KALANDRA👟 EX-PART.

26 3 5

Sekian tahun telah berlalu, kurang lebih sekitar 2 tahun. Kalandra Rezvan, seorang putra bungsu yang memiliki banyak keajaiban. Entah apapun itu, selama masa pengobatannya dia selalu bersemangat, padahal dia tahu kalau dirinya sudah tidak bisa berjalan dengan normal. Cacat?

Bukan, dia tidak cacat, dia membutuhkan lebih banyak istirahat agar otot-otot yang mulai mengendap dalam tubuhnya itu segera merenggang kembali.

Hari ini adalah jadwal cek upnya. Dia sangat antusias, bahkan dia adalah orang pertama yang bangun untuk menanti setiap jadwal cek upnya.

Sudah sedikit membaik, dia juga sudah tidak menggunakan kursi roda, dia menggunakan tongkat sebagai pengganti kursi roda.

"Mandi!" teriak Ravi, yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Hari di mana Ravi sudah resmi menjadi anggota militer. Dua hari lalu Abangnya telah di lantik, sungguh ke ajaiban luar biasa.

"Idih, marah-marah mulu kopral!* celetuk Kala.

"Diem lo, enak aja kopral. Gue itu kapten, yu now." sarkas Ravi.

"Iya deh iya, yang katanya Kapten," ledek Kalandra.

Kalandra adalah anak yanG super menyebalkan, pasalnya dia akan selalu membuat kerusuhan, meski sedang sakit.

Selang beberapa menit, Kalandra sudah siap dengan gayanya yang super menggemaskan. Dia juga sudah berada di dalam mobil, kali ini Ravi dan Papanya ikut menemaninya.

Akbar tidak mau melewatkan hal yang membuatnya resah selama ini. Biasanya ketika Mentari menemabi Kala untuk cek up, Akbar selalu ada kegiatan lain di luar kota. Mentari tidak pernah mengeluhkannya. Karena ia yakin,  suaminya sudah bekerja keras untuk menafkahinya dan anak-anaknya. Lagi pula, Mentari juga tidak mau merepotkan siapapun selagi ia masih bisa melakukannya sendiri.

Mobil melaju, Ravi mengendarainya begitu santai.  Sepanjang perjalanan Kala hanya diam, tapi dia tidak pernah ke habisan akal, dia membuka kaca mobil, menatap keluar jendela, sambil menikmati udara pagi hari.

Karena belum sempat sarapan, Mentari membawa bekal, karena putra bungsunya juga sulit untuk di suruh makan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Karena belum sempat sarapan, Mentari membawa bekal, karena putra bungsunya juga sulit untuk di suruh makan.

"Bun keren yah, wudih aku mau kesana nanti," celetuk Kala, dengan gemas Mentari memasukam.sesuap nasi goreng yang telah ia bawa.

" Bubun, mm.." Gerutu Kala.

Ravi tertawa, melihat raut wajah kesal adiknya. "Udah gede La, masih aja di suapin." ucap Ravi.

"Berisik," gumam Kala, dengan mulut yang sudah di penuhi nasi goreng.

"Habis, kamu tuh kebiasaan, Dek, kalau ngga di suapin nasinya masih utuh, Bubunnya gemas." cerocos Mentari, tidak hentinya menyuapi Kala, hingga suapan terakhir, Kala menerima suapan Bubunnya.

Mentari pun memberi minum dan obat yang telah di siapkannya.

. . .

"Ingat, kamu belum sembuh benar, jadi kamu harus banyak beristirahat." Pesan Hary.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now