Finally

6.7K 200 4

Sepasang mata itu adalah Regas. Ia melihat kedekatan antara Bembenk dan Moza saat di kamar.

Ia yakin kalau Bembenk punya perasaan lebih dari sekedar perasaan sayang seorang sahabat.

"Regas?" Moza memanggil Regas yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Moza bangkit dan menghampiri Regas.

Bembenk nampak salah tingkah ditatap oleh Regas. Tatapan yang tidak suka atau cemburu entahlah pikir Bembenk.

"Aku boleh bertanya sesuatu?" Bembenk bertanya saat Moza dan Regas masih diam dengan pikiran mereka masing-masing.

"Baik kalau dari kalian masih diam seperti ini. Lebih baik aku pulang. Bye Moza"

"Tunggu.." teriakan Moza membuat Bembenk berhenti. "Maaf kalau aku nggak jujur padamu Benk. Aku dan Regas sebenarnya.."

"Kami saudara tiri" sambar Regas tidak sabar. Bembenk tersenyum. Laki-laki berambut keriting itupun duduk kembali.

"Kalau kalian bersaudara kenapa mesti berantem terus? Aku ingin kalian akur layaknya seperti saudara kandung meskipun kalian hanya tiri. Percayalah aku pengen banget punya seorang adik. Tapi Tuhan lebih menyayanginya dan membawanya kembali" Moza mengelus pelan punggung Bembenk.

"Kamu mau berjanji satu hal padaku?" Bembenk menatap ke manik mata Moza.

"Berjanji untuk apa?" tanya Moza.

"Kembalilah ke keluargamu Moza. Mereka menyayangimu. Terlebih mamamu" Moza menghela nafas berat.

Regas yang mendengarnya pun hanya tersenyum.

"Tapi.."

"Berjanjilah. Aku yakin perempuan sepertimu masih butuh seseorang yang membuatmu tetap berjalan di jalan yang lurus"

"Tapi aku sudah 20 tahun. Aku berhak mandiri Benk" sahut Moza kesal. Bembenk tertawa.

"Mungkin maksud Bembenk dengan cara kamu kabur dari rumah kamu akan mandiri? Nggak Moza. Itu membuatmu susah sendiri dan makin menyusahkan orang lain" kali ini Regas bersuara. Moza melotot tajam ke arah Regas.

"Kamu ingin pulang kan?" tanya Bembenk sekali lagi.

"Aku...Entah lah aku pun bingung"

"Sudah ayo kita pulang dan temui mama mu. Pasti dia akan senang" Regas menarik tangan Moza agar segera merapikan barang-barangnya dan pulang ke rumah.

❤❤❤❤❤

Mobil Regas memasuki halaman. Regas sudah selesai melepaskan safety beltnya dan hendak turun. Tiba-tiba Moza menarik tangannya.

"Kenapa?" tanya Regas.

"Aku ragu"

"Tarik nafas dalam-dalam dan buang perlahan. Lakukan itu sampai kamu masuk ke dalam. Ini kan rumahmu bukannya rumah hantu. Come on sis"

Rumah siang itu nampak sepi. Yang terdengar hanya suara vacum cleanner yang digunakan Mak Odah untuk membersihkan karpet bulu di ruang keluarga.

"Mom, dad, Mak Odah. Kami pulang!" teriak Regas. Moza hanya bersembunyi di balik tubuh Regas.

30 detik berlalu dan tidak ada tanda-tanda penghuni rumah berhenti dari aktifitasnya.
Regas menghampiri Mak Odah dan mematikan vacum cleanner.

"Aduh..siapa sih yang matiin nih alat?" Mak Odah mengomel dan bercampur kaget kalau Regas tidak pulang sendiri melainkan bersama Moza.

"Non..Non Moza?" Mak Odah memberhentikan sementara kegiatannya itu dan menghambur untuk memeluk Moza. Suasana haru tercipta.

"Mommy sama daddy kemana Mak?" tanya Regas sambil menaruh tas besar Moza di dekat meja makan.

"Ada di kamarny mas. Mau Mak panggilkan?" tanya Mak Odah menawarkan.

"Nggak usah Mak. Biar Regas saja yang menemui mereka"

Regas segera menuju kamar orang tuanya.Sedangkan Moza dan Mak Odah masih larut dalam nostalgia mereka.

Bahkan saat ini Moza dan Mak Odah sudah berada di dapur untuk membuat makan siang

"Moza.." suara Lolita terdengar memanggil Moza dari arah pintu dapur. Moza membalikkan tubuhnya dan melihat mamanya. Wajah mamanya yang pucat, kantung mata yang menghitam.

Moza berlari memeluk Lolita. Adegan tangis menangis layaknya film India pun terjadi.

"Maafin Moza, Ma. Moza jahat ninggalin mama" isak Moza. Tak hanya Lolita, Jerry pun memeluk anak tirinya itu dan membelai halus rambut Moza.

"I'm sorry dad. I'm promise i'll be good person. Sorry" Jerry mengangguk pelan.

**

Moza POV

Selesai makan malam aku menyendiri di tepi kolam renang. Sesekali aku menyeka air mataku yang jatuh tanpa aku komando. Aku merasakan sebuah tangan menyentuh kulit ku yang hanya terbungkus sebuah kaos tanpa lengan.

"Terima kasih Regas. Nggak tahu sudah berapa kali kau membuat hidupku berharga dan membuatku mengerti betapa indahnya hidup yang hanya bisa dirasakan satu kali ini" aku menunduk melihat-lihat kakiku yang setengah betis masuk ke dalam kolam renang.

"Your welcoma darl" Regas tersenyum. Senyum yang tidak akan pernah membuatku bosan.

Entah ada angin apa tiba-tiba Regas menggenggam tanganku dan menciumnya.

Shit, perasaan aku kok jadi tidak menentu begini?

"Moza, kamu tau? Aku pengen memutar waktu dan aku ingin mengenalmu sebagai seseorang yang asing untukku bukan sebagai saudara tiriku" Aku speechless mendengarkan ini dari mulut Regas.

"Maksudmu?" tanyaku.

"Aku mencintaimu Moza. Mungkin kedengarannya gila tapi inilah yang aku rasakan. Cinta bukan karena kamu saudara tiriku. Tapi, aku mengerti posisiku saat ini. Aku jadi saudara tirimu saja aku sudah sangat beruntung. And, lupakan ini"

Aku pun tiba-tiba mencium pipi kanan Regas. Pipinya terasa hangat.

"Jadilah saudara yang baik untukku Regas. Jangan pernah bosan untuk menegurku kalau aku salah. Aku berdoa semoga kau akan mendapat cinta yang jauh lebih baik dari saudara tirimu sendiri" Regas hanya tertawa.

"Berjanjilah kamu nggak akan meninggalkan aku?" Aku memberikan jari kelingkingku dan Regas mengaitkan jari kelingkingnya.

"I'm promise" Kami berpelukan. Pelukan kasih sayang layaknya saudara kandung. Terima kasih. Thank you my stepbrother.

Suasana ini jangan sampai berakhir Tuhan.

**

Finally.... Vomment please..

Lophe,
221092❤

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!