Azka Syarif Ramadhan namanya. Ia hanyalah anak Adam yang tak begitu mengenal jati dirinya sendiri, tak tau tujuan hidup dan tak tau arah hidup yang di jalaninya, yang ia tau hanya ada gemilang dan bahagia. Itu saja.
Namun betapa beruntungnya ia, seb...
Biiip... Biiip... Ponsel Azka bergetar. Dengan wajah malas Azka melirik layar ponselnya dengan sebelah mata sambil sesekali menguap.
Matanya melotot. "Buset! Udah jam enam aja." Dengan gelagapan Azka lompat dari atas kasur dan menyambar handuk yang tergantung di pintu kamarnya.
Sementara itu, Alizka sedang sibuk mempersiapkan roti bakar kesukaan adik kesayangannya itu. Yah, seperti sebuah tradisi di tiap paginya, ia selalu membuat roti bakar untuk Azka sejak Azka masih SD. Sekarang adik kecilnya yang dulu masih ingusan telah berubah menjadi anak SMA yang tampan dan mungkin menjadi tipe idaman para gadis-gadis cantik di sekolahnya.
"Azka!" Panggil sang kakak dengan suara yang nyaring menembus dinding kamar Azka.
"Iya." Jawab Azka sembari merapikan rambut yang hampir menutupi Alisnya. Setelah puas memamerkan wajah rupawannya pada cermin, ia pun keluar dari kamar dan turun dari lantai dua menghampiri kakaknya. "Udah siap ya roti bakarnya?" Tanya Azka sesaat setelah ia sampai di meja makan.
"Udah dong," sahut Alizka sambil mengacak rambut Azka yang tadinya rapih. Azka hanya tersenyum sambil mengunyah roti yang sudah mendarat di mulutnya.
"Kakak hari ini pulangnya agak telat, enggak apa-apa kan?" Tanya Alizka sambil menatap manis wajah adiknya. "Mama sama papa mungkin hari ini pulangnya juga agak kemalaman."
"Iya, enggak apa-apa, Azka ini cowok kak, bukan cewek yang di hawatirin terus," imbuh Azka.
Alizka tersenyum legah.
"Dan soal papa sama mama," Azka meneguk susu hangatnya, "udah biasa, justru aneh kalau mama sama papa ada di rumah," katanya sambil melirik.
Alizka yang nampak tak senang dengan kata-kata Azka menghentikan makannya. Ia menarik napas lambat. "Azka, mama sama papa itu..."
"Enggak usah di bahas," potong Azka,"Azka berangkat ya, kak," seru Azka sambil menenteng ransel hitamnya, tidak lupa ia meneguk susu hangatnya sampai pada tetes terakhir, seakan tak mau menyia-nyiakan apapun yang di buat kakak tercintanya. "Dah kak," lambainya sambil berlari kecil menuju pintu keluar.
***
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.
Azka Syarif Ramadhan, anak laki-laki dengan tinggi 1,75 ini adalah anak remaja yang baru saja naik ke kelas 3 SMA. Keluarganya cukup lengkap, ada ayah, ibu dan juga seorang kakak perempuan yang sangat di sayanginya, namanya Alizka Syarif Ramadhanti. Tapi, apa kasih sayang yang ia dapatkan juga lengkap? Sayangnya Azka tidak pernah merasa lengkap atau sempurna jika berbicara tentang sebuah kasih sayang. Ayah dan ibunya yang di panggilnya mama dan papa itu seperti tidak pernah hadir dalam hidup Azka. Kesibukan mereka akan tuntutan pekerjaan membuat Azka terasa jauh dari kesan anak yang dekat dengan orangtua. Terkadang ia melontarkan tanya pada hati kecilnya, "Apa mama sama papa tau kapan Azka pertama kali merangkak? Pertama kali berjalan? dan apa mama sama papa tau kapan pertama kali Azka bisa mengucapkan kata 'mama', 'papa'?" Pertanyaan-pertanyaan yang mengusik hati itu membuatnya semakin benci dengan keluarga kecilnya. Baginya, dalam hidupnya hanya ada Azka dan Alizka, itu saja.
Pagi yang cukup sejuk dan tenang, Azka membelah angin dengan motor merah miliknya, lengkap dengan helm merah yang membungkus kepalanya. Hatinya kini tak sesejuk pagi yang menyapa, memacu dirinya untuk membawa motor dengan kecepatan tinggi. Baju putihnya meliuk-liuk di hempas sapuan angin. Hatinya riuh setiap kali membahas mama dan papanya. Tak ada senang atau behagia, sedikitpun.
"Weiii, bro! Suntuk benar mukanya, kenapa?" Tanya sahabat Azka setelah Azka masuk dalam kelas. Namanya Rendra Abdullah, ia sahabat Azka sejak masuk SMA. Saat masih kelas satu SMA Rendra menjadi murid pindahan yang datang dari Makassar.
Azka mendengus kasar, "menurut lo?" Tanya Azka sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Rendra tersenyum dan menepuk bahu Azka, "Masi kesal sama mama papa kamu?"
"Tau ah!" Jawab Azka dan langsung menyembunyikan wajah kesalnya di balik lengan yang di telungkupkan di atas meja.
Rendra tersenyum.
Detik berikutnya Azka mengangkat kepalanya, "Ndra, kalau lo pernah kesal enggak sama mama atau papa lo?"
Rendra melihat langit-langit sembari berpikir. "Hmmm, enggak, enggak tega bro," imbuh Rendra memasang tampang tak tega.
Azka diam sejenak, otaknya mencerna kata 'enggak tega' yang di lontarkan Rendra.
"Kamu belum pernah ketemu sama umi, eh," Rendra meralat kalimatnya, "maksud aku belum pernah ketemu mama sama papa aku ya?" Tanya Rendra. Wajar Rendra bertanya seperti itu, pasalnya ayah dan ibu Rendra memang berada di Makassar, tempat asal Rendra. Mereka hanya datang jika hari raya saja. Sedangkan Rendra sendiri tinggal bersama neneknya dan akan ke Makassar mengunjungi ayah dan ibunya jika hari libur.
"Emang mama sama papa lo orangnya kaya gimana sih?" Tanya Azka yang penasaran dengan sosok orang tua Rendra.
"Hmmm gimana ya? Bingung mau ngejelasinnya," tutur Rendra.
"Yang pasti enggak sengeselin orang tua gue, kan?" Tanya Azka.
"Ah, orangtua kamu enggak gitu deh kayanya." Dalihnya.
"Lo pernah ketemu sama orang tua gue?"
"Enggak sih,"
"Huu," kesal dengan jawaban Rendra, Azka langsung saja menjitak kepala Rendra. "Terus tau apa Lo tentang orangtua gue?"
Sambil mengusap kepalanya, Rendra mendengus kesakitan. "Yah kan semua orang tua itu sama, sama-sama sayang sama anak-anaknya."
"Sama?" Lirihnya, "kalau sama, mana mungkin ada yang namanya aborsi, mana mungkin ada yang tega buang anaknya kayak yang di berita-berita, dan kalau semua orangtua sama..." Azka menghela napas panjang, "enggak akan ada nasib yang kayak gue." Tuturnya dengan suara kesal.
Melihat sahabatnya yang terus mengeluh, Rendra hanya tersenyum dan menyenderkan tubuhnya di sandaran bangku. Ia menarik napas, "kamu enggak tau aja maksud dari semua ini," dalihnya.
"Maksudnya?" Tanya Azka yang tidak paham dengan kalimat Rendra yang terdengar abstrak.
Rendra hanya nyengir dan tidak menjawab pertanyaan Azka. ______________________________________
Jangan lupa vote dan coment ya teman-teman, aspirasi anda sangat berharga. Terimakasih 😊😊