#13 SIAPA ELAN ?

19 10 36

"Jangan mudah terbuai dengan perlakuan manis seseorang. Terlebih lagi, lo belum kenal sepenuhnya."

-Arvin Ranggavahno

🐥🐥

Berkali-kali Arvin meninju samsak yang ada dihadapannya, emosinya memuncak, pikirannya melayang entah kemana. Ponselnya berdering tanda telpon masuk, segera ia menghentikan kegiatannya dan menggeser tombol hijau yang tertera di layar ponselnya.

"Hallo bos, maaf gue belum bisa melacak keberadaan wanita itu."

Tangannya mencengkram kencang benda pipih berbentuk persegi panjang itu.

"Gue bilang cari sampe dapat dan jangan hubungin gue sebelum lo temukan keberadaan dia." geram Arvin emosi.

"Tapi ada satu hal yang menarik."

"Apa?"

"Gue udah kirim ke elo."

Arvin memutuskan telponnya sepihak lalu membuka apa yang dikirim oleh orang suruhannya, tangan kirinya mengepal kuat saat melihat vidio dan beberapa foto yang sempat terekam satu tahun lalu.

"Shit! Elan!"

🐥🐥

Ting!

Suara oven berbunyi sebagai tanda makanan yang ada didalamnya sudah matang. Selain bekerja sebagai pengisi live music di cafe Raka, Elana juga bekerja paruh waktu sebagai waitress disana, walaupun ia baru mulai hari ini.

Awalnya Raka menolak mempekerjakan Elana sebagai waitress ditempatnya dan juga ia sempat bilang kalau Elana butuh uang tambahan, ia pasti akan menambahkan bayaran Elana sebagai pengisi live music disana. Tentu saja gadis itu menolak, karena semua ada ukuran dan batasannya, dan Elana tidak ingin Raka merasa kasihan padanya.

Elana hanya butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang, bukannya membutuhkan uang dari hasil kasihan.

Ekonomi keluarga Elana sedang terpuruk hingga kemarin pihak bank menelponnya untuk menagih cicilan kartu kredit yang sempat ia dan keluarganya pakai dulu. Satu tahun lalu ketika perusahaan ayahnya mulai menurun pendapatannya, mereka ditipu puluhan miliyar, dan memiliki hutang dengan jumlah fantastik pada bank. Alhasil Rusli, selaku ayahnya Elana, memberikan 90% aset perusahaan pada bank. Hingga ia harus memulai dari awal lagi.

Berputarnya roda kehidupan, membuat Elana belajar mandiri dan mulai membiasakan diri tanpa kemewahan. Awalnya memang ia sangat terpuruk, perusahaan ayahnya bangkrut, sahabat dan pacaranya mengkhianatinya, mamahnya hampir bunuh diri karena tidak kuat menghadapi semuanya, ketiga adik dan dirinya hampir di DO karena telat bayar SPP. Satu tahun lalu adalah tahun terberat buat Elana, mungkin itu faktor yang membentuk Elana bersikap seperti sekarang ini.

Untungnya, Tuhan maha baik dan adil, keadaan itu hanya berlangsung enam bulan, saat kelulusan SMA, Ayahnya mendapatkan project yang lumayan hingga bisa menstabilkan prekonomian mereka walau hanya sebentar, dan sekarang keluarga Elana masih dililit hutang lama, maka dari itu Elana berusaha mendapatkan beasiswa, dan bekerja paruh waktu untuk menyicil hutang-hutang ayahnya.

"Na, tolong antar ke meja nomor 13," ucap Mia, selaku waitress senior di cafe itu.

"Iya, kak."

Elan & ElanaBaca cerita ini secara GRATIS!