KALANDRA 👟 21.

18 4 1

Senyum itu hilang, diganti dengan duka.

Waktu berlalu begitu cepat, seolah lupa dengan tujuan gue minggu lalu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Waktu berlalu begitu cepat, seolah lupa dengan tujuan gue minggu lalu. Gue menerima persetujuan untuk ikut serta dalam kejuaraan itu, tapi di sisi lain Abang gue yang mau hancurin itu. Gue ngga tahu apapun lagi, sekarang, yang gue tahu gue sedang menunggu kedatangan Maria. Entah ini perasaan gue aja atau gimana, tapi gue pengin terus ketemu sama dia. Terus dan terus, bukannya ini tanda kalau gue mulai membuka hati gue lagi? Ah sudahlah.

Setelah gue debat ngga karuan kemarin sama Bang Ravi, tepat di depan Erika, gue memutuskan untuk mogok bicara sama Abang gue, yang kelewat jenius katanya. Sampai Bubun dan Papa pulang tadi malam pun, gue tetap ngga mau ngomong sama Abang gue. Lagian dia juga cuek, buat apa gue basa-basi.

"Vin, panggil adek kamu tuh," itu Bubun gue, ngga usah di tanya beliau lagi ngepain, yang jelas pagi ini gue males banget ketemu sama Abang gue.

"Maaf Bun, aku udah kebelet nih, Kala aja ya," yang barusan sahutan dari Kakak gue. Dia lagi ada di rumah, ya biasalah namanya efek sibuk, baru hari ini dia bisa libur.

"Bun, kemeja Mas di taruh disebelah mana?" Nah kalau yang itu, Papa gue. Sibuk sama kemeja yang harus senada.

Suka heran sih, tapi Papa gue termasuk pengusaha keren yang cukup nyebelin buat kariyawannya.

Kaya beberapa bulan lalu, waktu gue mampir ke kantor Papa. Karyawannya banyak, hormat dan patuh sama Papa, tapi gue cuma kenal beberapa rekan kerja Papa, yang emang temennya Bubun juga. Tante Adista dan Om Adisma.

Mereka saudara kembar non identik, lucu sih, apalagi kalau lagi ngobrol sama Om Adisma. Dia hobi banget buat humor yang garing, tapi gue ketawa. Katanya dulu waktu Bubun masih jadi sekertaris Papa, Bubun sering di marahin, di ceramahin, yang bikin gue pengin ketawa adalah, pada saat Papa mau coba ngobrol tapi diabaikan sama Bubun.

Aneh juga jalan kehidupan keluarga gue. Tapi, gue ngga pernah lupa, setiap sebulan sekali Papa selalu ngajak gue buat ketemu sama Nenek. Mama dari Papa gue, udah Almarhumah, tapi gue ngga mau sebut dia udah ngga ada. Karena, Kakek Ibram selalu bilang sama gue, Kalau yang mati itu hanya jasad dan raganya saja, tidak dengan kenangannya.

Gue terharu, setiap kali Kakek Ibram buka topik tentang Nenek. Gue kadang mikir, apa setelah manusia mati kenangannya akan mati juga? Atau mereka melupakan semua kenangan itu? Kalau ada Bang Ravi dan Kak Vina duduk sebelah gue, udah pasti mereka berdua bakal bilang, ngga usah mikir yang stipid lagi. Gitulah punya saudara dan kalian hidup diantara mereka.

Suka dukanya pasti ada, tapi kalau gue kebanyakan sukanya dari pada duka. Malah kata Kakek Zefran, cucu paling ngga mau diem ya cuma Kalandra. Haha. Aneh tapi nyata. Belum lagi kata Istrinya Om Tio, Tante syakira namanya. Cantik pinter, menawan kalau senyum, bikin kepengin deh, cuma dia doang yang selalu bilang gemes, depan gue.

"Woi!" Gue terlonjak dari lamunan gue, sejak tadi gue membayangkan masa di mana semua yang akan gue lalui besok hari ini gue ingat. Gue noleh kesebelah kiri gue, di sana ada Bang Ravi. Gue mendengus malas sebenarnya. Tapi, gue ngga bisa marah lama-lama sama dia.

KEY [COMPLETED]Where stories live. Discover now