-Enam-

238 27 4

“Ada apa yang sebenarnya terjadi? Kamu keserempet terus di bawa ke rumah sakit lalu kenapa sekarang malah ada di cafe sama dokter itu?” cecar Danu penuh tanya pada Syasa yang sedari tadi diam saja di mobil. Danu muak melihat aksi diam Syasa seharusnya gadis itu langsung menjelaskan padanya apa yang terjadi sebenarnya padanya.

Ekor mata Syasa bergerak ke samping melirik Danu yang sesekali melihat ke arahnya. Syasa menunduk dan menautkan jari-jarinya bingung harus menjelaskan pada Danu seperti apa. Ia tidak mungkin mengatakan jika dokter yang menanganinya adalah mantan pacarnya dan ia sangat merindukan sang mantan. Sungguh tidak mungkin, hubungannya pasti akan renggang dengan Danu. Syasa memutar otaknya mencari alasan lain yang akan dia jelaskan pada Danu.

“Tadi emang aku diserempet, terus orang-orang bantu aku ke rumah sakit setelah itu yah aku ditangani oleh dokter itu yang kebetulan dia adalah kakak tingkat aku di kampus jadi ya udah dia ngajak aku mengobrol sebentar di cafe tadi, udah itu aja,” yah itu lah jawaban yang tepat untuk saat ini setidaknya tidak membuatnya pusing untuk sekarang kalau pun pada akhirnya Danu tahu yang kalau dia bohong itu urusan nanti yang jelas Syasa tak ingin bertengkar dengan Danu sekarang kepalanya akan semakin pusing bila itu terjadi.

“Terus kenapa tadi mata kamu sembab? Kamu nangis kan? Tapi kenapa?” Danu masih mengajukan pertanyaan yang membuat Syasa bingung sendiri harus menjawab apa. Bodoh, seharusnya sebelum menyuruh Danu menjemputnya ia sudah menyusun penjelasan yang masuk akal agar Danu tidak banyak tanya seperti sekarang ini.

“I—ya emang aku nangis, soalnya...,” Syasa menggantungkan kalimatnya belum menemukan jawaban lain.

“Hm, itu aku ikutan sedih karena dengar cerita dia sama mantan pacarnya sedih banget jadinya aku ikutan nangis, kayaknya aku pengen PMS deh kok jadi sensitif gini,” Syasa berdoa dalam hati agar jawabannya itu masuk akal sehingga Danu tidak bertanya lebih lanjut lagi.

“Yakin? Kamu enggak bohong? Biasanya kalau kamu mau PMS palingan suka marah-marah enggak jelas tapi kenapa sekarang nangis? Sesedih apa sih cerita teman kamu itu?”

Nyatanya Danu tidak berhenti begitu saja, Syasa ingin sekali berteriak menyerah atas semua pertanyaan Danu tetapi itu tidak mungkin.

Syasa menghela napasnya dalam-dalam, lalu kembali berkata, “astaga Mas Danu, yakali kan aku cerita panjang lebar cerita dia. Udah ah, pertanyaan kamu buat aku pusing, mana kaki aku masih nyut-nyut lagi,” jawab Syasa sedikit merengek dan mencoba mengalihkan pembicaraan agar Danu tidak lagi mengajukan pertanyaan padanya.

Terdengar helaan napas dari Danu dan pria itu pun menurut saja. Sesampainya di rumah, Danu membopong Syasa ala bridal style menuju ruang keluarga sesuai permintaan Syasa. Sejauh ini, Danu sama sekali belum pernah memasuki kamar Syasa karena memang Syasa tidak mengizinkan. Jadi setiap Danu menolongnya ketika sedang sakit atau kesulitan seperti sekarang ini Danu hanya bisa membantunya sampai batas ruang keluarga saja selebihnya ada Mama, Papa atau Arya yang akan membantunya masuk ke kamar.

“Kamu istirahat, aku bakal izinin kamu sampai sembuh, aku balik yah soalnya aku harus kembali ke kantor,” Danu pamit dan menyempatkan mengecup kening Syasa lalu berlenggang pergi.

Anggun baru saja turun dari lantai 2 lalu melihat sang putri duduk di sofa sembari bersandar. Syasa memejamkan matanya sambil memijit pelan kepalanya yang terasa pusing. Ketika Anggun hendak mendekati Syasa tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Anggun memilih melihat siapakah yang datang. Seseorang berpakaian putih seperti seorang perawat tersenyum pada Anggun dan memegang kantong plastik putih.

“Permisi, saya ingin membawakan obat atas nama nona Risa,”

Anggun mengerutkan dahinya bingung, ia belum tahu jika Syasa mengalami kecelakaan kecil tadi pagi. Anggun menerima bungkusan plastik itu dengan raut bingung.

Take Me Back! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang