12. Strategi

24 9 104

Hari demi hari telah terlewati. Begitu juga dengan hubungan Andra dan Lala, yang semakin dekat seiring bergantinya hari.

Lala yang dingin dan cuek, kini telah berubah menjadi sedikit hangat dan perhatian kepada Andra. Gadis tersebut, bahkan tidak segan-segan untuk berubah menjadi cerewet atas sikap batu Andra.

Andra sendiri, kini hidupnya juga banyak berubah tidak lama setelah mengenal Lala. Dirinya menjadi lebih disiplin dalam segala hal, terutama dalam beribadah, karena Lala selalu mengingatkannya dan bahkan mengomelinya ketika dia sedang malas. Maka tidak heran, jika Andra sendiri menjadi lebih manja kepada gadis tersebut.

Sikap Lala yang hampir sama dengan Ibunya–yang selalu mengingatkannya dalam segala hal, tanpa peduli di cap cerewet–membuat Andra semakin merasa nyaman bersamanya. Apalagi ketika dia mengetahui sifat Lala yang sebenarnya, jauh dari image yang melekat di diri gadis tersebut–dingin, cuek dan sombong.

Nyatanya, gadis tersebut hangat dan sikap dinginnya hanya sebagai topeng menutup diri dari petualangan badai yang telah menerjang dalam hidupnya. Dari pancaran mata cokelat Lala, Andra bisa merasakan segalanya. Merasakan betapa sedih dan beratnya kehidupan Lala, walaupun Andra sendiri tidak tahu pasti masalah yang sebenarnya. Yang jelas, membuatnya semakin merasa ingin tuk melindungi Lala. Menemaninya dalam sepak terjang badai kehidupan yang ada.

Kedua insan berbeda jenis itu pun, saling menguatkan diri dalam hati masing-masing.

Entah disebut apa hubungan mereka saat ini, yang jelas keduanya sama-sama saling merasa nyaman. Terutama Lala, yang kini menganggap Andra sebagai kakak laki-laki serta sahabatnya.

Hari ini pula, seharusnya menjadi hari yang bahagia bagi Lala, karena hari ini adalah hari terakhir di mana dia akan melaksanakan ujian kelulusan. Satu langkah akhir, untuk mengakhiri masa-masa SMA-nya.

Akan tetapi semua itu berubah menjadi buruk, kala ucapan sang ayah sebelum berangkat kerja tadi pagi–membuat mood-nya turun seketika.

"Hari ini Irsyad biar ngantar Ayah kerja, Dek. Kamu berangkatnya nanti sama Alghifari, Ayah sudah bilang ke dia semalam."

Sebenarnya Lala ingin mengajukan protes kepada sang ayah, namun dia tahu semua itu akan berakhir dengan perdebatan yang sia-sia. Maka dari itu–atas nama mengalah–saat ini Lala tengah duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan laki-laki yang berhasil mengacau dalam hidupnya, tiga bulan terakhir ini.

Gemuruh mesin motor yang berhenti di halaman rumah, mengalihkan atensi Lala dari buku yang sedang dibacanya.

Seorang laki-laki turun dan melepas helm yang sedari tadi menutupi paras tampannya, berhasil membuat kedua alis Lala menyatu–heran. Mata cokelat Lala terus menatap ke sang objek yang sedang berjalan mendekat, dengan tatapan bertanya.

"Assalamu'alaikum," sapa lelaki tersebut sekadar mengucap salam.

"Wa'alaikumsallam," jawab Lala pelan. "Kok, kamu?" tanyanya.

Laki-laki tersebut bedecak kecil. "Nggak usah banyak tanya, Mas Al tiba-tiba ada urusan mendesak. Jadi minta tolong ke gue buat gantiin dia jadi supir lo pagi ini," jelasnya dengan nada menyebalkan bagi Lala.

"Mas Ghibran, juga nggak usah nyolot! Lagian siapa juga yang mau diantar-jemput sama kalian, pede amat!" ucap Lala ketus–tidak mau kalah. Bersama Ghibran, mood-nya menjadi semakin buruk.

Adventure a DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang