Blurb

0 1 0


Sepi dan sunyi bukanlah kalimat yang pantas lagi disandingkan dengan kota metropolitan ini. Tahun 2050, kota ini hampir tidak pernah tertidur, Hoverbike banyak berlalu lalang di tengah malam seperti ini.

Sekarang, aku berada di salah satu atap gedung tertinggi di kota ini. Menyimak berbagai peninggalan revolusi yang hampir saja telah punah ditelan zaman.

Teknologi semakin canggih, dan dengan itu pemerintah berusaha memerintah dengan cara mengambil alih dengan paksa.

Mereka berlomba-lomba dalam menciptakan berbagai inovasi-inovasi terkini untuk sekedar memunculkan nama mereka pada blankspace yang kini sudah berbentuk hologram.

Yang terbaru adalah Hoverbike yang kini mengitari kepalaku. Papan selancar elektronik yang bisa mengudara tanpa polusi. Sejak peluncurannya 1 bulan lalu kendaraan itu sudah hampir di miliki oleh seluruh penduduk.

Memudahkan penggunanya tidak perlu lagi menggunakan kereta cepat bawah tanah. Para konglomerat yang sanggup membelinya akan dengan cepat tertawa sombong diatas penderitaan kaum underworld. Ya, Kami adalah underworld.

Setelah revolusi, pemerintah membagi kasta kami. Highworld dan underwold. Tidak hanya itu, mereka juga membuang seluruh benda peninggalan revolusi seperti telivisi, sepeda motor, mobil, dan benda-benda lain nya yang dikira sudah ketinggalan jaman.

Satu hal, aku hanya ingin membuat mereka, kaum highworld merasakan apa yang kami, kaum underworld rasakan.

Sebelum akhirnya aku bertemu dengan si nama aneh itu. Prasati Ambarawa.

The MoonlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang