Dinner!

132K 2.7K 182
                                    

Happy Reading.

°

Aku hanya diam ditempat dengan bodoh sambil menunggu Jimin. Hampir 30 menit aku menunggunya dan dia tidak datang-datang. Dia sudah janji akan menjempuku setelah pulang kuliah. Yah aku kuliah lagi setelah berhasil memaksa Jimin berkata iya. Lagi pula aku kuliah tidak lama, hanya sekitar 3 bulan sampai ujian dan aku akan lulus. Singkat bukan?

Aku sudah coba menghubungi Jimin tapi tidak diangkat. Dan sama juga dengan nomor yang lain, sebenarnya mereka kemana? Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang aktif. Dasar menyebalkan.

"Ish lebih baik aku naik taxy saja" aku menyetop taksi yang kebetulan lewat di depanku dan masuk begitu saja.

"Gangnam Ahjuhsi!"

"Nde Nona!" Aku hanya sibuk dengan ponsel dan mengabaikan perjalanan ini. Menyebalkan memang, padahal Jimin sudah berjanji akan mengajak aku kencan setelah pulang kuliah. Dasar tukang ingkar janji.

"Nona sampai!" Aku melirik luar dan benar ini komplek perumahanku.

"Ahjuhsi rumah putih itu" aku menunjuk satu rumah klasik tepat kanan jalan. Jaraknya sekitar 200 meter.

"Nde Nona!" Aku akhirnya sampai dan memberikan uang taksi.

"Gumawo Ahjuhsi" aku keluar dan masuk kedalam rumah. Agak aneh saat tidak melihat Paman Chan menjaga gerbang.

"Apa mereka pergi tanpa aku?" Jelas aku memikirkan itu, tidak ada dari mereka yang ada dirumah. Padahal ini hari bebas.

"Ayah, Ibu, Oppa, Eonni, Ji!" Aku memanggil mereka Dan hebatnya tidak ada yang menyaut. Menyebalkan apa mereka benar-benar pergi tanpa aku.

"Ish~~~"

Dret! Mataku fokus pada telfon ku saat benda itu berdering. Ada nama Jimin disana.

"Ji?"

"Sayang?"

"Yakh kemana kalian semua? Kenapa tidak ada dirumah?"

"Maaf sayang. Kami ada urusan mendadak. Kami pergi sebentar dan pulang nanti sore. Kau dirumah saja nde!"

"Tapi kalian pergi semuanya dan meninggalkan aku!"

"Kau kuliah tadi!"

"Baiklah cepat kembali!"

"Hem. Aku mencintaimu!"

"Aku tidak, jika kau kembali dan menunjukkan wajahmu baru aku mencintaimu!"

"Hahaha sayang kau ada-ada saja. Aku akan pulang cepat. Janji!"

"Awas jika bohong!"

"Ya-ya. Aku minta maaf soal kencan kita yang tertunda. Aku janji lain waktu!"

"Jangan berjanji jika tidak bisa menepati!"

"Iya sayang! Hati-hati. Miss You!"

"Me To"

"Bye!"

"Hem!"

Kumatikan sambungan teleponnya dan menuju kamar. Lebih baik aku tidur dari pada menunggu yang lain.

"Jimin?" Aku tersenyum saat melihat beberapa potret kami saat di Maldives. Jimin memang banyak mengabadikan momen itu. Dan aku menjadikannya foto, lalu kupajang dikamar.

All About Sex! 21+Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang