-Empat-

246 27 1

“Kita mau ke mana sih, Mas?”

Danu menuntun Syasa dengan mata tertutup berjalan memasuki sebuah cafe yang ia pesan untuk makan malam berdua dengan Syasa. Danu memiliki tujuan tersendiri mengajak Syasa dinner.

Cafe itu telah disulap menjadi sebuah tempat yang romantis dan terdapat banyak mawar. Danu mengintruksi Syasa agar menghentikan langkahnya.

“Aku buka yah,” Danu berdiri di belakang Syasa membuka kain penutup mata Syasa.

Dan perlahan seiring terlepasnya kain yang menutup mata Syasa, ia membuka kedua matanya. Syasa terpaku, melihat cafe tersebut yang sangat kental dengan nuansa romantis. Danu berjalan ke depan lalu berjongkok di depan Syasa sembari mengeluarkan sebuah kotak merah berisikan cincin.

“Sayang, aku ingin di setiap pagi yang pertama aku lihat adalah kamu dan ketika malam hari kamu yang akan menjadi tempatku mengaduh segala kelelahan ku. Aku mencintai mu dan menginginkan mu menjadi pendamping hidupku. Will you marry me?”

Syasa mendadak bisu, entah menjawab apa. Syasa belum siap, restu pun belum ia dapatkan dari Mama Danu.

“Mas—”

“Aku tahu, kamu pasti mengkhawatirkan soal Mama kan? Tenang, kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu Mama. Kamu enggak sendiri, aku akan selalu di samping kamu dan kita pasti akan meluluhkan hati Mama. Percaya sama aku,” potong Danu sangat mengerti dan memahami apa yang Syasa pikirkan.

Syasa menghela napasnya dalam-dalam, memandang intens kedua mata Danu yang memancarkan sebuah keyakinan besar. Keraguan Syasa seakan tertutupi dengan keyakinan yang Danu miliki. Syasa akhirnya menepis segala pikiran buruk yang terus bersarang di kepalanya dan mencoba berpikir positif dan yakin seperti Danu. Syasa menganggukkan kepalanya dan menjawab jika dia bersedia dan menerima pinangan Danu.

Danu berucap syukur dan rasa senang menghinggapi relung hatinya. Danu meraih tangan Syasa untuk memasangkan cincin di jari manis sang kekasih. Syasa memasang senyumnya. Danu berdiri lalu mengecup kening Syasa serta mengucapkan kata cinta. Acara itu kemudian dilanjutkan dengan makan malam romantis berdua.

Tepat pukul 10 malam sesuai pesan Gunawan pada Danu agar memulangkan Syasa pada jam tersebut. Mobil Danu telah sampai di halaman rumah Syasa. Ketika hendak turun, Danu menahan tangan Syasa.

“I love you,” kata itu lagi dan lagi terucap dari bibir Danu.

Syasa mengulas senyumnya lalu memukul pundak Danu, “sudah berapa kali Mas mengatakan itu?”

“Tidak terhitung, aku aja lupa berapa kali. Sudah lah, masuk gih, oh iya, besok sepertinya aku enggak bisa jemput kamu soalnya aku harus ke kantor cabang,”

“Hm, oke nanti aku bawa mobil, ya udah aku turun yah, bye,”

Sebelum turun Danu menyempatkan mengecup kening Syasa. Anggun yang baru saja keluar dari arah dapur menegur putrinya yang sedang berjalan sambil melamun, matanya turun melirik ke arah jari manis Syasa yang terdapat cincin.

“Kenapa kamu?”

“Ah? Enggak,”

“Jadi kamu udah terima?”

Syasa mengernyitkan dahinya belum menangkap maksud perkataan Anggun padanya. Anggun memutar bola matanya karena Syasa menjadi telmi alias telat mikir.

“Itu, si Danu. Dia ngelamar kamu, kan?”

“Kok, Mama tahu?”

“Iya lah, kan kamu enggak punya cincin kayak gitu, jadi Mama sudah bisa nebak itu dari Danu,”

“Sotoy ih, ini hadiah kerupuk, Ma.”

“Ih mana ada. Konyol kamu, mah. Tapi Mama penasaran apa kamu serius? Maksud Mama emang Mamanya Danu udah restuin kalian?”

“Belum,”

“Terus? Kan kamu udah bilang sama Mama enggak akan terima pinangan Danu kalau Mamanya belum kasih restu,”

“Iya awalnya juga gitu, cuma—”

“Cuma apa? Mama enggak mau yah kalau kamu sampai nikah lari,” potong Anggun sembari melemparkan tatapan horornya.

“Ya enggak gitu juga kali, Ma. Mas Danu yakinin aku dan katanya aku sama dia bakal berjuang bersama untuk dapat restu Mamanya,”

Anggun menghela napasnya lega, lalu kembali melayangkan pertanyaan pada Syasa.

“Kalau enggak berhasil, gimana?”

Syasa menggerakkan matanya ke kanan dan berpikir lalu menjawab, “yah, aku mundur. Gimana pun, aku enggak mau nikah kalau Mama Mas Danu enggak izinin anaknya nikah sama aku, gimana pun restu itu penting kan, Ma?”

Anggun mengangguk cepat mengiyakan ucapan Syasa. Mulut Anggun bergumam yang membuat Syasa menegur sang Mama.

“Andai Gara udah balik, kok Mama rindu yah sama Gara. Udah lama banget Mama enggak lihat dia. Semoga kalian jodoh deh, hati Mama udah milih Gara jadi mantu, Mama. Eh bukannya Mama enggak setuju sama Danu cuma entah lah Mama lebih maunya Gara,”

“Mama! Jangan ngomong gitu ah, kan Syasa udah bilang enggak usah bahas tentang dia. Udah ah, Syasa ke kamar,”

Syasa berlari menuju kamarnya. Sementara Anggun masih diam ditempatnya memikirkan pertemuannya yang tidak disengaja 5 tahun yang lalu dengan Gara. Anggun diam-diam berdoa jika Gara dan Syasa berjodoh, tapi ia menyerahkan pada sang Kuasa mengenai hal tersebut jikalau memang pada akhirnya Danu adalah jodoh putrinya maka ia akan menerima dengan lapang dada.

                                  ****

Seorang gadis berdiri di area kedatangan, menunggu sang kekasih datang. Gadis itu tak henti mengukir senyum tatkala sang kekasih mulai terlihat. Gadis itu berlari menuju sang kekasih dan memeluknya erat.

“I miss you so badly, Yan!”

Pria tampan itu membalas pelukan sang kekasih tak kalah erat sembari mengecup kening wanitanya.

“I know it, babe,”

Anitta—gadis yang berada di pelukan sang pria akhirnya melepaskan dirinya dari pelukan sang kekasih. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu membuat sang kekasih gemas dibuatnya.

“Enggak LDR-an lagi, kan?” Anitta memicingkan matanya.

“Hm—”

“Awas yah! Enggak mau pokoknya, enggak enak tahu. Kalau lagi rindu itu susah mau meluk enggak bisa,”

“Kan bisa telefon,”

“Ih, enggak enak. Kan maunya peluk masa iya aku peluk suara kamu emang bisa?” Anitta mengerjapkan matanya memasang tampang polosnya.

Tak kuasa menahan gemas, sang pria mencubit kedua pipi dan hidung sang gadis.

“Kebiasaan deh, kan aku bukan boneka yang bisa dicubit seenak kamu,” Anitta mencibik kesal karena sang kekasih selalu saja mencubit pipi dan hidungnya.

“Haha, iya maaf,”

Anitta bersama kekasihnya memasuki mobil dan rencananya Anitta akan mengantar sang kekasih menuju apartemen. Walau pria itu memiliki sebuah rumah tepatnya milik orang tuanya hanya saja rumah itu belum dibersihkan karena sudah lama tak dihuni.














---

RA

---

Fyi, cerita ini udah mau End dan tersimpan di draf. Sebenarnya aku bisa aja upload sekaligus cuma yah gitu Haha. So, please, jangan lupa tinggalin jejak vote+comment kalian!
Mohon koreksi kalau ada typo:)

Take Me Back! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang