KALANDRA 👟 24.

24 3 4

Sambil dengerin lagu Melly G -Bintang Di hati. Untuk chapter ini. Cus baca yuks. 😁

Beberapa berlalu...

"Andra,  mau makan kalau Bubun suapin pokoknya." suara manja milik Amdra membuat gemas Ibunya.

Setelah sekiam lama mata itu terpejam, saat ini, cowok yamg sedang duduk bersandar di balik tumpukan bantal itu,  sedang memberengut sebal.

"Manja lo." Protes Ravi. Bukan Kalandra namanya jika tidak menyahut.

"Sirik dasar."

"Sudah, ah, kaliam selalu aja buat Bubun pusing," ucap Mentari.

"Hehe, maaf Bun," cengiran khas seorang Kalandra, kembali cerah,  membuat Mentari ikut tersenyum.
Satu tetes air mata itu berhasil turun tanpa permisi, membuat Kala harus melihatnya.

"Bun, Bubun nangis?" Pertanyaan yang selalu tersimpan dalam benak Kalandra.

"Vi, temenin Andra dulu ya, Bubun mau keluar," kata Mentari, lalu ia menaruh mangkuk bubur itu diatas nakas dekat brankar milik Kalandra, dan pergi.

"Bun?" suara sendu itu terdengar begitu perih, menusuk kedalam pendengar Ravi. Mata sendu Kalandra kembali terlihat, setelah sekian lama ia tertitur, dan kembali terbangun. Ia harus menerima kenyataan kelamnya.

"Gue salah ya, Bang?" tanya Kala pelan.

Ravi akhirnya berdiri dan mendekat ke arah Kala, dia mengusap rambut hitam milik adiknya.

"Stupid. Makan gih, habis itu istirahat, " kata Ravi.

"Terus, kenapa Bubun pergi gitu aja?" tanyanya lagi.

"Bawel ya lo, Bubun ngga pergi, udah ah makan buburnya, biar bisa pulang cepet." ucap Ravi, dengan senyum tipisnya. Meski sakit rasanya, tapi Ravi tidak mau adiknya merasa tak berguna.

"Dih, enak aja, gue ngga bawel." protes Kala tak terima.

"Assalamualaikum." salam Davina. Kakak perempuannya selalu saja sibuk, dan baru bisa menyempatlan waktunya untuk menjenguk adik kesayangannya.

"Jagoan, udah seger aja deh, tadi Kak Vina beli pisang, favorit kamu," kata Vina. Sambil mengeluarkan isi dari dalam bungkus plastik yang di bawanya.

"Wuaaaah,  Bang, ambilin tolong," teriaknya antusias, karena melihat buah favoritnya. Davina tersenyum, melihat adiknya kembali bersuara.

"Makan yang banyak, biar cepet sembuh," kata Vina. Kala hanya mengangguk, ketika buah favoritnya sudah ada di tangannya.

"Kak, makasih lho, huuuu senengnya ," seru Kalandra.

"Stupid dih, temennya nyemot lo," seru Ravi, membuat Davina terkekeh.

"Lo Abangnya Nyemot dong?" sahut Kalandra. Tawa lepas ketiganya terdengar sampai keluar ruang rawat Kalandra. Di balik pintu Mentari hanya mengintip, rasanya berat menghadapi semuanya. Menerima kalau putranya akan cacat, dan bisikan tetangga yang pasti akan membuat Kalandra terluka setiap saat.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now