14. Anta Nembak Lola?😱

94 18 22
                                                  

Budaya kan vote sebelum baca...

Komen setelah baca...

Ok!

***

"AKU suka sama kakak!"

"Aku suka banget sama kakak!"

"Kak, kenapa diam?"

"Kakak nggak suka ya, sama aku?!"

Seketika, Anta yang tadinya tengah tertidur langsung terbangun. Keringat mengalir deras di sekujur wajahnya, bahkan bantalnya sampai basah akibat keringatnya. Mungkin itu efek dari Ac yang tak menyala, sebab mati lampu. Tapi, di luar sepertinya tengah hujan, dan anehnya, Anta justru berkeringat hebat!

Kondisi kamar yang gelap, membuat Anta tak bisa melihat sekeliling. Hanya saat petir menyambar ia bisa milihat, itu pun masih tak jelas.

Anta menjambak rambutnya. Lagi-lagi mimpi itu. Mimpi yang sama, sejak 4 tahun terakhir ini. Mimpi yang selalu menghantui setiap malamnya. Mimpi yang selalu membuat Anta takut untuk terlelap, dan mimpi yang selalu membuat Anta teringat akan kejadian 4 tahun lalu itu.

Dengan napas yang masih tersenggal-senggal, Anta beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju balkon. Di bukanya kaik jendela, dan seketika, angin malam langsung menerpa wajahnya. Membuat rambut Anta tertiup-tiup. Anta menutup matanya, merasakan dinginnya angin yang begitu mendamai kan.

Rintik-rintik hujan membasahi wajah dan tubuh Anta. Tapi biar kan saja, ia sangat menikmati ketenangannya sekarang. Selagi rasa bersalah tak berkecamuk di dadanya, ia sangat ingin tenang. Tanpa bayangan masa lalu yang begitu menyiksa.

***

"Mohon maaf, permintaan maaf anda, belum bisa saya terima, coba lah beberapa saat lagi!" Lola meniru gaya operator-operator kartu prabayar yang sering ia dengar kala ia menelpon seseorang, tapi tak di angkat, hanya saja, ia ganti sedikit.

Senyum Anta mengembang. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sering senyum sendiri. Bahkan saat di ruangan ekskul tadi, ia sampai di marahi oleh Leon karena terus-terusan tersenyum. Sekedar informasi, Leon adalah ketua ekskul fotografi di PHS, dan Anta harap, ia bisa menjadi ketua selanjutnya.

Anta mengulum senyumannya. Sudah beberapa kali ia meminta maaf pada Lola, tapi cewek itu tak mau mendengar kan. Semua gara-gara Bunga dan Apel waktu itu. Kalau saja ia memberikannya pada Lola, mungkin semua tak akan terjadi. Tapi, bukannya Apel lebih baik dari bunga? Toh Apel lebih menyehat kan, dan bisa di makan pula.

Tapi ya sudah lah, mungkin ia harus lebih peka jika menyangkut perempuan. Anta mengikis jaraknya dengan Lola, tapi cewek itu malah bangun dan langsung pergi.

Tentu Anta tak akan melepas Lola dengan mudah. Ia segera bangun, dan mencegah Lola untuk tak pergi.

"Maafin gue dulu!" Titahnya.

"Nggak!" Balas Lola, ia menabrak bahu Anta dan langsung pergi, tapi Anta justru menarik tangannya. "Lepasin ih, aku mau latihan buat pensi minggu depan nih!" Cercanya, dan Anta langsung melepas Lola.

Lola berjalan keluar dari perpustakaan. Sebenarnya, Lola ingin sekali berada di sisi Anta terus, tapi ia tak mau bertingkah rendahan lagi. Saat berada di ujung pintu, Lola berbalik, menatap Anta dan Gema yang masih duduk di salah satu meja sana.

PHS [Series] TOMORROW WITH YOU [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang