Love Maze

21 3 2
                                                  

[ Seokjin ; Love Maze ]

Kita tidak boleh merindukan satu sama lain dalam labirin cinta
-BTS, Love Maze.
...

Sulji sedang was-was belakangan ini. Semenjak sang pujaan hati pergi melaksanakan tugas mulianya di kota, Sulji sering dengar bisikan orang-orang temtang hubungan mereka.

"Eiy, Sulji itu masih muda, tapi mau saja menikah dengan duda."

"Seokjin tampan, sih. Mapan juga. Siapa yang tak mau dengan pria seperti itu."

"Sulji dan Seokjin itu seperti om dengan ponakan. Seokjin lebih cocok dengan wanita karier seperti Yura."

"Sulji pakai ilmu apa sampai-sampai dokter tampan itu mau menikahi wanita yang berbeda usia 10 tahun dengannya."

Sulji jadi bertambah kurus karena banyak pikiran. Perkataan orang-orang membuatnya berpikir bahwa ia tak cocok dengan Seokjin. Ia tak ingin termakan omongan orang, tapi semua perkataan itu menggoyahkan imannya.

Seokjin terlalu sempurna untuk gadis biasa seperti Sulji. Banyak wanita cantik dan mapan yang lebih pantas bersanding dengan suaminya.

Sulji kerap menghabiskan malamnya dengan menangis. Matanya selalu bengkak tiap pagi. Ia merasa tak cukup baik menjadi istri Seokjin.

...

"Sayang, aku pulang!"

Seokjin memanggil sang istri tepat setelah ia masuk ke rumah kecil mereka. Ia begitu merindukan istrinya. Seminggu tanpa saling mengabari membuatnya ingin cepat-cepat bertemu dan menghadiahi puluhan kecupan di wajah Sulji.

"Sulji?"

Seokjin melangkah ragu menuju kamar. Istrinya yang ceria tak menjawab panggilannya. Ia dapati tubuh berbalut selimut memunggungi dirinya.

"Sayang?"

Seokjin mendekat dan duduk di sebelah Sulji. Ia pegang bahu sang istri yang terlonjak kaget.

"A-ah, kau pulang. Aku tak mendengar suaramu tadi, Sayang."

Sulji gelagapan duduk. Rautnya pucat dan Seokjin bisa lihat bekas airmata di pipi Sulji yang menirus.

"Kau kenapa? Ada yang menyakitimu?"

Seokjin raih kedua bahu Sulji. Memandangnya dalam dan mendapati sepasang iris yang selalu terlihat binarnya itu berubah sendu.

"Tidak ada apa-apa, Seokie. Aku hanya mengantuk."

Seokjin mengernyit tak terima. Ia pandangi netra Sulji dengan perasaan marah. Ada sesuatu yang menyakiti Sulji dan Seokjin benci hal itu.

"Cerita padaku! Aku bukan orang asing, Sulji. Aku suamimu. Kita sudah berjanji pada Tuhan untuk berbagi suka dan duka," ucap Seokjin.

Sulji menunduk. Ia malu untuk menceritakan beban yang selama ini ia simpan.

"Hei, Sayang. Tak apa. Jujur saja."

Seokjin mengelus surai sang istri yang agak lepek. Seokjin ingin memeluk istrinya karena sangat rindu, tapi Sulji punya hal yang harus ia bagi pada suaminya sekarang.

"A-aku mendengar dari tetangga bahwa kita tak pantas bersama. Kau tampan dan mapan, sedangkan aku hanya gadis yatim piatu lulusan SMA, Seokie. A-aku merasa mereka benar. Kau tak pantas bersamaku."

Sulji menangis setelah itu. Ia tutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Astaga. Demi Tuhan, Sulji! Aku menikahimu tanpa melihat kekuranganmu. Aku mencintaimu tanpa sebab dan rasa ini takkan pernah hilang atau berpaling. Kau belahan jiwaku. Jangan dengarkan omongan orang karena mereka tak tahu seberapa besar aku takut kehilanganmu."

Seokjin meraih Sulji yang menangis ke dalam pelukannya. Ia tenangkan sang istri yang terisak. Hati Seokjin sakit saat mendengar isakan sang istri.

"Aku mencintaimu, Kim Sulji. Selamanya. Jangan takut lagi."[]

Terima kasih untuk kontribusinya Lalaaaapr.💜

Maaf lama sekali :((

Xoxo,
Kacoo.

ɱɛɱɛɳtѳ. [ ɓtร ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang