KALANDRA 👟 26.

25 5 12

Anne Marie -Perfect To Me

Sebagai persembahan part ini, yuk cus baca juga ceritanya 😋

Ini cerita gue, bukan ya? Udah jelas ini cerita aneh, Ravindra Shaquille Akbar. Manusia super nenyeramkan, kata adek gue, Kalandra.

Manusia yang selalu buat gue darah tinggi, tapi juga ngangenin. Dia Kalandra, yang selalu buat semua orang meneriaki namanya.

Hari demi hari berganti begitu cepat, setiap hari pasti selaly ada omongan ngga enak dari lingkungan luar. Cukup menguras air mata ketika dia selalu nanya, "kapan Andra, bisa jalan Bang?" Perasaan bersalah itu muncul dan menyayat luka yang hampir kering.

Setiap malam gue selalu menemaninya tidur, itu pun bergantian dengan Andena, kakak gue, kalau dia di rumah. Gue selalu melarang Bubun untuk tidak terlalu capek ngurusin Andra.

Gue yang anterin dan nungguin dia di kampus, gue juga yang nemenin dia ketika di perpustakaan. Jujur rasanya masih ngilu, mendengar penjelasan dari Dokter Hary, beberapa waktu lalu. Kebetulan waktu itu ngga ada Papa, yang nemenin Bubun buat ke rumah sakit. Tapi gue maksa, beruntungnya ada temannya Kala, Maria namanya. Dia gadis cantik yang hampir setiap hari datang ke rumah, entah itu untuk pekerjaan kuliah atau sekedar main, begitu juga Akmal. Sahabat adek gue yang satu itu kaya ekor yang ngga bisa jauh dari kepalanya.

Beruntung deh pokoknya. Setidaknya, gue masih bisa bernapas sedikit lega.

Dan ya, seperti yang kita ketahui, sepanjang hidup itu ngga pernah ada yang mulus gitu aja, pasti ada rintangannya. Mungkin saat ini rintangan yang di lalui keluarga kecil gue adalah menjaga Kalandra, dia istimewa, anak yang selalu bisa buat gue susah marah, meski gue natap dia ngga pernah ramah. Dia tetap tersenyum.

Waktu juga ngga bisa di salahin, kenapa berlalu begitu aja, intinya kita harus tetap bersyukur, karena gue masih bisa lihat adek gue bisa menyelesaikan kuliahnya dengan keterbatasan fisik yang menjadi hambatannyan.

Meski berat, gue tahu Andra selalu sedih, ketika gue ajak jalan ke taman, orang yang menatap dia ngga cuma lihat lalu pergi, tapi mereka membicarakannya, bahkan ada yang sampai bicara terus terang depan dia, saat gue ngga ada.

"Sayang cacat, ganteng sih, cuma ngga deh."

"Kasihan ya, orang tuanya ngurusin anak cacat kaya dia, ganteng sih, cuma saya sih ogah."

"Cute sih, tapi aku ngga mau punya pacar cacat."

Beberapa kata-kata yang ngga enak buat di dengar, sempat terdengar oleh gue, meski Andra diam tidak menanggapinya.

Sekitar dua hari lalu, dia sempat ngobrol sama gue, dia duduk bersandar di tempat tidurnya, ngga lupa dengan ponsel yang ada di tangannya. Gue yang selalu tidur di kamarnya itung-itung gue ngga capek buat naik turun tangga.

"Bang?"

Dengan cepat gue noleh, tapi dia masih fokus dengan ponselnya, gue perhatiin dia lagi main game, ya bodo amat sih, lagian gue juga sibuk lagi ngerjain soal buat tes masuk akademi militer, yang di adain 2 bulan lagi.

"Apa La?" Sahut gue, tanpa melihat Kala.

"Emang, kalau cacat itu salah ya?" katanya. Gue diam sejenak. Mencerna apa yang dia ucapkan barusan.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now