1. Lover

3.7K 369 54
                                                  

Note: Jadilah pembaca yang bijak. Pilihlah bacaan sesuai dengan usia kalian. Hal-hal negatif jangan dicontoh tapi jadikanlah sebagai pelajaran.

#-#-#

"Yo ... Choi Seungcheol! Aku masih ingin bermain, tapi kenapa sudah tidak berdiri lagi?"

"Dasar lemah! Sialan! Padahal aku baru saja panas."

"Diamlah kau Yoon Jeonghan! Aku juga butuh tempat pelampiasan."

Jisoo bersandar pada dinding. Melipat tangan di depan dada dan memperhatikan teman-temannya dari jauh. Tidak ingin ikut mereka yang sedang melemparkan tendangan dan pukulan. Meski beberapa pria sudah tergeletak tak berdaya di tanah, mereka masih terlihat menggebu-gebu.

Ia menoleh dengan santai saat mendengar teriakan. Terlihat lima orang pria membawa pukulan di tangan masing-masing. Wajah mereka terlihat sangar dengan menunjukkan tatapan membunuh.

"Itu mereka yang sudah memukuli anak-anak yang lain," adu salah seorang di antara kelima pria itu.

Tanpa basa-basi, ke lima pria itu langsung berlari dan menyerang. Bukannya takut, Seungcheol dan Jeonghan justru tersenyum senang. Bahkan seorang remaja dengan headband birunya bertepuk tangan.

"Come on," ucapnya dengan suara beratnya. Mengambil gerakan ancang-ancang layaknya seorang pro.

Pukulan yang diarahkan ke arahnya dengan mudah ditangkis. Tubuhnya berputar gesit dan memberi tendangan keras. Gerakannya benar-benar seperti orang yang terlatih.

"Wuhuu ...." Seorang lainnya yang duduk bersila di tanah tersenyum. Terlihat puas dengan pukulan Seungcheol yang langsung menjatuhkan lawan. Pemegang sabuk hitam bukan hanya sebuah gelar.

"Taehyung-ah," teriaknya. Membuat si pemuda dengan headband birunya langsung membalikkan tubuh. Refleks ia mengayunkan kakinya. Dan tendangannya tepat mengenai selangkangan pria berjaket hitam.

"Akh ...." Teriakan itu bukan dari si pria berjaket hitam, tapi Taehyung yang ikut mengapit pahanya sendiri. Ikut merasa ngilu melihat si pria berjaket hitam tersungkur di tanah. Mengerang kesakitan sembari memegangi selangkangannya.

Jisoo yang sedari tadi bersandar di dinding hanya menggelengkan kepalanya. Ikut tersenyum kecil melihat ekspresi Taehyung. Senyumnya menghilang saat seorang pria yang tergeletak di tanah tiba-tiba berdiri. Mengayunkan pukulan yang berhasil ia hindari tanpa berpindah tempat. Jisoo seolah bisa dengan mudah memprediksi gerakan lawan.

"Kau bisa bertindak kejam juga Jisoo-ya." Seseorang yang masih duduk bersila di tanah tertawa. Ikut bertepuk tangan bersama Taehyung karena membuat pria lainnya mengerang kesakitan memegangi selangkangannya.

"Kau tidak apa-apa? Aku tidak sengaja menendang ke arah sana." Jisoo meringis menyesal. Kakinya bergerak dengan refleks ke arah yang terlarang.

"Ugh ... sialan kau! Awas saja kalian! Ayo teman-teman!" Mereka cukup pintar memilih mundur saat sudah babak belur. Dengan terseok, mereka berlari menjauh. Beberapa kali menoleh ke belakang untuk memastikan pelarian mereka tidak dikejar.

"Dasar pengecut impoten," maki Jeonghan saat seseorang mengacungkan jari tengahnya. Terlihat seperti berandal kecil yang berani menantang saat sudah jauh.

"Haha ... kau benar. Mereka sebentar lagi impoten karena ditendang Jisoo dan Taehyung." Ia tertawa terbahak. Namun langsung bungkam karena Jeonghan melempar satu pemukul yang tergeletak di tanah ke arahnya.

"Sialan!" Meski kesal ia tidak berpindah. Tetap duduk di tanah dan menyilangkan kakinya dengan nyaman.

"Sebenarnya apa masalah mereka dengan kita?" tanya Seungcheol yang mengalihkan perhatian keempat temannya. Ia terkejut karena diserang dengan tiba-tiba. Tapi dengan senang hati melayaninya. Lagi pula kepalan tangannya siap melayang kapan saja. Tipe remaja yang memanas saat sedikit terpancing.

The Precious BrothersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang