KALANDRA 👟 25.

Start from the beginning

"Pagi, Dok, gimana beneran boleh pulang, kan?" kata gue antusias.

"Ngga usah lebay, kaya bocah, umur lu udah tua." protes Abang gue.

"Sirik, nggausah didengerin Dok," kata gue, Dokter Hary malah ketwa.

"Kamu harus banyak istirahat, agar cepat pulih," pesan Dokter Hary. Gue ngangguk, usai pemeriksaan terakhir, ketika Dokter Hary akan keluar, gue tarik lengan jas putih yang menandakan kalau dia adalah Dokter.

"Ada apa Andra?" tanya Dokter Hary.

Sudah lama gue mau nanya, tapi gue ngga berani, saat ini bibir gue masih bungkam, gue melihat Abang gue biasa aja, tapi hati gue bilang Bang Ravi menyembunyikan sesuatu dari gue.

"Kenapa kaki Andra, ngga bisa di gerakin sama sekali?" kata gue.

Dokter Hary hanya tersenyum, lalu dia melepaskan tangan gue perlahan darinya, gue lihat Bang Ravi, dia memalingkan wajahnya.

"Kamu harus pulih dulu, saya permisi dulu ya," kata Dokter Hary, lalu ia pergi diikuti oleh suster dibelakangnya.

Gue diam sebentar, sebenarnya pertanyaan itu sangat menggamggu, tapi, gue ngga peduli. 

"Bang ayo." ajak gue.

"Bentar gue ambilin kursi roda dulu," katanya. Gue mengangguk.

Gue menunggu cukup lama,  gue mikir, Bang Ravi ambil kursi roda di mana, lama banget. Akhirnya gue ambil ponsel gue yang ada di sebelah bantal, gue buka aplkasi Whatsapp, dan mencari satu nama yang gue gue tungguin keberadaannya.

MeriA.
Lo marah beneran ya?

Satu pesan itu, gue berhasil kirim,  ke Maria. Entah akan dibalas atau engga. Setelah itu  ngga lama Abang gue datang bersama kursi roda yang  ada bersamanya.

"Hai Kala," suara cempreng itu, membuat gue beralih dan menemukan sosok yang manggil nama gue.

"Lho  kalian?" tanya gue bingung.

"Ketemu di lorong tadi,  sini gue bantu." jawab Abang gue.

"Kamu sudah mendingan Kal." tanya Erika. Gue mengangguk.

"Syukurlah, oiya btw selamat ultah ya," katanya tiba-tiba.

"Gue ? Emang sekarang tanggal berapa Bang?" tanya gue ke Abang gue.

Bang Ravi diam, gue lihat Abang gue lekat, ada yang beda. Dia kaya lagi bahagia, begitu juga Erika, yang dari tadi senyum terus.

"Sini." kata Bang Ravi, menyuruh gue  untuk melingkarkan tangan gue di lehernya, barulah dia menggendong gue ke kursi roda yang udah siap tepat di sebelah Erika.

"Makasih Bang." kata gue, setelah gue rasa udah duduk dengan benar di kursi roda.

Gue menatap diri gue yang sekarang aneh, dan ngga berguna, gue menunduk malu. Rasanya gue menyusahkan banyak orang,siapa pun itu.

"Ada apa?" tanya Erika. Dia berjongkok di depan gue, tangannya mengusap punggung tangan gue, rasanya aneh, kita sudah berpisah lama.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now