Keresahan [part 2]

8 4 0

Dua minggu pun berlalu tanpa ada hal-hal berarti yang kualami. Sambil merapikan kembali rambut yang sedikit berantakan, aku berjalan dari parkiran motor menuju kelas melalui koridor depan perpustakaan. Namun, belum sempat aku memasuki koridor yang selalu sepi setiap pukul tujuh pagi itu, aku melihat sosok yang sangat tak asing bagiku. Aku melihat Citra, dan dia tidak sendiri, dia bersama seorang cowok. Posisi mereka saling berhadapan, jika dilihat dari arahku Citra berada disebelah kanan dan cowok tersebut berada disebelah kiri. Raut wajah serius diantara keduanya membuat langkah kakiku terhenti untuk sesaat, kemudian aku berjalan mundur secara perlahan hingga aku tak lagi mampu melihat keberadaan mereka.

Sepuluh menit aku menunggu di dekat ujung koridor perpustakaan, cowok tersebut akhirnya pergi dan meninggalkan Citra yang sedang berjalan pelan berlawanan arah dengan cowok tersebut. Aku berjalan dengan cepat untuk menyapa Citra.

"Hey Cit" sapaku.

"Eh ya Van. Loh kamu kok disini? Kok belum di kelas?"

"Yaah tadi aku liat ada yang ngobrol serius gitu disini, dan aku ngga mau ganggu. Makanya aku nungguin di ujung koridor" ucapku sambil tersenyum nakal, menggoda Citra.

Citra diam untuk sesaat disertai pipi yang sedikit memerah.

"Jadi kamu tadi liat?" tanyanya sambil menoleh kearahku.

"Yaaa begitulah. Dia siapa Cit?"

"Salah satu anggota di organisasi yang sama denganku"

"Oh jadi tadi lagi ngomongin tentang organisasi?"

"Enggak. Tadi dia nyatain perasaan"

"Ha??" langkahku terhenti sambil mengalihkan pandanganku ke arah Citra.

"Ihh kaget tau Van!" ucapnya yang sedikit tersentak kaget saat aku menghentikan langkahku.

"Hehe sorry sorry, trus gimana jadinya?"

"Aku tolak"

"Why?"

"Tiga hari yang lalu aku uda coba jalan bareng sama dia, tapi nyatanya aku ngga ngerasain apapun. Aku juga ngerasa kalau aku emang harus nolak dia"

"Kalian uda jalan berapa kali?"

"Cuma sekali, kemarin itu doang"

"Haahh,. Meskipun ini hal yang selalu terjadi sama kamu, tapi sejujurnya kadang aku ngerasa ada yang aneh deh Cit"

"Apanya yang aneh Van?"

"Kadang aku masih ngerasa aneh aja, kok kamu bisa memutuskan semua itu hanya dengan satu kali jalan bareng? Padahal setauku yang namanya cinta, sayang, suka itu bisa tumbuh karena waktu juga, ngga ada yang instan"

"Mungkin intuisi Van hehehe"

"Ihh intuisi apaan coba"

"Yauda ayo buruan kita ke kelas, uda telat nih"

"Omaigaat iya!!"

Ditengah kelas yang sedang serius membahas materi tentang normalisasi database, sesekali aku memperhatikan ponselku. Melihat foto-foto di media sosial, memperhatikan setiap hal yang menarik. Rasa bosan yang selalu muncul ditengah perkuliahan memang tak mampu dihindari, dan hanya dengan bermain-main di internet lah aku mampu menghilangkan rasa bosan tersebut. Namun, ada kalanya internet, atau lebih tepatnya media sosial mampu menjadi penyebab datangnya pikiran buruk. Sebuah pemikiran yang sebenarnya muncul hanya karena sugesti, namun tak bisa dihentikan karena telah tenggelam dalam pemikiran buruk tersebut.

Dan itulah yang kini sedang kualami.

Setelah sekitar lima menit melihat berbagai macam foto dan cerita di media sosial, tanpa sadar aku menemukan sebuah foto dari sebuah akun media sosial milik orang yang dulu kukenal namun kini menjadi orang asing bagiku. Sebuah akun milik dia, yang pernah menjadi orang ketiga diantara aku dan kak Edo.

Aku melihat sebuah foto cowok dan cewek berdampingan, tak terlihat mesra, namun terlihat sangat dekat. Arti dari foto tersebut semakin jelas saat aku melihat caption dari foto tersebut yang singkat namun sangat jelas maknanya. Sebuah emoticon berbentuk hati. Detik itu juga entah bagaimana jantungku seakan tertusuk oleh sesuatu yang menyakitkan. Tak ada kata-kata yang mampu kuucapkan saat melihat foto tersebut, namun rasa sakit yang kurasakan tak mampu dihindari.

Dan disaat yang bersamaan, entah kebetulan macam apa yang terjadi, aku menemukan foto lain yang juga dari orang dimasa laluku. Sebuah foto milik kak Edo dan pacarnya. Sebuah foto yang menampilkan dua insan yang terlihat sedang dimabuk asmara. Dan entah darimana datangnya, jantungku kembali seakan tertusuk sesuatu yang menyakitkan.

"What? Kenapa aku begini? Aku kan uda ngga ada perasaan apa-apa sama dia, tapi kenapa aku ngerasa sakit gini liat foto dia?" tanyaku dalam hati.

***

Selama tiga hari berturut-turut rasa sakit itu entah bagaimana masih tetap ada dan masih kurasakan. Aku tak pernah menyangka, jika melihat orang dari masa lalu akan menimbulkan perasaan sakit seperti ini. Itu semua hanyalah masa lalu, aku bahkan sudah melupakan semuanya selama hampir tiga tahun ini.

"Bagaimana bisa hanya melihat foto mampu membuat rasa sakit ini muncul?" tanyaku dalam hati.

Jam dinding telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun mataku masih tak ingin beristirahat. Sambil berbaring di tempat tidur, aku melihat langit-langit kamarku yang gelap, hanya tersinar sedikit cahaya dari lampu tidurku. Dalam keheningan malam, tanpa sadar pikiranku kembali pada kedua foto yang kulihat tiga hari lalu.

Kedua foto yang kulihat tiga hari lalu dengan jelas memancarkan aura kebahagian pada setiap orang yang ada didalam foto tersebut. Perasaan bahagia saling mencintai yang kini tak mampu kurasakan. Sebuah perasaan yang kini menjadi asing bagiku. Sebuah perasaan yang kini mulai kuragukan keberadaannya. Sebuah perasaan yang tak lagi kuyakini akan mampu kembali aku rasakan. Pikiranku terus berputar pada kenyataan bahwa perasaan yang dulu sempat membuatku bahagia meski hanya sesaat kini tak lagi mampu kurasakan. Hingga tanpa kusadari, air mataku telah mengalir secara perlahan melewati pipiku.

"Mereka uda bahagia sama pasangan masing-masing, tapi aku? Jangankan punya perasaan sama cowok, aku aja jarang banget kenalan sama cowok"

"Apa ini karma karena dulu aku seenaknya suka sama orang lain padahal masih punya pacar?"

"Tapi apa itu artinya aku akan seperti ini terus? Sendiri tanpa ada seorangpun yang cinta sama aku?"

Air mataku semakin deras mengalir saat membayangkan betapa kenyataan akan begitu menyakitkan jika berjalan seperti apa yang baru saja kubayangkan.

"Putri dan Devi sudah bahagia dengan pacar masing-masing, sedangkan Citra memang berpegang teguh dengan prinsipnya. Andai aja aku bisa seperti Citra. Tapi bagaimana caranya bisa sekuat dia? Apa Citra ngga pernah takut jika dia akan sendirian selamanya? Ingin sekali rasanya aku bertanya, tapi rasanya itu bukan pertanyaan yang pantas untuk diajukan meskipun kami sahabat"

Isak tangisku semakin tak mampu kukendalikan. Rasa takut yang mulai merasukiku tak lagi mampu kubendung. Aku ketakukan.

"Apa aku akan sendirian selamanya? Tapi aku juga ingin merasakan bagaimana hidup, tumbuh, dan tua bersama orang yang mencintaiku dengan tulus"

Malam pun terus berlalu, namun air mataku masih tak ingin berlalu. Ia masih terus mengalir tanpa mampu kuhentikan.

Love SignWhere stories live. Discover now