4. Selembut Embun

19.8K 4.4K 168
                                                  

Banyak yang takut pada gelap padahal lelap adalah kegiatan paling membahagiakan. Saat memejam, pekat merupakan bagian pertama yang menjemput. Membawa terhanyut, hingga jiwa yang pasang surut, rela melepas penat.

Namun Anin tidak berada dalam momen yang tepat untuk dibawa berkelana menuju alam semesta. Ia masih terjaga, sekali pun netranya tertutup. Tangannya telah berhenti mengelus tengkuk Affan, tetapi debar di dadanya tetap saja ribut. Ia mencoba mendamaikan hatinya yang resah dengan mengikuti permainan yang ia cipta. Awalnya, ia pikir bisa. Rupanya, sentuhan Affan pada punggung dan bibirnya cukup membuat tersiksa.

Karena itulah, Anin mencoba mundur. Ia menarik diri, berusaha menormalkan pandangannya seperti sedia kala. Ia sentuh dada Affan dan mendorongnya demi membuat jeda.

“Udah?”

Dan ketika suara Affan bersimfoni dengan sinar keemasan yang membanjiri mereka, Anin tertegun tak segera mengangguk. Ia pandangi Affan beberapa saat, menyandra irisnya yang sekelam malam dengan netranya yang haus. Namun hal itu tak berlangsung lama, segera setelah alarm siaga di kepalanya mendentingkan peringatan, Anin memutus tatapan. Ia angkat  tangannya, menghapus bekas lipstick yang menempel di sudut bibir pria itu. “Udah,” bisiknya tersenyum kecil.

Affan tertawa, ia melakukan hal yang sama pada Anin walau ekor matanya tetap waspada. “Siapa nama istrinya Cakra?”

Setelah berhasil menekan gemuruh ribut di dadanya, Anin kembali memulas senyum. Ia mencoba melirik pada sosok semampai yang kini telah keluar dari dalam mobil. Memerankan tokoh wanita yang sedang jatuh cinta, Anin pura-pura mencebik. Lalu mendekatkan kepalanya ke sisi telinga Affan dengan gerakan menggoda. “Briana,” bisiknya seraya menyematkan tawa kecil di sana. Kemudian mengerling lagi, kini Cakra telah keluar dari persembunyian. “Bisa kita selesaikan ini sekarang?” bisiknya pelan. Ia mulai tak nyaman dengan situasi yang ia ciptakan sendiri.

Affan mengangguk tak kentara, seraya merapikan kemejanya sendiri ia memundurkan langkah. Ia sedang bersiap merengkuh pinggang Anin, ketika suara Cakra terdengar mendekat.

“Bri? Kamu udah pulang?”

Otomatis atensi mereka pun berpindah.

“Oh, iya, udah.” Briana langsung berjalan mendekati suaminya, walau fokusnya tak bisa melepaskan Anin begitu saja. “Aku nggak tahu Anin punya pacar,” gumamnya yang masih bisa didengar.

Cakra berdeham seraya mencoba menciptakan gesture santai. “Affan calon suami Anin. Waktu Anin dijodohkan, kamu nggak di sini,” jelas Cakra tanpa repot-repot memerhatikan sang istri. Karena sudah jelas sekali, hujaman irisnya masih mengarah pada Anin. “Fan, ini istri gue. Kayaknya kalian perlu kenalan.”

“Nggak perlu,” sambar Anin tenang. “Kita lagi buru-buru,” ia langsung menarik tangan Affan. “Aku belum makan, Fan. Kamu bilang acara jam tujuh ‘kan? kita pasti telat.”

Menyeringai kecil, Affan membuka kunci pada mobilnya. Membiarkan Anin terlebih dahulu masuk ke dalam. Affan menyempatkan diri menoleh ke belakang, senyum simpulnya hadir sejenak demi beramah-tamah. “Lain kali, Ya, Cak? Adek lo nggak sabaran banget,” selorohnya seraya melambai sekadarnya.

“Seneng ya, cari perhatian?”

Affan hanya mengedik. Ia pakai sabuk pengaman dan mulai menyalakan mesin. Seraya membunyikan klakson tanda berpamitan, ia paku jalan di depan. “Cuma mencoba ramah sama calon keluarga.”

“Klasik,” sindir Anin mulai membuka kembali tasnya. Mengeluarkan lipstick dan cermin kecil dari dalam tasnya. “Kamu belum bersihin bibir, Fan,” tegur Anin mengangsurkan dua lembar tisu.

Affan menerimanya dan mulai berkaca lewat spion tengah. “Udah nggak ada ‘kan?”

Memerhatikan wajah Affan dengan saksama, Anin pun menggeleng. “Kok keliatannya kita enteng banget, ya, ngejalani semua ini?”

Bening Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang