1

1.2K 205 31
                                                  

Aku duduk di tepi ranjang sembari menatap tumpukan kardus dan koper di depanku. Napasku amburadul, kelelahan. Tubuhku sudah berkeringat cukup banyak. Packing adalah kegiatan yang cukup menguras energi.

Pagi ini, Ibu memberitahuku, kami akan pindah ke rumah baru. Darno, ayahku memang pernah berjanji akan membelikan rumah yang layak untuk kami berempat. Namun, aku tidak menyangka janji itu akan terpenuhi setelah lima belas tahun berlalu. Di saat aku sudah beranjak dewasa dan tak lagi remaja.

"Sudah siap?"

Aku menoleh dan mendapati Ibu berdiri di dekat pintu. Aku mengangguk pelan. Sena, adik bungsuku melongokkan kepalanya. Dia berdiri di belakang Ibu.

"Sena, sudah siap juga?" tanya Ibu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.

Sena tersenyum lalu berlari kecil, meninggalkan Ibu dengan gembira. Suara langkahnya menjauh lalu menghilang, sepertinya dia menghampiri Ayah atau Bagas, adik lelakiku.

"Kita akan berangkat jam dua belas," kata Ibu sebelum pergi meninggalkan kamarku.

Aku hanya menghela napas panjang sembari menatap jam ponsel. Waktu saat ini menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit. Itu artinya aku hanya memiliki waktu lima belas menit untuk mengucapkan selamat tinggal pada rumah lamaku.

Aku suka rumah ini. Walau ukurannya kecil, sempit dan tidak memiliki halaman yang luas. Di sini nyaman, terutama kamarku yang memiliki jendela lebar. Gorden hitam masih menghiasi jendela, sengaja tidak dilepas. Sudah tua dan usang, jadi Ibu memintaku untuk meninggalkannya saja. Ibu juga berkata sudah membeli gorden baru sebagai gantinya. Bagiku, gorden baru atau lama, tidak masalah.

Tepat jam dua belas malam, keluarga kami berangkat. Ayah yang mengemudi. Di kursi depan, duduk Ibu dan Sena. Sedangkan di bagian tengah, aku dan Bagas. Di belakang, barang-barang kami. Perabotan rumah dan barang berat lainnya, sudah dipindahkan kemarin memakai jasa pengangkutan barang.

Perjalanan kami yang kami lalui terasa membosankan. Hampir setengah perjalanan berlalu, tidak ada yang saling bicara. Bagas sibuk dengan game online di ponselnya. Ibu dan Sena hanya diam sembari menatap lurus ke depan, demikian pula Ayah. Kami semua terjaga dan tidak ada yang mengangguk.

Keluargaku terbilang unik. Kami semua memiliki kondisi yang sama, hipersomnia; kesulitan untuk tidak tidur di siang hari. Kami akan sangat mengantuk di siang hari sehingga bisa tertidur di mana dan kapan saja tanpa memperhitungkan tempat atau situasinya. Beruntung, di antara kami berlima, Ayah termasuk cukup normal. Tingkat hipersomnianya rendah, hanya membutuhkan tidur siang untuk membuatnya terjaga sampai waktu bekerja usai.

Tidak ada lantunan musik selain dari headset-ku. Ayah akan tertidur setiap kali mendengar lantunan musik melow. Karena itu, kami sengaja tidak pernah menyalakan radio, televisi, musik atau lainnya yang berpotensi membuat Ayah mengantuk. Berbahaya. Apalagi di perjalanan yang terbilang cukup jauh ini.

Aku tidak sekolah. Demikian pula kedua adikku yang lain. Pendidikan kami diperoleh dari Ibu yang pernah belajar dengan sistem home schooling. Keluarga Ibu tergolong berada dulu, meski kini tinggal kenangan saja. Keputusan Ibu untuk menikah dengan ayah membuatnya dicoret dari daftar keluarga. Begitu segelintir cerita sedih yang kami dengar dari ibuku. Entah apa motifnya mengatakan itu. Sebatas cerita tanpa tujuan atau bentuk penyesalan, aku tidak mau memikirkan.

Mobil berhenti di perempatan jalan. Kanan-kiri terlihat gelap dan sunyi. Kami memasuki area persawahan. Bukan hutan, karena hutan-hutan itu sudah musnah dan tidak bersisa. Aku mengenal jalanan ini. Tepat setelah persawahan yang tidak terlalu panjang, kami akan memasuki perkotaan.

"Belok ke mana?" tanya Ayah sembari menoleh ke arah Ibu.

"Kamu tidak tahu, bukankah kamu sudah ke sana dua kali?" Ibu terdengar mendengus. Sebal. Penyakit lupa Ayah kumat lagi. Lelaki berusia empat puluh tahunan itu hanya mengangguk kecil, mengakui.

"Aku akan mencoba melihat GPS," sahut Ibu lantas meraih ponselnya.

Ibu fokus ke ponselnya untuk beberapa waktu lalu mendongakkan kepala lagi. "Lurus," katanya kemudian.

Ayah mengangguk mengerti.

Mesin mobil menyala lagi. Perjalanan kami siap dilanjutkan. Aku melepas headset, telingaku berdengung mendadak. Ada suara bergema yang tiba-tiba mengejutkanku.

Aku menoleh ke arah kanan ketika sebuah nyala lampu menyorotiku. Silau. Aku menyipitkan mata. Suara keras terdengar ketika mobil kami tiba-tiba dihantam kuat.

Aku dan Bagas terpelanting keras. Aku menjerit kesakitan ketika pecahan kaca mobil menancap di tubuhku tanpa peringatan. Aku merasa seperti ditikam berulang kali membuat tubuh ini mengeluarkan banyak darah.

Samar-samar karena masih sadar, aku melihat Ibu yang duduk di depan tidak bergerak. Kepalanya terkulai lemas di samping dekat perseneling mobil. Darah menutupi sebagian kaca mobil bagian depan. Sedangkan sebagian yang lain berlubang cukup besar. Sena tidak ada. Aku tidak bisa menemukannya.

Aku beralih melihat ayah, tidak terlihat. Tempat duduknya kini digantikan bagian depan mobil lain yang menubruk keras sehingga mampu menembus rangka mobil.

Aku melirik Bagas dan bergidik ngeri, mata adik lelakiku itu menyembul satu. Urat-urat matanya terlihat jelas, membuat mulutku dengan segera menjerit sekuat tenaga.

Suara hantaman terdengar lagi. Membuat mobil kami yang sudah dalam kondisi parah semakin menyedihkan.

Tubuhku terombang-ambing saat mobil yang kami tumpangi berguling-guling lalu mendarat dengan tidak sempurna. Napasku masih ada meski mengalami keadaan buruk itu. Mobil kami terbalik, sehingga bisa melihat wajah Ayah. Lelaki itu sudah tidak bernyawa. Ada sesuatu yang menusuk jantungnya. Mulut dan telinganya juga mengeluarkan banyak darah.

Tubuhku menggigil dan bergetar hebat. Sampai hidungku mencium bau bensin. Instingku memaksaku untuk meronta dan bergerak semampunya, berusaha untuk keluar dari mobil.

Terlambat. Mobil kami meledak dan terbakar. Tubuhku hangus dan kematian menyakitkan itu terjadi.

"Mevita!"

Aku terkesiap, menatap mobil kami yang masih utuh dan baik-baik saja. Ayah, Ibu dan kedua adikku menatapku lekat. Raut kebingungan tergambar jelas di wajah mereka.

"Ada apa?" tanya Ibu cemas.

"Tidak ada." Aku berbohong.

"Kita sudah sampai," katanya.

Aku menoleh, menatap rumah baru kami. Tidak seperti dugaanku, rumah itu berlantai dua dan memanjang ke belakang. Di depannya terdapat satu jendela besar. Teras dan pekarangan rumahnya cukup lebar, tanpa pagar.

"Ayo turun!"

Aku mengangguk lalu menyusul anggota keluargaku yang sudah turun lebih dulu. Ada perasaan aneh saat kakiku menapak di tanah baru itu.

Aku menatap ke sekeliling, sunyi. Tidak ada suara dan banyak kabut samar menutupi pandangan.

Kami tidak memiliki tetangga, jarak di antara rumah kami dengan tetangga cukup jauh. Jajaran pohon mahoni membuat jarak di antara kami. Walau begitu, ada rumah cukup besar di sebelah kiri. Rumah itu terlihat kosong, pintunya terkunci rapat dan hanya lampu di ruang tamu saja yang menyala.

Bulu kudukku meremang tanpa alasan, seolah ada seseorang yang sedang memperhatikan. Namun, aku terlalu lelah untuk memastikan. Aku meraih koperku lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah baru. Sekarang, jam tiga pagi dan rasa kantuk sudah sangat terasa.

***
TBC.

RUMAH DI TENGAH KOTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang