Beautiful Day, Bad Tomorrow!

62K 2.2K 110
                                    


Happy Reading.

-

Aku bersama dengan Jimin, tentu saja. Aku membawanya kekamar yang aku gunakan. Paman Steven pergi, aku sempat bertanya pada John tadi. Jimin Awalnya terkejut dengan apa yang kualami tapi dia mulai mengerti. Jimin bahkan sempat tidak percaya dengan apa yang kualami. Dia masih saja terkejut jika Steven bisa sangat baik padaku.

"Perjanjian itu?" Aku ingin tertawa melihat wajah Jimin yang memucat. Dia memikirkan perjanjian yang sudah kurobek ternyata. Benar aku sudah merobeknya. Tapi sepertinya Jimin tidak boleh tau. Aku harus membalas dia bukan?

"Aku tidak tau!" Aku ingin tertawa saat melihat Jimin yang menunduk, aku tau dia masih frustasi karena itu. Agak kasihan tapi sepertinya menyenangkan menggoda Jimin. Aku harus balas dendam karena dia mengirimku kemari bukan?

"Kau harus menyelesaikan ini sendiri Ji. Ini masalah kalian!" Kulihat Jimin Mengangguk lesu dan menatapku. Aku mencoba membuat wajahku jadi khawatir. Bahaya jika Jimin tau.

"Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kita dimasa depan. Aku janji!" Aku tersenyum dan mengusap wajahnya. On ya aku belum bilang pada Jimin jika aku hamil. Sepertinya ini belum waktunya, biarkan dia menyelesaikan masalah dengan Paman Steven dulu. Jimin masih punya tanggung jawab yang besar. Dia harus menyelesaikan ini agar kami benar-benar bahagia dimasa depan.

"Ji aku tidak percaya pada Brian!" Jimin Mengangguk mengerti. Sepertinya dia sudah tau siapa Brian seperti apa.

"Aku bersyukur kau ada disini. Walaupun kau disamping Steven setidaknya dia tidak menyakitimu. Dia menjagamu dengan baik, aku harus menyelesaikan ini dengan Steven dan terakhir menghukum Bajingan Brian, dia harus menerima hukuman karena berani membohongi kami. Aku akan membunuhnya!" Aku gemetar mendengar suara Jimin. Pelan tapi mengerikan, jika sudah seperti ini Jimin tidak akan main-main dengan kata-katanya. Ya Tuhan.

"Kau percaya padaku bukan?" Kulihat mata Jimin memancarkan permohonan. Agak ragu dengan keinginan Jimin.

"Aliya?" Aku mengangguk mendengar ucapannya. Aku harus percaya pada Jimin bukan?

"Sebaiknya kau selesaikan masalah ini dengan Steven. Dan ingat jangan sebut nama Stela. Dia agak sensitif!" Jimin Mengangguk pelan dan mencium keningku. Aku memejamkan mata menikmati setiap kasih sayang yang dia curahkan untukku. Aku mencintainya.

"Sebenarnya aku merindukanmu, tapi ada banyak yang harus kuurus, jadi aku menahan ini dulu" aku terkekeh mendengar ucapan Jimin, benar dia masih sama. Jimin menyebalkan yang punya gairah seksual yang tinggi jika melihat aku. Dia masih saja mesum.

"Tahan sebentar nde. Selesaikan masalahmu dulu dan kemari. Aku juga merindukanmu!" Jimin tertawa dan kembali menciumku, bibir hanya sebentar tapi.

"Tunggu aku nde?" Aku mengangguk.

"Hati-hati" Jimin tertawa dan menjauh dariku. Keluar dari kamar. Aku memang harus memberikan mereka waktu. Keduanya harus berbaikan tanpa ada aku, aku tidak boleh menjadi alasan mereka. Mereka harus.

"Hati-hati" aku menghela nafas saat Jimin tidak lagi ada didalam kamar ini. Aku harus percaya pada mereka berdua.

Jimin dan paman Steven, aku yakin keduanya tidak akan mengecewakan aku. Keduanya harus berbaikan.

"Sabar sayang. Biarkan ayahmu berusaha dulu. Dia harus melewati ini untuk kebahagiaan kita. Bersabarlah!" Aku mengusap sayang perut datar ku. Aku tidak lupa jika masih ada janin yang berumur beberapa Minggu disini.

"Ibu yakin ayahmu akan baik-baik saja. Percaya pada kakek"

+

Jika aku fikir Jimin hanya butuh waktu dua sampai 3 jam bersama Paman Steven maka semuanya salah. Jimin sudah berjam-jam ada didalam ruangan Paman dan belum keluar juga. Ini sudah 5 jam, dan apa saja yang mereka bicarakan. Aku tidak mendengar suara apapun. Hanya keheningan, anak buah Paman juga tidak ada diluar untuk berjaga. Hanya pintu kosong kokoh yang menghubungkan dengan dalam. Aku hanya diam duduk memperhatikan pintu itu. Aku takut masuk.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang