KALANDRA 👟 25.

19 3 2

Yang terbaik bukan hanya harapan, tapi, keyakinan.

Setelah sekian lama berada di rumah sakit, hari ini gue di perbolehkan pulang. Seneng banget rasanya, bisa ngerasain kasur mpuk gue lagi.

Beberapa hari lalu, gue dan Maria berantem, gue termasuk jahat ngga ya? Duh kepikiran, gue ngomong ngga enak sama dia. Habis gue bilang kasar, dia langsung pulang.

Sebenarnya apa yang gue ucapin itu ngga serius, ah dasar cewek, tukang ngambek. Tapi, gue malah mikirin sekarang. Padahal sebelum dia balik gue sempet bilang kalau gue balik, dia harus ada, tapi, mana buktinya dia beneran marah sama gue.

Gue udah rapih dan wangi. Usai sholat subuh Bubun yang nyiapin gue, perlengkapan gue, dan lain sebagainya yang gue butuhin. Rasanya ada yang beda, ada yang gue rasa aneh  dalam tubuh gue. Gue ngga bisa merasakan pergeralan kaki gue kaya biasanya.

Gue mau nanya sama Bubun tapi, gue takut nanti beliau sedih lagi, jadi gue urungkan. Sebenarnya sejak kejadian gue tumbanh itu, gue ngga inget apapun, setelah gue sempet koma pun gue cuma inget sama Bubun.

Gue ngga tahu apa yang gue alami sekian lamanya, sampai waktu gue membuka mata setelah koma, gue lihat mata Bubun, Papa, Bang Ravi, dan Kak Adena semuanya sembab.

Belum lagi waktu Kakek Ibram datang, beliau terus mengusap kepala gue dengan lembut. Beliau selalu bilang sama gue, kalau perjuangan ngga harus dipaksakan, cobalah untuk menjalaninya semampumu. Gue mikir, ternyata benar apa yang Kakek gue bilang itu, selama ini gue memaksakan diri buat menjadi yang terdepan. Padahal di sisi lain, orang-orang di sekitar gue selalu khawatir.

Berbeda dengan Kakek Ibram Kakek Zefran justru bilang, kalau kamu yakin kamu harus lakukan, tapi, harus hati-hati. Ya, menurut gue pendapat Kedua kakek gue ngga ada yang salah, hanya saja cara mereka menyampaikannya yang unik. Pokoknya mereka  semua yang terbaik.

"Lo udah siap ?" kali ini Abang gue udah berdiri depan pintu kamar gue, mukanya ngga ada yang beda, selalu nyebelin.

"Udah." balas gue.

Dia natap gue, sambil melangkah mendekati kearah gue

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dia natap gue, sambil melangkah mendekati kearah gue. Tumben banget penampilannya sedikit rapi  biasanya rambut aja ngga pernah di sisir.

"Papa dateng?" tanya gue, saat dia udah berdiri di sebelah brankar gue.

"Lagi di jalan, Bubun lagi ngurus administrasi, Adena di rumah, ada lagi?" katanya gue berpikir sejenak.

"Om Tio?" tanya gue.

"Dia di luar kota, Tante Syakira sama Kakek, Nenek, nanti nyusul." jelasnya. Gue mengangguk paham.

"Lo kenapa ?" tanya Bang Ravi.

Gue menggeleng dengan cepat, ngga lama suster datang bersama dokter Hary. Dokter ganteng kata Kak Vina.

"Selamat Pagi, Andra, kamu sudah siap mau pulang ternyata." sapanya, gue melempar senyum yang paling manis buat mereka.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!