EMPAT BELAS - RAYYAN

126 18 12
                                                  

Assalamualaikum teman-teman.

Ada yang nungguin Mas Ray nggak nih? Yuni update nih ya.

Please, jangan bilang kurang panjang. Yuni cuma khawatir kalian akan bosan bacanya.

Jangan lupa tandai typo ya geng

Happy Reading😘😍

🌸🌸🌸🌸🌸

Ray, tolongin aku
Temeni Alif jalan yuk

Sebuah chat dari Ayu. Sebenarnya aku ingin istirahat, setelah kemarin seharian main sama Abigail dan Naila ke chimory. Badanku rasanya capek sekali. Tapi, tidak mungkin aku mengabaikan chat ini begitu saja. Maka ku kirim chat balasan.

Kamu belum dijemput suamimu?

Sudah lama rasanya dia berada di Semarang. Merecokiku dengan segala kebutuhannya. Entah itu urusan Alif atau urusan pribadinya. Bukannya aku tidak suka membantu teman, tapi tidak etis rasanya seorang wanita sering bertemu dengan mantan suaminya 'kan?

Dia lagi sibuk banget dengan urusannya.
Jadi, jemput aku ya, Ray

Kalau aku menemui mereka sendirian lagi, aku jadi merasa bersalah dengan Abigail. Lebih baik sekarang, kalau Ayu mengajak bertemu begini, aku harus membawa serta Abigail. Sekalian mengenalkan Abi padanya.

Abs, sebentar lagi ku jemput ya

Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasan dari Abigail. Tanpa bertanya, dia menyetujui ajakanku dengan catatan Naila ikut serta kemanapun kami pergi. Dan itu bukan masalah sama sekali. Semakin banyak orang yang ikut maka akan semakin rame. Bukankah perjalanan akan lebih menyenangkan. Lagipula ini bukan perjalanan bulan madu kami.

"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri, Ray?", tanya mama yang kini sudah berdiri di samping tempat tidurku. "Kebiasaan banget sih, kalau hari libur, jam segini masih di tempat tidur", omel mama.

Aku hanya tersenyum. Seperti biasa mama akan mengambil seluruh baju kotorku dan mencucinya. Mama memang ibu rumah tangga impian. Beliau mampu mengerjakan beberapa pekerjaan rumah sekaligus. Tak terbayang jika aku harus mengerjakannya sendirian.

Makanya, Ray. Jangan memandang rendah status ibu rumah tangga ya. Kamu disuruh beresin rumah sama ngurus anak sendirian, belum tentu mampu.

Teringat omelan mama, saat aku mengeluh betapa beratnya beban pekerjaanku. Yang ternyata tidak ada apa-apanya dibanding pekerjaan rumah tangga.

"Eh ni anak. Daripada di tempat tidur aja, mbok ya ngajak Abi jalan-jalan kemana gitu, Ray", omel mama lagi.

"Kemarin juga baru jalan sama temannya juga, ma", jawabku.

"Duh, wajar sih ya. Kamu kencannya cuma sama kerjaan aja. Mana ngerti kamu, kalau cewek itu pengen selalu diajak jalan kalau lagi libur begini. Bangun dong, Ray!"

Kali ini giliran meja kerja di kamarku yang mendapat giliran untuk dibereskan setelah menaruh baju-baju kotorku di timba yang mama bawa.

"Iya ma, iya. Hari ini Ray jalan sama Abi kok. Tapi sama Ayu dan anaknya juga", kataku sembari meletakkan gawaiku di nakas.

Mama menghentikan aktivitasnya beres-beres meja kerjaku. Pandangannya tajam menghujamku. Salahku apa?

"Ngapain kamu ngajak Ayu dan anaknya juga?", bentak mama.

"Ya, mereka kan minta diantar jalan-jalan, ma", jawabku santai.

"Duh, Ray. Kamu tu ya. Dimana-mana cewek itu nggak bakal mau barengan sama masa lalu pasangannya. Kamu masih bego aja jadi laki-laki", omel mama.

Merindukan PernikahanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang