-Sembilan-

248 29 3

Ketika Syasa hendak naik ke atas menuju kamarnya, tiba-tiba saja Anggun memanggilnya. Anggun mengajaknya mengobrol, tentu saja Anggun akan bercerita mengenai pertemuannya dengan Gara bersama wanita cantik yang Gara akui sebagai teman dekat.

“Mama tadi ketemu sama Gara,”

“Yah terus? Ada yang salah?”

“Iya lah jelas salah, dia jalan sama cewek mana cantik lagi, tapi lebih cantikan kamu sih. Cuma Mama enggak suka, pokoknya enggak rela. Gara kan calon mantu Mama, jadi nikahnya kudu sama kamu,”

Syasa terdiam sejenak, tetapi setelah itu ia menanggapi perkataan Anggun dengan santai, “ngaco nih, Mama. Jangan suka gitu ah, nanti kalau orang-orang dengar atau Mas Danu, gimana? Sakit hati kan, dianya. Lagian nih, Syasa udah move on terus kenapa Mama enggak bisa move on juga, sih? Yang pacaran kan Syasa kenapa jadi Mama yang susah move on?”

“Karena sejak awal, Gara udah rebut hati Mama sebagai calon mantu yang ideal, pokoknya kalau sampai akhir tahun ini Mamanya Danu tidak kasih kamu restu, mending kamu mundur. Lagian Mama feeling Mama, kamu sama Gara masih punya rasa satu sama lain, bukan begitu, sayang?”

Syasa melebarkan matanya dan mengedikkan bahunya. Syasa membalas perkataan Mamanya, “Mama sotoy ih. Udah ah, mending Mama istirahat deh makin malam makin ngaco ngomongnya.”

“Eh, feeling seorang ibu kuat yah—eh, tunggu dulu, Mama belum selesai ngomong,” Anggun menahan lengan Syasa ketika hendak melangkahkan kaki.

“Gini yah, Mama lihat dari mata Gara itu tidak memancarkan rasa cinta sama sekali dengan pacarnya sekarang beda sama kamu—”

Syasa memutar bola matanya malas lalu kembali memotong perkataan Anggun, “tuhkan mulai lagi, jangan gitu dong, Ma. Lagian kita enggak tahu hubungan mereka kayak apa, udah lah terima aja kalau Syasa sama Gara emang udah putus,”

“Hei, dengarkan Mama dulu. Kamu ini paling suka potong-potong omongan orang. Dengarkan Mama, mata itu enggak bisa bohong, Sya. Mama bisa lihat dari mata Gara kalau dia emang enggak punya rasa cinta sama cewek itu, coba bayangin kalau Gara tetap bertahan dengan hubungannya tapi tanpa cinta, untuk apa?”

Syasa hendak membuka suara tetapi dicegah oleh Anggun dengan cepat.

“Oke, Mama tahu kamu pengen bilang, cinta datang karena terbiasa. Sekarang Mama mau bertanya ke kamu, apakah selama 6 tahun pacaran dengan Danu kenapa perasaan kamu tidak berubah pada Gara? Jangan bohong sama Mama, kamu itu lahir dari rahim Mama jadi otomatis Mama bisa dengan mudah tahu dan menebak apa yang kamu rasakan,”

“Ma—”

“Enggak Nak, selama ini Mama emang enggak pernah ikut campur secara langsung mengenai hubungan kamu dan Danu, tapi kelamaan Mama juga kasian sama dia kalau kamu cuma menganggap Danu sebagai pelampiasan hati kamu saja, Mama tahu selama ini kamu menutupi itu dengan Mamanya Danu yang tidak merestui kamu padahal kamu sendiri juga belum siap dan serius dengan Danu. Benar kan? Renungkan ini, kalau emang kamu masih punya rasa sama Gara perjuangin cinta kamu apalagi kalian masih sama-sama cinta dan lepaskan Danu, dia berhak bahagia dengan wanita yang bisa membalas cintanya,”

Anggun menepuk pundak Syasa pelan lalu berjalan mendahului Syasa yang terpaku di tempatnya masih menyerna perkataan Anggun.

                                   ****

                                   ****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


@AhyanGarasya : My sweet girl ❤

@Rendiiarjuna : widih si babang doi baru nichhhh 😂

@Heriiii1212 : eh beda lagi? Udah mupon nih si abang masalah.

@Alynaaa : bang Gara, dia siapa?

@AnittaFernda : love u, bb! ❤

Bagai dicabik-cabik hatinya terasa perih dan sakit melihat postingan tersebut. Hanya sebatas postingan saja sudah membuat Syasa sedih bahkan kini ia sudah menitihkan air mata. Baru saja Gara aktif di sosial media lalu ketika Gara aktif langsung mengunggah foto seorang wanita. Syasa tidak bisa mengerti dengan dirinya sendiri mengapa perasaanya tak pernah berubah sedikit pun pada Gara.

Syasa memberanikan diri untuk menyukai postingan tersebut walau hatinya begitu sakit. Syasa meremas kuat ponselnya tatkala melihat satu unggahan instastory milik Gara. Syasa menghempaskan ponselnya, Syasa menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa? Kenapa sesakit ini?” lirihnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Kenapa? Kenapa sesakit ini?” lirihnya.

Di luar kamar, Arya baru saja tiba di rumah dari rumah salah satu teman kampusnya. Arya melanjutkan kuliah s2, rencananya Arya akan menjadi dosen seperti sang Ayah. Ketika Arya melewati kamar sang Kakak, samar-samar terdengar isakan tangis. Arya penasaran, membuka kamar sang Kakak. Arya mengintip dan melihat Syasa duduk di karpet sambil memeluk kakinya. Sontak Arya masuk ke kamar dan mendekati sang Kakak.

“Kakak kenapa?”

Syasa mendongak menatap wajah Arya  dengan berlinang air mata.

“Arya,”

Arya memeluk tubuh sang Kakak yang bergetar hebat. Arya membiarkan Syasa menangis dalam dekapannya dan bajunya pun sudah basah karena terkena air mata. Cukup lama Syasa menangis, perlahan tangisannya mulai mereda. Arya mengurai pelukannya dan membingkai wajah sang Kakak lalu jari telunjuknya menghapus air mata Syasa.

“Mau cerita?”

Syasa masih menatap wajah Arya intens, ia menghela napasnya perlahan. Syasa rasa, untuk kali ini ia belum siap bercerita pada Arya. Biar lah, dia menyimpan rasa itu sendiri. Syasa menggeleng sambil melemparkan seulas senyum berusaha menyembunyikan kesedihannya.

Seolah mengerti Arya pun tidak memaksa Syasa untuk bercerita.

“Kalau begitu, Kakak mending tidur sudah larut malam. Bukan kah, besok Kakak harus kembali kerja, kan Apa pun yang buat Kakak nangis sekarang, Arya akan selalu ada buat Kakak, kalau Kakak mau berbagi cerita Arya bakal siap dengerin dan Arya juga siap kasih kakak masukan kalau emang diperlukan,”

Arya mengelus rambut Syasa dan memberikan kecupan di kening sang Kakak. Arya pamit ke kamar tak lupa kembali mengingatkan Syasa untuk beristirahat. Mengenai kondisi kaki Syasa—gadis itu sudah bisa berjalan dengan baik walau masih ada rasa nyeri. Syasa rutin mengoleskan salep pada kakinya yang keseleo dan besok ia sudah kembali berkerja.

Ponsel Syasa berdering, Danu meneleponnya. Syasa mengangkat panggilan tersebut.

“Walaikumsalam, kenapa Mas? Ohm, yaudah besok jam berapa emang? Okedeh, ah? Enggak kok aku kayaknya pengen flu jadi suaranya gini. Iya ini aku udah mau tidur kok, Walaikumsalam,”

Ternyata begitu banyak yang mengirimkannya pesan, di grup kelas sewaktu kuliah dan grup bersama Winda dan Fia pun ramai menanyakan mengenai postingan Gara. Syasa memilih mengabaikan semua chat yang masuk. Syasa merebahkan badannya ke kasur, memejamkan matanya berharap jika ia akan segera terlelap dan melupakan rasa sakitnya itu.












---

Semua foto yg di atas cuma perumpamaan aja, yah.

---

RA


Gimana? Hehe aku kembali, tapi gak janji balik up lagi. Gimana kalau kita ketemunya di ebooknya nanti aja? Setuju yah? Oke see you, fix aku bakal hiatus! ❤

Take Me Back! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang