Love Sign [part 1]

9 4 0

"Ya ampuun, mata kamu kenapa Van??" tanya Citra saat melihatku keluar dari kamar, lengkap dengan mata yang bengkak.

"Oh"

Aku hanya mampu terdiam untuk sesaat, memikirkan alasan yang tepat agar aku tak perlu menceritakan apa yang kualami semalam.

"Gatau nih, kena debu mungkin"

"Gimana ceritanya bisa kena debu? Mata kamu lebih kayak bengkak karena abis nangis ituu"

"Hadeeh, nangis kenapa coba Citraa. Uda deh ah jangan ngaco"

"Beneran??"

"Iyaaa beneran Citraaa"

Aku berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir teh hangat, sedangkan Citra melanjutkan aktivitas menonton serial film action favoritnya yang hanya dapat dia nikmati dihari Minggu karena padatnya aktivitas perkuliahan dan organisasi yang ia ikuti. Sambil mengaduk teh, tanpa sadar pikiranku kembali pada pikiran-pikiran yang semalam muncul dibenakku. Aku hanya mampu diam, menatap dalam secangkir teh yang baru saja selesai kuaduk.

"Andai masalah itu bisa seperti gula pasti menyenangkan"

Aku tersenyum untuk sesaat.

"Bisa dengan mudahnya larut dan hilang di tengah air"

Aku kembali terdiam, hingga tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca. Dengan sigap aku mengubah arah pandanganku keatas, berusaha agar mataku yang akan mengeluarkan bulir air mata ini membatalkan niatnya.

"Cit, kamu hari ini ada acara nggak?" tanyaku pada Citra, tepat setelah mataku tak lagi berkaca-kaca, sambil berjalan menuju sofa tempat Citra duduk.

"Ngga ada Van, kenapa?" jawab Citra.

"Temenin aku ke toko buku yuk? Aku mau lihat-lihat novel, kali aja ada yang menarik untuk dibaca hehehe" ucapku tepat setelah duduk di sebelah kiri Citra.

"Hhhmm,. Gimana yaaa" ucapnya sambil tetap serius memperhatikan film yang sedang ia tonton.

"Ayolaaahh"

"Hahaha iyaiyaa, ntar ya kalau episode yang ini uda kelar"

"Siaapp!!"

***

Seperti biasa, Citra langsung mendatangi deretan buku non fiksi setiap tiba di toko buku. Sedangkan aku, langsung menuju deretan buku fiksi maupun novel. Hal pertama yang selalu kulakukan saat melihat berbagai macam jenis buku yang tertata rapi adalah memperhatikan sampul dan judulnya. Buku-buku yang terlihat menarik lah yang akan kubaca sinopsisnya.

Hampir tiga puluh menit memperhatikan deretan buku yang terlihat menarik, namun tak ada satupun yang mampu benar-benar menarik perhatianku untuk membelinya. Sementara itu, Citra terlihat masih seru dengan dunianya di deretan buku non fiksi. Membaca setiap buku yang memang sudah tak lagi terbungkus oleh plastik. Mataku masih terus mencari buku yang menarik diantara deretan novel fiksi hingga tanpa sengaja mata ini menemukan sebuah buku dengan sampul yang sangat menarik. Sebuah buku berjudul "Sepuluh Detik" dengan sampul yang bergambarkan sebuah menara favoritku, menara Eiffel.

"Awalnya aku tak percaya atas semua yang terjadi padaku, semua terjadi begitu cepat hingga aku tak mampu berpikir dengan jernih saat itu. Namun setelah aku dan Roy resmi menikah, kami baru menyadari bahwa setiap hal yang kami alami, setiap masalah yang kami alami, setiap kejadian penting yang kami alami, semuanya berawal dari Sepuluh Detik.

Siapapun pasti takkan mempercayainya.

Tapi aku percaya akan kekuatan Sepuluh Detik itu."

Love SignRead this story for FREE!