KALANDRA 👟 23.

14 3 3

Luka itu terulang lagi.

Luka itu terulang lagi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kalandra. Namanya begitu familiar, cerdas, tampan, dan menggemaskan. Wajahnya yang menawan,  memberikan ciri khas tersendiri.

Luka yang kembali terulang, memnerikan  kesedihan yang mendalam. Rasa terpuruk yang kembali membekas dibenak semua orang, termasuk orang-orang terdekatnya. 

Keputusannya telah merenggut semua impiannya, keputusannya membuat dirinya benar-benar rapuh. Rapuh bagaikan awan mendung, mata itu yang selalu tunduh. Mata bulat yang selalu mengisyaratkan, bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi, mata itu tidak akan pernah menunjukan isyarat apa pun lagi. Meski telah berusaha, senyumnya perlaham pudar. Semangatnya tak lagi sama, kekuatannya telah hilang bersama dengan luka.

"Adek, bangun dong, ngga capek apa tidur terus?" ucap Mentari lirih.

Ibu tiga anak itu senantiasa menemani putra bungsunya, berat dan menyakitkan. Mungkin benar kekhawatiran seorang itu melebihi apapun.

Mata indah itu tertutup sudah cukup lama, meski telah melewati masa kritisnya, tetap mata itu tidak mau terbuka sedikitpun.

"Dek, Bubun ngga marah kalau adek nakal, tapi bangun dong, Nak." derai air mata itu tak lagi bisa dibendungnya.

Jemari putranya selalu digenggamnya, tak pernah lepas sedikit pun.

Sudah  hampir lima hari Kalandra berada di ruangan Icu, dengan alat bantu yang menempel di tubuhnya. Dan telah hampir  seminggu lebih juga setelah kejadian tragis yang mematahkan kepercayaan Andra, akan dirinya sendiri.

srek..

Suara pintu  ruangan terbuka, menampak, kan, sosok pria yang sudah memberikan segalanya pada Mentari. Akbar. Ayah dari tiga orang anak, yang juga sama sedihnya dengan Mentari. Pria itu melangkah mendekati  brankar putranya, berdiri tepat di sebelah istrinya. Diusapnya bahu Mentari, tidak bisa terbayang sama sekali, jika kejadian yang sama akan terulang.

"Mas, Andra ngga mau bangun," ucap Mentari lirih. Ia menyandarkan kepalanya dilengan Akbar, suaminya.

"Andra kuat, kamu juga harus kuat." ucap Akbar, menguatkan.

"Tapi sudah hampir seminggu lebih, keadaannya tetap begini, kapan Andra bangun, Mas." ucapan itu  membuat hati Akbar tersentil.

Di peluknya istri tercintanya. Tak tega melihat Kalandra, harus masuk kembali kedalam ruangan menyakitkan untuknya.

Air mata Mentari turun begitu deras,  bahunya bergetar, tapi Akbar, tidak membiarkannya. Dia  memeluk Mentari kuat-kuat, sambil mengusap lembut punggung istrinya.

"Cideranya cukup parah, kemungkinan besarnya akan mengalami kelumpuhan. Dan-"

"Mas Andra baik-baik aja, kan? Dokter itu bohong, kan? Mas, jawab aku," tanya Mentari, membuat Akbar mengecup keningnya. Matanya sudah panas ingin menangis.

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!