Pasal 8: Mengakhiri Aksi

281 77 19

Setelah menghabiskan waktu selama dua hari di rumah sakit, dokter mengizinkanku pulang.

Sudah kuduga, ibu tidak pernah bisa dibohongi. Ada rasa was-was ketika ibu datang menjelang sore hari, persis ketika Mean dan yang lain pulang. Takut bila kebohongan yang terpendam selama ini terbongkar. Ketika itu, aku langsung mengirimkan pesan singkat pada Mean untuk jangan menjengukku. Aku butuh waktu sendiri.

Bukan Mean namanya jika ia langsung menerima keinginanku dengan mudah. Ia bersikeras akan mengunjungiku keesokan hari. Aku sempat mengancam, mengatakan jika aku akan menjauhi Mean bila ia masih keras kepala. Saat itu aku bilang bahwa aku belum siap bercerita apa-apa. Akhirnya Mean menyerah; memberiku waktu untuk menyendiri dengan balasan aku harus menceritakan segalanya.

Dirinya pikir aku akan mengatakan apapun? Bunuh aku sekarang.

“Berhenti main game, Plan,” kata Ibu yang masuk ke kamarku sambil membawa nampan berisi air putih dan obat. “Besok jangan ke kampus dulu, ya?”

Aku menggeleng. “Aku sudah tidak masuk lama, Bu. Tugas akhirku pasti tambah banyak.”

“Tapi ibu cemas, Plan,” ujar Ibu. Rautnya tampak pucat. “Ibu tidak habis pikir, kenapa kamu bohong soal tugas lapangan?”

Aku melempar pandangan ke manapun selain pada mata coklat sayu milik ibu. “Aku tidak ingin ibu cemas.”

“Tapi nyatanya ibu malah tambah cemas.” Meski tidak berkata dengan nada keras, tapi aku mampu merasakan kekecewaan ibu. Sudah berapa banyak kebohongan yang kuciptakan bagi orang-orang yang peduli padaku?

Rasanya lelah.

Aku ingin semua ini berakhir.

“Maaf,” ujarku serak, berusaha menahan gejolak untuk menangis kencang. “Aku anak durhaka, ‘kan, Bu?”

Tidak ada bedanya diriku dengan bajingan yang sampai sekarang tidak menampakkan batang hidungnya.

“Kamu anak ibu paling manis yang sayangnya harus merasakan hidup susah bersama ibu.”

Setetes airmata mengalir di mata ibu. Sontak aku bangkit, memeluk ibu erat.
“Aku janji akan selalu jadi anak manis bagi ibu.”

“Jangan bohong lagi, Plan. Kalau kamu ada masalah, cerita pada ibu,” bisik ibu dan kubalas dengan anggukan.

Pelan-pelan ibu mengelus punggungku; memberikan kenyamanan yang begitu akrab dan kurindukan. “Kamu tahu, kadang ibu iri dengan Pha dan Zanook. Mereka lebih dekat denganmu ketimbang dengan ibu.”

Pernahkah kalian menempatkan diri di mana kalian dekat dengan seseorang, membagi rahasia, namun hanya sebagian saja? Begitu juga dengan orang lain, kau akan berbagi rahasiamu yang lain di mana orang pertama tidak akan pernah tahu mengenai rahasiamu yang lain? Rumit? Kupikir ini pun rumit. Ibu tahu orientasi seksualku namun tidak tahu bila aku menaruh hati pada Mean sejak lama. Sedangkan bibi Pha dan paman Zanook, mereka tahu aku dekat dengan Mean namun tidak tahu mengenai orientasi seksualku.

Orang bilang, jangan simpan semua rahasiamu dalam satu wadah, terlalu berbahaya. Dan aku melakukannya dengan baik, kurasa.

Aku tinggal menunggu waktu saat kebohongan yang kubuat untuk mereka perlahan-lahan terbongkar. Ibu mungkin masih bisa memaafkanku mengenai keberadaan Mean, Perth, dan Mark dalam hidupku. Entah dengan bibi Pha dan paman Nook, apakah mereka masih bersedia menerima orang aneh sepertiku.

Lalu soal Mean ….

Pelukanku pada ibu semakin erat. Aku tidak ingin membayangkan wajah benci Mean memandangku dengan penilaian tak berperi. Tatapan tak suka, jijik, dan muak  di wajah Mean membuat tubuhku tremor.

Apakah aku terjebak pada rasa suka pada Mean selamanya? Rasa ini terlalu menakutkan untukku.

***


Sialan!

Berada dalam satu mobil bersama Mean Phiravich saat ini adalah kesalahan besar. Aku tadi sempat berharap bahwa Perth atau Mark akan bersama dengan kami. Ternyata mereka masih ada kuliah hingga nanti sore. Sudut mataku mencuri lihat Mean yang tak segan-segan sedang melemparkan tatapan ‘Plan, kau berhutang jutaan penjelasan padaku’ yang sangat mengintimidasi.

“Aku laper,” kataku tidak tahu diri.

Garis-garis Besar Gebetan PlanWhere stories live. Discover now