- thouw- tiauw ong Lie
Kong,” ia menuturkan pertemuannya dengan Cong dan
betapa ia sudah mengajukan lamaran. Kemudian ia
mengemukakan syarat diajukan oleh Lie Kong.
"Calon ayah mertuaku itu mengajukan syarat supaya aku
dapat mengembalikan Pat- siau-jut-bun yang dulu diambil
dari tangan Ceng Ceng oleh Cui Lin dan Cui Kim. Oleh
karena itu, aku mohon ayah suka berikan kitab itu untuk
kukembalikan kepada mereka sehingga aku dengan mudah
dapat menikah dengan Ceng Ceng."
Diam-diam Kong Ji terkejut mendengar nama Pek thouwtiauw-
ong Lie Kong disebut sebagai calon besannya. Ia
mengerutkan alis dan meraba-raba jenggotnya ketika
menjawab. “Anak bodoh. Di antara jutaan anak dara di
dunia ini, mengapa justeru kau memilih anak raja burung
tiauw itu?”
17
"Ayah, anak rasa hal itu malah lebih baik lagi," kata Cui
Kong membujuk karena memang takut sekali kepada Kong
Ji dan tak pernah membantah. "Kalau Ceng Ceng menjadi
isteriku, berarti ia menjadi sekutu yang kuat bagi kita.
Selain kepandaiannya sendiri lumayan, juga di sana masih
ada ayah bundanya, andaikata kita diserang orang dan Ceng
Ceng sampai tertimpa bencana, bukankah itu berarti kita
menarik Pek-thouw-tiauw-ong sebagai kawan untuk
menghadapi musuh? Ayah, Ceng Ceng akan merupakan
sumber bantuan yang kuat untuk kita semua!"
Sepasang mata Kong Ji berkilat kilat dan bergerak ke
kanan kiri cepat sekali, tanda bahwa di balik sepasang mata
itu, otaknya sedang berpikir-pikir, kemudian ia berkata.
“Bagus sekali! Kiranya kau tidak sobodoh yabg kusangka.
Kau boleh bawa kitab Pet-sian jut-bun ke tempat Pek thouwtiauw
ong Lie Kong untuk menyambut isteritmu, akan tetapi
tetap kausembunyikan keadaan dirimu sebenarnya. Kalau
kau sudah kawin, bawa isterimu dan kitab Pat-sian-jut-bun
itu ke sini di luar tahu mertuamu. Dengan demikian, selain
istrrimu bisa membantu memperkuat kedudukan kita,
mertuamu tidak tahu ke mana anaknya pergi. Andaikata dia
kelak mengetahui juga, ia bisa berbuat apa? Malah kita bisa
menariknya sekalian memperkuat kedudukan Pulau Pek
houw-to."
Cui Kong girang bukan main. Setelah menerima kitab itu
dari Kong Ji, ia cepat melakukan perjalanan ke Telaga Poyang
di mana Pek-thouw.tiauw-ong Lie Kong seanak isteri
tinggal untuk sementara waktu. Memang seperti su
dijanjikan, Lie Kong dan anak isterinya perpanjang
tinggalnya di Telaga Po-yang untuk menanti Cui Kong
selama satu bulan. Tentu saja bagi Lie Kong, syarat
mengambil kembali kitab Pat-sian.jut-bun hanya untuk
alasan saja agar puterinya jangan menikah dengan pemuda
tampan yang ia tidak suka itu. Ia tidak percaya bahwa dalam
waktu sebulan pemuda itu akan sanggup mengambil
18
kembali kitab Pat-sian-jut-bun. Kitab itu sudah jarub ke
dalam tangan Liok Kong Ji yang lihai, mana bocah ini dapat
merampasnva kembali?
Akan tetapi alangkah herannya ketika dua puluh lima
bahi kemudian Cui Kong muncul di situ dengan wajah
tampan berseri-seri.
“Apa kau berhasil?" tanya Lie Kong dengan suara ingin
tahu dan tidak percaya, sedangkan Ceng Ceng dan ibunya
inemandang penuh harapan.
“Berkat doa restu dari gakhu (ayah mertua), anak
berhasil merampas kembali kitab Pat-Sian-jut-bun,” kata
Cui Kong dengan suara merendah dan mengeluarkan kitab
itu dari bajunya.
"Itu kitabnya....l" tak
terasa pula Ceng-Ceng
berseru girang mengenal
kitab yang pernah
dipelajarinya itu.
Lie Kong diam.diam
terkejut karena juga
mengenaI kitab itu. Tak
salah lagi. Itulah kitab
pelajaran Ilmu Silat Patsian.
jut-bun dari Omeisan.
“Hemmm, bagus
sekali. Bagaimana kau
bisa mendapatkannya!"
tanyanya sambil
memandang tajam. Untuk
pertanyaan ini, sianasiang
Cui Kong sudah
mempersiapkan
jawabannya maklum bahwa orang seperti Pek-thouw-tiauw19
ong ini tidak mudah dibohongi begitu saja. Tentu Lie Kong
sudah tahu akan kelihaian Liok Kong Ji, maka kalau ia
dapat merampasnya dari Liok Kong Ji, tentu tentu akan
kentara kebohongannya.
"Sesungguhnya tidak mudah anak mendapatkan kitab
ini. Anak menyelidiki dulu dan mendengar bahwa Liok Kong
Ji yang mencuri kitab ini memiliki kepandaian amat tinggi,
juga di sana masih ada Lo-thian to Cun Gi Tosu yang lihai
ilmu silatnya. Dan orang itu sama sekali bukan lawan anak
yang masih bodoh. Mereka tinggal di sebuah pulau di
selatan dan hanya dengan jalan mencuri anak akhirnya
berhasil mendapatkan kitab ini. Anak menyamar sebagat
pedagang ikan, bekerja sama dengan seorang nelayan.
Akhirnya anak berhasil menjual ikan ke pulau itu dan anak
pada malam hari memasuki pulau, menangkap seorang
penjaga dan mamaksa mengaku disimpannya kitab-kitab
pusaka. Demikianlah, memang sudah masib anak yang
sedang baik dan sudah jodoh anak dengan Ceng-moi,
akhirnya dengan susah payah anak dapat mengambilnya.
Hampir anak tewas ketika dikejar oleh Liok Kong Ji dan Cun
Gi Tosu.”
Mendengar penuturan ini, Lie Kong timbul
kepercayaannya. Memang iapun sudah mendengar bahwa
Liok Kong Ji sudah pindah dari Ui tiok-lim ke sebuah pulau
di selatan.
Karena sudah berjanji dan memang ia mulai suka
melihat kecerdikan Cui Kong yang berhasil mendapatkan
kembali kitab itu, Lie Kong menetapkan perjodohan
puterinya dengan Cui Kong dan dirayakan pada waktu itu
juga secara sederhana. Inipun atas pamintaan Cui Kong
sendiri yang menyatakan bahwa tentu Liok Kong Ji dan Cun
Gi Tosu mengejarnya. Kalau pernikahan itu diadakan secara
besar- besaran dan dua orang itu datang, tentu akan jadi
keributan hebat.
20
Maka hanya penduduk di sekitar Telaga Po-yang yang
menjadi tamu untuk menyaksikan perayaan pernikahan itu.
Dapat dibayangkan betapa bahagianya hati Cui Kong
mendapatkan dara pujaannya. Juga Ceng Ceng merasa
bahagia karena ia mengira mendapatkan seorang suami
yang selain tampan, juga berkepandaian tinggi dan dapat
memegang janji. TIdak seperti Tiang Bu yang baruk rupa,
pikirnya puas.
Malam harinya diam-diam Cui Kong menyatakan
kekhawatirannya kepada isterinya. "Liok Kong Ji itu lihai
bukan main." ia ngarang cerita, “ketika ia mengejarku,
dalam sepuluh jurus saja aku sudah hampir celaka. Apa lagi
Cun Gi Tosu, kabarnya lebih lihai dari Liok Kong Ji. Kiranya
gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) sendiri belum dapat
menangkan mereka. Aku khawatir mereka itu segera dapat
menyusul ke sini. Lebih baik kita malam ini pergi saja secara
diam-diam, selain menyembunyikan diri sekalian berbulan
madu. Bukankah akan senang sekali kita pergi berdua
saja?"
Dirayu oleh bujukan-bujukan halus ini hati Ceng Ceng
tertarik. Akan tetapi dia adalah puteri seorang pendekar
besar, keberaniannya luar biasa. Mendengar suaminya
hendak melarikan diri, ia merasa tak puas.
“Mengapa kita begitu takut-takut? Apakah tidak lebih
baik bertanya dulu kepada ayah bagaimana baiknya?
Mustahil kita berempat tak dapat menghadapi mereka."
“Ssst, jangan. Tentu saja gakhu dan gakbo tidak setuju
dan mereka tentu tidak gentar menghadapi Liok Kong Ji dan
Cun Gi Tosu. Akan tetapi aku yang sudah menyaksikan
kelihaian mereka, Iebih tahu. Pula, Liok Kong Ji mempunyai
banyak sekali kawan-kawan yang lihai dan kalau mereka
datang dengan membawa kawan-kewannya, bukankah
kebabagiaan kita sebagai pengantin baru akan terganggu
dan ada kemungkinan aku tewas. Apa kau suka menjadi
janda?”
21
“Tidak...... tidak ! Habis, bagaimana baiknya ?” Ceng
Ceng bingung juga, terpengaruh oleh ucapan suaminya yang
sedang menjalankan siasatnya.
"Kaupercayalah kepadaku, isteriku sayang. Aku suamimu
masa hendak mencelakakan kau dan mertuaku? Aku sudah
mempunyai rencana baik sekali. Mereka itu kalau datang
takkan mengganggu ayah ibumu, karena yang mencuri kitab
adalah aku dan mereka hanya mencari aku seorang. Oleh
karena itu, agar jangan sampai ayah ibumu tertimpa dakwa,
lebih baik kita diam-diam pergi dan kitab itu kita bawa serta.
Kelak kalau sudah aman keadaannya, kita kembali. Tentu
ayah bundamu akan memaafkan buatanku yang hanya kita
lakukan demi menjaga keselamatan dan menjauhi
keributan. Sungguh menyedihkan kalau sepasang pengantin
baru seperti kita yang seharusnya bersenang-senang, sudah
harus menghadapi ancaman musuh-musuh berat.”
Dengan bujukan-bujukan halus dan alasan-alasan kuat,
akhirnya Ceng Ceng tunduk menuruti kehendak suaminya,
biarpun air matanya bercucuran ketika pada tengah malam
ia pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk mengikuti
suaminya !
Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong timbul kembali
kecurigaannya ketika pada keesokan harinya ia
mendapatkan puterinya minggat bersama suaminya,
membawa serta kitab Pat-Sian-jut-bun.
"Hemm, memang aku selalu masih menaruh hati curiga
kepada Cui Kong itu ....” omelnya.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Dia sudah menjadi
mantu kita dan Ceng Ceng juga mencintainya. Kalau mereka
pergi tanpa pamit, tentu ada alasan mereka yang kuat. Aku
dapat menyelami perasaan mantu kita itu. Bukankah dia
selalu kelihatan ketakutan karena sudah mencuri kitab dari
tangan Liok Kong Ji ? Tentu kepergiannya ada hubungannya
dengan hal itu. Mungkin sekali dia tak mau kebahagiaannya
sebagai pengantin terganggu oleh kejaran Liok Kong Ji dan
22
kawan-kawannya maka ia pergi bersama isterinya
manyembunyikan diri.”
"Mengapa kttab itu dibawa dan tidak minta ijin dulu dari
kita?” Lie Kong tetap penasaran.
"Ceng Ceng cerdik dan tentu dia tahu bahwa kalau minta
ijin, kau takkan menyetujui kepergian mereka, maka mereka
terpaksa pergi diam-diam. Adapun tentang kitab itu,
bukankah itu kitab Ceng Ceng karena kau sudah
memberikannya kepada Ceng Ceng?"
"Aku harus mengembalikannya kepada Tiang Bu ..... ."
"Ala, kau masih teringat terus kepada bocah itu,”
isterinya mengomel, kemudian ibu yang selalu melindungi
anaknya ini berkata, "Kukira mantu kira sengaja membawa
kitab agar Liok Kong Ji tidak tahu bahwa ia mencuri kitab
itu atas parintahmu."
Betapapun juga Lie Kong berkeras mengajak isterinya
mencari jejak anak dan mantunya. Isterinya setuju karena
mereka amat sayang kepada Ceng Ceng dan takut kalau
anak tunggal mereka itu menghadapi bahaya.
-oo(mch)oo-
Ceng Ceng melakukan perjalanan penuh kebahagiaan
dengan Cui Kong. Memang Cui Kong seorang yang pandai
sekali merayu hati wanita sehingga Ceng Ceng merasa
bahwa ia telah mendapatkan seorang suami yang betul-betul
tepat dan menyenangkan hati. Selama dua bulan Iebih, Cui
Kong mengajak isterinya berpesiar dan sepasang suami isteri
ini kelihatan rukun dan saling mencinta. Hari-hari dilewati
penuh madu oleh Ceng Ceng yang tidak tahu sama sekali
bahwa ia sedang dituntun oleh suaminya ke Pulau Pekhouw-
to.
Ia hanya merasa heran ketika suaminya mengajaknya ke
pantai selatan dan kemudian membawanya ke pantai yang
23
sunyi. Di sana telah menanti dua orang dengan perahu yang
siap hendak membawa suami isteri ini ke Pek-houw-to.
“Kira tendak pergi ke manakah ? Dan siapa mereka itu
yang sudah menyediakan perahu untuk kita?” tanyanya
terheran-heran.
"Bergembiralah, niocu. Kau akan kuajak menghadap
ayah angkatku.”
“Ayah angkatmu….? Jadi kau mempunyai ayah angkat?
Siapa dia dan mengapa dulu tidak menguruskan
pernikahanmu ?”
Akan tetapi Cui Kong tidak menjawab karena mereka
sudah tiba di dekat dua orang yang menanti dengan perahu.
“Kongcu sudah pulang dengan isterinya. Selamt datang,
selamat datang !” dua orang itu menyambut. Mata mereka
memandang pada Ceng Ceng dengan cara yang membuat
Cang Ceng mendongkol.
Cui Kong tersenyum kepada dua orang itu lalu berkata,
'Kalian pergilah, kami hendak menggunakan perahu ini
berdua.”
Dua orang itu tersenyum maklum dan pergi sambil
tertawa-tawa. Ceng Ceng makin heran melihat sikap Cui
Kong ini. Orang macam apakah ayah angkatnya ? Mengapa
sikap Cui Kong seperti seorang pangeran saja dan dua orang
tadi lagaknya lebih pantas kalau menjadi anak buah ..........
perampok!
"Kita ke manakah? Siapa itu ayah angkatmu ?”tanyanya,
hatinya tak enak.
Cui Kong menggandeng tangan isterinya diajak melompat
ke dalam perahu, lalu mendayung perabu itu ke tengah dan
memasang layar. Setelah perahu melaju ke arah timur
barulah ia berkata sambil tersenyum dan memegang kedua
tangan isterinya,
24
“Niocu. belutn lama aku mendapatkan ayah angkat ini,
kerenanya dulu belum kuceritakan padamu. Baru ketika
aku mencuri kitab itu aku bertemu dengan dia, bahkan
hanya karena pertolongan ayah angkatku maka kita dapat
menikah.”
“Apa maksudmu?”
“Hanya dengan perlolongannya maka kitab itu bisa
terjatuh ke dalam tanganku.”
"Siapakah dia? Apakah dia tiaggi sekali ilmu
kepandaiannya?”
"Sangat tinggi, kiranya tidak kalah oleh gakhu dan gakbo.
Kautunggulah saja sebentar lagi kau tentu akan berhadapan
dengan ayah agkatku."
Diam-diam Ceng Ceng menduga-duga tidak mau
mendesak karena takut dianggap tidak sabaran oleb
suaminya. Ia hanya menduga bahwa ayah angkat suaminya
ini tentu seorang kepala bajak seperti Huang-ho Sian-jin.
Akan tetapi kalau lihainya tidak kalah ayah bundanya.
siapakah gerangan orang itu ? Kiranya di antara para bajak,
Huang-ho Sian-jin yang paling lihai dan orang inipun tidak
dapat menangkan ayahnya. Apakah ada bajak laut yang
tidak terkenal di dunia liok-lim dan yang kepandaiannya
sangat tinggi? Mungkin sekali karena ayahnya sendiri sering
berkata bahwa dunia ini terdapat banyak sekali orang
pandai”.
Lebih tebal lagi dugaannya bahwa ayah angkat itu tentu
seorang kepala bajak ketika perahu itu mendarat di pulau.
Belasan orang anak buah yang kelihatannya kasar-kasar
tertawa-tawa menyambut kedatangan “kongcu” mereka.
Yang mengepalai pasukan penyambut ini adalah tujuli orang
setengah tua yang pakaiannya aneh sekali. Pakaian mereka
itu menyolok sekali warnanya, barbeda-beda pula. Ada pula
yang seluruhnya merah, ada yang putih, hitam, hijau, dan
coklat ! Tujuh orang dengau tujuh macam warna pakaian,
25
benar-benar seperti badut-badut hendak main di panggung.
Diam-diam Ceng Ceng yang berwatak riang itu menahan geli
hatinya agar jangan meledak ketawanya. Dia sama sekali
tIdak tahu bahwa tujuh orang badut itu bukan orang orang
biasa, melainkan jago-jago yang belum lama ini ditarik oleh
Liok Kong Ji ke Pulau Pek-houw-to. Mereka itulah Lamthian-
ebit ong (Tujuh Raja Dunia Selatan ) yang amat
terkenal dengan barisan Chit-seng- tin (Barsan Bintang)
mereka !
“Ha ha ha, kionghi (selamat) Liok-kongcu! Isterimu benarbenar
cantik jelita dan langkahnya ringan seperti seekor
burung, tentu memiliki ginkang yang luar biasa.” Terdengar
si baju merah berkata sambil bergelak. Yang lain juga ikut
tertawa dan mata mereka memandang kepada Ceng Ceng
penuh selidik sepeti mata penaksir-penaksir yang kurang
ajar.
Bukan main mendongkol dan marahnya hati Ceng Ceng
mendengar kata-kata dan melihat sikap yang kurang ajar
itu. Akan tetapi keheranan dan kekagetannya mendengar si
baju merah menyebut Liok-kongcu kepada suaminya,
mengatasi kemarahannya dan ia menoleh memandang
kepada suaminya dengan muka berubah.
Akan tetapi sambil tersenyum lebar Cui Kong
menggandeng tangannya dan memberi isyarat untuk
menghadap dua orang yang mendatangi dengan langkah
lebar. Mau tak mau Ceng Ceng memandang ke arah mereka.
Ia melihat seorang tosu buntung sebelah kaki dan seorang
setengah tua bertubuh jangkung kurus dan berpakaian
mewah, pada muka dan dandanannya menandakan bahwa
dia seorang pesolek mata keranjang. Dua orang sedang
memandang kepadanya dengan penuh selidik pula.
"Niocu, itulah ayah angkatku dan yang seorang adalah
guruku," kata Cui Kong perlahan. "Lekas memberi hormat
kepada mereka." Sedangkan dia sendiri sudah berkata
sambil memberi hormat, "Ayah dan suhu."
26
Akan tetapi Ceng Ceng berdiri seperti patung, mukanya
pucat sekali, direnggutnya tangannya terlepas dari
gandengan suaminya dan ia memandang kepada Liok Kong
Ji sambil bertanya, suaranya gemetar,
“Siapa ..... siapa kau .........?”
"Cui Kong, mengapa isterimu begini tidak tahu aturan?"
Kong Ji mecela sambil mengerutkan kening.
Cui Kong membujuk isterinya, "Niocu, ayah adalah Liok
Kong Ji yang dikenal sebagai Thran.te Bu tek Taihiap ! Dan
suhu adalah Lo-thian Tung Cuu Gi Tosu. Hayo lekas beri
hormat !”
Penjelasan ini memasuki telinga Ceng Ceng seperti
geledek menyambar. Ia menoleh kepada Cui Kong, matanya
terbelalak lebar. “Kau........ kau........... !"
“Tiba-tiba Ceng Ceng menyerang dengan ganasnya ! Cui
Kong mengelak dan berkata, suaranya mengandung
penyesalan besar, "Niocu, jangan begitu.......... kau kan
isteriku ...... .?"
Akan tetapi Ceng Ceag tidak perduli, melihat suaminya
melompat jauh, ia membalik dan kini menyerang Liok Kong
Ji yang berada paling dekat ! Bahkan ia memukul sambil
mencabut pedangnya, laIn menyerang kalang-kabut dengan
nekat sekali.
"Niocu. jangan.... ah, isteriku kau sabarlah …….!” Cui
Kong membujuk, suaranya betul betul bersedih. Untuk
pertama kali dalam hidupnya Cui Kong jatuh cinta dan ia
betul-betul merasa berduka melihat isterinya memusuhi dia
dan ayahnya.
Liok Kong Ji tentu saja merasa malu dan rendah kalau
harus melawan wanita muda yang menjadi mantunya. ia
melompat mundur dan berkata kepada Lam thiab chit ong,
"Chit-ong, kalian cobalah anak mantu ini. Dia perlu dibuka
27
matanya, bahwa kita tak boleh dipandang rendah, akan
tetapi jangan ganggu dial"
Sambil tertawa-tawa tujuh orang yang berpakaian tujuh
macam warna itu sagera bergerak maju mengurung Ceng
Ceng dalam bentuk sena (Bintang Purnama). Ceng Ceng
semenjak kecilnya memang seorang yang berjiwa gagah dan
tidak mengenal takut, maka melihat tujuh orang aneh telah
mengepungnya, ia lalu memutar pedangnya dan menyetang
dengan jurus jurus yang paling berbahaya. Ia memang
cerdas dan maklum bahwa menghadapi sebuah (barisan), ia
harus mencoba untuk membobolkan satu bagian agar dapat
keluar dari kepungan. Oleh karena itu ia sengaja menyerang
baju marah untuk membuat Iawan ini terluka atau keluar
dari barisan. Akain tetaspi, ia tidak sangka bahwu tin itu
memang luar biasa sekali. Begitu melihat Ceng Ceng
mendesak si baju merah, tin berubah dengan cara yang tak
disangka-sangka, dan kini menjadi bentuk Bi-se (Bintang
Buntut)! Si baju merah sudah hilang dan yang
menghadapinya kini si baju hijau. Juga tujuh orang itu
sudah melolos senjata mereka, yaitu sebatang cambuk
panjang dengan warna yang berbeda dari pakaian mereka. Si
baju marah memegang cambuk hijau, si baju hijau
memegaug cambuk hitam, dan begitu seterusnya. Benarbenar
warna yang belang-bentong itu membuat orang yang
terkepung menjadi silau dan bingung. Berkelebatnya
cambuk dan pakaian mendatangkan warna-warna yang
bertentangan dan amat sukar bagi Ceng Ceng untuk
mengetahui lawan seorang demi seorang dan akhirnya
terpaksa ia menghapi tujuh orang itu sekaligus. Tentu saja
ia payah baginya. Menghadapi seorang-seorang saja kiranya
baru berimbang, sekarang menghadapi tujuh orang
sekaligus yang bergerak menurut pergerakan bintang, aneh
dan kadang-kadang ajaib perubahan perubahannya.
Ceng Ceng betul-betul dipermainkan. Sejurus
menghadapi baju merah. jurus berikutnya sudah bertemu
baju hitam. Menangkis cambuk hijau. di lain saat cambuk
28
kuning sudah menyambar ! Pandang matanya sudah
berkunang-kunang dan belum lewat tiga puluh jurus
tenaganya sudah habis. Akhirnya Ceng Ceng menjadi makin
pening ketika barisan itu tiba-tiba berpular-putar, membuat
warna aneka macam berputaran di depan matanya, Sambil
mengeluh yang merupakan isak dari hancurnya hati dan
perasaannya, pedang Ceng Ceng terlepas dan ia sendiri jatuh
mendeprok tak bertenaga lagi, mendekam di dalam lingkaran
dan menangis !
“Cukup !!" Cui Kong berseru dan melompat menghampiri
isterinya. Sambil tertawa-tawa Lam thian-chit-ong
mengundurkan diri dengan bangga. Untuk kesekian kalinya
Chit seng-tin mereka mengalahkan lawan dengan amat
mudah.
Cui Kong memeluk lalu memondong tubuh isterinya yang
sudah lemah tak bertenaga dibawanya lari memasuki pulau
menuju pondoknya. Ceng Ceng masih terus menangis sedih.
Setelah oleh suaminya di turunkan di atas pembaringan
dalam pondok Cui Kong yang indah dan mewah, baru Ceng
Ceng mengeluarkan suara, mengeluh dan menangis.
"Kau ...... kau orang jabat.......... kiranya kau anak
manusia iblis she Liok itu.......... aku lebih baik aku mati
saja…..”
Cui Kong memeluk isterinya dan membujuk dengan katakata
menghibur.
"Niocu, isteriku sayang, jangan kau terbuai nafsu. Dengar
dulu kata kataku, kau salah sangka.......... “
Ceng Ceng membuka matanya, memandang benci dan air
matanya bercucuran.
“Salah sangka apa lagi. Sudah lama mendengar ayah
menyebut-nyebut adanya manusia iblis Liok Kong Ji dan
kaki tanganya. Bahkan kitabku yang mancuri juga kaki
tangannya Liok Kong Ji. Kemudian kau datang.... kau
membohong, kau bilang berhasil rampas kitab, tidak
29
tahunya.......... ya Thian Yang Maha Kuasa.......... tak
tahunya kau.......... malah anaknya........!” Kembali Ceng
Ceng menangis.
“Ceng Ceng isteriku. Dengarlah dulu. Tak kusangkal
bahwa aku sekarang menjadi putera Liok Kong Ji, akan
tetapi tadinya aku benar orang she Kwee. Aku hanya anak
angkatnya apa kaukira aku dengan mudah dapat mencuri
kitab itu dari tangannya kalau dia tidak mengambil anak
padaku. Dia suka kepadaku dan mengaku anak, kaulihat
dia seorang gagah perkasa dan seorang ayah amat baik.”
“Ayah bilang Liok Kong Ji adalah penjahat yang paling
keji di kolong langit !" Ceng Ceng membantah.
“Memang banyak orang yang salah sangka. Gak-hu juga
belum melihat sendiri maka menyangka demikian. Orang
baik selalu dikabarkan buruk, itu sudah jamak. Kau lihat
sendiri, begitu bertemu dia mengaku anak padaku, dan
memberikan kitab supaya aku dapat berjodoh dengan kau.
Sekarang kau datang-datang menghina dan menyerangnya,
namun ia tidak mau turun tangan sendiri, hanya menyuruh
Lam-thian-chit ong melayanimu, itupun dengan pesan
supaya kau tidak diganggunya. Bukankah semua itu
menunjukkan bahwa ayah seorang yang berhati baik ?"
Biarpun puteri seorang pendekar sakti, namun Ceng
Ceng sebetulnya masih anak-anak, masih hijau. Mana bisa
ia dapat menghadapi Cui Kong yang cerdik dan licin?
Bujukan-bujukan suaminya ini mulai termakan olehnya dan
membuat ia agak terhibur, berkurang kecewa dan sesalnya.
“Akan tetapi mengapa kau mengajakku ke sini ? Ini
tempat apa dan apakah ayah angkatmu itu menjadi bajak
laut ?” tanyanya dengan mata merah dan pipinya masih
basah.
Sambil tersenyum Cui Kong mengusap isterinya,
membersihkan air mata dan mengelus-elus rambut yang
kusut "Sama sekali tidak, isteriku. Ayah angkatku bukan
30
penjahat, juga bukan bajak atau perampok. Kau tahu,
banyak sekali orang jahat di dunia yang memusuhi ayahku.
Oleb karena sudah bosan dengan segala macam
pertempuran, lalu pindah ke pulau ini dan tidak mau
memusingkan diri dengan urusan dunia lagi, dan menikmati
kebahagiaan di tempat sunyi ini."
Memang sesungguhnya dalam pandangan Cui Kong,
orang reperti Liok Kong Ji itu sama kali tidak jahat.
Bagaimana dia akan menganggap jahat kalau Kong Ji
bersikap baik terhadapnya ? Pula, sudah lajim di dunia ini
bahwa tidak ada manusia yang dapat melihat keburukannya
sendiri. Jangankan melihat keburukan diri sendiri, baru
melihat dan mencari kesalahan sendiri saja sudah sama
sukarnya dengan jalan menuju sorga. Kalau semua orang di
dunia ini dapat melihat dan mengetahui kejahatan dan
keburukan sendiri, kiranya dunia takkan sekacau ini !
Melihat sikap suaminya yang sungguh sungguh dan
mendengar kata-kata manis dari Cui Kong yang memang
pandai bicara, Ceng Ceng terpengaruh dan terhibur.
Memang masih ada ganjalan kecewa dalam hatinya bahwa ia
harus tinggal di satu pulau dengan "ayah mertua" seperti
Liok Kong Ji yang amat dibenci ayahnya, akan tetapi asal
Cui Kong orang baik-baik, yang lain ia tidak perduli.
Akan tetapi setelah beberapa bulan tinggal di situ, hati
Ceng Ceng menjadi makin hancur menyaksikan hal-hal yang
berlawanan dengan perasaan hati dan nuraninya. Apa lagi
penculikan-penculikan terhadap gadis-gadis pantai, benarbenar
membuat ia marah dan mendongkol sekali. Akan
tetapi apa dayanya? Suaminya sendiri kelihatan amat takut
terhadap Liok Kong Ji dan iapun tahu bahwa dia dan
suaminya sama sekali bukan lawan mereka itu.
Penghibur satu satunya bagi Ceng Ceng adalah Leng
Leng, bocah perempuan yang tinggal di situ. Apa lagi ketika
ia tahu bahwa Leng Leng adalah puteri Wan Sin Hong. Ia
makin sayang kepada anak itu dan boleh dibilang semenjak
31
Ceng Ceng berada di situ, Leng Leng selalu berada di
sampingnya. Karena tahu bahwa ini merupakan hiburan
besar bagi si anak mantu, Liok Kong Ji membiarkannya saja.
Andaikata Ceng Ceng hendak memberontak, nyonya muda
itu bisa apakah? Hiburan ke dua bagi Ceng Ceng adalah
betapapun juga, suaminya amat mencinta dan menuruti
segala kehendaknya. Benar-benar terhadap Ceng Ceng, Cui
Kong selalu bersikap halus dan lemah lembut, cintanya
terhadap isteri ini sungguh-sungguh, tidak seperti terhadap
wanita yang lain yang sudah-sudah.
Beberapa bulan kemudian, selagi Ceng Ceng bermainmain
dengan Leng Leng di pantai utara yang sunyi,
mengumpulkan bunga-bunga liar yang amat banyak karena
waktu itu musim bunga telah tiba, terdengar Leng Leng
berseru girang.
"Burung bagus...... burung bagus........!”
Ceng Ceng yang sedang duduk melamun melihat bocah
itu bermain-main sambil memetik kembang, tersadar dari
lamunannya dan sekarang, ia melihat seekor burung besar
terbang di atasnya.
"Tiauw-ko (kakak burung rajawali)! !" serunya kaget,
heran dan girang.
Suaranya terdengar oleh burung itu dan sekaligus
binatang ini mengenal suara majikan mudanya. Dengan
gerakan indah sekali menukik lalu melayang turun.
“Burung bagus.......... bibi, tangkap dia, berikan
padaku.......... !" kata Leng Leng sambil berlari rnendekat.
Ceng Ceng tersenyum dan kagum melihat keberanian
bocah itu, tidak seperti bocah perempuan lain yang biasanya
takut melihat burung besar.
"Kau tidak takut, Leng-ji ?”
32
"Tidak, burung bagus!" kata Leng Leng yang mendekati
dan mengelus-elus bulu di dekat kaki burung itu. Ia kalah
tinggi, hanya bisa mengelus bulu di dekat paha.
“Tiauw-ko. ...... bagaimana kau bisa ke sini? Mana ayah
dan ibu........ ? tanya Ceng Ceng sambil memeluk leber
burung itu, lupa bahwa tentu saja binatang itu tak dapat
bicara. Pek-thouw-tiauw itu hanya menggerak-gerakkan
kepalanya yang putih dan mengeluarkan bunyi lirih, kadangkadang
melirik ke arah Leng Leng karena belum pernah ia
mengenal bocah ini.
Tiba-tiba Ceng Ceng mendapat pikiran bagus. Kalau pekthouw-
tiauw berada di situ, tentu ayah ibunya juga tidak
jauh. Cepat ia memetik sehelai daun yang lebar, mengguratgurat
dengan kukunya menulis beberapa huruf. Tulisan itu
hanya berbunyi; "AKU BERADA DI PEK-HOUW T0."
"Tiauw-ko, bawa daun ini pada ayah ibu. Mengerti ?
Berangkatlah !” ia menepuk punggung burung itu yang
segera menyambar dan mementang sayap terbang cepat
sekali.
"Bibi, burungnya mengapa terbang pergi…! teriak Leng
Leng.
“Nanti dia kembali lagi, Leng-ji.”
Dugaan Ceng Ceng memang tepat sekali.
Burung pek-thouw-tiouw yang dua ekor milik Lie Kong
itu memang tak pernah jauh dari majikannya. Pada saat itu.
Lie Kong dan Souw Cui Eng isterinya tengah berlayar dengan
sebuah perahu kecil. Berhari-hari mereka lakukan
penyelidikan dengan perahu ini untuk mencari Pek-houw-to.
Suami isteri pendekar ini mempunyai hubungan luas di
kalangan kang-ouw. Mereka sendiri adalah pendekarpendekar
pantai timur dan semua orang gagah, dari
kalangan kang-ouw maupun liok-lim hampir semua kenal
mereka. Ketika mereka mencari puteri mereka yang minggat
33
di daerah selatan, mereka bertemu dengan orang-orang liok
lim yang langsung memberi selamat kepada mereka yang
sudah berbesan dengan Thian-te Bu tek Tai-hin Liok Kong
Ji. Malah Seng-jiu-sin touw Si Malaikat Copet, seorang
maling besar bernama Tang Liok, dengan wajah berseri
memberi selamat sambil menegur, “Tai-hiap mengawinkan
puterinya mengapa lupa kepada Seng-jiu-sin touw?"
Hampir saja Lie Kong menampar muka orang ini kalau
saja ia tidak menyabarkan diri, “Kalian ini bicara apa?
Jangan main-main. Siapa yang berbesan dengan Liok Kong
Ji?"
Orang-orang liok-lim itu saling pandang dengan heran.
"Taihiap, bukankah puterimu berjodoh dengan Liok Cui
Kong putera angkat Liok-taihiap? Aku melihat sendiri
puterimu sekarang berada di Pek-hauw-to bersama suami
dan mertuanya."
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati suami isteri itu
mendengar keterangan ini. Tanpa memandang waktu lagi
mereka lalu pergi ke pantai dan dengan sebuah perahu
mereka mencari Pulau Pek-houw to. Karena marah dan malu
mereka enggan bertanya kepada orang-orang liok-lim ini dan
berusaha mencari sendiri pulau itu. Jarang suami isteri ini
bicara, namun dari air mata yang selalu membasahi pipi
Souw Cui Eng dan sinar mata suram dan kadang-kadang
marah dari Lie Kong, dapat dibayangkan bahwa dua orang
ini menderita kesedihan dan kemarahan besar. Mereka sadar
sekarang bahwa mereka telah dipermainkan dan ditipu oleh
pemuda yang sekarang menjadi suami Ceng Ceng itu.
“Aku akan membunuhnya ...... “ berkali-kali Lie Kong
berkata perlahan.
Isterinya bergidik mendengar suara yang mengandung
ancaman pasti ini,
“Akan tetapi dia anak kita .....”
34
“Lebih baik Ceng Ceng tak bersuami atau mati dari pada
menjadi menantu Liok Kong Ji manusia iblis!”
Souw Cut Eng tak berani membantah lagi, hanya sering
kali menangisi nasib putri tunggalnya. Juga ia marasa
menyesal mengapa dulu tidak sewaspada suaminya yang
selalu menaruh hati curiga kepada pemuda tampan itu.
Memang dalam menilai seorang pria, wanita kurang waspada
dan hanya seorang laki-laki pula yang dapat mengetahui
sifat baik buat seorang calon mantu laki-laki.
Burung.burung Pek-Inouw-tiauw peliharan Lie Kong
adalah burung yang cerdik. Dalam mencari Pulau Pek-houw
to, Lie Kong melepas burung jantannya dan berkata, "Tiauwji,
terbanglah dan mencari Ceng Ceng !”
Pek-thouw-tiauw tentu saja tidak bisa bicara akan tetapi
burung ini sudah sering kali mendengar perintah Lie Kong.
Kini mendengar disebut nama Ceng Ceng yang dikenal baik,
agaknya ia tahu bahwa ia harus mencari majikan mudanya
itu, maka terbanglah ia tiggi di udara mengelilingi kepulauan
yang berkelompok di deerah itu. Melihat sebuah pulau yang
didiami manusia dan ada rumah-rumahnya, ia melayang
turun dan terbang rendah di atas pulau sampai akhirnya ia
terlihat oleh Leng Leng dan Ceng Ceng.
Dengan cepat sekali burung rajawali itu terbang tinggi
kembali ke perahu majikannya dan menukik turun. Sambil
mengeluarkan bunyi kegirangan ia melepaskan daun di
depan kaki Lie Kong dan Souw Cui Eng yang sudah
memburu keluar.
Lie Kong menyambar daun itu dan membaca. Wajahnya
bersinar girang setelah membaca huruf-huruf “AKU BERADA
DI PEK-H0UW TO” itu.
"Dia benar berada di sana!” katanya girang dan juga
gemas. Tadinya ia masih setengah mengharapkan bahwa
keterangan orang-orang liok-lim itu keliru. Kini tak bisa
salah lagi, Ceng Ceng benar benar telah menikab dengan
35
putera angkat Liok Kong Ji. Tulisan di atas daun itu benar
tulisan anaknya. Souw Cui Eng tak dapat berkata apa-apa,
mukanya pucat.
"Tiauw-ji, antar kami ke tempat Ceng Ceng !”
Burung itu lalu terbang diikuti burung betina, Lie Kong
memasang layar mengikuti kemana terbangnya kedua ekor
burungnya. Tak lama kemudian ia sudah minggirkan
perahunya di daratan Pulau Pek-houw-to ! Dengan penuh
perasaan marah suami isteri ini melompat ke darat dan
berlari mengikuti arah thouw-tiauw terbang.
Kedatangan burung rajawali yang besar sudah terlihat
oleh Liok Kong Ji.
“Suruh isterimu dan Leng Leng berdiam dalam rumah
saja dan mari kita menyambut mereka,” kata Liok Kong Ji
tenang-tenang saja. “Sedapat mungkin kita bicara damai dan
menarik mereka. Kalau mereka sayang anak tentu mereka
suka berdamai."
Pek- thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri maklum
bahwa memasuki pulau itu berarti menghadapi bahaya
basar karena mereka sudah mengenal sifat jahat dan curang
dari orang macam Liok Kong Ji. Namun dengan amat tenang
Lie Kong dan isterinya berjalan mengikuti terbangnya
rajawali di atas.
Bahkan ketika tiba tiba muncul Liok Kong Ji dengan Cui
Kong di sebelah kiri dan Cun Gi Tosu di sebelah kanan,
suami isteri pendekar itu masih nampak tenang saja, terus
melangkah maju dengan tindakan kaki tenang. Melihat tiga
orang ini muncul diikuti oleh tujuh orang di sebelah
belakang dan belasan orang lain merupakan pasukan di
bagian paling belakang, dua ekor burung pek-thouw-tiauw
terbang berputaran di atas, nampaknya bingung dan gelisah.
Dengan air muka ramah tamah dan tersenyum-senyum,
Liok Kong Ji melangkah maju menyambut kedatangan suami
isteri itu dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
36
"Selamat datang saudara-saudara besan yang gagah
perkasa ! Benar-benar merupakan kehormatan besar sekali
bahwa jiwi sudi mengunjungi pulauku yang buruk. Memang
setelah antara kita ada ikatan kekeluargaan, habungan perlu
dipererat. Silakan beristirahat di pondokku yang butut."
Lie Kong tetap tenang, namun sepasang matanya
memancarkan sinar kilat, yang menyambar ke arah Cui
Kong dan membuat orang ini berdebar jantungnya. Melihat
sikap tenang dan dingin dari mertuanya ini, diam-diam ia
gentar juga.
“Liok Kong Ji, biarpun jalan hidup antara kita jauh
berbeda, akan tetapi tidak pernah ada persoalan antara kita
sampai kau menyuruh orang mencuri kitab dari tangan
anakku kemudian…….” Mata Lie Kong melirik ke arah Cui
Kong penuh kebencian, "kemudian kau membiarkan
anakmu menipu kami, malah kau membantunya. Liok Kong
Ji, setelah dosa dan penghinaan yang kaulakukan atas diri
kami, masihkah kau harus berpura-pura berramah-tamah
dan sopan-santun ?"
Kata-kata yang keluar dari mulut Lie Kong tetap
dilakukan dengan tenang, akan tetapi seluruh perasaan dan
urat di tubuh pendekar ini sudah siap untuk segera turun
tangan.
Juga Liok Kong Ji bersikap tenang begitu pula Cun Gi
Tosu. Hanya Cui Kong yang tampak makin gelisah saja.
Kong Ji tersenyum mendengar ucapan Lie Kong tadi, lalu
menjawab.
"Pek-thouw-tiauw-ong Lie Kong, dua urusan yang
kausebut-sebut itu adalah urusan anak-anak, sama sekali
tidak ada sangkut-paut dengan hubungan antara kau dan
aku. Memang, betul kitab yang kaudapat dari Omei-San itu
pernah diambil oleh puteri angkatku. Maklumlah anak-anak
selalu ingin memiliki barang aneh orang lain, jangankan
anak-anak, bahkan calon kakek-kakek macam kitapun
masih ingin memiliki kitab kitab Omei-san, ha-ha! Akan
37
tetapi harap kaumaafkan dua orang puteri angkatku itu
karena mereka sudah meninggal dunia dalam usia muda.
sayang. Adapun tentang soal ke dua. Bagaimana kau
menganggap itu penghinaan ? Itupun urusan anak-anak
urusan anakmu dan putera angkatku. Sudah lumrah dua
orang muda saling mencinta kita orang orang tua mana bisa
ikut-ikutan. Puterimu suka menjadi isteri puteraku yang
mencintainya. Sekarang mereka sudah menjadi suami isteri
yang hidup bahagia di sini, apa lagi urusannya?”
Sebagai jawaban, tiba-tiba Lie Kong mencabut
pedangnya, diturut oleh isterinya. Dua ekor burung rajawali
kepala putih mengeluarkan bunyi keras menantang ketika
melihat majikan-majikan mereka telah siap dengan pedang
di tangan. Dua ekor burung ini siap-siap membantu Lie
Kong.
“Liok-Kong Ji, tak perlu kau memutar lidah. Siapa sudi
mendengar omongan orang yang terkenal curang dan licik
seperti kau ?” bentak Lie Kong.
"Lie Kong, kau man apakah ?” Liok Kong habis sabarnya
melihat tamu-tamunya mencabut pedang.
"Aku datang untuk mengajak pulang puteri kami dan
menyeret anjing biadab ini!" Dengan pedangnya Lie Kong
menuding ke arah Cui Kong yang menjadi pucat dan orang
muda ini tanpa terasa lagi melangkahkan kaki berdiri di
belakang ayah angkatnya.
"Oho-ho, mudah amat kau bieara !" Liok Kong Ji
mengejek. "Puterimu itu sudah menjadi isteri anakku. Orang
pertama yang berhak adalah Cui Kong, orang kedua adalah
aku sendiri karena aku ayah mertuanya. Dengar jawabanku,
Lie Kong. Ceng Ceng tIdak bisa kaubawa dan tentang
ancamanmu kepada puteraku, hemm, aku sabagai ayahnya
tentu takkan berpeluk tangan kalau kau hendak
mengganggunya."
38
"Bagus! Memang sudah lama aku menahan-nahan
dorongan hati yang hendak memberi hajaran kepada
manusia iblis Liok Kong Ji. Majulah, mari kita bertempur
seribu jurus untuk inenentukan siapa yang lebih unggul.”
Lie Kong menantang.
"Ha-ha, kaukira mudah saja mengadu ilmu kepandaian
dengan aku? Orang yang tidak memiliki kepandaian berarti
mana ada harga untuk bertanding dengan aku atau Cun Gi
Totiang?" Liok Kong Ji memberi isyarat dan majulah Lamthian-
chit-ong. Dengan gerak cepat dan indah mereka telah
membentuk barisan bintang menghadang di depan Lie Kong
dan Souw Cui Eng.
Melihat tujuh orang berpakaian tujuh warna dan bentuk
barisan mereka, Lie Kong tersenyum mengejek. "Eh, kiranya
Lam thian chit-ong sekarang juga sudah menjadi begundal
manusia iblis she Liok !"
Si baju merah mewakili saudara-saudaranya menjawab,
“Sudah lama kami mendengar nama besar Pek thouw tiauw
ong suami isteri. Kini bertemu ternyata yang besar adalah
mulutnya, tidak tahu sampai di mana kepandaiannya atau
tidak sebesar mulutnya, benar-benar amat menggelikaan !”
Enam orang yang lain tertawa mengejek.
Merah muka Lie Kong mendengar hinaan ini. Ia memberi
isyarat kepada isterinya dan suami isteri ini melangkah maju
berdampingan dengan pedang di tangan, sikap mereka
tenang akan tetapi gagah sekali.
Adapur Lam-thian-chit-ong juga sudah bergerak
membentuk lingkaran barisan bintang mengurung dua orang
lawan itu. Mereka berlaku amat hati-hati dan sudah
mempersiapkan senjata mereka yang lengkap, yaitu di
tangan kiri sebuah pisau pendek dan di tangan kanan
cambuk berwarna yang amat lihai. Mereka mulai bergerak,
berjalan perlahan mengitari dua orang itu. Inilah
pembukaan Chit-san-tin (Barisan Tujuh Bintang) dan
39
gerakan berjalan mengelilingi lawan ini disebut Tujuh
Bintang Mengitari Bulan.
Lie Kong mombisiki isierinya snows ma. berdiri saling
membelakangi, dengan eara ini suami Wert Ira dapat siding
molls. ungi serangan lawan dart belakang.
Melihat kedudukan suami isteri ini yang bersikap tenang
dan masih menanti gerakan barisan yang masih berlarian
mengitari mereka, tujub orang itu mempercepat larinya dan
tiba-tiba si baju merah memberi tanda, cambuknya
menyambar melakukan serangan pertama, disusul oleh
saudara-saudaranya.
Namun Lie Kong dan Souw Cui Eng sudah siap dengan
pedang mereka dan cepat ia menangkis sambil mengerahkan
tenaga. Cambuk yang ditangkis oleh Suuw Cui Eng terpental
saja, akan tetapi yang terkena tangkisan pedang Lie Kong,
merasa telapak tangan mereka sakit dan tergetar ! Tujuh
orang itu masih melanjutkan serangan mereka dengan cara
bergantian sambil bergerak memutar sehingga sepasang
suami isteri merasa ada serangan dari sekeliling mereka juga
cambuk-cambuk yang beraneka warna itu mendatangkan
sinar menyilaukan dan membingungkan.
Namun Lie Kong cepat sekali gerakan pedangnya. Pedang
di tangannya mematahkan serangan lima orang lawan
sehingga isteri yang tingkat kepandaiannya jauh lebih
rendah dari padanya hanya melayani dua batang dambuk
lawan. Di samping semua serangan ini sinar pedang suami
isteri ini masih mampu melakukan serangan balasan yang
membuat para lawannya terkejut. Mereka bergerak memutar
lebih cepat lagi sehingga Lie Kong maupun isterinya tidak
mampu melakukan desakan pada seorang saja, melainkan
harus melayani tujuh orang secara bergiliran.
Terpaksa Lie Kong dan Sauw Cui Eng memutar pedang
melindungi diri sehingga pedang mereka berubah menjadi
dua gulung sinar pedang saling melindungi dan merupakan
benteng baja yang amat rapat. Untuk sementara, tujuh
40
orang itu tak dapat mendesak jago pantai timur dengan
isterinya ini.
Si baju merah memberi tanda lagi dan segera serangan
dihentikan. Kini mereka berlari memutar dari kiri ke kanan,
demikian cepat gerakan mereka sehingga kelihatan
bayangan indah beraneka warna sambung -menyambung
bagaikan pelangi melingkungi dua orang itu. Ini masih
disambung dengan cambuk tujuh warna yang digerakgerakkan
dalam berlari sehingga pemandangan itu benarbenar
indah menakjubkan.
Untuk sejenak Lie Kong dan isterinya tidak tahu apa
makaudnya tujuh orang lawan yang hanya berlari-larian ini,
akan tetapi lama kelamaan mata mereka menjadi silau dan
kepala mereka pening. Memang maksud tujuh orang itu
adalah untuk membikin dua orang lawannya pening. Siapa
yang berada di dalam lingkungan "pelangi” ini mau tidak
mau harus menggunakan mata memandang penuh
perhatian agar jangan diserang secara gelap oleh lawan.
Karenanya mata menjadi pedas dan kepala menjadi
pening menghadapi aneka warna yang bergerak memutari
secara cepat itu. Untuk mengalihkan pandangan mata agar
jangan silau adalah tak mungkin karena ini berarti
membuka bahaya bagi mereka sendiri.
Lie Kong adalah seorang pendekar yang banyak
pengalamannya bertempur. Biarpun belum pernah ia
menghadapi barisan sehebat ini sebagai lawan, namun
taktik pertempurannya sudah amat masak dan sebentar saja
memutar otak ia dapat menemukan cara untuk melawan
aksi musuh ini.
“Ikuti aku lari !” katanya kepada isterinya yang sudah
mulai pedas matanya dan tiba-tiba Lie Kong juga membuat
gerakan berlari memutar, tidak dari kiri ke kanan melainkan
sebaliknya, dari kanan ke kiri! Souw Cui Eng dengan taat
mengikuti suaminya yang ia percaya penuh, tetap waspada
dan siap dengan pedangnya.
41
Pemandangan menjadi makin indah dan aneh. Sekarang
ada dua lingkaran yang bergerak berlawanan, yang luar
dengan aneka macam berputar ke kanan, yang sebelah
dalam bergerak dari kanan ke kiri Dengan pergerakan ini Lie
Kong dapat membuyarkan pemandangan yang menyilaukan
mata dan pedangnya mulai menyambar-nyamber menyerang
apabila terdapat kesempatan dalam berlari berpapasan
dengan lawan-lawan itu.
Gerakan tujuh orang itu menjadi kacau dan si baju
merah kembali mengeluarkan aba-aba, segera mereka
berhenti berlari dan dengan teratur sekali barisan itu
berubah menjadi barisan Liong-sang (Bintang Naga) Si baju
merah menjadi kepala, baju hitam dan putih di kanan
kirinya manjadi sepasang cakar, baju hijau menjadi perut,
baju kuning dan baju biru menjadi kaki belakang.
sedangkan baju coklat menjadi buntut. Bergeraklah barisan
Bintang Naga ini menyerang, cambuk dan pisau bergerak
dengan teratur sekali.
Lie Kong tertawa mengejek. Bersama isterinya ia
menyambut serangan ini dan dalam gebrakan pertama saja
hampir-kampir pundak si baju putih terbabat pedang Lie
Kong. Akan tetapi tiba-tiba barisan itu bergerak dan tahutahu
“naga" ini sudah menggerakkan buntutnya secara
melingkar sehingga dua kaki belakang dan buntut yang
terdiri dari tiga orang itu secara tidak terduga telah
menyerang dari belakang Lie Kong dan isterinya. Kembali
suami isteri ini terkurung dan kini kurungan tidak seperti
tadi, melainkan berubah-ubah. Kedang-kadang bagian
kepala Bintang Naga itu yang menyerang dan buntutnya
hanya melindungi kepala. dan demikian sebaliknya. Perut
naga atau si baju hijau itu sewaktu-waktu melakukan
sarangan mendadak dengan menyambitkan pisau pendek
sebagai senjata rahsia, dan agaknya mereka ini memang
mempunyai bekal banyak sekali pilau-pisau pendek.
42
Lebih dari dua puluh jurus Lie Kong dan isterinya
terdesak dan mereka ini hanya mampu mempertahankan
diri, karena jika sewaktu-waktu mereka hendak melakukan
serangan balasan, tentu muncul serangan yang tak terdugaduga
dari fihak lawan. Baiknya ilmu pedang Lie Kong
memang hebat luar biasa, maka biarpun amat terdesak, ia
dan isterinya masih mampu membuat benteng pertahanan
yang tak mudah dibobolkan.
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXIII
“KAUJAGA buntutnya, biar aku kepalanya !” tiba-tiba Lie
Kong yang sudah mendapat akal lagi berseru kenapa
isterinya. Kini mereka melawan dengan teratur. Keadaan
mereka berimbang karena kalau Souw Cui Eng agak
terdesak oleh serangan bagian buntut yang terdiri dari tiga
orang itu adalah Lie Kong dapat menindih bagian kepala dan
perutnya. Dalam jurus ke tujuh, terdengar suara nyaring
dan dua pisau pendek terpental, lepas dari tangan si baju
merah dan baju hitam !
Si baju merah mengeluarkan aba-aba sambil melompat
ke belakang dan meringis, karena telapak tangan yang
memegang pisau tadi sakit. Secepat kilat barisan Liong-sang
itu telah berubah lagi, kini berbentuk Bintang Sisir,
merupakan setengah Iingkaran yang mengurung dari depan.
Serentak tujuh orang mengirim serangan dengan pisau
pendek yang disambitkan ke arah suami isteri perkasa itu !
Lie Kong dan Cui Eng tidak menjadi gentar. Putaran
pedang mereka meruntuhkan semua pisau pendek yang
menyambar seakan-akan burung-burung kecil terpukul
kitiran angin besar. Akan tetapi segera barisan bergerak
2
maju, lima orang menyerang dengan cambuk. yang dua tetap
mengirim sambitan pisau pendek. Dua orang penyambit ini
berganti-ganti, kedudukan mereka amat teratur dan
menyulitkan kedudukan lawan.
Diam-diam Lie Kong memuji. Memang Lam-thian-chitong
telah menciptakan Chit- seng-tin yang luar biasa
kuatnya. Tahu bahwa kalau dilanjutkan, fihaknya, terutama
isterinya akan menghadapi bahaya, Lie Kong cepat
mengeluarkan suara bersuit panjang.
Inilah tanda rahasia bagi dua ekor pek- thouw-tiauw
untuk bergerak maju. Dua ekor burung yang amat setia itu
tadinya hanya terbang berputarao di atas saja, bingung
melihat cara Chit-seng-tin bergerak, tidak tahu harus
berbuat apa, lagi pula, belum ada tanda dari majikan mereka
untuk bergerak maka mereka hanya cecowetan dan
beterbangan di atas, tidak berani sembarangan bergerak.
Kini mendengar suitan Lie Kong, dua ekor burung rajawali
raksasa itu mengeluarkan pekik menantang dan dua tubuh
yang besar ini menukik dan menyambar ke bawah dengan
kecepatan luar biasa.
Begitu dua ekor rajawali ini menggebrak dengan sayap
yang besar, kuat dan paruh yang mengerikan, terdengar
teriakan-teriakan kaget. Dua orang anggauta Chit-seng-tin
telah kehilangan cambuknya, terampas oleh dua ekor
burung itu ! Kedudukan barisan menjadi kacau-balau dan
rusak. Lie Kong tidak menyia-nyiakan waktu baik ini,
pedangnya bekerja cepat sekali dan si baju putih berteriak
kesakitan, pundaknya tergores pedang dan cambuknya
terampas. Juga si baju coklat yang kurang hati-hati saking
kaget melihat datangnya dua ekor rajawali ini, terluka
lengannya dan cambuknyn juga terlepas dari pegangan
ketika Souw Cui Eag menyerangnya dengan hebat.
Sudah dapat diperhitungkan bahwa sebentar lagi tentu
tujuh orang Lam-thian-chit-ong itu akan menderita
kekalahan mutlak karena mereka kini sudah kacau-balau
3
bergerak melindungi tubuhnya sendiri sendiri, tidak
merupakan barisan teratur lagi!
Kong Ji melihat hal ini dengan hati khawatir. Tujuh
orang itu merupakan pembantu-pembantunya yang boleh
diandalkan. Kalau sekarang dibiarkan tewas oleh Lie Kong,
ia yang akan merasa rugi sekali. Ia memberi isyarat kepada
Cun Gi Tosu dan Cui Kong kemudian ia sendiri meloncat
maju dan membentak,
"Orang: she Lie. jangan menjual lagak di sini !" Kong Ji
merendahkan diri hampir jongkok, mengumpulkan tenaga
sambil menanti datangnya dua ekor pek thouw tiauw yang
menyambar lagi. Melihat sikap Kong Ji itu, Lie Kong yang
bermata awas dapat duga niat musuhnya ini, akan tetapi
sendiri sedang menghadapi serangan Cun Gi Tosu sehingga
ia hanya bisa berseru,
"Tiauw-ji, jangan dekat !”
Akan tetapi terlambat. Sepasang burung sudah
menyambar turun. Burung-burung ini setia sekali dan
mereka mulai mengamuk membela majikan mereka, tidak
tahu bahwa Kong Ji sudab siap mengumpulkan tenaga
lweekang. Ketika sepasang burung ini sudah menyambar
dekat,. Kong Ji memukulkan kedua lengannya dengan
gerakan Tin-san-kang yang luar biasa hebatnya.
"Blekk !” Tubuh dua ekor burung itu terpental ke atas,
bulu-bulu mereka berhamburan dan dua ekor binatang itu
terbanting ke bawah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Mereka telah menjedi korban pukulan Tin-san-kang yang
dahsyat dan semua isi perut telah hancur lebur oleh
pukulan ini !
"Liok Kong Ji manusia jahanaml" Lie Kong berseru keras
sekali melihat dua ekor binatang kesayangannya tewas.
Pedangnya diputar cepat dalam usahanya hendak
menggempur Kong Ji, akan tetapi tongkat kakek buntung itu
amat kuatnya menghadang dan menyerangnya. Ketika dua
4
buah senjata bertemu, kedua tokoh ini terdorong ke
belakang, tanda bahwa tingkat tenaga lweekang mereka
memang tidak jauh selisihnya. Lie Kong terkejut, tidak
mengira bahwa kakek buntung ini demikian lihai, maka ia
pusatkan perhatiannya dan menghadapi Cun Gi Tosu.
Segera pertempuran seru terjadi, di mana fihak Lie Kong dan
isterinya terdesak hebat karena tujuh orang Lam-thian-chit
ong dan Cui Kong juga sudah membantu.
"Manusia iblis, kau harus mampus!" bentak Souw Cui
Eng. marah sekali melihat “anak mantunya” yang manis itu.
Pedang nyonya ini berubah menjadi sinar bergulung-gulung
menyambar ke arah Cui Kong. Akan tetapi orang muda yang
tak tahu malu ini sudah siap, menangkis dengan senjatanya
yang istimewa, yaitu lengan tangan kering. Tahu bahwa ia
menghadapi lawan tangguh, Cui Kong juga mengeluarkan
huncwe mautnya dan melawan “ibu mertuanya” dengan
senjatanya ini. Karena Cui Kong sibantu oleh sebagian dari
Lam-thian-chit-ong, maka sebentar saja Souw Cul Eng
terdesak hebat.
Pertempuran ini betapapun juga membuat muka Kong Ji
menjadi merah saking jengah dan malu. Ia tahu bahwa
benar-benar akan memalukan sekali apa bila terdengar oleh
orang-orang kang-ouw bahwa dia telah mengeroyok dua
orang besannya. Melihat kenekatan suami isteri yang gagah
perkasra itu, ia menjadi tidak sabar. Pertempuran yang
memalukan fihaknya ini harus segera diselesaikan, pikirnya.
Diam-diam ia menyiapkan Hek-tok ciam di tangannya
Kepandaian istimewa dari Kong Ji memang banyak
macamnya.
Selain ilmu pedangnya yang kini bertambah tinggi saja
setelah ia mempelajari kitab-kitab Omei-san yang dicuri dan
dirampasnya juga ia memiIiki Ilmu Pukulan Tin-san-kang
yang amat lihai seperti yang telah ia perlihatkan ketika ia
sekali pukul menewaskan dua ekor burung pek-thouw-tiauw
tadi. Di samping itu, ia masih memiliki Ilmu Pukulan Hek5
tok ciang (Pukulan Tangan Racun Hitam) dan jarumjarumnya
yang disebut hek-tok-ciam adalah jarum-jarum
beracun yang amat berbahaya.
Tiba-tiba terdengar jeritan menyayat hati dan Ceng Ceng
berlari-lari ke luar dengan rambut riap-riapan. Nyonya muda
ini tadi sedang mencuci rambutnya ketika ia mendengar
berita bahwa di luar terjadi pertempuran hebat. Tempat
pertempuran memang jauh darI tempat tinggalnya. maka ia
segera membawa pedang dan berlari ke luar ketika
mendengar dari penjaga bahwa musuh yang datang
menyerang diikuti oleh dua ekor burung rajawali.
Mukanya pucat sekali, jantungnya hampir meledak dan
rambutnya riap-riapan ketika ia berlari menuju ke arah
pertempuran. Melihat bahwa betul-betul ayah bundanya
yang dikeyok hebat dan hampir kalah itu, ia mengeluarkan
jerit dan menyerbu. Tentu saja ia menyerbu dan menyerang
Cui Kong, suaminya yang sedang bertanding mengeroyok
ibunya.
"Manusia berhati binatang ! Kau berani mengeroyok
ibuku ?" bentak Ceng Ceng, pedangnya dengan hebat
mengamuk dan menyerang Cui Kong.
Cui Kong menjadi kaget dan bingung sekali. Ia memang
betul-betul sayang kepada isterinya ini, dan menghadapi
serangan Ceng Ceng ia hanya main mundur dan menangkis.
"Niocu, mereka yang mendesak, bukan kami ........” ia
mencoba membela diri.
Sementara itu, ketika Souw Cui Eng dan Lie Kong
melihat munculnya Ceng Ceng dengan rambut riap riapan
dan melihat puteri mereka itu datang-datang membantu
mereka dan menyerang Cui Kong, hati ayah dan ibu ini
menjadi girang. Bagaimanapun juga pernikahan antara anak
mereka dan Cui Kong adalah suatu kesalahan yang tidak
disengaja oleh Ceng Ceng, karena Cui Kong menggunakan
6
bujukan palsu. Puteri mereka masih tetap seorang gagah
dan baik.
"Ceng-ji.......... dari pada kau menjadi isteri manusia iblis
ini, lebih baik kita melawan mati-matian" teriak Souw Cui
Eng dengan air mata bercucuran saking terharu.
“Ceng-ji, kita telah ditipu oleh jahanam Cui Kong, mari
kita bikin pembalasan !”
teriak ayahnya.
Mendengar ini, hati
Ceng Ceng makin panas.
Ia memang sudah merasa
terjeblos dalam
perangkap yang dipasang
oleh Cui Kong dengan
umpan wajah tampan,
sikap halus dan
kepandaian tinggi.
Tadinya ia masih
terhibur, karena
pandainya Cui Kong
bicara. Akan tetapi
melihat betapa ayah
bundanya dikeroyok, dan
kini melihat sepasang
burung rajawaii tewas
dan mendengar kata-kata ayah bundanya, kemarahan dan
sakit hatinya meluap-luap. Ia menyerang Cui Kong makin
nekat lagi. mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
"Niocu, jangan..... niocu, jangan......!” Cui Kong mengeluh
sambil mudur terus. Karena ia tidak mambalas dan karena
kemarahan membuat Ceng Ceng menjadi ganas, pundaknya
terserempet ujung pedang dan mengeluarkan darah.
Pada saat itu menyambar sinar-sinar hitam ke arah dada
dan tenggorokan Ceng Ceng. Nyonya muda ini menjerit dan
7
roboh, tewas di saat itu juga. Sebatang Hek-tok ciam
menancap di tenggorokan dan sebatang lagi di dada.
"Niocu ......!” Cui Kong menubruk dan memeluk mayat
isterinya, sedih sekali akan tapi tak dapat marah karena
yang membunuh isterinya adalah Liok Kong Ji. Kong Ji tadi
sudah menyiapkan Hek-tok ciam. Melihat sikap Ceng Ceng,
ia maklum bahwa kalau mantunya itu tidak dibunuh, kelak
tentu selalu akan menimbulkan keributan.
Setelah menyambitkan Hek-tok ciam ke arah Ceng Cen
iapun mempergunakan kesempatan selagi Lie Kong dan
Souw Cui Eng terkejut melihat puteri mereka roboh, cepat
Kong Ji membidik dan menyambitkan enam buah Hek-tokciam
dengan kedua tangannya. Dua batang menyambar Cui
Eng, yang empat batang menyambar Lie Kong.
Cut Eng tak dapat mengelak, sebatang Hek tok ciam
menancap di lambungnya. Nyonya ini menjerit, limbung
akan tetapi masih sempat melompat ke dekat Cui Kong dan
menusuk orang muda itu dengan pedangnya. Cui Kong
mendengar sambaran angin mengelak ke samping,
melepaskan tubuh isterinya. Souw Cui Eng menubruk dan
memeluk mayat puterinya, terguling dan roboh tewas dengan
memeluk Ceng Ceng !
Lie Kong lebih lihai. Dengan pedangnya ia berhasil
menangkis empat batang Jarum Racun Hitam itu, akan
tetapi biarpun berhasil menyelamatkan diri dari ancaman
empat jarum hek-tok-ciam, saat itu tongkat Lo-thian-tung
Sun Gi Tosu sudah menyambar. Ilmu tongkat tosu ini hebat
sekali dan tadipun dengan susah payah Lie Kong dapat
melawan. Sekarang dalam keadaan terdesak oleh serangan
jarum-jarum berbahaya, ia kurang dapat mempertahankan
diri. Ia masih mencoba untuk mengelak, akan tetapi
sambaran ke dua mengenai kepalanya.
"Tak!" Tongkat terpental, seakan-akan mengenai besi.
Kepala Lie Kong kelihatan tidak apa-apa, akan tetapi jago
pantai timur ini terhuyung-huyung. Dengan mata melotot ia
8
masih dapat melontarkan pedangnya yang meluncur cepat
seperti pedang terbang ke arah Liok Kong Ji, akan tetapi
sekali mengebutkan lengan baju pedang itu tergulung lengan
baju dan jatuh ke bawah. Lie Kong terhuyung dan roboh tak
berkutik. Napasnya putus setelah melontarkan pedang.
Biarpun kepalanya dari luar tidak kelihatan luka, akan
tetapi sebelah dalam sudah tergoncang hebat pukulan
tongkat yang mengandung tenaga lweekang itu.
Habislah riwayat Pek-thouw-tiauw ong Lie Kong dengan
isteri dan anaknya ! Sungguh amat sayang dan menyedihkan
kematian keluarga ini dibasmi oleh Liok Kong Ji dan kaki
tangannya,
"Bibi.......... ! Bibi.......... ! Siupa yang membunuh
bibi......... ah, bibi jangan.......... tinggalkan Leng Leng..........
!" Bocah perempuan berusia lima tahun itu datang berlarilari
menubruk mayat Ceng Ceng. Akan tetapi sekali tangkap
Liok Kong Ji mencegahnya.
“Jangan pegang !" bentaknya. Ia merasa sebal sekali
melihat bocah yang semenjak kecil dipelihara dengan kasih
sayang itu sekarang berbalik mencurahkan kasih sayang
kepada pihak lawan.
“Bibi…... !" Leng Lung menangis dan meronta dalam
pegangan Kong Ji. "Manusia jahat mana yang
membunuhmu. ...... .? Akan kupukul kepalanya !”
"Anak setan !" Kong Ji menggerakkan tangan dan tubuh
Leng Leng terlempar sampai empat tombak lebih jatuh
terguling- guling dan anak itu menangis kesakitan.
"Leng Leng, kau pulanglah, jangan turut campur urusan
orang tua !” Can Gi Tosu membentak bocah itu. Akan tetapi
Leng Leng tetap berdiri di situ, memandang ke arah mayat
Ceng Ceng sambil menangis terisak-isak. "Totiang, bocah ini
kelak tentu akan menimbulkan bencana saja. Pohon buruk
lebih baik dicabut selagi masih kecil,” kata Liok Kong Ji,
9
mengerutkan kening. Ia memang jengkel dan sebal melihat
Cui Kong masih menangisi kematian isterinya,
"Taihiap, dia masih kecil. Kalau dididik sepatutnya, kelak
dapat menjunjung tinggi nama kita,” bantah Cun Gi Tosu
yang masih merasa sayang kepada bocah itu. Sebetulnya
kesayangan ini bukan merupakan sebab utama mengapa ia
hendak melindungi Leng Leng. Yang utama sekali, ia diam
diam menganggap Leng-Leng sebagai jimat pelindungnva.
Tosu kaki buntung ini sebetulnya merasa gentar juga
terhadap Sin Hong dan kalau Leng Leng masih berada di
tangannya. Sin Hong tentu takkan berani mengganggunya.
Kalau keadaan mendesak, ia dapat menukarkan nyawanya
dengan anak ini kelak.
Liok Kong Ji merasa tidak baik pada saat seperti itu
meributkan hal bocah kecil. "Hemm, harus mulai sekarang
dipimpin baik-baik,” katanya, dan dengan langkah lebar ia
menghampiri Leng Leng.
"Leng-ji, jangan menangis. Bibimu itu jahat, hendak
membunuh kita, maka dia harus mati. Kalau tidak dibunuh
dia tentu membunuh kita semua. kaupun akan dibunuhnya
"Tidak, tidak bisa! Bibi tidak jahat!" bantah Leng Leng
dengan berani.
Kong Ji mengerutkan kening. "Bocah tolol ! Kau tidak
menurut kata orang tua? Dia jahat! Hayo kaubilang bibimu
itu jahat!"
“Tidak !" Leng Leng berkukuh sambil menggeleng geleng
kepala dan membanting-banting kakinya yang kecil. "Bibi
tidak jahat !”
“Plak” Kong Ji menampar pipi bocah cilik itu sehingga
tubuh Leng Leng tergelimpang. Akan tetapi anak itu merayap
bangun. Pipi kirinya bengkak. Namun tanpa memperdulikan
rasa sakit pada pipinya ia memandang Kong Ji tanpa kenal
takut.
10
"Bilang dia jahat !" bentak Kong Ji makin marah.
“Tidak, tidak! Bibi tidak jahat!” Leng Leng tetap
menggeleng kepala.
"Plakk!" Kembali tubuh kecil itu terpelanting. Kini agak
sukar Leng Leng merayap bangun dan pipi kanannya juga
bengkak, kepalanya serasa berputar putar. Anehnya, bocah
ini tadi menangisi kematian Ceng Ceng. Sekarang dipukul
sampai bengkak-bengkak mukanya ia tidak mau menangis,
malah memandang kepada Kong Ji dengan mata bersinar
marah.
Kong Ji sudah melangkah maju, akan tetapi melihat
sepasang mata bocah itu, ia bergidik teringat ia akan
sepasang mata Sin Hong dan menahan tangannya yang
sudah diangkat hendak memukul. Sementara itu Cun Gi
Tosu yang khawatir kalau-kalau Kong Ji membunuh bocah
itu, sudah mendekati dan memondong Leng Leng sambil
berkata,
"Leng Leng, kau tidak boleh melawan. Harus menurut
kata-kata orang tua." Kemudian kakek buntung ini menjura
kepada Liok Kong Ji.
"Harap Liok-taihiap bersabar. Serahkan saja pendidikan
bocah ini kepada pinto.” Setelah berkata demikian, Cun Gi
Tosu melompat-lompat dengan kakinya yang tinggal sebuah
itu, pergi dari situ.
Juga Kong Ji pulang ke rumahnya dengan hati mengkal,
baiknya selir-selirnya yang cantik-cantik dan muda
menyambut dan menghiburnya dengan sikap dan kata- kata
manis sehingga tak lama kemudian Liok Kong Ji sudah tidur
mendengkur di kamarnya, dipijit dan dikipasi oleh selirselirnya.
Sementara itu, dengan hati sedih Cui Kong mengurus
pemakaman Ceng Ceng dan jenazah Lie Kong dan isterinya
serta bangkai dua ekor burung itu diurus baik-baik dan
11
dimakamkan. Pekerjaan ini dibantu oleh Lam-thian-chit-ong
dan para anak buah.
-oo(mch)oo-
Tanpa mengenal lelah, Tiang Bu melaksanakan
perjalanan ke selatan. Seperti telah diceritakan di bagian
depan, Tiang Bu yang mengobrak-abrikt Ui tiok-lim hanya
berhasil membasmi Ui tiok-lim dan menewaskan kaki tangan
Liok Kong Ji, akan tetapi Liok Kong Ji sendiri bersama Liok
Cui Kong dapat melarikan diri. Ketika berjumpa dengan Lai
Fei puteri penebang kayu yang lihai itu menrengur bahwa
ayah Fei Lan terbunuh oleh Lo-thian tung Cun Gi Tosu dan
dari gadis ini ia mendengar bahwa kakek buntung itu pergi
ke laut selatan.
Tentu Kong Ji dan Cui Kong juga ke sana, pikir Tiang Bu.
Kakek buntung itu seorang sahabat baik dan komplotan
Kong Ji kalau dua orang keparat itu hendak bersembunyi,
tentu tempat kakek buntung itu yang paling aman. Oleh
katena sangkaan inilah tanpa mengenal letih Tiang Bu
menuju ke selatan.
Pada suatu senja ia memasuki sebuah dusun. Saatet itu
keadaan sunyi sekali dan yang kelihatan hanya beberapa
orang petani sedang pulang memanggul pacul, ada yang
menggiring kerbau. Ketika pemuda ini tengah berjalan
memasuki dusun, ia melihat berkelebatnya dua bayangan
orang di sebelah depan. Tahu bahwa dua orang itu tentu
ahli-ahli silat yang mempergunakan ilmu lari cepat, Tiang Bu
tertarik dan iapun lalu menggunakan ginkangnya, meloncat
dan berlari mengejar.
Ilmu lari cepat dua orang itu ternyata hebat juga.
Sebentar saja mereka sudah keluar dari dusun. Tiang Bu
makin tertarik dan terus mengejar sampai tiba di sebuah
hutan. Dua orang itu lenyap di dalam hutan. Tiang Bu
penasaran dan mempercepat larinya. Sebentar saja ia sudah
12
memasuki hutan itu dan melihat seorang wanita setengah
tua namun masih cantik sekali sedang duduk bersila di
bawah sebatang pohon besar.
Kaget hati Tiang Bu ketika mengenal wanita ini.
Andaikata ia lupa lagi akan wajah wanita ini, ia takkan
melupakan sepasang tangan yang kecil mungil akan tetapi
berwarna merah itu. Ang-jiu Mo-li Si Iblis Wanita Tangan
Merah! Akan tetapi di samping kekagetannya, ia juga
menjadi girang oleh karena ia teringat bahwa wanita ini
dahulu juga membawa lari sebuah kitab dari Omei-san.
Sementara itu, Ang jiu Mo Li sudah memandang
kepadanya dan bertanya, suara nyaring galak, “Orang muda,
sejak tadi kau mengejarku, kau mau apakah?”
Tiang Bu memang biasa jujur dan sederhana dalam katakatanya.
Melihat sikap wanita tengah tua ini dan tahu
bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh besar di dunia
kang-ouw, ia segera menjura dan menjawab,
"Tadi di luar dusun aku melihat dua orang berlari-lari.
Karena tertarik maka aku segera mengejar sampai ke sini.
Tidak tahunya orang di antaranya adalah locianpwe,
sungguh kebetulan sekali karena memang aku masih
mempunyai sebuah urusan untuk dibereskan dengan
locianpwe.”
Ang-jiu Mo-li mengangkat muka memandang tajam.
Bocah seperti ini mempunyai urusan dengan dia?
“Eh, orang muda. Kau ini siapakah? Jangan kau lancang
membuka mulut. Orang seperti kau ini ada urusan apakah
dengan aku ?”
Tiang Bu tersenyum, maklum bahwa orang dengan
tingkat setinggi Ang-jiu Mo-li tentu saja bersikap tinggi dan
sombong terhadap seorang pemuda biasa seperti dia. Akan
tetapi biarpun ia mendongkol, pemuda ini masih mengingat
bahwa Ang-jiu Mo li adalah guru Bi Li, maka ia tetap
bersikap hormat. "Tentu saja locianpwe lupa lagi kepadaku.
13
Akan tetapi pernah satu kali kita saling bertemu di Omeisan."
Ang-jiu Mo li memandang lagi penuh perhatian ke arah
wajah yang tidak tampan namun membayangkan kegagahan
dan kejujuran itu. Tiba-tiba ia teringat akan bocah murid
dua orang kakek Omei-san yang dulu pernah bertempur
melawan Toat-beng Kui bo. Terkejutlah Ang-jiu Mo li dan ia
serentak melompat berdiri. Tak disangkanya sama sekali
bahwa pemuda yang mengejarnya tadi ini adalah bocah
murrid Omei-san itu.
"Hemm, kaukah ini? Sekarang katakan apa urusan itu,”
tanya Ang jiu Mo-li, hatinya mulai terasa tidak nyaman.
"Sebelum suhuku menghembuskan nafas terakhir, beliau
meninggalkan pesan kepadaku agar supaya aku pergi
mencari kitab-kitab Omei-san yang dilarikan orang dan
mengambilnya kembali. Oleh karena cianpwe termasuk
orang di antara mereka yang membawa pergi kitab Omeisan,
kalau tidak salah kitab pelajaran Ilmu Silat Kwan-im
cam-mo, maka bukankah pertemuan ini kebetulan sekali?
Kuharap saja cianpwe sudah merasa cukup puas meminjam
kitab itu selama bertahun-tahun dan sudi
mengembalikannya kepadaku.”
Ang-jiu Mo-li tersenyum mengejek. Alangkah besarnya
nyali pemuda ini. pikirnya. berani minta kembali kitab
begitu saja !
"Orang muda bernyali naga, siapakah namamu ?”
"Namaku Tiang Bu………”
Ang-jiu Mo-li hilang senyumnya, nampak tercengang.
“Aha, kaukah yang bernama Tiang Bu? Kau anak keluarga
Coa di Kim bun-to ?”
Kini Tiang Bu yang tercengang. Bagaimana wanita sakti
ini dapat tahu akan hal ini? Padahal ia tidak pernah
bercerita kepada siapapun juga, kecuali kepada Bi Li, tentu.
14
Apakah Bi Li pernah bercerita kepada gurunya ini? Akan
tetapi belum lama ia berkumpul dengan Bi Li dan baru saja
berpisah, apa Bi Li sudah berjumpa dengan Ang jiu Mo-li
semenjak buntung lengannya? Betapapun juga, pertanyaan
itu harus dijawabnya.
"Aku hanya .......... anak angkat mereka...”
“Bagus sekali permintaanmu! Kau betul- betul hendak
merampas kembali kitab Kwan-im-cam- mo itu dari
tanganku ? Lihat, memang kitab ini masih kubawa. Kau
mau merampasnya ?" Ang-jiu Mo-li mengeluarkan sebuah
kitab dari saku bajunya.
“Mana berani aku berlaku kurang ajar ? Aku hanya
mengharapkan kebijaksanaan untuk mengembalikan barang
orang lain.”
"Betul-betul kau hendak minta kembali?"
"Aku adalah seorang murid yang harus mentaati pesan
suhu sampai di manapun juga."
"Kitab-kitab Omei-san terjatuh ke dalam tangan orangorang
pandai yang sama sekali bukan lawanmu. Amat
berbahaya kalau kau menghendaki semua orang itu
mengembalikan kitab. Mengapa kau bersusah payah, toh
gurumu sudah meninggal dunia? Kalau kau tidak memenuhi
pesan gurumu yang sudah tidak ada lagi itu, tidak ada orang
tahu."
Tiang Bu mengerutkan alisnya yang tebal. “Kali ini
cianpwe khilaf! Cianpwe menyatakan tidak ada orang tahu,
bukankah aku sendiri dan cianpwe mengetahui kalau aku
menjadi murid tidak setia ? Apakah cianpwe dan aku bukan
orang? Biarpun aku akan menghadapi orang orang sakti dan
akhirnya aku harus berkorban nyawa, tetap aku akan
memenuhi pesan suhu."
15
Diam-diam Ang-jiu Mo-li makin kagum kepada pemuda
yang setia dan berbakti ini. Tadipun ia hanya menguji hati
Tiang Bu.
"Betul-betul kau akan memaksaku menyerahkan kitab
ini?”
"Kalau cianpwe tidak suka mengembalikan dengan suka
rela, terpaksa aku yang muda akan berlaku kurang ajar dan
mencoba kebodohan sendiri." jawab Tiang Bu, sikapnya
menantang.
Ang-jiu Mo-li masih hendak mencoba sekali lagi. Ia
menoleh ke belakang dan berseru keras lalu berkata,
“Muridku, kau keluarlah !”
Dari balik gerombolan pohon berkelebat suatu bayangan
dan di saat lain, seoring gadis telah berdiri di samping Angjiu
Mo-li. Wajahnya menjadi pucat ketika ia memandang
kepada pemuda itu.
"Tiang Bu– ..... "
Tiang Bu girang bukan main. Ia melangkah maju dan
mengulurkan kedua tengannya. "Bi Li...... kau di sini..........?
Payah aku mencari carimu ........!” Akan tetapi ia segera
teringat bahwa di situ ada Ang-jiu Mo-li, maka dengan muka
sebentar merah sebentar pucat, Tiang Bu menarik kembali
tangannya memandang kepada gadis buntung lenganya itu
dengan wajah diliputi keharuan, kedukaan juga kasih
sayang besar. Juga Bi Li memandang pemuda itu, dan dua
titik air mata membasahi sepasang pipi Bi Li yang pucat.
Gadis ini menggigit bibirnya, seakan-akan menahan isak
tangis dan menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan
kata-kata.
Mata Ang-jiu Mo-li yang tajam melihat keadaan dua
orang ini, wajahnya berseri. Kemudian ia berkata,
"Bi Li, kawanmu Tiang Bu ini datang hendak memaksa
aku mengembalikan kitab Kwan-im-cam mo. Karena dia
16
kawanmu, aku tidak tega menjatuhkan tangan
mencelakainya. Akan tetapi dia berkepala batu dan hendak
menggunakan kekerasan. Kausuruh dia membatalkan
maksudnya itu."
Bi Li cukup mengenal watak gurunya yang keras hati dan
tidak mau mengalah, Ia tahu bahwa kalau Tiang Bu
berkeras minta kembali kitab, pasti akan terjadi
pertempuran hebat sampai salah seorang menderita luka.
Dan ia sayang keduanya, tidak menghendaki seorang di
antara mereka terluka.
"Tiang Bu, aku minta kau suka mengalah dan jangan
memaksa guruku mengembalikan kitab Omei san.” kata Bi
Li dengan suara lemah sambil menundukkan muka tidak
mau melihat Tiang Bu karena ia sendiri merasa fihaknya
yang bocengli (tidak pakai aturan),
Tiang Bu menggelengkan kepala perlahan. Mengapa Bi Li
begitu tak adil?
"Bi Li, kitab itu milik mendiang suhu yang sudah
memesan supaya aku mengambil semua kitab yang
dirampas orang dari Omei-san. Siapapun orangnya yang
mengambil kitab itu, harus kuminta kembali. Dalam hal lain
aku boleh mengalah terhadap gurumu, akan tetapi dalam
hal ini ...... tak mungkin.”
Ang-jiu Mo li segera berkata, "Bi Li, mulai saat ini aku
memberikan kitab ini kepadamu, akan tetapi dengan pesan
jangan kau berikan kepada sianapun juga!”
Bi Li maklum akan maksud gurunya ini. Dia sudah
menceritakan tentang keadaaannya dan hubungannya
dengan Tiang Bu, maka kini gurunya hendak
mempergunakan cinta kasih Tiang Bu terhadapnya untuk
mengalahkan pemuda itu.
"Tiang Bu, mengapa untuk kitab yang satu ini kau tidak
dapat mengadakan pengecualian. Kuharap sekali lagi kau
suka mengalah demi .......... mengingat akan .....
17
persahabatan kita ……..” Kata-kata terakhir ini dikeluarkan
perlahan sekali dan kini air matanya, tak dapat dibendung
lagi, mengucur dari kedua matanya. Gadis ini sebenarnya
amat cinta kepada Tiang Bu yang sudah berkali-kali
membuktikan kegagahan, kecintaan, dan kesetiaannya.
Tiang Bu menjadi pucat mendengar kata-kata ini. Untuk
sejenak ia memandang Bi Li. Ah, alangkah inginnya ia
mendekati, menghibur gadis yang buntung lengannya akan
tetapi baginya malah mempertebal kasih sayangnya karena
kasih sayang itu ditambah oleh rasa kasihan besar sekali.
Jangankan baru sebuah kitab, biar seribu buah kitab tentu
akan ia relakan demi mengingat Bi Li. Akan tetapi bukan
kitab ini, kitab yang harus ia ambil kembali, biarpun ia
harus menukar dengan nyawanya.
"Bi Li." katanya mengeraskan hati biarpun suaranya
gemetar. "Seorang laki-laki harus dapat mengesampingkan
perasaan hati dan urusan sendiri. Mana bisa aku
mengkhianati mendiang suhu hanya untuk urusan
pribadiku sendiri ? Kebaktian dan kesetiaan murid terhadap
gurunya adalah suci, dan harus berjalan di atas jalan
kebenaran.
Andaikata mendiang suhu meninggalkan pesan supaya
aku merampas kitab yang bukan menjadi milik dan haknya,
tentu dengan senang hati aku melanggar pasan yang tidak
benar ini.
Akan tetapi pesan suhu ini berlandaskan kebenaran.
Kitab ini adalah kitab dari Omei-san yang diambil oleh
gurumu. Suhu berpesan agar aku mengambil kembali semua
kitab yang hilang, oleh karena kalau kitab-kitab itu terjatuh
ke tangan orang jahat, hanya akan menambah kacau dan
kotornya dunia. Sekarang aku sudah bertemu dengan
gurumu, dan kitab itu sudah bertahun tahun berada di
tangan gurumu, tentu isinya sudah hafal olehnya. Mengapa
masih harus mengukuhi kitab yang bukan menjadi miliknya
?”
18
Bi Li tak dapat menjawab. Dalam hatinya, tentu saja ia
membenarkan pendirian Tiang Bu, akan tetapi di depan
gurunya ia tidak berani berkata apa-apa.
Adapun Ang-jiu Mo-li yang sengaja bersikap keterlaluan
itu hanya untuk menguji hati Tiang Bu, makin lama makin
kagum. Belum pernah ia bertemu dengan seorang muda
yang demikian teguh hatinya, demikian tebal rasa bakti dan
setianya. Seorang pemuda gagah perkasa, hanya tinggal
menguji kepandaiannya saja.
Ang-jiu Mo li telah mendapatkan murid yang ia sayang
itu di dalam hutan. Bi Li hendak memhunuh diri dengan
jalan menggantung leher pada angkinnya di sebuah pohon
besar. Setelah Ang jiu Mo-li menolongnya Bi Li dengan air
mata bercucuran menceritakan nasibnya yang malang,
kehilangan sebuah lengannya yang ditabas buntung oleh
Liok Kong Ji. Kemudian diakuinya betapa Tiang Bu amat
mereintanya dan bahwa sesungguhnya iapun suka kepada
pemuda itu. Hanya karena lengannya sudah buntung ia
merasa tidak berharga menjadi jodoh pemuda itu, maka
diam-diam meninggalkan Tiang Bu dan mencoba membunuh
diri di situ.
Ang-jiu Mo-li marah bukan main, menghibur muridnya
dan berjanji hendak mencari Liok Kong Ji untuk
membalaskan sakit hati muridnya. Kebetulan di tengah jalan
bertemu dengan Tiang Bu, Ang-jiu Mo-li sengaja hendak
menguji batin pemuda yang dipilih muridnya dan ia makin
kagum saja menyaksikan sikap Tiang Bu. Seorang ksatria
tulen, dan kini ia hendak mencoba kepandaian Tiang Bu.
“Orang muda, kau pandai bicara. Kalau kau bertekad
mengambil kembali kitab-kitab Omei-san, tentu kau sudah
mempunyai kepandaian. Kitab ini dulu kudapat tidak
dengan jalan mudah, bukan diberi hadiah, hanya diambil
dengan mempergunakan kepandaian. Kalau kau hendak
minta kembali, kau juga harus mempergunakan kepandaian.
Coba kaulayani aku beberapa jurus, kalau kau bisa
19
menangkan aku, tentu saja kitab ini boleh kau ambil
kembali.”
Inilah sebuah tantangan dan Tiang Bu memang sudah
bertekat takkan mundur setapak dalam usaha memenuhi
pesan suhunya. Hatinya amat tidak enak terhadap Bi Li,
akan tetapi apa boleh buat. Demi kebenaran, ia bersedia
mengorbankan segala, baik nyawanya ataupun
kebahagiaannya. Ia melirik ke arah Bi Li dan berkata lirih.
"Bi Li, maafkan kalau aku melawan gurumu. Kau tahu
aku melakukannya karena terpaksa oleh kewajiban." Lalu ia
menghadapi Ang-jiu Mo-li dan menjura sambil berkata,
"Aku yang muda bersedia."
Ang-jiu Mo li masih memandang rendah pemuda itu. Ia
hanya ingin menguji sampai di mana kepandaian Tiang Bu,
biarpun pemuda itu takkan dapat memenangkannya, tetap
saja ia akan mengembalikan kitab karena ia pikir lebih baik
muridnya yang sudah buntung itu menikah dengan pemuda
pilihan ini. Ia mengangkat kitab Kwan-im Cam-mo itu tinggi
di atas kepala sambil berkata,
"Kau sudah siap sedia? Nah, lekas rampas kitab ini!”
Diam-diam Tiang Bu mendongkol. Ia tahu bahwa
pendekar wanita ini memandang rendah kepadanya, maka
iapun tidak mau sungkan-sungkan lagi.
"Maafkan aku yang bodoh,” katanya tahu-tahu tubuhnya
sudah melesat ke depan tangan kiri menampar pundak,
tangan kann menyambar untuk merampas kitab.
Ang jiu Mo-li masih memandang rendah. Tangan
kanannya menyampok tamparan pemuda itu dengan
pengerahan tenaga. Menulut perhitungannya, tangkisan
sudah cukup kuat untuk membuat pemuda itu terpelanting
dan tentu usahanya merampas kitab akan gagal.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika
tangan kanannya bertemu dengan lengan pemuda itu, ia
20
merasa lengannya kesemutan dan seperti lumpuh, tanda
bahwa ia tadi kurang mengerahkan tenaga sehingga
tenaganya tertindih dan kalah kuat, dan sebelum ia dapat
menguasai diri, tahu-tahu kitab di tangan kirinya telah
terambil oleh pemuda itu yang sudah melompat mundur
kembali.
Dalam segebrakan saja kitab sudah dirampas! Ini tak
boleh jadi, pikir Ang-jiu Mo-li. Cepat laksana kilat
menyambar, tubuh Ang-jiu Mo-li sudah berkelebat maju
mengejar Tiang Bu, kedua tangannya bergantian mengirim
Pukulan Ang-jiu-kang ke arah dada dan perut Tiang Bu!
Harus diketahui bahwa pukulan Ang-jiu-kang dari Angjiu
Mo-li ini hebatnya bukan main. Pernah ia bertemu Liok
Kung Ji dan bertanding dan ternyata Ang jiu kang malah
lebih hebat dari pada Hek-tok ciang dari Liok Kong Ji.
Karena kelihaian tangan merahnya inilah maka Ang Jiu Moli
menjadi terkenal sekali dan ia ditakuti orang di wilayah
utara.
Tangan itu belum sampai, hawa pukulannya sudah
terasa. panas dan kuat sekali. Tiang Bu berlaku waspada,
maklum bahwa menghadapi pukulan macam ini ia tidak
boleh sembrono. Juga ginkang dari Ang jiu Mo-li hat bleu
“dell, gerstannya eepat perti kilat luar biasa sekali,
gerakannya cepat seperti kilat menyambar.
Pemuda itu mengerahkan tenaga untuk menjaga diri.
Sinkangnya berputar-putar dan berkumpul di bagian dada
dan perut untuk melawan hawa pukulan itu, sedangkan ia
sendiri lalu miringkan tubuh agar jangan tersentuh kedua
tangan yang memukul. Akan tetapi, karena perhatiannya
dicurahkan ke arah pukulan-pukulan yang dapat
mengancam nyawanya meninggalkan badan itu, ia tidak
mengira sama sekali bahwa Ang jiu Mo li hanya menggertak
dan tahu-tahu tubuh nyonya sakti aku melejit ke atas dan
..... kitab itu sudah terampas kembali oleh Ang jiu Mo-li
21
Wajah yang tadinya pucat dari Ang-jiu Mo li menjadi
merah kembali. Wanita sakti ini tadinya sudah pucat karena
sekali gebrakan saja kitab di tangannya sudah terampas oleh
seorang pemuda. Hal ini benar-benar langka dan luar biasa
sekali. Akan tetapi dalam gerakan kedua ia dapat merampas
kembali kitab itu, berarti ia sudan dapat membela mukanya.
Akan robohlah namanya kalau terdengar orang betapa
dalam satu jurus ia dikalahkan oleh seorang bocah yang
masih ingusan ! Setelah sekarang ia dapat merampas
kembali kitab itu juga dalam satu gebrakan berarti keadaan
mereka masih seri.
"Bi Li, kaubawa dulu kitab ini" katanya dan kitab itu di
lemparkan ke arah Bi Li yang menyambutnya dengan
sebelah tangan dan memegangnya.
"Nah, sekarang majulah, orang muda. Aku ingin sekali
melihat sampai di mana lihainya murid Omei-san," kata Ang
jiu Mo-li menantang.
Tiang Bu maklum bahwa menghadapi seorang wanita
sombong seperti Ang-jiu Mo-li, kalau ia tidak
memperlihatkan kepandaiannya tentu sukar untuk
mengambil kembali kitab itu. Juga ia maklum akan
kelihaian wanita ini yang tadi sudah memperlihatkan
pukulan Ang-jiu-kang yang berbahaya dan kecepatan
gerakan yang amat mengagumkan. Maka ia berlaku hati-hati
sekali.
Sebaliknya, tahu bahwa bocah ini benar-benar lihai,
timbul kegembiraan hati Ang-jiu Mo-li. Seperti sebagian
besar tokoh kang-ouw, dia juga termasuk orang yang gila
silat. Bertemu dengan lawan tangguh, hilanglah sikapnya
tadi dan lupalah wanita ini bahwa dia berniat menguji
kepandaian calon jodoh muridnya. Ia menjadi bersungguhsungguh
dan mabok kemenangan. Oleh karena itu, setelah
melihat Tiang Bu siap, Ang-jiu Mo-li berseru nyaring dan
maju menyerang dengan ganas dan dahsyat !
22
Tiang Bu mengimbangi kecepatan lawannya dan tidak
hanya menghindarkan dari serangan, bahkan membalas
dengan sarangan yang tak kalah dahsyalnya. Ang jiu Mo-li
kaget sekali melihat betapa tiga kali pukulan yang
dilancarkan secara bertubi-tubi itu dielakkan dengan amat
mudah oleh Tiang Bu bahkan pemuda itu membalas dengan
tamparan yang kuat.
Melihat Tiang Bu menamnpar ke arah pundaknya, diamdiam
Ang-jiu Mo-li memuji lagi sikap pemuda ini yang selalu
menjaga agar jangan melanggar susila, maka tamparan yang
menurut teori silat harus ditujukan ke arah kepala itu
dlturunkan menjadi tamparan arah pundak ! Ang-jiu Mo-li
melihat datangnya tamparan perlahan saja namun
membawa hawa pukulan yang kuat sekali, cepat menyambut
dengan tangkisan Ang-iiu-kang. Ia hendak capat-cepat
mengalahkan Tiang Bu kalau sampai pemuda ini terluka
oleh tangan merahnya. hal itu tidak apa karena ia selalu
membekal obat penawarnya.
“Prakk !" Sepasang lengan bertemu dan kesudahannya,
Ang-jiu Mo-li terdorong mundur sedangkan tangan Tiang Bu
tidak apa, hanya kuda-kudanya kena gempur sedikit.
Ang-jiu Mo-li penasaran sekali, juga kaget bukan main.
Mungkinkah pemuda ini memang lebih lihai darinya dalam
hal lweekang? Sukar dipercaya ! Sekali lagi Ang-jiu Mo-li
menyerang dengan dorongan kedua tangannya, kini
dilakukan dengan pengerahan lweekang repenuhnya. Tiang
Bu cerdik, tahu akan maksud lawan mengadu kekuatan,
maka iapun cepat mengerahkan sinkangnya, dan mendorong
pula dengan kedua tangannya. Sebelum empat buah tangan
itu bertemu di udara, hawa pukulan masing-mesing sudah
saling dorong dan akibatnya sekali lagi Ang-jiu Mo-li
terdorong mundur sampai empat langkah! Sedangkan kali
ini Tiang Bu tetap tidak bergeming, tanda bahwa memang
pemuda ini masih jauh lebih menang.
23
Ang-jiu Mo-li menjadi pucat. Sudah jelas bahwa ia kalah
dalam hal tenaga lweekang. Ia makin penasaran dan masih
berkeras kepala. Kalau dalam lweekang aku kalah, belum
tentu ginkang pemuda ini dapat menangkan aku, pikirnya.
Memang Ang jiu Mo-li selain terkenal karena Ang-jiu-kang,
juga terkenal sebagai seorang wanita yang tinggi ilmu ginkangnya,
“Lihat serangan serunya dan tiba-tiba tubuh Ang-jiu Mo
li berkelebat dan menyambar-nyambar. Bi Li yang menonton
pertandingan itu sampai menjadi silau matanya. Gurunya
lenyap berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti
pandangan mata, gerak-geriknya cepat dan ringan sekali.
Kali ini Tiang Bu akan kalah, pikir Bi Li, hatinya tidak enak
karena ia mengenal gurunya sebagai seorang yang telengas
sekali kalau sudab marah.
Melihat ginkang sehebat ini, diam-diam Tiang Bu kagum
sekali. Ia pernah bertempur mengtadapi orang-orang lihai,
termasuk. Wan Sin Hong. Akan tetapi harus ia akui bahwa
dalam hal ginkang, baru sekarang ia bertemu dengan lawan
yang benar-benar hebat, mengatasi ginkang dari orang-orang
gagah lainnya bahkan Sin Hong sendiri kiranya masih kalah
sedikit.
Akan tetapi, Tiang Bu adalah seorang muda yang sudah
mewarisi kepandaian sakti dari dua orang kakek Omei-san
dan terutama sekali semenjak mempelajari isi kitab Sen
thian-to, di dalam tubuh pemuda ini mengandung sinking
atau hawa sakti yang hebat, tak dapat diukur lagi betapa
tingginya. Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya Bi Li
ketika tubuh Tiang Bu tiba-tiba lenyap, bayangan sekalipun
tidak kelihatan lagi. Ke mana perginya pemuda itu ?
Dilihat begitu saja tubuh Tiang Bu seperti sudah lenyap
dan tidak berada pula di tempat itu, akan tetapi melihat
gurunya masih seperti orang bertempur, menjadi bukti
bahwa sebenarnya Tiang Bu masih berada di situ,
bertanding melawan Ang-jiu Mo-li ! Bi Li sampai bengong
24
terlongong melihat gurunya seakan-akan bertanding
melawan setan yang tidak kelihatan.
Kalau Bi Li menjadi bengong terheran-heran adalah Angjiu
Mo-li yang menjadi kaget setengah mati dan kagum
bukan main. Ia telah mengerahkan ginkangnya, hendak
mempergunakan kecepatan gerakannya untuk menangkan
pemuda itu. Akan tetapi perkiraannya meleset sekali karena
ke manapun juga ia bergerak, ia telah didahului oleh Tiang
Bu. Kecepatan ditambah dengan Ang-jiu-kang yang ia
andalkan itu seperti mati kutunya menghadapi Tiang Bu.
Ia tadinya bergerak dan memutar cepat untuk membikin
lawannya pening, kiranya sekarang Tiang Bu bergerak lebih
cepat lagi sehingga akibatnya Ang-jiu Mo-li sendiri yang
menjadi pusing! Tadinya Ang-jiu Mo-li berniat mendesak
pemuda itu mempergunakan kecepatannya agar Tiang Bu
menyerah, kiranya sekarang malah dia yang didesak hebat,
setiap pukulan Ang jiu kang didahului oleh totokan-totokan
lihai pemuda itu ke arah pergelangan tangan atau siku dan
pundak sehingga selalu Ang jiu Mo-li harus membatalkan
serangannya.
Karena ilmu silatnya sendiri terang takkan dapat
menguntungkan, Ang-jiu Mo-li tidak merasa malu-malu lagi,
terus saja mainkan Ilmu Silat Kwan-im cam mo yang ia
dapat dari kitab Omei-san ! Ilmu silat ini hebat sekali,
gerakannya lembut dan lambat, sesuai dengan sifat Kwan lm
Pouwsat dewi welas asih itu, namun di dalam kelemahlembutan
mengandung unsur kekuatan yang hebat, di
dalam kelambatan mengandung unsur kecekatan yang luar
biasa. Juga Ang-jiu Mo-li yang memang cantik nampak
agung ketika melakukan ilmu silat ini, seperti seorang dewi
baru turun dari kahyangan sambil menari-nari.
Bi Li mengeluarkan seruan kagum. Juga Tiang Bu kaget
sekali. Ia mengenal dasar-dasar ilmu silat gurunya, akan
tetapi sebagai seorang pria ia belum pernah mempelajari
ilmu silat yang khusus diciptakan untuk murid-murid
25
wanita ini. Tiang Bu berlaku hati-hati tidak berani
sembarangan menyerang. Baru sekarang setelah Ang-jiu Moli
mainkan ilmu Silat Kwan im cam-mo, keadaan mereka
seimbang. Untuk mengimbangi ilmu silat secabang ini, Tiang
Bu mainkan gerakan -gerakan dari kitab sajak Thian-te-sikeng,
berpangkal pada gerakan lawan.
Pertempuran berjalan lambat namun angin pukulan
menyambar-nyambar di sekeliling dua orang ini, membuat
daun-daun pohon bergoyang-goyang seperti tertiup angin
besar, bahkan Bi Li yang berdiri dalam jarak lima tombak
dari gelanggang pertempuran, merasai sambaran-sambaran
angin yang mengiris kulit. Dari ini saja dapat dbayangkan
betapa lihainya dua orang itu.
Seratus jurus telah lewat dan pertempuran masih
berlangsung ramai. Sebetulnya adalah karena Tiang Bu
terlampau sungkan sungkan terhadap guru kekasihnya ini
maka pertempuran tidak segera berakhir. Kalau pemuda ini
berlaku kejam dan mencari kemenangan, kiranya
pertempuran takkan berlangsung selama itu.
Ang-jiu Mo-li merasa penasaran di samping
kekagumannya dan keheranannya. Selama hidup, belum
pernah ia bertemu dengan lawan sehebat ini. Memang
pernah ia berhadapan dengan orang-orang lihai, bahkan
dahulu Toat-beng Kui-bo pernah membuat ia kewalahan dan
harus mengakui bahwa kepandainnya masih kalah setingkat
kalau dibandingkan dengan kepandaian Toat-beng Kui-bo.
Akan tetapi, tak seorangpun di dunia ini pernah
menghadapinya dengan cara yang demikian mudah dan
banyak mengalah seperti pemuda ini.
Karena penasaran, Ang jiu Mo-li mengeluarkan jurus
yang paling ampuh dari ilmu silat Kwan-im cam-mo yaitu
gerakan yang disebut Kwan-im lauw ci (Kwan lm Mencari
Mustika). Jurus ini terdiri dari gerakan serangan beruntun
dengan kedua tangan yang kelihatannya seperti maraba atau
menangkis ke depan, akan tetapi sesungguhnya merupakan
26
pukulan-pukulan Ang jiu-kang disusul totokan-totokan ke
arah jalan darah penting di tubuh lawan. Kehebatan
serangan ini adalah apabila dielakkan, serangan susulan
menyambar sehingga kedudukan lawan makin lama makin
buruk sampai tak mungkin dapat dielakkan lagi.
Untuk menangkis juga amat berbahaya karena kedua
tangan Ang-jiu Mo-li sudah menjadi merah darah, tanda
bahwa seluruh tenaga Ang-jiu kang telah terkumpul ke
dalam seluruh jari tangannya. Bau amis dan hawa panas
menyelimuti setiap gerak tangan, semua merupakan
ancaman maut yang mengerikan. Ang jiu Mo-li dalam
penasarannya telah mengerahkan seluruh kepandaian dan
tenaganya !
Tiang Bu kaget bukan main. Ia sekarang merasa yakin
bahwa menghadapi wanita ganas ini percuma saja ia berlaku
halus, percuma saja menyuruhnya mundur hanya dengan
demonstrasi kepandaian yang lebih tinggi. Wanita seperti ini
harus dikalahkan, biarpun terpaksa ia harus melukainya.
Cepat ia menggerakkan kedua tangan pula. Tidak ada
jalan lain untuk melawan jurus Kwan-im lauw-cu yang
dilakukan dengan Ang-jiu-kang sepenuhnya ini kecuali
melawannya keras dengan keras. Berturut-turut ia
manerima serangan Ang-jiu Mo-li dengan kedua tangannya
dan di lain saat dua pasang tangan telah saling tempel pada
telapak tangan, tak dapat dipisahkan lagi !
Ang jiu Mo-li terkejut. Tak disangkanya pemuda ini
berani menerima serangan Ang-jiu-kang dengan cara
demikian. Akan tetapi diam-diam ia girang karena sekarang
ia mendapat kesempatan untuk menang. Ang-jiu-kang ia
kerahkan untuk menyerang Tiang Bu melalui telapak
tangan. Kedua tangan Ang-jiu Mo-li mengeluarkan hawa
panas sampai mengepulkan asap putih. Kalau tangan orang
biasa yang terkena tempel tentu akan menjadi hangus dan
orangnya akan mati seketika itu juga, akan tetapi Tiang Bu
yang maklum bahwa keadaan sekarang bukan main-main
27
lagi melainkan pertandingan adu sinkang yang dapat
mengakibatkan maut, mengumpulkan seluruh tenaga dalam
yang ia dapatkan dengan berlatih Seng-thian-to,
menggerakkan hawa sinkang itu untuk melawan pengaruh
Ang-jiu-kang yang mendesak.
Ang-jiu Mo-li merasa betapa telapak tangan pemuda itu
dingin seperti salju, makin lama makin dingin. Sebaliknya
telapak tangan Ang-jiu Mo-li makin lama makin panas.
Ternyata bahwa kalau Ang jiu Mo-li mempergunakan sari
hawa Yang-kang untuk merobohkan lawannya, Tiang Bu
menghadapi dengan sari tenaga Im-kang. Panas lawan
dingin atau keras lawan lembut !
Bi Li berdiri terpukau. Biarpun tingkat kepandaiannya
belum mencapai setinggi ini namun gadis ini maklum apa
artinya orang yang ia kasihi berdiri tegak dengan dua tangan
ke depan saling menempel. Ia melihat kini tidak hanya
kedua tangan gurunya yang mengepulkan uap, bahkan dari
kepala Ang jiu Mo-li juga mengepulkan uap putih. Anehnya,
Tiang Bu nampak tenang-tenang saja, hanya matanya
memandang lawan tanpa berkedip. Dari sepasang mata
pemuda yang biasanya memang tajam dan aneh ini keluar
cahaya yang membuat jantung Bi Li berdebar.
Juga Ang-jiu Mo-li tidak kuat menghadapi sinar mata
pemuda ini, seakan akan kepalanya tembus oleh sinar mata
itu. Ia tahu bahwa ilmu batin pemuda ini sudah mencapai
tingkat tinggi sekali sehingga tenaga sakti itu dapat
menembus melalui sinar mata.
Setelah tidak kuat menahan sinar mata Tiang Bu,
kedudukan Ang-jiu Mo li makin lemah. Hawa panasnya
makin berkurang dan sepeminum teh lagi, ia merasa dingin.
Sinar merah pada kedua tangannya mulai buyar, bahkan
membiru!
Ang jiu Mo-li masih berusaha mempertahankan, namun
ia tidak kuat lagi. Uap yang mengebul dari kepalanya makin
tebal mukanya mulai berpeluh.
28
"Cianpwe, belum cukupkah?" terdengar Tiang Bu
bertanya.
Bukan main kagumnya Ang-jiu Mo-li. Kini takluk betulbetul.
Karena Tiang Bu masih sanggup bertanding tenaga
sambil mengeluarkan kata-kata, itu saja sudah menjadi
bukti nyata bahwa pemuda ini masih jauh berada di
atasnya.
Tanpa malu-malu lagi Mo-li mengerahkan tenaga terakhir
dan menarik kedua tangannya sambil melompat mundur.
Kalau Tiang Bu menghendaki, tentu saja perbuatan ini dapat
berarti matinya Ang-jiu Mo.li. Dalam pertandingan dengan
musuh tentu saja Ang-jiu Mo-li tidak mau melompat mundur
dan mati konyol, lebih baik mati dalam pertandingan dari
pada mati melompat mundur dan terpukul oleh tenaganya
sendiri. Akan tetapi Tiang Bu juga membarengi gerakan
lawan dan menarik kembali tenaga sinkangnya.
Ang-jiu Mo-li terhuyung-huyung akan tetapi tidak sampai
jatuh. Cepat ia duduk bersila mengatur pernapasannya dan
menenteramkan jantungnya yang sudah terguncang hebat.
Mukanya pucat sekali, namun setelah berlalu beberapa
lama, mukanya menjadi merah kembali. Ia lalu membuka
mata, berdiri perlahan dan berkata kepada Bi Li,
"Bi Li, anak bodoh. Kalau kau tetap menjauhkan diri
menolak cinta kasih pemuda ini berarti kau menyiksa hati
sendiri dan menyia-nyiakan hidupmu. Tiang Bu inilah jodoh
yang paling tepat dan baik, di atas dunia kau tak mungkin
berjumpa dengan orang seperti ini. Bi Li, mulai sekarang
kauikutlah Tiang Bu calon jodohmu ini mencari musuh yang
telah membuntungi lenganmu. Kita bertemu di Pek houw-to
dan kelak kalau sudah selesai membasmi orang jahat, aku
sendiri akan mengatur pernikahanmu dengan pemuda sakti
ini !"
Setelah berkata demikian, Ang-jiu Mo-li lalu berkelebat
dan lenyap dari tempat itu meninggalkan Bi Li yang masih
berdiri bengong menyaksikan periempuran hebat yang
29
mendebarkan hatinya itu. Ketika ia mengangkat kepala
memandang, ia melihat Tiang Bu sedang memandang
kepadanya dengan mata penuh perasaan cinta kasih dan
keharuan.
"Tiang Bu.......... !" Tak teresa lagi Bi Li menutupi muka
dengan tangannya yang tinggal sebelah dan menangis
terisak-isak. Air mata mengucur turun melalui celah-celah
jari tangannya, pundaknya berguncang.
Tiang Bu makin terharu dan kakinya melangkah maju
sampai ia berdiri di depan gadis buntung itu.
"Bi Li ...... , mengapa kau lari meninggalkan aku.......... ?"
tanyanya, suaranya tergetar.
Bi Li tak dapat menjawab, hanya isak tangisnya makin
menjadi, sampai terdengar ia sesenggrukan.
"Bi Li, mengapa kau meninggalkan aku?" Setelah
menahan isaknya dengan mengeraskan hatinya, Bi Li
mencoba untuk bicara, akan tetapi sukar sekali sehingga
setelah beberapa kali mengulang, baru ia dapat
mengeluarkun kata-kata,
"Tiang Bu, apa perlu kau bertanya lagi.....? Kau sudah
tahu isi hatiku.........”
"Tidak, Bi Li. Justeru aku sama sekali tidak tahu
bagaimana maksud hatimu. Kalau kau membenciku dan
pergi, aku hanya bisa menerima dengan segala kesadaran
bahwa aku orang yang buruk dan tak berharga. Akan
tapi.......... kau cinta padaku sepertt aku mencintaimu,
mengapa kau.......... pergi meninggalkan aku……..? Apakah
kau sengaja hendak membikin aku mati merana? Bi Li,
bagaimana kau bisa begitu kejam dan tega…….?”
Bi Li meramkan mata dan menggigit bibir, jantungnya
terasa perih seperti tertusuk duri. Air mata mengucur keluar
dari bulu-bulu matanya.
30
"Tiang Bu.......... justeru karena cintaku padamu maka
aku sengaja pergI meninggalkanmu. Aku.......... aku telah
menjadi seorang gadis buntung, bercacad selama hidup, tak
berharga lagi.......... hanya akan membikin kau malu. Itulah
mengapa aku mengambil keputusan pergi. biar hatiku
merana asal kau tidak menjadi buah tertawaan orang ......”
"Bi Li!! Suara Tiang Bu menggeledek. "Orang
mentertawakan aku masih tidak mengapa, akan tetapi siapa
berani mentertawakan kau, akan kuhancurkan mulutnya !
Jangan kau memandang begitu rendah kepadaku. Kaukira
aku akan lupa kepadamu setelah kau bercacad ? Tidak,
sebaliknya cintaku kepadamu makin kekal, makin
mendalam. Aku tidak mau berpisah lagi darimu Bi Li. Kita
sama-sama sebatang kara, kau hanya punya aku dan aku
hanya punya kau seorang. Bi Li. buntungnya lenganmu
tidak mengurangi cintaku, karena bukan tanganmu yang
kucinta, melainkan kau, pribadimu. Bi Li, jangan kau
khawatir, biarpun lenganmu tinggal sebelah saja. dengan
mempelajari ilmu dariku, kau takan kalah oleh orang-orang
berlengan dua yang manapun juga!”
“Tiang Bu ......!" Bi Li menjatuhkan badannya ke dalam
pelukan Tiang Bu dan menangis sepuasnya. Hatinya diliputi
keharuan dan juga kebahagiaan besar. "Tidak, Tiang Bu.
Aku takkan meninggalkan kau, kecuali kalau aku mati....... "
"Hush, gadis bodoh, jangan bicara soal mati. Kau akan
hidup seribu tahun lagi! Tunggu kalau kita sudah
membasmi habis orang-orang jahat yang menjadi musuh
kita, bukankan gurumu sudah berjanji hendak menikahkan
kita?*
Merah wajah Bi Li dan gadis ini merenggutkan kepalanya
dari dada kekasihnya. "Hih, tak tahu malu, Bicara soal
kawin ! Aku tak sudi mendengar.“ Dengan air mata masih
menetes turun, Bi Li terseyum. Tiang Bu juga tersenyum,
wajahnya berseri-seri. Bi Li masih seperti dulu, lincah dan
menarik hati.
31
-oo(mch)oo-
Dari Bi Li yang sudah diberi tahu oleh Ang-jiu Mo-li,
Tiang Bu mendengar bahwa Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong
telah pindah ke Pulau Pek-houw to di selatan, memboyongi
semua selirnya dan membawa harta bendanya, juga bahwa
di pulau itu berdiam Lo-thian tung Cun Gi Tosu yang lihai.
Dengan penuh kebahagiaan oleh karena Bi Li sudah
berada di sampingnya, Tiang Bu mengajak kekasihnya itu
melakukan perjalanan ke selatan dengan cepat. Lengan yang
buntung itu sudah sembuh sama sekali berkat rawatan Angjiu
Mo-li. Buntungnya di bawah pundak ditutup dengan
lengan baju yang pendek. Juga gadis ini karena terhibur oleh
sikap Tiang Bu yang amat mencinta, seakan-akan lupa
bahwa lengan kirinya buntung dan ia melakukan perjalanan
dengan gembira.
Sementara itu, semeniak penyerbuan Sin Hong kemudian
disusul oleh penyerbuan Pek thouw tiauw ong Lie Kong dan
isterinya, Liok Kong Ji berlaku hati-hati sekali. Ia
mempergunakan hartanya, menyebar mata-mata di sekitar
daerah pantai untuk mengetahui kalau kalau ada musuh
datang menyerang lagi agar ia dapat bersiap-siap.
Oleh karena itu, kedatangan Tiang Bu dan Bi Li ke pantai
laut telah diketahui oleh Liok Kong Ji. Di dunia hanya ada
dua orang yang mendatangkan debar ketakutan dalam hati
Kong Ji. Pertama adalah puteranya sendiri, Tiang Bu, yang
ia tahu takkan mau memberi ampun kepadanya dan yang
kepandaiannya amat luar biasa, lebih lihai dari pada tokoh
manapun juga biarpun usianya masih sangat muda. Orang
ke dua adalah Wan Sin Hong musuh besarnya semenjak
muda dulu, ia takut terhadap kepandaian dan kecerdikan
Wan Sin Hong.
Pada hari itu, Liok Kong Ji menerima berita dari matamatanya,
berita yang amat mengejutkan dan
32
menggelisahkan hatinya. Tidak saja Tiang Bu dan Bi Li telah
berada di pantai, juga ia mendengar bahwa Wan Sin Hong
dan kawan-kawannya sudah menuju ke pulaunya, dan akan
datang tak lama legi. Inilah hebat, pikirnya. Kalau dua orang
ini datang berbareng di Pulau Pek-houw-to, hal ini
merupakaa bahaya hebat!
"Lebih baik mereka dipisahkan. Selagi Sin Hong belum
datang dan masih akan makan waktu satu dua hari baru
tiba di pantai kita harus memancing Tiang Bu agar dapat
cepat datang ke sini untuk kita sambut. Mustahil kalau
dengan keroyokan tak dapat merobohkan bocah itu. Kalau
dia sudah roboh, soal Sin Hong tak perlu dikhawatirkan lagi.
Pokoknya ssal dua setan itu jangan muncul dalam saat yang
sama." Demikian Liok Kong Ji berunding, dengan anak
angkatnya Liok Cui Kong.
“Mudah,” jawab Cui Kong. "Biar kita mengirim surat
tantangan kepada Tiang Bu agar panas hatinya dan ia segera
datang ke sini mebdahului Wan Sin Hong."
Demikianlah. ketika Tiang Bu dan Bi Li tiba di pantai dan
sedang mencari perahu di tempat yang sunyi sekali itu, tibatiba
mata Bi Li yang tajam melihat sesuatu di atas batu
karang.
“Tiang Bu lihat.......... Seperti kertas; bertulis yang
sengaja dipasang orang di sana!”
Tiang Bu, menoleh. Benar saja, di atas batu karang
terdapat sehetai kertas kuning muda yang ada tulisannya,
ditempel di batu karang. Ketika dua muda-mudi ini
mendekati, ternyata tulisan itu memang ditujukan kepada
Tiang Bu. Merah muka Tiang Bu ketika membaca tulisan itu
yang berbunyi seperti berikut:
“TIANG BU, ANAK PUTHAUW! KAU DATANG MINTA
AMPUN ATAU MINTA MATI, AYAHMU MENANTI
LIOK KONG JI.
33
"Manusia Iblis !” Tiang Bu memaki gemas "Sombong,
kaukira aku takut padamu ?”
“Lihat, di sana ada perahu datang!” teriak Bi Li yang
sudah menoleh ke arah laut karena ia melihat ancaman
maut di dalam surat Liok Kong Ji. Gadis ini amat khawatir
akan keselamatan kekasihnya karena ia cukup maklum
betapa lihainya manusia iblis itu bersama kaki tangannya.
Tiang Bu menengok, dan betul saja, dari arah laut datang
sebuah perahu yang layarnya terkembang. Anehnya, perahu
itu kosong tidak ada
penumpangnya.
"Mereka telah
mengirim perahu
untukmu!” kata Bi Li,
suaranya agak gemetar.
Tiang Bu tidak menjawab
melainkan menyambut
perahu yang sudah
sampai di pantai itu.
Benar-benar orang telah
mengirim perahu kosong
untuknya, perahu yang
layarnya dikembangkan
dan kemudinya diatur
sedemikian rupa sehingga
dengan adanya angin
yang mengbembus ke
arah pantai, perahu itu
bisa berlayar sendiri ke
pantai.
"Musuh bersikap sombong sekali," kata Tiang Bu. "Aku
harus ke sana sekarang juga agar jangan dianggap takut. Bi
Li, kau tunggu saja di sini. Biarkan aku sendiri Pergi
memberi hajaran pada manusia-manusia iblis itu untuk
membalaskan sakit hatimu."
34
"Tidak, Tiang Bu. Aku ikut dengan kau !”
"Bi Li," Pemuda itu memegang tangan Bi Li, "jangan salah
sangka. Untuk melindungimu dari mereka aku masih
sanggup dan dengan aku di sampingmu mereka tak
mungkin berani mengganggumu. Akan tetapi, kau tahu
sendiri betapa licik dan curangnya mereka itu, dan inilah
yang kukhawatirkan. Menghadapi kecuranpan mereka lebih
berat dari pada menghadapi kepandaian mereka. Lebih
leluasa bagiku pergi seorang diri. Kau tinggallah saja di sini,
Li-moi, percayalah, aku meninggaikanmu hanya sebentar
saja dan aku meninggalkanmu ini adalah karena sayangku
kepadamu."
“Akan tetapi .......... aku ingin sekali membalas sendiri
kepada manusia jahanam Liok Kong Ji !”
Tiang Bu mengangguk. "Jangan kau khawatir, aku akan
menyeretnya ke sini sehingga kau dapat membalas sakit
hatimu."
“Betulkah, Tiang Bu !" tanya Bi Li penuh harap.
"Mana aku mau membohongimu. Nah, kau baik baik
menjaga dirimu, tunggu aku di pantai,” kata Tiang Bu
sambil melompat ke perahu.
"Tiang Bu, kau jagalah dirimu baik-baik. Kau tahu
semangat dan hatiku ikut bersamamu .......... " kata Bi Li,
hatinya tidak karuan rasanya melihat kekasihnya pergi
menempuh bahaya seorang diri.
Tiang Bu tersenyum. “Jangan khawatir, Bi Li. Doa
restumu menjadi jimat pelindungku. Kita akan bertemu
kembali, Bi Li." Ketika perahu mulai menjauhi pantai dan Bi
Li berdiri seperti patung di tepinya, Tiang Bu berseru dari
jauh, "Bi Li, aku cinta kepadamu.......... !"
Bi Li mengangguk-angguk, tersenyum dan matanya
menjadi basah. Setelah perahu itu sudah jauh sekali
merupakan titik hitam, gadis itu menjatuhkan diri berlutut,
35
mukanya diangkat ke atas, matanya meram, bibirnya
bergerak-gerak seperti orang bardoa mohon berkat
perlindungan dari Thian untuk pemuda yang dikasihinya.
Tiang Bu sudah mendengar dari Bi Li bahwa Pulau Pekhouw
to dapat dikenal di antara pulau pulau itu sebagai
pulau yang dari jauh tampak keputih-putihan dan
bentuknya seperti seekor macan mendekam. Dan pulau ini
memang tidak sukar dikenal dari jauh. Setelah perahunya
didayung cepat menuju ke kumpulan pulau-pulau itu, ia
melihat Pulau Pek-houw-to. Hatinya berdebar girang.
Sekarang ia tidak mau bekerja kepalang tanggung.
Ia harus dapat membasmi Liok Kong Ji dan semua kaki
tangannya dan merampas kembali kitab-kitab Omei-san
yang sekarang sudah terkumpul ke dalam tangan Liok Kong
Ji dan Cun Gi Tosu. Pemuda ini maklum bahwa ia
menghadapi orang-orang pandai. Lawan-lawan berat yang
tak boleh dipandang ringan akan tetapi ia tidak takut. Ia
percaya penuh akan kekuatan sendiri, dan percaya penuh
akan dapat mengalahkan mereka semua.
Tiba-tiba ia mendengar suitan keras beberapa batang
anak panah menyambar cepat ke arah perahunya,
menancap di atap perahunya melihat anak-anak panah itu
tidak di arahkan kapadanya, melainkan kepada atap
perahunya, Tiang Bu seolah-olah tidak melihat kejadian ini
dan bersikap tenang-tenang saja. Didayungnya perahu
layarnya dengan cepat.
Akan tetapi segera muncul lima buah perahu kecil
dengan atap melengkung dari balik-balik batu karang yang
menonjol di permukaan laut. Perahu-perahu ini ditumpangi
oleh Lam-thian-chit-ong dan belasan anak buahnya,
berjumlah dua puluh orang lebih, setiap perahu ditumpangi
lima orang. Dengan cepat perahu-perahu ini sudah malang
melintang menghadang kedatangan perahu Tiang Bu.
Pemuda itu tetap tenang maklum bahwa Liok Kong Ji sudah
36
mengirim rintangan pertama untuk menggagalkan
pendaratannya ke Pek-houw-to.
Aku harus hati-hati, pikir Tiang Bu. Di darat aku tak
perlu memusingkan dua puluh orang lawan ini, akan tetapi
di air, hmm, berat juga.
“He, pemuda yang sudah bosan hidup. Kedatanganmu ini
dengan keperluan apakah ?” Teriak si baju marah, ketua
dari Lam-thian-cit-ong.
Melihat tujuh orang yang pakaiannya tujuh macam ini,
diam-diam Tiang Bu sudah dapat menduga bahwa mereka
tentulah merupakau kelumpok kaki tangan Kong Ji yang
terdiri dari saudara-saudara seperguruan, dan tentu
kepandaiannya tidak lemah.
“Badut merah, kau mau tahu maksud. kedatanganku ?”
jawabnya. "Dengarlah baik-baik. Aku datang untuk
membasmi manusia-manusia iblis seperti Liok Kong Ji, Liok
Cui dan kaki tangannya seperti kalian. Sudah jelaskah ?”
Lam-thian-chit ong memang mendapat tugas dari Liok
Kong Ji untuk mencegat perahu pemuda itu. Liok Kong Ji
masih belum tahu apakah kedatangan Tiang Bu dengan
maksud baik ataukah buruk, maka ia menyuruh Lam-thianchit-
ong mewakilinya dan menyelidiki.
Mendengar jawaban Tiang Bu yang tegas itu, Lam-thian
chit ong lalu memerintahkan anak buahnya dan di lain saat
puluhan batang anak panah menyambar ke arah Tiang Bu.
Akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak perduli, hanya
menggerakkan dayung mendayung perahunya. Aneh bukan
main, perahu itu seperti bernyawa, bergerak-gerak cepat tak
sebatangpun anak panah mengenai tubuhnya, hanya
menancap di tubuh perahu dan masuk ke laut. Inilah
demonstrasi kecelian mata dan kehebatan tenaga
menggerakkan perahu yang amat luar biasa.
37
"Kami menantimu di darat !' terlak si baju merah dan dia
bersama enam orang saudaranya lalu menumpang sebuah
perahu dan mendayungnya ke daratan Pulau Pek houw-to.
Empat buah perabu anak buahnya dengan delapan belas
orang masih mancogat di situ. Malah mereka mendayung
perahu mendekati perabu Tiang Bu dan mengurung dari
empat jurusan.
Harus diketahui babwa Lam-thian-chit ong seperti juga
Tiang Bu, tidak mengerti ilmu dalam air maka siang-siang
mereka meninggalkan Tiang Bu untuk melakukan cegatancegatan
di darat, tidak seperti delapan belas orang itu yang
memang kesemuanya bekas bajak laut. Delapan belas orang
ini semua pandai berenang dan pandai bermain di dalam air,
merupakan ahli-ahli dan penyelam penyelam. Oleh karena
itulah maka tugas pertama untuk monyerang Tiang Bu
diserahkan kepada delapan belas orang bajak laut ini. Liok
Kong Ji memang sudah siap untuk segalanya dan
kedudukannya ini kuat sekali.
Melibat gerakan empat perahu yang mengurungnya,
Tiang Bu bersiap sedia. Kini ia tidak duduk di dalam
perahunya, melainkan berdiri di kepalanya perahu dengan
dayung di tangan, sepasang matanya awas memandang
gerak-gerik empat perahu lawan yang mengelilingi. Adapun
tujuh orang yang berbeda-beda warna pakaiannya itu kini
telah mendarat, berdiri di tepi pantai dan menonton
bagaimana para anak buah bajak laut itu hendak
mengalahkan pemuda itu.
Terdengar pemimpin bajak laut itu memberi aba-aba
dengan suitan dan kembali empat perahu itu mereka
menghujankan panah ke arah Tiang Bu. Berbeda dengan
tadi, kini anak panah datang menyerang empat jurusan,
depan belakang dan kiri kanan. Kalau tadi semua anak
panah datang dari depan maka masih dapat Tiang Bu
menggunakan kepandaian menggerakkan perahu untuk
mengelak dari sambaran anak panah-anak panah. Akan
38
tetapi sekarang ia tidak dapat berbuat seperti tadi. Cepat ia
menggerakkan dayungnya dan....... alangkah terkejut hati
semua bajak laut ketika mereka menyaksikan demontrasi
kepandaian yang luar biasa.
Begitu dayung diputar menangkis anakpanah itu tidak
runtuh ke bawah, melainkan meleset dan terus menyambar.
Anak-anak panah dari depan melesat dan menyambar arah
perabu sebelah kanan, yang dari kiri menyambar ke arah
perahu di belakang. dari kiri monyambar ke depan. Jadi
dengan dayungnya itu, Tiang Bu "mengoperkan" anak
panah-anak panah itu ke arah perahu perahu bajak,
seakan-akan para bajak itu saling serang sendiri dengan
anak panah-anak panah mereka !
Terdengar mereka berseru kaget dan cepat-cepat
menangkis. Akan tetapi dalam kegugupan karena serangan
istimewa yang tak pernah disangka-sangka itu, seorang anak
buah bajak yang kurang cepat menangkis dan pundaknya
tertancap anak panah kawan sendiri. Anehnya, buah bajak
itu terus roboh berkelojotan di dalam perahunya dan tewas
seketika itu juga, mukanya berubah hitam !
Melihat hal ini dari atas perahunya, Tiang Bu diam-diam
mengutuk Liok Kong Ji. Ia sekarang tahu bahwa sebelum
menyerangnya, semua anak panah yang dibawa oleh anak
buah bajak ini telah dilumuri racun hitam oleh Liok Kong Ji.
Alangkah kejinya orang berhati iblis itu !
Melihat betapa dengan dayungnya Tiang Bu dapat
menangkis dan malah mengoper semua anak panah, para
bajak tidak berani menyerang dengan anak panah. Serangan
pertama tadi saja sudah mengorbankan nyawa seorang
kawan sendiri dan mereka kini berputar-putar mengelilingi
perahu, menanti saat datangnya aba-aba dari pemimpin
mereka yang sedang memutar otak untuk mengatur
serangan- serangan barikutnya.
Tiang Bu tetap berdiri di kepala perahu, dengan
dayungnya disentuhkan ke air ia menjaga supaya perahunya
39
tetap di tangah-tengah. Ia kelihatan gagah dan tegap, tenang
dan waspada, membuat para bajak memandang jerih.
Mereka semua tahu bahwa kali ini biarpun mereka terdiri
dari belasan orang mengepung hanya seorang pemuda,
namun tugas mereka jauh lebih berat dari pada kalau
mereka ditugaskan membajak sebuah kapal yang dijaga olek
sepasukan tentara.
Kembali pemimpin bajak bersuit. Suitan-suitan yang
berbeda-beda sudah merupakan tanda tersendiri.
Mendengar suitan ini, semua anak buah bajak
mengeluarkan dua macam senjata. Di tangan kiri memegang
sebuah galah ujungnya dipasangi kaitan besi sedangkan di
tangan kanan memegang sebuah tombak yang runcing. Baik
tombak maupun gala kaitan itu panjangnya ada tiga tombak.
Melihat ini, Tiang Bu maklum bahwa mereka hendak
menyerangnya dengan tombak dan mencoba untuk mengait
dan menggulingkan perahunya. Ia pikir bahwa kalau mereka
berani menyerangnya dengan dua macam senjata itu, ia
sama sekali perlu takut karena dengan mudah dapat
merampas semua senjata mereka dan menggunakan senjatasenjata
panjang itu untuk menghajar mereka.
Perahu-perahu itu mulai mendekat sampai pada jarak
delapan tombak. Tiba-tiba dari masing-masing perahu, dua
orang bajak loncat ke dalam air membawa dua macam
senjata itu terus menyelam. Tiang Bu kaget sekali. Celaka,
pikirnya. Kalau mereka menyerangnya dari bawah dan
menggulingkan perahu, ia bisa tewas !
Cepat Tiang Bu mendayung perahunya mendekati perahu
sebelah kiri. Benar saja dugaannya. Tiba-tiba perahunya
bergoyang-goyang dan ternyata telah dikait dari bawah oleh
delapan penyelam itu. Perahunya dibotot-betot dan akhirnya
menjadi miring. Air mulai masuk. Tiang Bu mempergunalean
Chian-kin-kang (Tenaga Seribu Kati) untuk membuat perahu
jangan sampai terguling, akan tetapi karena air sudah
40
mengalir masuk, ilmunya ini hanya membikin perahu
ambles dan air masuk makin banyak.
Para bajak dari empat perahu itu bersorak-sorak melihat
pemuda ini dengan susah payah mempertahankan diri dan
perahunya. Tak lama kemudian perahu Tiang Bu sudah
hampir tenggelam, air sudah mulai membasahi sepatu
pemuda itu.
Saking gembiranya, para bajak itu kurang waspada dan
tidak dapat menduga apa yang dilakukan Tiang Bu. Tahutahu
berkelebat bayangan yang hampir tidak dapat diikuti
pandangan mata dan pemuda itu sudah meninggalkan
perahunya yang tenggelam, kini sudah berada di perahu
bajak yang berada di sebelah kini. Jarak kurang lebih enam
tombak itu dilompati oleh Tiang Bu dengan amat mudah dan
demikian cepatnya hingga seperti burung walet terbang saja.
Panik terjadi di dalam perahu yang diserbu Tiang Bu.
Untuk menyerang pemuda yang sudah berada di perahu
mereka ini, tak mungkin menggunakan dua macam senjata
panjang itu. Selagi mereka bingung hendak mencabut golok
dan pedang, Tiang Bu tidak memberi waktu lagi. Pemuda ini
menggerakkan kaki tangannya dan suara berteriak
mengaduh susul- menyusul. Tiga orang anak buah bajak
yang berada di perahu itu terlempar ke dalam air untuk
terus tenggelam dan tewas!
Kembali delapan orang penyelam menyerang perahu
bajak yang kini terampas oleh Tiang Bu. Perahu menjadi
miring dan sebentar saja tanggelam, Tiang Bu
mempergunakan ginkangnya, melompat ke perahu ke dua
dan seperti tadi ia mengamuk merobohkan tiga orang anak
buah bajak yang sama sekali tidak berdaya menghadapi
pemuda sakti ini. Akan tetapi penyelam- penyelam itu tidak
mau memberi kesempatan kepada Tiang Bu untuk
menyelamatkan diri. Mereka menyerbu dari bawah air dan
terpaksa Tiang Bu meninggalkan perahunya lagi, melompat
ke perahu ke tiga. Sekarang tanpa ia turun tangan, dua
41
orang bajak yang berada di perahu itu masing-masing sudah
melompat ke dalam air.
Bajak-bajak itu menggunakan siasat baru. Mereka
bertekad hendak menenggelamkan semua perahu agar
pemuda itu tidak mendapat tempat berpijak lagi. Kemball
perahu diserbu dan untuk yang ketiga kalinya Tiang Bu
melompat ke perahu bajak yang ke empat ! Perahu ini
ditumpangi oleh pemimpin bajak bersama dua orang anak
buahnya. Mereka sudah siap-siap dengan golok di tangan
dan pada saat tubuh Tiang Bu melayang, mereka
mamapakinya dengan golok yang dibacokkan kuat-kuat.
Namun bacokan tiga orang ini seperti orang membacok
bayangan saja. Dengan ilmu loncat loh-he (gerakan
membalik) yang disebut Sinliong hoan-Sin (Naga Sakti
Membalikkan Tubuh), tubuhnya membuat salto di udara
dan selagi tiga batang golok itu menyambar, ia sudah
melewati atas kepala mereka dan mendarat di atas perahu.
Tiga orang bajak itu cepat membalikkan tubuh akan tetapi
hanya untuk melihat pemuda itu menggerakkan kedua
tangannya dan.......... mereka terlempar ke dalam air.
Tiang Bu maklum bahwa kalau perahu terakhir ini
tenggelam, ia tidak mempunyai tempat untuk melompat lagi.
Maka cepat ia menggerakkan dayung dan mendayung
perahu itu ke arah daratan. Namun kepandaian berenang
para bajak laut itu benar-benar lihai. Secepat ikan ikan hiu
berenang, mereka telah mengejar dan sebelum mencapai
darat, masih ada dua puluh tombak lagi, mereka telah dapat
mengait perahu dari bawah dengan senjata- senjata kaitan
mereka dan cepat membuat perahu itu miring !
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXIV
TIANG BU marah sekali. Ia melihat bayangan-bayangan
tak jelas bergerak di dalam air. Dengan tenaga luar biasa
pemuda ini meluncurkan dayungnya ke dalam air
menghantam bayangan itu, di antara para penyelam itu
terkena pukulan dayung yang disambitkan, kepalanya pecah
dan tak lama kemudian mayatnya terapung di permukaan
laut, sebentar tenggelam dipermainkan ombak bersama
dengan mayat-mayat kawannya yang sudah tewas ketika
Tiang Bu melompat-lompat dari perahu ke perahu tadi.
Perahu tetakhir makin miring dan akhirnya tak dapat
ditahan lagi perahu itu tenggelam! Tiang Bu mengerahkan
tenaga. menjejak perahu yang hampir lenyap dari
permukaan air itu dan melompat ke arah darat. Akan tetapi
hanya dapat mencapai jarak sepuluh tombak lagi dari
daratan tubuhnya jatuh ke dalam air.
“Byuuurr......!” Air memercik tinggi dan tubuh Tiang Bu
tidak kelihatan lagi. Hanya kelihatan para anak buah bajak
dengan tombak di tangan kanan dan kaitan di langan kiri
cepat berenang ke arah tempat pemuda itu tenggelam !
2
-oo(mch)oo-
Untungnya Bi Li tidak melihat keadaan kekasihnya itu.
Kalau ia menyaksikan betapa kekasihnya terjun ke dalam
laut dan dikejar oleh ahli-ahli penyelam yang bermaksud
membunuhnya, dapat dibayangkan betapa akan hancur dan
bingungnya hati Bi Li.
Pada saat Tiang Bu terancam nyawanya Bi Li masih
berlutut di pinggir laut. Sudah lama titik hitam perahu Tiang
Bu lenyap dari pandangan matanya dan gadis ini masih
tetap berlutut, hatinya penuh doa untuk keselamatan Tiang
Bu, orang satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
"Bi Li, kau sedang apa di sini?" terdengar pertanyaan
halus yang membuat Bi Li terkejut. Seakan-akan gadis ini
ditarik turun dari angkasa lamunannya. Ia melompat berdiri
dan membalikkan tubuh. Ternyata gurunya Ang jiu Mo-li
telah berada di depannya !
"Bi Li, kau sudah sampai di sini mengapa berlutut dan
seorang diri? Mana Tiang Bu ?” tanya pula Ang-jiu Mo-li
sambil menoleh ke sana ke mari, seakan-akan
mengharapkan akan melihat Tiang Bu berada di sekitar
tempat itu.
"Dia sudah berangkat ke Pek-houw to, meninggalkan
teecu seorang diri di sini."
"Lho, mengapa begitu? Mengapa kau tidak ikut serta ?"
"Teecu disuruh menanti di sini karena katanya..........
amat berbahaya kalau teecu menyerbu. Musuh amat lihai
dan dia hendak turun tangan sendiri agar lebih leluasa.
Dia.......... dia melakukan ini untuk menjaga agar teecu tidak
terancam bahaya." Bi Li membela dan melindungi
kekasihnya agar tidak dipersalahkan oleh Ang- jiu Mo-li.
"Hemm, dasar anak muda. Bodoh sekali ! Mati hidup
siapakah yang kuasa mengatur kecuali Thian? Mengapa
3
takut mati kalau sudah berani hidup? Bi Li, calon jodohmu
itu keliru dalam hal ini. Dia hendak menjauhkan kau dari
bahaya, akan tetapi sebaliknya dia membuat kau berada
dalam kegelisahan dan penderitaan batin. Bukankah kau
menderita sekali ditinggalkan tidak tahu bagaimana dengan
nasibnya, bukan ?”
Bi Li menundukkan mukanya. "Memang betul..........”
“Dan kau akan suka sekali, rela mati bersama kalau kau
berada di sampingnya, ikut membantunya dalam
penyerbuan ke Pek-hou to, bukan ?"
Kimbali Bi Li mengangguk akan tetapi tidak ada katakata
keluar dari mulutoya untuk membela Tiang Bu.
"Baik kita susul dia. Kau ikutlah dengan aku."
“Akan tetapi ...... dia sudah pesan supaya teecu menanti
di sini……”
Ang-jiu Mo-li membelalakkan matanya yang masih bagus.
"Hemm..... belum jadi isterinya kau sudah begitu setia dan
taat, lebih taat dari pada kepada gurumu.......?”
Bi Li merasa jengah dan malu, hendak berlutut meminta
maaf, akan tetapi tidak jadi ia lakukan ketika mendengar
kata-kata Ang-jiu Mo-li. "Bagus begitu, muridku! seorang
wanita harus setia dan taat kepada suaminya dalam hal
yang sewajarnya. Memang Tiang Bu melarangmu ikut adalah
demi menjaga beselamatanmu, dan memang ia akan dapat
bergerak lebih leluasa tampa kau di sampingnya yang hanya
akan merupakan gangguan.
Kepandaianmu masih jauh kalau harus berhadapan
dangan musuh- musuh itu. Akan tetapi sekarang ada aku di
sampingmu, aku dapat menjagamu baik-baik. Bahkan kita
berdua akan dapat membantu Tiang Bu, kalau-kalau ia
kewalahan menghadapi lawan-lawannya yang memang
berat."
4
Bi Li lalu menceritakan tentang tantangan yang ditulis
oleh Liok Kong Ji dan tentang perahu yang dikirim untuk
menjemput Tiang Bu. Ang-jiu Mo-li mengerutkan kening,
"Tiang Bu gegabah sekali. Kalau musuh sudah
mengetahui kedatangannya, itu berarti musuh sudah
bersiap sedia menyambut dengan segala macam daya. Liok
Kong Ji terkenal jahat dan keji, penuh tipu daya dan
muslihat busuk. Lebih baik menyerbu ke Pek-houw-to
dengan diam-diam. Akan tetapi ini dapat dimengerti. Tiang
Bu seorang pemuda, tentu saja ia tidak tahan menghadapi
tantangan. Mari kita mencari perahu dan segera menyusul."
Bi Li tidak membantah lagi, bahkan diam-diam ia
gembira sekali. Memang sesungguhnya, bagi Bi Li lebih baik
ia ikut dan selalu berada di samping kekasihnya. Lebih baik
mati bersama dari pada hidup terpisah. Setelah pergi
mencari agak jauh dari situ, akhirnya Ang jiu Mo-li dapat
bertemu dengan seorang nelayan miskin yang suka
menyewakan perahu bututnya. Memang semenjak
gerombolan Liok Kong Ji mendiami Pek houw-to, keadaan di
situ sunyi sekali.
Para nelayan sama pergi pindah dari situ, kecuali
nelayan nelayan miskin yang hanya mempunyai perahu
butut. Perahu-perahu butut dan nelayan-nelayan miskin
tentu saja tidak ada harganya bagi anak buah Liok Kong Ji
dan karenanya malah tidak akan diganggu.
Tak lama kemudian, Ang-jiu Mo-li dan Bi Li duduk di
dalam perahu butut itu yang mereka dayung perlahan
menuju ke tengah samudera. Ang-jiu Mo li sudah mencari
keterangan sejelasnya tentang letak pulau ini dan sengaja
memutar perahunya dan mendatangi pulau itu dari timur.
'Karena mereka sudah tahu akan kedatangan Taang Bu
dari pantai, tentu penjagaqn mereka dikerahkan di pantai
pulau sebelah utara. Lebih baik kita ambil jalan dari pantai
timur dan masuk dari pintu belakang,” kata Ang-jiu Mo li
yang bersikap hati-hati sekali, tidak seperti biasanya. Ini
5
adalah karena Ang-jiu Mo-li maklum akan kelihayaian
lawan-lawannya yang berada di Palau Pek houw-to, sama
sekali tidak boleh dibandingkan dengan lawan-lawan yang
pernah dia jumpai dan pernah ia tandingi.
Mari kita mengikuti pengalaman Tiang Bu yang sedang
menuju ke Palau Pek-houw-to untuk melakukan
perhitungan dengan musuh-musuh besarnya. Seperti telah
diceritakan bagian depan, perahu yang ditumpangi oleh
Tiang Bu dihadang oleh bajak-bajak anak buah Liok Kong Ji
dan dikurung. Setelah melakukan pertempuran hebat di atas
perahu, akhirnya bajak-bajak itu menenggelamkan semua
perahu sehingga terpaksa Tiang Bu melompat ke darat.
Namun, betapapun tinggi kepandaian pemuda ini,
lompatannya tidak mencapai darat yang masih amat
jauhnya sehingga ia tercebur ke dalam air. Tubuhnya
tenggelam dan para anak buah bajak itu dengan tombak di
tangan cepat berenang ke arah tempat pemuda itu
tenggelam. Para bajak itu berteriak-teriak girang, tombak di
tangan kiri siap untuk merobek-robek tubuh pemuda itu
untuk mencari pahala.
Memang baik sekali tadi Tiang Bu tidak mengajak Bi Li.
Andaikata kekasihnya itu ikut dan sekarang bersama dia
tercebur ke dalam air, tentu payah keadaan mereka. Kini
Tiang Bu yang merasa tubuhnya tenggelam, ia cspat
mengenjot kakinya ke bawah. Bagaikan didorong oleh tenaga
raksasa tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tiang Bu untuk
menyedot hawa udata. Kemudian ia membiarkan kedua
kakinya lurus sehingga tubuhnya tenggelam lagi ke bawah.
Para bajak melihat ini mengira bahwa Tiang Bu memang tak
berdaya di air, makin bernafsulah mereka, berenang
menghampiri.
Memang sesungguhnya Tiang Bu tidak pandai berenang.
Akan tetapi ia memiliki lweekang yang sudah mencapai
tingkat yang sukar diukur lagi tingginya. Dengan mengisi
6
paru-paru dengan hawa udara, ia sanggup bertahan tidak
bernapas sampai lama sekali. Ia seorang cerdik yang tabah.
Ia tahu bahwa kalau ia menjadi gugup, ia akan tewas oleh
bajak-bajak itu dan pandai bermain di air. Oleh karena itu ia
bersikap tenang, mengisi dada penuh hawa lalu membiarkan
tubuhnya tenggelam. Setelah kedua kakinya mencapai dasar
laut yang sudah tak begitu dalam lagi karena dekat pantai,
Tiang Bu lalu menggerakkan kedua kakinya berjalan menuju
ke daratan ! Sepasang matanya yang terlatih baik itu dapat
melihat ke depan, ia berjalan terus dengan tenang dan, siap
menanti serangan lawan.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya para
bajak itu. Ketika mereka ini mengejar dan menyelam ke
bawah, mereka melihat orang yang dikejarnya itu "berjalanjalan"
di atas dasar laut seperti orang berjalan jalan makan
angin di taman bunga saja ! Untuk sejenak mereka tidak
tahu apa yang harus mereka lakukan. Akan tetapi yakin
akan kepandaian sendiri bermain di dalam air para anak
buah bajak itu beramai lalu menyerbu, menyerang Tiang Bu
dengan tombak dan kaitan mereka. Mereka pikir bahwa di
dalam air tidak mungkin pemuda itu masih selihai di darat.
Akan tetapi perhitungan mereka jauh meleset. Memang
tak dapat disangkal lagi bahwa kalau ia disuruh berenang
atau menyelam bermain seperti ikan di dalam air, Tiang Bu
akan angkat tangan tidak sanggup.
Akan tetapi sekarang soalnya lain lagi. Pemuda itu bukan
berenang atau menyelam, melainkan tenggelam begitu saja
dan berdiri di atas dasar air laut yang sudah berada di tepi,
agak dangkal dan tidak besar ombaknya. Berkat khikang
dan lweekangnya yang sudah sempurna, Tiang Bu dapat
menahan napas dan dapat memberatkan tubuh sehingga
dapat bergerak lebih leluasa dari pada penyelam atau ahli
berenang yang manapun juga !
Melihat datangnya serangan tombak dan kaitan, Tiang
Bu tidak gentar sama sekali. Dengan kedua tangannya ia
7
menyambar, menangkapi ujung tombak dan sekali gentak
saja orang-orang itu sudah terdorong jauh sekali. Sedanglan
di darat saja mereka itu bukan apa-apa bagi Tiang Bu, apa
lagi di dalam air. Tubuh dan berat badan mereka itu tidak
seberapa, tentu saja dengan mudah mereka dapt dibikin
kocar-kacir. Bahkan ada yang terkena pukulan dan turukan
tombak sendiri, membuat mereka terapung ke permukaan
air dalam keadaan terluka berat.
Para bajak Itu menjadi gentar dan tidak berani lagi
menyerang, membiarkan pemuda “berjalan.jalan” menuju ke
pantai. Air makin lama makin dangkal sampai akhirnya
Tiang Bu tiba di pinggir daratan yang dalamnya hanya
sampai ke leher. Dengan girang ia melihat daratan di depan
mata, dapat ia mengambil pernapasan. Hatinya lega. Setelah
tiba di darat, ia tak usah khawatir lagi akan keroyokan
musuh. Tadipun ia masih untung karena yang
mengerojoknya di dalam air hanya bajak bajak dengan
kepandaian biasa saja. Kalau ia bertemu dengan orang
pandai di dalam air, tentu ia tak dapat melakukan
perlawanan sebagai mana mestinya.
Akan tetapi, begitu ia melompat ke darat ia telah
dihadang oleh seorang pesuruh Liok Kong Ji yang
memegangi sebuah perahu. Pesuruh itu menjura di depan
Tiang Bu lalu berkata.
"Hamba diutus oleh Liok-taihiap untuk mengganti perahu
kongcu yang sudah tenggelam. Kalau kongcu hendak
bertemu dengan Liok taihiap, kongcu dinanti di ujung pulau
ini. Karena perjalanan melalui darat amat sukar dan
khawatir kongcu, sesat jalan, maka perahu ini sengaja
disediakan untuk kongcu. Dengan mendayung perahu ini
sepanjang pantai terus ke sana, dalam waktu satu jam
kongcu akan tiba di tempat Liok taihiap. Demikianlah pesan
taihiap, kecuali kalau kongcu sudah kapok dan takut naik
perahu, kongcu persilahkan mengambil jalan darat yang
lebih jauh dan sukar.”
8
Tiang Bu mendongkol sekali. Ia tak beleh percaya
omongan seorang utusan Liok Kong Ji, akan tetapi embel
embel dalam ucapan tadi yang menyatakan bahwa kalau ia
takut naik perahu ia dipersilahkan melalui darat,
memanaskan perutnya. Mengapa ia harus takut?
Ia tersenyum mengejek. "Siapa sih yang takut
menghadapi segala bajak tiada guna? Kalau menantangku
naik ke perahu, baik. Aku akan naik perahu ini.”
Setelah berkata demikian, Tiang Bu melompat ke dalam
perabu itu dan mendayung agak ke tengah. Perahu itu
mungil dan enak dayungannya, maka Tiang Bu tidak
mengkhawatirkan sesuatu. Dengan hati-hati akan tetapi
cepat ia mendayung perahu itu. Pantai pulau selalu berada
di sebelah kirinya dan ia menuju ke ujung pulau yang tadi
ditunjukan oleh pesuruh yang membawa perahu.
Pantai yang tadinya berpasir berganti pantai yang terhias
tetumbuhan, pohon-pehon dan batu karang. Batu-batu
karang dan pohon-pohon besar berdiri di tepi pantai, tempat
ini amat baiknya untuk orang bersembunyi memasang
barisan pendam. Tiang Bu melirik dan ia berlaku makin
hati-hati. Ia maklum sekali bahwa kalau fihak musuh
hendak membokongnya, tempat inilah kiranya yang paling
baik dan tepat. Ia sengaja mendekatkan perahu agak ke
pinggir untuk menjaga agar ia mudah mendarat kalau
sampai terjadi apa-apa.
Tiang Bu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi,
sepasang mata yang tajam bersinar aneh mengintainya
dengan penuh kebencian. Inilah mata Liok Cui Kong yang
sejak tadi sudah mengamat-amati gerak- gerik musuh
besarnya. Akan tetapi hatinya terlalu pengecut untuk
muncul begitu saja, maklum bahwa terhadap Tiang Bu ia
tidak berdaya sedikitpun juga. Di belakangnya juga
sembunyi banyak kawannya, di antaranya Lam-thian-chitong
akan tetapi mereka inipun tidak mau bergerak sebelum
menerima tugas.
9
Ketika Cui Kong sedang memutar otak bagaimana harus
menyerang musuhnya itu, tiba-tiba ia melihat Tiang Bu
mendekatkan perahunya ke pantai. Girang sekali hati Cui
Kong ia mendapat jalan untuk menyerang lawannya. Dengan
pengerahan tenaga sepenuhnya, pemuda jahat ini
mengangkat sebuah batu karang besar sekali dan beratnya
ada lima ratus kati lebih. Ia memasang kuda-kuda,
menggerakkan tangan dan tubuh dan.......... sekali lontar
batu itu melayang jauh menuju ke depan perahu yang
ditumpangi Tiang Bu !
Memang Cui Kong pintar sekali. Ia tahu bahwa perahu
itu bergerak ke depan dan Tiang Bu memiliki tenaga yang
luar biasa, sehingga kalau ia melontarkan batu ke arah
perahu, tipis sekali kemungkinan akan mengenai perahu
dengan tepat. Oleh karena itu ia sengaja membidik ke depan
perahu dan memang perhitungannya tepat sekali. Batu itu
besar dan berat, dilontarkan dengan tenaga lweekang yang
sudah terlatih, maka luncurannya tidak kalah lajunya
dengan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya !
Kalau diserang seperti ini di darat, tentu Tiang Bu akan
memandang ringan saja, akan tetapi sekarang ia berada di
atas perahu yang sedang meluncur di atas air ! Namun,
karena dia memang sudah siap dan waspada, ia tidak
sampai kena bokong, tidak menjadi gugup. Melihat
datangnya batu besar itu hendak menimpanya, Tiang Bu
mendahului dengan gerakan melompat yang indah dan cepat
sekali, bahkan kecepatannya melebihi kecepatan batu.
Memang hampir tak dapat dipercaya oleh Cui Kong
ketika pemuda ini melihat betapa Tiang Bn melesat ke atas
sebelum batu itu menimpa perahu dan Tiang Bu malah
menginjakkan kaki ke atas batu itu dan dipergunakan
sebagai batu loncatan ke daratan ! Hampir bersamaan
waktunya, ketika batu besar itu menimpa perahu sampai
hancur lebur, Tiang Bu juga sudah tiba di darat dengan
selamat !
10
"Hebat......!” para anggauta Lam-thian-chit-ong berseru
memuji, lupa bahwa yang mereka puji adalah musuh.
Memang, kepandaian yang sudah diperlihatkan oleh Tiang
Bu tadi benar-benar hebat dan mengagumkan.
Sementara itu, melihat Cui Kong, sudah gatal-gatal
tlangan Tiang Bu hendak menyerang. “Cui Kong, manusia
iblis! Sekarang kita sudah berhadapan satu dengan yang
lain, kalau kau benar jantan jungan main curang, mari kita
mengadu tenaga sampai seorang di antara kita menggeletak
tak bernyawa. Ucapan ini dikelurkan oleh Tiang Bu dengan
sikap tenang, akan tetapi mengandung tantangan dan
ancaman yang membuat nyali Cui Kong mengecil. Biarpun
begitu, Cui Kong yang cerdik dan penuh akal bulus ini
segera menyambut tantangan Tiang Bu dengan ketawa
mengejek,
"Ha-ha ha, Tiang Bu
manusia sombong. Kau
datang hanya untuk
mengantar kematianmu
di sini. Kaulihat tujuh
orang gagah ini ? Mereka
adalah paman-pamanku,
Lam-thian-chit-ong yang
terkenal dengan Chitseng-
tin mereka ! Apa kau
berani menerjang barisan
mereka? Ha.ha-ha, Tiang
Bu. Kau takkan dapat
keluar dari kurungan
Chit-seng-tin dengan
tubuh bernyawa !”
Memang Cui Kong
patut menjadi putera
angkat Liok Kong Ji.
Pemuda ini memiliki siasat yang lihai dan otaknya dapat
11
dengan cepat mengatur tipu daya. Kegagalannya menyerang
Tiang Bu dengan batu tadi membuat ia makin insyaf bahwa
menghadapi Tiang Bu bukanlah pekerjaan ringan. Maka ia
cepat mengajukan Lam thian-chit-ong untuk dapat menahan
musuh itu untuk sementara sedan Ian dia dapat
mendatangkan bala bantuan.
Oleh karena memang ia tadi mengajukan Lam-thian-chitong
hanya untuk dapat melepaskan diri dari ancaman Tiang
Bu, begitu melihat tujuh orang pembantu ayahnya itu
bergerak membentuk barisan dan menghampiri Tiang Bu,
Cui Kong diam diam menyelinap pergi untuk memberi
laporan kepada ayah dan gurunya. Akan tetapi ia
mendapatkan ayahnya dan gurunya juga sedang dalam
keadaan panik. Semua tenaga di atas pulau dikerahkan
untuk melakukan penjagaan dan Liok Kong Ji berdua Lo
thian-tung Cun Ga Tosu sudah dalam keadaan bersiaga
dengan sejata di tangan, wajah mereka tegang!
Setelah Cui Kong menyelidiki, baru dia tahu bahwa ada
penjaga melapor akan datangnya serbuan Wan Sin Hong dan
kawan-kawannya ke pulau itu mereka masih dalam
perjalanan akan tetapi tak lama lagi, mungkin pada hari itu
atau besok hari, akan tiba di pulau ini. Cui Kong mengetuh.
"Celaka benar, mengapa mereka bisa datang dalam
waktu yang sama? Ayah, sekarang Tiang Bu juga sudah
mendarat, untuk sementara dilayani oleh Lam-thian-chitong.
Aku cepat pulang untuk melapor bahwa usahaku
membikin dia mampus dalam perahu sia-sia belaka."
Liok Kong Ji mengerutkan alisnya. “Kalau anak setan itu
tak dapat dibinasakan cepat-cepat dan Sin Hong keburu
datang, kita bisa menghadapi lawan yang sangat berat. Mari
kita gempur dulu bocah murtad itu, baru kita himpun
tenaga untuk menghadapi Wan Sin Hong yang kabarnya
datang bersama tokoh-tokok kang-ouw.”
Cepat Kong Ji mengajak Cun Gi Tosu dan Cui Kong ke
tempat di mana Tiang Bu tadi dikeroyok oleh barisan Lam12
thian-chit-ong. Mereka melakukan perjalanan cepat sekali
karena khawatir kalau-kalau Lam-thian-chit-ong tidak kuat
menanggulangi amukan Tiang Bu yang mereka semua sudah
kenal kelihaiannya.
Kekhawatiran mereka memang tidak berlebihan. Tiang
Bu yang menghadapi tujuh orang berpakaian aneh itu
berlaku teneng sekali bahkan sekali lirik ke arah kedudukan
mereka saja, tahulah pemuda ini bahwa barisan Chit-sengtin
(Barisan Tujuh Bintang, mereka itu mudah saja
pemecahannya. Namun, ia maklum pula bahwa siapa yang
belum pernah mempelajari kitab-kitab seperti Sen thian-to
dan Thian-te Si-keng, memang akan mengorbankan waktu
berpuluh tahun untuk menciptakan barisan seperti yang
sekarang diatur oleh tujuh orang berpakaian aneh ini. Maka
ia menghela napas panjang. Orang orang ini sudah bersusah
payah menciptakan barisan, yang dalam kalangan kang-ouw
tentu merupakan barisan istimewa yang sukar dilawa.
Sebetulnya sayang juga kalau usahanya sedemikian sukar
dan lamanya kini dilenyapkan begitu saja.
“Chit-wi loenghiong (tujuh orang tua gagah),
sesungguhnya di antara aku dan chit-wi tidak ada
perhitungan apa-apa yang patut diperhitungkan dengan
pertempuran, tidak pernah ada permusuhan. Melihat
barisan chit-wi ini, berpusat pada Li-seng (Bintang Wanita)
dan Nam-seng (Bintang Pria) dan bersumber pada
pertukaran tertentu dari pada Im Yang. Cambuk di tangan
kanan cu-wi (saudara sekalian) itu mewakili Im-kang (tenaga
lemas) dan pisau pendek itu mewakili Yang-kang (tenaga
kasar).
Ditilik demikian, barisan cu-wi ini diciptakan oleh
seorang yang sudah tahu akan hukum alam, tahu pula akan
pekerjaan Im Yang. Tidak amat sayangkah kulau sekarang
dipergunakan untuk membantu manusia jahat seperti Liok
Kong Ji dan untuk mengeroyok orang yang sama sekali tidak
ada hubungan atau permusuhan dengan cu-wi? Ingat, lebih
13
baik pikir masak-masak sebelum bertindak dari pada
menyesal setelah terlambat !”
Dua orang di antara mereka, yang berpakaian putih dan
hitam melengak dan saling pandang. Mereka kagum dan
heran bukan kepalang mendengar ucapan pemuda ini yang
sekali lirik saja sudah dapat mengenal inti dari pada Chit
seng-tin mereka ! Akan tetapi lima orang yang lain lebih
merasa marah dari pada kagum. Mereka marah dan
mendongkol sekali, apa lagi yang berpakaian merah. Dengan
keras ia membentak sambil menudingkan pisaunya,
"Bocah sombong ! Kami tidak minta petuah darimu.
Kalau kau takut menghadapi Chit-seng-tin kami, lebih baik
terus terang saja dan lekas kau minggat dari sini, tak usah
banyak mengoceh seperti burung mau mati.”
Dalam hal mengendalikan perasaan, tentu saja Tiang Bu
menang jauh. Pemuda ini setelah memperdalam
kepandaiannya dari kitab Seng thian-to, memoperoleh
kemajuan hebat sekali lahir batinnya. Ia tersenyum saja
mendengar bentakan si baju merah dan kembali menarik
napas panjang.
“Memang tepat sekalt kalian mengatur pembagian warna.
Warna merah itu bersifat penuh semangat, panas dan
menjadi sifat dari pada api. Dan orang yang memakai warna
ini memang cocok, telinganya mudah merah, otak mudah
sinting.”
Si baju merah menjadi makin marah. Dia memang
merupakan pimpinan barisan itu, maka segera ia memberi
tanda kepada kawan-kawannya dengan gerakan cambuknya
ke atas sambil memaki,
"Setan cilik, kau sudah bosan hidup !”
Melihat isyarat yang diberikan oleh saudara tua itu,
semua anggauta Chit-seng-tin bersiap siaga dengan senjata
mereka dan mulai mengurung Tiang Bu. Akan tetapi si baju
14
putih dan si baju hitam nampak ragu-ragu. Si baju putih
berkata,
"Ang-ko ( kakak merah ), bocah ini tahu akan sifat tin
kita, jangan jangan kita memukul orang segolongan !"
“Betul, Ang-ko, dia begitu tepat bicara tentang keadaan
tin kita. Apakah tidak lebih baik berunding saja ?” kata si
hitam.
"Tutup mulut, dia musuh Liok-taihiap. Kewajiban kita
untuk membasminya. Serbuuu!" kata si baju merah.
Tin itu mulai bergerak dan menurut isyarat si baju
merah, tin itu membentuk gerakan Tujuh Bintang Berpindah
Tempat. Barisan ini bergerak cepat dan melenggang-lenggok
seperti naga berjalan, sukar sekali diduga lebih dulu ke
mana seorang-seorang hendak bergerak. Tahu-tahu cambuk
panjang mereka berbunyi dan susul menyusul menyambar
ke arah kepala Tiang Bu ! Ini masih ditanjutkan dengan
sambitan pisau yang dipergunakan sebagai senjata rahasia.
Tujuh batang pisau kecil runcing melayang ke arah tuhuh
pemuda yang masih tenang-tenang itu sebagai penyerangan
susulan dari tujuh ujung cambuk yang menyambar dari
segala jurusan mengarah jalan darah.
Tiang Bu dalam menghadapi serangan hebat ini, masih
dapat membedakan dan dapat melihat bahwa ujung cambuk
kedua orang berpakaian putih dan hitam itu hanya
meyambar ke arah jalan darah di pundaknya, bagian yang
tidak berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Juga pisaupisau
mereka itu hanya melayang ke arah kedua pahanya,
tidak seperti lima orang yang lain. Lima orang lawan yang
lain ini mengirim senjata-senjata mereka, baik cambuk
maupun pisau, ke arah bagian yang mematikan.
Menghadapi serangan berantai yang berbahaya ini, Tiang
Bu berlaku tenang sekali akan tetapi tubuhnya segera
bergerak dan empat kaki tangannya bekerja dengan tepat
sekali. Tujuh orang lawannya menjadi terheran heran karena
15
sebelum cambuk mereka mengenai tubuh pemuda itu,
sudah lebih dulu tertolak kembali oleh semacam hawa
pukulan sakti yang keluar dari kaki tangan itu. Sedangkan
tujuh batang pisau itupun runtuh semua di atas tanah
tanpa melukai kulit atau merobek baju. Sambil terus
menggerak-gerakkan kaki tangannya, Tiang Bu berkata
seperti orang bernyanyi.
"Bintang-bintang di langit sudah mempunyai jalan
sendiri maka dapat bergerak menurut jalannya dan
terhindar dari kehancuran. Hanya bintang yang
menyeleweng dari jalannya akan hancur. Masih ada
kesempatan bagi kalian, mati hidup ditentukan oleh Thian
akan tetapi sebab-sebabnya ditentukan oleh manusia sendiri
sebagai akibat perbuatannya!”
Setelah berkata demikian, iapun sudah selesai
menangkis semua pakulan cambuk dan Tiang Bu
malangkah mundur tiga tindak, berdiri tegak dan
memandang ke arah musuh-musuhnya dengan mata tajam.
Tidak terdesak, tapi mundur tiga tindak itu hanya boleh
diartikan sebagai gerak mengalah dalam pertandingan silat,
mengalah bukan karena terdesak atau kalah, melainkan
karena pemuda ini enggan menurunkan tangan kepada
orang orang yang tidak ada permusuhan dengannya.
Kalau si baju merah dengan kawan-kawannya itu orang
baik-baik, tentu mereka tahu diri ! Melihat betapa pisau
pisau mereka tadi runtuh dan cambuk mereka terpental
kembali sebelum menyentuh kulit tubuh Tiang Bu,
seharusnya mereka maklum bahwa tingkat mereka masih
jauh di bawah tingkat pemuda luar biasa ini. Akan tetapi
Lam thian chit-ong ini semenjak dahulu terkenal sebagai
perampok-perampok jahat yang tidak tahu artinya takut,
tidak mau pula mengenal kesalahan sendiri, maunya
menang saja, benar ataupun salah. Mendengar ucapan Tiang
Bu itu si baju merah tidak mau insyaf, malah mengira
bahwa Tiang Bu merasa jerih menghadapi pengeroyokan tin
16
mereka. Ia kembali memberi isyarat dan majulah barisan itu,
kini berbentuk lingkaran yang mengurung Tiang Bu.
Hanya si baju hitam dan si baju putih yang masih raguragu.
Mereka bergerak lambat dan tidak segera menyerang.
Yang lain-lain sudah mulai mengayun cambuk dan
mengerahkan seluruh tenaga lweekang untuk melakukan
serangan. Tidak seperti tadi, kini semua cambuk diarahkan
ke bagian kepala Tiang Bu dengan pukulan maut ! Hanya si
baju hitam dan si baju putih yang tidak mau menyerang
kepala hanya menyabet ke arah pundak.
"Kalian sudah memilih jalan hidup dan mati, jangan
salahkan aku !" bentak Tiang Bu tanpa menggerakkan kaki
atau tangannya. Akan tetapi setiap kali ada cambuk
menghantam kepalanya, tangannya bergerak cepat sekali
dan aneh sekali.....! Cambuk yang menyambarnya itu
bagaikan bisa bergerak sendiri, ujungnya membalik secepat
kilat dan menyerang si pemegang tepat nada bagian yang
tadi hendak dtserangnya. Si baju merah yang gerakan
cambuknya paling cepat dan paling dulu, menjadi korban
pertama.
Cambuk si baju merah tadi menyambar ke arah ubunuban
kepala Tiang Bu dan ketika ujung cambuk bertemu
dengan jari tangan pemuda itu, secepat kilat cambuk ini
membatik dan ujungnya menghantam ubun-ubun kepala si
baju merah sendiri dengan tenaga yang jauh lebih hebat dari
pada tadi. Hal ini karena tenaga si baju merah membalik,
ditambah oleh tenaga sentilan jari tangan Tiang Bu. Tanpa
dapat mengeluarkan suara lagi, si baju merah terguling
roboh dengan ubun-ubun kepala pecah oleh cambuknya
sendiri dan ia menggeletak tak bernyawa lagi.
Oleh karena gerakan tujuh orang ini hampir berbareng,
yang lain-lain tak sempat melihat akibat yang hebat ini
karena mereka sendiripun secara susul menyusul dan
hampir berbareng mengalami akibat itu dari cara pukulan
masing-masing. Si baju hijau juga roboh dengan ubun-ubun
17
bolong, si baju biru roboh dengan jidat remuk demikian pula
yang lain lain, roboh tak bernyawa pula. Hanya si baju hitam
dan si baju putih yang roboh tanpa kehilangan nyawa
karena mereka ini hanya terserang oleh cambuk sendiri di
bagian pundak saja, membuut tulang pundak mereka remuk
namun tidak sampai mengakibatkan kematian.
Tiang Bu menarik napas panjang melihat lima orang
lawannya tewas dan dua yang lain merintih-rintih kesakitan.
“Kalian masih ditakdirkan hidup. Kalau tadinya kalian
berdua merupakan Hek-pek-mo (Iblis Hitam dan Putih),
kuharap sungguh agar kelak kalian bisa menjadi Hek-pekcinjin
(Budiman Hitam Putih). Pergilah sebelum kalian
mengalami bencana lebih besar.” Tiang Bu memberi dua
bungkus obat kepada mereka dan dua orang saudara hitam
dan putih ini segera pergi dengan muka pucat. Mereka
maklum bahwi kalau Liok Kong Ji melihat mereka masih
hidup, tentu akan timbul kecurigaan dan bukan hal aneh
kalau mereka juga akan dibunuh sekalian oleh Liok Kong Ji.
Demikianlah, ketika Liok Kong Ji, Cun Gi Tosu, dan Liok
Cui Kong tiba di tempat mereka hanya melihat lima orang
anggaota chit ong yang sudah menjadi mayat. Dua orang lagi
yang berpakaian hitam dan putih tidak kelihatan, juga Tiang
Bu tidak berada di situ.
"Hemm, agaknya mereka ini bukan lawan Tiang Bu," kata
Liok Kong Ji, suaranya terdengar tenang akan tetapi
sebetulnya jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Cui
Kong menjadi pucat sekali.
"Ke mana Hok-pek-hu (paman Hitam) dan Pek-pet-hu
(paman Putih)?" tanyanya dan suaranya jelas menggigil
ketakutan.
"Penakut!" Kong Ji membentak sambil meludah. Hatinya
mendongkol sekali mendengar suara Cui Kong yang
menggigil, "Mereka tentu sudah lari. Mengapa kau begitu
ketakutan?"
18
"Ayah.......... Tiang Bu begitu.......... begitu keji dan
kuat.........”
"Pengecut! Kaukira aku tidak dapat melawannya? Lihat
saja nanti aku akan mencabut isi perut anak durhaka ini!”
Memang Liok Kong Ji tidak hanya menyombong dan bicara
untuk membesarkan hati. Semenjak tinggal di pulau ini, ia
telah melatih diri dengan tekun sekali. Apa lagi ia telah
mempelajari ilmu dari kitab DELAPAN JALAN UTAMA yang
didapatkannya dari Toat-beng Kui-bo. Dari kitab ini ia
memperoleh kemajuan ilmu lwee-kang yang luar biasa, juga
ilmu pedangnya menjadi makin kuat, maka ia menaruh
kepereayaan bahwa ini kali ia akan dapat mengalahkan
musuh-musuhnya, baik Wan Sin Hong maupun Tiang Bu.
"Cun Gi totiang kedatangan Wan Sin Hong tentu untuk
minta kembali puterinya. Kalau mereka bergabung dengan
Tiang Bu, keadaan musuh akan menjadi lebih kuat. Oleh
karena Leng ji merupakan senjata terakhir kita, dia itu
penting sekali dan jangan sampai terampas oleh musuh.
Harap totiang segera mengambil anak itu lebih dulu sebelum
kita menghadapi musuh. Kalau keadaan musuh terlampau
kuat, mungkin bocah itu akan dapat menyelamatkan kita."
Cun GI Tosu juga percaya akan kepandaian sendiri. Dia
tidak takut berhadapan dengan musuh, akan tetapi ia pikir
ucapan Liok Kong Ji ini memang tepat, mengandung
kecerdikan luar biasa. Maka ia mengangguk dan berkelebat
pergi. Mengagumkan sekali kalau melihat kakek yang
kakinya tinggal sebelah itu “berlari" secepat itu, seperti orang
yang tidak cacad saja, bahkan melebihi ahli ginkang yang
kakinya masih utuh.
Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong juga pergi dari situ untuk
mengatur penjagaan dengan mengerahkan semua penjaga
yang berada di pulau itu. Akan tetapi dapat dibayangkan
betapa kekagetan dan kegelisahan hati mereka ketika
melihat di sana-sini para penjaga menggeletak dalam
keadaan tertotok atau terluka .
19
“Kita harus membantu Cun Gi totiang,” kata Liok Kong Ji
sambil mencabut pedang. "Jangan sampai dia roboh oleh
musuh, apa lagi jangan sampai Leng-ji dirampas. Dengan
berkumpul kita bertiga cukup kuat!"
Ayah dan anak ini dengan hati dag-dig-dug berlari-larian
cepat menyusul ke tempat tinggal Cun Gi Tosu karena Leng
Leng memang disembunyikan di situ, dikawani beberapa
orang pengasuh. Ketika mereka tiba di depan pondok tempat
tinggal Cun Gi Tosu, betul saja tosu itu sedang mati-matian
bertempur melawan Tiang Bu! Cun Gi Tosu mainkan
tongkatnya secara hebat dan dahsyat, dan Tiang Bu
menghadapinya, dengan tangan kosong.
Bagaimana Tiang Bu bisa muncul di situ dan bertempur
dengan Cun Gi Tosu? Tadinya Cun Gi Tosu berlari cepat
menuju ke pondoknya untuk mengambil Leng Leng, dan di
dalam hatinya ia sudah mempunyai muslihat licik. Ia adalah
guru Leng Leng dan melihat Leng Leng dalam keadaan
selamat, tentu Wan Sin Hong takkan terlalu mendesaknya.
Kalau ia menukarkan Leng Leng dengan keselamatannya,
masa Wan Sin Hong takkan mau menerimanya?
Akan tetapi ketika ia sedang berjalan cepat sampai di
depan pondoknya, dari balik rumpun bambu berkelebat
bayangan lain yang segera menegurnya, "Cun Gi totiang
perlahan dulu !”
Cun Gi Tosu berhenti dan memandang. Di depannya
berdiri seorang pemuda dengan sepasang mata seperti
bintang pagi, bibir tebal membentuk watak teguh dan iman
kuat.
"Siapa kau? Mau apa?” Cun Gi Tosu membentak.
"Cun Gi totiang. Selama hidupku, baru untuk kedua kali
ini aku bertemu dengan totiang yang bercacad, sebetulnya
patut dikasihani. Sayangnya, perbuatan totiang yang tidak
patut menditangkan kebencian yang lebih besar dari pada
rasa kasihan kepada tubuh totiang."
20
"Eh, bocah lancang. Kau siapakah dan apa artinya semua
ocehanmu tadi?" Cun Gi Tosu membentak marah, namun
hatinya sudah dapat menduga siapa adanya bocah yang
begitu berani mampus, datang-datang mencelanya.
"Aku yang muda dan bodoh bernama Tiang Bu, dahulu
ketika masih kecil pernah melihat totiang ikut menyerbu
Omei-san dan mencuri kitab-kitab dari suhu."
"Ho ho, jadinya kau ini murid Omei san? Dan kau datang
hendak minta kembali kitab kitab Omei-san ?" kali tosu itu
membesarkan hatinya.
"Bukan itu saja, totiang. Selain minta kitab juga aku
tidak dapat membiarkan kejahatanmu yang lain-lain. Kau
sudah membantu manusia-manusia jahat macam Liok Kong
Ji dan Liok Cui Kong. Juga kau sudah menculik anak dari
Wan-taihiap ..... "
“Bocah keparat, jadi kau anak durhaka dari Liok-taihiap?
Alangkah memalukan punya anak macam kau. Rasakan
tongkatku !”
Dengan marah Cun Gi Tosu mengayun tongkatnya
melakukan serangan kilat dengan tongkatnya ke arah kepala
Tiang Bu. Memang tadinya tosu ini sudah sering mendengar
dari Liok Kong Ji dan Cui Kong tentang kelihaian Tiang Bu,
akan tetapi sekarang melihat bahwa Tiang Bu hanya pemuda
yang tidak lebih usianya dari pada Cui Kong muridnya, ia
memandang ringan. Apa lagi ia melihat pemuda ini
bertangan kosong dan tongkatnya mendapat julukan Lothian-
tung (Tongkat Pengacau Langit), maka serangannya ini
hebat bukan main. Cun Gi Tosu mengira bahwa sekali pukul
ia akan dapat membikin mampus lawan muda ini. Ilmu
tongkatnya memang hebat, pukulannya mengandurg tenaga
lweekang hampir seribu kati dan sukar sekali dielakkan
lawan, apa lagi ditangkis.
Akan tetapi, alangkah heran dan juga gembira hatinya
ketika ia melihat bocah itu mengangkat tangan kanan dan
21
hendak menangkis pukulan tongkat itu dengan telapak
tangan !
“Ha-ha, remuk tulang-tulangmu !” bentak Cun Gi Tosu
sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Tak dapat tidak,
pikirnya, tangan pemuda goblok ini pasti remuk. Jangankan
baru telapak tangan orang lagi masih muda, senjata baja
yang bukan pusaka ampuh tentu akan patah-patah atau
hancur !
Sama sekali Cun Gi Tosu tak pernah mimpi bahwa ia
tidak menghadapi seorang manusia dengan kepandaian silat
biasa, melainkan menghadapi seorang ahli waris langsung
dari Omei-san, murid Tiong Sin Hwesio pewaris Tat Mo
Couwsu dan Tiong Sin Hwesio pewaris Hoat Hian Couwsu!
Bukan hanya mewarisi kepandaian kedua orang tokoh Omeisan
yang tidak ada tandingannya itu, malah sudah pula
mewarisi sinkang dari kedua orang sakti itu. Apa lagi setelah
mempelajari kitab Seng-thian-to, tenaga dalam dari pemuda
ini sudah jangan dikata lagi kehebatannya, mendekati
tenaga sakti yang dimiliki oleh para couwsu (guru besar) dari
sekalian partai persilatan besar.
"Plak!" Ujung Tongkat Pengacau Langit bertemu di udara
dengan telapak tangan Tiang Bu dan.......... Cun Gi Tosu
meloncat-loncat ke belakang dengan sebelah kakinya.
Hampir saja ia terjengkang roboh kalau ia tidak cepat-cepat
melambung tinggi dan berpoksai (berjungkir-balik) sampai
tiga kali, baru ia mampu berdiri tegak dan dapat pula
menggunakan tongkatnya untuk menyandarkan diri.
Matanya terbuka lebar lebar dan mulutnya melongo. Serasa
mimpi kejadian tadi, hampir tak dapat ia percaya. Apakah
tiba-tiba tenaganya sudah musnah? Tak mungkin! Ia
mengayun tongkatnya ke arah batang pohon besar di
sebelah kirinya.
“Brakk ...... !” Batang pohon itu patah dan pohonnya
tumbang mengeluarkan suara berisik. Baru ia mau percaya
bahwa pemuda di depannya ini memang sakti bukan main
22
dan mulai ia percaya bahwa muridnya, Cui Kong dan Liok
Kong Ji tidak berlebih-lebihan ketika memuji kepandaian
Tiang Bu. Akan tetapi dia adalah Lo-thian-tung Cun Gi Tosu
yang terkenal berilmu tinggi. Masa ia harus takut
menghadapi lawan begini muda? Mungkin bocah ini sudah
mewarisi tenaga besar, akan tetapi dalam hal ilmu silat.
tentu belum masak, belum lama terlatih dan belum banyak
pengalaman. Oleh karena pikiran ini, hati Cun Gi Tosu tetap
besar dan tabah. Ia memutar tongkatnya dan menyerang lagi
sambil membentak,
"Bocah, tenagamu besar. Akan tetapi jangan kira Lothian
tung takut!"
Memang benar semua dugaan Cun Gi Tosu tadi. Melihat
usianya yang baru dua puluhan, tentu saja dibanding
dengan Cun Gi Tosu, Tiang Bu sama sekali tak dapat
direndengkan dalam hal kematangan latihan den
pengalaman bertempur. Sebelum Tiang Bu terlahir di dunia.
Cun Gi Tosu sudah menjadi seorang tokoh besar. Akan
tetapi, harus diketahui bahwa Tiang Bu telah mewarisi ilmu
silat yang diciptakan sendiri oleh Tat Mo Couwsu dan Hoat
Hian Couwsu.
Mengingat bahwa ilmu ilmu silat yang ada sebagian besar
bersumber pada dua orang guru besar ini, dapat
dibayangkan bahwa ilmu silat yang dipelajari oleh Tiang Bu
memang lebih sempurna dan lebih tinggi tingkatnya dari
pada ilmu silat yang dimiliki oleh Cun Gi Tosu. Memang dia
kalah matang dan kalah pengalaman, andaikata pengalaman
dan kematangan ilmu silatnya sebanding dengan tosu itu
kiranya dalam sepuluh jurus saja tosu buntung itu akan
roboh.
Terjadilah pertempuran yang benar benar hebat. Kali ini
Tiang Bu menghadapi lawan yang benar-benar tangguh
sesudah ia dahulu menghadapi Wan Sin Hong. Seperti juga
dahulu ketika menghadapi Wan Sin Hong, Tiang Bu terdesak
oleh ilmu tongkat yang dimainkan oleh Cun Gi Tosu secara
23
dahsyat sekali. Kemahiran dan kematangan Cun Gi Tosu
dalam bermain silat tongkat benar-benar sudah mencapai
batas tinggi sekali dan dalam jurus jurus pertama Tiang Bu
benar terdesak terus. Akan tetapi lambat laun pemuda ini
dapat memahami inti sari ilmu tongkat lawannya itu dan
mengimbanginya.
Sudah dua kali ia membiarkan pundak dan pahanya
dipukul, hanya dilawan dengan hawa sinkang di tubuhnya
sehingga pukulan-pukulan itu hanya terasa sakit sedikit
saja. Kemudian setelah tiga puluh jurus lamanya ia
memahami inti sari gerakan lawan, baru Tiang Bu membalas
serangan lawan dengan desakan-desakan ilmu pukulannya
yang lihai. Baru Cun Gi Tosu terkejut bukan kepalang.
Tasdinya, melithat pemuda itu terdesak, bahkan dua kali
kena pukulannya ia sudah mulai girang den mangira bahwa
ia tentu akan dapat merobohkan lawan ini. Tidak tahunya,
yang tiga puluh jurus lamanya itu memang sengaja
dipergunakan oleh Tiang Bu untuk memahami gerakan
lawan dan mengalah, mempertahankan diri terus menerus
dengan llmu Kelit Sam-hoan-sam-bu.
Kini setiap pukulan tongkat Cun Gi Tosu, ditangkis atau
dikelit dengan balasan serangan pukulan keras. Kasihan
sekali kakek buntung itu yang harus berloncatan ke sana ke
mari menghindarkan pukulan Tiang Bu yang didahului oleh
sambaran angin pukulan yang kadang-kadang panas
kadang-kadang dingin itu. Cun Gi Tosu makin ketakutan
karena maklum bahwa lweekang pemuda ini sudah
sedemikian tingginya sehingga dalam satu serangan dapat
mempergunakan Im-kang dan Yang-kang secara bergantian
atau dicampur campur. Tingkat setinggi ini biar dia
sendiripun masih belum dapat mencapainya !
Berkali-kali tongkat bertemu dengan telapak tangan
Tiang Bu. Makin lama, setiap kali tongkat dan tangan
bertemu, Cun Gi Tosu terhuyung makin jauh ke belakang
dan pada jurus ke lima puluh. ketika tongkat Cun Gi Tosu
24
menghantam kepala, Tiang Bu menangkis lagi, Cun Gi Tosu
berteriak kaget karena kali ini ia seperti tak bertenaga lagi
dan tahu-tahu ia merasa dadanya sakit sekali. Kembali ia
menghantam, ditangkis lagi dan ia menjerit, dadanya seperti
dipukul orang.
“Totiang, kejahatanmu sudah memuncak. Kau
menghantam diri sendiri sampai mati,” kata Tiang Bu yang
mendesak terus. Memang sesungguhnya, hawa pukulan dari
Tiang Bu adalah hawa bersih yang keluar dari sinkang di
dalam tubuhnya. Pukulan-pukulan Cun Gi Tosu yang
dilakukan dengan pengerahan tenaga lweekang itu makin
lama makin lemah, selalu dipultul mundur dan akhirnya
tenaganya itu melukai tubuh sendiri di bagian dalam. Makin
hebat ia memukul, kalau ditangkis maka tenaganya itu
makin hebat menghantam tubuh sendiri tanpa ia sadari.
Kembali tongkatnya melayang, kini malah menyodok ulu hati
Tiang Bu. Pemuda ini mengerahkan tenaga dan menerima
totokan itu dengan telapak tangnnya secara tiba-tiba dan
digentakkan.
“Dukk !!” Cun Gi Tosu terpental ke belakang, muntahmuntah
darah dan roboh terlentang tak bernapas lagi.
Jantungnya terkena goncangan hebat oleh tenaga sendiri
yang membalik dan tewas karena jantungnya rusak.
“Tiang Bu....... tolonglah aku…..” tiba-tiba Tiang Bu
merasa seakan-akan tubuhnya kaku mendengar suara ini. Ia
menengok dan..,. apa yang dilihatnya ? Bi Li berada dalam
pondongan Cui Kong dalam keadaan lemas tertotok.
Secepat kilat Tiang Bu melompat bayangannya seperti
lenyap merupakan sambaran hebat ke arah Cui Kong. Akan
tetapi Liok Kong Ji sudah menghadang di depannya dan
berkata keras, "Tiang Bu, kekerasan hanya berarti tewasnya
kekasihmu ini……”
Kata-kata ini membuat Tiang Bu surut kembali dengan
wajah pucat. "Jangan ....... jangan ganggu dia ...... jangan
kalian berani mengganggu calon isteriku ! Lepaskan !"
25
Liok Kong Ji tersenyum dan memandang ke arah Bi Li
dengan muka berseri “Aha, calon isterimu ya ? Bagus, dia
calon mantuku kalau begitu. Bagaimana aku mau
mengganggu calon mantu sendiri? Tidak, tidak, anakku
gagah perkasa. Aku bukan orang kejam, Kau pun tentu
bukan seorang anak yang kejam mau membunuh ayah
sendiri bukan?"
Kita tinggalkan dulu Liok Kong Ji yang cerdik dan penuh
tipu muslihat itu mencoba menggunakan lidahnya yang
runcing untuk mempengaruhi Tiang Bu. Bagaimanakah Bi Li
dapat terjatuh ke dalam tangan Cui Kong dan Kong Ji ? Mari
kita mundur sedikit.
Seperti telah kita ketahui, Bi Li ditinggalkan di pantai
daratan oleh Tiang Bu yang tidak menghendaki kekasihnya
itu terancam bahaya di pulau musuh musuhnya. Kemudian
datang Ang-jiu Mo li yang mengajak muridnya itu menyusul
ke Pulau Pek-houw-to untuk membalas dendam kepada Liok
Kong Ji yang sudah membuntungi lengan Bi Li.
Tanpa mendapat kesukaran Ang-jiu Mo-li dan Bi Li
mendarat di pulau itu dan cepat berlari-lari dari pantai timur
yang benar seperti dugaan Ang jiu Mo-li tidak terjaga kuat
karena penghuninya menyangka bahwa musuh tentu akan
datang dari barat. Di sana-sini Ang-jiu Mo-li dan Bi Li
melihat penjaga-penjaga menggeletak tertotok atau terluka.
Tahulah mereka bahwa Tiang Bu sudah mulai turun tangan.
Bi Li mendesak gurunya supaya mempercepat perjalanan
karena gadis ini mulai mengkhawatirkan keselamatan
kekasihnya, biarpun ia percaya penuh akan kesakitan Tiang
Bu. Ang jiu Mo-li maklum akan isi hati muridnya dan iapun
mengerti bahwa menghadapi lawan-lawan seperti Liok Kong
Ji dan kaki tangannya memang bukan hal yang boleh
dipandang ringan. Mereka berlari lebih cepat lagi.
Tiba-tiba mereka malihat dua orang laki-laki tengah
berlari cepat dari depan dan setelah dekat ternyata bahwa
dua orang itu bukan lain adalah Liok Kong Ji sendiri
26
bersama Liok Cui Kong! Tentu saja Ang-tiu Mo-li menjadi
girang sekali dapat bertemu muka dengan masuh-musuh
besar yang ia cari-cari.
Kegirangannya bercampur aduk dengan kemarahan
besar ketika ia melihat Cui Kong membawa lengan kering
yang dilingkari ular sebagai senjata! Sekali pandang saja
maklumlah ia bahwa pemuda keji itu telah mempergunakan
lengan Bi Li sebagai sebuah senjata yang mengerikan. Juga
Bi Li tahu akan hal ini maka kemarahannya memuncak.
Dengan pedang di tangan gadis ini langsung menyerang Cui
Kong, sedangkan Ang-jiu Mo li membentak.
"Liok Kong Ji manusia iblis, sekarang tiba saatmu untuk
kembali ke neraka jahanam!“ Wanita sakti ini lalu maju
menyerang dengan tangannya yang menjadi merah seperti
api.
Melihat muncuInya wanita tokoh besar utara ini, biarpun
dia tidak gentar, namun membuat Kong Ji diam-dram
mengeluh. Tiang Bu sudah merupakan lawan tangguh, dan
di sana masih ada ancaman Wan Sin Hong dengan kawankawannya
yang sedang mendatangi. Sekarang tahu-tahu
ditambah lagi dengan seorang Ang-jiu Mo-li yang ia cukup
kenal kelihatannya. Aneh, dasar ia sedang sial, pikirnya.
Tanpa banyak cakap lagi Liok Kong Ji mempergunakan
pedangnya menghadapi Ang-jiu Mo-li. Pedangnya diputar
cepat sekali dan Ang jiu Mo -li terkejut melihat sinar pedang
berkilauan dan gerakannya selain cepat dan aneh, juga
mendatangkan hawa dingin menandakan bahwa tenaga
lweekang dari musuh besarnya ini telah mendapatkan
kemajuan luar biasa. Ia berlaku hati-hati dan cepat
mengelak mundur, kemudian sekali berseru nyaring Ang-jiu
Mo-li lalu meloloskan selendang suteranya untuk
menghadapi pedang lawan yang tak boleh dipandang ringan
itu.
Memang Liok Kong Ji sekarang jauh bedanya
dibandingkan dengan Liok Kong Ji beberapa tahun yang
27
lalu. Dia sudah memahami isi kitab Omei-san, tidak saja ia
mewarisi ilmu pedang luar biasa dari Omei san yaitu Ilmu
Pedang Soat-lian-kiam-coansi (Ilmu Pedang Teratai Salju),
akan tetapi juga ia telah mempelajari kitab Pat-sian-jut bun
yang ia rampas dari Lie Ceng Ceng.
Kemudian ia juga mempelajari kitab ke tiga dari Omeisan,
yaitu Soan-bong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Payuh).
Ini semua masih belum hebat, yang paling hebat dan yang
membuat ia mendapat kemajuan pesat sekali adalah ketika
ia mempelajari kitab Omei-san yang paling sulit dipelajari
namun merupakan ilmu paling tinggi, yaitu kitab Delapan
Jalan Utama yang ia dapat dari Toat- beng Kui-bo.
Setelah bertempur dua-tiga puluh jurus saja Ang-jiu Moli
sudah merasa bahwa Liok Kong sekarang benar-benar
hebat kepandaiannya dan ia hanya dapat mangimbanginya
dengan amat sukar dan harus mengerahkan seluruh
kepandaian dan tenaganya.
Merasa penasaran karena dahulu ketika Liok Kong Ji
masih tinggal di utara, pernah Ang-jin Mo-li mengacau
pasukan Mongol dan pernah pula ia bertanding dengan Liok
Kong Ji yang ia desak dan permainkan, sekarang desakan
Liok Kong Ji membuat Ang-jiu Mo-li makin marah. Dulu
kalau tidak ada bantuan dari panglima-panglima Mongol,
tentu Liok Kong Ji sudah roboh olehnya. Masa sekarang satu
lawan satu ia kalah?
Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li mengeluarkan pekik nyaring.
tangan merahnya melayang ke depan dengan hawa pukulan
sepenuhnya manyambar ke arah dada Liok Kong Ji,
sedangkan selendang suteranya bagaikan ular merah
menyambar kepala Kong Ji. Inilah sejurus dari ilmu Silat
Kwan-Im-cam-mo (Dewi Kwan lm Menaklukkan Iblis) yang ia
pelajari dari kitab Omei-san yang terjatuh ke dalam
tangannya. Hebatnya serangan ini sudah jangan ditanya
lagi. Ang-jiu Mo-li yang sudah marah itu benar-benar
28
menurunkan tangan maut dan agaknya Liok Kong Ji takkan
dapat menghindarkan diri lagi.
Akan tetapi, kalau kepandaian Ang-jiu Mo-li hanya
bertambah oleh ilmu dari sebuah saja kitab Omei-san,
adalah Kong Ji menambah kepandaiannya dari empat buah
kitab Omei-san, dan kitab-kitab yang ia pelajari tingkatnya
lebih tinggi pula. Kalau kepandaian Ang jin Mo-li hanya
meningkat dua bagian, kiranya kepandaian Liok Kong Ji
sudah meningkat delapan bagian !
Menghadapi serangan maut itu, Liok Kong Ji juga
mengeluarkan seruan keras, pedangnya berkelebat-kelebat
seperti naga mengamuk, tangan kirinya didorongkan ke
depan. Pedang bertemu selendang, selendang melibat.
Pakulan Ang-sin-ciang bertemu pukulan Tin-san kang
membeleduk di udara membuat Ang-jiu Mo-li, tergetar
seluruh anggauta tubuhnya. Selendang masih melibat,
lemas lawan lemas karena kalau Kong Ji mempergunakan
tenaga kasar pedargnya bisa patah. Tiba-tiba Ang-jiu Mo-li
membetot selendangnya yang menjadi kaku dan keras. Akan
tetapi pedang itu juga menjadi keras dan ...... . "krak !"
selendang itu putus.
Liok Kong Ji tertawa bergelak. Wajah Ang jiu Mo-li
menjadi semerah tangannya. Wanita sakti itu menyerang lagi
mati-matian untuk menebus kekalahannya dalam adu
tenaga lwee-kang tadi. Biarpun selendangnya sudah putus
sebagian, namun senjata istimewa ini masih berbahaya
sekali.
Sementara itu, Bi Li yang manyerang Cui Kong dengan
mati-matian, harus meagakui keunggulan pemuda ini.
Sambil tertawa-tawa Cui Kong melayaninya, kadang-kadang
menyindir dan mengejek.
"Hai-hai.......... nona manis, jangan keras. keras
membacok lenganmu sendiri !” katanya sambil mengangkat
lengan kering itu untuk menangkis pedang Bi Li yang
menyambar-nyambar.
29
"Aduh, kau makin cantik jetita saja, seperti patung Kwan
Im yang buntung....... ! Biarpun sudah buntung aku masih
mau ..... .!”
Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan hati Bi Li ia
dilawan dengan sebuah lengannya sendiri yang sudah kering
dan mengerikan, ditambah lagi oleh ejekan-ejekan yang
kadang-kadang bersifat kotor dari lawannya. Dengan nekat
sekali Bi Li menghujankan serangan, kalau perlu ia mati
mengorbankan nyawanya asal dapat membunuh orang ini.
Sepasang mata yang bening itu berkilat, bibir yang merah
digigit dan pedangnya mengeluarkan suara mengaung,
menimbulkan segulung sinar berkeredepan.
Biarpun tingkat kepandaian Cui Kong lebih tinggi dari
pada tingkat kepandaiannya. namun kiranya takkan mudah
bagi pemuda itu untuk merobohkannya. Apa lagi karena
melihat wajah Bi Li yang memang cantik sekali itu, hati Cui
Kong tidak tega untuk membunuhnya dan timbul pikirannya
hendak menawan Bi Li hidup-hidup. Tidak saja pemuda ini
sudah tergila-gila akan kecantikan Bi Li yang sudah buntung
lengannya juga sebagai seorang cerdik seperti ayah
angkatnya, ia maklum bahwa Bi Li dapat ia pergunakan
sebagai perisai terhadap Tiang Bu yang mencinta gadis ini.
Menghadapi kenekatan Bi Li, Cui Kong menjadi
kewalahan juga. Akhirnya ia terpaksa mengeluarkan
huncwenya dan dengan senjata ini ia menyerang Bi Li yang
menjadi kocar-kacir pertahanannya. Selagi gadis ini
terdesak, tiba-tiba Cui Kong meniup huncwenya dan asap
kekuningan menyambar ke arah muka gadis itu Bi Li
mencoba untuk mengelak, akan tetapi ternyata asap itu
bukan asap beracun, hanya dipergunakan untuk
menggertak saja. Selagi gadis itu mencurahkan perhatian
kepada serangan asap, Cui Kong menggerakkan huncwenya
dan ..... Bi Li roboh tertotok, tak berdaya lagi.
Cui Kong tertawa senang.
30
“Cui Kong, bantulah.....!!" terdengar Kong Ji berseru
melihat anak angkatnya sudah berhasil merobohkan
lawannya.
Cui Kong melompat dan di lain saat Ang-jiu Mo-li sudah
dikeroyok dua oleh ayah dan anak yang lihai ini. Tentu saja
Ang-jiu Mo-li menjadi makin kewalahan. Tadi saja
menghadapi Kong Ji ia sudah berada dalam keadaan
terdesak. Apa lagi sekarang Cui Kong maju dan kepandaian
pemuda ini memang sudah hebat. Namun Ang-jiu Mo-li tidak
menjadi gentar. Dengan mati-matian ia membela diri dan
membalas serangan kadua orang lawannya dengan sengit.
Setelah menghadapi keroyokan sampai tiga puluh jurus,
Ang-jiu Mo-li menjadi lelah sekali. Kedua lawannya
bertenaga kuat dan setiap kali menangkis ia harus
mengerahkan seluruh lweekangnya.
Lengan kering di tangan Cui Kong menyambar hebat,
ular kecil yang -melingkar di lengan itu siap menggigit. Jarijari
tangan kering yang mengerikan itu seperti cakar seakan
mengarah muka Ang-jiu Mo-li. Serangan ini hebat datangnya
karena merupakan susulan dari pada serangan-serangan
Liok Kong Ji yang dapat digagalkan oleh Ang-jiu Mo-li.
Menghadapi serangan dengan lengan kering muridnya ini
timbul kemarahan hati Ang-jiu Mo-li. Dari mulutnya
terdengar pekik keras sekali, tangannya yang sudah merah
membara itu menghantam ke depan ke arah lengan dan
ularnya.
"Brakk !” Tulang- tulang kering itu hancur berantakan
berikut tubuh ular kecil yang menjadi remuk berikut tulangtulangnya
! Cui Kong sendiri terdorong mundur, akan tetapi
di lain saat terdengar Ang-jiu Mo-li mengeluh tubuhnya
tergelimpang dan roboh tak bernyawa lagi. Ang-jiu Mo li
ketika menghantam lengan kering tadi mengerahkan
perhatian dan mengerahkan seluruh tenaganya, maka ia
tidak dapat mengelak lagi ketika pedang di tangan Liok Kong
Ji bergerak ke depan dan menembus dadanya! Tamatlah
31
riwayat hidup Ang-jiu Mo-li, wanita sakti tokoh utara yang
dulu ditakuti Liok Kong Ji akan tetapi sekarang tewas oleh
pedang Liok Kong Ji pula !
“Lekas kita menyusul Cun Gi totiang. Kau bawa bocah
itu, siapa tahu berguna nanti,” kata Kong Ji kepada Cui
Kong. Memang bapak dan anak angkat ini setali tiga uang,
sama cerdiknya sama liciknya. Tanpa banyak komentar lagi
Cui Kong memondong tubuh Bi Li yang sudah tertotok jalan
darahnya sehingga tak dapat bergerak lagi seperti lumpuh,
tubuhnya lemas sekali.
Demikianlah, ketika Kong Ji dan Cui Kong yang
memondong Bi Li tiba di dekat pondok Cun Gi Tosu, mereka
melihat tosu buntung itu sudah tewas oleh Tiang Bu. Dan
melihat kekasihnya itu, Bi Li yang sudah tak berdaya
mengeluarkan seruan minta tolong.
Seperti sudah diceritakan di bagian depan, melihat Bi Li
tak berdaya dalam pondongan Cui Kong, Tiang Bu melompat
dan menerkam hendak merampas tubuh kekasihnya itu.
Akan tetapi Kong Ji sudah menghadang di depannya dan
mengancam.
"Kalau kau menggunakan kekerasan, berarti calon
isterimu itu akan mati, Tiang Bu, sudah berkata-kali kau
mendurhaka terhadap ayah sendiri. Kalau dulu kau tidak
mendurhaka terhadap ayah sendiri, tentu calon isterimu ini
tidak sampai cacad. Sekarang, lebih baik kau kembali ke
jalan benar, lebih baik kau berpihak kepadaku, kepada
ayahmu sendiri. Setelah kita dapat mengusir musuh-musuh,
tentu aku akan mengawinkan kau dengan gadis ini."
Kata-kata Kong Ji dikeluarkan dengan suara halus,
penuh bujuk rayu, Tiang Bu diam saja, tak bergerak,
keningnya berkerut-kerut. Diamnya pemuda ini dianggap
oleh Kong Ji sebagai keraguan dan ada harapan anaknya
yang sejati itu suka tunduk kepadanya, maka dengan muka
berseri ia menyambung.
32
“Tiang Bu, puteraku hanya kau seorang. Di dunia ini
hanya ada dua orang yang betul-betul kusayang sepenuh
jiwaku, pertama adalan mendiang ibumu dan ke dua kau
sendiri! Insysflah, anak, tidak bijaksana kau seorang anak
melawan ayah sendiri. Kau bisa dikutuk oleh Thian ..... !."
“Tiang Bu, jangan dengarkan dia. Serang dan bunuh
saja!” Tiba-tiba Bi Li berseru marah. Gadis ini khawatir juga
melihat Tiang Bu diam saja, ia mengira bahwa pemuda
pujaannya itu akan terpengaruh oleh kata-kata Liok Kong Ji.
"Hush, diam kau. Nyawamu di tangan kami!" Cui Kong
membentak Bi Li. Pemuda ini terkejut mendengar ucapan
gadis tadi karena ia sudah takut-takut kalau Tiang Bu yang
ia takuti itu mengamuk.
"Tiang Bu, jangan perdulikan aku. Aku dibunuh tidak
apa, asal kau memakai jantung dua orang ini untuk
menyembahyangi rohku, aku akan mati meram," kembali Bi
Li berseru.
Sebetulnya, Tiang Bu berdiam saja bukan sekali-kali
karena terpengaruh oleh kata-kata yang keluar dart mulut
Liok Kong Ji. Ia tadi berdiam diri karena sedang bingung dan
mencari jalan bagaimana ia dapat menolong kekasihnya.
Teriakan-teriakan Bi Li manyadarkannya. Dua orang ini
terlalu jahat, harus dibasmi. Kalau ia melepaskan mereka,
apa lagi membantu mereka hanya karena hendak
menyelamatkan kekasihnya, itu bukan perbuatan seorang
gagah. Apa lagi Bi Li sendiri rela berkorban nyawa asal dua
orang itu terbinasa. Kalau ia sampai tunduk terhadap
manusia jahat seperti iblis itu, alangkah akan rendahnya,
hiduppun Bi Li takkan sudi memandangnya lagi !
Tiang Bu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah
Cui Kong, berusaha sekali lagi merampas Bi Li.
"Anak durhaka!” Kong Ji yang berpemandangan dan
memiliki gerakan cepat sekali sudah menghadang lagi sambil
melakukan pukulan Hek-tok ciang ke arah dada Tiang Bu.
33
Pemuda ini tidak perdulikan itu, tangan kirinya menyampok
dan tubuh Kong Ji terbuyung huyung oleh bows tangkisan
lust biasa kuatnya itu. Cui Kong ketakutan dan.... melarikan
diri sambil memondong tubuh Bi Li dan berkaok-kaok.
“Tiang Bu, kalau kau mengejarku, kubikin mampus gadis
ini!"
Tiang Bu ragu-ragu karena betapapun juga amat cinta
kepada Bi Li dan merasa tidak tega kalau sampai kekasih
hatinya itu tewas.
"Tiang Bu, jangan perduli. Aku rela mati asalkan bisa
membasmi ayah dan anak iblis ini !" Bi Li berseru, mencoba
untuk meronta akan tetapi tenaganya habis sama sekali.
Tiang Bu molompat lagi mengejar. Akan tetapi Kong Ji
menyerangnya dengan pedang terhunus, melakukan
tusukan yang amat berbahaya sehingga Tiang Bu terpaksa
mengelak.
"Anak durhaka, benarbenar
kau tidak mau
berbaik dengan ayah
sendiri ?” teriak Liok Kong
Ji.
"Persetan dengan kau,
manusia busuk !" Tiang
Bu balas menyerang.
Pemuda ini mendapat
pikiran baik. Kalau ia
berhasil merobohkan Liok
Kong Ji lebih dulu, tentu
Cui Kong tidak berdaya
lagi. Ia melakukan
serangan balasan dengan
hebat dan di lain saat dua
orang ini, ayah dan anak,
bertanding mati-matian. Kembali Tiang Bu menghadapi
34
lawan berat. Tingkat kepandaian Liok Kong Ji pada waktu
itu malah lebih tinggi dari tingkat Cun Gi Tosu dan
pedangnya amat lihai, pukulan Tin-san-kang dan Hek- tokciang
ia lakukan berganti-ganti, menyambar-nyambar
merupakan tangan-tangan maut yang menjangkau nyawa
lawan.
Melihat ayah angkatnya bertempur melawan Tiang Bu
sehingga musuh ini tidak mengejarnya lagi, Cui Kong
menjadi lega dan melarikan diri terus! Kong Ji gemas sekali
melihat ini.
“Cui Kong, anak tak tahu budi! Apa kau tidak mau
membantuku?" teriak Kong Ji marah.
Tiang Bu tertawa mengejek. "Manusia macam kau
memang pantas mempunyai anak seperti dia, berwatak
rendah dan tak kenal budi.” Pemuda ini menyerang terus
dengan sengitnya, akan tetapi Liok Kong Ji mengelak dan
membalas dengan sama dahsyatnya.
Kalau saja Tiang Bu belum memahami ilmu thian- to dan
belum menguasai semua dasar Ilmu silat yang diturunkan
oleh kedua orang gurunya di Omei-san, tentu ia takkan kuat
menghadapi Liok Kong Ji yang kepandaiannya sudah amat
tinggi itu. Baiknya Tiang Bu mengenal inti sari semua limu
silat yang dimainkan oleh Liok Kong Ji dengan pedangnya,
baik Ilmu Pedang Spat-iian- kiam- host yang berdasarkan
tenaga Im-kaog maupun Ilmu Pedang Soan-tian kiam hoat
yang berdasarkan tenaga Yang-kang. Bahkan inti sari Ilmu
Delapan Jalan Utama itupun merupakan "pakaian" saja dan
Ilmu Thian- te Si-kong, maka pengaruhnya terhadap Tiang
Bu tidak begitu hebat. Satu demi satu ilmu silat yang
dimainkan oleh Liok Kong Ji dapat dipecahkan dengan baik
oleh Tiang Bu. Sebaliknya, dengan tangan kosong pemuda
itn juga tidak begitu mudah mengalahkan Liok Kong Ji,
sungguhpun tiap serangan pemuda ini membuat pertahanan
Kong Ji kocar-kacir.
35
Debu beterbangan, daun-daun pohon bergoyang-goyang.
Bahkan pada jurus ke tiga puluh, Kong Ji menusukkan
pedangnya dengan gerak tipu Soan-hong-koan jit (Angin
Puyuh Menutup Matahari) sebuah gerakan yang lihai dari
Ilmu Pedang Soan-hong-kiam-hoat. Pedangnya membuat
gerakan melingkar-lingkar, mula-mula lingkaran-lingkaran
kecil, makin lama makin besar sehingga tertutuplah tubuh
Kong Ji dan sebentar kemudian lenyap seakan-akan
tubuhnya sudah bergabung menjadi satu dengan pedang.
Gulungan sinar pedang yang melingkar-lingkar ini
menyambar dengan pesat dan kuatnya ke arah leher Tiang
Bu. Dan dari dalam gulungan sinar pedang itu, Liok Kong Ji
masih mengirim pukulan pukulan Tin-san-kang yang
dilakukan bertubi-tubi dengan tangan kanannya!
Serangan macam ini benar-benar hebat bukan main.
Tiang Bu tidak diberi kesempatan untuk mengelak sama
sekali karena lingkaran pedang itu sudah menutup semua
jalan keluar. Namun Tiang Ba yang sudah mengenal dasar
penyerangan ini tidak menjadi gentar. Tubuhnya dikecilkan
dan ia setengah berjongkot untuk menghindarkan tusukan
pedang, kedua tangannya ia dorongkan dari bawah ke atas
dengan gerak tipu Seng thian-pai-in (Naik ke Langit
Mendorong Awan). Dari kedua tangannya yang mendorong
itu keluar tenaga dahsyat yang hawanya saja sudah
membentur pukulan-pukulan Tin-san-kang yang dilakukan
oleh Liok Kong Ji.
“Brakk. ...... .!” Sekarang pohon besar yang tumbang di
belakang Tiang Bu roboh seperti terdorong tenaga dahsyat.
Inilah kehebatan tenaga Tin- san-kang yang dilakukan oleh
Liok-Kong Ji. Tenaga pukulan ini karena tidak mengenai
Tiang Bu bahkan terpental oleh dorongan Seng-thian-pai-in
tadi, terus menyambar ke belakang Tiang Bu dan
merobohkan sebatang pohon yang besarnya melebihi tubuh
Tiang Bu! Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian
Liok Kong Ji. Kalau seorang tokoh persilatan biasa saja tak
36
mungkin dapat menghadapi pukulan ini tanpa menderita
malapetaka hebat.
Tiang Bu sendiri mau tidak mau menjadi kagum.
Kepandaian Liok Kong Ji benar-benar hebat dan ia harus
berlaku waspada. Lawan ini malah lebih berat dari pada Cun
Gi Tosu, malahan ia meragukan apakah Wan Sin Hong dapat
menandingi orang ini.
Pemuda ini melihat lawannya melakukan pukulan
dahsyat, tidak tinggal diam saja. Setelah menyelamatkan diri
dari serangan lawan tadi, cepat ia membalas dengan
pukulan jarak jauh yang tidak kalah hebatnya. Empat kali
berturut-turut kedua tangannya melakukan gerakan
memukul ke depan. Kong Ji merasa datangnya hawa
pukulan dahsyat ini, sambil berseru kaget ia meloncat
sampai dua tombak ke kiri sambil mengerahkan tenaga
mengibaskan tangan. Namun tetap saja hawa pukulan Tiang
Bu membuat ia terhuyung-huyung seperti pohon besar
diterjang angin, setelah terhuyung jauh baru ia teebebas dari
pukulan dahsyat itu. Hawa pukulan terus meluncur ke
depan dan terdengar suara keras ketika sebuah batu karang
yang kokoh kuat roboh terguling seperti didorong oleh seekor
gajah mengamuk !
"Lihai sekali........." Kong Ji memuji. Hatinya sudah mulai
gentar karena dari pukulan ini tadi saja ia sudah maklum
bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah juga
melawan anaknya sendiri yang memusuhinya ini. Hatinya
merasa sedih dan bingung. Kalau ia sampai tewas di tangan
musuh-musuhnya, hal itu bukan merupakan suatu yang
patut disedihkan. Mati hidup buat seorang seperti Kong Ji
ini bukan apa-apa, akan tetapi yang membuat ia bingung
dan sedih adalah kalau ia harus mati di tangan puteranya
sendiri!
"Cui Kong manusia tak kenal budi ......!" Ia memaki dan
bersungut-sungut sambil cepat mengelak ketika Tiang Bu
menyerang lagi. Kong Ji terpaksa melayani dan hatinya
37
penasaran dan marah sekali mengapa Cui Kong tidak
membantunya. Kalau Cui Kong membantu, kiranya ia
takkan begini terdesak.
“Cui Kong, di mana kau.......... ?" Kong Ji berteriak sambil
melompat ke kanan menghindari pukulan maut Tiang Bu,
kemudian ia.......... melarikan diri.
“Manusia lblis, kau hedak lari ke mana?” Tiang Bu
mengejar cepat. Dalam hal ginkang, ia tidak usah menyerah
kalah terhadap Liok Kong Ji, maka dalam beberapa puluh
langkah saja ia sudah dapat menyusul.
Tiba-tiba Liok Kong Ji membalik, tangan kirinya tarayun,
disusul oleh serangan pedang di tangan kanan, dilanjutkan
dengan pukulan Hek tok-ciang dari tangan kanan. Ayunan
tangan kiri tadi menimbulkan sinar kahitaman yang
menyambar ke arah jalan darah penting di tubuh Tiang Bu.
itulah Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam), senjata rahasia
jarum yang sudah direndam racun hitam yang amat jahat.
Serangan ini datangnya tiba-tiba dan tidak terduga-duga
karena selagi berlari. mendadak membalik dan menyerang.
Orang lain tentu akan sukar menyelamatkan diri dari
serangan-serangan berantai dari Kong Ji yang betul-betul
lihai dan berbahaya sekali ini. Akan tetapi Tiang Bu memang
sudah siap siaga, sudah dapat menduga lebih dulu bahwa
lawannya yang terkenal licik dan jahat itu pasti akan
melakukan serangan gelap. Dengan tenang dan tepat
pemuda ini mangepretkan jari-jari tangan yang dilonjorkan
dari samping ke arah jarum-jarum racun hitam itu dan
semua jarum runtuh di atas tanah. Selanjutnya tangan
kirinya diulur untuk mencengkeram pedang lawan dan
tangan kanannya didorongkan ke depan untuk menyambut
pukulan Hek-tok-ciang !
Liok Kong Ji kaget bukan main, juga heran dan kagum
sekali. Meruntuhkan jarum-jarum Hek-tok-ciam dengan
kepretan jari-jari tangan terbuka merupakan perbuatan yang
amat berbahaya, karena sedikit saja kulit tergores jarum dan
38
terluka, berarti ancaman maut. Namun pemuda itu dapat
meruntuhkan semua jarum tanpa terluka sedikitpun.
Kemudian cengkeraman dengan gerak tipu Leng-mauw-po-ci
( Kucing Manerkam Tikus) inipun amat luar biasa dan
berbahaya. Tanpa memiliki lweekang yang tinggi tak
mungkin orang berani mencengkeram pedang lawan yang
merupakan pedang pusaka, bukan pedang biasa.
Cengkeraman itu adalah semacam Ilmu Silat Sin-na-hwat
yang aneh dan jari-jari tangan Tiang Bu yang dibentuk
seperti cakar harimau itu menjadi kaku dan kuat melebihi
baja.
Tentu saja Kong Ji tidak membiarkan pedangnya
dicengkeram dan dirampas. Cepat ia menarik kembali
pedangnya dan seluruh perhatiannya ia tujukan ke arah
pukulan tangan kirinya yang merupakan serangan Hek-tokciang
kuat sekali. Ia hendak sekali lagi mengadu tenaga
dengan harapan kali ini ia akan menang karena Tiang Bu
baru saja memecah perhatiannya untuk menghirdarkan
serangan jarum dan pedang.
Dan tenaga raksaaa bertemu di udara ketika dua telapak
tangan itu hampir saling bertumbukan. Akibatnya, Tiang Bu
mundur dua langkah akan tetapi Kong Ji terpental ke
belakang dan hanya dengan berjungkir balik dia dapat
menghindarkan diri terjengkang! Sekali lagi ia harus
mengakui keunggulan pemuda itu yang telah memiliki
sinkang luar biasa.
Makin kecil hati Kong Ji. Begitu kakinya menginjak
tanah, ia lari lagi secepatnya menuju ke gua-gua di pantai
laut untuk bersembunyi. Tiang Bu tentu saja tidak mau
melepaskannya dan mengejar terus.
Tiba-tiba muncul Liok Cui Kong dari balik batu-batu
karang. Pemuda ini sudah membawa senjatanva yang
istimewa, huncwe maut. Datang-datang pemuda itu dimaki
ayah angkatnya, “Setan, kau ke mana saja. Hayo bantu aku
merobohkan si durhaka ini!'
39
Cui Kong tersenyum. "Ayah, nona manis yang sudah
lama kurindukan terjatuh ke dalam tanganku, bagaimana
aku bisa menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik ?"
Cui Kong sengaja mengeluarkan ucapan-ucapan yang
menusuk perasaan Tiang Bu. Ini ia lakukan untuk
menjalankan siasatnya. Ia tahu bahwa Tiang Bu cinta
kepada gadis itu, biarpun Tiang Bu memperlihatkan sikap
kurang perhatian karena gadis itu mendesak agar supaya
Tiang Bu membunuh Kong Ji dan Cui Kong. Akan tetapi
kalau mendengar kata-kata tadi, masa Tiang Bu tidak
menjadi panas hati dan ingin melihat keadaan kekasihnya ?
Memang tepat dugaan Cui Kong. Mendengar ucapan ini,
Tiang Bu naik darah. Secepat kilat ia menerjang Cui Kong
yang memapakinya dengan pukulan huncwe. Akan tetapi
sekali menggerakkan tangan, Cui Kong berikut huncwenya
terlepas sampai tiga tombak lebih!
"Kauapakan dia.......... ? Di mana dia.......... ?” tanya
Tiang Bu dengan muka berubah dan napas terengah-engah
saking marah dan gelisahnya.
Cui Kong yang tidak terluka sudah bergabung dengan
ayah angkatnya. Ia berdiri di dekat Liok Kong Ji,
mempersiapkan huncwe dan menjawab.
"Kau perdeli apa ? Dia sudah menghadapi kematian
mengerikan dan takkan kuberitahukan keadaannya kalau
kau tidak manyerahkan diri dan taluk kepada ayah."
Tiang Bu makin marah. “Jahanam, kalau kau
mengganggu dia, jangan kau bersambat kepada neraka !"
Tubuhnya berkelehat dan ia menerjang lagi ke arah Cui
Kong, dengan maksud menangkap pemuda keji itu dan
memaksanya mengaku di mana Bi Li disembunyikan dan
bagaimana keadaannya.
Akan tetapi sekarang terjangannya dihadapi dua orang.
Kong Ji menusukkan pedang dan Cui Kong menotok dengan
40
huncwenya dibarengi semburan uap hitam dari mulutnya,
uap yang telah merobohkan tokoh-tokoh Kim-bun-to !
Terpaksa Tiang Bu membuang diri ke kanan untuk
mengelak dari serangan-serangan yang tak boleh dipandang
ringan ini, lalu melanjutkan serangannya dari samping.
Pertempuran hebat terjadi, kali ini lebih ramai dan seru
karena dengan adanya Liok Cui Kong di sumpingnya,
kedudukan Kong Ji tentu lebih kuat lagi.
Bukan saja kini ia menghadapi dua orang lawan tangguh,
juga hati Tiang Bu sudah terguncang dan gelisah karena
ucapan Cui Kong tadi. Mungkin juga ucapan tadi hanya
siasat belaka, akan tetapi manusia macam Cui Kong itu,
mana bisa dipercaya ? Semua perbuatan keji mungkin
dilakukannya dan hati Tiang Bu gelisah bukan main.
Kong Ji dan Cui Kong memang orang-orang cerdik dan
licik, mereka ini sudah tahu akan kegelisahan hati Tiang Bu.
Maka dengan sengaja Liok Kong Ji dalam pertempuran itu
bertanya kepada anak angkatnya. "Cui Kong, kau benar
benar mata keranjang ! Masa adik iparmu sendiri kausukai?
Benar benarkah kau cinta kepada seorang gadis buntung
lengannya?”
Cui Kong tertawa puas. "Ha-ha-ha, ayah tidak tahu!
Biarpun buntung lengannya, nona Bi Li adalah dara
tercantik yang pernah kujumpai."
Tentu saja Tiang Bu menjadi makin gelisah. Nafsunya
bertempur berkurang banyak dan hatinya ingin sekali
melihat keadaan kekasihnya.
"Jahanam, di mana dia ...... ?" bentaknya berkali-kall
sambil mendesak Liok Cui Kong dengan pukulan-pukulan
berat. Hanya karena Liok Kong Ji membantunya menangkis
dari samping maka Cui Kong tidak roboh oleh desakan ini.
Akhirnya Cui Kong maklum bahwa kalau tidak segera
mengubah siasat, tentu ia akan celaka.
41
“Dia di dalam gua ke tiga, mau tahu keadaanya? Lihatlah
sendiri!” Ia lalu melompat ke belakang dan tertawa bergelakgelak.
Tiang Bu ragu-ragu. Tentu ini siasatnya untuk
memancing aku memasuki gua sedangkan dia dan Kong Ji
akan melarikan diri, pikirnya. Akan tetapi tiba-tiba
telinganya yang berpendengaran tajam sekali itu mendengar
suara rintihan dari dalam gua itu, rintihan dari orang
ketakutan yang disembunyikan.
Mendengar ini, Tiang Bu melompat ke arah gua ke tiga
yang berjajar di dekat pantai, dari mana tadi Cui Kong
muncul. Ia tidak perdulikan lagi keadaaa ayah dan anak itu
yang tentu saja mempergunakan kesempatan ini untuk
melarikan diri !
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXV
MULA MULA Tiang Bu bingung melihat gua yang gelap
itu dan ia tidak melihat sesuatu. Lambat laun matanya biasa
dengan kegelapan namun tetap saja ia hanya melihat batubatu
karang menonjol dan gua itu teruyata menembus ke
pinggir laut, merupakan jurang yang amat curam.
“Bi Li.......... !” teriaknya.
Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.
“Bi Li ......... di mana kau.......... ?!" ia berseru lagi, kini
mengerahkan tenaga khikang sehingga suaranya dapat
terdengar sampai jauh di luar gua. Ia menanti sampai gema
suaranya sendiri yang panjang itu lenyap, namun tetap saja
tidak ada suara jawaban Bi Li. Marahlah hati Tiang Bu. Ia
merasa tertipu oleh Cui Kong. Setan, pikirnya, mengapa aku
begini bodoh?
Akan tetapi ketika ia hendak keluar dari gua yang gelap
itu, kembali ia mendengar suara rintihan perlahan seperti
yang ia dangar tadi. Ia memperhatikan dan memasuki gua
lagi sampai di pinggir jurang. Ternyata suara itu keluar dari
bawah! Dengan hati-hati Tiang Bu merebahkan diri
2
telungkup ke pinggir jurang dan melihat ke bawah. Gelap
sekali. Tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang bergoyanggoyang.
Ternyata sehelai tambang yang diikatkan pada batu
karang dan tambang itu menggantung ke luar, masuk jurang
! Dari ujung tambang itulah datangnya suara rintihan.
Tiang Bu mengeretak giginya. Tahulah kini ia bahwa
tubuh Bi Li diikat pada ujung tambang yang digantungkan
ke dalam jurang yang amat curam itu! Cepat ia hendak
menarik tambang, akan tetapi kecerdikannya melarangnya
dan lebih cepat lagi ia menarik kembali tangannya dan
berpikir keras. Tak mungkin orang selicik Cui Kong akan
menggantungkan tubuh Bi Li begitu saja dan mudah
ditolong. Tentu ada apa-apa di balik ini semua.
Tiba-tiba ia melompat dengan gerakan cepat ke luar dari
gua, menduga bahwa tentu Cui Kong dan Kong Ji megintai
di luar gua dan akan melakukan sesuatu untuk
menjebaknya. Akan tetapi di luar kosong saja dan kembali ia
mendengar suara rintihan perlahan dari dalam guha. Ia
memasuki guha kembali dan berpikir-pikir.
“Bi Li, apa kau berada di bawah situ ?" tanyanya sambil
melihat ke bawah.
Matanyn yang tajam dapat melihat samar-samar
bayangan tubuh Bi Li tergantung di bawah, akan tetapi gadis
itu tidak dapat menjawab, hanya mengeluarkan suara
perlahan seperti rintihan. Tiang Bu berlari ke luar lagi,
menggunakan tenaganya untuk membeset kulit pohon yang
ulet. Ia menyambung nyambung kulit ini menjadi sehelai
tambang yang panjang, kemudian berlari masuk lagi ke guha
itu. Ia lupa sudah akan Cui Kong dan Kong Ji.
Seluruh perhatiannya tercurah kepada Bi Li yang hendak
ditolongnya lebih dulu. Dengan cepat dan hati-hati ia
mengikatkan tambang kulit kayu ini pada sebuah batu
karang, kemudiann ia merosot turun ke dalam jurang
melalui tambang sederhana itu. Ia teringat bahwa kalau
musuh musuhnya datang dan memutuskan tambang itu,
3
tentu ia akan menemui bencana besar. Akan tetapi resiko ini
ia harus berani hadapi demi menolong nyawa Bi Li yang
terancam bahaya maut.
Ketika ia sudah merosot sampai di tempat Bi Li
tergantung dan ia dapat melihat keadaan gadis kekasihnya
itu, ia menjali pucat. Tambang yang dipergurakan untuk
mengikat Bi Li dan digantung dari gua itu, dilibatkan pada
sebuab batu karang yang tajam sekali, Tambang itu sudah
tergosok-gosok dan tinggal setengahnya saja. Kalau tadi ia
menarik ke atas, sudah pasti tambang itu akan putus dan
tubuh Bi Li akan jatuh ke bawah menemui kematian yang
mengerikan !
"Cui Kong jahanam keji !" Tiang Bu mengutuk. Cepat ia
meraba-raba tubuh Bi Li dan mendapat kenyataan bahwa
totokan pada tubuh itu sudah dibebaskan, akan tetapi kaki
tangan gadis itu terikat dan mulutnya tertutup saputangan.
Inilah sebab mengapa Bi Li tidak dapat menjawab
panggilannya. Cepat ia merenggut saputangan yang
menutupi mulut gadis itu sambil berbisik.
"Bi Li, jangan bergerak. Tambang yang mengikatmu
hampir putus."
Peringatan ini penting sekali karena kalau tadi Bi Li
meronta-ronta. tentu tambang itu sudah putus. Mendengar
peringatan ini, Bi Li tidak bergerak, hanya terdengar ia
berkata lemah, "Tiang Bu tanganku sakit sekali.......... “
Tiang Bu menggigit bibir melihat betapa lengan
kekasihnya yang tinggal sebelah itu ditekuk ke belakang dan
digantung. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan
kekasihnya. Cepat Tiang Bu memutus tali itu dan menarik
tubuh Bi Li sehingga gadis itu dapat manangkap tali kulit
pohon, kemudian tambang yang mangikat kakinya
diputuskan pula.
Dengan hati-hati sekali Bi Li lalu merayap naik dengan
satu tangannya, dibantu oleh Tiang Bu dari bawah. Dengan
4
susah payah mereka naik, akhirnya dapat juga mereka tiba
di atas, selamat di dalam guha yang gelap itu.
Begitu lepas dari bahaya. Bi Li terisak dan menjatuhkan
diri di atas dada Tiang Bu. Tiang Bu mangelus-elus rambut
kekasihnya, membiarkan kekasihnya yang baru saja
terbebas dari bahaya maut mengerikan itu menangis
sepuasnya.
"Bi Li.......... kau .......... kau tidak diganggu oleh Cui
Kong?" bisiknya dengan hati panas terbakar, penuh
kebencian dan dendam kepada Cui Kong.
Tanpa mengangkat mukanya dari dada Tiang Bu, Bi Li
menggeleng kepalanya. Kemudian, setelah agak reda
tangisnya, dengan singkat ia menceritakan pengalamannya,
"Setelah kautinggalkan, guruku datang dan dia yang
mengajak aku menyusulmu. Malang bagi dia, di tengah jalan
bertemu dengan dua orang iblis jahat itu. Terjadi
pertempuran, akhirnya guruku tewas dan aku tertawan.
Tadi iblis Cui Kong itu mengikatku dan menggantungkan ke
luar gua sambil tertawa-tawa mengejek, bilang bahwa aku
akan mati dalam tanganmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang
ia maksudkan, akan tetapi.......... hanya Thian yang tahu
betapa gelisah dan takutnya hatiku,Tiang Bu..........”
Tiang Bu memeluk lebih erat lagi. "Hanya sedikit selisih
...... Bi Li, sedikit saja selisihnya. Kalau aku tadi terburu
nafsu dan menarik tambang di mana kau digantung ..... ah,
ngeri aku membayangkan ! Cui Kong manusia keparat harus
kuhancurkan kepalanya!”
Bi Li nampak kecewa. “Jadi kau belum berhasil
menewaskan mereka ?"
"Sayang sekali belum. Aku mendengar rintihanmu dan
terpaksa kutinggalkan mereka untuk menolongmu."
Bi Li melepaskan diri dari pelukan Tiang Bu. “Tiang Bu,
kau memang benar. Kau lebih benar ketika melarangku
5
datang ke pulau ini. Sekarang ternyata aku hanya menjadi
penghalang, malah guruku tewas di tangan mereka.
"Tidak, Bi Li. Mati hidup berada di tangan Thian.
Memang agaknya sudah menjadi suratan nasib Ang jiutoanio
untuk tewas oleh mereka. Akan tetapi kita masih
mempunyai banyak harapan untuk mengejar dan mencari
mereka. Hayo ke luar dari tempat terkutuk ini.”
Sambil menggandeng tangan Bi Li, Tiang Bu
mengajaknya ke luar. Sesampainya di luar, ia dapat melihat
keadaan kekasihnya. Memang tidak apa-apa, hanya agak
pucat karena mengalami ancaman maut yang mengerikan
tadi. Ia menjadi lega.
Akan tetapi sekarang sudah tidak kelihatan lagi
bayangan Liok Kong Ji maupun Cui Kong. Namun Tiang Bu
tidak putus-asa dan ia mengajak Bi Li terus mencari dan
memeriksa di sebelah dalam atau di tengah pulau.
-oo(mch)oo-
Sementara itu, di pantai Palau Pek-houw to juga terjadi
hal yang menarik. Serombongan orang gagah dipimpin oleh
Wan Sin Hong mendatangi dengan dua buah perahu ke
pulau itu. Inilah rombongan yang dilihat oleh kaki tangan
Liok Kong Ji dan dilaporkan, membuat Kong Ji menjadi
gelisah sekali. Apalagi ketika Kong Ji dan Cui Kong berhasil
melepaskan diri dari desakan Tiang Bu dan hendak
melarikan diri dengan perahu, mereka melihat dua perahu
ini mendatangi, Kong Ji terpaksa kembali lagi ke pulau dan
keadaannya sepetti terjepit.
Wan Sin Hong kali ini tidak datang sendiri dan tidak mau
kepalang usahanya membalas dendam kepada musuh
besarnya. Ia maklum akan kelihaian Kong Ji yang dibantu
oleh Cui Kong, Cun Gi Tosu, dan banyak lagi orang-orang
gagah yang berhasil dibujuk menjadi kaki tangan Liok Kong
Ji. Karena tidak berbasil bertemu dengan Tiang Bu yang
6
akan menjadi pembantu kuat baginya, Wan Sin Hong datang
membawa beberapa orang tokoh yang berkepandaian cukup
tinggi.
Di antara kawan kawannya itu kelihatan muridnya
sendiri, Coa Lee Goat dan suaminya, Wan Sun. Juga
isterinya tidak ketinggalan, yaitu Hui-eng Niocu Siok Li Hwa
yang sudah sembuh dari luka-lukanya ketika bertempur
melawan Liok Cui Kong di Pulau Kim-bun-to. Li Hwa
mempunyai sakit hati besar sekali terhadap Liok Kong Ji dan
kaki tangannya, bukan saja karena anaknya diculik oleh
Cun Gi Tosu, juga karena peristiwa di Kim-bun-to, di mana
Cui Kong mengamuk dan menyebar maut itu.
Selain keluarga gagah parkasa ini, ikut juga Bu Kek
Siansu ketua Bu-tong-pai, tosu tinggi kurus jenggot panjang
itu, dan Pang Soan Tojin ketua Tang-san pai, tosu gemuk
berjenggot pendek. Selain dua orang tokoh tua ini, masih
ada lagi Huang-ho Sian-jin si datuk bajak dari Sungai Huang
ho bersama dua orang puterinya, Ang Lian yang lincah
jenaka dan Pek Lian yang cantik pendiam dan berpakaian
pria. Juga masih ada dua orang lagi, yaitu Hok Tek Hwesio
dari Siauw lim pai dan Ciu Lee Tai, seorang laki-laki muda
berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah. Ciu
Lee Tai ini seorang yang bersemangat sekali, pengagum Wanbengcu
dan biarpun ia agak bodoh, namun ia jujur dan
berkepandaian lumayan.
Sebetulnya, Wan Sin Hong maklum bahwa tingkat
kepandaian Ciu Lee Tai dan Hok Tek Hwesio masih
terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kelihaian Liok
Kong Ji dengan kawan kawannya, akan tetapi karena
mereka ini orang segolongan dan mereka ikut dengan suka
rela, ia pikir lumayan untuk melayani penjaga-penjaga kaki
tangan Liok Kong Ji.
Demikianlah, rombongan yang terdiri dari sebelas orang
ini mendarat dengan hati-hail dan dengan senjata di tangan.
Mereka semua sudah maklum bahwa mereka menghadapi
7
orang-orang jahat yang amat lihai kepandaiannya. Di
sepanjang perjalanan. Ciu Lee Tai yang biarpun sudah
berusia tiga puluh tahun tapi masih tetap single
(membujang) itu, agaknya amat tertarik kepada Ang Lian,
dara jelita yang bersikap lincah jenaka dan agak genit itu.
Sedemikian jauh, si jaka tua ini selalu "tahan hinaan" dan
mencemoohkan setiap orang gadis yang memandang
kepadanya dengan kagum melihat ketampanan dan
kegagahannya.
Akan tetapi begitu ia bertemu dengan Ang Lian dan
melihat senyum dan kerling mata gadis ini, jatuhlah
keangkuhannya. Senyum dan kerling itu langsung
menembus jantungnya dan membuat dia tergila-gila !
Si bujang ini beberapa kali melirik-lirik, mengajak
senyum dan pendeknya mempergunakan segala macam
siasat untuk memikat si dara jetita, akan tetapi kali ini ia
"bertemu batunya.” Semua aksinya tidak digubris oleh Ang
Lian, bahkan Ang Lian bersikap jinak-jinak merpati, kadangkadang
nampak mudah didekati akan tetapi kalau orang
bersungguh-sungguh ia terbang menjauh Sikap beginilah
yang membuat hati sang jaka jatuh bangun.
Tentu saja, sedogol-dogolnya, Ciu Lee Tai tidak berani
berterus terang dengan kata kata menyatakan perasaan
hatinya, apa lagi ia sering melihat wajah datuk bajak Huangho
Sian-jin yang keren galak dan matanya melotot.
Habislah nyalinya kalau ia melihat bapak dara pujaannya
itu. Namun, saking dalamnya asmara menggerogoti
jantungnya, si dogol ini sampai menghadap Wan Sin Hong
dan dengan muka merengek ia mohon bantuan pendekar ini.
"Wan-bengcu." katanya dengan mukanya yang tampan
menjadi merah seperti kepiting dipanggang. Siauwte hendak
mengajukan permohonan kepada bengcu dan mengharap
kemurahan hati bengcu."
8
Wan Sin Hong sudah lama kenal pemuda tua ini dan ia
memang suka kepada Cui Lee Tai yang jujur dan dogol
namun berjiwa ksatria. Bahkan dahulu ia berkenan
menurunkan dua tiga macam ilmu pukulan kepada si dogol
ini. Mendengar permohonan disertai wajah yang
bersungguh-sungguh itu, ia tersenyum.
"Kita berada di tengah perjalanan, di atas laut. Kau
hendak minta aku membantumu dalam hal apakah, Lee Tai
?" Wan Sin Hong memang memanggil namanya begitu saja,
inipun kemauan Lee Tai sendiri yang ingin diaku sebagai
anak buah atau murid. Demikian besar kagumnya terhadap
Wan Sin Hong.
"Sebetulnya bukan sekarang. Siauwte hanya minta
kesediaan bengcu untuk membantuku dalam urusan ini,
kelak kalau urusan penyerbuan ke Pulau Pek-houw-to
selesai. Apakah bengcu bersedia ?”
"Ha, kau ini aneh sekali. Tentu saja aku bersedia
membantumu. Akan tetapi, bagaimana kalau dalam
penyerbuan yang amat berbahaya ini kau atau aku tewas ?”
“Kalau begitu …… kalau begitu. ...... tentu saja tidak jadi
aku …… kawin……”
"Eh kawin ...... ?”
Muka pemuda itu menjadi makin merah. "Begini, bengcu.
Sebetulnya siauwte hendak minta tolong agar bengcu
suka........... suka menjadi........... menjadi perantara.
Siauwte telah berusia tiga puluh tahun, dahulu ayah ibu
minta siauwte menikah akan tetapi siauwte belum sanggup
menjalani karena memang belum ada yang cocok. Sekarang
ayah ibu sudah tidak ada dan siauwte kerap kali merasa
berdosa dan bersedih tak dapat memuaskan hati orang tua.
Sekarang siauwte bertemu dengan gadis yang mencocoki
hati. Kiranya kalau siauwte bisa menikah dengan dia. arwah
ayah-bunda siauwte akan menjadi puas.”
9
Sin Hong tidak ketawa lagi. Malah ia menjadi amat
terharu, teringat akan keadaannya sendiri. Diapun menikah
setelah usianya tiga puluhan lebih, dan tentang orang
tuanya........... juga tidak melihat pernikahannya. Dengan
suara sungguh-sungguh ia menjawab.
"Baik. Lee Tai. Tenangkanlah hatimu. Tentu aku suka
menjadi wakil orang tuamu untuk mengawinkan kau. Tidak
tahu gadis manakah yang kaupenujui ?”
"Puteri ...... puteri Huang-ho Sian-jin ......”
"Aahhh, dia........... ? Yang mana ?”
“Yang kedua, bengcu. Itu yang namanya Ang Lian yang
senyumnya manis kerlingnya tajam……..”
Sin Hong tak dapat menahan senyumnya dan ia
mengangguk-angguk. “Itu soal mudah. Huang-ho Sian-jin
adalah sahabat karibku, kalau aku yang mintakan kiranya
tak akan sukar. Hanya aku khawatir anaknya sendiri yang
akan rewel. Kalau dia tidak setuju, anak seperti Ang Lian itu
tentu akan menolak keras. Bagaimana pendapatmu, apakah
dia juga........... ada hati kepadamu ?”
"Entahlah, bengcu. Akan tetapi dia sering kali tersenyum
dan melirik. Akan kuselidiki hal itu. Asal Wan-bengcu sudah
bersedia membantu, hatiku sudah lega dan banyak banyak
terimakasih." Tanpa dapat dicegah lagi si dogol lalu
menjatuhkan diri berlutut dan pai-kui sampai tujuh kali.
“Sudah, sudah, hasilnya masih belum tentu kau sudah
jengkang-jengking seperti ayam makan padi.”
Dengan hati gembira dan besar sekali Ciu Lee Tai
mengundurkan diri dan semenjak saat itu lebih berani
melirik-lirik ke arah Ang Lian. Bahkan pada suatu ketika, ia
mendapat kesempatan mendekati Ang Lian di atas perahu
dan berbisik.
"Nona, kalau kelak urusan ini beres, aku akan mengirim
wali mengajukan lamaran kepadamu."
10
Tentu saja Ang Lian melengak. Selama hidupnya belum
pernah ia bertmu dengan orang yang begini terus terang dan
tidak kenal malu. Gadis ini dengan lagak mangejek meludah
ke dalam laut dan melihat di situ tidak ada orang
memperhatikan mereka, berkata perlahan.
“Enak saja kau mengomong. Kau bisa apa sih mau
melamarku?"
Lee Tai mengangkat dadanya yang memang bidang dan
tegap. "Aku Ciu Lee Tai, di barat terkenal dengan julukan
Kang-thouw ciang (Si Kepalan Baja) dan siapa yang tidak
tunduk terhadap golokku ?" ia menepuk-nepuk golok di
pinggangnya, golok besar yang memang amat lihai kalau ia
mainkan.
Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah membuat hati
Lee Tai menjadi gemas terpincut. Biarpun orang ini dogol,
namun Ang Lian diam-diam suka juga melihat ketegapan
tubuh dan ketampanan wajah Ciu Lee Tai.
"Dengar baik-baik, dogol. Tidak sembarang orang bisa
mendapatkan diriku. kecuali kalau ia berkepandaian tinggi."
Bicura begini, Ang Lian teringat akan Tiang Bu yang
membuat cicinya, Pek Lian, tergila-gila dan teringat selalu.
"Begini syaratnya. Kalau kau bisa mengalahkan manusia
iblis Liok Kong Ji, aku bersedia menerima lamaranmu. Nah,
pergilah.”
Ciu Lee Tai berseri wajahnya. Ingin ia menari-nari
kegirangan dan saking girangnya ia sampai lupa diri
dan.......... melompat ke dalam air! Tentu saja semua orang
di dalam dua perahu itu menjadi panik melihat tidak karukeruan
sebabnya, si dogol itu melompat ke dalam laut dan
berenang ke sana ke mari sambil bernyanyi nyanyi.
"Lee Tai, kau sedang apa-apaan?" tegur Wan Sin Hong
terheran-heran.
11
Baru Lee Tai sadar akan keadaannya yang memang tidak
sewajarnya itu, maka cepat-cepat ia memutar otaknya yang
puntul untuk mencari jawaban. Akhirnya ia menjawab,
"Wan-bengcu. aku merasa kepanasan dan ingin mandi
sebentar menyegarkan tubuh." Cui Lee Tai merasa bangga
akan jawabannya yang langsung ini, tanda bahwa ia cerdik !
Akan tetapi jawabannya membuat semua orang tertawa
sehingga ia menjadi kebingungan. Apa lagi ketika ia melihat
Ang Lian cekikikan mentertawakannya, ia makin bingung
dan penasaran.
"Apa tidak boleh mandi?" tanyanya mendongkol sambil
menyambar pinggiran perahu dan merayap naik dengan
pakaian basah kuyup.
"Mana ada orang mandi dengan pakaian lengkap? Dan
membawa-bawa golok pula, apekah kau hendak menyerang
istana Hai-liong-ong di dasar laut?" kata Wan Sun sambil
menahan kegelian hatinya.
Cin Lee Tai menunduk, memandang pakaiannya yang
basah kuyup. Ia tak dapat menjawab, hanya buru-buru
memasuki kamar perahu untuk bertukar pakaian kering.
Akan tapi kegembiraannya tidak lenyap, tidak perduli ia
ditertawakan orang, hatinya sebesar gunung. Liok Kong Ji?
Itu syaratnya? Jangankan harus mengalahkan Liok Kong Ji
biar harus melawan seribu orang Liok Kong Ji ia takkan
gentar asal hadiahnya Ang Lian. Akan kutabas batang leher
Liok Kong Ji dengan golokku, pikirnya.
Pikiran hal membuat ia datang lagi menghadap Sin Hong.
"Ada apa lagi, Lee Tai? Harap kau jangan sekali-kali lagi
terjun dan mandi di laut, banyak ikan hiu di sini, kalau kau
dikeroyok hiu, biar aku sendiri takkan dapat menolong
nyawamu."
"Wan-bengcu, apakah Liok Kong Ji itu sudah pasti
berada di pulau itu?"
12
"Tentu saja, memang kita sedang mencari dia. Mengapa?”
"Harap bengcu memberi kesempatan kepadaku untuk
menghadapi iblis itu. Siauwte ingin sekali menabas batang
lehernya dengan golokku ini, jangan sampai didahului orang
lain !”
Wan Sin Hong maklum akan keberanian orang she Ciu
ini yang luar biasa, juga maklum akan kedogolannya. Akan
tetapi mendengar ini, benar-benar perutnya menjadi sakit
karena menahan tawa. Dia sendiri belum tentu dapat
menahan Liok Kong Ji, dan si dogol ini bersumbar hendak
menebas batang leher Liok Kong Ji ! Benar-benar seperti
seekor katak hendak membunuh kerbau. Akan tetapi Sin
Hong berperasaan halus, tidak mau mengecewakan atau
menyinggung perasaan hati orang lain, maka ia mengangguk
dan menjawab,
'Baiklah, Lee Tai. Asalkan dapat berlaku hati-hati, dia
lihai sekali.”
"Jangan khawatir, bengcu. Golokku biasanya ampuh
sekali menghadapi orang jahat."
Ciu Lee Tai menjadi makin gembira. Semenjak saat itu, ia
kelihatan berseri dan gembira dan bernyanyi-nyanyi.
Memang suaranya merdu, sehingga kegembiraan si dogol ini
menghibur orang-orang lain dan membuat orang lain
gembira pula. Akan tetapi kecuali Ang Lian, tidak ada orang
lain yang dapat menduga mengapa si dogol itu demikian
gembira. Hanya Ang Lian, yang tahu dan diam diam gadis
jenaka ini terharu juga. Ia dapat menjajaki hati Lee Tai dan
tahu bahwa pemuda dogol itu sudah membayangkan akan
dapat menewaskan Liok Kong Ji dengan mudah.
"Sayang.........” Ang Lian berkali-kali menarik napas
panjang dan berbisik-bisik kepada diri sendiri. "Sayang ia
tidak selihai Tiang Bu....”
Sin Hong membawa rombongannya mendarat di pantai
yang datar dan sunyi. Mereka berlompatan ke darat dengan
13
hati-hati sekali. Mereka merasa heoran dan curiga melihat
pantai itu tidak terjaga dan sunyi sekali. Sin Hong lalu
membagi tugas. Huang-ho Sian jin dan dua orang puterinya
diberi tugas menjaga perahu-perahu di pantai agar perahu
perahu itu tidak sampai diganggu musuh. Kemudian dengan
delapan orang kawan lainnya Sin Hong memasuki hutan di
pulau itu menuju ke tengah pulau.
Mereka menjadi makin heran melihat beberapa orang
penjaga menggeletak, terluka atau tewas. Bahkan mereka
menemukan lima orang yang berpakaian berwarna
menggeletak menjadi mayat.
"Eh. bukankah ini Lam-thian-chit-ong,” kata Hok Tek
Hwesio yang mengenal tokoh-tokoh selatan ini. "Mana lagi
yang dua? Masih ada dua orang yang berpakaian hitam dan
putih, kemana mereka dan siapa yang bisa membunuh
mereka ini? Mereka terkenal lihai dengan Chit-seng-tin
mereka."
Wan Sin Hong juga merasa heran. Ia sudah mendengar
bahwa tujuh orang perampok ini menjadi kaki tangan Liok
Kong Ji. Kiranya hanya satu orang yang dapat mengalahkan
mereka dan orang itu tentu Tiang Bu. Benarkah pemuda itu
sudah menyerbu ke sini?
Ia mengajak kawan-kawannya maju terus. Di rumah
gedung tempat tinggal Liok Kong Ji sunyi sekali. Di sana sini
bergeletakan para penjaga. Sin Hong mendesak seorang
penjaga yang luka tertotok. Ia membebaskan totokannya dan
bertanya.
"Siapa yang menyerbu ke sini dan melukai kalian ?”
"Hamba tidak tahu. Seorang manusia berkepandaian
seperti setan. Pergi datang tidak meninggallan bekas dan
tahu-tahu kami roboh ……” orang itu menerangkan karena
ia memang tidak mengenal Tiang Bu yang merobohkannya.
"Di mana Liok Kong Ji ?"
14
"Tidak tahu, mungkin keluar menghadapi musuh."
Sin Hong tidak mau perdulikan lagi orang itu dan
mengajak kawan-kawannya maju terus. Akan tetapi Ciu Lee
Tai yang merasa kecewa karena Ang Lian tidak diajak
menyerbu dan tetpisah dari sampingnya, melampiaskan
kemarahannya dengan menendang orang itu yang seketika
putus nyawanya.
“Lee Tai, jangan lancang membunuh orang!" tegur Sin
Hong.
"Bengcu, orang seperti ini adalah setengah iblis, kalau
tidak dibunuh kelak tentu menjadi penjahat pula mengacau
rakyat." bantah Lee Tai.
Sin Hong menganggap pendapat ini betul juga
sungguhpun hatinya tidak mengijinkan orang berlaku
kejam. Memang Sin Hong terkenal sebagai seorang pendekar
yang halus budinya, tidak mau memburuh kalau tidak
penting dan terpaksa sekali.
Ketika mereka memasuki rumah gedung itu, di dalamnya
hanya terdapat para selir dan para pelayan wanita. Mereka
ini semua biarpun sudah mempelajari ilmu silat, sekarang
tidak berani berkutik dan berlutut minta diampuni jiwanya.
Juga dari mereka ini Sin Hong tidak bisa mendapat
keterangan di mana adanya Liok Kong Ji, Liok Cui Kong dan
Cun Gi Tosu. Akan tetapi, ia mendapat petunjuk di mana
adanya pondok Cun Gi Tosu, dan mendengar pula banwa
Leng Leng dibawa pergi oleh tosu itu ke pondoknya.
Wan Sin Hong mengajak rombongannya menyusul ke
pondok itu! Alangkah kagetnya ketika tiba di depan pondok,
ia melihat tosu buntung itu sudah menggeletak tak
bernyawa di atas tanah.
"Ada yang mendahulul kita!” Teriaknya dan ia berlari-lari,
diikuti oleh isterinya, memasuki pondok Cun Gi Tosu untuk
mencari anak mereka, Leng Leng. Akan tetapi di dalam
15
pondok hanya terdapat seorang pelayan wanita yang
menangis ketakutan.
"Hayo lekas bilang, di mana adanya Leng-ji ?" Li Hwa
membentak sambil menempelkan pedangnya di batang leher
pelayan itu yang menjadi makin ketakutan.
"Tadi .......... tadi di sini .......... hamba yang bertugas
mengasuhnya.......... lalu datang Liok-loya dan Liokkongcu..........
nona Leng Leng dibawa pergi.......... !"
"Ke mana ?” tanya Sin Hong yang berobah air mukanya
mendengar bahwa anaknya dibawa Liok Kong Ji.
"Mana hamba tahu? Ampun, hamba tidak bersalah apaapa..........”
Sin Hong tidak perdulikan lagi pelayan itu, bersama
isterinya dan yang lain lain ia menggeledah ke dalam, akan
tetapi betul saja, tak dapat ia menemukan anaknya di dalam
pondok.
“Tentu ia membawa Leng-ji lari ke luar. Hayo cari,” kata
Sin Hong dan keluarlah mereka. Sesampainya di luar, Sin
Hong lalu membagi rombongannya. Dia sendiri bersama
isterinya, Wan Sun dan Coa Lee Goat menuju ke kiri dan dia
minta supaya rombongan lain yaitu Bu Kek Siansu, Pang
Soan Tojin, Ho Tek Hwesio, dan Ciu Lee Tai mencari di
sebelah kanan. Dengan cara begini Sin Hong hendak
mengepung dan memotong jalan Liok Kong Ji dan Cui Kong.
-oo(mch)oo-
Sementara itu, Tiang Bu dan Bi Li juga mencari terus,
keluar masuk gua-gua yang banyak terdapat di pesisir batu
karang itu. Akan tetapi belum juga mereka dapat
menemukan musuh-musuh mereka.
Tiang Bu mendapat akal. Ia naik ke sebatang pohon
besar dan tinggi, lalu mengintai puncak pohon itu sampai
beberapa lama. Usahanya ini terhasil karena tak lama
16
kemudian ia melihat bayangan dua orang yang dikejarkejarnya
itu bersembunyi di antara batu karang yang
bentuknya seperti menara-menara kecil. Yang membuat ia
terheran adalah ketika melihat Kong Ji memondong seorang
anak perempuan kecil.
la cepat melompat turun dan bersama Bi Li lari ke arah
tempat itu. Setelah dekat menyelinap di antara batu karang
dengan hati-hati. Akhirnya ia muncul di depan Liok Kong Ji
dan Liok Cui Kong yang tentu saja menjadi kaget setengah
mati.
"Liok Kong Ji, kau sekarang hendak lari kemanakah ?"
Tiang Bu mengejek dan siap untuk menyerang.
Liok Kong Ji menjadi bingung. Untuk lari memang
mudah, akan tetapi ia tahu bahwa Tiang Bu dapat
mengejarnya. Untuk mempergunakan bocah yang
dipondongnya juga tidak mungkin karena Tiang Bu mana
mau memperdulikan bocah itu? Adanya ia membawa Leng
Leng adalah untuk dipergunakan sebagai perisai terhadap
Wan Sin Hong. Kalau Wan Sin Hong dan kawan kawannya
yang mengurungnya, dengan mudah ia dapat
menyelamatkan diri dengan mengancam nyawa bocah itu.
Cui Kong juga tidak melihat jalan keluar lagi kecuali
menyerang mati-matian. Maka ia lalu menggerakkan
huncwenya, langsung menyerang Tiang Bu dengan sengit.
Liok Kong Ji terpaksa menotok Leng Leng agar anak itu
jangan dapat lari, menaruh bocah itu di atas tanah dan
iapun membantu Cui Kong. Dengan maju berdua mereka
masih dapat bertahan menghadapi amukan Tiang Bu yang
luar biasa lihainya itu.
Bi Li tahu diri. Biarpun ia merasa gemas dan benci sekali
melihat dua orang musuh besarnya itu, akan tetapi ia cukup
maklum bahwa kalau ia melawan atau membantu Tiang Bu,
bantuannya itu tidak banyak artinya, bahkan dapat
mengacaukan permainan silat Tiang Bu. Maka ia berdiri saja
menonton. Ia percaya penuh akan kesaktian kekasihnya,
17
namun tidak urung ia berdebar gelisah juga melihat pedang
di tangan Kong Ji menyambar-nyamhar seperti kilat dan
huncwe di tangan Cui Kong bergerak ganas diselingi
semburan asap hitam yang ia sudah merasai sendiri
keganasannya.
Seperti juga tadi, Tiang Bu melayani ayah dan anak itu
dengan tenang, namun setiap gerakannya mengandung
tenaga dalam sehingga tanpa ia kelit, asap hitam itu sudah
buyar sendiri terpukul hawa sinkang yang keluar dari
sepasang tangannya. Pertempuran berjalan seru, sengit dan
mati-matian.
Ketika mendapat kesempatan baik, huncwo maut di
tangan Cui Kong menyambar ke arah kepala Tiang Bu
dengan pukulan yang tentu akan meremukkan kepala itu
apa bila mengenai sasaran, sedang pedang di tangan Kong Ji
menusuk ulu hati, dengan gerakan memutar yang sudah
diperhitungkan masak-masak dan amat sukar dielakkan.
Tiang Bu sengaja berlaku lambut sampai Bi Li
mengeluarkan jeritan tertahan. Ketika huncwe itu sudah
menyentuh rambut kepalanya, tiba.tiba Tiang Bu
menggerakkan jari tangannya ke atas, menyentil huncwe itu
dari atas sehingea huncwe menyelonong ke bawah dan tepat
menangkis pedang Kong Ji yang menusuk ulu hatinya.
"Traangg.......... !" Sepasang senjata bertemu keras. Api
berpijar dan di lain saat pedang di tangan Kong Ji sudah
terampas oleh Tiang Bu sedangkan huncwe maut itu sudah
terlepas dari tangan Cui Kong! Tentu saja dalam pertemuan
senjata itu, Cui Kong kalah kuat oleh ayah angkatnya dan
huncwenya sampai terlempar, sedangkan Tiang Bu
mempergunakan kesempatan baik itu untuk merampas
pedang Kong Ji.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya Liok
Kong Ji dan Cui Kong yang sudah kehilangan senjata.
Hampir berbareng mereka menghujankan Hek-tok-ciam ke
arah Tiring Bu. Akan tetapi sambil tertawa menyeramkan,
18
Tiang Bu memutar pedang rampasan nya dan semua jarum
runtuh ke bawah, bahkan ada yang membalik dan
menyambar dua orang pelepas jarum itu sendiri!
Memang Kong Ji dan Cui Kong orang-orang licik sekali.
Dalam keadaan terdesak dan senjata dilucuti dan Tiang Bu
yang parkasa malah kini berpedang, mereka masih mampu
mempergunakan siasat cerdik. secepat kilat Kong Ji
menyambar tubuh Leng Leng di atas tanah dan
mempergunakan bocah ini sebagai senjata ! Ia memegang
kedua kaki Leng Leng dan memutar tubuh itu untuk
menghadapi serangan Tiang Bu.
"Tiang Bu, jangan lukai bocah itu……!” Bi Li menjerit.
Gadis ini tidak ingin melihat Tiang Bu membunuh bocah
yang mungil itu. Akan tetapi, tanpi cegahannya, Tiang Bu
sendiri tidak sudi membunuh bocah yang tidak diketahui
siapa itu. Hatinya tidak sekejam dan ia terpaksa mengalah
mundur, menyelipkan pedang rampasan di pinggang dan
maju lagi dengan kedua tangan kosong untuk mencoba
merampas bocah itu dari tangan manusia iblis Liok Kong Ji.
Pada saat itu, Cui Kong yang licik juga menyerang lagi
dengan Hek- tok ciam, akan tetapi tidak ditujukan kepada
Tiang Bu, melainkan ke arah .......... Bi Li !
Namun, kalau hanya diserang senjata rahasia saja,
kepandaian Bi Li cukup tinggi untuk menghindarkan dengan
elakan manis dan kebutan tangan kanannya ia dapat
menyelamatkan diri. Akan tetapi Cui Kong telah dapat
melompat jauh meninggalkan tempat itu Kong Ji menyusul.
Ketiks Tiang Bu hendak mengejarnya, ia membentak,
"Terimalah popwe (jimat) ini !” Sambil membentak begitu,
tubuh Leng Leng ia lontarkan sekuat tenaga ke arah Tiang
Bu! Sungguh kejam manusia ini, untuk menyelamatkan diri
ia tak segan-segan untuk membunuh siapapun juga.
Tiang Bi kaget sekali. Kalau tubuh bocah itu tidak ia
terima, tentu bocah itu akan mati terbanting pada batu-batu
19
karang. Ia lalu bersiap dan dengan kedua tangannya ia
menangkap tubuh bocah itu di udara. Ternyata Leng Leng
sudah lemas dan pingsan. Ketika diputar-putar tadi saja
Leng Leng sudah merasa pening dan sukar bernapas,
membuatnya pingsan.
Tiang Bu menyerahkan bocah ini kepada Bi Li dan ia
hendak mengejar, akan tetapi dua orang mushnnya sudah
lenyap, tidak ketahuan ke mana perginya. Ia membantingbanting
kaki. Lagi-lagi dua orang musuh itu terlepas dari
tangannya berkat kelicikan mereka.
"Aku harus dapatkan mereka, aku harus basmi mereka !”
gerutunya.
Bersama Bi Li ia mencari terus, akan tetapi sementara itu
siang telah berganti senja dan udara mulai gelap. Leng Leng
siuman dari pingsannya dan menangis.
"Diam, nak, diam.......... siapa namamu ?” tanya Bi Li
menimang nimang bocah itu.
"Leng Leng ...... mana Sam-ma?" tanya anak itu
menanyakan inang pengasuhnya.
Bi Li merasa sayang kepada bocah yang mungil ini,
sambil mengelus kepalanya ia bertanya tentang ayah ibu
bocah itu, akan tetapi Leng Leng yang baru saja mengalami
banyak penderitaan semenjak "bibi Ceng Ceng” terbunuh,
tak dapat banyak memberi keterangan. Ia hanya menangis
dan berkali-kali berkata,
“Paman Kong Ji jahat sekali. ......, jahat sekali.......... “
Akhirnya setelah dihibur dan dibuai oleh Bi Li, ia tertidur
dalam pangkuan Bi Li.
“Heran, bocah ini siapakah dan anak siapakah. Kecilkecil
ia sudah tahu bahwa Kong Ji jahat.” kata Bi Li kepada
Tiang Bu.
Akan tetapi Tiang Bu memberi isyarat supaya jangan
berisik sambil menuding ke depan. Ketika Bi Li
20
memperhatikan, benar saja dari arah itu terdengar suara
orang bicara, makin lama makin keras, tanda bahwa dua
orang yang bicara itu sedang berjalan mendekati tempat
mereka.
“Dengan bocah itu di tanganmu, kau tak dapat menjaga
diri dengan sempurna, lebih baik kau menanti di balik batu
karang.” Tiang Bu berbicara kepada kekasihnya. Bi Li
mengangguk. Memang, kalau fihak musuh muncul dan
terjadi pertempuran. tentu saja dengan adanya bocah itu ia
takkan dapat melakukan pembelaan dari dengan baik, apa
lagi kalau harus melindungi Leng Leng. Tanpa banyak
membantah ia lalu pergi membawa Leng Leng yang sedang
tidur itu, menyelinap di balik batu karang. bersembunyi
sambil mengintai ke arah Tiang Bu.
Keadaan sudah mulai remang-remang, Tiang Bu tidak
mengenal muka dua orang yang datang memasuki hutan itu,
hanya tahu bahwa dua orang itu adalah seorang pemuda
dan seorang gadis. Ia mengira bahwa mereka ini tentulah
kawan-kawan Liok Kong Ji maka tiba-tiba ia melompat ke
luar dan membentak,
"Kalian siapa dan di mana Liok Kong Ji?” Ia sudah siap
untuk menyerang tokoh dua orang itu.
Dua orang itu kaget bukan kepalang, akan tetapi pemuda
itu segera berseru girang. “Tiang Bu.......... “
Gadis itupun berseru kaget dengan sikap jenaka. “Ya
Dewa Maha Agung! Kiranya saudara Tiang Bu ini.......... ??
Ah, bertahun-tahun enci Pek Lian merindukan dan menantinanti,
tidak tahunya dapat bertemu di tempat seperti ini.
Kalau ini bukan jodoh namanya, entah disebut apa !”
"Ang Lian, jangan main-main !" pemuda itu membentak si
gadis baju merah yang jenaka.
Tiang Bu melengak. Tidak tahunya "pemuda?” itu adalah
Pek Lian, gadis yang dulu pernah ia kagumi, gadis cantik
21
yang bijaksana dan lihai bersama Ang Lian adiknya. Dua
orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin.
"Adik Pek Lian dan Ang Lian....... ! Kiranya kalian ini?
Bagaimana kalian bisa berada di sini dan dengan siapa
kalian datang,"
Saking girangnya Ang Lian melangkah maju dan
memegang kedua tangan Tiang Bu. "Saudara Tiang Bu,
benar-benar girang hatiku dapat bertemu dengan kau di
tempat setan ini. Kalau ada kau di sini, aku tidak takut lagi
biar ada lima orang Liok Kong Ji muncul. Dan enci Pek Lian
tentu seratus kali lebih girang dari pada aku. Kau tahu, ayah
juga ikut datang bersama Wan-bengcu dan yang lain-lain.
Mereka juga tentu girang dapat bertemu dengan kau. Baik
sekali pertemuan ini, lengkap selengkap-lengkapnya. Biar
aku nanti bicarakan urusan perjodohanmu dengan enci Pek
Lian."
"Hush, Ang Lian....... " Pek Lian mencegah dengan muka
berubah merah sekali.
“Hush apa lagi ? Bukankah kau selalu merindukan dia
ini? Sekarang sudah berhadapan muka, pakai malu-malu
apa lagi? Aku akan bicarakan dengan ayah dan Wan
bengcu..........”
“Setan, jangan sembarang bicara ! Kalau ..........
kuceritakan kepada Ciu twako ......’ Pek Lian balas
menggoda. Menelengar ini, Ang Lian menjadi kewalahan dan
tak berani banyak bicara lagi.
Sementara itu, mendengar kata-kata dari Ang Lian ini,
Tiang Bu menjadi bingung sekali. Percuma saja mencegah
seorang gadis seperti Ang Lian berhenti mengoceh.
“Aku sedang mengejar-ngejar Liok Kong Ji,” katanya
kemudian. Ia melirik beberapa kali ke arah tempat
persembunyian Bi Li dan sebelum ia memanggil Bi Li, gadis
ini sudah mucul sambil memondong Leng Leng.
22
Pek Lian dan Ang Lian kaget lagi, memandang kepada Bi
Li dengan penuh curiga.
“Apakah dia ini seorang selir Liok Kong Ji ?” tanya Ang
Lian yang lancang mulut dan salah duga.
“Nona Ang Lian, jangan salah duga. Dia ini adalah nona
Wan Bi Li dan,......”
"Astaganaga .......... !” Ang Lian meloncat dan memeluk Bi
Li dengan mesra. "Maafkan aku, enci Bi Li. Kau boleh
tampar mulutku yang lancangg. Aduh.......... jadi kau ini
adik Wan Sun twako? Pantas…. pantas akan tetapi ....” ia
melihat lengan kiri yang buntung itu dan tak dapat
melanjutkan kata-katanya, akan tetapi dari sepasang
matanya mengucur air mata. Biarpun ia kasar dan jujur,
namun hati Ang Lian baik sekali ia terharu melihat lengan
tangan Bi Li buntung dan ia tak pernah mendengar tentang
hal ini.
Sebaliknya, Bi Li mempunyai hati yang keras. Ia maklum
apa yang menyebabkan Ang Lian mengucurkan air mata. Ini
saja sudah melenyapkan kemendongkolan hatinya ketika
Ang Lian mengira dia ”selir" Liok Kong Ji.
"Adik yang manis kau mau tahu? Lenganku ini buntung
oleh pedang Liok Kong Ji."
Ang Lian membanting-banting kakinya. "Bangsat besar
Liok Kong Ji. Kali ini ia takkan mampu lolos dari hukuman!
Enci Bi Li, tahukah kau, kakakmu juga berada dengan kami
?”
Ang Lian mengira bahwa BI Li tentu akan girang sekali
mendengar ini, akan tetapi Bi Li malah mengerutkan kening,
agaknya berita itu tidak menggembirakan hatinya benar.
Memang, dalam keadaannya seperti sekarang, buntung
lengannya. Ia sudah tawar hatinya untuk bertemu dengan
siapa juga. Memilukan saja, pikirnya.
23
"Anak ini……. anak siapakah?” tanya Pek Lian, sikapnya
hati-hati dan sejak munculnya Bi Li, ia mendapat firasat
yang tidak menyedapkan hatinya. Berkali-kali ia memandang
dari Tiang Bu kepada Bi Li dan hatinya menduga-duga.
“Dia itu kami rampas dari tangan Liok Kong Ji. Tiang Bu
menerangkan. "Kami sendiri tidak tahu dia anak anak siapa,
hanya namanya Leng Leng."
"Ahh, dia ini anak Wan bengcu!" Ang Lian berkata girang
sambil meraih Leng Leng dari pondongan Bi Li sampai bocah
itu sadar dari tidurnya dan memandang bingung. "Benar, dia
anak Wan-bengcu. Bukankan namamu Wan Leng, anak
manis?"
Leng Leng mengangguk-angguk kepada gadis yang tak
dikenalnya ini. Ang Lian menciuminya, "Syuknr, syukur,
syukur ...... alangkah akan girangnya hati Wan bengcu dan
isterinya ...... !"
Karena percakapan itu tidak karuan juntrungnya, Tiang
Bu lalu minta dua orang gadis itu menceritakan
keadaannya. Ang Lian menyerahltan Leng Leng yang diminta
oleh Pek Lian, kemudian ia bercerita.
"Kami sebelas orang datang untuk menyerbu Pek-houwto,
akan tetapi tak menjumpal siapa-siapa kecuali para selir
dan pelayan wanita yang tidak berarti. Ayah, aku dan enci
Pek Lian ini sebetulnya bertugas menjaga perahu. Akan
tetapi karena sudah hampir sore mereka belum kembali,
ayah lalu memperkenankan aku dan enci Pek Lian untuk
menyusul mereka. Sebelum kami bertemu dengan seseoraug
di antaea mereka, tahu-tahu malah bertemu dengan kau dan
ternyata Leng-ji sudah tertolong. Menurut keterangan Wanbengcu,
Leng-ji ini dibawa ke sini oleh Cun Gi Tosu."
Tiang Bu mengangguk-angguk. Ia merasa girang sekali
bahwa bocah yang ditolongnya itu ternyata puteri Wan Sin
Hong. Ngeri ia memikirkan kalau sampai bocah itu tewas
dalam pertempuran tadi.
24
'Keadaan di sini masih amat berbahaya," katanya
kemudian kepada dua orang gadis enci adik itu. "Liok Kong
Ji dan Liok Cui Kong masih berkeliaran dan sedang kami
kejar-kejar. Lebih baik kalian kembali kepada ayah kalian
dan bawalah Leng-ji ini agar aman dan terlindung di sana,
sambil menanti kembalinya Wan-siok-siok."
Ang Ltan meugangguk-angguk, akan tetapi Pek Lian
berkata. “Apakah ...... apakah tidak baik kalau aku
membantumu menghadapi Liok Kong Ji ?”
Sebelum Tiang Bu menjawab, Bi Li berkata, “Tiang Bu,
tentu baik sekali kalau….. enci Pek Lian ini membantumu.
Tentu dia memiliki kepandaian tinggi dan karenanya kau
akan lebih kuat kedudukanmu."
Tiang Bu seorang yang perasa sekali. Dalam ucapan ini ia
menangkap nada yang membayangkan hati sakit, maka ia
bingung dan cepat ia berkata kepada Pek Lian.
“Nona Pek Lian, bukan aku tidak mengharap bantuanmu.
Akan tetapi harus kauketahui bahwa ilmu kepandaian Liok
Kong Ji dan Liok Cui Kong lihai sekali. Kau bukan lawan
mereka."
Ketika melihat pandang mata Pek Lian beralih kepada Bi
Li seakan-akan bertanya mengapa kalau Bi Li boleh bersama
dia, Tiang Bu cepat berkata, "Ketahuilah, nona Wan Bi Li
adalah sebagai murid terkasih dari Ang jiu Mo-li dan
memiliki kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya diri pada
kalian, masih tidak mampu membantuku mengalahkan Liok
Kong Ji dan Liok Cui Kong."
Mendengar ini, dua orang enci adik itu merasa kagum
kepada Bi Li. Kiranya nona butung ini lebih lihai malah dari
pada mereka ! Akhirnya mereka lalu menurut, membawa
pergi Leng Leng untuk kembali kepada ayah mereka yang
masih menanti di pantai menjaga perahu.
Tiang Bu dan Bi Li terus mencari jejak Liok Kong Ji dan
Liok Cui Kong. Akan tetapi malam tiba dan sepasang muda25
mudi ini terpaksa melewatkan malam gelap di dalam sebuah
gua untuk berlindung dari serangan hawa dingin.
Tiang Bu yang amat memperhatikan Bi Li melihat
perubahan pada sikap gadis itu. Setiap kali bertemu
pandang, dari sepasang mata dia itu memancar sinar
kemarahan yang aneh. Semua ini ia dapat melihat di bawah
penerangan api unggun yang ia buat untuk mengusir
nyamuk yang banyak terdapat di dalam gua di tepi pantai
itu. Ia menduga-duga dan kecerdikannya membuat ia dapat
mengetahui bahwa gadis ini tentu merasa cemburu dan
penasaran karena kata-kata yang keluar dari mulut Ang Lian
yang amat lancang tadi tentang Pak Lian yang rindu
kepadanya ! Dugaannya memang tepat dan hal ini
dinyatakan oleh Bi Li yang kini mulai membuka mulut
bicara setelah sejak tadi diam cemberut saja.
“Tiang Bu, kau tentu sudah kenal baik sekali dengan
Huang ho Sian-jin, bukan?”
Diam-diam Tiang Bu geli hatinya. Ia tahu bahwa gadis ini
sebetulnya hendak bertanya bahwa ia mengenal baik dua
orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin tadi, akan tetapi Bi Li
sengaja bicara memutar.
“Tidak,” jawabnya sungguh-sungguh dan jujur. "Baru
satu kali aku bertemu dengan orang yang gagah itu." Ia
menceritakan bahwa dahulu ia menolong piauwsu yang
dirampas barang-barang berharganya oleh Ang-Lian dan Pek
Lian, kemudian ternyata bahwa barang-barang berharga itu
dirampas oleh anak Huang-ho Sian jin untuk dibagi-bagikan
kepada rakyat yang menjadi korban banjir.
“Pantas saja kalau begitu. Ayahnya seorang tokoh besar
yang gagah budiman, dua orang gadis itupun gagah dan
cantik-cantik sekali, apalagi yang bernama Pek Lian tadi.
Tiang Bu, kau patut menjadi mantu Huang-ho Sian-jin !”
Nah, ini dia maksud hatinya yang penuh cemburu, pikir
Tiang Bu.
26
“Bi Li mengapa kau bicara begitu ? Jangan
kauperhatikan ucapan Ang Lian yang sejak dulu memang
tukang menggoda orang dan bicaranya sangat sembrono.
Ang Lian masih seperti anak-anak, kalau bicara tidak tahu
kira-kira dan mudah saja menjodoh-jodohkan orang.”
"Tiang Bu, apakah kau tidak berani mengaaku bahwa
Pek Lian seorang gadis cantik dan gagah ?” Bi Li memandang
tajam.
"Memang," jawab Tiang Bu jujur, "tak dapat disangkal
lagi, Pek Lian seorang gadis yang cantik. Akan tetapi hatiku
telah tertawan oleh seorang gadis lain bernama Wan Bi
Li.......... “
“Siapa ketahui hati laki-laki ? Tiang Bu, kan lebih cocok
dan setimpal kalau berdampingano dengan Pek Lian."
“Bi Li, harap kau sudahi percakapan ini…!” Tiang Bu
memegang tangan Bi Li dengan mesra. “Kau sudah
mengetahui isi hatiku. Selain enkau, tak mungkin di dunia
ini ada wanita yang dapat kucinta seperti aku mencintaimu."
Akan tetapi Bi Li tak dapat melupakan sinar mata yang
memancar keluar dari mata Pek Lian ketika gadis
berpakaian pria itu memandang Tiang Bu, penuh kasih
sayang dan kekaguman. Mendengar ucapan Tiang Bu ini, ia
menunduk dan pikirannya melayang-layang.
"Tiang Bu, kalau urusan di pulau ini sudah selesai, apa
kehendakmu selanjutnya ?" akhirnya dia bertanya perlahan.
"Pertama tama, minta Wan-siok-siok mengurus
pernikahan kita !” jawabnya tegas.
Cahaya kemerahan dari api unggun menyembunyikan
warna merah yang menjalari muka Bi Li. Ia masih
menunduk dan menarik tangannya yang dipegang Tiang Bu,
lalu jari-jari tangan itu bermain-main dengan sehelai
rumput.
“Setelah itu..........?” desaknya.
27
"Setelah itu? Ah. Bi Li. Alangkah bahagianya kalau kita
sudah menjadi suami isteri. Cita-citaku hanya untuk
membahagiakan hidupmu. Sisa hidupku akan
kupergunakan untuk menyenangkan hatimu. Aku ingin
merantau ke seluruh permukaan bumi ini bersamamu akan
kuajak kau menjelajah di empat penjuru dunia! Bukankah
senang sekali ?” Kembali ia memegang tangan Bi Li yang
berkulit halus.
Ucapan ini membuat hati Bi Li terasa perih sekali. Tak
dapat disangkal lagi, ia mencinta pemuda ini, mencinta
dengan sepenuh hati karena segala gerak-gerik dan tindaktanduk
pemuda ini benar-benar memikat hatinya. Akan
tetapi ucapan tadi, pergi merantau berdua di empat penjuru
dunia, benar-benar mendatangkan bayangan dan renungan
yang membuat hatinya perih. Ia dapat membayangkan
betapa dia dengan lengan buntungnya mengawani Tiang Bu
di mana-mana.
Tiang Bu, seorang pemuda yang gagah perkasa, yang
kelak pasti akan dipuji-puji oleh dunia kangouw karena
selain memiliki kepandaian tinggi juga mempunyai pribudi
luhur, dengan seorang isteri berlengan buntung dan yang
hanya akan menjadi tontonan yang menggelikan orang !
Tiang Bu dikagumi dan dipuji puja. sedangkan dia sebagai
isterinya akan selalu menerima pandang mata orang yang
memandang dengan sinar mata mengandung kasihan
bahkan ejekan! Akan kuatkah hati Tiang Bu manghadapi ini
semua? Kelak akan tiba saatnya Tiang Bu bertemu dengan
seorang seorang gadis cantik jelita yang lebih gagah dari
padanya, gadis yang utuh badannya, tidak buntung
lengannya. Dan Tiang Bu akan jatuh hati betul-betul, dia
akan.... ..akan dilupakan !
“Tidak.......... tidak.......... !" Bi Li menutupi jari-jari
tangannya ke depan mukanya yang menjadi pucat.
“Bi Li ? kau kenapa ...... .?”
28
Bi Li dapat menguasai hatinya yang terkacau oleh
bayangan tadi. Ia menggeleng kepalanya dan berkata. "Aku
tidak mau merantau, hal itu hanya akan memalukan saja,
Tiang Bu. Dengan lengan seperti ini........... “
"Aku tidak malu, Bi Li ! Bahkan kebuntungan lenganmu
itulah yang menambah besarnya cintaku kepadamu. Akan
kuperlihatka kepada dunia bahwa aku bangga mempunya
kau di sampingku, bahwa aku sama sekali tidak malu
karena kau cacad. Coba, siapa berani mengejek atau
menghinamu karena cacadmu tentu akan kuhajar habishabisan
!”
Bi Li terharu sekali. Ia percaya akan cinta kasih pemuda
saperti Tiang Bu ini, dan tidak terasa lagi tangannya
memegang lengan pemuda itu dengan penuh terima kasih.
Kemudian ia menarik kembali tangannya dan bertanya,
"Tiang Bu, andaikata.......... ini andaikata saja ......
perjodoban kita tidak dapat berlangsung, apa yang hendak
kaukerjakan?" Dengan pertanyaan ini Bi Li bendak
memancing dan menjenguk isi hati kekasihnya, sampai di
mana besarnya cinta kasih pemuda ini.
Wajah Tiang Bu berubah. "Tidak akan ada yang
menghalangi perjodohan kita, Bi Li. Iblis sekalipun tidak!
Kecuali ...... kecuali kalau kau yang tidak mau menerima
persembahan cintaku.......... apa boleh buat, kalau demikian
halnya, aku bersumpah takkan mau menikah dengan lain
orang, aku....... aku akan mengundurkan diri dan menjadi
seorang pertapa di Omei-san.
Suara yang keluar dari bibir Tiang Bu ini adalah suara
hatinya, maka terdengar menggetar mengharukan, membuat
Bi Li tak dapat menahan isak tangisnya. Hati gadis ini tidak
karuan, girang, bahagia, tercampur duka, haru, dan
khawatir. Dia diam saja ketika Tiang Bu memeluk dan
menghiburnya. Akhirnya ia pulas dengan kepala di atas
pangkuan Tiang Bu yang menjaganya semalam penuh agar
29
tubuh kakasihnya tidak diganggu nyamuk yang masih saja
berseliweran biarpun api unggun masih bernyala terus.
-oo(mch)oo-
Pada keesokan harinya, pagi-pagi Tiang Bu bersama Bi Li
sudah mulai lagi mencari jejak Liok Kong Ji dan Cui Kong
yang masih belum juga dapat ditemukan di mana
sembunyinya.
“Mereka tak mungkin keluar dari pulau ini," kata Tiang
Bu. Setelah Wan siok-siok dan kawan-kawannya datang
dengan perahu, tentu Wan-siok-siok tidak begitu bodoh
untuk meninggalkan penjagaan di pantai. Menurut Ang Lian
dan Pek Lian. Huang-ho Sian-ji ditinggalkan di pantai, tentu
kakek itu melakukan perondaan dan akan melihat apabila
Liok Kong Ji meninggalkan pulau dan tentu akan memberi
isyarat kepada Wan-siok-siok. Aku yakin mereka itu masih
bersembunyi dalam gua-gua yang banyak terdapat di pesisir
ini.”
Bi Li juga berpendapat demikian dan dua orang muda ini
mulai mencari terus tanpa mengenal lelah. Juga rombongan
Wan Sin Hong mencari cari, akan tetapi mereka itu berada di
lain jurusan dan tidak mencari dalam gua-gua di pesisir
batu karang. Tempat ini memang agak tersembunyi dan
hanya Tiang Bu yang sudah sampai di situ lebih dulu.
Memang dugaan Tiang Bu tepat sekali. Liok Kong Ji tidak
berani meninggalkan pulau, bahkan tidak berani keluar dari
tempat persembunyiannya karena maklum bahwa musuhmusuhnya
yang banyak jumlahnya berkeliaran di atas pulau
itu. Sekali saja ia terlihat, ia akan mengalami pengepungan
dan sukar menyelamatkan diri lagi. Ia tahu bahwa sekali ini
yang mengejarnya orang-orang pandai dari pelbagai
kalangan dan andaikata ia dapat melawan Wan Sin Hong,
belum tentu ia akan dapat melepaskan diri dari tangan Tiang
Bu.
30
Berdua dengan putera angkatnya. Liok Kong Ji
bersembunyi di dalam sebuah gua besar yang menjadi
tempat rahasia di mana ia menyimpan kitab-kitabnya, dan
gua itu tertutup oleh sebuah batu besar yang amat berat.
Setelah ia memasuki gua itu bersama Liok Cui Kong lalu
mengangkat batu itu dari dalam, menyeretnya ke depan gua
dan menurunkannya di depan gua sehingga sepintas
pandang saja orang takkan tahu bahwa di batu besar itu
terdapat sebuah gua yang mulutnya kecil saja, akan tetapi
sebetulnya kalau dimasuki mulut gua yang hanya tiga kaki
tinggi dan dua kaki lebarnya itu, membawa orang ke dalam
sebuah gua yang besar dan luas penuh dengan perabotperabot
rumah seperti meja kursi, tempat tidur dan yang
semuanya terbuat dari pada kayu-kayu yang baik dan
mahal. Juga di dalam gua itu dihias amat mewahnya,
diterangi lampu minyak dan dinding-dindingrya yang
tertutup papan itu digantungi gambar gambar indah.
Pendeknya, di sebelah dalam merupakan ruangan atau
kamar tidur besar yang mewah dan enak ditinggali.
Maklum akan kelahaian ayah dan anak yan dikejar .
kejarnya, Tiang Bu tidak membuang pedang yang dapat ia
rampas dari tangan Liok Kong Ji. Bahkan sekarang ia
mencari-cari dengan pedang di tangan. sedangkan Bi Li
berjalan di belakangnya Akhirnya Tiang Bu dan Bi Li berdiri
di depan batu karang yang menutup mulut gua kecil. Tiang
Bu menaruh curiga karena di dekat situ ia melihat tapak
kaki yang tidak begitu jelas, tanda bahwa orang yang lewat
di situ memiliki ginkang tinggi dan sengaja berlaku hati-hati
supaya tidak kelihatan tapak kakinya.
Tapak-tapak kaki itu lenyap di situ dan tidak terdapat
sebuahpun gua di dekat situ, maka hal itu amat
mencurigakan hatinya.
“Tiang Bu, batu ini baru saja dipindahkan ke sini. Lihat,
rumput-rumput di bawahnya tertindih dan rusak. Kalau
sudah lama di sini, tentu tidak ada rumput tertindih.
31
Rumput-rumput ini masih hidup dan segar,” kata Bi Li
menuding ke bawah.
Benar saja, memang ada rumput yang tertindih batu
besar itu. Tiang Bu menjadi girang dan kagum akan
keawasan mata Bi Li ia mengerahkan tenaga di tangan kiri
dan sekali mendorong, batu karang yang menutupi mulut
gua itu roboh, kelihatanlah sebuah mulut gua kecil itu.
Tiang Bu tercengang melihat bahwa di balik batu karang
itu hanya terdapat gua yang lobangnya sekecil itu. Ia merasa
ragu- ragu dan mulai memandang ke sana ke mari mencaricari
jejak. Ketika ia hendak pergi dari situ, kembali Bi Li
berkata,
'Nanti dulu, Tiang Bu. Aku merasa curiga melihat gua
kecil ini. Kauperhatikan baik-baik, gua ini begini gelap, ini
hanya menandakan bahwa dalamnya besar. Siapa tahu
kalau-kalau mereka bersembunyi di sini. Memang tempat ini
merupakan persembunyian yang baik dan tidak
mencurigakan, maka harus diselidiki baik. baik.”
Tiang Bu sadar dan cepat berkata, “Kau betul, Bi Li.
Kautunggu saja di sini, biar aku menyerbu masuk !”
Bi Li memegang lengan Tiang Bu yang sudah hendak
melompat ke dalam gua kecil itu.
“Nanti dulu jangan terburu-buru Tiang Bu. Gua ini
mulutnya amat kecil. Kalau betul-betul mereka berada di
dalam dan menyerang selagi kau melompat masuk, apakah
tidak berbahaya sekali? Aku teringat ketika dahulu bersama
ayah Pangerau Wanyen Ci Lun memburu binatang hutan.
Ayah menyuruh orang-orangnya mengasapi gua untuk
memancing ke luar macan dan binatang buas lain. Apakah
tidak lebih baik kita sekarang membakari daun dan ranting
kering di depan gua dan meniup asapnya ke dalam untuk
memaksa mereka keluar. Kalau sudah berada di luar gua,
terserah kepadamu karena aku percaya kau akan dapat
melawan mereka.”
32
Tiang Bu tersenyum. Sebetulnya ia tidak takut sama
sekali, akan tetapi karena melihat sikap Bi Li demikian
bersungguh-sungguh dan gadis itu amat mengkhawatirkan
keselamatannya, ia tak tega membantah.
“Sesukamulah “ jawabnya tertawa. "Akupun ingin sekali
membuat Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong terserang asap dan
tak dapat bernapas. Alangkah akan lucunya kalau mereka
terpaksa ke luar sambil batuk-batuk tak dapat bernapas.”
Ucapan ini dikeluarkan dengan keras oleh Tiang Bu agar
terdengar dari dalam gua. Ucapan ini saja sudah merupakan
pancing dan ancaman. Maksudnya berhasil baik karena
tiba- tiba terdengar suara mendesis dan dari dalam gua yang
kecil mulutnya itu keluarlah asap hitam bergulung-gulung.
Tiang Bu melompat ke belakang dan meneorong Bi Li untuk
mundur. Ia mengenal asap dari huncwe maut Cui Kong dan
tahu bahwa dua orang musuhnya betul-betul berada di
dalam gua itu.
Ting Bu memutar pedangnya ketika melihat sinar-sinar
hitam menyambar pula dari dalam gua. Itulah senjatasenjata
rahasia hek-tok-ciam yang dilepas oleh Liok Kong Ji
untuk menyusul senjata rahasia asap biasa yang
disemburkan oleh Cui Kong.
Memang kali ini Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang
biasanya amat licin dan cerdik itu kena diakali oleh Tiang Bu
dan Bi Li. Mendengar usul Bi Li untuk mengasapi gua itu,
mereka menjadi terkejut setengah mati. Tentu saja mereka
tidak sudi dijadikan seperti dua ekor tikus yang terpaksa
keluar lemas karena lubangnya diasapi. Menghadapi
serangan, mereka masih dapat mempergunakan ilmu
kepandaian untuk melindungi diri, akan tetapi kalau gua itu
dipenuhi asap. berapa lamakah mereka dapat bertahan ?
Maka dengan hati kecut mereka terpaksa membuka jalan
keluar dan menghujankan senjata rahasia mereka.
Betapapun lihainya ilmu silat Tiang Bu pemuda ini tidak
berani berlaku gegabah menyerbu ke dalam gua. Senjata
33
rahasia dua orang itu cukup berbahaya, apa lagi hek-tokciam
itu dilepas di antara asap hitam, tidak ketihatan dan
amat berbahaya kalau ia terkena Hek-tok-ciam, sungguhpun
ia dapat mengobatinya, namun tentu akan banyak
mengurangi daya serang dan daya tempur menghadapi ayah
dan anak angkat yang berkepandaian tinggi itu.
“Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong manusia-manusia iblis.
Keluarlah untuk menebus dosa-dosamu !” kata Tiang Bu,
siap menanti mereka.
Sambil terus melepaskan jarum-jarumnya, Liok Kong Ji
akhirnya melompat keluar, di ikuti oleh Cui Kong yang
memegang huncwe mautnya. Kini Liok Kong Ji juga sudah
memegang pedang lagi, karena dalam gua itu memong
tersedia beberapa batang pedangnya yang baik baik.
"Bocah durhaka, kali ini aku tidak ampunkan kau lagi !”
kata Liok Kong Ji sambil memutar pedangnya melakukan
serangan kilat dituruti pula oleh Cui Kong.
Tiang Bu tahu bahwa ucapan itu hanya gertakan belaka,
namun ia tidak berlaku sembrono dan tidak mau
memandang rendah kepada dua orang musuhnya yang
sudah berkali-kali mengakali dan lolos dari desakannya itu.
Cepat ia memutar pedang rampasannya dan menangkis
serangan lawan lalu membalas dengan hebat dan tidak
kalah sengitnya. Serangan tangan kosong saja Tiang Bu
sudah mampu mendesak dua orang lawannya itu, apa lagi ia
menggunakan pedang.
Sebentar saja Kong Ji dan Cui Kong hanya bisa main
mundur dan ke mana saja mereka meloncat, selalu mereka
dibayangi dan dikurung oleh sinar pedang Tiang Bu.
Memang pemuda ini sudah mewarisi ilmu kepandaian yang
luar biasa dan berkali kali Liok Kong Ji sampai merasa
kagum bukan main. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Liok
Kong Ji adalah ilmu pedang sakti yang jarang bisa dilawan
orang, lihai dan selain cepat dan kuat, juga membingungkan
lawan.
34
Kiranya sukar mencari orang yang akan kuat menandingi
ilmu pedang Liok Kong Ji pada masa itu. Juga Liok Cui Kong
memiliki kepandaian gabungan, sebagian ia pelajari dari
Kong Ji dan sebagian pula ia dapatkan dari gurunya, Cun Gi
Tosu. Pemuda inipun amat lihai ilmu silatnya, apa lagi
huncwe mautnya merupakan senjata ganjil yang amat sukar
diduga gerakan gerakannya.
Namun dua orang ini tidak berdaya menghadapi Tiang
Bu. Di dalam permainan Tiang Bu terdapat segala dasar
pertahanan yang maha kuat, yang sukar sekali ditemnbus
oleh serangan-serangan dua orang itu. Desakan-desakan
Tiang Bu sebaliknya amat berat mereka rasakan,
sungguhpun untuk merobohkan mereka juga bukan
merupakan hal mudah bagi Tiang Bu.
Ayah dan anak angkat itu dapat bekerja sama baik
sekali. Mereka telah maklum akan kelihaian Tiang Bu den
ketika mereka bersembunyi di dalam gua. Liok Kong Ji
sudah mengatur siasat bertanding menghadapi Tiang Bu. Ia
telah memberi petunjuk kepada Cui Kong dan sekarang
petunjuk itu dipraktekkan. Keduanya tidak bergerak sendirisendiri
terpisah, melainkan bergabung menjadi satu, saling
melindungi dan saling membantu. Inilah yang membuat
Tiang Bu menghadapi kesukaran untuk segera mengalahkan
mereka. Kedudukan mereka memang kuat, bagai tembok
baja !
Bi Li menonton pertempuran itu dengan gemas. Ia
merasa penasaran tak dapat membantu kekasihnya dan
beberapa kali ia mengepal-ngepal tangannya yang tinggal
satu dan memandang marah penuh kebencian kepada orang
itu, terutama kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi
lengannya. Ingin ia segera melihat musuh besar yang sudah
membuat hidupnya hampa dan tubuhnya bercacad ini
segera roboh binasa di bawah pedang Tiang Bu. Akan tetapi
tiba-tiba ia melihat perubahan dan kini Tiang Bu hanya
35
mendesak Cui Kong seorang, seakan-akan tidak bermaksud
merobohkan Kong Ji.
Bi Li mengerutkan keningnya. Apa Tiang Bu tiba-tiba
merasa kasihan dan tidak tega membunuh orang yang
sebetulnya masih ayahnya sendiri itu ? Timbul keraguan dan
“perang” dalam pikiran Bi Li ia teringat akan ayahnya
sendiri. Ayahnya yang sejati, Kwan Kok Sun, juga bukan
seorang manusia baikt-baik, bahkan dahulunya amat
terkenal jahat. Demikian pula Tiang Bu. Sudah sepatutnya
kalau Tiang Bu ragu-ragu untuk membunuh ayab sendiri.
Akan tetapi ayah Tiang Bu itu telah membikin buntung
lengannya, dosa yang tak dapat ia ampunkan lagi !
Kekhawatiran Bi Li ini sebetulnya kosong belaka. Tiang
Bu sama sekali tidak merasa kasihan kepada Liok Kong Ji.
Ia amat banci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya
ini dan ia akan tega membunuhnya. Dia bukatnya
berkasihan kepada Kong Ji, akan tetapi dia sedang
menjalankan siasatnya. Menghadapi ayah dan anak angkat
yang dapat bekerja sama dengan baik betul-betul Tiang Bu
menemukan kesukaran untuk mencari kemenangan
secepatnya.
Pertahanan dua orang itu kuat bukan main. Oleh karena
itu Tiang Bu lali mengambil keputusan untuk menyerang
dan mendesak seorang di antara dua pengeroyoknya. Dan di
antara dua oraug itu, Cui Kong paling lemah, maka ia lalu
memusatkan perhatiannya kepada Cui Kong dan
menghujankan serangan-serangan hebat kepada pemuda
itu.
Tentu saja Cui Kong menjadi gelagapan. Biasanya kalau
ada lawan menyerangnya, tangkisan huncwenya dapat
membuat serangan lawannya buyar dan gagal, akan tetapi
kali ini, makin ditangkis pedang di tangan Tiang Bu menjadi
makin ganas, seolah-olah tangkisan huncwe itu menambah
daya serangnya ! Biarpun Liok Kong Ji sudah cepat-cepat
membantu untuk menangkisnya dan bahkan menyerang
36
Tiang Bu dengan dahsyat. Tetap saja Cui Kong tak dapat
menghindarkan lagi sebuah tusukan pedang yang amat
cepat mengarah perutnya.
Ia mempergunakan segala kelincahannya untuk
mengelak dari tusukan yang sudah tak mungkin ditangkis
lagi itu, akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan
perutnya, tidak dapat lagi menolong pahanya yang tertusuk
pedang sampai tembus.
Ketika pedang dicabut, darah mengalir deras dari paha
itu. Tiang Bu hendak menyusulkan tusukan maut ke dua.
namun Cui Kong yang berteriak kesakitan itu sudah
membuang diri ke atas tanah dan menangkis tusukan ini
dengan huncwenya. Terdengar suara keras dan huncwe itu
terlepas dari tangannya, namun ia selamat dan segera
menggerakkan tubuh bergulingan sampai jauh dan baru
berhenti karena di belakangnya adalah tebing batu karang
yang amat curam. Di sini ia merintih-rintih sambil berusaha
membebat luka di pahanya dengan baju yang dirobeknya.
Darah amat banyak mengucur, membuat kepalanya pening.
Kemudian Cui Kong terguling pingsan !
Melihat ini, Bi Li yang sudah menjadi kegirangan segera
berlari menyambar huncwe Cui Kong yang menggeletak di
atas tanah, kemudian ia berlari menghampiri Cui Kong yang
sudah pingsan itu untuk memberi pukulan terakhir.
“Bi Li, jangan dekati dia.......... ..!" Tiang Bu yang masih
bertanding dengan Kong Ji itu melarang. Pemuda ini biarpun
melihat Cui Kong sudah terguling dan tidak bergerak seperti
mati, masih saja curiga dan takut kalau-kalau kekasihnya
menjadi korban kelicikan Cui Kong. Akan tetapi Bi Li yang
sudah sakit hati itu, mana mau dilarang ? Ia makin gemas
dan sekali melompat ia sudah tiba di dekat Cui Kong, lalu
mengayun huncwe itu ke arab kepala Cui Kong !
Tepat dugaan Tiang Bu. Sebetulnya Cui Kong tidak
pingsan, hanya pura-pura pingsan, untuk menyelamatkan
diri dan mencegah Tiang Bu menyerang terus. Sama sekali ia
37
tidak mengira bahwa Bi Li akan mengejar dan
menyerangnya. Biarpun matanya tertutup, ia dapat
mendengar sambaran angin pukulan huncwenya. Cepat ia
menggulingkan tubuh dan kepala sehingsa huncwe di
tangan Bi Li itu menghantam batu, menimbulkan suara
keras dan bunga api berpijar membarengi muncratnya batu
yang remuk terkena pukulan huncwe !
Bi Li penasaran dan mengejar lagi, mengirim serangan
hebat. Terpaksa Cui Kong melompat berdiri, akan tetapi
terguling roboh lagi karena pahanya terasa sakit sekali.
Namun dalam mengelak, ia terkena huncwe pada
pundaknya, membuat ia mengerang kesakitan Bi Li
memukul terus, ditangkis oleh lengan kiri Cui Kong.
“Krak !" Tulang lengan itu patah. Tenaga lweekang Cui
Kong sudah banyak berkurang karena lukanya yang hebat,
maka tidak kuat menerima pukulan huncwe. Sebelum Cui
Ko berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya, Bi Li
sudah menyerang lagi !
"Mampuslah kau jahanam !" seru Bi Li dengan gemas,
huncwenya kini mendorong dada Cui Kong untuk membuat
pemuda terjengkang ke belakang di mana tebing batu karang
siap menerima tubuh pemuda itu untuk dilempar ke bawah
di mana gelombang laut mengganas kelaparan !
Tidak ada jalan mengelak atau menangkis lagi. Cui Kong
berlaku nekat, tidak melindungi tubuhnya melainkan
menubruk ke depan dengan kedua tangan mencengkeram
atau memeluk.
"Awas, Bi Li.......... !” Tiang Bu berseru dan meninggalkan
Kong Ji karena melihat bahaya mengancam Bi Li. Namun
terlambat! Cui Kong yang sudah nekat dan ingin mati
mengajak lawan itu, berhasil mencengkeram lengan tangan
Bi Li yang memegang huncwe dan mendorong dada
sedemikian hebatnya sehingga tubuh Cui Kong mencelat ke
belakang membawa tubuh Bi Li bersama. Dua orang itu
38
tergelincir masuk ke tepi batu karang dan melayang ke
bawah diiringi pekik mengerikan dari Cui Kong.
"Bi Li ......!!” Tiang Bu menjerit dan berlari ke tempat itu,
tidak perduli lagi pada Kong Ji yang terus saja
mempergunakan kesempatan baik itu untuk lari
menyelamalkan diri.
Setibanya di pinggir tebing, Tiang Bu melonguk ke bawah
dan pucatlah wajahnya. Jauh sekali di bawah, puluhan
tombak jauhnya, hanya kelihatan arus ombak menggelora
kepulih putihan. berbuih-buih seperti mulut iblis yang haus
akan darah. Ia hendak meloncat, akan tetapi segera
kesadarannya melarangnya. Kalau ia meloncat turun, tipis
harapan akan selamat. Apa gunanya membuang jiwa secara
sia-sia belaka? Kong Ji masih belum terbunuh dan pula,
menolong Bi Li harus dilakukan dengan jalan sewajarnya,
bukan dengan jalan membunuh diri. Mengingat akan ini,
TiangBu segera berlari lari ke kanan kiri untuk mencari
tebing yang tidak curam, dari mana ia akan mencari perahu
dan menuju ke tempat di mana Bi Li tadi jutuh bersama Cui
Kong.
Sukar sekali mencari perahu di situ karena perahuperahu
bajak sudah ia tenggelamkan semua. Akhirnya ia
menggunakan pedangnya menebang sebatang pohon dan
menggunakan batang pohon itu untuk perahu istimewa
Dengan batang pohon ini ia mendayung menuju ke tempat di
mana tadi Bi Li terjatuh.
Akan tetapi ia sudah membuang terlalu banyak waktu,
Ketika mencari-cari tebing kemudian mencari perahu lalu
menebang pohon untuk perahu, ia telah membuang waktu
satu jam lebih. Biarpun begitu, ketika ia tiba di bawah tebing
curam itu, ia masih sempat melihat tubuh Cui Kong yang
sudah menjadi mayat itu bergerak-gerak di permukaan air
laut yang kini sudah menjadi terang, agaknya sudah
kekenyangan karena mendapatkan dua mangsa manusia itu.
Ketika Tiang Bu mendekat, ia merasa ngeri juga melihat
39
bahwa mayat Cui Kong itu bergerak-gerak karena dibuat
berebutan oleh beberapa ekor ikan hiu yang ganas dan buas!
Tubuh Bi Li tidak kelihatan sama sekali.
Dengan perahu istimewanya itu Tiang Bu mendayung ke
sana ke mari mencari-cari sambit memanggil nama
kekasihnya,
"Bi Li …….! Bi Li ……..!”
Tiupan angin laut membuat suaranya hilang tak
berbekas. Sia-sia ia mencari-cari tidak kelihatan tubuh yang
ia cari-cari. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat
kerongkongannya serasa tersumbat. Matanya terbelalak
memandang ke arah benda itu, mukanya pucat dan bibirnya
bergerak-gerak menyebut “Bi Li.........” tanpa mengeluarkan
suara.
Benda itu adalah robekan baju Bi Li di bagian lenhan dan
pundak, robek sama sekali seperli ditarik dengan paksa dari
tubuh kekasihnya itu. Ia menoleh ke arah mayat Cui Kong
yang masih diseret-seret oleh ikan-ikan ganas itu. Tak terasa
lagi air mata bercucuran dari sepasang mata Tiang Bu.
“Bi Li…….” Ia dapat membayangkan betapa kekasihnya
itu sudah lebih dulu menjadi mangsa ikan, mayatnya
diseret-seret dan ditarik-tarik oleh ikan-ikan hiu itu sehingga
bajunya robek-robek dan terapung di sini. Dengan isak
tertahan Tiang Bu membawa pedangnya meloncat ke dalam
air dan menyambar robekan baju itu.
"Bi Li.......... !" Ia mendekap robekan baju itu ke dadanya
sambil mendongak ke angkasa, air matanya bercucuran.
Tiba-tiba batang pohon itu bergerak miring dan hal ini
menyadarkan Tiang Bu dari pada kesedihan yang membuat
ia lupa diri itu. Dilihatnya seekor ikan hiu meraba-raba
perahu aneh itu dengan moncongnya. Melihat ikan ini,
bangkit kemarahan Tiang Bu.
40
"Bedebah, kau yang membunuh Bi Li !” Pedangnya
berkelebat dan kepala ikan itu terbelah dua. Air menjadi
merah dan tubuh ikan itu terapung dengan perut di atas.
Darah ikan itu sebentar saja mendatangkan banyak ikan
hiu yang serta merta menyerbu dan menyerang bangkai hiu
tadi. Melihat betapa lahapnya ikan-ikan itu memperebutkan
daging ikan hiu, Tiang Bu menjadi marah. Dalam pandang
matanya, seakan-akan yang diperebutkan itu bukan bangkai
hiu, melainkan mayat kekasihnya Bi Li !
“Binatang iblis, kalian jahat dan keji !” makinya dan
pedangnya berkelebat. Sebentar saja laut di bagian itu
penuh dengan bangkai ikan hiu. Sampai lelah sekali tubuh
Tiang Bu mengamuk dan membunuhi ikan hiu. Akhirnya ia
teringat bahwa perbuatannya ini seperti perbuatan orang
gila. Ia lelah lahir batin, dan dalam keadaan setengah
pingsan Tiang Bu menjatuhkan diri di atas batang pohon
yang ia jadikan perahu. Laut mulai mengombnak lagi dan
batang pehon itu dipermainkan, didorong-dorong sampai ke
tepi.
Dengan hati hancur Tiang Bu mendarat sambil
mendekap robekan kain baju Bi Li. Air matanya kembali
jatuh berderai kalau ia teringat betapa kekasihnya itu tewas
dalam keadaan menyedihkan, bahkan tidak dimakamkan.
Teringat ini, Tiang Bu lalu menggunakan pedang rampasan
itu untuk menggali tanah, cukup dalam seperti kalau orang
hendak mengubur jenazah manusia.
Setelah itu ia berlari ke dalam gua di mana tadi Kong Ji
bersembunyi dan dia mendapatkan apa yang dicarinva, yaitu
lilin dan hio. Sekembalinya di tanah galian, dengan penuh
khidmat Tiang Bo "mengubur" robekan baju Bi Li yarg ia
anggap sebagai pengganti jenazah kekasihnya. Ia melakukan
upacara pemakaman ini sambil menangis dan menyebutnyebut
nama Bi Li berulang-ulang.
Ia lalu menguruk kembali lubang itu. Dengan pedangnya
Tiang Bu membuat bongpai sederhana dari batu karang. Ia
41
tidak perduli pedang itu menjadi rusak karenanya, malah
setelah rampung membuat bongpai, ia membuang pedang
rampasan itu. Setelah itu ia lalu menyalakan lilin dan hio,
bersembahyang dengan penuh khidmat dan sedih. Ia
berlutut di depan bongpai (baru nisan) itu dan berkata
keras-keras,
“Bi Li, kau mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah
bahwa sebelum membunuh Liok Kong Ji untuk
membalaskan sakit hatimu aku takkan berhenti.
Kautunggulah aku di alam baka. karena setelah tugasku aku
akan hidup sebagai pertapa di Omei-san sampai datang
saatku menyusulmu.”
Ucapan ini diulangi berkali-kali dan sampai lama ia
berlutut di depan "makam." Demikian khidmatnya ia
bersembahyang sampai telinganya yang biasanya amat tajam
itu tidak mendengar datangnya beberapa orang yang berdiri
di belakangnya dan memandang dengan terheran-heran dan
penuh keharuan. Akhirnya seorang di antara mereka yang
bertubuh gagah dan masih muda, mendengar nama Bi Li
disebut-sebut Tiang Bu, nampak kaget sekali dan bertanya,
“Kau bilang.......... Bi Li ..... Bi Li mati? Apakah itu
kuburan Bi Li adikku....?” menudingkan telunjuknya ke arah
makam itu.
Tiang Bu menoleh dan melihat Wan Sin Hong berdiri
sambil bersedakap di situ, memandangnya dengan mata
mengandung kasih sayang besar. Yang bertanya tadi adalah
Wan Sun, kakak angkat Bi Li, putera dari mendiang
Pangaran Wanyen Ci Lun dan Gak Soan Li, atau saudaranya
sendiri, saudara sekandung berlainan ayah! Orang ketiga
adalah seorang tosu tua yang ia tidak kenal.
"Tiang Bu koko, saudara tuaku yang gagah parkasa,
betulkah itu makam Wan Bi Li adikku.. ..... ,?" Kembali Wan
Sun bertanya sambil menghampiri Tiang Bu. Tiang Bu
menjadi makin terharu. Inilah adiknya seibu berlainan ayah.
42
Inilah anak kandung lbunya. Ia melompat berdiri dan
memeluk Wan Sun, tak tertahan lagi ia menangis terisak.
"Dia .......... dia sudah mati ...... " hanya itu yang dapat ia
katakan, kemudian ia manjatuhkan diri berlutut di depan
Wan Sin Hong.
Wan Sun cepat berlutut di depan makam sambil
menyalakan lilin kemudian ia berdiri dan bersembahyang,
mulutnva berkemak-kemik, air matanya menitik turun.
Terbayang semua pengalamannya ketika kecil dan menjelang
dewasa. Bi Li wanita yang sebetulnya merupakan cinta
pertamanya sebelum ia bertemu dengan Coa Lee Goat.
Wan Sin Hong menyuruh Tiang Bu berdiri dan ia
memandang kepada pemuda ini penuh perhatian. Alangkah
bedanya dengan ayahnya, pikir Sin Hong. Bocah tidak
bardosa yang kini menanggung akibat dari dosa ayahnya
yang jahat sekali.
“Tiang Bu, coba kaucoritakan bagaimana Bi Li sampai
tewas dan bagaimana hasilnya usahamu mencari musuh
kita? Kau tentu datang untuk mencari ayah dan anak iblis
itu bukan?”
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXVI
“BETUL seperti apa yang paman Wan Sin Hong katakan,
siauwtit datang untuk membalas dendam dan mengakhiri
kejahatan manusia-manusia iblis Liok Kong Ji dan Liok Cui
Kong. Kemudian Bi Li menyusul bersama gurunya, Ang-jiu
toanio. Sayang sekali mereka berdua telah tewas pula di
tangan ayah dan anak iblis itu !” kata Tiang Bu gemas.
“Memang Liok Kong Ji sudah terlampau banyak
melakukan perbuatan jahat, keganasannya melebihi iblis
dan ia telah banyak mengorbankan nyawa orang-orang
gagah. Bahkan Pek-thouw-tiauw-ong bersama isterinya dan
puterinya juga tewas semua di pulau ini,” kala Sin Hong
sambil menarik napas panjang. "Cetakanya, dia menyuruh
anak angkatnya yang sama jahatnya dengan ayahnya itu
untuk mengacau di Kim-bun-to sehingga ayah ibumu juga
tewas olehnya ...... .!!”
“Mendengar ini, kekagetan Tiang Bu seperti orang
disambar petir. Ia hanya dapat memandang dengan mata
terbelalak dan mulut ternganga, kemudian kedua tangannya
bergerak memukul ke arah batu karang.
2
“Brakkk….. !” Batu karang yang besar itu hancur lebur di
bagian yang terpukul, debu mengebul dan Tiang Bu
muntahkan darah ! Ternyata dendam dan sakit hati
ditambah kedukaan yang hebat tadi telah menindih
jantungnya, membuat dadanya seperti hampir meledak.
Tahu bahwa sinkangnya yang sudah kuat sekali itu dapat
membahayakan nyawanya sendiri, pemuda ini
melampiaskan amarah dan nafsunya kepada batu karang,
kemudian pukulan itu melepaskan sebagian besar tekanan
pada dadanya, membuat ia muntah darah, akan tetapi
nyawanya tertolong.
Sin Hong mengangguk-angguk dan membiarkan Tiang Bu
menjatuhkan diri berlutut sambil menangisi kematian ayah
bundanya yang biarpun hanya ayah bunda angkat, namun
ia cinta seperti orang tua sendiri.
“Baik sekali kau dapat menghilangkan kemarahan yang
menindih hatimu, Tiang Bu. Seorang laki-laki gagah tidak
saja harus berani menghadapi lawan tangguh, juga harus
kuat menahan pukulan batin, harus tahan menderita.
Segala apa di dunia ini memang nampak bersifat dua macam
yang bertentangan, sesuai dengan hukum Im Yang (positive/
negative). Hanya orang budiman yang sudah mencapai
keselarasan batin yang penglihatannya tidak membedakan
unsur dua bertentangan itu. Semua diterima sama saja,
penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang menimpa diri
memang sudah semestinya demikian. Suka dan duka
merupakan bumbu-bumbu hidup, kalau kita tidak tahu
merasakan duka, bagaimana kenikmatan suka dapat terasa?
Sekarang tenangkanlah semangatmu dan coba kauceritakan
bagaimana pengalamanmu di pulau ini.”
Mendengar wejangan Sin Hong yang amat dikaguminya
itu, Tiang Bu menjadi lebih tenang. Ia lalu menceritakan
semua pengalamannya sejak mendarat sampai tadi bertemu
daegan Wan Sin Hong, Wan Sun, dan tosu yang bukan lain
adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai.
3
Merdengar akan kamatian Cui Kong, Wan Sin Hong
menarik napas panjang. “Memang sama saja. Baik atau
jahat akhirnya akan mati juga. Akan tetapi kalau sudah
tahu ada baik dan buruk dalam perbuatan dan langkah
hidup, mengapa menjauhkan kebaikan mengejar
keburukan? Cui Kong sudah meninggal dunia tinggal Liok
Kong Ji. Kaukira di mana dia bersembunyi, Tiang Bu?”
“Siauwtit tak dapat menduganya. Wan-pek-pek. Orang
itu memang amat licin dan penuh siasat. Aku malah
khawatirkan dia sudah berhasil menyelamatkan diri,
minggat dari pulau ini."
Sin Hong menggeleng kepala. “Tak mungkin. Kami sudah
mengatur dan pulau ini sudah kami kurung dengan
mengawasan teliti. Huang-ho Sian.jin dan kedua orang
puterinya sudah selalu mengelilingi pulau dengan perahuperahu
mereka. Tak mungkin Liok Kong Ji dapat lolos kali
ini. Hanya aku belum menyapaikan terima kasihku
kepadamu bahwa kau telah berhasil merampas Leng-ji dari
tangan Liok Kong Ji yang jahat.”
Tiang Bu merasa lega. "Syukurlati anak pek-pek sudah
selamat. Sekarang dimana adik Leng Leng itu ?"
Sin Hong lalu menceritakan keadaannya. Sampai penat
mengelilingi Pulau Pek houw-to belum juga mereka
mendapatkan jejak Liok Kong Ji. Kemudian dua rombongan
mereka sudah bertemu dan berkumpul kembali tanpa hasil.
Hanya mereka menjadi amat kegirangan terutama sekali
Wan Sin Hong dan isterinya ketika melihat Leng Leng sudah
berada di situ dibawa oleh Pak Lian dan Ang Lian.
Leng Leng segera didekap oleh ibunya, dan Wan Sin Hong
dengan wajah berseri berkata kepada Pek Lian. "Pek Lian
dan Ang Lian, kalian telah berjasa besar mengembalikan
anakku. Tak tahu apa yang harus kulakukan untuk
membalas budi kalian."
4
Ang Lian yang kenes itu tertawa jenaka. “Hadiah untuk
enci Pek Lian hanya satu macam, asal Wan taihiap suka
menjodohkannya dengan Tiang Bu, cukuplah …..”
"Ang Lian. tutup mulutmu !" Pek Lian membentak marah,
akan tetapi mukanya menjadi merah "Wan-taihiap, harap
jangan percaya mulut adikku yang lancang itu. Sebetulnya,
kami enci adik mana becus merampas adik Leng dari tangan
Liok Kong Ji yang lihai ? Kami berdua hanya
mengantarkannya saja ke sini, yang merampasnya dari
tangan musuh adalah .......... Tiang Bu. Kami berdua
berjumpa dengan dia dan dialah yang menyuruh kami
membawa adik Leng ke sini sedangkan dia sendiri masih
melanjutkan usahanya mencari jejak musuh-musuh kita."
"Bersama seorang gadis cantik sekali akan tetapi
lengannva buntung !" Ang Lian menyambung.
"Bi Li.......... !” Wan Sun berseru kaget mendengar ini”.
“Betul, nona itu adalah adik saudara Wan Sun ini," kata
pula Ang Lian.
Mendengar ini, Wan Sin Hong segera mengajak Wan Sun
dan Bu Kek Siansu untuk menyusul ke daerah batu karang
itu. Kawan-kawan yang lain disuruh menanti dan secara
bergiliran meronda dengan perahu agar Liok Kong Ji tidak
dapat malarikan diri minggst dari pulau.
Demikianlah, setelah akhirnya rombongan tiga orang ini
bertemu dengan Tiang Bu, ternyata Bi Li telah tawas dan
potongan baju dikubur oleh Tiang Bu. Semua orang menjadi
terharu sekali dan diam-diam tahu bahwa Tiang Bu benarbenar
amat mecinta Bi Li. Wan Sin Hong merasa menyesal
bukan main. Jodoh yang setimpal sekali, pikirnya. Tiang Bu
dan Bi Li keduanya keturunan orang-orang jahat akan tetapi
menjadi baik dalam asuhan orang-orang baik. Sayang Bi Li
meninggal dalam keadaan begini menyedihkan ......
"Kalau begitu penjahat Liok Kong Ji tentu masih
menyembunyikan diri." kata Bu Kek Siansu yang semenjak
5
dahulu telah menjadi musuh Liok Kong Ji. "Lebih baik
sekarang kita mengerahkan tenaga untuk mencarinya. Kali
ini jangan sampai iblis itu bisa meloloskan diri dari tangan
kita.”
"Benar apa yang totiang katakan,” kata Sin Hong. “Tiang
Bu, apakah kau hendak mencari jejak Liok Kong Ji bersama
kami?”
“Biarlah, pek-pek, siauwtit mencari sendiri. Ingin siauwtit
berhadapan muka satu lawan satu dengan dia!" jawab Tiang
Bu gemas.
Sin Hong maklum akan perasaan hati pemuda yang
mengejar-ngejar ayah sendiri ini dan maklum pula bahwa di
antara semua yang berada di situ, kiranya hati Tiang Bu
yang paling panas. Pula, ia percaya bahwa kepandaian Tiang
Bu lebih dari cukup untuk melawan Liok Kong Ji.
"Baiklah kalau begitu. Cuma pesanku, malam nanti
kalau belum juga Liok Kong Ji kita temukan, kau pergilah ke
pantai selatan di mana kami semua berkumpul. Kau tentu
sudah ingin bertemu dengan yang lain-lain, terutamna sekali
adikmu Lee Goat yang sudah amat rinda kepadamu."
Tiang Bu mengangguk-angguk terharu sekali dan ia
memandang kepada Wan Sun.
"Adikku yang baik. Aku benar-benar merasa berbahagia
sekali ketika mendengar bahwa Lee Goat menjadi isterimu.
Dia itu adikku, kau juga adikku, benar-benar perjodohan
yang amat menggirangkan hatiku."
Wan Sun hanya bisa memegang pundak Tiang Bu dan
memandang tajam. Di dalam lubuk hatinya, Wan Sun
menangis sedih. Alangkah akan baiknya kalau Bi Li tidak
meninggal dunia dan menjadi jodoh Tiang Bu.
Mereka lalu berpisah dan tiga orang itu meninggalkan
Tiang Bu yang masih merasa enggan meninggalkan makam
kekasihnya.
6
-oo(mch)oo-
Liok Kong Ji pandai sekali menyembunyikan diri.
Memang sebelum ia diserbu oleh musuh-musuhnya, Liok
Kong Ji sudah mengadakan penyelidikan di Pulau Pek-houwto
dan sudah membuat persiapan terlebih dulu. Ia sudah
membuat tempat rahasia yang sukar dilihat dari luar dan di
dalam tempat persembunyian ini dia sudah menyediakan
bahan makan yang cukup banyak. Orang seperti dia yang
banyak musuhnya tentu saja sudah membuat persiapan
kalau kalau ia terpaksa bersembunyi seperti sekarang ini.
Tempat persembunyiannya itu, jangankan orang luar
bahkan selir-selirnya sendiri sekalipun tidak ada yang tahu.
Oleh karena itu tak seorangpun di antara selir-selir dan
pelayannya dapat memberi tahu ke mana ia bersembunyi.
Usaha Wan Sin Hong dan kawan-kawannya juga usaha
Tiang Bu, belum juga berhasil. Tiing Bu sudah datang ke
tempat berkumpulnya Wan Sin Hong dan rombongannya.
Pertemuan yang amat menggembirakan, juga amat
mengharukan, terutama sekali pertemuan antara Tiang Bu
dan Coa Lee Goat,
Berada di antara orang-orang gagah ini, Tiang Bu teringat
akan semua pengalamannya ketika ia masih kecil dan di
lubuk hatinya ia merasa kecewa sekali mengapa dia putera
Liok Kong Ji yang terkenal jahat dan dimusuhi orang-orang
gagah ini. Aku harus dapat membasmi Liok Kong Ji dengan
kedua tanganku sendiri pikirnya, agar aku dapat mencuci
noda yang didatangkan oleh orang yang mengaku ayahku
itu. Juga pertemuannya dengan pasangan-pasangan seperti
Wan Sin Hong dan Siok Li Hwa, Wan Sun dan Coa Lee Goat,
membuat ia makin teringat kepada Bi Li dan memhuat ia
berduka.
Sudah dua hari dua malam mereka berada di pulau itu
dan setiap hari mencari jejak Liok Kong Ji, namun belum
juga orang yang licin itu dapat mereka temukan.
7
“Lebih baik kita pusatkan penjagaan pada pantai saja,"
Wan Sin Hong menyatakan pendapatnya. "Dan jangan kita
mencari-cari lagi. Dengan sembunyi kita mengintai dan
meronda di sepanjang pantai agar Liok Kong Ji mengira
bahwa kita sudah pergi dari sini. Hanya dengan siasat ini
kiranya ia akan keluar dari tempat sembunyinya"
Semua orang menganggap pendapat ini baik sekali, maka
tadak lagi diadakan usaha mencari ke dalam pulau,
melainkan penjagaan pantai diperkuat.
Hal ini tidak memuaskan hati Tiang Bu dan diam diam ia
menemui Wan Sin Hong katanya,
“Wan pek-pek, memang siasat pek-pek baik sekali. Akan
tetapi, ijinkanlah siauwte seorang diri mencarinya dengan
diam diam menanti sampai ia muncul untuk membekuknya.
Mencari beramai-ramai memang amat berisik dan membuat
ular itu tidak mau keluar dari sarangnya, akan tetapi kalau
seorang saja yang mencari, kiraku tidak akan mengagetkan
dia."
Sin Hong tahu bahwa dengan kepandaiannya yang tinggi,
Tiang Bu tentu saja merupakan pengecualian. Dengan
kepandaiannya itu tentu saja Tiang Bu dapat mencari tanpa
terlihat oleh musuh. Maka ia menyatakan persetujuannya
dan pergilah Tiang Bu dari pantai, kembali ke pedalaman
pulau untuk mencari lagi.
Hal ini terdengar oleh Ciu Lee Tai dan membuat si dogol
ini penasaran. “Mengapa dia diperbolehkan dan aku tidak?"
katanya penasaran. “Biarpun boleh jadi Tiang Bu lihai, akan
tetapi bukankah dia itu putera sajati dari Liok Kong Ji?
jangan- jangan menyuruh dia mencari sama halnya dengan
menyuruh dia memberi peringatan kepada Kong Ji ayahnya
lebih berhati-hati dan jangan keluar dari tempat
persembunyiannya.”
Ucapan ini ia keluarkan di depan Ang Lian, karena sering
kali dua orang muda ini bercakap, atau lebih tepat lagi.
8
sering kali Lee Tai mencari kesempatan untuk mendekati
Ang Lian pada waktu gadis ini berada seorang diri di tepi
pantai.
“Huh. omongan apa ini?” bentak Ang Lian cemberut
marah. "Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku selamanya
tidak mau mendengar omonganmu yang busuk lagi. Dia
adalah calon cihuku (kakak iparku), kau tahu? Dan kau
berani menghinanya ?”
“Eh.......... , oh.......... begitukah.......... ? Jadi.......... enci
Pek Lian.........” sungguh menggelikan sikap Lee Tai ini.
Belum apa apa ia sudah menyebut enci kepada Pek Lian,
biarpun usianya lebih tua dari pada Pek Lian yang baru
berusia dua puluh satu tahun.
"Tutup mulut, jangan kaubicarakan hal ini kepada orang
lain. Pendeknya kau tidak berhak memburukkan nama
Tiang Bu. Dia itu seorang yang tinggi ilmunya, bahkan
menurut Wan-bengcu, di dunia persilatan sekarang ini
jarang ada orang yang dapat manandinginya. Kau ini siapa
sih? Janjimu untuk menewaskan manusia iblis Liok Kong Ji
juga hanya omong kosong belaka, syaratku itu masih
berlaku, kau tahu? Kalau tak dapat mengalahkan Liok Kong
Ji. jangan harap aku akan memperdulikanmu lagi !" Setelah
berkata demikian dengan cemberut Ang Lian membalikkan
tubuh dan meninggalkan Ciu Lee Tai seorang diri di atas
batu-batu di pantai itu.
"Adik Ang Lian ...... “
Akan tetapi Ang Lian menengokpun tidak, terus pergi ke
pondok di mana ia bermalam dengan Pek Lian. Rombongan
ini memang membuat pondok-pondok darurat untuk
melewatkan waktu malam.
"Bait," kata Lee Tai yang menjadi panas hatinya. "kaukira
aku tidak dapat berusaha seperti Tiang Bu? Kaukira aku
tidak bisa pergi sendiri mencari Liok Kong Ji dan
menantangnya bertanding sampai selaksa jurus Ang
9
Lian.......... Ang Lian.......... kau belum kenal adanya Kangthouw-
ciang Ciu Lee Tai!" Pemuda ini bicara seorang diri
sambil menepuk-nepuk dada dan goloknya. Kemudian ia
berlari ke pedalaman pulau untuk mencari Liok Kong Ji.
Ciu Lee Tai memang peenuda yang berhati keras dan
bernyali besar. Dia keturunan orang gagah. Ayahnya Ciu
Beng, adalah seorang piauwsu (pengawal barang) yang gagah
dan terkenal di daerah Shan-tung. Juga ayahnya berwatak
keras dan tak mau kalah, namun jujur den memiliki jiwa
ksatria. Oleh karena wataknya yang keras, adil dan jujur
inilah maka mereka banyak dimusuhi oleh penjahatpenjahat
di dunia liok-lim. Biasanya, sebagian besar
piauwsu mempergunakan cara-cara halus menghadapi para
perampok, yaitu dengan jalan memberi "uang jalan" atau
juga disebut uang sewa jalan, pendeknya semacam care
menyuap agar perampok-perampok itu tidak mengganggu
barang yang dikawalnya. Akan tetapi Ciu Beng tidak sudi
melakukan cara ini. Dia mengawal mengandalkan
kegagahannya, mengandalkan tajamnya golok.
"Seorang piauwsu adalah seorang pengawal dan tugas
seorang piauwsu adalah mengawal dan melindungi barang
kiriman dengan taruhan nyawa. Ada perampok menghadang
harus dibasmi, selain demi melindungi barang juga demi
mengamankan kehidupan rakyat jelata. Ini baru gagah
namanya!” Demikian Ciu Beng sering menyatakan
pendapatnya.
Wutaknya yang keras dan tidak mau berkompromi
dengan para penjahat itu akhirnya mendatangkan
malapetaka bagi rumah tangganya. Sekawanan perampok
yang menaruh dendam, menyerbu rumahnya, membakar
rumah itu dan di dalam pertempuran hebat Ciu Beng dan
isterinya tewas terbunuh oleh orang-orang jahat,
meninggalkan anak tunggal mereka yaitu Ciu Lee Tai yang
baru berusia sepuluh tahun.
10
Ciu Lee Tai mewarisi watak ayahnya. Sejak kecil ia sudah
gemar akan ilmu silat dan sudah mewarisi dasar-dasar ilmu
silat ayahnya. Setelah ia menjadi yatim piatu dan harta
benda ayahnya habis terbakar, ia lalu menjadi seoring bocah
gelandangan, tiada sanak kadang tiada penolong. Namun
sejak berusia sepuluh tahun, ia sudah memperlihatkan
keteguhan hati sebagai seorang calon pendekar. Ia tidak sudi
melakukan perbuatan jahat seperti mencuri dan lain-lain,
tidak sudi pula mangemis makanan biarpun perutnya sudah
kelaparan. Sebaliknya ia bekerja apa saja yang orang mau
mempergunakan tenaganya.
Berkat kejujuran dan kerajinannya, ia dapat membawa
diri, dapat memelihara diri sendiri sampai dewasa. Juga ia
tidak melupaka kegemarannya akan ilmu silat. Terus ia
melatih diri dan setiap kali ia mendengar akan adanya
seorang guru silat yang pandai, biarpun tempatnya jauh, ia
rela kehilangan pekerjaannya, meninggalkan tempatnya dan
pergi ke kota tempat tinggal guru silat itu. Ia rela menjadi
bujang atau penyapu lantai di rumah guru silat itu hanya
untuk menerima pelajaran ilmu silat dengan cuma-cuma.
Memang bagi orang bersemangat dan bersungguhsungguh,
terbentang jalan luas menuju ke pantai cita cita.
Biarpun dengan susah payah, akhirnya Ciu Lee Tai berhasil
juga memiliki ilmu silat yang lumayan, bahkan ia telah
mempelajari ilmu golok yang dulu menjadi andalan ayahnya.
Para orang gagah di dunia kang-ouw amat suka kepadanya
karena selain jujur dan ringan tangan, juga Lee Tai amat
rajin. Biarpun dalam urusan lain ia nampak dogol, namun
dalam mempelajari ilmu silat ia termasuk golongan pandai
dan cerdik, cepat mengerti. Ini pula yang menyebabkan Wan
Sin Hong sampai menurunkan beberapa macam ilmu
pukulan kepadanya.
Sifat baik lain yang ada pada diri Lee Tai ada
hubungannya dengan kematian ayah bundanya. Pemuda ini
amat benci kepada perampok dan setiap kali ia mendengar
11
ada perampok, ia lalu mercari dan tidak mau berhenti
sebelum dapat membasmi perampok-perampok itu sampai
ke akar-akarnya. Tadinya ia membabi-buta, akan tetapi
pengalamannya dan pergaulannya dengan orang-orang
gagah di dunia kang-ouw membuka matanya sehingga dia
dapat mambedakan antara perampok-perampok yang
memang benar jahat dan perampok-perampok yang
sebetulnya menjadi pembela-pembela rakyat, karena yang
dirampok oleh mereka itu hanya pembesar-pembesar korup
dan bangsawan serta hartawan keji, kemudian hasil
rampokan diberikan kepada rakyat miskin. Seperti halnya
Huang-ho Sian-jin, kakek yang menjadi datuk bajak ini
mendapat penghargaan tinggi di mata Lee Tai. Apa lagi
karena Huang ho Sian-jin adalah ayah dari Ang Lian.
Di Shantung, nama Cui Lee Tai sudah terkenal dari
kegagahan serta kejujuran dikagumi orang, biarpun di
samping kekaguman ini juga orang selalu tertawa kalau
bicara tentang dia karena ia dianggap lucu.
Demikianlah riwayat singkat dari Ciu Lee Tai yang
sekarang pergi seorang diri ke dalam hutan di Pulau Pekhouw-
to untuk mencari Liok Kong Ji. Hatinya masih panas
karena ucapan-ucapan Ang Lian, gadis yang membetot
hatinya itu. Karena panas ia menjadi marah dan dengan
nekat ia berjalan terus memasuki hutan sambil berteriakteriak
!
"Liok Kong Ji, keluarlah kalau kau jantan. Mari
bertanding selaksa jurus dengan tuanmu Kang-thouw-ciang
Ciu Lee Tai !”
Sampai serak tenggorokannya dan sampai lelah kakinya,
belum juga Liok Kong Ji muncul atau menjawab. Akhirnya ia
menjadi marah kepada Tiang Bu ketika ia teringat akan
kata-kata Ang Lian yang memuji-muji dia membela Tiang Bu
sebaliknya mencelanya. Ia berteriak lagi, kini mencela nama
Tiang Bu.
12
"Tiang Bu, kau orang apa? Hanya anak bangsat Liok
Kong Ji. Mana bisa lebih lihai dari aku? Anak srigala tak
mungkin menjadi domba. Bapaknya jahat anaknya tentu
jahat pula!"
Makin diingat hatinya makin panas. Tiang Bu anak
penjahat Liok Kong Ji bagaimana bisa diterima menjadi
calon jodoh Pek Lian dan bahkan Ang Lian agaknya suka
kepada Tiang Bu? Sedangkan dia keturunun orang gagah,
selalu dicela oleh Ang Lian ! Padahal apakah Tiang Bu itu?
Mukanya tidak tampan, pendiam tak pandai bicara, agak
angkuh.
“Hei. Tiang Bu! Kalau kau betul gagah dan mau membela
ayahmu, kau juga majulah bersama Liok Kong Ji. Kaukira
aku orang she Ciu takut dikeroyok dua??” ia berteriak-teriak
seperti orang kemasukan setan untuk mengumbar
kemarahan dan kemendongkolan hatinya.
Setelah keluar dari hutan itu, ia tiba lagi di pantai laut, di
bagian yang penuh batu-batu karang tinggi dan aneh-aneh
bentuknya. Ia lelah sekali dan mengaso, duduk di atas
sebuah batu yang licin. Hatinya masih mengkal, akan tetapi
juga agak bingung. Ia merasa amat lapar dan panas, untuk
kembali di tempat rombongannya, ia tidak tahu jalan lagi.
"Celaka." katanya keras-keras. "Gara Kong Ji dan Tiang
Bu ayah anak keparat aku harus bersengsara !" Karena
marah dan kesal tanpa disadarinya ia mendorong- dorong
batu karang di sebelah kanannya sambil memaki-maki nama
Kong-Ji.
Tiba-tiba ia berteriak kaget karena batu karang besar itu
tiba-tiba berbunyi dan sebuah pintu terbuka pada batu
karang itu! Ternyata bahwa ia telah mendorong dan
menyentuh alat rahasia tempat persembunyian Liok Kong Ji.
Sebelum hilang kagetnya, tahu-tahu ia telah berhadapan
dengan seorang laki-laki tinggi kurus setengah tua yang
13
bermata tajam bukan main. Ciu Lee Tai sampai hampir
terjengkang saking kagetnya.
“Kau ……. kau setankah .......... ?” tanyanya saking
gugup melihat tahu-tahu ada orang di depannya..
Liok Kong Ji tertawa. Ia tadi telah mendengar makianmakian
orang ini dan ia yang cerdik dapat menduga bahwa
ia berhadapan dengan seorang anggauta rombongan Wan
Sin Hong, seorang muda yang dogol.
"Aku lebih tinggi dari pada setan, akulah penunggu pulau
ini. Kau siapakah dan apa
maksud kedatanganmu ?”
Lee Tai kaget bukan
main, ia setengah percaya
setengah tidak. Penunggu
pulau berarti sebangsa
dewa atau iblis,
bagaimana bisa muncul
di tengah hari? Kalau
mantissa biasa, mengapa
tiba-tiba keluar dari
dalam batu karang?
"Aku ........ aku Ciu
Lee Tai, hendak mencari
Liok Kong Ji untuk
menangkapnya,” katanya
gagah.
Liok Kong Ji tertawa
geli. "Kan ..... ? Hendak menangkap Liok Kong Ji? Apa kau
sudah tahu bahwa Liok Kong Ji itu kepandaiannya tinggi
sekali. lebih tinggi dari pada kepandaian gurumu?"
Lee Tai menepuk dadanya "Aku tidak takut ! Tak
mungkin orang semacam dia lebih lihai dari guruku padahal
guruku yang terakhir adalah Wan bengcu."
14
"Ha ha ha, orang dogol. Aku sendiri belum tentu dapat
nienangkan Liok Kong Ji. Hendak kulihat sampai di mana
sih tingtat kepandaianmu maka kau berani menyombong
berteiak menangkap Liok Kong Ji ?" Tiba-tiba tangannya
bergerak menampar ke depan.
Ciu Lee Tai cepat menangkis sambil mengerahkan
tenaganya untuk memamerkan Kong thouw ciang (Kepalan
Baja). Akan tetapi ia menangkis angin dan tahu-tahu
kakinya kedua-duanya terangkat membuat ia terengkang ke
belakang dan bergulingan. Kepalanya sebelah kiri benjol
sebesar telur ayam karena menumbuk batu.
Ia melompat berdiri sambil memandang denganmata “Eh,
kau pakai ilmu siluman !"
Kong Ji tersenyum mengeiek, penuh hinaan dan juga
geli. "Biagaimana kau bilang aku pakai ilmu siluman ?"
"Kalau memang berkepandaian, adu tebalnya kulit
kerasnya tulang, jangan main jegal-jegalan secara curang!”
Tanpa menanti jawaban, Lee Tai menyerang lagi, kini ia
memukul dengan tangan kanannya yang keras ke arah dada
Kong Ji.
“Blekkk !"
Lee Tai merasakan kepalanya puyeng saking sakitnya
kepalan tangan kanannya yang bertemu dengan dada Kong
Ji. Mulutnya yang hendak menjerit kesakitan ia tahantahan,
sampai ia menggigit bibirnya, pringisan seperti orang
sakit mules. Tulang-tulang lengan kanannya seperti ditusuki
jarum!
"Kau ...... kau bukan manusia.......... "
Kong Ji tersenyum. "Bocah bodoh, baru sekarang kau
mau mengaku. Memang aku bukan manusia biasa,
melainkan pertapa yang sudah ratusan tahun berada di sini.
Kepandaian seperti kau miliki itu mana bisa untuk melawan
Liok Kong Ji?"
15
Akan tetapi Lee Tai berpikir lagi. Mungkinkah ia
berjumps dengan setan? Ah, jangan-jangan ia ditipu, janganjangan
orang in menggunakan akal untuk menerima
pukulannya tadi.
"Barangkali kau memakai baju besi di balik bajumu itu !”
Liok Kong Ji sudah mempunyai siasat untuk
menggunakan si dogol ini, maka ia berlaku sabar sekali,
tidak seperti biasanya. Kalau dalam keadaan biasa, ia tidak
terjepit seperti sekarang, tentu dengan satu pukulan saja
akan menghabiskan nyawa orang ini. Ia membuka bajunya,
memperlihatkan dadanya yang tidak terlindung apa-apa.
"Kau masih penasaran?" tanyanya.
Lee Tai betul-betul merasa heran. Memang ia masih
penasaran karena biasanya, tangannya ampuh sekali.
"Kalau kau masih penasaran, boleh kau memukul atau
menendangku tiga kali lagi tampa aku mengelak atau
menengkis."
Lee Tai membelalakkan matanya. "Betul betul kau tidak
akan mengelak ? Bagaimana kalau aku memukul atau
menendang bagian tubuhmu yang berbahaya?"
Kong Ji memang sedang berusaha menundukkan orang
ini untuk dipakai pembantu menyembunyikan diri, maka ia
mengangguk. "Boleh kaupukul atau tendang di mana saja.
aku takkan mengelak atau menangkis. Kalau aku mengaduh
sedikit saja, anggap aku kalah"
"Orang tua, kau sendiri yang menantang, Jangan bilang
aku Ciu Lee Tai seorang pemuda curang. Awas, aku akan
menyerang bagian tubuhmu yang lemah, apa kau berani?"
"Serang saja, serang sampai tiga kali !" kata Kong Ji
tersenyum.
Lee Tai lalu mengerahkan tenaganya dan mengirim
pukulan dua kali dengan kedua kepalan tangannya. Tangan
kanannya menghantam leher sedangkan tangan kirinya
16
menjotos lambung. Pukulan -pukulun ini hebat sekali, apa
lagi pukulan tangan kirinya yang menjotos lambung karena
tangan kirinya masih belum terluka, tidak seperti tangan
kanannya yang sudah merah membiru akibat pukulannya
pertama tadi.
"Bukk! Plak!" Berturut turut kedua kepalan tangannya
mengenai sasaran dengan jitu.
Akan tetapi, seperti juga tadi, Kong Ji tidak bergeming,
sebaliknya Lee Tai tak dapat menahan lagi, mengaduh-aduh
dan kedua tangannya digoyang-goyangkan ke kanan kiri
karena terasa sakit-sakit, linu dan panas sekali.
“Masih boleh satu kali lagi, orang muda,” kata Kong Ji.
Karena penasaran dan rasa sakit, Lee Tai menjadi marah.
Kakinya menendang, tadinya hendak menendang ke arah
anggauta yang paling lemah akan tetapi karena memang
pada dasarnya Lee Tai bukan manusia curang ia merasa
malu sendiri kalau mempergunaka kesempatan untuk
membinasakan orang yang tidak berdosa, masa kakinya
menyeleweng dan menendang perut.
"Blekk !”
Akibatnya hebat sekali, Lee Tai merasa kakinya seperti
menendang bola baja sampai-sampai ia merasa tulang
tulang kakinya merasa remuk. Sambil pringisan kesakitan ia
berjingkrak-jingkrak, berloncatan dengan kaki kirinya dan
mengaduh-aduh, akhirnya ia menjatuhkan diri berlutut di
depan Kong Ji. Pemuda dogol ini sekarang menjadi takluk
benar-benar.
"Selama hidup baru kali ini bertemu manusia sakti
seperti locianpwe yang mulia Mohon diberi petunjuk agar
teecu mempunyai kepandaian seperti locianpwe dan dapat
mengalahkan Liok Kong Ji"
"Ha, agaknya kau amat membenci orang she Liok itu. Ada
permusuhun apakah antara kau dengan dia?" tanya Kong Ji.
17
“Sebetulnya teecu tidak mempunyai urusan pribadi
dengan dia, hanya kekasih teecu mengajukan syarat bahwa
dia mau menerima pinangan teeecu kalau teecu dapat
mengalahkan Liok Kong Ji " Lee Tai yang jujur kini sudah
menaruh kepercayaan seribu prosen kepada "manusia sakti"
ini, maka dengan jujur iapun mengutarakan isi hatinya.
Kong Ji mengangguk angguk. "Aku suka kepadamu dan
aku mau memberi pelajaran ilmu silat dan memberi sebuah
kitab yang kalau kau sudah pelajari, seribu orang Liok Kong
Ji kiranya takkan mampu melawanmu."
Lee Tai girang sekali dan buru-buru ia mengangguk
anggukkan kepalanya menghaturkan terima kasih.
"Teeeu bersumpah akan mentaati perintah locianpwe."
Kong Ji adalah seoring yang mempunyai tipu muslihat
licik sekali. Satu kali bertemu ia sudah dapat mengenal
watak Lee Tai, dan ia tahu bahwa betapapun dogolnya
pemuda ini, namun kejujuran Lee Tai adalah aseli dan tentu
pemuda ini menolak perintahnya untuk melakukan sesuatu
yang berlawanan dengan suara hatinya sendiri. Oleh karena
itu ia mengambil jalan lain dan berkata,
"Permintaanku hanya satu, yaitu kau jangan bilang
kepada siapapun juga tentang diriku di sini. Aku sudah
puluhan tahun tidak bertemu dengan manusia, dan dengan
kau aku suka memperlihatkan diri oleh karena kita berjodoh
dengan aku. Maukah kau bersumpah takkan mengatakan
kepada siapapun juga bahwa aku berada di sini dan takkan
membuka mulut tentang pertemuan ini?”
“Teecu bersumpah takkan bicara pada siapapun juga
tentang lo-cianpwe."
"Bagus, aku percaya kepadamu, karena kalau kau
melanggar tentu aku akan datang mengambil nyawamu.
Sekarang tentang hal lain. Tadi aku mendengar kau
menyebut-nyebut nama Tiang Bu, apa kau tidak tahu bahwa
18
Tiang Bu itu adalah anak Liok Kong Ji dan bahwa sekarang
Tiang Bu membantu ayahnya itu untuk bersembunyi ?”
Mata Lee Tai terbelalak kaget. “Betulkah itu, locianpwe"
"Aku selamanya tidak pernah membohong. Aku melihat
sendiri betapa Tiang Bu bercakap-cakap dengan Liok Kong Ji
dan sambil menangis di depan ayahnya, pemuda itu
menyembunyikan Liok Kong Ji di suatu tempat yang tak
mungkin didapatkan oleh orang lain. Kau tak perlu sibuk,
lebih baik kauberitahukan hal ini kepada Wan Sin Hong dan
yang lain-lain agar Tiang Bu itu ditangkap dan dipaksa
mengaku di mana adanya Liok Kong Ji. Tentu dia bisa
memberi tahu.”
"Tentu saja ! Tentu teecu akan memberitahukan kepada
Wan bengcu dan yang lain-lain. Memang teecu sudah
bercuriga. Mana ada srigala... .....”
"Sst, cukup. Tak perlu memaki di depanku. Akan tetapi,
karena kau sudah bersumpah takkan menyebut-nyebut
namaku, kaupun harus menceritakan bahwa kau melihat
dengan matamu sendirl pertemuan antara Tiang Bu dan Liok
Kong Ji. Jangan kau menyebut-nyebut tentang aku.”
“Tentu teeeu mengerti, dan teeeu akan melaksanakan
semua perintah locianpwe. Hanya teecu mohon pelajaran
Ilmu silat untuk melawan Liok Kong Ji.”
Kong Ji mengeluarkan sejilid kitab kuno dari saku
bajunya.
“Kitab ini adalah pelajaran Ilmu Pedang Swat-lian-kiamcoan-
si, kalau kau mempelajarinya, ilmu pedang ini dapat
membuat kau menjadi seorang sakti. Akan tetapi jangan
sampai kitab ini terlihat oleh orang lain, apa lagi oleh Tiang
Bu sebelum pemuda itu tertangkap. Dia amat jahat dan
tentu kitab ini akan dia rampas!”
Bukan main girangnya hati Ciu Lee Tai. Ia percaya
seratus prosen bahwa dengan kitab itu tentu ia akan dapat
19
menjadi seorang sakti, dapat melawan Liok Kong Ji sehingga
ia dapat diterima dengan senyum manis oleh Ang Lian.
Sekali saja ia membuka kitab itu, ia mengerti bahwa itu
memang sebuah kitab ilmu silat yang hebat sekali. Memang,
dalam hal-hal lain Lee Tai boleh jadi dogol dan bodoh, akan
tetapi dalam ilmu silat otaknya memang encer dia dapat
membedakan ilmu silat yang baik. Dengan girang Lee Tai
menghatutkan terima kasih. Lalu timbul kekhawatirannya
kalau-kalau orang sakti ini bertemu dengan Liok Kong Ji dan
menggunakan kepandaian membunuh musuh besar itu,
mendahuluinya. Moka ia cepat berkata,
“Locianpwe, harap locianpwe jangan mengganggu Liok
Kong Ji dulu, biar teecu mempelajari ilmu pedang ini dan
teecu sendiri yang akan membekuknya !”
Dapat dibayangkan betapa geli hati Liok Kong Ji setelah
mempermainkan Lee Tai mendengar ucapan ini. Akan tetapi
iapun tidak berani muncul terlalu lama. Saking gelinya ia
tak dapat menahan gelak tawanya dan tiba-tiba ia berkelebat
lenyap dari depan Lee Tai yang tentu saja menjadi makin
kagum dan heran. Ah, benar-benar dia seorang dewa,
pikirnya, dan cepat-cepat menyembunyikan kitab itu ke
dalam bajunya.
Lee Tai yang tadinya kegirangan itu medadak menjadi
kaget dan gelisah ketika ia teringat bahwa ia berada di
tengah pulau dan tidak tahu ke mana jalan untuk kembali
ke tempat rombongannya ! Ia sudah menjadi bingung dan
tidak tahu lagi mana selatan mana utara, mana barat mana
timur. Akhirnya ia mendapatkan akal juga. Rombongan itu
berada di pantai pulau, kalau aku terus mengikuti sepanjang
pantai masa tidak akan mendapatkan mereka ?
BerpikIr demikian, pemuda ini lalu cepat-cepat berjalan
ke kanan, terus saja berjalan ke depan tidak membelok ke
mana-mana lagi. Tentu saja akhirnya ia sampai juga ke
partai. Girang hatinya melihat air laut membiru terbentang
di depannya. Ia lalu berjalan megikuti pantai dengan laut di
20
sebelah kirinya. Untuk menghilangkan kssalnya, ia kadangkadang
membuka lembaran kitab itu dan mulai mempelajari
isinya. Jelek- jelek Lee Tai juga pandai membaca karena
dahulu ia telah belajar pula membaca. Sayang
kepandaiannya dalm hal membaca ini kurang sempurna
sehingga sering kali ia harus mengasah otak untuk
memecahkan arti sebuah huruf yang kelihatan asing
baginya.
Selagi ia enak berjalan, tiba tiba ia mendengar suara
wanita tertawa. ia cepat menengok ke kiri dan ..... Ang Lian
dan Pek Lian mendayung perahu tak jauh dari pantai,
melihat kepadanya dan tertawa-tawa.
"Hee, Ciu twako ! Kau sedang mencari Liok Kong Ji atau
sedang berjalan-jalan makan angin laut ?" tegur Pek Lian.
Lee Tai cepat menyimpan kitabnya dan kelihatan senang
bukan main, melambai-lambaikan kedua tangannya kepada
dua orang gadis itu.
"Enci Pek Lian dan adik Ang Lian ..... Kebetulan sekali
berjumpa dengan kalian di sini ! Aku sedang bingung
bagaimana bisa kembali ke tempat romboogan kita. Enci Pek
Lian, kaubawalah aku pulang ......”
Pek Liao tersenyum, tidak menjawab, Ang Lian cemberut
dan bertanya.
"Apakah sudah bertemu dengan Liok Kong Ji ?"
Lee Tai menggeleng kepala. "Belum, akan tetapi aku
mendengar hal penting sekali, tentang dia dan Tiang Bu!”
Mendengar orang bicara tentang Tiang Bu, Pek Lian cepat
mendayung perahu ke tepi dan meloncat ke darat, diikuti
oleh Ang Lian yang menyeret perahu ke pinggir.
"Mendengar hal penting apa? Lekas ceritakan. Ciutwako."
Pak Lien mendesak karena ia sudah ingin sekali
mendengar tentang Tiang Bu yang pergi seorang diri mencari
21
Liok Kong Ji. “Apa dia sudah berhasil merobohkan Liok Kong
Ji ?”
Muka Lee Tai menjadi pucat dan ia nampak bingung. Ia
tadi ketika melihat Ang Lian menjadi begitu girang sampai ia
lupa akan pesan "dewa" itu. Sekarang ditanya oleh Pak Lian,
ia tidak dapat segera menjawab. Bagaimana ia bisa
menerangkan tanpa menyebut orang sakti itu? Untuk
berbohong bahwa dia melihat sendiri pertemuan antara
Tiang Bu dan Liok Kong Ji, ia tak sanggup. Selamanya Lee
Tai memang tidak biasa membohong.
“Aku mendengar dari orang lain.” katanva jujur. Akhirnya
ia mengambil keputusan untuk mengaku saja mendengar
dari orang lain tanpa menyinggung orang sakti itu. “Aku
mendengar bahwa Tiang Bu sudah mengadakan pertemuan
dengan Liok Kong Ji. Tiang Bu agaknya ingat kepada
ayahnja yang sejati dan menghianati kita, ia bantu
menyembunyikan Liok Kong Ji!"
"Tak mungkin.......... !" Pek Lien membentak keras sampai
Lee Tai menjadi kaget.
Ang Lian meloncat maju menghadapi Lee Tai. Sepasang
mata gadis ini yang bening dan tajam menatap wajah Lee Tai
penuh selidik dan pertanyaan, membuat hati pemuda itu
berdebar-debar keras.
"Kau bicara sembarangan apa lagi? Mana bisa Tiang Bu
menyembunyikan iblis itu? Tiang Bu mencari-eari untuk
membunuhnya.
"Apa anehnya?” jawab Lee Tai. "Hal itu sudah sewajarnya.
Bukankah Liok Kong Ji itu ayahnya ?”
"Apa kau melihat sendiri hal itu?” desak Ang Lian.
Lee Tai menjadi bingung. “Tidak, aku aku mendengar dari
orang lain."
"Bodoh, mau percaya saja. Siapa orang yang bilang
kepadamu ?"
22
Lee Tai makin bingung. Biarpun ia agak dogol, akan
tetapi pemuda ini berhati keras dalam hal kejujuran dan
kesetiaan. Biarpun terhadap Ang Lian ia mau dan rela
melakukan apa saja, bahkan kalau perlu mengorbankan
nyawanya, akan tetapi dalam hal melanggar janji apa lagi
sumpah, ia pantang !
"Aku mendengar dari orang lain dan.......... dan aku tidak
bisa mengatakan siapa orang itu.......... Aku tidak
mengenalnya."
“Kau.......... kau bohong!” Pak Lian membentak marah.
Lee Tai boleh jadi dogol den agak bodoh, akan tetapi ia
tidak mau dihina. “Selamanya aku tidak membohong! Lebih
baik aku mati dari pada membohong!" jawabnya tegas.
Diam diam ada sinar girang dan kagum berpancar keluar
dari mata Ang Lian, dan gadis ini berkata agak halus, "Boleh
jadi kau tidak membohong, akan tetapi sudah pasti orang itu
membohongimu. Mengapa kau tidak mau Mengapa kau
tidak mau bilang siapa dia? Di dalam pulau ini mana ada
orang lain ?"
"Adik Ang Lian, aku.......... aku tidak bisa mengatakan
siapa dia."
"Hemmm, kau agaknya melindungi dia,” Ang Lian berkata
marah. "Hayo enci, kita pergi, jangan perdulikan si tolol ini."
ia melompat ke dalam perahu, juga Pek Lian naik ke dalam
perahu dan mereka mendayung perahu itu ke tengah.
"Tunggu dulu ! Aku ikut pulang !"
"Orang sedogol kau lrbih baik jalan kaki,” Ang Lian
berkata dan mendayung perahu makin cepat.
"Ang Lian …… aku tidak tahu ke mana aku harus pergi
untuk pulang ke tempat rombongan kita!” Lee Tai mengeluh.
Ang Lian dan Pek Lian tidak menjawab.
Lee Tai makin bingung. akan tetapi akhirnya timbul juga
ingatannya bahwa tentu dua orang gadis itupun hendak
23
pulang. Melihat perahu mereka itu menuju ke kanan, iapun
melanjutkan perjalanannya karena yakin bahwa tantu di
jurusan itu letaknya tempat rombongan mereka. Dalam hal
ini memang ia berpikir tepat. Ternyata tempat berkumpulnya
rombongan itu hanya lima belas li lebih dari tempat
pertemuannya dengan dua orang gadis itu.
-oo(mch)oo-
Dari manakah dua orang gadis itu? Mereka ini bertugas
untuk membawa perahu mengelilingi Pulau Pek-houw-to
untuk menjaga dan mengawasi kalau-kalau Liok Kong Ji
berusaha minggat dari pulau itu.
Dua orang gadis inipun seperti Lee Tai menyimpan
sebuah rahasia. Rahasia hati masing-masing. Diam-diam
mereka sering kali bercakap-cakap tentang Tiang Bu dan Lee
Tai. Setelah melthat watak dan gerak gerik Lee Tai, biarpun
pemuda tampan itu bodoh namun amut jujur dan bernyali
besar. Hal ini membuat Ang-Lian yang centil dan lincah itu
tertarik hatinya dan ia mengaku terus terang kepada
encinya. Sebaliknya, biarpun di hadapan orang lain tak
pernah membuka mulut, terhadap adiknya, Pek Lian juga
berterus terang bahwa ia jatuh hati kepada Tiang Bu yang
gagah perkasa.
Tentu saja berita yang di!erima oleh mereka dari Lee Tai
itu amat menggelisahkan hati mereka. Pek Lian gelisah
sekali karena kalau hal itu betul-betul, Tiang Bu tentu akan
dimusuhi oleh Wan Sin Hong dan tokoh-tokoh lain sebagai
seorang pengkhianat. Sebaliknya Ang Lian menjadi gelisah
karena Lee Tai membawa berita buruk ini.
Setelah tiba di tempat rombongan, Pek Lian dan Ang Lian
menemui ayah mereka dan kepada kakek ini mereka
bercerita tenting berita buruk yang mereka dengar dari Lee
Tai.
24
Huang-ho San jin terkejut dan kakek ini menganggukangeuk.
"Sungguh berita ini agak tak masuk di akal, akan
tetapi Lee Tai itu boleh dipercaya omongannya. Baiknya
bukan dia sendiri yang melihat pertemuan antara Tiang Bu
dan Liok Kong Ji, sehingga masih banyak sekali
kemungkinan ia mendengar berita bohong. Anehnya,
siapakah orang di dalam pulau yang menyampaikan berita
itu kepadanya ?"
"Mungkin seorang pelayan Liok Kong Ji yang masih
berkeliaran dan belum tertangkap," kata Pek Lian.
"Akan tetapi, semua selir dan pelayan sudah kita suruh
keluar dari pulau ini dan kita membiarkan mereka
membawa harta benda Liok Kong Ji. Andaikata ada seorang
pelayan yang masih berkeliaran, mengapa kita tak pernah
melihatnya ? Padahal kita sudah mencari Liok Kong Ji di
seluruh pulau," kata Ang Lian.
Huang-ho Sian jin menepuk nepuk jidatnya. "Betul juga !
Orang macam Liok Kong Ji mana kuat hidup menderta,
seorang diri bersembunyi dari kejaran kita. Tentu ia sudah
berhasil membawa seorang pelayan untuk melayaninya di
dalam tempat persembunyian itu. Bagus sekali ! Kalau
begitu, Lee Tai tentu dapat membawa kita ke tempat
persembunyian Liok Kong Ji.”
"Akan tetapi, ayah. Agaknya si dogol itu tidak mau
memberi tahu tentang orang yang menyampaikan berita itu
kepadanya, lebih baik menanti sampai dia sendiri
menyampaikan berita itu kepada Wan-bengcu. Nanti kita
baru menyampaikan pandangan ayah ini."
Huang-ho Sian-jin mengangguk-angguk. Kakek ini
bermata awas dan sebagai seorang ayah yang sudah usia
lanjut dan banyak pengalamannya, tentu saja ia dapat
mengetahui hati anak-anaknya. Tanpa diberi tahu oleh
siapapun juga, ia tahu babwa Pek Lian jatuh hati kepada
Tiang Bu dan bahwa Ang Lian juga tertarik pada Lee Tai. Ia
mengerti pula akan maksud ucapan Ang Lian tadi, yaitu agar
25
supaya Ang Lian tidak dianggap mendahului Lee Tai dan
melaporkan halnya kepada Wan Sin Hong. Terhadap kedua
orang pemuda pilihan dua orang puterinya itu, memang
Huan ho Sian-jin sudah penuju sekali, tinggal menanti
perantara.
Dengan bersungut sungut karena tidak dibawa oleh Pek
Lian dan Ang Lian, Lee Tai tiba di tempat berkumpulnya
rombongan itu. Kedatangannya disambut oleh senyuman
Wan Sin Hong yang bertanya,
"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Lee Tai ?”
Merah muka Lee Tai.
"Wan bengcu, biarpun teecu belum bertemu muka
dengan Liok Kong Ji, namun teecu membawa berita yang
amat penting sekali.”
Pek Lian, dan Ang Lian saling lirik dan Huang-ho Sian-jin
menatap wajah pemuda pilihan Ang Lian ini dengan penuh
perhatian untuk melihat apakah pemuda ini membohong
atau tidak. Akan tetapi wajah yang tampan itu polos saja,
sama sekali tidak membayangkan kebohonpan. Juga ketika
berkata demikian Lee Tai melirik kepada Pek Lian dan Ang
Lian. Ia girang juga bahwa ternyata dua orang gadis itu tidak
mengadu sesustu di depan Wan Sin Hong.
“Berita penting apa? Coba ceritakan. Apakah kau melihat
jejak Liok Kong Ji ?”
"Tidak, Wan bengcu. Hanya aku mendengar dari orang
yang tak kukenal bahwa Tian Bu telah mengadakan
pertemuan dengan Liok Kong Ji. dan Tiang Bu telah
membantu ayahnya bersembunyi. Kalau hendak mengetahui
di mana adanya Liok Kong Ji, mudah saja, tanya kepada
Tiang Bu dan dia tentu akan dapat memberi tahu, kalau dia
tidak melindungi ayabnya !’
Wajah Sin Hong berubah. Berita ini hebat. Saketika itu
juga ia meragukan kebenaran berita ini.
26
"Aku mendengar dari orang lain yang tidak klukenal dan
tidak dapat kuceritakan kepada siapupun juga,
Wan.bungcu," jawab Lee Tai terus terang sambil
menundukkan mukanya.
“Lee Tai, kau jangan berlaku sembrono, dan pikirlah
baik-baik. Beritamu ini merupakan dakwaan yang amat
berat bagi Tiang Bu. Kalau kau melihat Tiang Bu benar
mengadakan sekongkol dengan Kong Ji, melihat dengan
mata sendiri, tentu aku percaya dan akan kutanyai Tiang
Bu. Akan tetapi mendengar dari orang lain, ini masih
meragukan. Apa lagi kau tidak mau menceritakan siapa
adanya orang pembawa barita buruk itu. Kalau beritamu itu
tidak betul, bukankah berarti k menanam permusuhan
dengan Tiang Bu ?”
Lee Tai diam saja. Terbayang wajah orang sakti itu yang
melihat sikap dan kesaktiannya tak mungkin membohong.
Dengan berani maka ia lalu berkata:. "Berita itu tidak
bohong. biarpun teecu tidak melihat dengan mata sendiri
namun teecu menanggung kebenarannya !”
Semua orang melengak, juga Wan Sin Hong. Pendekar ini
sudah mengenal watak Lee Tai yang jujur sekali dan tidak
pernah membohong, dan melihat sikap pemuda ini, benarbenar
mencurigakan.
"Lee Tai, kau kelihatan sudah amat percaya kepada orang
itu dan kau melindungi dia, kau tidak mau menceritakan dia
itu siapa, sedikitnya kau bisa mengatakan mengapa kau
tidak berani mengaku siapa dia.”
"Hal itupun menyesal sekali teecu tidak dapat
menceritakan. Yang terpenting adalah tentang Liok Kong Ji.
Setelah kita mengetahui bahwa Tiang Bu mengerti tempat
sembunyi mengapa kita tidak bertanya kepadanya ?”
Sin Hong diam saja, menjadi bingung. Isterinya Siok Li
Hwa yang amat cerdik berkata,
27
"Lee Tai tentu telah berjanji kapada orang itu untuk
merahasiakan keadaannya. Kalau tidak demikian, tidak
nanti Lee Tai bersikap seperti ini. Hemm, menarik sekali
orang ini...."
Mendengar ini, Lee Tai makin menundukkan mukanya
dan menjawab, “Tepat sekali apa yang dikatakan oleh toanio.
Dan bagi Lee Tai, memegang janji lebih berharga dari pada
nyawa !”
Huangho Sian-jin beasts keras, "Pertemuan Ciu sicu
dengan orang yang membawa berita itu sungguh baik sekali.
Menurut dugaanku, orang itu tentulah seorang pelayan dari
Liok Kong Ji. Buktinya, ketika kita mengusir semua pelayan,
di pulau sudah tidak ada siapa-siapa lagi dan ketika kita
mencari-cari Liok Kong Ji, juga tidak melihat seorangpun
manusia di pulau. Sekarang muncul orang ini, tentu dia itu
pelayan yang dibawa bersembunyi oleh Liok Kong Ji dan
sengaja menjual obrolan kosong. Kalau sekarang Ciu-sicu
mau membawa kita menemui orang itu dan menangkapnya,
tentu kita dapat menemukau Liok Kong Ji !"
“Tidak........... tidak .......... !" Lee Tai capat menjawab.
"Tak mungkin dia itu pelayan Liok Kong Ji, tak mungkin !
Dan lebih baik aku dipulkul dari pada harus membuka
rahasia orang itu.” Setelah berkata demikian, pemuda ini
pergi dari situ, menuju ke tempat sunyi di tepi pantai dan
duduk di atas batu karang.
Peng Soan tojin, tosu gemuk dari Teng san pai adalah
seorang yang suka akan kejujuran. Ia dapat memaklumi isi
hati Lee Tai, maka ia berkata,
"Betapapun juga, kira harus menghargai kejujuran Ciusicu.
Kalau dia bermaksud jelek dengan sikapnya
merahasiakan orang itu, tentu dia sama sekali tidak akan
bercerita dan kita pun tidak akau tahu akan peeremuannya
dengan orang itu. Juga kecurigaannya terhadap Tiang Bu,
beralasan. Kita semua sudah mengenal Tiang Bu sebagai
seorang pemuda gagah perkasa dan budiman. Bukan tak
28
masuk pada akal apabila dalam pertemuannya dengan Liok
Kong Ji hati pemuda itu menjadi lemah dan teringat akan
hubungan antara anak dan ayah."
Semua orang berdiam lagi, kata-kata inipun amat
beralasan. Akhirnya Wan Sin Hong berkata tenang?,
"Sukar sekali mengadakan dugaan-dugaan dari sebuah
berita yang tidak dilihat sendiri oleh Lee Tai. Karena untuk
memaksa Lee Tai juga tidak mungkin, lebih baik kita
menanti kembalinya Tiang Bu dan aku sendiri yang akan
bertanya kepadanya tentang berita ini."
Menjelang senja, Tiang Bu datang. Semua orang keluar
dari tempat istirahat masing-masing dan menyambutnya.
Wajah pemuda ini tampak keruh dan muram. Ini tidak
mengherankan karena ia masih selalu mengabungi kematian
Bi Li dan lebih sedih lagi hatinya karena penyelidikannya
sehari penuh itupun tidak membawa hasil. Karena
kesedihan hatinya inilah maka ia tidak pandang mata penuh
perhatian dari semua orang yang menyambut
kedatangannya.
"Tiang Bu, bagaimana hasil penyelidikanmu ? Dapatkah
kau menemukan jejak Liok Kong Ji ?” tanya Sin Hong.
Tiang Bu menggeleng kepala dengan lemah. "Belum
berhasil, pek-pek. Akan tetapi aku akan berusaha terus, biar
untuk itu aku harus tinggal selama hidup di pulau. Aku
tidak akan berhenti mencari sebelum dapat menemukan
iblis itu. ...... "
Tiang Bu masih belum intaf berapa semua mata
memandang ke arahnya dengan penuh selidik dan penuh
perhatian.
“Tiang Bu, kau tentu tahu bahwa aku menganggap kau
bukan orang lain. Ibumu kuanggap sebagai saudara sendiri,
juga ayah angkatmu selalu menjadi saudara-saudaraku yang
terkasih. Kau seperti keponakan atau anakku sendiri."
29
Baru sekarang Tiang Bu merasa bahwa tentu ada
sesuatu. Ia mendengar suara yang terdengar demikian
sungguh-sungguh dan aneh. Ketika mengangkat muka, baru
ia melihat betapa semua orang memandangnya dengan sinar
mata penuh selidik.
“Oleh karena itu, kuharap kau suka berterus-terang dan
jangan menyembunyikan sesuatu dari aku. Apakah benar
kau tidak bertemu dengan Liok Kong Ji dan tidak tahu
tempat sembunyinya ?”
Tiang Bu yang tadinya duduk di atas batu karang,
sekarang bangkit berdiri memandang kepada Wan Sin Hong
dengan mata penuh pertanyaan.
“Wan pek-pek, apa artinya pertanyaan itu? Kalau siauwtit
bertemu dengan iblis itu, tentu dia atau siauwtit yang
menggeletak tanpa nyawa lagi. Apakah pek pek mencurigai
sesuatu kepadaku? Ada apakah?”
"Tiang Bu, sebetulnya, kami di sini mendengar berita
bahwa kau telah berjumpa dengan Liok Kong Ji...... "
Hening sejenak. Semua mata memandang Tiang Bu yang
menjadi pucat mukanya. Kemudian dengan nada suara
penasaran Tiang Bu bertanya.
“Dan Wan-pek pek percaya akan berita itu ?”
"Belum, karenanya aku sengaja bertanya kepadamu
sendiri !”
"Kalau aku berjumpa dengan iblis itu mengapa aku diam
saja? Ataukah orang mengira aku bersekongkol dengan dia
sengaja menyembunyikan dia? Pek-pek, siapakah orangnya
yang menyampaikan berita itu?”
"Tak perlu kami terangkan, Tiang Bu. Kami tidak
menduga sesuatu, hanya minta penjelasan darimu apakah
betul kau bertemu dengan dia atau tidak,” kata Sin Hong
tegas.
30
“Tidak, Wan-pek-pek. Aku heran......” Tiang Bu
memandang ke sekeliling, menatap wajah tiap orang yang
hadir di situ untuk sejenak, “mengapa orang menuduhku
demikian ....... mengapa!"
Wan Sin Hong hanya menarik napas panjang, Juga yang
lain-lain tidak mengeluarkan suara. Pek Lian menahan
matanya yang menjadi panas hendak menitikkan air mata.
Ia merasa amat kasihan melihat pemuda gagah yang telah
merebut hatinya itu.
"Wan-pek-pek, jawablah. Mengapa orang tidak menaruh
kepercayaan kepadaku? Mengapa orang menuduh aku
mengadakan pertemuan dengan Liok Kong Ji?"
Sampai lama Sin Hong diam saja, akhirnya ia berkata
dengan perlahan. “Agaknya ……. karena kau putera Liok
Kong Ji itulah. Umum menganggap sepantasnya kalau
sekiranya kau membantu ayah kandungmu sendiri untuk
menyelamatkan diri."
Wajah Tiang Bu pucat sekali. Ia berdiri bengong sampai
lama, kemudian ia menundukkan mukanya
menyembunyikan dua titik air mata yang melompat ke luar.
Kemudian ia mengangguk-angguk.
“Memang....... memang aku anak Liok. Kong Ji ..........
memang aku anak seorang jahat seperti iblis. Ayahnya jahat
tentu anaknya jahat pula, seperti.......... Bi Li. Dia puteri
Kwan Kok Sun yang jahat, maka ia tewas.......... akupun
anak orang jahat, patut saja tidak dipercaya ….... aku telah
kotor dan cemar karena menjadi anaknya ......... tidak seperti
kalian .......... !” Ia mengangkat mukanya dan menatap wajah
orang-orang itu dengan mata berkilat. "Kalian anak orang
baik-baik, keturunan orang-orang gagah, tentu saja patut
dianggap orang gagah! Tak patut orang macam aku dekat
dengan dekat dengan kalian, tak patut mendapat
kepercayaan kalian! Betapapun juga kita sama lihat saja
siapa yang akan mampu membasmi Liok Kong Ji. Biar aku
31
tinggal dalam kerendahanku !” Setelah berkata demikian, ia
melompat bangun dan berlari pergi.
"Tiang Bu ..... ! Jangan salah paham .......... !" teriak Sin
Hong, akan tetapi Tiang Bu tidak perduli lagi dan berlari
terus.
Diam-diam Pek Lian juga berlari mengejar sambil
menangis. Hati Pek Lian seperti diiris-iris melihat keadaan
orang yang dikasihinya itu.
Huang- ho Sian- jin terdengar batuk-batuk. “Hemm,
semua ini gara-gara Ciu Lee Tai. Pemuda dogol itu terlalu
percaya orang lain .....!”
Mendengar ucapan ayahnya ini, Ang Lian bangkit berdiri
dan berjalan pergi tanpa pamit. Hatinya tertusuk dan ia
marah sekali kepada Lee Tai yang menjadi gara-gara semua
keributan itu. Selain marah, juga ia penasaran mengapa
ayahnya mencela Lee Tai.
-oo(mch)oo-
“Coa-taihiap, percayalah bahwa aku tidak menganggap
kau sebagai orang jahat. Akulah yang tidak percaya
sedikitpun juga bahwa Coa Tiang Bu yang kutahu seorang
jantan sejati melakukan pengkhianatan. Harap saja kau
suka memaafkan mereka itu karena sesungguhnya
merekapun tidak percaya begitu saja akan berita yang
terdengar oleh mereka." Kata-kata ini adalah ucapan
hiburan yang dikeluarkan oleh Pek Lian kepada Tiang Bu.
Tiang Bu duduk di atas batu karang. Kedua tangannya
menutupi mukanya dan ia diam tidak bergerak seperti
patung. Pek Lian berdiri d depannya dan gadis ini dengan
suara gemetar menyampaikan isi hatinya, dalam usahanya
menghibur hati pemuda yang sedang dirundung duka
nestapa itu.
32
Melihat betapa pemuda itu berdiam saja dan tak bergerak
seperti patung. Pek Lian menjadi makin kasihan dan juga
khawatir. Ia takut kalau-kalau saking sedihnya, pemuda ini
mengambil keputusan pendek dan nekat. membunuh diri
atau bagaimana ! Hatinya seperti diremas-remas dan tanpa
disadari tangannya bergerak dan jarinya menyentuh pundak
Tiang Bu dengan halus.
"Coa taihiap.......... harap kan jangan terlalu
berduka.......... orang lain di dunia ini boleh membencimu,
akan tetapi aku tidak ! Sampai mati aku takkan
membencimu, takkan berubah pandanganku terhadapmu,
kau seorang yang paling jantan di dunia ini. Taihiap..........
aku bersedia membantumu dalam segala hal..........
katakanlah, dapatkah aku membantumu...........
menghiburmu ......?”
Tentu saja Tiang Bu yang sedang terbenam dalam
kesedihan itu sejak tadi tahu akan kedatangan Pek Lian,
akan tetapi ia tidak perduli, semua ucapan gadis itu tidak
dapat mengobati luka di hatinya. Memang Tiang Bu
berturut-turut menerima serangan hebat pada hatinya,
pertama-tema karena Bi Li, kemudian sangkaan bahwa ia
bersekongkol dengan ayahnya yang jahat. Setelah ia lari dari
rombongan Wan Sin Hong ia tidak kuat berlari jauh,
menjatuhkan diri di atas batu karang di tepi pantai dan
menangis seperti anak kecil.
"Bi Li ...... ." bisiknya, "Bi Li.......... hanya kau seorang
yang percaya kepadaku, kau seorang yang menjadi kawanku
sejati...... sekarang kau pergi meninggalkan aku pula……”
Kemudian datang Pek Lian yang menghiburnya, maka
Tiang Bu hanya menutupi mukanya dan semua ucapan Pek
Lian tak dapat masuk perhatiannya. Akan tetapi, ucapan
terakhir yang dikeluarkan dengan suara tergetar den mesra,
dibarengi sentuhan pada pundaknya, mendatangkan getaran
aneh dalam tubuhnya. Seakan-akan Bi Li hidup dan muncul
lagi, seakan akan Bi Li yang bicara kepadanya. Hampir dia
33
tidak dapat percaya bahwa ada lain gadis yang bicara
kepadanya dengan suara seperti Bi Li. Penuh kasib sayang !
Tak terasa ia mengangkat muka dan menurunkan kedua
tangannya. Sinar mata itu seperti sinar mata Bi Li benar,
penuh kemesraan dan penuh cinta! Mungkinkah ini?
"Pek Lian cici, mengapa…… mengapa kau sabaik ini
terhadap aku? Mengapa ...... ? tanyanya lembut.
"Karena ..... bagiku engkaulah orang termulia di dunia
ini, taihiap," jawab Pek Lian kedua pipinya merah sekali
akan tetapi suaranya mengandung ketetapan hatinya.
"Ye Tuhan .......... kau.......... kau suka kepadaku?”
Pek Lian mengangguk. "Kalau saja kau tidak memandang
hina kepadaku .....”
Tiba-tiba tubuh Tiang Bu bergerak dan tahu-tahu ia telah
meloncat sejauh empat tombak lebih dari dekat Pek Lian.
“Pek Lian cici...., jangan! Jangan kau menambah dosaku,
jangan kau menambah beban hidupku ! Aku takkan mau
mengganggu hati orang lain lagi. Aku.... setelah selesai
urusan di pulau ini ..... aku akan bertapa, menjadi seorang
pertapa dan selama hidup takkan mencampuri urusan dunia
lagi. Aku akan bertapa untuk mencuci noda atas nama
keluargaku, yang dikotori oleh manusia she Liok...! Maafkan
aku. Pek Lian cici ..... maafkan!” Dengan suara berubah
menjadi isak tertahan, tubuh Tiang Bu berkelebat lenyap
dari depan Pek Lian.
Gadis ini berdiri mematung, mukanya pucat sekali.
Kemudian ia tersenyum pahit dan menghadap ke arah
menghilangnya Tiang Bu, berkata keras.
“Tiang Bu, akupun bersumpah takkan menikah dengan
orang lain dan mulai saat ini aku Pek Lian menjadi seorang
pendeta !" ia mengeluarkan pedangnya dan …….. membabat
habis rambut kepalanya yang hitam, halus dan panjang itu !
Setelah itu. Pek Lian lari ke pinggir pantai di mana ia
34
menaruh perahunya dan meloncat ke dalam perahu, terus
mendayungnya perahu itu pergi dari Pulau Pek-houw-to.
Ang Lian tampak berlari-lari di tepi pantai sambil
bersungut-sungut. “Dasar tolol tetap tolol !” gerutunya
berkali-kali. Tiba-tiba ia melihat perahu yang didayung pergi
oleh Pek Lian,
"Pek cici, kau kemanakah ?" teriaknya heran melihat
cicinya itu mendayung pergi menjauhi pulau.
Pek Lian menengok dan kagetlah Ang Lian melihat
cecinya itu kepalanya telah hampir gundul. Hanya tinggal
sedikit rambutnya, pendek saja.
“Ang- moi, aku hendak pergi dulu, sampaikan hormatku
kepada ayah!" hanya demikian Pek Lian berseru dan
sebentar saja perahunya jauh meninggalkan pulau.
Tentu saja Ang Lian menjadi keheran-heran dan gelisah,
Cepat ia berlari memberitahukan hal ini kepada ayahnya.
Huang-ho Sian-jin mengerutkan kening. Menang semenjak
kecil Pek Lian memiliki watak yang aneh. Baru pakaiannya
saja selalu mengenakan pakaian pria, orangnya pendiam,
hatinya sukar dijajaki. Tidak seperti Ang Lian yang genit,
lincah dan jujur.
“Kalau dia hendak pergi dulu, biarlah. Tentang dia
mamotong rambut, hemm, kita lihat saja nanti, tentu ada
sebabnya.”
Ang Lian termenuug mendengar ucapan ayahnya ini.
Tentu ada hubungan dengan Tiang Bu pikirnya”.
Mungkinkah cicinya menjadi korban asmara ? Ia teringat
akan keadaan diri sendiri dengan Lee Tai. Tadi sebelum
melihat perahu Pek Lian, ia baru saja meninggalkan Lee Tai
dengan marah dan gemas. Ia sengaja mencari Lee Tai untuk
menegurnya tentang gara-gara yang ditimbulkan si dogol itu
tentang Tiang Bu. Ia mendapatkan Lee Tai berada di dekat
pantai seorang diri, sedang berlatih silat dengan goloknya.
Akan tetapi gerakan goloknya itu lucu dan canggung, lebih
35
menyerupai gerakan pedang, maka banyak gerakan
menusuk dari pada membacok berlawanan dengan ilmu
golok.
Melihat Ang Lian datang, si dogol gembira dan
menghentikan permainan, berkata senyum lebar di bibir.
“Adik Ang Lian, kaulihat. Aku tekun berlatih silat untuk
merobohkan si laknat Liok Kong Ji.”
Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah.
"Lee Tai, belum juga kau memenuhi syarat-syaratku
mengalahkan Liok Kong Ji, kau sudah mengecewakan
hatiku."
“Aku mengecewakan kau? Lho, apa salahku. manis?"
"Hussh, bicara jangan seperti orang gila ! Kau
mendatangkan keributan dengan berita busukmu tentang
Tiang Bu. Apa otakmu sudah miring? Lee Tai, aku sendiri
tidak pernah akan dapat memaafkan kau kalau kau
memfitnah Tiang Bu secara pengecut dan curang. Betulkah
kau tidak bohong tentang Tiang Bu ?”
Muka Lee Tai menjadi sungguh-sungguh. “Biar aku
mampus disambar geledek kalau aku membobong, Ang Lian.
Berita itu memang betul, aku mendengar dengan kedua
telingaku seadiri.”
“Tidak kaulihat dengan kedua mata sendiri?."
“Tidak, akan tetapi betul-betul kudengarkau dengan
kedua telingaku ini," jawabnya sambil menjewer kedua
telinganya.
“Siapa itu orangnya yang begitu kaupercaya?” Ang Lian
memancing. Gadis itu berusaha supaya Lee Tai mengaku
agar ia dapat memindahkan kesalahan pemuda ini kepada
sumber berita. Akan tetapi Lee Tai tentu saja tidak mengerti
akan usaha gadis yang hendak menolongnya ini.
"Hal ini.......... tak dapat kuceritakan, Ang-Lian.......... “
36
Ang Lian menjadi marah dan membanting-banting
kakinya. "Kepada akupun kau tidak mau mengalah ?”
Lee Tai menarik napas panjang dan kelihatan sedih
sekali.
“Apa boleh buat, biarpun untuk kau aku sanggup terjun
ke laut api, akan tetapi, aku telah bersumpah takkan
membuka rahasia orang itu dan biar kaupukul mati padaku,
aku tak dapat mengaku, Ang Lian.”
“Kau........... kau tolol !” Ang Lian marah-marah dan
membalikkan tubuh terus pergi berlari-lari. Hatinya
mendongkol sekali biar pun pada dasar hatinya terdapat
rasa kagum kepada pemuda yang setia ini. Kegelisahannya
karena Lee Tai merupakan biang keladi gara-garanyalah
yang membuat ia merasa gemas bahwa pemuda itu tetap
tidak mau mengaku dari siapa ia mendengar berita buruk
itu. Akhirnya seperti diceritakan di atas, dalam berlari-lari
ini ia malihat Pek Lian yang mendayung perahu pergi dari
Pulau Pek-houw-to.
Lee Tai juga berduka sekali. Orang-orang lain boleh
marah kepadanya, akan tetapi kalau Ang Lian yang marah,
ini hebat ! Saking sedih dan bingungnya, pemuda ini tidak
mau pulang ke tempat rombongan, melainkan terus sampai
malam tinggal di tepi pantai itu dan melatih ilmu pedang
dari kitab Soat-lian-kiam-coan-si. Dengan tekun ia
mempelajari isi kitab dan saban-saban bermain silat untuk
mempraktekkan pelajaran itu.
Pemandangan malam itu indah sekali. Bulan yang besar,
merah, dan bundar timbul dari permukaan air laut sebelah
timur. Bukan main indah dan megahnya alam di waktu itu.
Cahaya bulan merah di atas air benar-benar mentakjubkan
dan sukarlah dilukiskan betapa indahnya bulan timbul di
permukaan air ini. Hanya parenung-perenung yang
berperasaan halus kiranya akan dapat menangkap
keindahan ini.
37
Akan tetapi Lee Tai sama sekali tidak dapat merasakan
keindahan alam itu. Menengok pun tidak. Ia hanya girang
karena ada cahaya bulan sehingga ia dapat membaca huruf
dalam kitab ilmu pedang itu.
Satelah meneliti bunyi huruf-huruf dalam kitab, ia lalu
melakukan gerakannya, membaca lagi, bersilat lagi.
Demikian berulang-ulang ia melatih diri dengan amat
tekunnya karena pemuda ini memang berhasrat bear untuk
segera menguasai ilmu silat ini untuk merohohkan penjahat
besar Liok Kong Ji! Demikian asyik ia berlatih sampaisampai
ia tidak sadar bahwa semenjak tadi ada sepasang
mata tajam mengintai dan memperhatikan gerak geriknya
dengan penuh perhatian.
Pengintai ini adalah Tiang Bu. Pemuda ini tanpa
mengenal lelah mencari Liok Kong Ji untuk membalas
dendamnya yang bertumpuk-tumpuk. Bahkan ia mendapat
dugaan bahwa fitnahan yang orang-orang jatuhkan
kapadanya, bahwa dia bersekongkol dengan Liok Kong Ji,
tentulah juga hasil muslihat orang jahat yang amat licin itu.
Entah bagaimana jalannya, tentu Liok Kong Ji yang menjadi
biang keladi sehingga dia difitnah dan dibenci orang. Ia
dapat menduga pula bahwa hal ini direncanakan oleh Liok
Kong Ji dengan maksud memecah belah fikak musuh. Tipu
muslihat yang licin dan licik sekali.
Ketika melihat Ciu Lee Tai, ia hanya memandang sepintas
lalu dengan acuh tak acuh. Pemuda itu tidak ada artinya
baginya dan dalam keadaan seperti itu, ia tidak ada nafsu
untuk bertemu dengan anggauta rombongan. Akan tetapi
selagi ia hendak pergi mengambil jalan lain pandang
matanya tertarik sekali oleh gerakan golok dan kaki pemuda
yang sedang berlatih silat ini. Gerakan-gerakan itu amat
dikenalnya karena mengandung dasar ilmu silat Omei-san !
Ia menunda maksudnya meninggalkan Lee Tai, sebaliknya
diam-diam ia menyelinap dan menghampiri lalu mengintai
dari balik batang pohon. Alangkah kagetnya ketika ia
38
mendapat kenyataan bahwa betul-betul pemuda dogol itu
sedang berlatih Ilmu Padang Soat Kiam hoat dari Omei-san !
Di samping kekagetannya, ia juga merasa heran bukan
main.
Akan tetapi semua perasaan ini berubah menjadi
kemarahan ketika ia melihat Lee Tai mengeluarkan sebuah
kitab dan mambaca kitab ilmu silat itu di bawah penerangan
bulan. Sekilas pandang saja Tiang Bu mengenal kitab dari
Omei-san itu. Ia tidak dapat menduga dari mana Lee Tai
mendapatkan kitab itu akan tetapi ia tidak perduli. Siapa
yang mempunyai kitab Omei-san, berarti musuhnya dan
kitab itu harus dirampasnya kembali, sesuai dengan
perintah suhu-suhunya ketika hendak menutup mata. Cepat
ia melompat dan membentak,
"Dari mana kauperoleh kitab itu ?”
Bukan alang kepalang kagetnya Lee Tai mendengar
bentakan ini dan melihat orang tiba-tiba melompat keluar.
Akan tetapi ketika Lee Tai melihat bahwa yang muncul
adalah Tiang Bu, ia teringat akan pesan orang sakti pemberi
kitab bahwa ia harus berhati-hati terhadap Tiang Bu karena
pemuda itu suka merampas kitab orang lain. Maka ia cepat
menjauh sambil menyimpan kitabnya,
“Kau anak iblis perduli apakah ?”
Tiang Bu marah sekali. “Berikan kitab itu !”
Lee Tai juga marah. Cocok benar kata-kata orang sakti
itu, pikirnya. Begitu berjumpa Tiang Bu sudah hendak
merampas kitab. Ia lihai, lebih baik aku mendahuluinya.
Tanpa banyak cakap lagi Lee Tai membacokkan goloknya ke
arah leher Tiang Bu. Ia bertenaga besar dan gerakan
goloknya cepat. Serangannya itu bukan serangan ringan,
dan amat berbahaya bagi lawannya. Akan tetapi ia
menghadapi Tiang Bu dan lebih hebat lagi, Tiang Bu sedang
marah. Sekali Tiang Bu mengulur tangan memapaki
39
goloknya, golok itu sudah terpukul dari samping dan
terpental lepas dari tangan Lee Tai !
Sebelum Lee Tai sempat menyembunyikan kitabnya.
Tiang Bu yang marah itu sudah melompat dan
menerkamnya dengan tangan kiri menyampuk tangan kanan
Lee Tai sehingga kitab Soat lian-kiam-coan-si terlempar, jari
tangan kanannya menyambar dengan totokan istimewa ke
arah pundak Lee Tai. Si dogol merintih lemah dan roboh
dengan tubuh lemas tak berdaya, lumpuh dari kepala
sampai ke kaki.
Tiang Bu mengambil kitab itu dan mendapat kenyataan
bahwa itulah kitab Soat-lian-kiam-coan-si, sebuah di antara
kitab-kitab Omei-san yang lenyap dicuri orang ketika Omeisan
diserbu beramai-ramai oleh orang-orang kang-ouw. Ia
menyimpan kitab itu di dalam saku bajunya dan hendak
meninggalkan Lee Tai. Akan tetapi ia teringat bahwa Lee Tai
adalah anggauta rombongan. Akan tidak enak sekali
terhadap Wan Sin Hong kalau ia morobohkan Lee Tai tanpa
mengakui alasan-alasannya. Pula keadaan pemuda ini
mencurigakan sekali. Bagaimana kitab Omei-san itu bisa
terjatuh ke dalam tangannya. Dan mengapa pemuda ini
mengasingkan diri dari rombongan untuk mempelajari kitab
secara diam-diam ?
Pikiran ini membuat ia tanpa ragu lagi menyambar tubuh
Lee Tai yang sudah seperti kain lapuk lemasnya, mengempit
tabuh itu dan membawanya lari ke tempat rombongan
berkumpul.
Kedatangannya disambut oleh rombongan dengan penuh
pertanyaan dalam pandang masa mereka. Ang Lian lari maju
ketika melihat Lee Tai dikempit oleh Tiang Bu. Gadis ini
merasa khawatir melihat keadaan Lee Tei yang sudah seperti
orang tak bertulang itu. Ia mengira bahwa Lee Tai sudah
bertempur melawan Liok Kong Ji dan dikalahkan.
"Apa dia dilukai oleh Liok Kong Ji?” tanya Ang Lian.
40
Melihat Ang Lian, Tiang Bu teringat kepada Pek Lian dan
menjadi tidak enak sekali. Ia hanya menggeleng kepala dan
hatinya agak lega ketika melihat ke kanan kiri, ia tidak
melihat gadis berpakaian pria itu. Dengan langkah lebar ia
menghampiri Wan Sin Hong yang berdiri tegak sambil
memandangnya penuh perhatian. Di depan Wan Sin Hong,
Tiang Bu melepaskan tubuh Lee Tai yang masih segar
namun tak dapat bergerak itu.
“Dia kenapa, Tiang Bu?” tanya Sin Hong, matanya tajam
memandang.
"Maaf, Wan pek-pek. Aku melibat dia berlatih ilmu Omeisan
dan melihat pula dia
membawa-bawa kitab
ini.” Tiang Bu
mengeluarkan kitab
Soan-lian-kiam-coan-si
dari sakunya. “Ketika
kitegur, dia menyerang.
Terpaksa aku
merobohkannya dan
merampas kitabnya.
Tentu pek-pek tahu akan
tugas siau-tit, siapa yang
membawa kitab Omeisan
dialah musuh, dan
kitab Omei-san harus
kurampas kembali.
Sekarang terserah
kepada pek-pek.” Cepat
Tiang Bu menggerakkan
tangan dan dalam
sekejap mata Lee Tai terbebas dari totokan. Pemuda dogol ini
merayap bangun dan mengeluh perlahan.
Wan Sin Hong menerima kitab itu, memeriksanya dan
keningnya berkerut. Tanpa diketahui oleh orang lain karena
41
pendekar ini pandai sekali menekan perasaannya, di dalam
hati ia terkejut bukan main. Bagaimana Lee Tai bisa
mendapatkan kitab Omei-san? Dari siapakah
mendapatkannya?
“Lee Tai! Sekarang kau harus bicara terus terang, sesuai
dengan kejujuranmu. Darimana kau mendapatkan kitab
ini?" tegurnya, suaranya keren berpengaruh.
Lee Tai sudah merayap bangun dan berdiri dengan
kepala menunduk, sikapnya mendatangkan rasa kasihan
dalam hati Ang Lian. Mendengar bentakan Wan Sin Hong ini,
ia menjawab lirih.
"Wan-bengcu, teecu mendapatkannya dari locianpwe
itu…..”
“Locianpwe yang mana?” hati Sin Hong makin tidak enak
karena ia sudah hampir dapat menduganya.
Kekhawatirannya terbukti ketika pemuda itu menjawab
"Locianpwe yang teecu jumpai …..”
“Aha Kaumaksudkan orang yang berjumpa denganmu,
yang bercerita sepadamu akan persekutuan Tiang Bu
dengan Liok Kong Ji?”
Dengan muka merah Lee Tai mengangguk. Sekarang
tahulab Tiang Bu bahwa yang membawa berita yang
memfitnahnya itu bukan lain adalah Ciu Lee Tai inilah! Ia
menggigit bibir menahan kegemasan hatinya. Ingin ia
menampar muka pemuda dogol itu.
"Dan selain menceritakan berita itu iapun memberi
hadiah kepadamu kitab ilmu pedang ini?" tanya pula Sin
Hong mendesak.
"Dia berkasihan kepada teecu memberikan kitab Ilmu
pedang agar teecu dapat mengalahkan Liok Kong Ji. Teeeu
ingin sekali merobohkan Liok Kong Ji dengan kedua tangan
teecu sendiri, Wan-bengcu."
42
Lee Tai melirik ke arah Ang Lian yang memandang
dengan hati tidak karuan. Ada rasa mendongkol, gemas, dan
juga girang. Untuk ke sekian kalinya, pemuda dogol ini
membuktikan kesetiaan dan cinta kasih kepadanya.
Mendengar ini, Wan Sin Hong membanting kakinya.
"Bodoh betul! Kalau begitu, orang itu adalah Liok Kong Ji
!!"
Lee Tai terkejut sekali seperti disambar petir.
“Tidak mungkin…...” batahnya perlahan.
"Bukankah dia itu lebih tua sedikit dari pada aku,
bertubuh kurus tinggi, pakaiannya mewah, jenggotnya
sedikit dan meruncing, matanya mengandung sinar aneh?"
Makin pucat muka Lee Tai mendengar ini dan ia hanya
bisa mengangguk-angguk, bingung dan takut.
"Betul Liok Kong Ji orang itu" Sin Hong berseru "Lee Tai,
kau telah tertipu oleh Liok Kong Ji yang menyebar berita
perpecahan melalui kau dan telah menyuapmu dengan kitab
ilmu pedang. Lee Tai, sekarang kau harus memberi tahu di
mana tempat sembunyinya penjahat itu”
1
(PEK LUI ENG)
Karya:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Scan djvu : syauqy_arr
Convert & edit : MCH
Jilid XXVII
Dengan suara gemetar Lee Tai menjawab, "Wan-bengcu.
Baru sekarang mata teecu terbuka dan teecu sungguh bodoh
sekali kena tipu orang. Akan tetapi, teecu sudah bersumpah
takkan membuka rahasia persembunyianya dan mana bisa
teecu melanggar sumpah sendiri! Lebih baik teecu mati dari
pada melanggar janji.”
Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek siansu, Pang
Soan Tojin dan yang lain-lain tertegun dan tak dapat bilang
apa-apa lagi mendeogar kata-kata Lee Tai ini. Sin Hong
maklum betul akan watak Lee Tai yang amat jujur dan setia.
Pemuda berwatak seperti ini akan memegang kata-katanya
dan andaikata ia dibujuk maupun diancam sampai dibunuh
sekalipun, takkan mungkin mengaku dan melanggar
sumpah dan janji yang sudah dikeluarkan di depan Liok
Kong Ji tanpa disadarinya itu!
Tiba-tiba dalam kesunyian yang tidak enak itu, terdengar
suara Tiang Bu,
"Wan-pek pek, memang tidak bisa kita menyalahkan Ciutwako.
Dia berjanji kepada orang yang tidak ia duga Liok
2
Kong Ji adanya. Tentu saja seorang laki-laki gagah takkan
melanggar janjinya. Akan tetapi sebagai laki-laki gagah pula,
kiranya Ciu twako takkan mau sudah begitu saja diingusi
(ditipu) mentah-mentah oleh Liok Kong Ji dan tentu Ciu
twako akan membalas dendam. Ataukah, barangkali Cui
twako jerih menghadapinya? Hal ini terserah kepada Ciutwako
karena dialah yang dipermainkan. Bagi kita yang lain,
lebih baik kita mencari lebih giat karena sudah nyata bahwa
Liok Kong Ji masih tetap berada pulau ini."
Ketika Wan Sin Hong memandang kepadanya, Tiang Bu
diam-diam memberi isyarat dengan matanya. Sin Hong
dapat menangkap maksud Tiang Bu, maka ia menarik napas
panjang dan berkata kepada Lee Tai,
"Sudahlah, kalau kau tidak mau mengaku kamipun tidak
dapat memaksa. Aku hanya merasa menyesal sekali
mengapa kau sampai dapat diperemainkan demikian
mudahnya oleh musuh kita itu."
Huang-ho Sian-jin, tokoh yang sudah berpengalaman
luas di dunia kang-ouw, tentu saja dapat menangkap
maksud hati Tiang Bu dan Sin Hong. Iapun berkata dengan
keras,
"Seorang laki-laki tertipu oleh manusia iblis penuh
muslihat seperti Liok Kong Ji, masih tidak aneh dan dapat
dimaafkan. Akan tetapi seorang yang tertipu dan
dipermainkan seperti itu diam saja tidak membalas benarbenar
dia tidak patut menjadi laki-laki, lebih pantas disebut
banci !"
Panas perut Lee Tai mendengar ini semua, telinganya
merah. Kalau calon mertuanya berkata demikian, benarbenar
terlalu sekali kalau dia diam saja.
"Liok Kong Ji jahanam keparat, awas kau!" sambil
berkata demikian, ia lalu lari pergi dari situ tanpa pamit lagi.
Bayangan ke dua berkelebat cepat sekali dan Tiang Bu
sudah lenyap dari situ mengikuti Lee Tai dengan diam-diam.
3
Sin Hong cepat berkata kepada kawan-kawannya, “Siasat
Tiang Bu termakan olehnya. Di luar pengertiannya dan
tanpa sengaja, Lee Tai akan membawa kita ke tempat
persembunyian Liok Kong Ji. Hayo kita kejar dan ikuti dia.
Akan tetapi, hanya Tiang Bu, aku sendiri, Huang-ho Sian-jin
dan kedua locianpwe saja yang boleh mendekat, yang lainlain
mengikuti dari jauh. Lee Tai tentu tidak tahu dirinya
diikuti orang, akan tetapi Liok Kong Ji lihai sekali. Kalau dia
tahu Lee Tai diikuti orang lain, tentu dia tidak mau muncul.”
Demikianlah, ramai ramai mereka lari mengejar. Sin
Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu dan Pang Soan
Tojin di depan, yang lain-lain mengikuti dari belakang.
Bayangan rombongan ini bergerak-gerak di bawah sinar
bulan purnama, seperti setan-setan penghuni pulau itn
karena gerakan mereka cepat dan ringan.
Siasat yang dijalankan oleh Tiang Bu dan Sin Hong
memang tepat sekali. Ucapan-ucapan Tiang Bu, Sin Hong,
dan yang dibumbui oleh Huang-ho Sian-jin itu berhasil
membakar hati Lee Tai yang memang berdarah panas.
Dengan hati mengandung dendam hebat Lee Tai melarikan
diri di sepanjang pantai, mencari tempat pertemuannya
dengan Liok Kong Ji kemarin. Akan tetapi karena ia sedang
marah dan bingung, terutama sekali oleh karena bulan
sudah mulai bersembunyi di ujung barat, ia kehilangan jalan
dan semalam suntuk ia berputar putar saja keluar masuk
hutan tanpa berhasil menemukan kembali tempat itu. Tentu
saja Tiang Bu yang membayangi di belakangaya menjadi
bingung dan mendongkol sekali. Ada sebuah hutan yang
sudah dimasuki sampai dua kali oleh pemuda dogol itu.
Juga Sin Hong dan kawan-kawannya yang mengikuti dari
jarak agak jauh menjadi bingung.
"Jangan-jangan ia tidak berani menjumpai kembali iblis
itu," gerutu Huang-ho Sian-jin.
4
"Lee Tai tak mengenal takut," Sin Hong berkata
menghibur, "agaknya ia sudah lupa lagi tempat itu dan kini
sedang mencari-cari.”
"Liok Kong Ji amat keji dan penuh muslihat. Kalau Ciu
sicu bertemu dengan dia, pinto khawatir Ciu-sicu akan
terancam bahaya," kata Pang Soan Tojin yang sudah
mengenal baik kekejaman hati Liok Kong Ji.
"Belum tentu,” jawab Sin Hong. "Liok Kong Ji tidak akan
membunuh sembarang orang yang ia anggap tidak penting.
Juga Lee Tai sudah sepatutnya menghadapi resiko itu untuk
menebus kesalahan dan kebodohannya. Pula, bukankah kita
dapat menolongnya dan terutama sekali Tiang Bu berada
tidak jauh darinya. Kalau Tiang Bu melindungi, Kong Ji
takkan mampu mengganggu Lee Tai.”
Bu Kek Siansu menarik napas panjang. "Orang muda itu
patut dikagumi, berbeda jauh dengan ayahnya. Hanya masib
diragukan, setelah ia difitnah sedemikian keji oleh Ciu-sicu,
apakah ia mau memperdulikan kaselamatan Ciu-sicu."
"Biarpun putera Liok Kong Ji, aku yakin Tiang Bu
sedikitpun tidak mewarisi kekejian hati ayahnya sebaliknya
anak itu seperti mendiang ibunya,” kata Sin Hong dengan
suara sungguh-sungguh. “Biarlah kesempatan ini
kupergunakan untuk menguji pribadinya, kuharap saja
dugaanku tidak meleset."
Sementara itu, Tiang Bu menjadi mendongkol ketika
menjelang pagi, Lee Tai menghentikan lari-larinya yang tidak
keruan tujuannya itu dan pemuda dogol itu malah duduk
mengaso di bawah pohon ! Tiang Bu memang sedang marah
dan gemas terhadap Lee Tai yang mendatangkan semua
keributan dan prasangka buruk terhadap dirinya. Kalau saja
ia tidak ingat bahwa Lee Tai adalah seorang pemuda
anggauta rombongan Wan Sin Hong, tentu ia akan turun
tangan memberi hajaran. Ia tahu bahwa Wan Sin Hong
adalah seorang pendekar besar yang selain sakti, juga
memiliki kewaspadaan. Tak mungkIn Wan Sin Hong mau
5
membawa-bawa seorang dogol seperti Ciu Lee Tai kalau
pemuda itu tidak memiliki apa-apa yang baik.
Sambil berlari cepat mempergunakan ginkangnya
sehingga gerakannya menjadi amat ringan dan sama sekali
tidak kelihatan atau terdengar oleh orang yang diikutinya,
Tiang Bu memikirkan tentang diri Ciu Lee Tai. Diam-diam ia
harus mengatakan bahwa pemuda dogol itu memiliki
kepribadian dan kesetiaan yang patut dipuji. Biarpun
terhadap seorang jahat seperti Liok Kong Ji, Lee Tai tetap
tidak mau melanggar janji sendiri dan rela mengorbankan
nama dan nyawanya.
Dan sekarang, pemuda yang sudah tahu bahwa ia takkan
mungkin mampu mengalahkan Liok Kong Ji, dengan nekat
hendak mencari Liok Kong Ji dan diajak bertanding. Benarbenar
seorang pemuda yang bernyali besar, biarpun dogol
dan bodoh.
Melihat Lee Tai beristirahat sambil menyusuti peluh,
terpaksa Tiang Bu juga berhenti, bersembunyi di balik pohon
dan memperhatikan gerak-gerik Lee Tai. Pemuda dogol ini
bersungut-sungut dan terdengar ia berkata seorang diri.
"Liok Kong Ji jahanam keparat! Kalau kali ini aku tidak
dapat menghancurkan kepalamu, lebih biik aku Ciu Lee Tai
pulang tak beryawa lagi !"
Tiang Bu tersenyum geli. Baru kata-katanya saja sudah
dogol dan menggelikan. Kalau sudah tak bernyawa,
bagaimana bisa pulang? Ketika Tiang Bu menggerakkan
kepala ke belakang, ia tersenyum. ia melihat bayangan
empat orang tua dan ia bisa menduga siapa adanya mereka
itu. Memang, Sin Hong dan tiga orang kawannya terpaksa
berherti karena Lee Tai dan Tiang Bu berhenti pula. Dan
jauh di belakang mereka, rombongan kedua juga berhenti.
Hal ini memang kebetulan sekali bagi rombongan ke dua
yang terdiri dari Ang Lian dan Siok Li Hwa yang
menggendong Leng Leng.
6
Mereka mendapat kesempatan beristirahat karena Leng
Leng yang digendong dan dibawa berlari-lari itu merasa lelah
dan ingin menangis. Khawatir kalau-kalau Leng Leng
menangis, maka Li Hwa mengajak Ang Lian mengikuti dari
jauh saja. Hal ini sebetulnya mengecewakan hati Ang Lian.
Gadis ini diam-diam amat mengkhawatirkan keadaan Lee Tai
dan ingin ia mengejar sampai dekat agar dapat melihat apa
yang sedang dilakukan oleh pemuda dogol yang memikat
hatinya itu.
Ia sekarang dapat mengerti mengapa Lee Tai
merahasiakan orang yang menjadi sumber berita yang
memfitnah Tiang Bu. Kiranya orang itu, yang bukan lain
adalah Liok Kong Ji sendiri, menggunakan kebodohan Lee
Tai untuk menjalankan siasat buruk memecah belah fihak
musuh. Tentu Lee Tai dibujuk didiberi kitab pelajaran ilmu
silat untuk dapat melawan Liok Kong Ji, dan di dalam
hatinya Ang Lian tahu mengapa Lee Tai mati-matian
berusaha mengalahkan Liok Kong Ji. Sebabnya hanya satu,
dia sendiri ! Ucapannnya dahulu yang mengajukan syarat
supaya pemuda itu mengalahkan Liok Kong Ji, rupanya
termakan betul oleh Lee Tai dan menjadi cta-cita pemuda itu
! Semua itu hanya mencerminkan betapa besar kasib sayang
Lee Tai kepadanya, betapa besar hasrat hati Lee Tai untuk
dapat memperisterikannya ! Ang Lian menjadi terharu sekali
kalau memikirkan hal ini.
Kalau orang-orang yang diam-diam mengikuti jejaknya
melamun dalam alam pikiran masing-masing, adalah Lee Tai
yang duduk mengaso itu mengorok dalam tidurnya.
Memang, orang seperti Lee Tai ini berjiwa babas.
Betapapun duka dan masgul hatinya, kalau mata sudah
mengantuk iapun tidurlah!
Orang yang melihat dia tidur hanya Tiang Bu saja,
karena yang lain-lain berada di tempat jauh. Dapat
dibayangkan betapa mendongkolnya hati Tiang Bu. Dia
sendiri merasa tegang dan gemas, ingin lekas- lekas dapat
7
bertemu dengan Liok Kong Ji. Eh, orang yang diharapkan
membawanya ke tempat persembunyian Liok Kong Ji, enakenak
tidur! Ketika matahari sudah naik tinggi tetap Lee Tai
belum juga bangun. Tiang Bu tidak sabar lagi, Diambilnya
tanah lempung dan sekali lontar, tanah lempung itu
mengenai hidung Lee Tai.
“Plak !”
Lee Tai melompat bangun, tersentak kaget. Cepat
mencabut goloknya yang sudah ia ambil kembali ketika ia
mulai pergi mencari Liok Kong Ji tadi, membolang-balingkan
goloknya dan berseru.
"Liok Kong Ji, kalau berani jangan menyerang di waktu
aku tidur ! Keluarlah dan mari kita bertanding selaksa
jurus!"
Seruannya keras, sampai terdengar dari tempat di mana
Ang Lian dan Li Hwa beristirahat, Siok Li Hwa menggelenggeleng
kepalanya.
"Bocah itu bernyali besar, sayang dogol amat."
Ang Lian diam saja, mukanya kemerahan.
Kalau tanah lempung itu disambitkan oleh orang belum
tentu akan dapat terasa oleh Lee Tai. Akan tetapi sambitan
Tiang Bu membuat hidungnya menjadi merah dan terasa
pedas sekali. Seperti kebiasaan ahli silat yang sudah agak
"matang" biarpun dalam keadaan tidur, namun urat
syarafnya selalu bersia siap begitu merasa ada sesuatu yang
menggangu, seluruh urat syarafnya bekerja. Inilah sebabnya
maka begitu hidungnya tercium oleh senjata lempung itu Lee
Tai terus saja melompat dan mencabut golok siap menyerang
!
Sin Hong yang berada di tempat agak jauh dan tidak
melihat perbuatan jahil Tiang Bu tadi hanya saling pandang
dengan kawan-kawannya. Akan tetapi mereka segera bangkit
dan mulai bergerak maju karena mereka melihat Tiang Bu
8
sudah bergerak pula mengikuti Lee Tai yang sudah berlarilari
ke depan.
Setelah matahari naik makin tinggi, baru Lee Tai
mendapatkan kembali tempat di mana ia bertemu dengan
Liok Kong Ji. Seperti juga kemarin, pemuda ini berdiri di
dekat batu karang. Betapapun dogolnya ia masih mampu
menggunakan pikiran bahwa kalau ia bersikap kasar, Liok
Kong Ji tentu takkan mau keluar. Oleh karena itu, ia lalu
duduk di atas sebuah batu karang kecil dan berkata dengan
suara keras.
"Locianpwe yang sakti ! Teecu mohon locianpwe suka
keluar lagi untuk memberi penjelasan!"
Lee Tai memang tidak pernah membobong, juga tidak
bisa membohong. Maka ia sengaja menggunakan kata kata
"untuk memberi penjelasan" karena memang ia hendak
meminta penjelasan dari orang tua itu. Kata-katanya yang
jujur ini ternyata malah kebetulan sekali. Tentu saja Liok
Kong Ji yang sedang bersembunyi di dalam gua rahasia.
mendengar suaranya. Liok Kong Ji tadinya menjadi curiga
dan mengintai ke luar dari sebuah lubang rahasia. Akan
tetapi ia tidak melihat orang lain kecuali Ciu Lee Tai yang
duduk di atas batu sambil mengebut ngebut leher dengan
ujung lengan baju mengusir panas. Pemuda itu tidak
memegang kitab tanda bahwa pemuda itu memperhatikan
pesannya, tidak sembarangan mengeluarkan kitab itu. Juga
pemuda itu minta ia ke luar memberi penjelasan. Tak salah
lagi, tentu ia mengalami kesulitan dengan pelajaran Soatlian
kiam hoat, pikir Kong Ji. Ahh dogolnya orang ini !
Kalau aku tidak keluar, tentu ia akan membuka mulut
menimbulkan gaduh, jangan jangan malah menarik
perhatian Wan Sin Hong atau Tiang Bu. Lebih baik aku ke
luar dan mencari akal supaya ia jangan datang lagi, pikir Lio
Kong Ji. Setelah sekali lagi mengintai dan melihat keadaan
di luar betul-betul aman, ia menekan alat rahasia dan
sebuah pintu terbuka.
9
Untuk kedua kalinya Lee Tai tersentak kaget ketika
melihat Liok Kong Ji tahu-tahu sudah berdiri di depannya,
entah dari mana seperti baru muncul dari muka bumi di
depannya saja. Ini adalah karena gerakan Kong Ji amat
ringan dan cepatnya. ia tidak memberi kesempatan kepada
Lee Tai untuk melihat pintu rahasia dari gua
persembunyiannya. Akan tetapi, alangkah heran hati Liok
Kong Ji ketika melihat Lee Tai tidak segera menjatuhkan diri
berlutut, malahan pemuda itu mencabut golok, berdiri tegak
dil depannyat lalu mangeluarkan suara bentakan.
“Kau sebenarnya siapakah? Apakah kau Liok Kong Ji?”
Kalau tidak sudah luas pengalaman dan tinggi ilmunya,
tentu Liok Kong Ji akan menjadi pucat mukanya “ditodong”
seperti ini oleh Lee Tai. Akan tetapi Kong Ji malah menarik
muka terheran-heran, lalu tersenyum.
"Orang muda, apa kau sudah mabok? Kan tahu aku
bukan Liok Kong Ji. Bagaimana kau bisa berkata demikian?”
Sikap yang sewajarnya dari Liok Kong Ji kembali telah
menipu pandangan Lee Tai yang memang betul-betul bodoh
dalam hal ini. Dia terlalu jujur dan iapun menganggap
bahwa orang lain juga tentu jujur seperti dia, karena
menurut anggapannya, mengapa orang harus membohong?
Mendengar kata kata Liok Kong Ji ini, Lee Tai menjadi
bingung. Memang amat sukar, bagaimana bisa menentukan
apakah orang ini Liok Kong Ji atau bukan? Dia selama
hidupnya belum pernah bertemu dengan Liok Kong Ji dan
orang ini begitu bertemu sudah memberi hadiah kitab
pelajaran ilmu pedang, bagaimana ia bisa bersikap tak tahu
terima kasih ?
Akan tatapi, teringat akan kitab, ia mendapat pikiran.
Segera ia bertanya.
"Kitab itu milik Liok Kong Ji, bagaimana kau bisa
memberikannya kepadaku kalau kau bukan Liok Kong Ji ?"
10
Kembali di dalam hatinya Liok Kong Ji terkejut sekali.
Kalau pemuda ini tahu bahwa kitab Soat-tian-kiam-coan-si
itu milik Liok Kong Ji, berarti bahwa kitab itu tentu terlihat
oleh Tiang Bu atau Wan Sin Hong!
"Orang muda, apa kau melanggar janji dan memberi tahu
tentang kitab kepada mereka ?"
"Tidak, sama sekali tidak! Hanya ......... ketika aku
mempelajarinya, Tiang Bu melihatnya dan .......... dan..........
oh, kalau begitu kau betul Liok Kong Ji?"
“Babi hutan ! Dasar kau berotak udang bodoh, goblok
dan tolol ! Aku memang Liok Kong Ji dan kau boleh bawa
nama ini ke mereka! Hayo katakan, sekarang mereka baru
apa?” bentak Liok Kong Ji yang sudah tidak mau main
sandiwara lagi.
Akan tetapi Lee Tai tidak takut. Ia menggerakkan
goloknya dan membentak, "Bagus! Kalau kau Liok Kong Ji,
itulah yang kucari-cari dan kutunggu tunggu! Mari kita
bertempur selaksa jurus, kalau bukan kau yang kupengal
lehermu, tentu aku yang menggeletak di sini tak bernyawa.
Goloknya menyambar cepat sekali ke arah leher Liok Kong
Ji.
Serangan Lee Tai ini boleh jadi akan membahayakan
lawan lain, akan tetapi sekarang berhadapan dengan Liok
Kong Ji. Sekali menggerakkan tubuh ke samping, golok itu
menyambar tempat kosong. Golok Lee Tai menyambar lagi
dengan kecepatan kilat, kenekatan dan kemarahan Lee Tai
membuat gerakan-gerakannya cepat sekali dan serangannya
susul-menyusul bagaikan air hujan. Juga ia melakukan
serangan sekuat tenaga sampai goloknya mengeluarkan
suara berdesing.
Betapapun ia mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaiannya, selalu goloknya menyambar tempat kosong
dan pada jurus ke delapan, ketika tangan kiri Kong Ji
melakukan gerakan menyentil dari samping, terdengar suara
11
nyaring golok itu terlepas dari pegangan Lee Tai, terlempar
jauh. Sebelum Lee Tai sempat memperbaiki kedudukannya,
kaki kanannya kena dicium ujung sepatu Kong Ji, membuat
ia roboh terguling dengan sambungan lutut terlepas !
Namun pemuda ini amat bandel dan nekat. Ia melompat
bangun lagi, dan biarpun sudah terpincang-pincang, ia
menyerang lagi tanpa mengeluarkan keluhan sedikitpun !
“Iblis keji !” terdengar bentakan nyaring dan sebatang
pedang menyambar ke arah punggung Liok Kong Ji, akan
tetapi dapat dielakkan dengan mudah oleh Kong Ji.
"Ang Lian.........” seru Lee Tai, girang dan kaget. "Jangan
dekat-dekat, dia berbahaya!"
"Ciu-twako, aku membantumu!" jawab Ang Lian sambil
menyerang lagi.
Kejadian ini amat mengejutkan hati Tiang Bu, juga Sin
Hong dan yang lain-lain. Tanpa diduga-duga, ketika
menyaksikan betapa Lee Tai tidak berdaya menghadapi Liok
Kong Ji timbul kekhawatiran hati Ang Lian dan gadis ini
segera melompat dan mati-matian membantu pemuda dogol
itu. Dengan ilmu pedang warisan ayahnya, penyerangan
gadis ini hebat juga. Akan tetapi tentu saja semua
penyerangan ini bukan apu apa bagi Liok Kong Ji yang jauh
lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Melihat munculnya gadis
ini. Kong Ji makin gelisah. Take salah lagi, tentu yang lain
akan segera muncul.
"Bagus kau datang," serunya dan cepat tubuh Liok Kong
Ji bergerak. Sebelum Ang Lian dan Lee Tai tahu apa yang
terjadi, karena tiba-tiba bayangan Liok Kong Ji lenyap dari
depan mereka, tahu tahu mereka telah roboh tak berdaya,
terkena totokan lihai dari manusia iblis itu.
Liok Kong Ji mempunyai siasat bagus untuk
menyelamatkan diri. Melihat dua orang muda itu, ia segera
merobohkan mereka dan hendak mempergunakan mereka
12
sebegai perisai, atau sebagai tebusan bagi keselamatan dan
kebebasannya.
Akan tetapi, sama sekali di luar persangkaannya bahwa
Tiang Bu sudah dekat tempat itu, karena tiba-tiba hawa
pukulan keras menyambar hebat ketika ia hendak
menghampiri Ang Lian dan Lee Tai yang sudah menggeletak
di atas tanah dan hendak menawan mereka. Hawa pukulan
ini biarpun datang dari jarak jauh, hebatnya bukan main
dan hawanya panas seperti api menyambar.
Link Kong Ji sendiri adalah seorang abli lwee-keh dan ia
memiliki dua macam pukukan lweakang istimewa, yaitu
Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang, yang dapat merobohkan
lawan dari jarak jauh. Oleh karena itu, tentu saja ia maklum
bahwa ia sedang diserang oleh seorang lawan yang berilmu
tinggi ia tidak berani berlaku gegabah, terpaksa ia
mengurungkan niatnya menawan Lee Tai dan Ang Lian.
Sebaliknya ia cepat membalikkan tubuh, menggerakkan
kedua tangan untuk menyampok pukulan lawan ini.
Tubuhnya terhuyung ketika dua tenaga raksasa bertemu
membuat Liok Kong Ji makin terkejut terpaksa ia melompat
jauh ke belakang.
Ketika ia memandang, ternyata bahwa yang
menyerangnya dan yang menolong Lee Tai dan Ang Lian tadi
bukan lain adalah Tiang Bu! Kemudian bermunculanlah
Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu, Pang
Soan Tojin, dan nampak juga Siok Li Hwa yang memondong
Leng Leng. Mereka sudah berdiri di hadapannya, sikap
mereka rata-rata garang dan penuh kemarahan !
Muka Liok Kong Ji menjadi pucat, lalu kehijauan, akan
tetapi ia dapat menekan perasaannya, meringis dalam
senyum buatan. Ia hanya dapat memandang saja ketika
Tiang Bu membebaskan totokan yang membuat Ang Lian
dan Lee Tai tak berdaya. Dua orang muda in segera
mengundurkan diri di belakang orang orang tua, karena
13
mereka maklum bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan
Liok Kong Ji yang jagoan itu.
"Ha-ha-ha." Kong Ji tertawa mengejek “Wan Sin Hong
sudah menjadi pengecut, tidak berani datang sendiri dan
membawa seregu pembantu. Apakah kalian ini tua-tua
bangka hendak mengeroyok aku ?"
Sebelum orang lain menjawab, Tiang Bu sudah
membentak marah,
"Perlu apa mengeroyok? Aku sendiri dengan dua
tanganku cukup untuk mengakhir riwayatmu yang busuk !”
Pemuda ini dengan muka merah sudah bersiap saaga
menerkam musuhnya ini. Ia makin membenci Liok Kong Ji
kalau teringat akan Bi Li kekasihnya yang tedinya menjadi
buntung lengannya oleh Liok Kong Ji, kemudian tewas di
laut oleh Liok Cui Kong.
Liok Kong Ji meneogok ke arah pemuda ini, nampaknya
gentar, akan tetapi ia memperlebar senyumnya ketika ia
menoleh kembali kepada Wan Sin Hong.
"Hemmm, bagus sekali, Sin Hong. Kau tahu bahwa bocah
ini adalah keturunanku, anak Soan Li. Dan kau sengaja
menyuruh dia melawanku? Tentu saja aku tidak bisa
bersungguh-sungguh dan tidak leluasa kalau harus
melawan puteraku sendiri, petera tunggal dan……."
"Tutup mulutmu yang busuk !" Tiang Bu membentak lagi
dan tubuhnya berkelebat, di lain saat ia telah mengirim
pukulan ke arah dada Liok Kong Ji!
Kong Ji menangkis, keduanya terhuyung ke belakang,
akan tetapi kalau Tiang Bu tidak merasa sesuatu, adalah
diam-diam Liok Kong Ji mengeluh karena lengannya terasa
panas dan linu.
"Tiang Bu !" Sin Hong mencegah ketika melihat Tiang Bu
hendak menyerang lagi. "Tunggu sampai dia habis bicara !"
14
Tiang Bu mentaati perintah ini dan ia melangkah
mundur, berdiri tegak dengan mata mencorong, mata yang
serupa benar dengan mata Kong Ji, tajam dan bersinar
aneh. Kong Ji maklum bahwa kali ini tidak ada jalan lari lagi
bagiaya, maka dengan sikap keren berkata,
"Sekarang aku sudah terkepurg, akan tetapi aku
menuntut hak seorang kangouw, aku ingin menghadapi
kalian seorang demi seorang. Ini kalau kalian berani.
Pertama-tama aku menantang musuh besarku sejak kecil.
Wan Sin Hong. Majulah kalau kau masih memiliki sifat
jantan !" Sambil berkata demikian, Liok Kong Ji melangkah
maju setindak ke depan Sin Hong.
Wan Sin Hong menjadi merah mukanya dan iapun
melangkah tiga tindak ke depan Liok Kong Ji. Dua orang
musuh besar sejak kecil ini akhirnya berhadapan muka,
satu lawan satu! Teringat mereka akan riwayat dahulu
ketika mereka masih sama-sama kecil, lalu ketika mereka
sama-sama muda menjadi musuh, juga berhadapan seperti
ini. Teringat akan ini, tak tertahan lagi Wan Sin Hong
berkata, suaranya tenang namun mengandung kebencian
besar,
"Kong Ji, teringatkah akan riwayat hidupmu yang penuh
dosa? Hidupmu penuh noda darah orang-orang tak berdosa.
Kekejianmu melebihi iblis dan akhir akhir ini dalam usia tua
kau bukan menjadi kapok dan menebus dosa-dosa di waktu
muda. malah menambah lagi dosa dosamu dengan dosadosa
baru, kau benar-benar manusia berhati iblis ! Sekarang
tibalah saatmu untuk menebus dosa dosamu itu, tidak
hanya di dunia akan tetapi juga di depan Giam-kun."
Mendengar kata-kata ini, Liok Kong Ji malah tertawa
bergelak.
"Wan Sin Hong, di dunia ini mana ada dosa? Dosa hanya
pandangan orang yang merasa dirugikan. Aku membunuh
untuk mendahului jangan sampai aku yang dibunuh. Kalau
aku tidak pandai menjaga diri, apakah aku tidak kaubunuh
15
dari dulu? Ha-ha, Sin Hong. Aku membunuh orang
kauanggap berdosa, apakah kulau kau berhasil membunuh
aku, kau tidak berdosa? Aku melakukan perbuatan demi
ketenangan hatiku dan orang hidup harus bersenangsenang,
apa itu kauanggap dosa? Ha-ha-ha !”
Semua orang tertegun mendengar omongan itu, dan Sin
Hong marah sekali.
“Liok Kong Ji, manusia macam kau ini sama dengan iblis.
Mana kau tahu tentang dosa.? Kau melakukan perbuatanperbuatan
keji, berlawanan dengan kebajikan, berlawanan
kehendak Thian. Kau tentu tidak mengenal Tuhan kau
menurutkan hawa nafsu iblis belaka. Perlukah kau
kuingatkan akan kedosaanmu yang dulu-dulu? Kau
diperlakukan baik-baik oleh gihu (ayah angkat) Lie Bu Tek,
akan tetapi kau membalas dengan menabas buntung
lengannya. Ini kaulakukan ketika kau masih kecil. Kau
menipu orang orang yang menolongmu, mendidiknya
bahkan manipu guru-gurumu. Kau melakukan perbuatan
keji terhadap orang baik-baik, termasuk Gak Soan Li,
perbuatanmu ini saja sudah terkutuk oleh Thian. Lupakah
kau akan semua itu? Berkali-kali kau lolos dari tanganku
karena siasat-siasat burukmu, kau tidak berani menghadapi
segala tantangan seperti orang laki-laki, melainkan
mempergunakan tipu muslihat. Akhir-akhir ini kau
membunuh Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri dan
puteri mereka, kau menyuruh anakmu yang menjadi iblis
cilik itu menyebar maut di Kim bun-to, membunuh sutitku
dan suaminya, kau membuntungi lengan tangan Wan Bi Li.
Pendeknya, terlalu banyak kau membikin sengsara orang
dan terlalu lama kau mengotorkan dunia. Bersiaplah untuk
menghadap Giam-kun dan menebus dosa-dosamu di neraka
!”
Wan Sin Hong sudah memasang kuda-kuda dan bersiap
untuk melakukan sarangan.
16
Akan tetapi Liok Kong Ji masih bersikap biasa saja,
malah ia tersenyum mengejek.
"Wan Sin Hong, kau pandai mencatat dan membacakan
daftar kesalahan orang lain, akan tetapi kau menutupi
kekejianmu sendiri. Lupakah kau akan perbuatan kejimu
membuat aku bercacad seumur hidupku ?”
Sin Hong terheran-heran mendengar ini. Sepanjang
ingatannya, belum pernah ia melakukan perbuatan itu.
Memang betul ia sering kali merobohkan Liok Kong Ji dan
melukainya, akan tetapi bukan luka yang mendatangkan
derita dan cacad.
“Omongan bohong apa yang kau keluarkan ini ?"
bentaknya.
“Ha-ha-ha, seorang laki-laki tidak berani mengakui
perbuatannya, apakah layak disebut gagah? Kau telah
membuat lengan kiriku bercacad selama hidup, apa masih
tidak mau mengaku ? Kau lupa ini ? Lihatlah baik-baik,
macam apa lenganku sekarang setelah dahulu kau bikin
remuk !”
Liok Kong Ji maju mengulurkan lengan kiri sambil
menyingsingkan lengan bajunya yang kiri, memperlihatkan
lengannya yang barkulit putih, lengan yang kurus dan
nampak kehitataman totol-totol di dekat sambungan siku.
Sikap wajar Liok Kong Ji ini membuat Sin Hong kurang
waspada. Ia dahulu memang pernah mematahkan tulang
lengan Kong Ji ketika ia merampas pedang Pak-kek-sin-kiam
dari musuh ini, akan tetapi tidak mengira bahwa
perbuatannya itu membuat lengan Kong Ji bercacad
selamanya. Karena ingin tahu melangkah makin mandekat
dan melihat lengan itu.
"Wan-pek-pek, awas ...... !!" Tiang Bu berseru keras.
Akan tetapi terlambat ! Langan kiri Liok Kong Ji yang
disingsingkan lengan bajunya dan sedang dilihat oleh Sin
17
Hong itu, tiba-tiba meluncur ke depan. menghantam dada
Wan Sin Hong dengan pukulan Tin-san-kang yang luar biasa
lihainya !
"Buukk!!" Tubuh Wan Sin Hong terpental sampai dua
tombak lebih terkena pukulan itu dan terdengar Siok Li Hwa
menjerit melihat suaminya terlempar dalam keadaan berdiri
akan tetapi memuntahkan darah segar! Siok Li Hwa
melompat mendekati suaminya, akan tetapi Sin Hong
memberi tanda supaya isterinya mundur, kemudian ia
berjalan tegap menghampiri Liok Kong Ji lagi sambil
menyusut darah dari bibirnya ! Tiang Bu yang sudah hendak
menerjang Liok Kong Ji. terpaksa mundur ketika dengan
tangannya Sin Hong memberi isyarat supaya ia juga
mundur.
“Pengecut jahanam!” maki Siok Li Hwa dengan muka
pucat, gelisah memandang suaminya.
"Iblis tak tahu malu” Ang Lian juga memaki marah.
"Wan-bengcu, mundurlah. Biar aku yang melabraknya!”
Lee Tai terteriak-teriak, akan tetapi segera menutup mulut
ketika Ang Lian mendelik kepadanya.
Wan Sin Hong tersenyum memandang Kong Ji yang
terheran-heran. Kong Ji tadinya memang mengharapkan
dapat memukul mati kepada lawannya ini, akan tetapi Sin
Hong tidak roboh, hanya muntah darah. Hal ini benar-benar
tidak diduga-duganya. Ia tidak tahu bahwa memang Sin
Hong selamanya tidak percaya kepadanya dan tadipun
pendekar ini sudah mengerahkan tenaga sinkangnya
menjaga diri. Sayangnya, Sin Hong tertarik untuk memeriksa
lengannya, maka terlambat mengelak atau menangkis
sehingga terkena pukulan yang biarpun tidak
membabayakan nyawanya, namun telah mendatangkan luka
dalam yang cukup hebat.
"Kong Ji, apa perbuatanmu tadi patut dibanggakan ?”
sindir Sin Hong. "Kau berlaku curang.”
18
“Apa yang curang ? Kau sudah memasang kuda-kuda,
sudah siap kita mengadakan pertandingan. Perbuatanku
tadi termasuk taktik pertandingan, apanya yang salah?
Hanya kau yang terlalu goblok, berotak kerbau." Setelah
berkata demikian, Liok Kong Ji terus menyerang bertubi-tubi
dengan pukulan pukulan Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang.
Penyerangannya hebat sekali, gerakan-gerakannya jauh
lebih sempurna dari pada beberapa tahun, bahkan beberapa
bulan yang lalu. Hal ini adalah karena semenjak ia
mampelajari kitab Delapan Jalan Utama ilmu silatnya
bertambah lihai dan mendapat kemajuan pesat sekali.
Diam-diam Sin Hong terkejut dan kagum. Harus ia akui
bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji telah memperoleh
kemajuan yang jauh di luar sangkaannya. Biarpun dia
sendiri juga selalu berlatih dan memperdalam ilmunya, akan
tetapi ia harus mengakui bahwa ia kaLah maju. Karena
dahulu memang tingkatnya sudah lebih tinggi, maka
kemajuan yang luar biasa dari kepandaian Kong Ji, hanya
membuat lawan ini sekarang memiliki tingkat yang seimbang
dengan dia.
Sin Hong berlaku hati-hati, mengerahkan semua
kepandaian untuk melawan musuh yang tqngguh ini. Betapa
pun juga Pak-kek Sin-ciang ternyata masih tahan uji dan
dapat dibanggakan, dapat menangkis semua terjangan Liok
Kong Ji. Sayangnya Sin Hong sudah menderita luka dalam
akibat penyerangan gelap tadi, maka di dalam pertandingan
mati-matian ini kadang-kadang ia merasa dadanya sesak
dan terpaksa ia sering kali mengalah dalam hal adu tenaga,
mengalah untuk menghindarinya dan mengelak.
Tentu saja hal ini diketahui baik oleh Liok Kong Ji. Dia
malah berusaha mengadu lwee-kang agar luka di dalam
dada Sin Hong makin menghebat dan parah. Biarpun ia
akhirnya akan roboh di tangan Tiang Bu dan kawankawannya,
kalau ia sudah dapat menewaskan Sin Hong, ia
sudah puas.
19
"Ha ha, Sin Hong. Kau dulu bukan kau sekarang dan
Liok Kong Ji dulu berbeda dengan Liok Kong Ji sekarang !"
ejeknya untuk memanaskan hati lawan.
"Tentu saja kau berbeda dengan dulu. Kau sekarang
lebih pengecut dan lebih keji." balas Sin Hong yang mengelak
dari sebuah pukulan lalu membalas dengan totokan kilat
dari ilmu silatnya Pak-kek Sinciang yang lihai. Akan tetapi
Liok Kong Ji sempat juga menangkis sambil mengerahkan
tenaga dan sekali lagi dua lengan saling bentur dengan
hebat.
Baiknya Sin Hong adalah ahli tenaga dalam lm yang Sinkang.
Ia dapat menyalurkan tenaga kasar atau lemas
menurut kehendak hatinya dan dapat mengatur harus
mempergunakan tenaga apa untuk menyambut serangan
Kong Ji agar lukanya di dalam dada tidak bertambah parah.
Akan tetapi, setelah lima puluh jurus lewat dan keadaan
Liok Kong Ji bertambah kuat dan ganas, Sin Hong yang
sudah menderita luka itu terpaksa mengakui bahwa ia
takkan dapat bertahan lebih lama lagi. Peluh telah
memenuhi dahinya dan ia maklum kalau pertempuran
tangan kosong ini dilanjutkan, ia akan menderita kekalahan.
Liok Kong Ji terlalu cerdik sehingga tidak mau mengadu
kecepatan ilmu silat, melainkan selalu mempergunakan Tinsan-
kang atau Hek-tok-ciang untuk mengadu tenaga dalam,
maklum bahwa lawannya sudah terluka parah.
"Kong Ji, hadapilah Pak-kek-sin-kiam yang akan
mengantar nyawamu ke dalam neraka !" Berkelebat sinar
menyilaukan dan di lain saat pedang Pak-kek-sin-kiam
sudah berada di tangan Wan Sin Hong !
Liok Kong Ji tertawa berkelak. "Belum apa apa sudah
mengeluarkan pedang!” Iapun mencabut padangnya dan di
dalam otaknya terbayang sesuatu yang menyenangkan hati.
Kalau saja aku dapat merampas Pak-kek-sin-kiam, pikirnya.
Di antara mereka semua, yang paling harus dikhawatirkan
hanya Tiang Bu seorang. Yang lain-lain tak masuk hitungan,
20
kecuali Wan Sin Hong. Akan tetapi kalau aku berhasil
menewaskan Sin Hong dan merampas Pak kek-sin-kiam,
aku sanggup menghadapi Tiang Bu dan terbukalah jalan
keluar ke arah pembebasan !
Dengan pikiran ini, Liok Kong Ji menggerakkan
pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan
dada. Ia memasang kuda-kuda miring dan matanya
memandang tajam ke arah lawan. Juga Wan Sin Hong sudah
memasang kuda-kuda, tangan kanan memegang pedang
melintang di depan, tangan kiri dimiringkan melintang dada
pula, seperti orang bersidekap. Sikapnya tenang, matanya
tajam waspada, akan tetapi peluh di keningnya menandakan
bahwa ia telah lelah.
Melihat dua orang musuh besar berdiri barhadapan
dengan pedang di tangan, diam tak bergerak laksana patung
itu, bagaikan dua ekor jago yang sedang menanti saat baik
untuk menerkam, benar-benar menegangkan hati. Semua
orang maklum bahwa keduanya siap untuk mengadu nyawa,
untuk menentukan siapa menang siapa kalah dengan aliran
darah.
Siok Li Hwa memberikan Leng Leng kepada Ang Lian dan
nyonya ini berdiri dengan kaki gemetar siap dengan senjata
rahasia Cheng-jouw-ciam ( Jarum Rumput Hijau ) di tangan
untuk melindungi suaminya apabila terancam bahaya maut.
Tiang Bu berdiri paling dekat, tegak dengan kedua kaki
terpentang dan kedua tangan tergantung di kanan kiri,
setiap urat syarafnya pun siap untuk menolong Sin Hong
bila mana perlu. Adapun tiga orang kakek Huang-ho Sianjin,
Bu Kek Siansu dan Pang Soan Tojin berdiri menonton
dengan penuh ketegangan hati. Mereka bertiga maklum
bahwa dua orang yang berilmu tinggi dan sakti sedang
berhadapan untuk mengadu nyawa dan mereka sendiri tak
kuasa berbuat sesuatu karena tingkat mereka lebih rendah.
Kalau dulu, tentu Kong Ji merasa gentar menghadapi Sin
Hong dengan Pak-kek-sin-kiam di tangan. Pedang itu sendiri
21
sudah merupakan pedang pusaka yang ampuh apa lagi di
tangan Sin Hong yang menjadi ahli waris Pak-kek-sin-kiamhoat,
benar-benar merupakan lawan berat. Akan tetapi
sekarang Liok Kong Ji sudah mempelajari banyak ilmu
pedang yang ampuh-ampuh, di antaranya Soat-lian Kiamhoat
dan Soan-bong Kiam hoat, keduanya dari kitab-kitab
Omei-san yang tentu saja mengandung ilmu pedang kelas
satu. Di samping itu ilmunya sudah dipermasak oleh
pelajaran dalam kitab Delapan Jalan Utama.
Sampai lama dua orang lawan ini saling berhadapan
tanpa bergerak. Kemudian Kong Ji berkata mengejek, "Kau
memegang Pak kek sin-kiam, tentu saja kau dapat menang
dengan mudah mengandalkan ketajaman pedangmu. Anak
kecilpun bisa menang seperti itu.”
Watak Sin Hong adalah menjunjung tinggi kegagahan.
Biarpun ia maklum bahwa ucapan Kong Ji ini merupakan
siasat, akan tetapi mengandung kebenaran juga. Maka ia
menjawab.
"Jangan khawatir, aku takkan mematahkan pedangmu.
Kalau patah aku takkan menyerangmu, dan kau boleh
berganti pedang. Seorang di antara kita akan mati dengan
pedang di tangan !”
Tentu saja ucapan ini amat menggembirakan hati Kong
Ji. Sekarang ia tidak takut lagi menghadapi Pak-kek-sinkiam
dan begitu Sin Hong menghentikan ucapannya, ia
mengeluarkan seruan seperti binatang menjerit dan
menerkam ke depan dengan tusukan kilat. Tusukan ini ia
susul dengan ujung pedang diguratkan ke atas menyerang
leher sehingga dalam segebrakan saja pedangnya telah
melakukan dua macam tusukan maut.
Sin Hong berlaku tenang. Ia mengelak dari tusukan
pertama dan tusukan ke dua ia tangkis dengan pedangnya
dimiringkan sehingga bagian yang tajam tidak merusak
pedang lawan. Biarpun demikian Kong Ji merasa padangnya
tergetar dan diam-diam ia mengaku bahwa ilmu pedang
22
lawannya ini benar-benar kuat. Ia lalu berseru keras dan
mulai mainkan Ilmu Pedang Soat-lian Kiam-hoat dari Omeisan.
“Huh, tak tahu malu. Ilmu curian dipakai bertempur !”
Tiang Bu mencela gamas. Tentu saja ia mengenal gerakangerakan
dari ilmu silat Omei-san dan dapat menduga bahwa
tentulah ilmu yang dipelajari dari kitab curian.
Adapun Sin Hong ketika menghadapi pedang ini, merasa
ada hawa dingin sekali menyusup tulang. Hawa ini timbul
dari sambaran pedang Kong Ji. Maklumlah ia bahwa inti dari
ilmu pedang ini berdasarkan tenaga Im-kang yang dalam,
sehingga hawa pukulan pedang mengandung hawa dingin
yang cukup dahsyat untuk merobohkan lawan yang
lweekangnya kurang kuat.
Menghadapi Soan-lian Kiam-hoat ini, terpaksa Sin Hong
juga mengerahkan Im-kangnya untuk menahan hawa dingin.
Dari Pak-kek sin-kiam juga menyambar hawa yang
dinginnya tidak kalah oleh hawa pedang Liok Kong Ji. Bukan
main hebatnya Im-kang dari dua orang jago tua ini sampaisampai
mereka yang menyaksikan pertempuran itu merasa
dingin sekali. Lee Tai dan Ang Lian yang ilmu kepandaiannya
paling rendah di antara mereka semua, sampai menggigil
kedinginan.
Setelah lewat tiga puluh jurus, Kong Ji merobah
permainan pedangnya dan sekarang pedangnya bergerak
bagaikan angin taufan lenyap menjadi gulungan sinar
pedang yang mendatangkan hawa panas sedangkan tangan
kirinya mulai melakukan pukulan Tin san-kang dan Hektok-
ciang secara gencar dan bertubi-tubi. Inilah Ilmu Pedang
Soan-hong Kiam- hoat, juga ilmu pedang yang ia curi dari
Omei-san, yang ia pelajari dari kitab yang dibawa oleh Lo
Chian-tung Cun Gi Tosu.
Kembali Wan Sin Hong terpaksa harus mengubah
saluran lweekangnya, dan ia sekarang mengerahkan tenaga
Yang kang untuk melawan musuhnya. Ia dipaksa main adu
23
tenaga dalam oleh Liok Kong Ji yang cerdik dan diam-diam
Sin Hong mengeluh. Dalam ilmu pedang ia tidak mungkin
kalah oleh lawannya, akan tetapi kalau lawannya main adu
ilmu lweekang, ia payah oleh lukanya di dalam dada tadi Ia
sudah mulai merasa mual dan ingin muntah lagi, karena
luka di dalam dadanya yang terdesak oleh pergantian tenaga
itu kini menjadi makin parah.
Celakanya, ia tadi sudah berjanji takkan mematahkan
pedang Liok Kong Ji, maka ini berarti ia sudah kalah
selangkah. Percuma saja ia memegang pedang pusaka,
malah lebih baik memegang pedang biasa saja, tidak usah
menjaga agar pedangnya tidak menabas putus pedang
lawan.
Kong Ji makin bersemangat, menyerang mati-matian.
Terpaksa Sin Hong mengeluarkan ilmunya, pukulan Tin-sankang
yang menyambar datang ia tangkis dengan tenaga
lweekang sedangkan pedangnya membacok pundak Li Kong
Ji dengan gerakan miring, Kong Ji terkejut sekali dan
menangkis.
"Traang.......... .!” Pedang di tangan Liok Kong Ji putus
menjadi dua! Dia melompat mundur dan kesempatan yang
amat baik ini tak dapat dipergunakan oleh Sin Hong yang
sudah berjanji takkan mau mengambil kemenangan dengan
ketajaman pedangnya.
"Aku sudah tak berpedang lagi. Mari lanjutkan dengan
tangan kosong!” Kong Ji menantang, tahu bahwa dengan
tangan kosong akan ia akan lebih mudah memancing adu
tenaga untuk memperoleh kemenangan terakhir.
Dengan sikap tenang Sin Hong manyarungkan
pedangnya, agaknya siap untuk melayani Kong Ji
selanjutnya. Siok Li Hwa melompat ke dekatnya dan berkata
perlahan penuh khawatiran.
"Kau sudah terluka, lebih baik mengaso dulu, biar yang
lain melayani jahanam ini.” Yang dimaksudkan dengan "yang
24
lain” tentu saja Tiang Bu, karena Li Hwa juga maklum
bahwa selain Tiang Bu atau suaminya, tidak ada yang akan
sanggup melawan Liok Kong Ji.
Kong Ji tertawa keras, "Ha-ha-ha! Wan Sin Hong,
nyonyamu khawatir kau akan mampus dalam pertandingan.
Lekas kau turut dia pulang dan sembunyi di kamar bersama
dia!”
Inilah hinaan hebat sekali. Tidak ada hinaan yang lebih
menyakitkan hati bagi seorang gagah dari pada dikatakan
takut mati dalam pertandingan. Memang sengaja Kong Ji
menghina demikian supaya Sin Hong merasa malu untuk
mengundurkan diri. Dan ia berhasil.
Sin Hong menyuruh iasterinya mundur, lalu mju
menghadapinya. "Kong Ji, jangan sombong. Aku bukan
orang yang takut mati, apa lagi takut padamu. Majulah !”
Sambil berseru keras Kong Ji menubruk, mengirimkan
pukulan dahsyat. Sin Hong mengelak dan membalas dengan
pukulan yang tak kalah hebatnya. Dua orang musuh lama
ini kembali bertempur hebat dengan tangan kosong. Daundaun
pohon rontok dan batu-batu kecil berhamburan
terkena sambaran hawa pukulan mereka.
Tiang Bu menonton penuh perhatian. Dari wajah Sin
Hong ia maklum bahwa pendekar itu benar-benar sudah
berkurang tenaganya, akan tetapi tadi ia melihat Sin Hong
menelan tiga butir pil, maka ia mengerti bahwa luka di
dalam dada pendekar itu biarpun melemahkan tubuh, tidak
berbahaya lagi. Ia percaya penuh akan kepandaian Sin Hong
mengobati luka sendiri.
Kong Ji juga tahu bahwa biarpun ia akhirnya dapat
menewaskan Sin Hong, namun ia harus lebih dulu
menghabiskan tenaga sendiri dan kalau terjadi pertempuran
terlalu lama, ia akan menjadi terlalu lemah untuk
menghadapi yang lain. Oleh karena itu ia segera mengambil
25
jalan nekat dan cepat. Soalnya bagi dia hanya dua, hidup
atau mati.
Pada saat Sin Hong menggunakan kepalan kanan
memukul dadanya, Kong Ji sengaja bar-laku lamban,
mengerahkan lweekang untuk menahan hawa pukulan
dahsyat itu, kemudian bagaikan ular menyambar, lengan
kirinya bergerak menangkap pergelangan lengan Sin Hong
dan membarengi saat itu memukulkan kepalan kanannya ke
arah kepala lawan.
Sin Hong terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawannya
akan mengambil jalan nekat. Kalau ia menggunakan
pukulan kirinya, tentu Kong Ji akan tewas, akan tetapi dia
sendiri terancam oleh pukulan kanan lawannya yang
menyambar bagaikan geledek. Cepat ia mengambil jalan
yang sama karena untuk menyingkir tidak ada waktu lagi,
untuk menangkis masih berbahaya. Dengan gerakan tepat
tangan kirinya mencengkeram dan di lain saat pergelangan
lengan Kong Ji yang kanan juga dapat ia tangkap !
Dua orang jago tua yang lihai ini berdiri memasang kudakuda
teguh, berhadapan muka dan saling memegang
pergelangan tangan kanan lawan, saling mengerahkan
tenaga yang disalurkan melalui lengan tangan masingmasing!
Keadaan menjadi tegang sekali. Dua orang itu diam
tak bergerak seperti patung, akan tetapi urat-urat tangan
mereka menggeliat-geliat, dan tenaga dalam mereka sedang
saling dorong. Tak seorangpun di antara mereka berani
sembarangan melepaskan pegangan pada lengan lawan
karena siapa yang melepaskan pegangan lebih dulu berarti
mendapatkan pukulan lebih dulu pula.
Seperempat jam mereka berkutetan dan saling dorong
dengan tenaga dalam untuk merobohkan lawan. Baik
pergelangan tangan Sin Hong yang menjadi menghitam,
maupun pergelangan tangan Kong Ji yang menjadi biru,
terasa sakit sekali, namun tak seorangpun di antara mereka
yang mau mengalah. Kalau saja Sin Hong belum terluka di
26
dalam dadanya, tak mungkin Kong Ji dapat menang, karena
kalau Sin Hong selalu menyimpan dan memurnikan hawa
dalam tubuhnya, adalah Kong Ji yang menghamburkan
tidak karuan dengan jalan hidup menurutkan hawa nafsu
belaka. Akan tetapi Sin Hong sudah terluka berat dan dalam
usaha terakhir ini kembali ia muntahkan darah dari
mulutnya. Kong Ji mengerahkan seluruh tenaga, maklum
bahwa kemenangan sudah mendekat.
Siok Li Hwa yang melihat suaminya kembali muntahkan
darah, melompat dekat dan memukul Kong Ji dari belakang.
Akan tetapi, pukulan yang mengenai punggung Kong Ji ini
seperti mengerai daging lunak dan akibatnya kuda-kuda Sin
Hong menjadi tergempur dan hampir saja ia melepaskan
pegangannya. Ternyata bahwa pukulan Li Hwa itu dapat
direrima dan disalurkan oleh Kong Ji, dipakai untuk
menambah tenaganya mendorong Sin Hong!
Melihat ini, Tiang Bu melompat dan menarik tangan Li
Hwa mundur. Kemudian ia sendiri maju di tengah- tengah
dan sekali kedua tangannya memukul, satu ke arah pundak
Sin Hong dan yang kedua ke arah pundak Liok Kong Ji. dua
orang jago tua ini tersentak ke belakang dan pegungan
mereka terlepas !
Sin Hong cepat menjatuhkan diri, duduk bersila untuk
mengatur pernapasannya, memulihkan kembali hawa di
dalam tubuhnya yang sudah tidak karuan, membuat luka di
dadanya makin parah. Ia perlu beristirahat dan mengatur
pernapasannya untuk mengobati lukanya. Adapun Liok
Kong Ji yang tidak terluka, menjadi marah sekali melihat
Tiang Bu turun tangan,
“Kau curang..........” bentaknya sambil menyerang.
Akan tetapi Tiang Bu yang sudah menjadi gemas sekali,
tidak mau banyak cakap lagi. Serangan pukulan dahsyat itu
ia tangkis dengan pengerahan tenaga secukupnya dan
akibatnya tubuh Kong Ji terpental ke samping. Sebelum
Kong Ji sempat menyerang lagi, Tiang Bu sudah meloncat
27
dekat dan sekali tangannya menyambar ke arah pundak,
terdengar suara "kraak !” dan tulang pundak Kong Ji patahpatah!
Kong Ji mengeluarkan jeritan menyayat hati. “Aduuhh ....
kau.......... kau.......... anakku semdiri.........!”
Jeritan ini entah bagaimana membuat Tiang Bu terpukau
dan diam saja tak bergerak untuk sesaat. Saat Ini
dipergunakan oleh Kong Ji untuk menyebar jarum-jarum
Hek-tok-ciam dengan tangan kanan karena lengan kirinya
sudah lumpuh akibat remuknya tulang pundak kirinya.
Kemudian, selagi semua orang sibuk meluputkan diri dari
penyeraagan Hek-tok ciam, ia melarikan diri !
"Kejar,.. ..... !” Li Hwa berseru.
Tanpa menunggu komando lagi Tiang Bu sudah dapat
menguasai dirinya dan cepat lari mengejar. Di tengah jalan
Kong Ji yang tak sanggup melepaskan diri dari kejaran Tiang
Bu yang jauh lebih gesit itu, membalikkan tubuh dan
kembali jarum-jarum hitam ia lepaskan ke arah Tiang Bu.
Dengan mudah Tiang Bu menyampok semua jarum dan
membentak,
"Iblis jahat. kau hendak lari ke mana ?”
"Tiang Bu, kau anakku...... betul-betulkah kau hendak
membunuhku…...... ?” Kong Ji merayu sambll mendekat,
"Tutop mulnt.......... “
Mempergunakan kerempatan selagi Tiang Bu menjawab.
Kong Ji sudah memukul lagi dengan tangan kanannya,
memukul dengan Hek tok-ciang sekuat-kuatnya ! Ini
membuktikan sekali lagi betapa curang dan liciknya hati
Liok Kong Ji.
Tiang Bu terpaksa menangkis karena untuk mengelak
tidak ada waktu lagi. Saking marahnya ia mengerahkan
tenaga dalam tangkisannya dan ...... untuk kedua kalinya
tubuh Kong Ji terlempar. Kali ini ia terlalu keras terlempar,
28
sampai tubuhnya bergulingan dan kepalanya terbentur batu
hatu karang. Baiknya ia sudah bertubuh kebal sehingga
hanya mukanya saja babak belur dan berdarah, kalau tidak
tentu kepalanya akan pecah. Akan tetapi ia dapat bangun
lagi dengan cepat dan melarikan diri.
“Iblis, jangan lari!” Tiang Bu mengejar lagi.
Akan tetapi Kong Ji yang sudah tak dapat melihat jalan
ke luar, mulai merasa takut kepada puteranya sendiri. Rasa
takut membuat ia dapat lari cepat bukan main. Terpaksa
Tiang Bu mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih
cepat lagi sampai Kong Ji tiba di tepi pantai yang amat
curam, penuh batu-batu karang.
Tiang Bu takut kalau Kong Ji dapat melarikan diri ke
laut, maka ia cepat memungut batu karang kecil dan
menyambit. Mendengar suara angin sambaran batu, Kong Ji
mengelak, akan tetapi ia tidak mengira bahwa batu ke dua
yang amat kecil sehingga tak menerbitkan suara datang
menghantam belakang lututnya, membuat ia terjungkal
roboh, tak kuasa mengelak lagi. Sebelum ia dapat bangkit
berdiri, Tiang Bu sudah berada di dekatnya dan pemuda itu
menginjak punggung Kong Ji dengan kakinya.
“Kau hendak pergi ke mana sekarang ?“
“Tiang Bu ......" Kong Ji terengah-engah, “Tiang Bu .....
kau anak kandungku ..... kau lepaskanlah ayahmu ini dan
aku bersumpah ..... ..mulai sekarang takkan berlaku jahat
lagi……. aku bersumpah akan menjadi pertapa mensucikan
diri .......... “
"Iblis, siapa percaya mulutmu ? Bersiaplah untuk
mampus !"
"Tiang Bu ...... ingatlah, kalau tidak ada aku, kaupun
tidak berada di dunia ini.......... aku betul-betul sudah
bertobat. ...... ."
29
Bujuk rayu dan permintaan ampun ini sama sekali tidak
mempengaruhi hati Tiang Bu yang sudah terlampau sakit
oleh perbuatan-perbuatan "ayahnya” yang seperti iblis ini. ia
membentak keras.
"Kau masih bisa bilang tentang tobat ? Mengapa kau
tidak ingat ketika kau mencemarkan ibuku? Ketika kau
membunuh-bunuhi orang-orang tidak bordosa, ketika kau
membuntungi lengan Bi Li? Kau harus membikin
perhitungan dengan mereka itu di alam baka! Liok Kong Ji,
bersiaplah kau untuk meninggalkan dunia ini!" Tiang Bu
mengerahkan tenaga dan injakannya makin kuat.
"Aahh.......... aaaup.......... ampun.......... Tiang Bu..........’
Tiang Bu tidak memperdulikan jeritan ini, akan tetapi
tiba-tiba terdengar bentakan keren berpengaruh dari sebelah
belakangnya.
“Tiang Bu, lepaskan dia !!”
Tiang Bu menengok dengan kaget dan alangkah
herannya melihat Wan Sin Hong dengan muka pasti berdirl
di belakangnya. sikapnya berpengaruh dan tegang. Di
belakangnya datang anggauta-anggauta rombongan lainnya.
Saking herannya mengapa Sin Hong melarang dia
membunuh penjahat itu. Tiang Bu menurunkan kakinya
dari punggung Kong Ji membuat penjahat itu dapat
bernapas lagi. Terengah-engah dan mengerang-erang seperti
babi disembelih.
"Wan pek-pek, mengapa kau melarangku membunuh
lblis ini?"
"Kurena kau anaknya ! Kau boleh melawan
kejahatannya, akan tetapi kau tidak boleh membunuh dia
begitu saja! Tak boleh kau mewarisi kekejian hatinya. Ingat,
kau putera Gak Soan Li, seorang pendekar winita berpribudi
tinggi. Kalau kau membunuh dia dalam keadaan begitu,
aku.......... aku akan membencimu selama hidupku!” Katakata
Wan Sin Hong ini terdengar penuh perasaan dan
30
berpengaruh sekali, membuat Tiang Bu mundur dan
terkejut.
"Biarkan aku sendiri yang menamatkan hidupnya,
karena sesungguhnya hal itu adalah kewajibanku semenjak
aku masih muda dulu."
Akan tetapi pada waktu Wan Sin Hong berbicara dengan
Tiang Bu dan semua orang memperhatikan dua orang tokoh
ini, Liok Kong Ji sudah dapat melompat bangun lagi. Melihat
ia tak dapat mengharapkan keampunan lagi Kong Ji
melarikan diri ke pinggir batu karang yang curam.
“Kong Ji, kau hendak lari ke mana?” Sin Hong mengejar
sambil mencabut pedangnya. “Pak-kek-sin-kiam yang akan
menamatkan hidupmu !"
Akan tetapi Kong Ji tidak rela mati di tangan Sin Hong.
Dengan nekat ia lalu malompat ke depan dan…….. terdengar
air muncrat ke atas disusul oleh jerit mengerikan dari Liok
Kong Ji, Wan Sin Hong dan kawan-kawannya lari ke pinggir
batu karang, menjenguk ke bawah dan.......... pemandangan
di bawah amat mengerikan hati.
Jauh di bawah, kurang lebih dua ratus meter, kelihatan
Liok Kong Ji berkutetan dan bergumul mati-matian melawan
puluhan ekor ikan hiu yang mengeroyoknya. Baju dan
kulitnya sudah habis dikoyak-koyak ikan-ikan buas itu dan
salahnya dia melakukan perlawanan sehingga nyawanya
agak lama melayang. Saking bingung, takut dan sakitnya,
tiba-tiba Liok Kong Ji tertawa bergelak-gelak. Suara
ketawanya mengandung tenaga khikang yang luar biasa,
bergema di seluruh permukaan air laut seperti suara ketawa
seorang iblis. Akan tetapi suara ini adalah suaranya yang
terakhir karena ia lalu lenyap diseret oleh ikan-ikan itu ke
dasar laut untuk dijadikan rebutan sampai habis seluruh
tubuh berikut tulang-tulangnya !
Sin Hong menarik napas panjang dan ketika ia
menengok, ia meiihat Tiang Bu menutupi mukanya, berdiri
31
bagaikan patung dengan muka pucat sekali. Ia tahu bahwa
pemuda ini pada saat terakhir masih insyaf bahwa manusia
yang dikejar-kejar dan kemudian mendapatkan kematian
secara begitu mengenaskan, betapapun jahatnya, adalah
ayahnya sendiri. Hal ini menyenangkan hati Sin Hong
karena pemuda ini masih mempunyai watak membakti
kepada orang tua. Di samping rasa senang ini juga amat
terharu sampai ia berdiri dan memeluk pundak Tiang Bu.
“Tiang Bu, pandanglah aku sebagai ayahmu. Terus
terang saja, dahulu pernah aku suka kepada ibumu, rasa
suka yang jauh berlainan dengan rasa suka dalam hati Kong
Ji yang kotor.”
Mendengar ini, Tiang Bu memeluk Wan Sin Hong dan
menangis. Sekali ini Tiang Bu menangis sedih, mencurahkan
seluruh kesedihan hatinya karena ditinggal mati Bi Li dan
karena mempunyai ayah yang demikian jahat.
"Tiang Bu, kepandaianmu tinggi dan kau masih muda.
Masih luas dunia ini terbentang di bawah kakimu dan kau
masih akan dapat melanjutkan riwayat hidupmu yang
gemilang. Masih banyak kebabagiaan dapat kaucapai. Mari
kau ikut kami ke Kim-bun-to.........”
"Tidak, pek-pek. Terima kasih banyak atas kebaikan hati
pek-pek dan yang lain lain. Akan tetapi aku hendak kembali
ke Omei-san ......”
“Sesukamulah. Akupun dengan bibi dan adikmu akan
kembali ke Luliang-san, dan kuharap saja kelak kau suka
memberi bimbingan kepada Leng-ji.”
“Tentu, pek-pek. Kalau sudah tiba masanya, biarlah
siauwtit menurunkan apa yang telah siauwtit pelajari kepada
adik Leng Leng."
Dengan terharu mereka lalu berpisah Tiang Bu lebih dulu
meninggalkan pulau itu untuk kembali ke Omei-san, di
mana ia akan bertapa menjadi orang alim, sesuai dengan
janjinya kepada Bi Li. Adapun Wan Sin Hong lebih dulu
32
menghadiri pernikahan antara Ang Lian dan Ciu Lee Tai
yang dilakukan dengan amat meriah. Melihat Pek Lian yang
sudah memotong pendek rambutnya, diam-diam Wan Sin
Hong dan isterinya memuji kekerasan hati gadis ini. Mereka
adalah orang-orang berpengalaman, maka mereka dapat
menduga apa yang telah terjadi antara Pek Lian den Tiang
Bu, karena Ang Lian adalah seorang gadis yang tidak dapat
menyimpan rahasia dan sudah menceritakan tentang cicinya
itu.
“Cinta selalu memhawa korban,” kata Sin Hong menarik
napas panjang. "Biarpun ia diam saja, aku tahu bahwa Tiang
Bu patah hati karena kehilangan Bi Li sehingga ia ingin
kembali ke Omei-san untuk bertapa. Juga Pek Lian yang
mencinta Tiang Bu, tentu telah patah hati karena penolakan
pemuda itu sehingga bersumpah takkan menikah selama
hidupnya dan hidup sebagai seorang laki laki. Mereka itu
patut dikasihani, anak anak yang baik sekali mengalami
nasib seburuk itu ...... "
Li Hwa tersenyum. "Pek Lian memang patut dikasihani.
Akan tetapi nasib orang siapa yang tahu? Kau juga dulunya
sama sekali tidak pernah mengimpi akan berjodoh dengan
aku, bukan ? Nah, siapa tahu kalau-kalau Pek Lian kelak
menemui jodohnya. Adapun tentang Tiang Bu........... belum
tentu dia menjadi pendeta..........”
"Hee? Apa maksudmu kau bilang begitu ? Mengapa kau
begitu yakin nampaknya?” tanya Sin Hong sambil
memandang wajah isterinya yang cantik.
"Kau mendekatlah agar aku dapat berbisik. Orang lain
tak boleh tahu.........”
Tersenyum karena sifat berahasia isterinya ini, Sin Hong
mendekat. Li Hwa menempelkan bibirnya di dekat telinga
Sin Hong berbisik-bisik.
33
Wajah Sin Hong berobah. Nampak gembira bukan main
sampai ia memeluk isterinya, dipondongnya dan dibawa
putar putar di dalam kamar.
"Bagus.......... ! Bagus.......... Ah, aku girang sekali.........!”
"Hush ...... turunkan aku.......... ribut-ribut kalau
membikin kaget sepasang pengantin bagaimana?" tegur Li
Hwa.
-oo(mch)oo-
Apa yang dibisikkan oleh Li Hwa kepada suaminya?
Marilah kita mengikuti perjalanan Tiang Bu yang tanpa
menunda-nunda lagi berangkat menuju ke Omei-san, tempat
pertapaan mendiang guru-gurunya. Ia sudah putus harapan,
sudah hampa hatinya karena ditinggal pergi Bi Li untuk
selamanya. Apa artinya hidup lagi baginya? Dia bukan
seorang pengecut untuk
menghabiskan hidupnya
begitu saja akan tetapi
iapun tidak ada nafsu lagi
untuk hidup di dunia
ramai. Ia akan bertapa,
memperdalam ilmunya,
menanti ajal mencabut
nyawanya dan
membawanya bersatu
kembali dengan Bi Li
kekasihnya.
Sesampainya di puncak
Omei-san, ia
membersihkan gua tempat
suhunya bertapa lalu
mengatur sembahyangan
secara sederhana.
Pertama-tama ia
34
menyembahyangi arwah kedua orang gurunya, lalu arwah
ibunya. Tak lupa ia menyembahyangi arwah ayahnya, Liok
Kong Ji, dan mendoakan supaya ayahnya itu mendapat
pengampunan di alam baka. Akhirnya ia bersembahyang
untuk arwah Bi Li dan ia tak dapat menahan kesedihannya
lagi, menangis di depan meja sembahyang seperti anak kecil.
“Bi Li, kalau kau ada kekuasaan, lekaslah ajak nyawaku
bersamamu. Aku tidak kuat lagi hidup seorang drri di dunia
yang penuh dengan kepalsuan ini," tangisnya sambil
mengeluh panjang pendek. Saking lelah dan duka, Tiang Bu
jatuh pulas di depan meja, mendekam di atas tanah yang
hangat dalam gua itu.
Dan Tiang Bu bermimpi. Ia melihat Bi Li dengan pakaian
serba putih sederhana numun bahkan membayangkan
keindahan wajah dan bentuk tubuhnya, berjalan
menghampirinya, dengan senyum manis dan mata berkacakaca
Bi Li dengan lengan sebelah masih buntung dengan
wajah yang agak kurus dan pucat, namun sepasang mata
yang jernih dan indah masih menyinarkan cinta kasih yang
amat mendalam.
"Tiang Bu, jangan berduka, aku sudah datang di
sampingmu,” demikian Bi Li berkata dengan suara merdu.
Di dalam mimpinya. Tiang Bu merangkul gadis
kekasihnya itu erat-erat.
“Bi Li, jangan kautinggalkan aku lagi"
"Tidak. Tiang Bu. aku takkan meninggalkanmu lagi,”
jawab Bi Li mesra.
Akan tetapi di dalam mimpinya, Tiang Bu melihat tubuh
Bi Li terlepas dari pelukannya dan terbawa angin taufan lalu
terjatuh ke dalam air laut yang bergelombang. Datang ikanikan
hiu mengeroyok Bi Li, persis seperti ketika tubuh Kong
Ji digerogoti ikan-ikan hiu buas itu. Ia mendengar Bi Li
menjerit-jerit seperti Liok Kong Ji pula, akan tetapi enehnya
jerit Bi Li ini bukan minta tolong seperti Liok Kong Ji
35
melolong kemudian tertawa mengerikan, melainkan Bi Li
memanggil-manggil namanya.
“Tiang Bu.......... ! Tiang Bu....! Sadarlah ……..”
Dan Tiang Bu sadar dari mimpinya. Ataukah ia masih
bermimpi? merasa tubuhnya dipeluk, kepalanya di atas
pangkuan dan pundaknya digoyang-goyang. Terdengar suara
Bi Li seperti dalam impian tadi.
"Tiang Bu .......... sadarlah.......... ahh. Tiang Bu, sudah
lama aku menanti di sini, jangan kau tinggalkan aku ......
Tiang Bu…….”
Tiang Bu membuka matanya dan di bawah sinar lampu
yang entah dari mana datangnya ia tak tahu, ia
melihat.......... Bi Li duduk di atas tanah, memangku
kepalanya dan gadis itu meneteskan air mata di atas
mukanya.
Tiang Bu menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak berani
bergerak atau mengeluarkan kata-kata karena khawatir
kalau-kalau mimpi indah ini akan lenyap dan ia akan sadar
mendapatkan dirinya seorang diri dalam gua. Ia ingin
menikmati mimpi bertemu dengan Bi Li ini selama mungkin.
Melihat Tiang Bu sudah membuka mata akan tetapi diam
saja, Bi Li berkata,
“Tiang Bu, kenapa kau diam saja? Ini aku, Bi Li. Tidak
senangkah kau melihat aku di sini ?”
Tiang Bu kaget sekali ketika merasa betapa air mata yang
menitik turun dari mata Bi Li itu membasahi pipinya, benarbenar,
karena ketika ia meraba, pipinya sudah basah.
Serentak ia bangkit duduk dan memegang lengan Bi Li.
"Bi Li.......... tidak mimpikah aku.......... ?"
Bi Li menatap wajah kekasihnya dengan air mata
berlinang, lalu menggeleng kepala. "Tidak, Tiang Bu. Kita
dalam keadaan sadar. Aku berada di sampingmu, di puncak
Omei-san."
36
"Bi Li.... " dada Tiang Bu berombak keras, wajahnya
pucat seperti kertas saking tegangnya perasaan hatinya.
"Bukankah.......... bukankah kau mati dimakan ikan di laut
Pek houw-to ..... ?"
Bi Li mengambil tangan Tiang Bu dan diciumnya tangan
itu. "Tidak, Tiang Bu. Aku tidak mati, aku masih hidup dan
langsung ke sini untuk menantimu datang …….”
"Bi Li.......... ya Tuhan.......... kau betul-betul masih
hidup.......... ?" Tiang Bu tiba-tiba menjadi lemas dan.......
jatuh pingsan di atas pangkuan Bi Li.
Kegirangan yang tiba-tiba, yang amat keras berlawanan
dengan keputusasaan dan kedukaannya, merupakan
pukulan hebat bagi Tiang Bu, membuatnya roboh pingsan
untuk kedua kalinya. Tadipun ketika ia tertidur, ia
sebetulnya roboh pingsan sampai Bi Li datang dan
menyadarkannya.
Tentu saja Bi Li menjadi bingung, hanya dapat
memanggil-manggil nama Tiang Bu, memijit-mijit kepalanya
dan menyiram mukanya dengan air mata. Akhirnya Tiang Bu
siuman kembali. Begitu ia siuman, ia hanya dapat mameluk
Bi Li dan mendekap kepala gadis itu di dadanya sambil
meramkan mata dan memuji syukur kepada Thian Maha
Pengasih. Sampai lama keduanya berdiam seperti patung
dalam keadaan bagitu, hanya terdengar Bi Li terisak
perlahan dengan hati bahagia.
Setelah detak jantungnya normal kembali dan tenaganya
putih pula, baru Tiang Bu melepaskan dekapannya,
memandangi wajah kekasihnya, membelai rambutnya penuh
kasih sayang, lalu bertanya.
"Aduh, Bi Li, kau benar-benar bisa membikin aku mati
kegirangan. Bagaimana kau bisa berada di sini? Aku melihat
kau jatuh ke dalam laut dan lenyap. Apakah ada jalan dari
dasar laut menembus ke sini?"
37
“Panjang ceritanya, Tiang Bu. Dan yang tahu akan hal ini
kiranya Pek Lian dan bibi Siok Li Hwa. Kemudian, sambil
menyandarkan kepalanya di dada Tiang Bu. Bi Li
menceritakan pengalamannya seperti yang diceritakan dalam
bisik-bisik oleh Siok Li Hwa kepada suaminya, Wan Sin
Hong.
Ternyata bahwa ketika Bi Li terseret oleh Liok Cui Kong
jatuh ke dalam laut, kebetulan sekali lewat perahu yang
ditumpangi oleh Pek Lian dan Siok Li Hwa. Dua orang
wanita ini sedang melepaskan kekesalan hati menunggu di
pantai sambil sekalian meronda, kalau-kalau Liok Kong Ji
akan melarikan diri dari pulau itu.
Melihat Bi Li terseret jatuh oleh Liok Cui Kong. dua orang
Wanita itu segera menolongnya dan membiarkan Liok Cui
Kong habis dimakan ikan hiu. Bahkan mereka cepat-cepat
mendayung perahu itu ke daerah lain agar jangan melihat
kengerian itu.
Melihat bahwa yang menolongnya Pek Lian, Bi Li lalu
teringat akan sikap Pek Lian kepada Tiang Bu. Ia berpikir
bahwa Pek Lian memang jauh lebih cocok untuk menjadi
jadoh Tiang Bu. Gadis ini tidak hanya cantik jelila dan juga
gagah perkasa, malah kedua tengannva masih lengkap, tidak
buntung seperti dia. Di depan Siok Li Hwa, secara terus
terang ia berkata,
"Aku mohon kepada adik Pek Lian dan bibi Li Hwa, agar
supaya hal diriku ini dirahasiakan dari siapapun juga. Aku
ingin dianggap sudah lenyap dan mati."
"Eh. mengapa begitu, enci Bi Li?" tanya Pek Lian
terheran.
Bi Li memandang ke arah lengannya yang buntung.
"Sebetulnya aku malu masih harus hidup di dunia ini. Aku
hidup hanya karena ingin membalas dendam. Sekarang Cui
Kong si keparat sudah mampus, dan Kong Ji tinggal menanti
saatnya saja. Aku minta bibi dan adik suka berjanji,
38
rahasiakan bahwa aku masih hidup. Sanggupkah menolong
aku orang malang ini?”
Pek Lian benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi Li Hwa
yang sudah banyak pengalamannya, dapat menduga bahwa
Bi Li tentu mengalami hal yang amat menyedihkan dan ingin
dianggap mati oleh seorang tertentu.
Mungkin Tiang Bu orang itu. Mengapa? Ia belum tahu
ketika itu. Maka ia lalu memberi isyarat kepada Pek Lian
dan menyanggupi permintaan Bi Li.
"Selanjutnya kau hendak ke manakah? Atau hal ini juga
dirahasiakan dari kami ?"
Bi Li menjadi merah mukanya. "Memang aku orang
sengsara ji-wi sudah menolong nyawaku masih saja aku
memberi beban kepada ji-wi. Biarlah ji-wi ketahui bahwa
aku hendak pergi ke Omei-san dan bertapa di sana sampai
aku mati." Setelah berkata demikian, Bi Li lalu
menggunakan sebuah perahu pergi dari situ.
Ia benar-benar langsung menuju ke Omei-san dan
menanti Tiang Bu di sana. Ia hanya mempunyai dua pilihan.
Tiang Bu datang dan betul-betul pemuda itu tidak mau
menerima Pek Lain dan memilih menjadi pertapa itu berarti
pemuda itu betul-betul mencintanya sepenuh hati. Kalau
Tiang Bu tidak datang dan hidup bahagia dengan wanita
lain, ia rela menjadi pertapa di bukit itu.
Dan ternyata Tiang Bu datang, bahkan menyembahyangi
arwahnya ! Dapat dibayangkan betapa bahagia hatinya.
Demikianlah penuturan Bi Li kepada Tiang Bu, juga
penuturan Li Hwa kepada Sin Hong tentu saja dengan cara
lain dan pandangan lain.
"Bi Li," kata Tiang Bu. "Mengapa kaulakukan semua itu ?
Mengapa kau ingin pergi meninggalkan aku dan
membiarkan aku merana dan berduka, mengira kau sudah
tewas ?”
39
Sambil menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya,
Bi Li berkata,
“Aku memberi kesempatan kepadamu memilih Pek Lian,
biar aku menjadi pertapa yang selalu mendoakan untuk
kebabagiaanmu di sini ...... "
Tiang Bu mencium kepala kekasihnya. "Bi Li, jadi kau
...... kau waktu itu cemburu.......... ?"
Tanpa mengangkat muka, Bi Li berkata lirih, "Cemburu
sih ada sedikit, akan tetapi terutama untuk menguji sampai
di mana besarnya cinta kasihmu, apakah sebesar cinta
kasihku kepadamu…….."
Tiang Bu hanya dapat mendekap kepala kekasihnya
dalam kebahagiaan yang hanya dia sendirilah yang tahu.
Sementara itu, bulan muncul dari balik awan, berseri
menyaksikan pertemuan kembali antara dua orang kekasih
yang penuh kasih mesra itu. Angin gunungpun bersilir,
menerjang memasuki gua untuk membelai dua orang muda
remaja yang sedang dibuai asmara itu.
Sampai di sini tamatlah cerita Pek lui-eng ini dan
berakhirlah pula kejahatan-kejahatan dan kekejian dari Liok
Kong Ji dan kaki tangannya. Thian Maha Adil, betapa pun
pandai orang seperti Liok Kong Ji itu bermuslihat, akhirnya
orang jahat akan menemui hukumnya. baik di dunia
maupun di akhirat.
Inilah kodrat Tuhan, inilah keadilan Thian, pasti dan tak
dapat dibantah pula, seperti pastinya siang dan malam. Oleh
karena itu, setiap orang manusia harus selalu mengemudi
nafsunya, harus selalu menguasai dirinya, menjauhkan
kejahatan sedapat mungkin, dan memupuk kebajikan
sebanyak mungkin, kalau dia hendak mendapat
kebahagiaan dinia akhirat !
TAMAT