PROLOG

66.9K 2.6K 16

JAKARTA, AGUSTUS 2012

Range Rover hitam, mengilap dan mahal terlihat santai melenggang di area masuk sebuah kampus swasta terkenal di daerah Jakarta Pusat. Seluruh mata tampak ramai-ramai melirik ke arah mobil tersebut. Beberapa disertai pandangan kagum, yang lainnya tampak mencibir pedih, lalu sisanya tampak tidak peduli dan tidak ambil pusing. Namun, dari keberagaman makna mata tersebut, ada satu hal yang mereka pahami. Hal tersebut adalah tentang si pengendara yang kini tengah memarkirkan mobilnya di area parkiran kampus. Pengendara satu-satunya yang menjadi ujung tombak paling ditakuti di kampus tersebut.

“Kapan sih dia nggak kerennya. Ah… mau banget dong, jadi pacarnya!”

Seruan itu hadir dari beberapa mulut yang secara kasak-kusuk menatap fokus pada si pengendara yang sudah turun dari transportasi mahalnya. Berjaket kulit hitam, jins belel senada warna jaket, kaos abu-abu pas tubuh, boots coklat mahal, kacamata hitam yang keren dan rambut acak-acakan menjadi pandangan satu paket dari satu sosok yang menawan tersebut. Dia melenggang dengan angkuh sambil terfokus pada smartphone yang digenggamnya. Kening berkerut tampak menghias ketika mata yang berbalut lensa hitam pekat itu memandangi benda pipih berfungsi komunikasi tersebut.

“Sial… kemana sih, dia? Kok telepon gue nggak diangkat!” umpatnya kesal.

Masih dengan smartphone di telinga, dia berjalan pelan menyusuri panjangnya koridor lantai satu kampusnya. Tanpa mempedulikan beberapa panggilan dan lirikan maut beberapa perempuan, dia mempercepat langkahnya menuju satu tujuan. Ruang kelas di ujung koridor lantai dua. Ruang kelas untuk para mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntasi.

Sesampainya di lantai dua, dia melepaskan kacamata hitamnya dan bergerak cepat menuju ujung koridor sebelah kanan gedung. Di ujung sana terdapat sebuah kelas dan beberapa bangku panjang di depan kelas. Di salah satu bangkunya duduk sendirian seorang cewek manis berambut ikal sebahu dengan gaun musim panas selutut berwarna kuning cerah. Gaun tersebut di balut dengan sebuah cardigan kaos berwarna putih yang terlihat sopan. Di tangannya tampak sebuah buku tebal yang sangat serius dibacanya. Dia tersenyum sumringah begitu melihat raut lucu cewek itu ketika tengah asyik dengan beribu kata yang terangkum dalam sebuah buku tebal kesukaannya. Tanpa basa-basi dia pun segera melangkah mendekati cewek itu. Sayangnya, belum sempat ia sampai, ada sesosok cowok cupu yang mendekat kearahnya. Cowok itu tampak bertanya sesuatu yang mana tidak didapat didengar olehnya.

“Pasti cari kesempatan lagi.” gerutunya kesal begitu melihat cowok cupu itu.

Tanpa menunggu terlebih dahulu atau memberi kesempatan cowok cupu itu berbicara banyak dengan si cewek, dia bergegas mendekati si cewek. Tiga langkah dari keduanya berada, dia berdeham. Si cewek dan si cowok cupu kontan menoleh. Ekspresi si cewek yang tersenyum manis tampak tak serasi dengan wajah si cowok yang kaget dan terlihat takut. Tanpa mengatakan apapun, cowok cupu itu pun segera menyingkir. Dia tidak tahan dengan tatapan membunuh si empunya kampus. Dia tidak sanggup bila harus adu jotos dengan si jagoan kampus. Dia juga tidak mungkin berani mengusik milik si brengsek dan posesif raja jalanan ibukota, Pandji Ardiona Malik.

***

Mr. PossessiveBaca cerita ini secara GRATIS!