KALANDRA 👟 21.

Start from the beginning

"Maaf." ucap gue, sambil menunduk, gue ngga bisa marah, karena dia selalu buat gue naik darah. Bukan karena gue benci, tapi kalau ngga ada dia gue kesepian. Soalnya dia bakal pergi ninggalin gue, demi cita-citanya menjadi seorang prajurit. Dan Kak Vina juga akan pergi, untuk pekerjaannya yang cukup lama, sementara gue akan sendirian.

"Ngga apa-apa, gue juga minta maaf, lo ngga sarapan?" katanya, lalu duduk di sebelah gue. Ulasan senyum Bang Ravi hari ini beda.

Wajahnya terlihat kusut, meski tersneyum

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Wajahnya terlihat kusut, meski tersneyum. Seperti sedang menahan luka di balik senyumnya, gue perhatiin kelopak matanya sedikit membengkak, matanya sayu, kaya belum tidur.

"Bang?" panggil gue, dia melirik sebentar lalu kembali fokus ke televisi yang sudah menyala sejak tadi.

"Apa La?" jawabnya.

"Lo habis nangis?" tanya gue hati-hati. Ngga biasanya mata Bang Ravi sebengkak itu, belum lagi dia jarang banget nangis.

"Ngga." balasnya.

"Jangan bohong deh, ada apa ?" kata gue.

"Kalaupun gue bilang lo bakal tetep ikut kejuaran itu, kan? Buat apa gue cerita lagi?" ucapnya. Membuat gue kehilangan kata-kata. Dia beneran serius untuk menyuruh gue mundur. Tapi kenapa?

"Kalau gue boleh tahu, apa alasan lo nyuruh gue untuk mundur?" tanya gue pelan. Bang Ravi memejamkan matanya, lalu ia bersandar kebelakang sambil memeluk bantal yang ada di atas pangkuannya.

"Gue ngga mau lo terluka, karena yang lo hadapin bukan orang yang mudah lo kalahkan gitu aja." katanya.

Gue masih belum nyampe apa yang dia ucapkan, gue mengambil remot tv, untuk mematikannya. Lalu gue duduk bersila menghadap Bang Ravi, yang sudah nyaman dengan tempatnya.

"Tapi, gue udah menyetujuinya tanpa lo ketahui." jawab gue pelan. Gue bisa denger helaan napas berat itu, mungkin kecewa tapi sebenernya ucapan Bang Ravi kemarin sore, yang bilang kalau pelatih Farda belum kasih kepastian, itu salah! Justru sbelum gue sakit, saat gue mau balik habis latihan, kami sempat ngobrol sebentar.

"Pelatih, apa saya boleh nanya satu hal?" kata gue waktu itu.

"Ya Kalandra, apa itu?" jawab pelatih waktu itu.

"Kejuaraan yang akan kita hadapi nanti, akan seperti apa ?"

"Kamu bisa ikut kejuaran itu minggu depan?" tanya pelatih Farda, sebelumnya pertanyaan gue pun belum di jawab sama sekali.

Saat itulah, gue mengiyakan persetujuan tanpa diketahui Bang Ravi.

"Gue tahu, sebenarnya gue kecewa, atas tindakan lo yang sembarangan itu, tapi lo bersikeras buat maju selangkah didepan gue. Gue udah ngga bisa nolak apapun keputusan lo, gue akan tetap dukung." jelasnya. Gue teraenyum getir, ada rasa yang terluka dibalik semua ucapan Bang Ravi. Tapi, gue ngga mau masuk terlalu dalam untuk hal itu, gue yakin Bang Ravi punya niat baik.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now