06. Marahan😢

168 69 14
                                                  


Budaya kan vote sebelum baca...

Komen setelah baca...

Ok!

***

ATMOSFIR tak bersahabat makin tampak di antara Lola dan Gema. Sudah hampir 4 menit mereka saling beradu tatapan. Mana ekspresinya keduanya sama-sama datar pula. Semuanya terjadi gara-gara Adit yang menghilang kan pensil Lola. Dan bukannya mengaku, Adit justru menyalah kan Gema yang menghilang kan.

Memang tak salah Adit berkata seperti itu. Pasalnya, sebelum pensil itu hilang, Adit melihat Gema tengah bermain-main dengan pensil Lola. Mencoret-coret sesuatu di kertas A4-nya dengan pensil tersebut.

Gema memang tak mengelak pernah memakai pensil itu, tapi ia bilang ia sudah mengembali kannya pada tempat semula. Lola tak mau mendengar kan dan malah menjambaknya habis-habisan. Dasar cewek! Orang mau kasih penjelasan tak mau di dengar kan. Awas saja, pasti kalau ia sudah mengetahui yang sebenarnya, ia pasti akan meminta maaf. Kebiasaan para cewek seperti itu. Dan itu sangat membuat Gema geram!

Gema berkedip. Matanya terasa panas. Ia menoleh, menatap ke arah Fikrin, Si ketua kelas yang baru masuk. Dengan senyum lebarnya, ia menyodor kan sebuah pensil. Gema menerimanya, lalu menoleh ke arah Lola.

Lola mengerjap beberapa kali "Eh!"

Gema memutar pensil itu. Menarik sebelah tangan Lola, meletakan pensil itu dan langsung pergi.

Lola menutup mata rapat-rapat. Sial! Seharusnya ia dengar kan dulu penjelasan Gema tadi! Kalau tahu kejadiaannya seperti ini, ia pasti tak akan menjambak Gema sekejam tadi.

Mati lah dirinya! Ia akan kehilangan teman satu-satunya!

"Gema gue minta maaf!" Lirihnya.

Gema yang masih berada di ambang pintu berhenti. Ia berbalik, sebelah tangan di masukan ke dalam saku celananya. Benar kan dugaannya! Cewek memang tak ada bedanya! Mahluk paling egois yang di cipta kan tuhan!

"Nggak apa-apa!"

Setelah mengatakan itu, Gema pun pergi. Dan entah kenapa, Lola sedih di buatnya. Melihat Gema sedatar itu, ia ingin sekali menghiburnya, mengembali kan senyum di wajah Gema. Kalau akan sedatar itu, lebih baik Gema tak menjawab, pergi saja tanpa mengucap kan apa pun! Lola merasa kan sakit yang teramat dalam di dadanya saat mendengar jawaban dari Gema.

"Gue nggak bermaksud!" Pekik Lola, meremas pensil di tangannya.

***

Lola berjalan sendiri menuju toilet. Hatinya masih terasa sakit sekarang. Ia akhirnya benar-benar terabaikan. Gema tak mau berbicara dengannya. Selama proses KBM tadi, Lola hanya duduk diam di bangkunya. Dan pada saat Pak Anhar keluar untuk ke ruangan guru sebentar, Lola semakin kesepian saja, walau sudah berusaha menyibukan diri, tetap saja tak berhasil. Karena yang ia ingin kan bukan kesibukan, tapi teman!

Berniat masuk, Lola langsung berhenti saat melihat Rindu dan salah seorang temannya, yang Lola ketahui namanya Citra itu, keluar dari dalam toilet. Lola menunduk, ia berniat masuk tapi Rindu langsung menahannya.

"Apaan sih Kak?!" Sentak Lola tak suka.

Rindu hanya tersenyum. Yang sumpah saja, ingin membuat Lola mencakar-cakar wajahnya dengan kuku-kukunya.

PHS [Series] TOMORROW WITH YOU [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang