Chapter 1 - Seungyoun Brawijaya dan Adiknya

429 123 118

Tidak ada yang bersuara dalam ruang rapat yang didominasi warna putih itu. Tiga orang di sana sedang mencerna apa yang baru saja terjadi satu jam yang lalu.

"Haaaah..." Seungyoun menghela nafas panjang. Tanda lelah akibat serangan kenyataan yang baru saja ia terima. Sialan! Bahkan dari dalam peti matinya saja, ayahnya bisa sangat menyebalkan. Bagaimana bisa ia meninggalkan surat wasiat yang isinya di luar nalar seperti saat ini?

Apa pria tua itu gak mikir saat nulis 'Seungyoun papa ninggalin harta yang paling berharga, yaitu adik tiri kamu. Jaga Dohyon baik-baik dan papa harap kamu bisa pulang ke Indonesia dan menetap di rumah Kebayoran.'

Gila kan? Sudah hampir delapan tahun Seungyoun melarikan diri jauh dari rumah. Ia memilih untuk melanjutkan studi dan menetap di Berlin. Meninggalkan ayah dan juga wanita yang baru dinikahinya.

Jangan salah, kisah hidup Seungyoun tidak seperti dalam sinetron picisan. Ia hanya seorang anak laki-laki yang ditinggal mati oleh ibunya yang sakit sepuluh tahun yang lalu saat dirinya baru berusia delapan tahun.

Ayahnya, Anton Brawijaya adalah seorang drummer terkenal di Indonesia. Jiwa bebas dan disertai juga oleh padatnya jadwal manggung ayahnya menyebabkan Seungyoun kecil lebih sering menghabiskan waktu bersama nenek di rumah. Tentu saja hubungan ayah dan anak tersebut semakin jauh setiap harinya.

Puncaknya, pada umurnya ke 17 tahun, sang ayah membawa seorang wanita muda yang cantik. Hanya lebih tua sepulu tahun dari Seungyoun. "Youn, kenalin. Ini Irene, mulai bulan depan panggil dia mama ya?"

Reaksinya? Diam. Ya, Seungyoun memilih untuk tetap diam. Tidak menolak tapi juga tidak menerima sepenuhnya. Irene adalah perempuan yang baik. Terlihat jelas dari bagaimana ia berbicara dan juga memperlakukan Seungyoun. Perempuan itu juga jelas-jelas mencintai ayahnya dengan tulus, tidak seperti gosip yang beredar di kalangan keluarga besarnya.

Setelah Irene melahirkan seorang anak laki-laki, Seungyoun merasa tidak mau mengganggu keluarga kecil yang bahagia tersebut. Makanya dia memilih untuk pergi menjauh.

Lucunya setelah hidupnya hampir mapan, bahkan dia akan memulai karirnya sebagai salah satu drummer grup band Berlin yang sedang naik daun, kenyataan kembali menertawakannya. Seminggu yang lalu sang ayah kecelakaan dan meninggal dunia, menyebabkan dirinya harus pulang ke Indonesia untuk memberi salam perpisahan terakhir. Serta dirinya dipaksa untuk mendengarkan surat wasiat yang sudah disiapkan ayahnya.

"Youn, soal isi surat wasiat papa kamu tadi.. Kamu punya hak untuk gak ikutin hal yang tertulis di sana," ucap Irene sambil melemparkan tatapan setengah meminta maaf.

Seungyoun memandang perempuan itu, lalu beralih ke arah anak laki-laki berpipi tembam di depannya. Anak yang berusia sekitar 9 tahun itu memandang Seungyoun dengan tatapan takut. Wajar, walau mereka kakak adik tiri, tapi baru kali ini keduanya bertemu muka secara langsung.

Seungyoun mengeluarkan senyum tipisnya saat melihat persamaan yang dimiliki  mereka berdua dalam struktur wajah. Mata Dohyon benar-benar mirip dengannya, turunan dari sang ayah. Mau gimana pun juga darah tetap lebih kental dari air kan?

Butuh keheningan beberapa menit sampai akhirnya Seungyoun bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arah Dohyon. Pria itu berjongkok di depan kursi anak tersebut. "Dohyon.. Halo.. Mulai sekarang panggil aku kakak ya. Kak Seungyoun." Ia menempatkan tangannya di rambut halus Dohyon dan mengacaknya pelan.

Bohong kalau jantung Seungyoun tidak berdebar kencang karena adrenalin. Dia baru saja mengambil langkah besar dalam hidupnya untuk membuka hati dan pulang ke rumahnya.

🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒

Enam tahun kemudian.

The Devil In Black Jeans (Seungyul)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang