Berharap Pulang

4K 160 3

Regas POV

Sekarang Moza sudah tahu kalau Bembenk lah orang yang memberitahukan keberadaannya kepadaku. Bembenk sendiri yang bilang padaku.

Walaupun begitu aku tidak akan pernah menyerah untuk membawa Moza kembali ke rumah.

"Regas, mana Moza? Katanya kau akan membawanya pulang?" Mommy sudah berdiri di depan pintu begitu mendengar suara mobilku yang masuk ke halaman rumah. Matanya tidak berhenti melihat ke dalam mobilku berharap Moza akan keluar dari sana.

"I'm sorry Mom. Moza butuh waktu untuk.pulang katanya" Mommy terdiam.

"Berikan Moza waktu sedikit supaya dia bisa melupakan masa lalunya yang kelam, Mom"

Aku merangkul mommy dan membawa masuk ke dalam rumah. Di sudut tangga Mak Odah menatapku sedih. Aku tahu apa yang sedang dipikirkan Mak Odah sekarang. Pasti beliau juga merindukan anak asuhnya itu.

Aku memapah mommy ke kamarnya dan menidurkannya di ranjangnya. Wajah mommy sangat lelah. Kantung matanya tebal dan menghitam karena kurang tidur dan hanya memikirkan Moza yang hampir seminggu tidak di rumah.

"Mommy kangen Moza. Kangen sama Moza" isak Mommy membuatku semakin sesak. Bagaimana bisa aku melihat seorang ibu yang harus rela ditinggalkan anaknya. Meskipun anak itu tidak lahir dari rahimnya.

Aku menyayangi mommy dan juga Moza.

Aku terduduk di ruang tengah. Aku usap wajahku yang memang sangat lelah dan frustasi.

Tiba-tiba Mak Odah datang dan membawakan ku segelas air jeruk peras agar aku lebih segar sedikit. Mak Odah duduk di lantai dan menunduk. Aku pun merasa tidak enak dengan Mak Odah yang duduk di bawah sedangkan aku yang lebih muda duduk di atas. Aku mempersilakan Mak Odah agar duduk di sofa saja. Awalnya Mak Odah ragu dan akhirnya ia pun menurut.

"Mas.." suara parau itu terdengar.

"Maafin aku Mak, aku belum bisa bawa Moza pulang. Moza perlu waktu"

"Mak kangen sama Non Moza. Dia sudah seperti anak sendiri. Oh ya mas, Mak boleh ketemu sama Non Moza?"

Aku terkejut dengan pertanyaan Mak Odah. Muncul ide baru di otakku. Bagaimana kalau Mak Odah saja yang membujuk Moza pulang. Aku tahu betul kalau Moza sayang sekali dengan Mak Odah.

"Akan aku atur waktunya Mak supaya Mak Odah dan Moza ketemuan. Kalau begitu aku ke kamar dulu ya Mak" Aku berdiri dan mengusap pelan punggung tangan Mak Odah.

"Terima kasih minumannya, Mak" kataku sebelum aku menaiki tangga.

❤❤❤❤❤

"Mas..bangun sudah pagi!" Mak Odah mengetuk kamar Regas. Si empunya kamar pun terbangun dan melihat jam beker di sebelahnya.

"Sudah jam setengah 8 pantas saja matahari sudah tinggi" pikir Regas dan langsung menuju kamar mandi.

Regas berdiri di bawah shower dan masih memakai kaos oblong dan celana boxer.

"Ya Tuhan mengapa aku menyayangi Moza? Bukan..bukan karena dia saudara tiriku tapi aku menyayanginya karena dia wanita lain. Andai saja daddy nggak menikah dengan mommy kupastikan Moza akan aku miliki seutuhnya.

Satu jam kemudian Regas siap dan menuju kampusnya. Walaupun otaknya sedang tidak karuan dia lebih memilih kuliah daripada sendiri di rumah dan akan membuatnya makin memikirkan Moza.

"Apa itu Moza?" batin Regas. Matanya menangkap sosok Moza sedang duduk sendiri di pojok kantin. Tempat favoritnya.

Moza terlihat asyik dengan laptopnya dan tidak menyadari keberadaan Regas.

Thank you My Stepbrother Baca cerita ini secara GRATIS!