18. Bakal Pergi Kemana, Emangnya?😕

55 5 9
                                                  

Budaya kan vote sebelum baca...

Komen setelah baca...

Ok!

***

SELAMA diperjalan pulang Lola hanya diam. Itu membuat Anta khawatir, ia takut kalau Lola sampai meninggalkannya hanya karena ia tak menceritakan tentang masalalunya. Tak habis pikir, bagaimana Hansel bisa sejahat itu padanya. Padahal selama ini Anta sudah banyak berkorban deminya dan juga Gema. Tapi sepertinya perngorbanan Anta tak pernah dihargai. Jelas-jelas Hansel selalu mengumbar kebahagiannya tanpa memikirkan bagaimana keadaan Anta. Seakan dia tak bersalah sedikitpun.

Pada kenyataannya, kali ini yang salah menang dan yang tak bersalah mendapat imbasnya. Anta dan Ega yang tak tahu menahu harus memikul beban berat, sedangkan Hansel dan Gema enak-enakan senyum sana senyum sini. Bukannya Anta tak ikhlas membantu, tapi ini sudah kelewatan. Hansel seperti mengompori Lola untuk mengkepoi hidupnya. Padahal dia tahu kalau Anta paling tak suka dengan orang yang selalu ingin mencampuri kehidupan orang lain.

Mobil Anta berhenti depan gerbang rumah Lola. Lola langsung turun tanpa menatap Anta lebih dulu. Tentu hal tersebut membuat Anta semakin takut, karena tak biasanya Lola seperti itu. Anta ikutan turun. Ia menarik sebelah tangan Lola, membuat cewek itu mau tak mau menoleh.

"Lo marah?," langsung pada intinya, karena Anta tak suka basa-basi. Lola hanya diam. Menatap Anta dengan senyum tipis lalu menggeleng. Ia juga mengatakan kalau ia tak mau ikut campur urusan Anta. Apalagi mengungkit masalalu Anta. Menurutnya, tak seharusnya mereka membahas masalalu dan fokus saja pada masa sekarang. Itu membuat Anta sedikit lega. Setidaknya Lola bisa memahaminya. Ia senang Lola bisa membuang rasa penasarannya itu.

"Makasih dah mau ngertiin," pelan Anta membelai rambut panjang Lola. Lola tersenyum saja.

Tanpa keduanya sadari, seseorang disebalik tirai jendela sana tengah mengawasi. Kedua matanya memicing seakan ingin membunuh seseorang. Sampai akhirnya sebuah benda yang keras mengenaik kepalanya. Ia berbalik menatap Leon yang tengah memakan mie instan disofa.

"Udah lah Cak, Lola udah gede. Dia tahu yang terbaik buat dia," Leon kembali menyuapkan mie kedalam mulutnya. Cakra masih diam. Ia menunduk menatap vas kayu yang digunakan Leon untuk melemparinya. Cakra mendecak kesal.

"Lo nggak tahu Yon, Anta itu kek gimana," kesal Cakra menyimpan kembali vas tersebut. Sengaja ia membantingnya pelan, membuat Leon terbatuk pelan.

***

Sepulang dari rumah Lola, Anta tak langsung kerumah. Walau sudah berjanji akan langsung pulang tadi, tapi ia harus kesuatu tempat. Kalau kabar itu sudah sampai ketelinga Hansel, artinya Gema juga sudah tahu. Bisa gawat kalau Hansel yang lebih dulu berbagi cerita dengan Gema, padahal ia yang lebih dulu tahu. Gema itu cepat cemberut, walau ujung-ujungnya dia juga yang akan mengajak berbicara lebih dulu kalau sedang marah. Hal itu membuat Anta sangat menyayangi Gema. Tak salah ia berkorban, setidaknya masih ada Gema yang selalu bersyukur akan bantuaanya saat kebaikannya tak dihargai oleh Hansel.

Gerbang yang menjulang tinggi itu dibuka oleh dua Satpam. Anta mengemudikan mobilnya kedalam pekarangan rumah megah Gema. Anta memarkirkan mobilnya digarasi. Perlahan ia menuju rumah Gema. Pintu dibuka setelah Anta memencet bel. Seorang pembantu rumah tangga dengan pakaian hitam dengan paduan renda putih itu menunduk hormat. Anta masuk setelah itu.

PHS [Series] TOMORROW WITH YOU [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang