KALANDRA 👟 20.

16 4 2

Cerita sore.

Gue kaget karena Maria yang bawa gue ke sebuah bukit yang cukup indah pemandangannya. Kami datang ngga cuma berdua, karena bukit yang kami kunjungi juga ramai sama pengunjung lain, ada yang pinknik, ada juga yang memannfaatkan pemandangannya yang bagus.

"Kalandra?"

Panggilan Maria membuat lamunan gue buyar seketika. Jujur gue seneng, karena gue bisa keluar dari rumah, setelah berhari-hari gue baring dikasur. Dan ngga boleh keluar juga sama Bubun. Gue cukup memahami kekhawatiran orang tua gue, apalagi Bubun yang emang cengeng kata Papa.

Gue inget waktu pertama kali, gue belajar naik sepeda dan jatuh. Gausah nanya seberapa perihnya lutut dan sikut gue waktu itu, udah jelas berdarah dan sakit. Dan kalian pasti bisa bayangin, gimana Bubun gue, teriak histeris liat anak bungsunya jatuh dan berdarah. Gue nangis tapi bukan karena nahan sakit, karena Bubun gue yang lari buru-buru buat nolongin gue , padahal gue udah di tolongin sama Papa. Sungguh miris.

Tapi sekarang bukan waktunya gue cerita tentang masa kecil gue, yang luar biasa itu. Sekarang gue dan Mria duduk di tengah bukit sambil merhatiin beberapa orang yang lagi santai bareng keluarganya. Canggung? Udah jelas.

"Aku pernah berharap sama Tuhan, kalau suatu saat nanti bisa ketemu seorang pria baik dan menggemaskan." katanya, di sela kami sedang menikmati udara yang sudah mulai sore.

Cukup lama kami pergi, bahkan gue sampe lupa pakai alas kaki. Tapi Maria ngga peduli soal itu, gue nikmatin angin sepoi-sepoi di tengah bukit. Sedikit dingin tapi menyenangkan.

"Kalandra, kamu pernah bermain balon gelembung seperti itu?" tanyanya tiba-tiba, sorot matanya tertuju pada seorang anak perempuan, yang asik bermain balon gelembung. Gue noleh sedikit kearah dia.

"Dulu pernah," jawab gue.

Gue lihat dia tersenyum dengan manis, setelah gue jawab. Dia mengulas senyumnya untuk kesekian kali, gue kembali menatap lurus sambil duduk bersila.

"Kalandra, kamu beneran lupa sama aku?" katanya, dengan cepat gue langsung menoleh kearahnya. Alis gue terangkat dengan wajah bingung.

"Lu-lupa? Apaan sih, engga ah, gue aja baru Kenal kok," sahut gue cepat

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Lu-lupa? Apaan sih, engga ah, gue aja baru Kenal kok," sahut gue cepat. Dia natap gue sinis.

"Kamu, beneran lupa sama aku?" tanyanya lagi. Gue menggeleng cepat.

"Gak! Apaan sih, udah ah mau balik gue." kata gue, lalu gue bangkit dan berjalan cepat, horor lama-lama duduk barenga Maria.

"Kalandra! Tunggu!" teriak dia, gue mempercepat langkah kaki gue.

"Inget ? Emang kita pernah ketemu ya? Kalau emang iya, masa dia lupa sama Bang Ravi, Kak Vina Bubun dan Papa? Kalau emang kita pernah kenal, pasti dia tahu orang tua gue, kan?"

. .

"Kalandra ?"

Gue noleh waktu gue udah sampai di rumah, gue terpaksa tinggalin Maria dan milih naik taksi, bayar kalau udah sampai.

Lagian main bawa gitu aja, mana bawa uang gue, dasar cewek aneh. Gue noleh ke sebelah kanan gue, di sana ada Erika, yang entah lagi ngepain.

"Ngepain lo?" tanya gue.

"Nungguin kamu," katanya.

"Gak sudi!" jawab gue ketus, lalu gue melangkah masuk ke dalam kamar dan membiarkan Erika berdiri sendirian. Bodo amat.

"Ish, ngeselin!"

"Bodo amat." sahut gue.

Baru gue mau masuk kamar mandi, di dalam udah ada Bang Ravi, entah gue ngga tahu apa yang dia lakuin di kamar gue.

"Ngepain lo Bang?" tanya gue. Tiba-tiba dia dorong gue gitu aja, gue terhempas ke atas kasur, dia ngelihat gue dari atas tubuh gue. Gue melotot kaget.

"Bang?" panggil gue. Gue telen salivah gue, ngeri sumpah.

"Batalin keingan lo, buat ikut turnen itu. " katanya. Gue coba buat dorong balik tubuh besar dia, tapi tenaga gue terasa terkuras, lemas dan rasanya emang habis.

"Gue ngga mau, lo udah janji Papa udah ijinin, Bubun udah sepakat, kenapa lo yang ribet sih." kata gue kesal.

"Pokoknya lo harus urungkan niat lo itu, gue minta dengan sangat, jangan lakuin itu La." katanya.

"Gue ngga mau, lagian pelatih Farda ngga masalah kok." balas gue. Dia narik sweter gue, sampai gue duduk. Matanya membelalak menatap gue, terlihat merah seolah dia nahan sesuatu di sana.

"Pelatih Farda belum kasih kepastian untuk meyakinkan, jadi lo bisa mundur Kala!" pekiknya.

Jujur gue ngga tahu dia ngomong apaan, ini udah sore bahkan mau petang, sikap Bang Ravi buat gue bingung. Gue ngga tahu dia lagi mau ngejelasin apa, tapi rasanya sedikit memaksa kalau gue harus melakukannya.

"Ada motivasi apa, lo suruh gue mundur?" kata gue akhirnya.

"Pokoknya lo harus mundur, gue ngga mau tahu." ucapan dia benar-benar membingungkan.

"Gue ngga mau Bang!" bantah gue.

Bugh.

"Andra! Ravi!" Suara pekikan itu, terdengar jelas di telinga gue. Gue ngga mau di hakimi lagi, gue memaksa tubuh gue buat menghindar dari Abang gue, yang kesambet tiba-tiba.

"Minggir! Ini terakhir dari gue, Ravindra. Gue ngga akan mundur, apapun itu reskonya." ucap gue lalu berdiri, natap sinis ke arahnya.

"Lo bakal nyesel nanti La!" teriak Bang Ravi, tapi gue hiraukan sambil melangkah keluar kamar. Gue berhenti tepat di dekat Erika, natap Erika tajam dan pergi.

"Rav? Gimana ini? Ancaman Andro ngga main-main Rav."

Gue ngga tahu apapun yang mereka katakan, tapi gue kesal, karena untuk pertama kalinya Abang gue sendiri yang melarang tindakan gue.

Gue ngga tahu apapun lagi, setelah sekian minggu gue latihan, tapi rasanya baru kali ini gue dapat tinjuan yang cukup membekas, kemarah Bang Ravi bukan soal kemarahan biasa. Gue bisa rasain itu.

Gue juga ngga tahu, kenapa dia minta begitu memaksa sedangkan, sebelumnya dia sendiri yang mohon -mohon ke Papa buat memperbolehkan gue. Tapi, sekarang justru dia yang meragukan kemampuan gue?

Tring..

Satu pesan masuk muncul dari ponsel gue, gue lihat siapa yang ngirim. Mata gue membelalak melihat nama yang tertera di sana.

MeriA.

Maafin aku, bukan aku mau bilang kaya gitu tadi, tapi aku beneran mau minta maaf. Apa boleh kita ketemu besok?

Pesan panjang itu buat gue senyum sendiri, gue mulai mengetik balasan untuknya.

Cowok Keren.

Oke, kirim alamatnya nanti.

Gue ngga ngerti sama hati ini, padahal Maria baru banget gue kenal, tapi gue merasa gue nyaman sama dia. Apa dia kunci semua kegundahan gue? Atau emang dia hadir buat melengkapi rasa yang hilang?

Ngga lama, balasan dari Maria muncul lagi. Untuk pertama kalinya dia kirim emotikon yang bikin gue ngakak.

MeriA.

Baik Kalandra 🤪

Gue rasa dia gila, atau emang dia punya kepribadian ganda. Yang datang pagi-pagi nyulik gue selagi Papa dan Bubun pergi. Aneh.





Holaaaaa ketemu lagi, selamat membaca 😋😋 vote dan komentarnya ya jangan lupa.

Terima kasih

KEY [COMPLETED]Read this story for FREE!