PROLOG

717 57 9
                                              


Namaku Kanaya. Lengkapnya Kanaya Tsabita. Itu nama pemberian Bunda Wuri, wanita yang mengasuh dan membesarkan aku dan anak-anak yang lain. Ada Utari, Mega, Putri dan banyak lagi. Mereka semua lebih mudah dariku. Jadi, di rumah ini aku adalah anak tertua.

Sampai menginjak remaja, aku memang tidak tahu siapa orang tua kandungku. Aku juga tidak ingat sejak kapan aku tinggal di sini. Anak-anak yang lain pasti juga sama sepertiku. Tidak tahu asal usul dan silsilah keluarga mereka.

Sebetulnya saudaraku banyak. Tapi kebanyakan sudah tidak tinggal di sini lagi. Mereka sudah diadopsi. Jadi mereka  pindah ke rumah keluarga barunya.

Di rumah ini anak bunda yang awet hanya kami bertiga, aku, Mega dan Putri.

Awalnya aku tidak suka jika ada salah satu dari adik-adik itu pergi. Aku merasa ada yang hilang. Dan itu menyakitkan. Tapi bunda Wuri bilang, itu demi kebaikan adik-adik.

“Mereka akan mempunyai keluarga yang utuh, Nay. Mereka akan mendapat kasih sayang berlimpah. Masa depan mereka juga akan terjamin,” begitu kata Bunda Wuri.

“Jadi, suatu saat aku juga akan pergi dari sini ya, Bunda? Aku juga akan berkumpul dengan keluarga yang mengadopsiku?” tanyaku pada suatu waktu.

Bunda Wuri diam beberapa saat. Tangannya mengusap kepalaku pelan.

“Kau tetap di sini selama kau mau, Naya,” ujarnya pelan.

Aku merasakan tatapannya sedikit aneh saat mengatakan hal itu.

Adik-adikku datang dan pergi silih berganti. Pada akhirnya aku merasa biasa. Tak sedih lagi saat harus ada yang diadopsi. Kehilangan menjadi tawar. Tak ada lagi sedih yang berlarut-larut.

Aku sampai hafal kalimat yang diucapkan oleh Bunda pada “upacara pelepasan” adik-adik.

“Terima kasih, karena sudah mengadopsi salah satu anak kami. Semoga anak-anak membawa berkah bagi keluarga  bapak dan Ibu.  Semoga makin dilancarkan rejeki bapak dan ibu sekalian.”

“Kalian, baik-baik ya dengan mama dan papa kalian. Doa bunda dan kakak-kakak di sini selalu bersama kalian.”

Kemudian kami akan berpelukan. Lalu mereka akan pergi meninggalkan rumah ini. Sebagian masih suka berkunjung. Sebagian lagi hilang kabar seperti ditelan bumi.

Kadang tanpa disangka, tiba-tiba ada anak baru yang datang. Bunda akan mengenalkannya pada kami sebagai saudara baru. Kami menerima dengan tangan terbuka, tanpa bertanya lebih jauh tentang asal usul mereka.

Buat apa?

Toh kami sendiri juga tidak tahu siapa kami sebenarnya.

Dulu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah bertanya pada bunda.

"Siapa orang tua kandungku, Bun? Aku anak siapa?”

Dan bunda selalu menjawab, “Kanaya anak bunda. Meski tidak terlahir dari rahim bunda, Kanaya tetap anak bunda.”

Sejak saat itu aku tidak pernah bertanya lagi. Aku juga tak peduli lagi dengan ejekan teman-teman di sekolah yang menyebutku sebagai anak haram jadah.

Sekalipun bunda Wuri bukan ibu kandungku, tapi kasih sayang beliau tak ada tandingannya.

Bagiku lebih baik aku fokus belajar, sambil membantu bunda menjahit.

Iya, bunda menghidupi kami dari usaha menjahit di rumah. Ada beberapa asisten yang membantu. Sebagian pulang saat sore menjelang. Sebagian lagi tetap tinggal dan hanya pulang kampung di waktu lebaran.

Mungkin karena terbiasa melihat bunda berkutat dengan kain, gunting, jarum pentul dan alat-alat lainnya,  aku jadi ikut suka pada dunia jahit menjahit.

“Ambillah kursus desain busana, Nay. Bunda ingin kamu lebih maju dari bunda. Bunda ingin usahamu bukan hanya sebatas di rumah seperti ini. Kau harus jauh lebih berkembang. Punya butik dan menghasilkan karya-karya yang hebat.”

Aku mengikuti nasihat bunda. Dalam hati aku bertekad akan mewujudkan impiannya.
Memiliki sebuah butik yang menghasilkan karya-karya hebat.

Oiya, mungkin kalian bertanya tentang suami bunda.

Aku beri tahu, sejak aku tinggal di rumah ini, sejak bunda mengasuhku, aku tidak pernah tahu sosok yang disebut sebagai suami bunda. Bunda sendirian saja. Jadi di rumah kami tidak ada laki-laki yang dipanggil ayah.

Mungkin karena terbiasa tak ada laki-laki di rumah, di sekolah aku jadi canggung jika harus bergaul dengan teman cowok. Aku tak tahu sebabnya. Aku hanya merasa tidak nyaman jika harus berdekatan dengan mereka.

Maka ketika Mega bercerita dengan wajah merona bahwa dia sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya, aku heran.

“ Jatuh cinta? Apa itu?”

“Yaelah, Kakak! Masa Kakak nggak pernah jatuh cinta, sih? Jatuh cinta itu sangat menyukai lawan jenis! Paham?” mata Mega berkilau lagi.

Hmm, sangat menyukai lelaki. Mengapa? Apa yang disukai dari lelaki?

Beberapa bulan berselang, aku melihat Mega kehilangan keceriaan. Matanya sembab karena sering menangis. Nafsu makannya turun drastis. Malas beraktifitas. Bahkan dia mulai sering bolos sekolah.

“Dia patah hati, Nay. Hendra punya pacar lagi,” kata bunda waktu aku tanyakan perubahan Mega.

Patah hati? Cowok yang disukai mati-matian itu punya pacar lagi?

Oh, apakah perempuan jatuh cinta hanya untuk patah hati?
Buat apa?

Melihat Mega seperti itu, aku makin merasa jengah dengan makhluk yang bernama lelaki.
Bukankah tanpa mereka hidup akan baik-baik saja?

***







Misteri Sebuah GaunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang