please stay afloat.

61.3K 2.2K 67
                                    

Happy Reading.

*

Mataku enggan untuk terbuka, merasakan tepukan halus dipipiku sekalipun, rasanya lebih baik aku tidur dan tidak melihat apapun.

Jawabannya satu, aku takut.

Takut melihat apa yang terjadi dengan Jimin, Paman dan Brian. Aku tidak bisa melihat Paman dan Jimin terluka. Aku tidak mau.

"Sayang bangun. Jangan buat aku khawatir!" Telingaku menangkap suara lirih seseorang. Itu terdengar seperti suara Jimin tapi aku tidak yakin.

"Aliya kumohon jangan seperti ini. Lihat aku!" Suara Jimin semakin lirih dan dengan terpaksa aku membuka mataku.

Perlahan, dan aku hanya melihat langit kamar yang dingin. Kurasakan jika tubuhku tertarik kasar dan aku yakin ini Jimin.

"Kumohon jangan seperti ini lagi. Aku tidak bisa melihatmu terluka!" Ketenangan itu datang saat Jimin memelukku. Benar ini Jimin. Park Jimin.

"Ji?" Mata kami bertemu saat Jimin melepaskan pelukannya. Dia terlihat sangat bahagia dan jangan lupakan jika wajahnya masih penuh dengan luka. Aku pastikan jika kami masih dikamar rumah.

"Bagaimana keadaan Paman Steven? Dan mana Brian?" Kulihat Jimin menunduk dalam. Sebenarnya apa yang terjadi tadi.

"Ji katakan yang sebenarnya!" Aku menuntut jawaban yang benar dari Jimin. Aku ingin tau semuanya.

"Steven~~"

"Apa yang terjadi dengan Paman!"  Aku kalut, Paman tidak muncul dari tadi.

Tunggu dulu, bukankah tadi.

Flashback.

"Ji!" Aku mencoba bertahan dengan sisa tenagaku. Aku tidak bisa melihat Jimin dan paman melakukan pembunuhan pada Brian. Ini kriminal, aku tidak mau Jimin terlihat dalam hal kotor ini, dan Paman tidak boleh melakukan pembunuhan lagi. Dia terlalu banyak mengotori tanganya dengan darah!

"Kau membuat adikku hamil dan kau bersembunyi seolah tidak terjadi apapun, Bangsat sepertimu pantas mati!" Mataku mencoba bertahan saat kegelapan akan datang.

"Kirim aku menemui adikmu dan ya aku memang ingin bertemu dia. Tapi aku juga ingin membawamu Serta. Jadi mari keneraka bersama!"

"Ji akhhh!" Mataku semakin sayu, dan aku bisa melihat bayangan paman Steven dan Brian yang jatuh kelantai. Paman!

Flasback End.

"Ji tidak mungkin. Dimana Paman!" Aku berteriak keras dan Jimin hanya menunduk dalam.

"Ji!" Aku meronta saat Jimin memelukku, aku tidak mau seperti ini. Aku tidak mau.

"Berdoa saja semoga Steven baik-baik saja!"

"Dimana dia sekarang!"

"Harabojie membawa dia kerumah sakit!"

"Harabojie?"

+

"Tapi bagaimana bisa?" Jimin mencoba menahan Aliya yang terus berusaha masuk kedalam ruangan Steven. Ini benar-benar menyulitkan. Aliya kekeh ingin masuk.

"Aku harus melihat Paman. Dia seperti ini karena aku. Aku yang membuat Paman seperti ini. Jika saja dia tidak memaksa masuk atau menyelematkan aku dari Brian ini tidak akan terjadi!" Teriakkan lantang Aliya membuat semuanya menunduk. Yang Aliya katakan benar. Jika saja Steven menunggu yang lain ini tidak akan terjadi.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang